Senin, 25 Januari 2010

TNI AL Amankan Perairan Aceh

Kapal KRI Yos Sudarso yang berlabuh di Pelabuhan Krueng Geukuh, Aceh Utara, Minggu (24/1). Tujuan kapal perang ini singgah ke Aceh Utara sekaligus untuk mensosialisasikan tentang fungsi dan tugas TNI AL untuk pelajar dan sekaligus mengisi bahan bakar. (Foto: SERAMBI/Masriadi)

25 Januari 2010, Lhok Sukon -- TNI Angkatan Laut memberi perhatian serius terhadap perairan Aceh yang selama ini kerap mengalami gangguan dari para perompak. Jajaran TNI AL pun siap mengamankan perairan laut Aceh, termasuk Selat Malaka, guna memberikan rasa aman bagi para pengusaha, nelayan dan seluruh pihak yang menggunakan salah satu jalur perairan terpenting dunia ini.

Hal itu diungkapkan Kepala Staf Gugus Tempur Wilayah Barat (Guspurlaba), Kolonel Laut (P) Didin Zainal Abidin, didampingi Komandan KRI Yos Sudarso, Kolonel Laut (P) Suhartono, dan Mayor Laut (P) Ali Ridho di Pelabuhan Krueng Geukuh, Aceh Utara, Minggu (24/1). Didin menyebutkan, seperti diketahui selama ini aksi perampokan kerap terjadi di perairan Selat Malaka yang masuk dalam kawasan Idi dan Langsa, Aceh Timur. “Kita siap mengamankan perairan laut Aceh. Selain itu, kita tentu mengantisipasi gangguan asing di kawasan Selat Malaka,” kata Didin Zainal Abidin kepada Serambi, di atas Kapal KRI Yos Sudarso.

Komandan Kodim 0103 Aceh Utara Letkol Taufan Akrida (kedua kiri) berjabat tangan dengan Komandan KRI Yos Sudarso Kolonel laut Shartono (kedua kanan) saat penyerahan cendera mata diatas Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Yos Sudarso Sudarso saat bersandar di Pelabuhan Kruenggeukuh Aceh Utara Propinsi Aceh. Minggu (24/1). (Foto: ANTARA/Rahmad/ss/pd/10)

Karenanya, kata Didin, TNI berharap masyarakat dan nelayan di Aceh memberikan informasi bila terjadi gangguan. Ia menyatakan, pihaknya akan langsung menindaklanjuti setiap laporan masyarakat mengenai gangguan di kawasan tersebut. “Selat Malaka menjadi selat sangat rawan. Karena, ini jalur internasional. Kita siap mengamankannya, melakukan patroli saban hari,” kata Didin Zainal Abidin. Menurutnya, kerja sama yang telah terbangun selama ini antara masyarakat dengan pihak TNI AL telah memberi dampak baik, di mana gangguan di perairan Aceh relatif menurun.

Pulau terluar

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Yos Sudarso Sudarso buatan Belanda yang difasilitasi kemampuan Multipurpose, anti udara,atas air dan perang bawah laut saat bersandar di Pelabuhan Kruenggeukuh Aceh Utara Propinsi Aceh. Minggu (24/1). Kedatangan KRI Yos Sudarso keperairan laut Aceh dalam rangka sosialisasi tugas pokok TNI AL bersama pergelaran operasi MSSP (Malacca Straits Sea Patrols). disepanjang laut Selat Malaka Aceh dari gangguan keamanan seperti perompakan, penyeludupan dan perambahan hasil laut oleh kapal asing yang menyusup keperairan laut Indonesia. (Foto: ANTARA/Rahmad/ss/pd/10)

Selain itu, Didin menyebutkan saat ini TNI AL juga bertugas mengamankan 92 pulau terluar (berbatasan langsung) dengan negara lainnya di Indonesia. Dari jumlah itu, 12 pulau diberikan pengamanan khusus dengan menempatkan satuan TNI AL di pulau tersebut. Khusus untuk Guspurlaba, memberikan perhatian serius pada lima pulau terluar yaitu Pulau Rondo, Berhala, Lipah, Jemur, dan Pulau Sekatung. “Ada 12 pulau yang kita berikan perhatian khusus. Untuk kawasan barat, ada lima pulau. Sisanya, ada di kawasan timur,” kata Didin.

Kehadiran KRI Yos Sudarso di pelabuhan Krueng Geukuh, sekaligus memperkenalkan tugas TNI AL pada sejumlah pelajar di Aceh Utara dan mengisi bahan bakar. KRI ini meninggalkan Krueng Geukuh, Minggu (24/1) sore dan akan singgah di Langsa untuk seterusnya melakukan patroli di kawasan barat laut Indonesia.

SERAMBI NEWS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar