Sabtu, 30 Januari 2010

Pengadaan Alutsista Harus Berbasis Industri Domestik

KRI Leuser-924 kapal perang jenis tunda samudera dibangun di galangkan kapal dalam negeri. (Foto: TNI AL)

30 Januari 2010, Jakarta -- Ketua Komisi I DPR RI Kemal Azis Stamboel menyatakan, pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI bagi kepentingan memperkuat sistem pertahanan nasional harus lebih fokus dan berbasis industri domestik.

"Ini berkaitan dengan rencana Kemhan dalam pengadaan alutsista ke depan dengan fokus utama produk industri dalam negeri," tegas anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) itu di Jakarta, Sabtu (30/1), menanggapi pernyataan pihak Kementerian Pertahanan (Kemhan) yang akan menyusun Rencana Induk Industri Pertahanan.

Dengan begitu, menurut Kemal Azis Stamboel, perlu upaya sungguh-sungguh untuk memperkuat industri pertahanan saat ini yakni badan-badan usaha milik negara yang bergerak di bidang industri pertahanan (BUMNIP).

"Kami berharap, secara paralel nantinya terjadi sinkronisasi seluruh kekuatan yang ada dalam rencana jangka menengah dan jangka panjang dengan pengadaan alutsista di seluruh satuan TNI," tandasnya.

Sebelumnya secara terpisah, mantan Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Yusron Ihza Mahendra mengungkapkan, Indonesia harus bisa meniru kemampuan sejumlah negara, seperti India dan kini Brazil yang mampu menjadikan industri pertahanannya menjadi sumber keuntungan dan tidak semata-mata menjadi sumber pengeluaran.

"Bermula dari keberhasilan Amerika Serikat, kemudian Uni Soviet yang kemudian berubah jadi Rusia, dan sejumlah negara Eropa (Jerman, Inggeris, Perancis), terlihat industri pertahanan itu semakin potensial sebagai 'profit center'. Dengan SDM berkualitas banyak dan bahan baku yang tersedia, Indonesia juga bisa seperti itu. Tinggal kemauan dan keputusan politik serta aksi nyata," ujarnya.

Ia menilai, penguatan industri pertahanan akan berdampak signifikan kepada penyerapan lapangan kerja, menghidupkan banyak industri di depan maupun di belakangnya, serta jika kompetitif produknya dapat jadi komoditas ekspor andalan.

"Tetapi yang lebih penting, kita bisa mandiri dan berdaulat dalam soal alutsista, tidak lagi terlalu tergantung kepada pihak asing dengan segala konsekuensi terkena berbagai restriksi, termasuk embargo," ungkap Yusron Ihza lagi.

MEDIA INDONESIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar