Kamis, 13 Mei 2010

Dana Penelitian LIPI Minim

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) menerima kunjungan kehormatan dari Utusan Khusus Pemerintah Amerika Serikat bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Bruce Alberts di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/5). Presiden SBY dan Bruce Alberts melakukan pertemuan dan membicarakan soal hubungan bilateral kedua negara terutama di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/hp/10)

13 Mei 2010, Bogor -- Ketua Perencanaan Monitoring dan Evaluasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Dr Rosichon Ubaidillah, mengungkapkan dana penelitian di lembaganya sangat minim.

"Dana penelitian di LIPI sangat minim, dari Rp490 Miliar yang diberikan pemerintah tiap tahun, hanya 30 persen untuk penelitian, sisanya digunakan untuk biaya rutin seperti gaji dan perawatan," katanya, Rabu.

Ditemui di Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI, kompleks "Cibinong Science Center" (CSC) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rosichon menyatakan kondisi tersebut sudah berlangsung sejak 1998.

Sebelumnya alokasi dana yang diberikan diperuntukkan bagi gaji hanya 30 persen dan 70 persen untuk penelitian.

"Kini kondisi ini sudah berbalik, anggaran lebih banyak terserap untuk bayar gaji dan perawatan sisanya untuk penelitian. Nilai ini tidak cukup untuk sebuah penelitian," ujarnya.

Menurut Rosichon, minimnya anggaran penelitian ini berdampak tidak baik bagi dunia penelitian di Indonesia.

Ia menyebutkan, minimnya dana penelitian akan menurunkan kualitas-kualitas penelitian.

"Karena biaya penelitian semakin tinggi, sementara dana yang diberikan sangat minim. Sehingga target output-ouput yang kita sasar tidak tercapai maksimal," ungkapnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut mengkhawatirkan, karena Indonesia akan kalah dari negara tetangga.

"Indonesia tidak hanya akan kalah dengan Malaysia atau Singapura tapi dengan Vietnam, negara Indonesia akan jauh tertinggal," ujarnya.

Bagi para peneliti kondisi ini sangat mengkhawatirkan, sebagai negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati tapi perhatian pada dunia penelitian keanekaragaman hayati sangat minim sekali, ujarnya.

Namun, para peneliti tidak putus asa, dengan dana seadanya peneliti tetap melaksanakan tugasnya sesuai dengan anggaran yang diberikan.

Rosichon mengatakan, minimnya perhatian ini pulalah yang menyebabkan banyak para peneliti Indonesia yang memiliki kompetensi tinggi lebih memilih bertahan tinggal diluar negeri.

Para peneliti merasa lebih enak tinggal di luar negeri karena kesejahteraannya terjamin dengan besarnya penghasilan yang diperoleh.

Ia menyebutkan ada beberapa peneliti dari LIPI yang memilih tinggal di luar negeri karena alasan kesejahteraan yang belum terjamin di negeri sendiri.

Rosichon berharap, pemerintah memberikan porsi yang pas untuk penguatam sumber daya manusia sarana dan prasarana penelitian dan kesejahteraan.

Ia menambahkan, perhatian tidak harus dengan menaikkan gaji saja, perhatian dapat diberikan dengan menyediakan fasilitas laboratorium dan fasilitas penelitian lainnya.

"Peneliti sifatnya kesenangan, karena sudah melekat dihidupnya, berada di laboratorium dilengkapi dengan peralatan sudah membuat kita nyaman bekerja. Itu saja sudah cukup, tapi ini belum ada," katanya.

Ia mencontohkan saja, gedung Herbarium Bogoriense merupakan pemberian pemerintah Jepang, berikut dengan asetnya.

Sementara bantuan pemerintah Indonesia untuk gedung tersebut hanya untuk fasilitas pelengkap.

Dari sudut pandang ini terlihat, bahwa pemerintah masih minim memberikan perhatian untuk kemajuan negerinya sendiri.

ANTARA News

Tidak ada komentar:

Posting Komentar