Jumat, 24 Agustus 2012

Kampung Adat Sang Penawan Wisatawan

Kampung Adat Sang Penawan Wisatawan
ARIF BUDI K/”PR”
KELUARGA keturunan Kampung Adat Pulo berziarah di makam Eyang Dalem Arif Muhammad dengan latar belakang Candi Cangkuang di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Minggu (19/8). Berziarah ke makam penyebar pertama agama Islam di Garut itu menjadi salah satu tradisi keluarga Kampung Adat Pulo pada perayaan Idulfitri.
UNIK selalu menjadi perhatian. Demikian pula dengan Kampung Adat di Jawa Barat, keunikannya mampu menawan para wisatawan termasuk wisatawan manca negara.

Tak heran, saat lebaran termasuk pada tahun ini, sejumlah kampung Adat kedatangan “tamu” dari luar kampung. Tidak sedikit wisatawan yang sengaja mampir ke Kampung Adat misalnya Kampung Pulo untuk mengabadikan kentalnya suasana adat.

Kampung Adat Pulo yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, memang ramai dilintasi ribuan pengunjung. Selain penasaran dengan tradisi kampung adat, pengunjung biasanya ingin menikmati keindahan Candi Cangkuang atau berziarah ke makam Arif Muhammad.

Candi Cangkuang memang menjadi salah satu objek wisata andalan Garut yang menyedot wisatawan, terutama wisatawan asing. Pesona utama objek wisata tersebut sebenarnya adalah sebuah candi dengan arca Dewa Syiwa peninggalan budaya Hindu abad VII-VIII.

Candi Hindu pertama dan satu-satunya yang ditemukan di Tanah Pasundan ini menjadi daya pikat turis asing sekaligus dijadikan sumber penelitian. Tetapi di belakang candi, terdapat makam Eyang Dalem arif Muhammad, penyebar agama Islam di Garut. Makam tersebut berhadapat dengan museum kecil yang berisi naskah-naskah Alquran dan Khotbah berusia sekitar empat ratus tahun.

Danau kecil menjadi perlintasan yang harus dilalui dengan rakit untuk bisa menjejak daratan tempat situs berdiri. Sepanjang perjalan di atas rakit, udara segar dan angin dingin akan terasa semilir. Gunung Haruman, Mandalawangi, dan Guntur yang menjulang dengan elok juga jadi pemandangan memesona yang dapat dinikmati kala menumpang rakit.

Sementara di Kampung Urug yang terletak di Kiara Pandak, Sukajaya, Kabupaten Bogor. Kebanyakan wisatawan lokal maupun asing, datang hanya pada perayaan tertentu seperti ruwahan, seren taun (perayaan syukur atas hasil bumi), sedekah bumi sebelum menanam padi, dan menyambut tahun baru Isalam. Pada saat Lebaran, nihil wisatawan.

Hal yang sama juga terjadi di Kasepuhan Adar Ciptagelar yang berada di wilayah Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Wisatawan ramai saat perasaan seren taun.

Tidak hanya warga setempat, warga di luar Kabupaten Sukabumi pun sangat antusias menyaksikannya. “Hampir setiap upacara seren taun, kami selalau menyempatkan diri menghadiri. Upacara tahunan di Ciptagelar, sangat kami nanti. Dari agenda yang kami dapat di kasepuhan, seren taun berlangsung 1-3 September mendatang,” kata Ruli, salah seorang warga Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Bagi masyarakat adat kasepuhan Banten Kidul di kaki Gunung Halimun yang mayoritas petani, aktivitas upacara seren taun yang diawali arak-arakan warga mengusung padi (rengko) merupakan bentuk syukuran atas panen yang mereka peroleh selama setahun. Arak-arakan ribuan pocong padi kemudian disimpan di lumbung yang disebut leuit di jimat. (Dirangkum Amaliya/”PR”. Laporan dari Ahmad Rayadie/Kismi Dwi Astuti/Arif Budi K,/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar