Sabtu, 12 Juni 2010

Pangkostrad: Hotel di Yogyakarta Rawan Aksi Teroris

Pasukan Batalyon Infanteri 412/ Raider Kost rad mengikuti latihan penyelamatan sandera dari penguasaan teroris di Gedung Sritex, Jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta, Sabtu (12/6). Latihan digelar untuk melatih kesiapan personel Yonif 412/ Raider Kostrad menanggulangi ancaman teroris. (Foto: KOMPAS/Ferganata Indra Riatmoko)

12 Juni 2010. Sleman -- Panglima Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Burhanudin Amin menyatakan hotel-hotel di wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman rawan menjadi sasaran aksi teroris, untuk itu diperlukankewaspadaan.

"Di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman ini banyak terdapat hotel berbintang dan sering mendapat kunjungan tamu dari dalam dan luar negeri, sehingga ini rawan menjadi sasaran aksi kelompok teroris," katanya seusai memimpin latihan penanggulangan teoris di gedung "Fashion Village" Sritex, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Sabtu.

"Latihan ini merupakan kegiatan rutin untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan TNI dalam menanggulangi aksi teroris," katanya.

Sementara dalam latihan tersebut digambarkan bahwa di dalam gedung "Fashion Village" Sritex saat itu sedang ada tamu Bupati Sleman dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman ternyata sudah dikuasai kelompok teroris yang berjumlah 15 orang.

Kawanan teroris tersebut kemudian menyandera Bupati Sleman dan Kepala Dinas Pariwisata dengan meminta tebusan tertentu.

Kemudian pihak keamanan mencoba melakukan negosiasi kepada kelompok teroris yang melakukan penyanderaan, namun upaya ini tidak berhasil dan kelompok teroris tetap pada tuntutannya.

Karena upaya negosiasi tidak membuahkan hasil kemudian pihak keamanan dalam hal ini TNI AD berupaya melakukan pembebasan para sandera.

Lokasi kesatuan paling dekat adalah Brigif 6 Surakarta yang mempunyai pasukan Penanggulangan Teror (Gultor) maka kesatuan ini langsung bergerak menuju lokasi.

Pasukan Gultor dari Yonif 412/Raider, Randivif 2 Kostrad kemudian bergerak cepat ke gedung "Fashion Village" Sritex untuk melakukan upaya pembebasan sandera, kemudian dengan menggunakan kendaraan taktis, helikopter dan sepeda motor pasukan Gultor ini mulai mendekati gedung.

Empat personel Gultor langsung meluncur turun dari helikopter, satu anggota yang di depan berhasil memecah kaca gedung dan menerobos masuk bersama dua personel lainnya untuk melumpuhkan teroris.

Sedangkan satu personel gagal memecah kaca karena posisi kaki tidak tepat sehingga akhirnya personel ini tewas akibat ditembak anggota teroris yang berada dalam gedung.

Sedangkan kendaraan taktis langsung menerobos masuk ke "basement" gedung dan menurunkan sejumlah personel untuk melakukan upaya pembebasan tawanan atau sandera.

Saat terjadi baku tembak antara pasukan Gultor dan kelompok teroris, ada tiga anggota teroris yang berhasil meloloskan diri dengan membawa dua sandera dengan menggunakan bus pariwisata, dan mereka kabur melalui Jalan Yogyakarta-Solo.

Pasukan Gultor yang telah siaga di luar langsung melakukan pengejaran terhadap bus pariwisata yang dirampas kelompok teroris tersebut, dan sekitar jarak 500 meter dari lokasi bus berhasil dihentikan.

Setelah terjadi beberapa kali kontak senjata akhirnya pasukan Gultor berhasil melumpuhkan teroris yang mengemudikan bus dan dua rekannya, serta membebaskan sandera.

Setelah berhasil dibebaskan, Bupati Sleman dan Kepala Dinas Pariwisata yang menjadi sandera para teroris kemudian disterilisasi untuk menjaga kemungkinan dua sandera ini telah dipasangi bom oleh para teroris.

Setelah dinyatakan aman keduanya kemudian dievakuasi dengan menggunakan mobil penyelamat.

Dalam aksi penyergapan ini tercatat 12 dari 15 anggota kelompok teroris dan satu personel pasukan Gultor tewas dalam baku tembak.

ANTARA News

Tidak ada komentar:

Posting Komentar