Rabu, 29 Agustus 2012

MAIYAH, Tanah Air (Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng Sepuh)

maiyah
Apa Itu maiyah?
Pertengahan September 2001 ketika album ini direkam, sudah kali ke 24 Rombongan Kiai Kanjeng sepuh dan Emha Ainun Nadjib ber-maiyah keliling berbagai tempat, sejak 21 Juli 2001.

Maiyah itu pemusik dan pelantun lagu tidak berada di panggung, melainkan melingkar ditengah ruangan, indoor ataupun outdoor. Tidak ada penonton, karena semua yang hadir, kadang ratusan, kadang ribuan, beberapa kali puluhan ribu tidak menjadi penonton, melainkan berpartisipsi menjadi pelantun lagu-lagu.

Jadi tidak ada grup yang ditonton dan penonton yang menonton. Semua orang, pemusik, juga alat-alat musik, bersama-sama menghadap kepada Allah.

Dari bentuk kebersamaan seperti itu ditumbuhkan maiyah-maiyah dalam konteks yang meluas. Maiyah berarti kebersamaan. Pertama, melakukan apa saja bersama Allah. Kedua, bersama siapa saja yang mau bersama. Maiyah bisa berarti komitmen nasionalisme, kedewasaan hetertogenisme, kearifan pluralisme, tidak adanya kesenjangan ekonomi sebab kalau yang sini terlalu miskin dan yang sana terlalu kaya, itu namanya bukan hidup bersama. Bukan maiyah

Di dalam maiyah tidak ada kebencian. Maiyah tidak punya ilmu tentang perang, tidak punya pengetahuan tentang pertengkaran. Maiyah hanya punya mata cinta.

Emha Ainun Nadjib

Prakata di atas, adalah uraian tentang maiyah yang ada di dalam sampul album rekaman Cak Nun “MAIYAH Tanah Air yang direkam oleh Geese Studio dan MIX Studio, dan diedarkan PT. MUSICA tahun 2002. Materi album ini sama seperti album Cak Nun sebelumnya. Berisi Wirid, Shalawat, dan dipadu dengan penuturan berupa puisi oleh Cak Nun.

Seperti biasa, saya coba tulis ulang sebagian isi dari MAIYAH Tanah Air ini.

Allohumma dholamuuna fahfadhna warhamna wasnshuma warzuqna. Kita ini satu bangsa kita berdekatan satu sama lain, namun terkeping-keping. Kita saling tidak percaya, saling curiga, saling mengincar untuk jegal menjegal. Maka inilah maiyah kami kepada bangsa yang malang ini. Kita satu bangsa, tangan kita bergandengan namun hati kita terpecah belah, tidak ada kerelaan bersama yang kita hidupi adalah ketidakrelaan satu sama lain. Maka ini lah maiyah kami kepada bangsa yang terpuruk ini.

Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syattaa. Seolah-olah kita bersatu padu tetapi hati kita terkeping-keping. Tidak ada hari depan yang kita bangun kecuali dialektika penghancuran kebersamaan untuk curang dan memang sendiri, maka inilah maiyah inilah maiyah kami kepada bangsa yang terlalu lama sengsara….

Selain kaset, disertakan juga bonus berupa buku Maiyah (Penulis Khath; Islamianto & Mahfud, desain; Zaituna) berisi Wirid Kanjeng sepuh, Shalawat Kanjeng Sepuh, Puisi Emha Ainun Nadjib

Puisi-puisi Emha Ainun Nadjib (Maiyah)

Maiyah Lingkaran
Agar supaya kita saling menjamin
bahwa di dalam lingkaran kita tidak ada kotoran-kotoran batin,
kepalsuan niat, kecurangan fikiran, atau apapun
yang membuat Muhammad menitikan airmata
dan membuat Allah mengurangi
atau bahkan membatalkan kasih sayangnya kepada kita

Maiyah Lingkaran
Agar supaya perjalanan hijrah demi hijrah kita
Tidak disesatkan oleh arus masyarakat, oleh Allah atau oleh diri kita sendiri
Agar supaya perjalanan jihad kita tidak disertai oleh dendam dan ketakaburan
Agar supaya perjalanan ijtihad kita tidak dilalimi oleh makhluk apapun
Serta tidak melalimi diri sendiri
Agar perjalan mujahadah kita dianugrahkan bekal iman dan istiqamah
Bekal kekuatan dan muthmainnah, bekal penghidupan yang barokah
Pintu rejeki yang membuka dirinya lebar-lebar atas perjuangan kita
Pintu kegembiraan, keasyikan uluhiyah, serta perlindungan dari
Quwwatihi wa hauilih

Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul melingkar menghadapMu dan memunggungi dunia
Kami berkumpul melingkar menumpahkan cinta kepadaMu
karena telah dilukai hati kami oleh cinta dunia, negara serta golongan-golongan manusia
Kami berkumpul melingkar menyanyikan lalagu-lagu untuk
kekasihMu karena ummat manusia lebih menyukai kepalsuan

Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul menciptakan lingkaran kebersamaan antara
hamba-hamba yang dilemahkan oleh pelaku-pelaku kekuasaan dan keuangan
Kami berkumpul merapatkan lingkaran kebersamaan antara
hamba-hamba yang dilalimi oleh kebohongan dan kemunafikan kaum mutakabbirun
Kami berkumpul memadatkan kesatuan antara hamba-hamba
yang diremehkan dan kini mengerti bahwa diremehkan,
antara hamba-hamba yang ditindas dan kini mengerti bahwa ditindas,
antara hamba-hamba yang direndahkan dan kini mengerti bahwa direndahkan,
antara hamba-hamba yang dibuang dan kini mngerti bahwa dibuang

Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul menghidupi kesadaran, kepahaman dan kemengertian akan dusta dan kebohongan dunia
Kami berkumpul membangkitkan pengetahuan dan ilmu bahwa
kami dibodohkan, difitnah, dimusnahkan dan dibunuh sebelum kematian
Kami berkumpul menebar jaringan lingkaran para pecintaMU
para pecinta kekasihMu, para pecinta sejatian, para pecinta
kebenaran yang sungguh-sungguh kebenaran, para pecinta
yang benar-benar cinta.

Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul melingkar bershalawat bersamaMU serta
bersama para MalaikatMu, untuk manusia agung pilihanMu,
Muhammad saw
Kami berkumpul merangkai lingkaran ma’iyyatul hubbi, ma’iyyatul haqqi, fii ma’iyyatillahi ‘jalla jalalah -----

Maiyah Masyaallah
Masyaallah, orang tidak menyaksikan kok memperkatakan
Masyaallah, orang tidak memahami kok menghakimi
Masyaallah, orang tidak mengerti kok mentuhani
Masyaallah, orang tidak bertanya kok merasa lebih mengerti
Masyaallah, orang membutakan dari sambil memprasangkai
Masyaallah, orang mentulikan diri sambil memfitnah kanan kiri
Masyaallah, orang berbuat dhalim masih bisa merasa muslim
Masyaallah, orang menutup hati masih bisa merasa kiai
Masyaallah, pengetahuannya ditutupi masih bisa merasa santri
Masyaallah, akalnya sendiri dibikin buta masalah bisa merasa ulama
Masyaallah, ilmunya berpaling masih bisa merasa pemimpin
Masyaallah, tidak memelihara silaturahmi masih minta dihormati
Masyaallah, mentalnya fir’aun masih minta dijunjung
Masyaallah, kalau kepalanya hanya berisi curiga
Apa Tuhan menerima sujudnya
Masyaallah, kalu dadanya hanya dipenuhi prasangka
Apa para malaikat masih mengakui kekiaiannya
Masyaallah, kalau hukum baginya ada kepentingan sendiri
Apa arti shalat, sajadah, serban dan peci
Masyaallah, kalau otaknya jumud oleh kepentingan golongan
Apa gunanya pengajian dan wiridan
Masyaallah, kalau kebiasaanmu menghakimi berdasarkan kebodohan
Berhentilah memimpin kemenangan
Masyaallah, kalau masih butuh Dewa atau manusia yang didewakan
Baliklah ke zaman sebelum Islam
Masyaallah, kalau manusia biasa dianggap tidak mungkin bisa salah
Organisasimu adalah Partai Jahiliyah
Masyaallah, mestinya merasa malu kok malah bangga
Masyaallah,mestinya nangis tobat kok malah syukuran
Masyaallah,mestinya bercermin kok malah menampar muka orang
Masyaallah, mestinya berterima kasih kok malah memaki-maki
Masyaallah, mestinya mengoreksi diri kok malah menfitnah orang lain
Masyaallah, mestinya belajar kembali kok malah merasa paling pintar sendiri
Masyaallah, mestinya andhap asor kok malah sesumbar
Masyaallah, mestinya minta maaf kok malah pethenthang-pethentheng
Masyaallah, mestinya tawadldlu’ kok malah takabbur
Masyaallah, terancam masuk neraka kok malah yakin masuk sorga
Masyaallah, itu bukan kejahatan, itu hasil dari kebodohan
Itulah sebabanya kanjeng Nabi tidak menyebut Zaman Syarriyah
melainkan Zaman Jahiliyah
Masyaallah,itu bedoa apa memperbudak Allah
Masyaallah, itu istigtsah apa memperalat Allah
Masyaallah,itu mujahadah apa maksa Allah
Masyaallah,itu ijtihad apa menggampangkan Allah
Masyaallah, itu jihad apa memojokkan Allah
Masyaallah, itu mengaji apa membeo
Masyaallah, itu sembahyang apa absensi kayawan
Masyaallah, itu wiridan apa melarikan diri dari kekhelafahan
Maka siapa saja yang berada dalam lingkaran cinta ini maka siapa saja yang ikhlas jasmani rohani dalam cincin uluhiyah ini
Maka siapsa saja yang menumpahkan seluruh eksistensi hidupnya dalam ma’iyatullah ini
Hendaklah jangan melantunkan shalat, melainkan bersalawatlah
Hendaklah jangan menyanyikan shalawat
melainkan leburkan hidupmu dalam keindahan rububiyah
hendaklah jangan menomersatukan bibir dan suara musikmu
melainkan buktikan kepada Allah dan Kanjeng Nabi
kesungguhan cintamu.

Maiyah Fakir 1
Kami miskin
Kami faqir, ya Allah
Penghidupan miskin
Hati miskin
Akal miskin
Watak miskin
Jiwa miskin

Maiyah Fakir 2
Batin kering
Jiwa dangkal
Pikiran pendek
Mental kerdil
Moral ambruk
Kehendak-kehendak kami lalim
Lalim, ya Allah

Maiyah Fakir 3
Logika serabutan
Memandang segala sesuatu
Dengan kebusukan hati
Mendengar apa saja
Dengan logika yang curang
Ya Allah, yang pantas untuk kmai
Hanya adzab

Maiyah Fakir 4
Miskin terlalu lama
Telah mendidik kami
Jadi pendendam
Faqir berkempanjangan
Kecerdasan hilang
Milik terakhir hanya kebodohan
Kami gengam erat
Kami bangga-banggakan
Sebab kamu sampai kebodohan inipun sirna
Kami tak lagi punya apa-apa

Maiyah Fakir 5
Karena miskin penghidupan, ya Allah
Kalau ada orang makan enak
Kami simpulkan itu adalah ejekan
Kalau orang lainnya kepalaran
Kami gembira diam-diam

Maiyah Fakir 6
Karena faqir dan semakin ditinggalkan harapan
Maka jiwa kerdil melantunkan doa rahasia
Semoga orang pada menderita
Semoga siapa saja jangan ada yang beruntung nasibnya
Semoga kiri kanan yang ada orang sengsara

Sementara mulut bertugas
Mengucapkan yang mulia-mulia
Bibir meneriakkan kemanusiaan
Satu tangan mengacungkan demokrasi
Tangan lain siap siaga mencuri

Maiyah Fakir 7
Kerena miskin ilmu
Jadi gampang bicara
Karena miskin mengetahuan
Omongan menebar seluas udara
Karena miskin pikiran
Sedikit aja punya gagasan
Seluruh dunia disuruh mentaatinya
Karena faqir kreativitas
Sehelai ide yang memenuhi kepalanya
Diyakini sebagai kitab suci kebenarannya
Ya Allah, hamba-hamba
Yang mencapai kekerdilan tiada tara
Memantulkan kebesaran dan kemuliaan
milikMu yang tiada terhingga

Maiyah Fakir 8
Ya Allah sedemikian faqir para hamba
Pergi menemuiMu dengan bekal uang curian
Menaiki kendarann curian
Menyanyikan lagu-lagu curian
Menyebarkan shalawat curian
Mendendangkan suara curian
Mendirian peribadatan
Dengan tiang-tiang curian
Ya Allah maha Mulia dzatMu yang amat bersabar
Atas penghinaan hamba-hambaMU

Album rekaman MAIYAH ini merupakan salah satu dari 7 kaset Cak Nun dan Gamelan Kiai Kanjeng. Seluruhnya masih saya simpan. Yang pasti masih dibisa didengar walau ada penurunan kwalitas pitanya, karena dimakan waktu. Sebagian isi sampul masing-masing (7) kaset itu, saya simpan di archive69 ini.

salam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar