Rabu, 02 Juni 2010

Latihan TNI dan Tentara AS

Gunung Merapi. (Foto: detikFoto)

02 Mei 2010, Sleman -- Sekitar 1.500 personel TNI dan polisi menggelar geladi lapang penanggulangan bencana gunung meletus di lereng Merapi, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Selasa (1/6). Terlibat juga 12 personel dari United Stated Pacific Command atau Uspacom. Prosedur penanganan bencana di Merapi dinilai tepat.

Simulasi melibatkan 500 warga, anggota SAR, dan beberapa organisasi seperti Taruna Siaga Bencana. Tujuh dusun yang berjarak 5- 7 km dari kawah Gunung Merapi menjadi lokasi evakuasi, yakni Kaliadem, Petung, Manggong, Kopeng, Jambu, Batur, dan Kepuh.

Setelah status Merapi "awas", sirene terdengar di dusun-dusun. Di Dusun Jambu, puluhan warga segera menuju poskamling. Hanya 10 menit, mereka mulai dievakuasi menggunakan motor, mobil, maupun truk menuju Lapangan Kepuharjo. Di lapangan, tenda-tenda dan dapur umum didirikan. Bangunan di tepi lapangan difungsikan sebagai barak.

Panglima Kodam IV Diponegoro Mayjen Budiman mengatakan, prosedur penanggulangan gunung meletus di Merapi ini sudah tepat. Namun, tetap diperlukan latihan terus-menerus agar warga makin terampil. Muaranya, jika Merapi sedang erupsi, risiko bisa banyak diminimalkan.

Anggota Unit Garda Nasional Negara Bagian Hawaii Bidang Perencanaan Penanggulangan Bencana Uspacom Letkol Vares Luw berpendapat senada. Prosedur di Indonesia sama dengan negaranya. Ia melihat, penanganan bencana di Merapi sudah bagus dan tepat.

Hanya bedanya, jika bahaya Merapi dari lahar dan awan panas-yang diistilahkan masyarakat dengan wedhus gembel, di Hawai bahaya hanya dari lahar. Pihaknya bisa berbagi pengalaman dengan Indonesia. "Dalam penanganan bencana, yang terpenting adalah sinergi antara tentara dan warga," katanya.

Status Gunung Merapi saat ini normal, status yang sama sejak November 2007. Lima erupsi terakhir di Merapi terjadi tahun 1994, 1997, 1998, 2001, dan 2006. Saat erupsi terakhir, 14 Juni 2006, dua orang meninggal saat berlindung di dalam bungker, Dusun Kaliadem. Mereka tak mengira bungker malah dilintasi awan panas.

Erupsi sebelumnya, yakni 17 Januari 1997, 19 Juli 1998, dan 10 Februari 2001, tak ada korban jiwa. Namun, pada erupsi sebelumnya, yakni 22 November 1994, sebanyak 69 orang meninggal dan puluhan luka- luka. Kebanyakan korban meninggal karena diterjang awan panas.

Meskipun Merapi berpotensi mengalami erupsi, warga tak takut.

KOMPAS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar