Senin, 30 Agustus 2010

Memberi Makan Orang Miskin

(Oleh: H. Usep Romli H.M., Pikiran Rakyat)

Rasulullah saw, bersabda, ada tiga perbuatan yang menjadi kunci surga yaitu mengucapkan salam (afsus salam), menjalin silaturahmi (wasilatul arham), dan memberi makan (anith tha’am) orang orang lapar. Tentang makna Hadis sahih tersebut, para ulama memberi contoh dengan sebuah kisah.

Pada suatu hari sepasang suami istri sedang duduk sambil memakan hidangan yang enak-enak. Mereka menikmati ayam goreng yang kezat. Tiba-tiba terdengar ucapan salam dari luar. Sang istri membalas ucapan salam itu sambil membukakan pintu. Tampaknya disana seorang pengemis.

“Mohon maaf, wahai pribumi yang baik. Aku sedang menderita sakit, kelaparan dan kehausan. Barangkali anda memiliki sesuap makanan dan seteguk minuman untukku,” kata orang miskin itu dengan tubuh gemetar dan suara parau tersendat-sendat.
“Tidak!” teriak suami dari dalam." Tidak ada makanan atau minuman di sini. Suruh ia pergi. Mengganggu ketenangan orang saja.

Sang istri yang tadinya hendak memberi sedikit nasi dan segelas air, tetapi karena yang suami menolak, terpaksa ia menurut. Orang miskin itu pergi tertatihtatih.
Bertahun-tahun kemudian, harta suami istri itu habis tak keruan. Mereka jatuh melarat, bahkan keduanya bercerai. Setelah habis masa idah, sang istri kembali mendapat suami yang baik dan pemurah.

Suatu hari, meraka sedang makan. Tiba-tiba terdengar ketukan. Sang istri membukakan pintu. Seorang lelaki papa berdiri disana dan memohon diberi makanan dan minuman, karena telah berhari-hari menderita kelaparan.

“Beri ia makanan dan minuman secukupnya. Juga ayam goreng ini, berikan semuanya. Mudah-mudahan membebaskan ia dari kelaparan dan menjadi berkah bagi kita,” kata sang suami.setelah pengemis itu pergi, sang istri menangis tersedu-sedu.
“Mengapa?” tanya sang suami.

“Orang yang meminta makanan tadi, adalah bekas suamiku. Ternyata sekarang ia hidup melarat dalam usia menjelang tua,” jawab yang istri.

“Tidak perlu heran atas ketentuan Allah,” jawab sang suami. “Ia dulu kaya raya sehingga berani membentak dan menolak memberi makanan kepada seorang pengemis kelaparan. Harap engkau tahu, istriku, pengemis kelaparan yang diusir itu aku sendiri, suamimu.

--Sumber kitab “Ajaibul Qashashah Min Biladil Arabiyah” Syehk Ali an Najmi--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar