Apa Itu maiyah?
Pertengahan September 2001 ketika album ini direkam, sudah kali ke 24 Rombongan Kiai Kanjeng sepuh dan Emha Ainun Nadjib ber-maiyah keliling berbagai tempat, sejak 21 Juli 2001.
Maiyah itu pemusik dan pelantun lagu tidak berada di panggung, melainkan melingkar ditengah ruangan, indoor ataupun outdoor. Tidak ada penonton, karena semua yang hadir, kadang ratusan, kadang ribuan, beberapa kali puluhan ribu tidak menjadi penonton, melainkan berpartisipsi menjadi pelantun lagu-lagu.
Jadi tidak ada grup yang ditonton dan penonton yang menonton. Semua orang, pemusik, juga alat-alat musik, bersama-sama menghadap kepada Allah.
Dari bentuk kebersamaan seperti itu ditumbuhkan maiyah-maiyah dalam konteks yang meluas. Maiyah berarti kebersamaan. Pertama, melakukan apa saja bersama Allah. Kedua, bersama siapa saja yang mau bersama. Maiyah bisa berarti komitmen nasionalisme, kedewasaan hetertogenisme, kearifan pluralisme, tidak adanya kesenjangan ekonomi sebab kalau yang sini terlalu miskin dan yang sana terlalu kaya, itu namanya bukan hidup bersama. Bukan maiyah
Di dalam maiyah tidak ada kebencian. Maiyah tidak punya ilmu tentang perang, tidak punya pengetahuan tentang pertengkaran. Maiyah hanya punya mata cinta.
Emha Ainun Nadjib
Prakata di atas, adalah uraian tentang maiyah yang ada di dalam sampul album rekaman Cak Nun “MAIYAH Tanah Air yang direkam oleh Geese Studio dan MIX Studio, dan diedarkan PT. MUSICA tahun 2002. Materi album ini sama seperti album Cak Nun sebelumnya. Berisi Wirid, Shalawat, dan dipadu dengan penuturan berupa puisi oleh Cak Nun.
Seperti biasa, saya coba tulis ulang sebagian isi dari MAIYAH Tanah Air ini.
Allohumma dholamuuna fahfadhna warhamna wasnshuma warzuqna. Kita ini satu bangsa kita berdekatan satu sama lain, namun terkeping-keping. Kita saling tidak percaya, saling curiga, saling mengincar untuk jegal menjegal. Maka inilah maiyah kami kepada bangsa yang malang ini. Kita satu bangsa, tangan kita bergandengan namun hati kita terpecah belah, tidak ada kerelaan bersama yang kita hidupi adalah ketidakrelaan satu sama lain. Maka ini lah maiyah kami kepada bangsa yang terpuruk ini.
Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syattaa. Seolah-olah kita bersatu padu tetapi hati kita terkeping-keping. Tidak ada hari depan yang kita bangun kecuali dialektika penghancuran kebersamaan untuk curang dan memang sendiri, maka inilah maiyah inilah maiyah kami kepada bangsa yang terlalu lama sengsara….
Selain kaset, disertakan juga bonus berupa buku Maiyah (Penulis Khath; Islamianto & Mahfud, desain; Zaituna) berisi Wirid Kanjeng sepuh, Shalawat Kanjeng Sepuh, Puisi Emha Ainun Nadjib
Puisi-puisi Emha Ainun Nadjib (Maiyah)
Maiyah Lingkaran
Agar supaya kita saling menjamin
bahwa di dalam lingkaran kita tidak ada kotoran-kotoran batin,
kepalsuan niat, kecurangan fikiran, atau apapun
yang membuat Muhammad menitikan airmata
dan membuat Allah mengurangi
atau bahkan membatalkan kasih sayangnya kepada kita
Maiyah Lingkaran
Agar supaya perjalanan hijrah demi hijrah kita
Tidak disesatkan oleh arus masyarakat, oleh Allah atau oleh diri kita sendiri
Agar supaya perjalanan jihad kita tidak disertai oleh dendam dan ketakaburan
Agar supaya perjalanan ijtihad kita tidak dilalimi oleh makhluk apapun
Serta tidak melalimi diri sendiri
Agar perjalan mujahadah kita dianugrahkan bekal iman dan istiqamah
Bekal kekuatan dan muthmainnah, bekal penghidupan yang barokah
Pintu rejeki yang membuka dirinya lebar-lebar atas perjuangan kita
Pintu kegembiraan, keasyikan uluhiyah, serta perlindungan dari
Quwwatihi wa hauilih
Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul melingkar menghadapMu dan memunggungi dunia
Kami berkumpul melingkar menumpahkan cinta kepadaMu
karena telah dilukai hati kami oleh cinta dunia, negara serta golongan-golongan manusia
Kami berkumpul melingkar menyanyikan lalagu-lagu untuk
kekasihMu karena ummat manusia lebih menyukai kepalsuan
Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul menciptakan lingkaran kebersamaan antara
hamba-hamba yang dilemahkan oleh pelaku-pelaku kekuasaan dan keuangan
Kami berkumpul merapatkan lingkaran kebersamaan antara
hamba-hamba yang dilalimi oleh kebohongan dan kemunafikan kaum mutakabbirun
Kami berkumpul memadatkan kesatuan antara hamba-hamba
yang diremehkan dan kini mengerti bahwa diremehkan,
antara hamba-hamba yang ditindas dan kini mengerti bahwa ditindas,
antara hamba-hamba yang direndahkan dan kini mengerti bahwa direndahkan,
antara hamba-hamba yang dibuang dan kini mngerti bahwa dibuang
Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul menghidupi kesadaran, kepahaman dan kemengertian akan dusta dan kebohongan dunia
Kami berkumpul membangkitkan pengetahuan dan ilmu bahwa
kami dibodohkan, difitnah, dimusnahkan dan dibunuh sebelum kematian
Kami berkumpul menebar jaringan lingkaran para pecintaMU
para pecinta kekasihMu, para pecinta sejatian, para pecinta
kebenaran yang sungguh-sungguh kebenaran, para pecinta
yang benar-benar cinta.
Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul melingkar bershalawat bersamaMU serta
bersama para MalaikatMu, untuk manusia agung pilihanMu,
Muhammad saw
Kami berkumpul merangkai lingkaran ma’iyyatul hubbi, ma’iyyatul haqqi, fii ma’iyyatillahi ‘jalla jalalah -----
Maiyah Masyaallah
Masyaallah, orang tidak menyaksikan kok memperkatakan
Masyaallah, orang tidak memahami kok menghakimi
Masyaallah, orang tidak mengerti kok mentuhani
Masyaallah, orang tidak bertanya kok merasa lebih mengerti
Masyaallah, orang membutakan dari sambil memprasangkai
Masyaallah, orang mentulikan diri sambil memfitnah kanan kiri
Masyaallah, orang berbuat dhalim masih bisa merasa muslim
Masyaallah, orang menutup hati masih bisa merasa kiai
Masyaallah, pengetahuannya ditutupi masih bisa merasa santri
Masyaallah, akalnya sendiri dibikin buta masalah bisa merasa ulama
Masyaallah, ilmunya berpaling masih bisa merasa pemimpin
Masyaallah, tidak memelihara silaturahmi masih minta dihormati
Masyaallah, mentalnya fir’aun masih minta dijunjung
Masyaallah, kalau kepalanya hanya berisi curiga
Apa Tuhan menerima sujudnya
Masyaallah, kalu dadanya hanya dipenuhi prasangka
Apa para malaikat masih mengakui kekiaiannya
Masyaallah, kalau hukum baginya ada kepentingan sendiri
Apa arti shalat, sajadah, serban dan peci
Masyaallah, kalau otaknya jumud oleh kepentingan golongan
Apa gunanya pengajian dan wiridan
Masyaallah, kalau kebiasaanmu menghakimi berdasarkan kebodohan
Berhentilah memimpin kemenangan
Masyaallah, kalau masih butuh Dewa atau manusia yang didewakan
Baliklah ke zaman sebelum Islam
Masyaallah, kalau manusia biasa dianggap tidak mungkin bisa salah
Organisasimu adalah Partai Jahiliyah
Masyaallah, mestinya merasa malu kok malah bangga
Masyaallah,mestinya nangis tobat kok malah syukuran
Masyaallah,mestinya bercermin kok malah menampar muka orang
Masyaallah, mestinya berterima kasih kok malah memaki-maki
Masyaallah, mestinya mengoreksi diri kok malah menfitnah orang lain
Masyaallah, mestinya belajar kembali kok malah merasa paling pintar sendiri
Masyaallah, mestinya andhap asor kok malah sesumbar
Masyaallah, mestinya minta maaf kok malah pethenthang-pethentheng
Masyaallah, mestinya tawadldlu’ kok malah takabbur
Masyaallah, terancam masuk neraka kok malah yakin masuk sorga
Masyaallah, itu bukan kejahatan, itu hasil dari kebodohan
Itulah sebabanya kanjeng Nabi tidak menyebut Zaman Syarriyah
melainkan Zaman Jahiliyah
Masyaallah,itu bedoa apa memperbudak Allah
Masyaallah, itu istigtsah apa memperalat Allah
Masyaallah,itu mujahadah apa maksa Allah
Masyaallah,itu ijtihad apa menggampangkan Allah
Masyaallah, itu jihad apa memojokkan Allah
Masyaallah, itu mengaji apa membeo
Masyaallah, itu sembahyang apa absensi kayawan
Masyaallah, itu wiridan apa melarikan diri dari kekhelafahan
Maka siapa saja yang berada dalam lingkaran cinta ini maka siapa saja yang ikhlas jasmani rohani dalam cincin uluhiyah ini
Maka siapsa saja yang menumpahkan seluruh eksistensi hidupnya dalam ma’iyatullah ini
Hendaklah jangan melantunkan shalat, melainkan bersalawatlah
Hendaklah jangan menyanyikan shalawat
melainkan leburkan hidupmu dalam keindahan rububiyah
hendaklah jangan menomersatukan bibir dan suara musikmu
melainkan buktikan kepada Allah dan Kanjeng Nabi
kesungguhan cintamu.
Maiyah Fakir 1
Kami miskin
Kami faqir, ya Allah
Penghidupan miskin
Hati miskin
Akal miskin
Watak miskin
Jiwa miskin
Maiyah Fakir 2
Batin kering
Jiwa dangkal
Pikiran pendek
Mental kerdil
Moral ambruk
Kehendak-kehendak kami lalim
Lalim, ya Allah
Maiyah Fakir 3
Logika serabutan
Memandang segala sesuatu
Dengan kebusukan hati
Mendengar apa saja
Dengan logika yang curang
Ya Allah, yang pantas untuk kmai
Hanya adzab
Maiyah Fakir 4
Miskin terlalu lama
Telah mendidik kami
Jadi pendendam
Faqir berkempanjangan
Kecerdasan hilang
Milik terakhir hanya kebodohan
Kami gengam erat
Kami bangga-banggakan
Sebab kamu sampai kebodohan inipun sirna
Kami tak lagi punya apa-apa
Maiyah Fakir 5
Karena miskin penghidupan, ya Allah
Kalau ada orang makan enak
Kami simpulkan itu adalah ejekan
Kalau orang lainnya kepalaran
Kami gembira diam-diam
Maiyah Fakir 6
Karena faqir dan semakin ditinggalkan harapan
Maka jiwa kerdil melantunkan doa rahasia
Semoga orang pada menderita
Semoga siapa saja jangan ada yang beruntung nasibnya
Semoga kiri kanan yang ada orang sengsara
Sementara mulut bertugas
Mengucapkan yang mulia-mulia
Bibir meneriakkan kemanusiaan
Satu tangan mengacungkan demokrasi
Tangan lain siap siaga mencuri
Maiyah Fakir 7
Kerena miskin ilmu
Jadi gampang bicara
Karena miskin mengetahuan
Omongan menebar seluas udara
Karena miskin pikiran
Sedikit aja punya gagasan
Seluruh dunia disuruh mentaatinya
Karena faqir kreativitas
Sehelai ide yang memenuhi kepalanya
Diyakini sebagai kitab suci kebenarannya
Ya Allah, hamba-hamba
Yang mencapai kekerdilan tiada tara
Memantulkan kebesaran dan kemuliaan
milikMu yang tiada terhingga
Maiyah Fakir 8
Ya Allah sedemikian faqir para hamba
Pergi menemuiMu dengan bekal uang curian
Menaiki kendarann curian
Menyanyikan lagu-lagu curian
Menyebarkan shalawat curian
Mendendangkan suara curian
Mendirian peribadatan
Dengan tiang-tiang curian
Ya Allah maha Mulia dzatMu yang amat bersabar
Atas penghinaan hamba-hambaMU
Album rekaman MAIYAH ini merupakan salah satu dari 7 kaset Cak Nun dan Gamelan Kiai Kanjeng. Seluruhnya masih saya simpan. Yang pasti masih dibisa didengar walau ada penurunan kwalitas pitanya, karena dimakan waktu. Sebagian isi sampul masing-masing (7) kaset itu, saya simpan di archive69 ini.
salam
Tampilkan postingan dengan label cak nun dan kiai kanjeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cak nun dan kiai kanjeng. Tampilkan semua postingan
Rabu, 29 Agustus 2012
Rabu, 25 Juli 2012
Isyarat Zaman (1) “Allah Merasa Heran” (album rekaman Emha Ainun Nadjib)
Album rekaman Isyarat Zaman (1) “Allah Merasa Heran” milik Cak Nun. Produksi Kanjeng Production ini dirilis diawal-awal tahun 2000-an. Berbeda dengan album-album Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kiai Kanjeng sebelumnya. Dalam album ini tak dibagi kedalam bagian-bagian judul. Jadinya dalam sampulnya tak banyak yang harus saya tulis ulang. Akhirnya mencoba mendengarkan berulang-ulang isi album Isyarat Zaman (1) “Allah Merasa Heran” untuk ditulis kembali.
Berikut di bawah ini hasil dari didengar lalu ditulis dan didengar lalu ditulis kembali isi dari album Isyarat Zaman (1) “Allah Merasa Heran”. Walau pun tidak secara utuh dari keseluruhan. Mudah-mudahan tidak mengurangi makna dari maksud album rekaman ini diluncurkan.
Dibagian lain Cak Nun menuturkan tentang bagaimana Allah merasa heran terhadap sembilan sifat manusia/orang.
Dan dibagian akhir dari isi album rekaman Cak Nun
Demikian beberapa bagian yang ada di dalam Album Cak Nun Isyarat Zaman (1) “Allah Merasa Heran” yang diproduseri KanjengProd. & Studio21. Kalau ada kesalahan kata atau kalimat, itu murni kesalahan saya dalam penulisan dan keterbatasan ilmu. Dengan senang hati apabila sobat semua mau membantu membetulkan letak kesalahannya.
salam
Berikut di bawah ini hasil dari didengar lalu ditulis dan didengar lalu ditulis kembali isi dari album Isyarat Zaman (1) “Allah Merasa Heran”. Walau pun tidak secara utuh dari keseluruhan. Mudah-mudahan tidak mengurangi makna dari maksud album rekaman ini diluncurkan.
Audzubillah Himinas Syaiton Nirozim,…. Audzubillah Himinas Syaiton Nirozim,…. Audzubillah Himinas Syaiton Nirozim
Aku dendangkan, aku dendangkan kepadamu kalimat-kalimat kudus, firman-firman suci al-Hadith fil-Qudsi, cahaya ayat-ayat rahasia yang merasuk ke dalam kalbu kekasihannya Allah, kekasihnya Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, dan sang kekasih menuturkannya …. menuturkannya..
Wahai hambaKu Aku sakit, kenapa engkau tidak menjengukKu
Wahai hambaKu Aku lapar, kenapa engkau tak memberiKu makan
Wahai hambaKu Aku haus Aku haus kenapa tak kau beri Aku minuman. ………………
………………Wahai Maha Mengasuh betapa aku akan menjenguk Engkau betapa mungkin Engkau sakit padahal Engkaulah Tuhan seluruh alam.
Wahai Tuhanku betapa mungkin aku memberiMu makan padahal Engkaulah Mahakaya seru sekalian alam
Wahai Tuhan pengasuh betapa aku memberiMu minuman, sedangkan Engkaulah penumpah rahmat semesta alam.
………Wahai anak Adam kalau engkau menjenguk hambaKu yang sakit itu, nicahya engkau bertemu denganKu disisinya.
Wahai anak Adam kalau engkau memberi makan kepada hambaKu yang kelaparan, niscahya engkau berjumpa denganKu disisinya
Wahai anak Adam sekiranya engkau memberikan seteguk minuman kepada hambaku yang kehausan, pastilah .. pastilah .. pastilah engkau temukan Aku disisinya ………….
Dibagian lain Cak Nun menuturkan tentang bagaimana Allah merasa heran terhadap sembilan sifat manusia/orang.
Sampai-sampai Allah merasa heran kepada sembilan orang
- Aku heran terhadap orang yang percaya terhadap pastinya maut, tetapi ia masih sombong dan membanggakan diri.
- Aku heran terhadap orang yang mengetahui hari perhitungan tetapi ia masih sibuk menumpuk-numpuk harta.
- Aku heran terhadap orang yang paham bahwa ia pasti akan masuk lobang kuburan, tapi ia masih sanggup tertawa terbahak-bahak.
- Aku heran Terhadap orang yang yakin terhadap hari akhirat tetapi ia masih berpanjang-panjang dalam kesenangan dan lalai.
- Aku heran kepada orang-orang yang mengerti bahwa dunia ini pana, tapi ia masih terus saja menambatkan hati kepadanya.
- Aku heran kepada orang yang pintar bicara tetapi bodoh di dalam menyelami pengertian
- Aku heran kepada orang yang hari-harinya habis untuk membicarakan aib orang lain, tetapi ia lupa melihat cacatnya sendiri.
- Aku heran kepada orang sadar bahwa Aku memperhatikan tingkah lakunya kapan dan dimana pun saja, tetapi tetap saja ia durhaka.
- Aku heran terhadap orang yang tahu bahwa ia akan mati sendirian dan masuk kuburan sendirian, tapi masih saja ia menggantungkan kebahagian kepada serda garau dan main-main dengan banyak orang.
Dan dibagian akhir dari isi album rekaman Cak Nun
Wahai Kekasih betapa indah firmanMu betapa cahaya ayatMu betapa surga bisikanMu, tetapi kami Ya Allah justru mampunya hanya memilih azab demi azabMu. Ya Allah sembuhkan telinga kami dari ketulian, bebaskan mata kami dari kebutaan, lepaskan hati dari penyakit dan nafsu merdekakan akal dari ilmu yang keliru. Ya Allah kami tidak pandai berbagi, kami justru sangat terlatih untuk berebut dan menang sendiri.. Ya Allah susah kami untuk jujur pada kebenaran langkah kami semata berdasar senang atau tak senang. Ya Allah kami sangat canggih mempertentangkan perbedaan dan tak mampu menikmati indahnya kebersamaan. Ya Allah kami seperti tidak pernah mempelajari cinta, sehingga kami sangat lahap menikmati kebencian, sehingga kami sangat lahap untuk mengunyah-nguyah balas dendam dan pemusnahan, Ya Allah ya kekasih kami berpihak kepada kabut dan mengabaikan cahaya, kami tidak sanggup perpijak pada kenyataan, karena lebih terserap oleh prasangka. Ya kekasih Robbana dolamna anfussana kami telah mendolimi diri kami sendiri, wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin, kalau Engkau tidak mengampuni kami maka betapa merugi dunia dan akhiran kami..Ya Allah yang kekasih ya kekasih.
Demikian beberapa bagian yang ada di dalam Album Cak Nun Isyarat Zaman (1) “Allah Merasa Heran” yang diproduseri KanjengProd. & Studio21. Kalau ada kesalahan kata atau kalimat, itu murni kesalahan saya dalam penulisan dan keterbatasan ilmu. Dengan senang hati apabila sobat semua mau membantu membetulkan letak kesalahannya.
salam
Rabu, 07 Maret 2012
Perahu Nuh (Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng)
Dari Cak Nun:
Ini album berupaya menghidupkan kembali kekayaan yang sudah dikuburkan oleh sejarah. Memungut kembali yang dicampakkan orang. Meninggikan yang direndahkan orang. Menghormati yang dihina orang. Mengingat yang dilupakan orang. Melantunkan yang diremehkan orang. Mendendangkan yang besok baru disadari orang. Menyumbang tumbuhnya kembali kepercayaan diri budaya masyarakat kecil. …..
Produser:
kanjengProd.
Studio21
penata Musik:
Bobiet
Operator Studio:
Herman, Yoga, Bebek
Programmer:
Bobiet (Musik Program)
Recording Crew:
Isbet dan Rahmad
Mixing:
Herman
Vokal:
Cak Nun, Sudrun, Kurniawati, Zainul Arifin
Pemusik:
Novi Budianto (keyboard, saron), Bobbiet (keyboard, perkusi, drum), Yoyok (electric bas, rebana, saron), Bayu (saron, kendang, rebana, bonang), Djoko Kamto (rebana, demung), Ari Blothong (violin, rebana), Pas Is (bamboo flute, rebana).
Koor:
Kiai Kanjeng, Cak Nun, Sudrun, Kurniawati, Zainul Arifin, Budi Lahtar, Jebeng Seleng, Murzir Madjid.
Studio Rekam
Studio 21 Pluit Jakarta
Desain Grafis
Studio Zaituna Yogya
Produksi
Kanjeng Production
Koordinator Kiai Kanjeng
Joko Kamto
Side A
Sluku Sluku Bathok
Shalawat Mandar
Suluk Kangen
Kenduri Sholatullah
Side B
Shalawat Madura
Ya Ampun
Pangkur Kerinduan
Shalawat Melayu
Sluku-sluku Bathok
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Romo menyang solo
Oleh-olehe payung mutho
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Yen obah mendeni bocah
Yen urip ayo golek apik
Bangkitnya kesadaran karena kejernihan
Bangkitnya kekuatan karena kebersamaan
Tumbuhnya ketentraman hanya dari keadilan
Berhembusnya kemesraan dari cinta yang tak dipalsukan
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Romo menyang Solo
Oleh-olehe payng mutho
Yang palsu ditanggalkan
Yang sejati datang
Yang dusta, yang bohong dikuakkan
Topeng-topeng dilenyapkan
Yang omong besar ditinggalkan orang
Shalatullah salamullah ‘ala nuri Rasulillah
Wa alihi muhibbillah
Wa shahbihi junudillah
Yang hanya tahu kepentingannya
Itu namanya menggali keburannya sendiri
Yang tak tahu batasnya
Akan ketlingsut oleh Zaman
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Yen obah medani bocah
Yen urip mbok golek sing apik
Uraian di atas adalah sebagian dari isi sampul album Perahu Nuh. Album lawas Cak Nun dan Gamelan Mini Kiai Kanjeng yang di rilis akhir dekade sembilan puluhan.
Sekian dulu sobat. Maaf kalau postingan ini tak jelas kemana arahnya, sebab ini bukan sebuah reperensi. Ini hanya ungkapan apresiatif terhadap karya yang pernah ada di bumi kita ini.
Ini album berupaya menghidupkan kembali kekayaan yang sudah dikuburkan oleh sejarah. Memungut kembali yang dicampakkan orang. Meninggikan yang direndahkan orang. Menghormati yang dihina orang. Mengingat yang dilupakan orang. Melantunkan yang diremehkan orang. Mendendangkan yang besok baru disadari orang. Menyumbang tumbuhnya kembali kepercayaan diri budaya masyarakat kecil. …..
Produser:
kanjengProd.
Studio21
penata Musik:
Bobiet
Operator Studio:
Herman, Yoga, Bebek
Programmer:
Bobiet (Musik Program)
Recording Crew:
Isbet dan Rahmad
Mixing:
Herman
Vokal:
Cak Nun, Sudrun, Kurniawati, Zainul Arifin
Pemusik:
Novi Budianto (keyboard, saron), Bobbiet (keyboard, perkusi, drum), Yoyok (electric bas, rebana, saron), Bayu (saron, kendang, rebana, bonang), Djoko Kamto (rebana, demung), Ari Blothong (violin, rebana), Pas Is (bamboo flute, rebana).
Koor:
Kiai Kanjeng, Cak Nun, Sudrun, Kurniawati, Zainul Arifin, Budi Lahtar, Jebeng Seleng, Murzir Madjid.
Studio Rekam
Studio 21 Pluit Jakarta
Desain Grafis
Studio Zaituna Yogya
Produksi
Kanjeng Production
Koordinator Kiai Kanjeng
Joko Kamto
Side A
Sluku Sluku Bathok
Shalawat Mandar
Suluk Kangen
Kenduri Sholatullah
Side B
Shalawat Madura
Ya Ampun
Pangkur Kerinduan
Shalawat Melayu
Sluku-sluku Bathok
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Romo menyang solo
Oleh-olehe payung mutho
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Yen obah mendeni bocah
Yen urip ayo golek apik
Bangkitnya kesadaran karena kejernihan
Bangkitnya kekuatan karena kebersamaan
Tumbuhnya ketentraman hanya dari keadilan
Berhembusnya kemesraan dari cinta yang tak dipalsukan
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Romo menyang Solo
Oleh-olehe payng mutho
Yang palsu ditanggalkan
Yang sejati datang
Yang dusta, yang bohong dikuakkan
Topeng-topeng dilenyapkan
Yang omong besar ditinggalkan orang
Shalatullah salamullah ‘ala nuri Rasulillah
Wa alihi muhibbillah
Wa shahbihi junudillah
Yang hanya tahu kepentingannya
Itu namanya menggali keburannya sendiri
Yang tak tahu batasnya
Akan ketlingsut oleh Zaman
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Yen obah medani bocah
Yen urip mbok golek sing apik
Uraian di atas adalah sebagian dari isi sampul album Perahu Nuh. Album lawas Cak Nun dan Gamelan Mini Kiai Kanjeng yang di rilis akhir dekade sembilan puluhan.
Sekian dulu sobat. Maaf kalau postingan ini tak jelas kemana arahnya, sebab ini bukan sebuah reperensi. Ini hanya ungkapan apresiatif terhadap karya yang pernah ada di bumi kita ini.
Sabtu, 27 Agustus 2011
Menyorong Rembulan (Emha Ainun Nadjib dan Mini Kiai Kanjeng)
Album Menyorong Rembulan dikeluarkan setelah album Jaman Wis Akhir. Album ini masih menyoroti keandaan bangsa yang waktu itu masih dalam proses perubahan. Perenungan dan pengharapan seorang Cak Nun, dituangkannya dalam Album ini.
Seperti biasanya, saya coba menulis ulang sebagian tulisan yang ada di dalam sampul Menyorong Rembulan
PRODUSER: Akhlis Suryapati. PRODUSER EKSKUTIF: H. Wawan Yuwardi, Dicky Sundri. DISTRIBUTOR: Indomusik. Studio: Ariesta. OPERATORPMIXING: Ferry, Jupri. DESAIN GRAFIS-VIDEO KLIP: Kreativa Entertainmen
Vokal: Emha Ainun Nadjib, Haddad Alwi, Ki Sudrun. Pemusik: Mini Kiai Kanjeng; Novi Budianto (keyboard, rebana, koor, aransemen). Bobit (keyboard, rebana, programmer, arransemen). Yoyok Prasetyo (bas gitar, rebana, koor), Bayu Kuncoro(rebana, koor), Djoko Kamto (rebana, koor). Koor: Kelompok Hamas—Himpunan Masyarakat Shalawat; Fatimah HA, Haydar Yahya, Effendy, Habib Husein, Ali Alical, Abinsa, Chepy, Ridho, Ali Alatas, Salim AF, Husein A, Hasan A, Dolah, Hilman Farkhi, Evey Supriyanto.
Kepemimpinan Blimbing
Hikmah Sunan Ampel
Bangsa Indonesia butuh keluar dari jurang. Butuh mengerti jurang apa yang menyerembabkannya dalam krisis yang sangat berkepanjangan. Butuh mengerti bagaimana cara merangkak naik dari kedalaman jurang. Butuh kesangguhan untuk membebaskan dari jurang secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri atau segolongan-segolongan.
Bangsa Indonesia perlu hijrah, berpindah dari kegelapan menuju cahaya. Bangsa Indonesia perlu memahami bukan hanya cara berhijrah, tapi juga terutama kemana akan berhijrah. Kedua-duanya “cara” dan “kemana” adalah pertanyaan tetang system nilai yang di sisitem nilai yang jelas pilih secara jelas. Perombakan system nilai yang tak jelas itu akan menyebabkan bangsa Indonesia belum mampu menyelenggarakan penyembuhan nasional secara tertata, belum mampu sanggup mengindentifikasi masalah-masalah secara tepat dan adil.
Dari khazanah Sunan Ampel, melalui konsep Ilir-Ilir, ada tawaran Kepemimpinan Blimbing. Negeri yang amat kaya raya namun dimanage secara buruk… Bocah angon (penggembala kebangaaan, pemimpin nasioanl, bukan pemuka gerombolan atau tokoh golongan) yang harus memanjat pohon selicin apapun untuk memperoleh blimbing yang bergigir lima… Sari blimbing itu dipakai untuk mencuci pakaian nasional yang robek (krisis moral yang melahirkan krisis politik.. Mungpung jembar kalangane, mungpung padhang rembulane… sepanjang masih sangat mungkin krisis diatasi..
Mudah-mudahan lantunan Ilir-Ilir dan sejumlah shalawat (agar kita melindungi diri dari tradisi dusta nasional) serta orasi sekitar seperempat jam ini bisa turut menjadi air blimbing untuk proses pencucian dan penyembuhan nasioanal.
Emha Ainun Nadjib
(Ta’zim pada Sunan Ampel, Cinta pada Guru Zaini, Martapura)
Fragmen-fragmen dari Renungan Emha:
“…. Bisakah luka yang teramat dalam ini memenuhi angkasa tanah air nanti akan sembuh, bisakah kekecewaan, bahkan keputusaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini akan pada akhirnya nanti akan kikis
Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi, dari jurang yang teramat curam dan dalam
Akankah api akan berkobar-kobar lagi
Apakah asap akan membungbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air
Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain,
Jarah menjarah satu sama lain dengan mengorbankan yang tidak akan terkirakan
Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya kita jalani
Bersediakah sebenarnya kita untuk tahu persis apa yang kita cari
Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita
Pernahkan kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar
Pernahkan kita memcoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu kita sesali dari perilaku-perilaku kita kemarin
Bisakah kita menumbuhkan kerendahan di balik kebanggaan-keganggaan
Masih tersediakah ruang di dada kita dan di akal kepala kita
Untuk sesekali bertanya kepada diri sendiri, bahwa yang bersalah
Bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa
Bukan hanya ia, tapi juga kita…”
“…. Terserah apa tafsirmu tentang blimling bergigir lima
Tapi selicin apapun pohon reformasi itu harus didaki, agar kita
Peroleh air sari blingbing untuk mencuci pakaian nasional kita
Dan yang memanjat harus “bocah angon”
Tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh juga seorang seniman, boleh juga seorang kiai, jenderal, atau siapapun saja
Namun memiliki daya angon
Kesanggupan untuk menggembalakan
Karakter untuk merangkul dan memesrai semua pihak
Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama
Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan
Bocah angon adalah seorang pemimpin naasioanl, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan….”
“…… ilir-ilir, kita sudah ngilir, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran belum hati nurani belum
Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk dimulut, namun kita biarkan ajara-ajarannya terus hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling
Kita mencari penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yakni
Melarangnya untuk insaf dan bertobat
Kita memperjuangkan gerakan anti pengusuran dengan cara balik menggusurnya
Kita menolak pemusnahan dengan merencanakan pemusnahan
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana
iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri
siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khotimah manusia, yang memblokade pintu sorga, yang menyorong mareka mendekat ke pintu neraka? …”
“…. Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri menindas
Sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak
Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menhancurkan
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan
Yang kita bangun bukan niknatnya kemesraan, tapi menggelaknya kecurigaan
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah
Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rancangan-rancangan panjang untuk menyelenggarakan perang saudara…”
SIDE A
Ilir-ilir & Shalawat Badar
Renungan Ilir-ilir
Astaghfirullah
SIDE B
Nurul Musthofa
Penyembuhan Bangsa
Thoa’al Badru
Menyorong Rembulan
Shalawat Berdiri.
Sekali pun album ini sudah cukup lama dikeluarkan, tapi isinya tak kan usang di telan jaman. Jadi masih layak di dengar dan direnungkan.
Seperti biasanya, saya coba menulis ulang sebagian tulisan yang ada di dalam sampul Menyorong Rembulan
PRODUSER: Akhlis Suryapati. PRODUSER EKSKUTIF: H. Wawan Yuwardi, Dicky Sundri. DISTRIBUTOR: Indomusik. Studio: Ariesta. OPERATORPMIXING: Ferry, Jupri. DESAIN GRAFIS-VIDEO KLIP: Kreativa Entertainmen
Vokal: Emha Ainun Nadjib, Haddad Alwi, Ki Sudrun. Pemusik: Mini Kiai Kanjeng; Novi Budianto (keyboard, rebana, koor, aransemen). Bobit (keyboard, rebana, programmer, arransemen). Yoyok Prasetyo (bas gitar, rebana, koor), Bayu Kuncoro(rebana, koor), Djoko Kamto (rebana, koor). Koor: Kelompok Hamas—Himpunan Masyarakat Shalawat; Fatimah HA, Haydar Yahya, Effendy, Habib Husein, Ali Alical, Abinsa, Chepy, Ridho, Ali Alatas, Salim AF, Husein A, Hasan A, Dolah, Hilman Farkhi, Evey Supriyanto.
Kepemimpinan Blimbing
Hikmah Sunan Ampel
Bangsa Indonesia butuh keluar dari jurang. Butuh mengerti jurang apa yang menyerembabkannya dalam krisis yang sangat berkepanjangan. Butuh mengerti bagaimana cara merangkak naik dari kedalaman jurang. Butuh kesangguhan untuk membebaskan dari jurang secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri atau segolongan-segolongan.
Bangsa Indonesia perlu hijrah, berpindah dari kegelapan menuju cahaya. Bangsa Indonesia perlu memahami bukan hanya cara berhijrah, tapi juga terutama kemana akan berhijrah. Kedua-duanya “cara” dan “kemana” adalah pertanyaan tetang system nilai yang di sisitem nilai yang jelas pilih secara jelas. Perombakan system nilai yang tak jelas itu akan menyebabkan bangsa Indonesia belum mampu menyelenggarakan penyembuhan nasional secara tertata, belum mampu sanggup mengindentifikasi masalah-masalah secara tepat dan adil.
Dari khazanah Sunan Ampel, melalui konsep Ilir-Ilir, ada tawaran Kepemimpinan Blimbing. Negeri yang amat kaya raya namun dimanage secara buruk… Bocah angon (penggembala kebangaaan, pemimpin nasioanl, bukan pemuka gerombolan atau tokoh golongan) yang harus memanjat pohon selicin apapun untuk memperoleh blimbing yang bergigir lima… Sari blimbing itu dipakai untuk mencuci pakaian nasional yang robek (krisis moral yang melahirkan krisis politik.. Mungpung jembar kalangane, mungpung padhang rembulane… sepanjang masih sangat mungkin krisis diatasi..
Mudah-mudahan lantunan Ilir-Ilir dan sejumlah shalawat (agar kita melindungi diri dari tradisi dusta nasional) serta orasi sekitar seperempat jam ini bisa turut menjadi air blimbing untuk proses pencucian dan penyembuhan nasioanal.
Emha Ainun Nadjib
(Ta’zim pada Sunan Ampel, Cinta pada Guru Zaini, Martapura)
Fragmen-fragmen dari Renungan Emha:
“…. Bisakah luka yang teramat dalam ini memenuhi angkasa tanah air nanti akan sembuh, bisakah kekecewaan, bahkan keputusaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini akan pada akhirnya nanti akan kikis
Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi, dari jurang yang teramat curam dan dalam
Akankah api akan berkobar-kobar lagi
Apakah asap akan membungbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air
Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain,
Jarah menjarah satu sama lain dengan mengorbankan yang tidak akan terkirakan
Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya kita jalani
Bersediakah sebenarnya kita untuk tahu persis apa yang kita cari
Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita
Pernahkan kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar
Pernahkan kita memcoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu kita sesali dari perilaku-perilaku kita kemarin
Bisakah kita menumbuhkan kerendahan di balik kebanggaan-keganggaan
Masih tersediakah ruang di dada kita dan di akal kepala kita
Untuk sesekali bertanya kepada diri sendiri, bahwa yang bersalah
Bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa
Bukan hanya ia, tapi juga kita…”
“…. Terserah apa tafsirmu tentang blimling bergigir lima
Tapi selicin apapun pohon reformasi itu harus didaki, agar kita
Peroleh air sari blingbing untuk mencuci pakaian nasional kita
Dan yang memanjat harus “bocah angon”
Tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh juga seorang seniman, boleh juga seorang kiai, jenderal, atau siapapun saja
Namun memiliki daya angon
Kesanggupan untuk menggembalakan
Karakter untuk merangkul dan memesrai semua pihak
Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama
Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan
Bocah angon adalah seorang pemimpin naasioanl, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan….”
“…… ilir-ilir, kita sudah ngilir, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran belum hati nurani belum
Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk dimulut, namun kita biarkan ajara-ajarannya terus hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling
Kita mencari penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yakni
Melarangnya untuk insaf dan bertobat
Kita memperjuangkan gerakan anti pengusuran dengan cara balik menggusurnya
Kita menolak pemusnahan dengan merencanakan pemusnahan
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana
iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri
siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khotimah manusia, yang memblokade pintu sorga, yang menyorong mareka mendekat ke pintu neraka? …”
“…. Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri menindas
Sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak
Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menhancurkan
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan
Yang kita bangun bukan niknatnya kemesraan, tapi menggelaknya kecurigaan
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah
Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rancangan-rancangan panjang untuk menyelenggarakan perang saudara…”
SIDE A
Ilir-ilir & Shalawat Badar
Renungan Ilir-ilir
Astaghfirullah
SIDE B
Nurul Musthofa
Penyembuhan Bangsa
Thoa’al Badru
Menyorong Rembulan
Shalawat Berdiri.
Sekali pun album ini sudah cukup lama dikeluarkan, tapi isinya tak kan usang di telan jaman. Jadi masih layak di dengar dan direnungkan.
Jumat, 29 Juli 2011
Jaman Wis Akhir (Emha Ainun Nadjib dan Mini Kiai Kanjeng)
Album Jaman Wis akhir Emha Ainun Nadjib dan Mini Kiai Kanjeng di liris awal tahun 1999 (Musica Studio). Direkam secara live pada saat pengajian padang mBulan Jombang 4-11-998.
Album ini berupa gambaran tentang kegelisahan, pengharapan, pertobatan bangsa ini, yang dituturkan dengan gaya Mbeling-nya Cak Nun. Kita tahu semua saat itu kondisi bangsa ini sedang menginginkan perubahan.
Saya coba tulis lagi beberapa bagian yang ada di dalam sampul album Jaman Wis Akhir:
Bagian A
Jaman Wis Akhir, Koor: Hamas/ Vokal: Emha
Alloho Allohu, Koor: Hamas
Suluk Pertobatan, Vokal: Ehma
Tembang Kematian, Vokal: Ki Sudrun
Suluk Rosamtuka, Vokal: Zainul
Bagian B
Ya Allah Ya’Adhim, Koor: Hamas/ Vokal: Haddad Alwi
Suluk Amrun ‘Adhim, Vokal: Emha
Sidnan Nabi, Koor: Hamas/ Vokal: Emha
Suluk manMitslukum, Vokal: Zainul
Sholli wa Salim, Koor: Hamas/ Vokal: Ehma
Mini Kiai Kanjeng
Novi Budianto, Joko Kamto, Bobiet, Bayu Yoyok P, Pak Is Arie Blothong, Remaja Islam Gondanglegi Malang.
Didukung oleh
Haddad Alwi, M. Zainul Arifin, Ki Sudrun, M. Adib, Himpunan Masyarakat Shalawat (HAMAS) Jakarta, RISGO Gondanglegi Malang, Terbangan Menturo Jombang.
Dalam album ini ada satu tembang yang judulnya Tembang Kematian dinyanyikan Ki Sudrun. Tembang ini menggunakan bahasa daerah (Jawa). Saya coba tanya dan mencari cara untuk mengartikan ke dalam bahasa Indonesia. Kurang lebih seperti ini terjemahnya:
“Ketahuilah
Dari mana dan akan kemana hidup ini
Kalau nyawa lepas dari raga akan kemanakah kita?
Ibarat bururng terbang dari sangkarnya
Ibarat orang bepergian pastilah akan pulang
Pulang ke bawah pohon kamboja (mati)”
Kalau sobat-sobat ingin mendengar tembangnya silahkan tinggal diklik.
Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf apabila ada salah dalam bertutur dan bersikap.
Album ini berupa gambaran tentang kegelisahan, pengharapan, pertobatan bangsa ini, yang dituturkan dengan gaya Mbeling-nya Cak Nun. Kita tahu semua saat itu kondisi bangsa ini sedang menginginkan perubahan.
Saya coba tulis lagi beberapa bagian yang ada di dalam sampul album Jaman Wis Akhir:
Bagian A
Jaman Wis Akhir, Koor: Hamas/ Vokal: Emha
Alloho Allohu, Koor: Hamas
Suluk Pertobatan, Vokal: Ehma
Tembang Kematian, Vokal: Ki Sudrun
Suluk Rosamtuka, Vokal: Zainul
Bagian B
Ya Allah Ya’Adhim, Koor: Hamas/ Vokal: Haddad Alwi
Suluk Amrun ‘Adhim, Vokal: Emha
Sidnan Nabi, Koor: Hamas/ Vokal: Emha
Suluk manMitslukum, Vokal: Zainul
Sholli wa Salim, Koor: Hamas/ Vokal: Ehma
Mini Kiai Kanjeng
Novi Budianto, Joko Kamto, Bobiet, Bayu Yoyok P, Pak Is Arie Blothong, Remaja Islam Gondanglegi Malang.
Didukung oleh
Haddad Alwi, M. Zainul Arifin, Ki Sudrun, M. Adib, Himpunan Masyarakat Shalawat (HAMAS) Jakarta, RISGO Gondanglegi Malang, Terbangan Menturo Jombang.
Dalam album ini ada satu tembang yang judulnya Tembang Kematian dinyanyikan Ki Sudrun. Tembang ini menggunakan bahasa daerah (Jawa). Saya coba tanya dan mencari cara untuk mengartikan ke dalam bahasa Indonesia. Kurang lebih seperti ini terjemahnya:
“Ketahuilah
Dari mana dan akan kemana hidup ini
Kalau nyawa lepas dari raga akan kemanakah kita?
Ibarat bururng terbang dari sangkarnya
Ibarat orang bepergian pastilah akan pulang
Pulang ke bawah pohon kamboja (mati)”
Kalau sobat-sobat ingin mendengar tembangnya silahkan tinggal diklik.
Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf apabila ada salah dalam bertutur dan bersikap.
Kamis, 30 Juni 2011
Wirid Padang Bulan (Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kiai Kanjeng)
Wirid Padang Bulan adalah album Emha Ainun Nadjib berikutnya yang saya miliki, setelah album Kado Muhammad - Tombo Ati.
Ini adalah buah pikiran Cak Nun tentang Wirid dan Kerja Keras
Wirid itu tanah, kerja keras itu tanamannya.
Tanah tanpa tanaman itu omong kosong tahayul atau klenik. Manusia yang tidak mengakarkan dan menumbuhkan tanaman di atas tanah, akan hanya menjadi manusia hutan belantara yang hidupnya pada tanaman sunnah (tradisi penciptaan) Allah.
Hidupnya tidak produktif, tidak kreatif, tidak inovatif, dan itu artinya tidak setia kepada daya kerja dan kewajiban menggerakkan kehidupan yang berasal dari Allah.
Tanaman yang ditumbuhkan hanya di pot atau tabung yang memisahkan hubungannya dengan syariat bumi, alias hanya mengeksploitir bumi itu hanya mengambil beberapa jumput tanah untuk ditaruh di dalam pot juga tidak akan menemukan dayaguna maksimal dari potensial alam.
Dengan batas kosmologi pot itu manusia juga jadinya memutuskan huhungan dengan sumber, sehingga tidak akan tercapai pula titik tuju kehidupannya. Ia bersikap a historis terhadap sejarah eksistensi kehidupannya, serta berlaku tidak ilmah terhadap kenyataan hidupnya,
Ia hanya memperoleh sukses yang palsu, kemajuan yang menjebak hari tuanya, produk yang temporer dan tidak sejati, dan akhirnya penyesalan menjelang maut.
Kita tidak ikut memperjuangkan proses kelahiran diri kita, sehingga tanggung jawab kita kepada diri kita sendiri secara alamiah cenderung kalah mendalam dibanding tanggung jawab Bapak kita atas diri kita.
Tapi karena ibu-lah yang lebih menghayati kesengsaraan dalam melahirkan kita, maka tanggung jawab atas hidup kita mendalam dibanding tanggung jawab bapak, dan terlebih lagi dibandingkan dengan kadar tanggung jawab kita atas diri kita sendiri.
Namun demikian tanggung jawab siapapun atas diri kita tidak ada sejumput debu dibanding besarnya, agung dan setianya tanggung jawab Allah atas kehidupan kita. Karena peranNya dalam proses penciptaan dan pelahiran aras kita sama sekali jangan dibandingkan dengan peran Ibu bapak kita.
Allah sangat konsisten setia, mesra dan amat bertanggung jawab terhadap nafkah kita, rejeki kita, kesejahteraan kita, keselamatan dan kebahagiaan kita.
Indahnya tanggung jawab Allah itu akan sangat tampak jelas di mata ilmu kita dan kesadaran batin kita apabila pada pandang yang kita pakai dalam menilai apapun saja yang kita alami ini – berperspektif dunia akhirat, bukan hanya melalui kalkulasi dan atau berskala dunia saja atau akhirat saja.
Wirid yang kita lakukan ini berfungsi dialektis
Pertama, Ia merupakan wujud tanggung jawab kita kepada kemurahan Allah atas kehidupan kita.
Kedua, wirid itu sendiri merupakan salah satu ‘perangsang’ bukti tanggung jawab Allah atas hidup kita.
Semakin kita mewiridkan kekuasaan dan cintaNya disi kerja keras kita setiap hari semakin Allah menunjukkan bukti tanggungjawabnya.
Sesayang-sayang bapak dan handai tolan kepada kita, jangan pernah diperbandingkan melawan rasa sayang Allah kepada kita.
Secinta-cinta Ibu dan sanak famili kepada kita, jangan pernah dikompetisikan melawan kadar cintaNya kepada kita.
Ada perhubungan cinta segitiga antara Allah swt, Rasulullah Muhammad saw dengan kita. Akurasi dan maksimalitasi kabulnya doa kita dan suksesnya kerja keras kita, sesungguhnya minimal berbanding sejajar dengan frekwensi dan kedalaman wirid kita kepada Allah dan Rasulnya, maksimalnya satu wirid menjadi tujuh batang pohon barokah, dimana dari setiap pohon barokah itu terlahir seratus buah pada masing-masingnya.
Saya mengajak anda semua pergi ke sawah lantas mencangkulnya dan menanamnya dengan kemajuan hidup dan bukannya pergi ke sawah untuk duduk bersila dan berwirid dengan harapan tanaman akan tumbuh dengan sendirinya.
Sambil bekerja keras atau disela-sela kerja keras itulah kita berwirid.
Dengan tujuan pertama wirid itu akan merabuki tanaman kita sehingga berbuah barokah, dinamis, investatif, produktif dan menyimpan rejeki-rejeki tak terduga.
Kedua kita sama sekali tidak mampu menjamin bahwa kita akan terus sukses, terus ‘berkuasa’ atau terus ‘punya’ ini itu. Dalam hal itu tradisi wirid akan menghindarkan kita dari keterjerembaban ke titik terendah dari kehidupan alias kondisi faqir. ---- Muhammad Ainun Nadjib ----
PRODUSER : Suhardiman
PRODUSER PELAKSANA: Elix Krisnugroho, Sukanto Putusoma
DESAIN GRAFIS: Jonk
Direkam, MIXING, MASTERING: Blass Studio Yogjakarta
OPERATOR: Felix
PRODUKSI MNF (Mundu Nusantara Film)
Kompleks Ruko Mangga Dua Mall No. 40
Jl. Mangga Dua Raya Jakarta Utara 11043 Phone: (021) 6017823
Foto Cover: Tom Ibnur Foto Kiai Kanjeng B Heroe
VOKAL: Emha Ainun Nadjib, Tri Utami, Haddad Alwi, Fuad Efendi
Novi Budianto: PENATA MUSIK, SARON KEYBOARD, ACCORDION
Bobiet: KEYBOARD, PROGRAMMER
Joko Kamto: DEMUNG, Bayu: Demung, BONANG
Ari Blothong: BIOLA, Budi P: KENDANG SUNDA
Pak Is Mahardhika: SULING BAMBU, Gianto DEMUNG
KOOR: Anis Alwi, Abdullah, Hadad Alwi, Naufal Said, Segar Abdillah, Mustafa, Mustafa, Umar Assegaf, Haydar Yahya, Husain Alwi, Eddot, Joko K, Novi B.
Side A
- Wirid Orang Tertindas (Wirid Madhlumin) Download
- Wirid Bahagia Padang Bulan (Ya Mannan) Download
Side B
- Wirid Keselamatan Hidup (Penjagaan Allah) Download
- Wirid Sapu Jagat (Pengakuan Dosa Abu Nawas) Download
- Wirid Rejeki Melimpah (Tahu Kekayaan Termahal) Download
Didalam sampul album ini ada sedikit uraian tentang Wirid Sapu Jagat.
-Doa Sapu Jagat biasanya "Tuhan kami, beri kami kebaikan di dunia dan beri kami kebaikan di akhirat, serta hindarkan kami dari api neraka"
Etika utama manusia kepada Allah yang harus dipenuhi agar mendapatkan kebaikan dunia akhirat adalah mengetahui dan memohon ampun atas segala dosa. Disitulah fungsi sapu jagat.
Saya bukan orang yang kompeten dalam mengulas sesuatu, apalagi yang bersifat religius. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa dulu juga ada album religi yang dibalut dengan alat musik tradisional mengisi kazanah musik Indonesia. Tak ada kata usang untuk mengingat dan mencoba memdengarkannya kembali.
salam
Ini adalah buah pikiran Cak Nun tentang Wirid dan Kerja Keras
Wirid itu tanah, kerja keras itu tanamannya.
Tanah tanpa tanaman itu omong kosong tahayul atau klenik. Manusia yang tidak mengakarkan dan menumbuhkan tanaman di atas tanah, akan hanya menjadi manusia hutan belantara yang hidupnya pada tanaman sunnah (tradisi penciptaan) Allah.
Hidupnya tidak produktif, tidak kreatif, tidak inovatif, dan itu artinya tidak setia kepada daya kerja dan kewajiban menggerakkan kehidupan yang berasal dari Allah.
Tanaman yang ditumbuhkan hanya di pot atau tabung yang memisahkan hubungannya dengan syariat bumi, alias hanya mengeksploitir bumi itu hanya mengambil beberapa jumput tanah untuk ditaruh di dalam pot juga tidak akan menemukan dayaguna maksimal dari potensial alam.
Dengan batas kosmologi pot itu manusia juga jadinya memutuskan huhungan dengan sumber, sehingga tidak akan tercapai pula titik tuju kehidupannya. Ia bersikap a historis terhadap sejarah eksistensi kehidupannya, serta berlaku tidak ilmah terhadap kenyataan hidupnya,
Ia hanya memperoleh sukses yang palsu, kemajuan yang menjebak hari tuanya, produk yang temporer dan tidak sejati, dan akhirnya penyesalan menjelang maut.
Kita tidak ikut memperjuangkan proses kelahiran diri kita, sehingga tanggung jawab kita kepada diri kita sendiri secara alamiah cenderung kalah mendalam dibanding tanggung jawab Bapak kita atas diri kita.
Tapi karena ibu-lah yang lebih menghayati kesengsaraan dalam melahirkan kita, maka tanggung jawab atas hidup kita mendalam dibanding tanggung jawab bapak, dan terlebih lagi dibandingkan dengan kadar tanggung jawab kita atas diri kita sendiri.
Namun demikian tanggung jawab siapapun atas diri kita tidak ada sejumput debu dibanding besarnya, agung dan setianya tanggung jawab Allah atas kehidupan kita. Karena peranNya dalam proses penciptaan dan pelahiran aras kita sama sekali jangan dibandingkan dengan peran Ibu bapak kita.
Allah sangat konsisten setia, mesra dan amat bertanggung jawab terhadap nafkah kita, rejeki kita, kesejahteraan kita, keselamatan dan kebahagiaan kita.
Indahnya tanggung jawab Allah itu akan sangat tampak jelas di mata ilmu kita dan kesadaran batin kita apabila pada pandang yang kita pakai dalam menilai apapun saja yang kita alami ini – berperspektif dunia akhirat, bukan hanya melalui kalkulasi dan atau berskala dunia saja atau akhirat saja.
Wirid yang kita lakukan ini berfungsi dialektis
Pertama, Ia merupakan wujud tanggung jawab kita kepada kemurahan Allah atas kehidupan kita.
Kedua, wirid itu sendiri merupakan salah satu ‘perangsang’ bukti tanggung jawab Allah atas hidup kita.
Semakin kita mewiridkan kekuasaan dan cintaNya disi kerja keras kita setiap hari semakin Allah menunjukkan bukti tanggungjawabnya.
Sesayang-sayang bapak dan handai tolan kepada kita, jangan pernah diperbandingkan melawan rasa sayang Allah kepada kita.
Secinta-cinta Ibu dan sanak famili kepada kita, jangan pernah dikompetisikan melawan kadar cintaNya kepada kita.
Ada perhubungan cinta segitiga antara Allah swt, Rasulullah Muhammad saw dengan kita. Akurasi dan maksimalitasi kabulnya doa kita dan suksesnya kerja keras kita, sesungguhnya minimal berbanding sejajar dengan frekwensi dan kedalaman wirid kita kepada Allah dan Rasulnya, maksimalnya satu wirid menjadi tujuh batang pohon barokah, dimana dari setiap pohon barokah itu terlahir seratus buah pada masing-masingnya.
Saya mengajak anda semua pergi ke sawah lantas mencangkulnya dan menanamnya dengan kemajuan hidup dan bukannya pergi ke sawah untuk duduk bersila dan berwirid dengan harapan tanaman akan tumbuh dengan sendirinya.
Sambil bekerja keras atau disela-sela kerja keras itulah kita berwirid.
Dengan tujuan pertama wirid itu akan merabuki tanaman kita sehingga berbuah barokah, dinamis, investatif, produktif dan menyimpan rejeki-rejeki tak terduga.
Kedua kita sama sekali tidak mampu menjamin bahwa kita akan terus sukses, terus ‘berkuasa’ atau terus ‘punya’ ini itu. Dalam hal itu tradisi wirid akan menghindarkan kita dari keterjerembaban ke titik terendah dari kehidupan alias kondisi faqir. ---- Muhammad Ainun Nadjib ----
PRODUSER : Suhardiman
PRODUSER PELAKSANA: Elix Krisnugroho, Sukanto Putusoma
DESAIN GRAFIS: Jonk
Direkam, MIXING, MASTERING: Blass Studio Yogjakarta
OPERATOR: Felix
PRODUKSI MNF (Mundu Nusantara Film)
Kompleks Ruko Mangga Dua Mall No. 40
Jl. Mangga Dua Raya Jakarta Utara 11043 Phone: (021) 6017823
Foto Cover: Tom Ibnur Foto Kiai Kanjeng B Heroe
VOKAL: Emha Ainun Nadjib, Tri Utami, Haddad Alwi, Fuad Efendi
Novi Budianto: PENATA MUSIK, SARON KEYBOARD, ACCORDION
Bobiet: KEYBOARD, PROGRAMMER
Joko Kamto: DEMUNG, Bayu: Demung, BONANG
Ari Blothong: BIOLA, Budi P: KENDANG SUNDA
Pak Is Mahardhika: SULING BAMBU, Gianto DEMUNG
KOOR: Anis Alwi, Abdullah, Hadad Alwi, Naufal Said, Segar Abdillah, Mustafa, Mustafa, Umar Assegaf, Haydar Yahya, Husain Alwi, Eddot, Joko K, Novi B.
Side A
- Wirid Orang Tertindas (Wirid Madhlumin) Download
- Wirid Bahagia Padang Bulan (Ya Mannan) Download
Side B
- Wirid Keselamatan Hidup (Penjagaan Allah) Download
- Wirid Sapu Jagat (Pengakuan Dosa Abu Nawas) Download
- Wirid Rejeki Melimpah (Tahu Kekayaan Termahal) Download
Didalam sampul album ini ada sedikit uraian tentang Wirid Sapu Jagat.
-Doa Sapu Jagat biasanya "Tuhan kami, beri kami kebaikan di dunia dan beri kami kebaikan di akhirat, serta hindarkan kami dari api neraka"
Etika utama manusia kepada Allah yang harus dipenuhi agar mendapatkan kebaikan dunia akhirat adalah mengetahui dan memohon ampun atas segala dosa. Disitulah fungsi sapu jagat.
Saya bukan orang yang kompeten dalam mengulas sesuatu, apalagi yang bersifat religius. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa dulu juga ada album religi yang dibalut dengan alat musik tradisional mengisi kazanah musik Indonesia. Tak ada kata usang untuk mengingat dan mencoba memdengarkannya kembali.
salam
Sabtu, 18 Juni 2011
Kado Muhammad -Tombo Ati (Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kiai Kanjeng)
Ini adalah album Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kiai Kanjeng pertama yang saya miliki. Dirilis kurang lebih 15 tahun yang lalu, dipenghujung tahun sembilanpuluhan.
Kenapa saya saat itu berkeinginan untuk memliki album rekaman ini, Karena musik pengiringnya itu sobat, sangat kental dengan iringan alat musik tradisioanl (gamelan).
Saya mencoba tulis ulang sebagian dari tulisan yang ada di dalam sampul album Kado Muhammad:
PRODUSER: Here Rumemper
KORDINATOR: Kiai Kanjeng, Toto Rahardjo, Joko Kamto
STUDIO REKAM/MIXING: Mysti Studio, Yogyakarta
MIXING: Iriandi
KARAKTER SOUND: Bobiet
DESAIN GRAFIS: SiOng Harry Wahyu
PRODUKSI: Kalijogo Kreasi
KIAI KANJENG yang semula merupakan nama dari sebuah konsep nada, pada perkembangannya dipinjam untuk semacam tenger, nama ajringan musisi di Yogya yang memiliki kegelisahan kreativitas.
Dalam perjalanan kreatifnya personel-personel yang masuk dalam jaringan Kiai Kanjeng selain mendukung musik-puisi bersama Emha Ainun Nadjib mereka juga meleburkan diri pada jenis musik pada umumnya, juga mendukung berbagai pementasan di luar Kiai Kanjeng. Maka jaringan Kiai Kanjeng membuka diri intuk berinteraksi dengan aliran musik dan kelompok musik manapun. Selain dengan Emha, jaringan Kiai Kanjeng mencoba berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan Orchestra pada acara Satria Natpala di RCTI pada acara pembukaan JakJazz Desember 1995, dengan Neno Warisman, Novia Kolopaking, Ita Purnamasari, Dewi Gita, Gito Rollies dan Franky Sahilatua.
• Novi Budianto
Keyboard, trompet Ponorogo, siter, demung, gitar akustik, backing vocal
• Joko Kamto
Demung, rebana, backing vocal
• Toto Raharjo
Demung, rebana, bedug, gong
• Bobiet
Keyboard, drum, rebana, gitar akustik
• Imung
Flute, cello, cuk, backing vocal
• SP. Joko
Bas listrik, keyboard, gitar akustik, rebab, bonang, backing vocal
• Azied Dewa
Drum, perkusi, piano, siter, backing vocal
• Narto Piul
Biola, cak
• Gianto
Demung, siter, gambang, gender, kendang
• Ardiani
Saron, kendang
• Cut Esty, Estee, Wirastuti W
Backing vocal pada Engkau Menjelang dan Rayap
• Buad S
Backing vocal pada Tombo Ati
SIDE A
1. Tombo Ati
2. Kado Muhammmad
3. Kemana Anak-anak itu
4. Jalan Sunyi
SIDE B
1. Parados
2. Rayap
3. Besi dan Gelombang
4. Engakau Menjelang
5. Tak sudah-sudah
Dari album inilah pertama kali saya mendengar dan mengenal lagu Tombo Ati. Walaupun saya kurang paham tentang bahasanya, tapi saya sangat menikmatinya.
Oh iya sobat ada lagi bagian yang saya suka, yaitu puisi yang berjudul Kado Muhammad. Seperti ini syairnya:
Kado Muhammad
Muhammadku sayiyidku
Engaku selalu dan terus menerus lahir
Dalam jiwaku
Muhammad pengasuhku
yang mengajarkan hidup yang halal dan toyib
yerimalah nyanyian syukur dan hutang budiku
Terima kasih ya Muhammad
Guru kami semua
Karena telah engkau perkenalkan kami
kepada keabadian
yakni negeri kami yang akan datang
kepada malaikat
yang paling sejati dari segala sahabat
serta kepada akhirat
yang selalu terasa sangat dekat
Muhammad kekasih kami
terima kasih karena engkau selalu mensyukuri
kegembiraan kami
terima kasih
bahwa Engkau senantiasa pulang
menangisi derita kami
ya Rasul
kupanggul cintamu
berkeliling semesta
kutaburkan di hutan
di sungai
di kota-kota
Ya Rasul
Kudendangkan Qur’an
amanahMu itu kesegala penjuru
aku mengendari angin
aku bergerak melalui cahaya
aku mengaliri gelombang
bagi-bagikan makanan keabadian
kutuangkan bergelas-gelas minuman kesejatian
kutaburkan cahaya
ke lubuk-lubuk tersembunyi
hati manusia
Sekian dulu sobat. Maaf kalau postingan ini tak jelas kemana arahnya, sebab ini bukan sebuah reperensi. Ini hanya ungkapan apresiatif terhadap karya yang pernah ada di bumi kita ini.
Diperbaharui
Setelah ada komentar masuk dari sobat blogger, yang ingin mendengar lagunya. Dengan menggunakan alat seadanya saya coba membuat mp3-nya. Kalau sobat-sobat ingin mendengar albumnya, silahkan download dibawah ini. Tapi sebelumnya harap maklum mp3-nya kurang sempurna (he.. he..he)....salam.
Tombo Ati [Download]
Kado Muhammmad [Download]
Kemana Anak-anak itu [Download]
Jalan Sunyi [Download]
Parados [Download]
Rayap [Download]
Besi dan Gelombang [Download]
Engakau Menjelang [Download]
Tak sudah-sudah [Download]
Kenapa saya saat itu berkeinginan untuk memliki album rekaman ini, Karena musik pengiringnya itu sobat, sangat kental dengan iringan alat musik tradisioanl (gamelan).
Saya mencoba tulis ulang sebagian dari tulisan yang ada di dalam sampul album Kado Muhammad:
PRODUSER: Here Rumemper
KORDINATOR: Kiai Kanjeng, Toto Rahardjo, Joko Kamto
STUDIO REKAM/MIXING: Mysti Studio, Yogyakarta
MIXING: Iriandi
KARAKTER SOUND: Bobiet
DESAIN GRAFIS: SiOng Harry Wahyu
PRODUKSI: Kalijogo Kreasi
KIAI KANJENG yang semula merupakan nama dari sebuah konsep nada, pada perkembangannya dipinjam untuk semacam tenger, nama ajringan musisi di Yogya yang memiliki kegelisahan kreativitas.
Dalam perjalanan kreatifnya personel-personel yang masuk dalam jaringan Kiai Kanjeng selain mendukung musik-puisi bersama Emha Ainun Nadjib mereka juga meleburkan diri pada jenis musik pada umumnya, juga mendukung berbagai pementasan di luar Kiai Kanjeng. Maka jaringan Kiai Kanjeng membuka diri intuk berinteraksi dengan aliran musik dan kelompok musik manapun. Selain dengan Emha, jaringan Kiai Kanjeng mencoba berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan Orchestra pada acara Satria Natpala di RCTI pada acara pembukaan JakJazz Desember 1995, dengan Neno Warisman, Novia Kolopaking, Ita Purnamasari, Dewi Gita, Gito Rollies dan Franky Sahilatua.
• Novi Budianto
Keyboard, trompet Ponorogo, siter, demung, gitar akustik, backing vocal
• Joko Kamto
Demung, rebana, backing vocal
• Toto Raharjo
Demung, rebana, bedug, gong
• Bobiet
Keyboard, drum, rebana, gitar akustik
• Imung
Flute, cello, cuk, backing vocal
• SP. Joko
Bas listrik, keyboard, gitar akustik, rebab, bonang, backing vocal
• Azied Dewa
Drum, perkusi, piano, siter, backing vocal
• Narto Piul
Biola, cak
• Gianto
Demung, siter, gambang, gender, kendang
• Ardiani
Saron, kendang
• Cut Esty, Estee, Wirastuti W
Backing vocal pada Engkau Menjelang dan Rayap
• Buad S
Backing vocal pada Tombo Ati
SIDE A
1. Tombo Ati
2. Kado Muhammmad
3. Kemana Anak-anak itu
4. Jalan Sunyi
SIDE B
1. Parados
2. Rayap
3. Besi dan Gelombang
4. Engakau Menjelang
5. Tak sudah-sudah
Dari album inilah pertama kali saya mendengar dan mengenal lagu Tombo Ati. Walaupun saya kurang paham tentang bahasanya, tapi saya sangat menikmatinya.
Oh iya sobat ada lagi bagian yang saya suka, yaitu puisi yang berjudul Kado Muhammad. Seperti ini syairnya:
Kado Muhammad
Muhammadku sayiyidku
Engaku selalu dan terus menerus lahir
Dalam jiwaku
Muhammad pengasuhku
yang mengajarkan hidup yang halal dan toyib
yerimalah nyanyian syukur dan hutang budiku
Terima kasih ya Muhammad
Guru kami semua
Karena telah engkau perkenalkan kami
kepada keabadian
yakni negeri kami yang akan datang
kepada malaikat
yang paling sejati dari segala sahabat
serta kepada akhirat
yang selalu terasa sangat dekat
Muhammad kekasih kami
terima kasih karena engkau selalu mensyukuri
kegembiraan kami
terima kasih
bahwa Engkau senantiasa pulang
menangisi derita kami
ya Rasul
kupanggul cintamu
berkeliling semesta
kutaburkan di hutan
di sungai
di kota-kota
Ya Rasul
Kudendangkan Qur’an
amanahMu itu kesegala penjuru
aku mengendari angin
aku bergerak melalui cahaya
aku mengaliri gelombang
bagi-bagikan makanan keabadian
kutuangkan bergelas-gelas minuman kesejatian
kutaburkan cahaya
ke lubuk-lubuk tersembunyi
hati manusia
Sekian dulu sobat. Maaf kalau postingan ini tak jelas kemana arahnya, sebab ini bukan sebuah reperensi. Ini hanya ungkapan apresiatif terhadap karya yang pernah ada di bumi kita ini.
Diperbaharui
Setelah ada komentar masuk dari sobat blogger, yang ingin mendengar lagunya. Dengan menggunakan alat seadanya saya coba membuat mp3-nya. Kalau sobat-sobat ingin mendengar albumnya, silahkan download dibawah ini. Tapi sebelumnya harap maklum mp3-nya kurang sempurna (he.. he..he)....salam.
Tombo Ati [Download]
Kado Muhammmad [Download]
Kemana Anak-anak itu [Download]
Jalan Sunyi [Download]
Parados [Download]
Rayap [Download]
Besi dan Gelombang [Download]
Engakau Menjelang [Download]
Tak sudah-sudah [Download]
Langganan:
Postingan (Atom)






