Minggu, 05 Agustus 2012

Kisah Zaid bin Tsabit, Sekretaris Rasulullah

(Oleh: Nugraha Ramdhani, Pikiran Rakyat)

SYAHDAN, ketika sedang memeriksa pasukan yang bersiap menghadapi Perang Badar, Rasulullah dihampiri oleh seorang bocah berusia tiga belas tahun. Sambil menggenggam pedang, bocah itu berkata dengan tegas, “Aku siap berkorban untuk diri Anda, ya Rusulullah. Izinkan aku ikut berjihad dan bawah komando Anda.”

Rasulullah memandangi bocah itu. Diam-diam, ia pun merasa kagum bercampur gembira. Diraihnya bahu bocah itu, lalu ditepuk dengan penuh kasih sayang. Dengan klaimat menghibur, Rasulullah mengingatkan sang bocah bahwa ia harus dikembalikan kepada kedua orangtua karena masih terlalu muda. Dengan wajah murung, sang bocah membalikkan tubuh, lalu pulang sambil menyeret pedang.

Rupanya, peristiwa itu disaksikan oleh ibu sang bocah. Nuwar binti Malik. Perempuan itu memang sengaja mengikuti anaknya untuk menghadap Rasulullah. Ia ingin sekali melihat putranya menggantikan kedudukan ayahnya yang telah tiada. Akan tetapi, mendengar jawaban Rasulullah. Nuwar pun bersedih hati. Sang anak telah gagal menjadi mujahid bersama Rasulullah.

Bocah pemberani itu adalah Zaid bin Tsabit
**

GAGAL, mendapingi Rasulullah berperang ternyata tak membuat Zaid bin Tsabit patah semangat. Zaid cilik akhirnya menemukan cara agar bisa mendekatkan diri dengan Rasulullah, yakni melalui jalan ilmu dan hafalan Alquran. Niat itu diutarakan kepada ibunya. Nuwar binti Malik pun merasa gembira. Bahkan, dia bertekad membantu sepenuhnya agar cita-cita putrnya tercapai.

Beberapa waktu kemudian, Nuwar binti Malik menyampaikan hasrat Zaid bin Tsabit kepada tokoh-tokoh kaumnya. Mereka kemudian menghadap rasulullah seraya berkata, “Wahai Nabiyullah… putra kamiZAid bin Tsabit, hafal surat ini dan surat itu dari kitabullah. Dia mamapu membacanya dengan fasih sebagaimaana waktu diturunkan ke dalam kalbu Anda. Di samping itu, dia juga pintar membaca dan menulis. Dia ingin mendekatkan diri kepada anda melalui jalan ini. Bolehlah anda uji dia kalau berkenan.”

Rasulullah pun mendengarkan bacaan Zaid bin Tsabit tentang sebagian ayat yang dia hafal. Ternyata, memang benar. Bacaan anak itu teepat sekali. Mantiq-nya 9kaidah bahasanya0 jelas. Di lidah Zaid, kalimatullah tampak gemerlap, sejelas pantulan bintang-bintang di permukaan telaga.

Rasulullah amat gembira, apalagi setelah membuktikan kecekatan Zaid dalam menulis. Beliau berkata, “Ya Zaid, belajarlah bahasa Ibrani karena aku tak percaya pada apa-apa yang dituliskan oleh orang-orang Yahudi itu.”

“Baik, ya Rasulullah,” Zaid menjawab.

Dia langsung belajar bahasa “Abriyah (Ibrani) dan menguasainya dalam waktu singkat. Selain itu, atas perintah Rasulullah juga, Zaid belajar bahasa Suryniyah. Sejak itulah Zaid diangkat menjadi sekretariisRasulullah dan menuliskan surat-surat untuk kaum Yahudi. Zaid pula yang membacakan surat-surat yang diterima rasulullah dari kaum Yahudi. (dinukil dari “Sosok Para Sahabat Nabi” karya Dr Abdurrahman Ra’fat albasya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar