Minggu, 18 Oktober 2009

Kapal Perang LPD Tertunda Lagi

Salah satu LPD yang sedang dibangun di PT. PAL. (Foto: KOMPAS)

19 Oktober 2009 -- Penyelesaian kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) kembali tertunda. "Kapal ketiga baru diserahkan minggu ketiga Desember," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Iskandar Sitompul, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (19/10).

Angkatan Laut memesan empat kapal LPD dari Korea Selatan. Dua kapal pertama, KRI Surabaya dan KRI Makassar, langsung dibuat di negeri ginseng tersebut dan telah hadir memperkuat jajaran matra laut. Dua kapal terakhir dibangun di PT PAL, Surabaya, dengan asistensi perusahaan kapal Daewoo, Korea.

Sebelumnya, PT PAL sebagai produsen berjanji menyerahkan kapal angkut personel tesebut pada bulan ini. Dengan pengunduran waktu lagi, artinya sudah 12 kali penyerahannya ditunda.

Iskandar menjelaskan, kapal yang dibuat PT PAL dibangun paralel. Kapal terakhir sudah dapat diserahkan semester pertama 2010. "Tolong jangan terlambat lagi," katanya. Sebab, secara operasional sangat dibutuhkan.

Kapal angkut sangat berguna untuk pergeseran pasukan dan penanganan tanggap darurat bencana. "Seringnya bencana alam membuat pengadaan armada angkut lebih diprioritaskan," kata dia.

Iskandar mengatakan, pembangunan LPD adalah realisasi alih teknologi senjata strategis dari negara maju. "Dengan kemandirian, ketergantungan dari negara lain bisa dikurangi."

Setelah LPD, diharapkan PAL membangun kapal dengan spesifikasi lebih canggih, semisal perusak kawal rudal. Saat ini, TNI AL tengah menjajaki negara produsen yang berkomitmen memberikan alih teknologi. Beberapa calonnya, Prancis, Belanda, dan Italia. "Masih ditimbang mana yang terbaik," katanya.

Tingkatkan kerja sama

Akhir pekan lalu, Kepala Staf TNI AL Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Laut Singapura Laksamana Muda Chew Men Leong di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Dalam pertemuan tersebut, kedua petinggi sepakat meningkatkan kerja sama yang saat ini sudah berlangsung. Selain patroli bersama di Selat Malaka, TNI AL menawarkan keterlibatan Singapura dalam operasi kemanusian Surya Bhaskara Jaya yang rutin dilaksanakan setiap tahun di pulau-pulau terpencil dan perbatasan.

"Mereka mempertimbangkan mengirim kapal perang dan personelnya," kata Iskandar.

JURNAL NASIONAL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar