Jumat, 18 Juni 2010

Sejumlah Kapal dan Pesawat TNI-AL akan Dimusnahkan

USS Solano County (LST-1128) dibeli Indonesia diberi nama KRI Teluk Langsa (LST-501). Kapal dibangun di galangan kapal Chicago Bridge & Iron Co., Seneca, IL., mulai 23 November 1944 selesai 19 Februari 1945. Kapal diberi nama USS LST-1128, dioperasikan AL AS 9 Maret 1945, ditempatkan di wilayah Asia-Pasifik saat PD II. Kapal diganti namanya menjadi USS Solano County, dipensiunkan AL AS 1 November 1958. (Foto: navsource.org/Robert Hurst)

18 Juni 2010, Surabaya -- Sebanyak 12 unit kapal perang dan 16 unit pesawat milik TNI Angkatan Laut (AL) akan dimusnahkan untuk kemudian digantikan dengan armada baru.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Agus Suhartono di Surabaya, Jumat, mengatakan, pemusnahan kapal dan pesawat sudah masuk dalam cetak biru (blue print) program pembangunan kekuatan armada dan personel TNI-AL periode 2010-2014.

"Untuk tahap pertama ini ada empat unit kapal perang dari 12 yang akan kami hapus. Semua kapal yang kami hapus tersebut jenis LST (landing ship tank) buatan Amerika Serikat tahun 1942," katanya usai memimpin upacara serah terima jabatan Pangarmatim dan Gubernur AAL.

"Meskipun dihapus, tidak mengurangi kekuatan armada TNI-AL karena kami juga telah membangun kapal-kapal perang jenis LST dan LDP (landing dock platform)," katanya menambahkan.

Demikian halnya dengan pesawat udara milik TNI-AL. Dari 21 unit pesawat jenis Nomad, hanya lima unit yang dipertahankan untuk kegiatan latihan.

"Selebihnya, 16 unit yang akan dihapus selama periode 2010-2012 itu. Untuk pesawat, kami sudah memesan tiga unit CN-235 ke PT DI (Dirgantara Indonesia). Mudah-mudahan dua tahun lagi sudah bisa masuk ke TNI-AL," kata Agus Suhartono.

Ia mengemukakan, kapal dan pesawat yang sudah tua itu sudah tidak ekonomis lagi untuk dioperasikan karena biaya perawatannya sangat tinggi sehingga menjadi prioritas utama untuk dimusnahkan. "Untuk kru, nanti bisa mengawaki kapal atau pesawat yang baru," katanya.

Pemusnahan itu dilakukan dengan cara dipotong menjadi beberapa bagian. "Kemudian, bagian-bagian itu dilebur dan dijual. Dan, hasil penjualannya dikembalikan kepada negara," katanya.

ANTARA News

Tidak ada komentar:

Posting Komentar