Senin, 02 Februari 2009

Agustus 2009 TNI AU Punya 10 Sukhoi

Sebuah pesawat Sukhoi milik TNI AU didampingi sebuah F-16 Fighting Falcon. (Foto: Iwan Santosa/Kompas)

2 Februari 2009, Makassar -— Departemen Pertahanan secara resmi menerima tiga pesawat tempur Sukhoi jenis Su-30 MK2 buatan Rusia, yang beberapa waktu lalu tiba di Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Pada Agustus 2009, rencananya akan datang lagi tiga pesawat sejenis, yang akan melengkapi satu skuadron tempur udara Skuadron Udara 11 di Lanud tersebut sehingga memiliki kekuatan sebanyak 10 pesawat tempur.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan (Sekjen Dephan) Sjafrie Sjamsoeddin, Senin (2/2), seusai menandatangani laporan berita acara serah terima tiga jet tempur itu.

”Pengadaan pesawat-pesawat tempur Sukhoi ini berasal dari alokasi anggaran pinjaman luar negeri (Kredit Ekspor) sebesar 335 juta dollar Amerika Serikat. Pengadaan pesawat tempur kali ini sudah sesuai rencana pengembangan postur pertahanan kita,” ujar Sjafrie.

Prajurit TNI AU di Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar, menurunkan dua pesawat Sukhoi Su-30 yang baru dibeli Pemerintah Indonesia dari Pemerintah Rusia, Jumat (26/12). Pesawat yang tiba dalam kondisi belum terangkai itu akan dirakit selama 10 hari dan pada akhir Januari 2009 diharapkan mulai bergabung dengan Skuadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin. (Foto: Aryo Wisanggeni Genthong/Kompas)

Dari skema pembayaran yang disepakati, Pemerintah Indonesia baru akan membayar cicilan pada tahun keenam selama tujuh tahun ke depan. Sepanjang lima tahun pertama, pemerintah belum dikenai kewajiban membayar apa-apa.

Dalam jumpa pers, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov menekankan, persenjataan yang saat ini ditawarkan negaranya ke Indonesia adalah jenis persenjataan tercanggih pada kelasnya.

Dalam waktu dekat, Pemerintah Indonesia juga akan mengadakan persenjataan jenis kapal selam Kilo Klas buatan Rusia. Pembelian kapal selam itu diadakan melalui fasilitas kredit negara (state credit), yang telah disepakati di antara kedua negara sebesar satu miliar dollar AS.

Kerja sama serupa, menurut Ivanov, sudah pernah terjadi di antara kedua negara sejak tahun 1960-an. Dia menolak anggapan kerja sama itu terkait kepentingan Rusia saja atau sekadar terkait diplomasi militer Rusia. Menurutnya, saat itu Angkatan Bersenjata RI banyak diperkuat oleh persenjataan buatan Rusia.

”Persoalan paling penting, Rusia tidak pernah terapkan syarat apa pun saat bekerja sama secara militer maupun teknis dengan Indonesia seperti sekarang. Kami adalah mitra yang dapat diandalkan oleh Indonesia,” ujar Ivanov.

Sebelumnya, tiga pesawat Sukhoi tiba di Lanud Sultan Hasanuddin dalam dua kesempatan berbeda, 26 Desember 2008 dan 17 Januari 2009, diangkut dalam kondisi terpisah dari Rusia menggunakan pesawat angkut Antonov AN-124-100. Seusai dirakit, ketiga pesawat kemudian sukses diuji terbang.

Lebih lanjut, terkait persenjataan, menurut Dirjen Sarana Pertahanan Departemen Pertahanan Marsekal Muda TNI Eris Herryanto, pembeliannya akan menggunakan skema alokasi kredit pinjaman yang berbeda dengan skema kredit pengadaan pesawat Sukhoi.

”Nanti akan diambil dari APBN, alokasi ke TNI Angkatan Udara, dan juga melalui kredit komersial. Kita masih ada alokasi Kredit Ekspor tahun 2004, yang prosesnya masih ada di Departemen Keuangan menunggu penandatanganan loan agreement. Selain itu juga dibiayai melalui state credit dengan Rusia yang masih diproses,” ujar Eris. (kompas.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar