Senin, 23 Februari 2009

Pengantian Dua Pesawat Tempur Tertunda

Super Tucano Calon Pengganti OV-10 Bronco

23 Februari 2009, Jakarta -- Penggantian dua pesawat tempur TNI AU, yakni OV-10 Bronco dan Hawk MK-53 dipastikan tertunda. Pengadaan dua pesawat pengganti tidak tercantum dalam percepatan penyerapan sisa anggaran pertahanan dari Kredit Ekspor periode 2004-2009 yang disepakati pemerintah, pekan lalu.

Artinya, pengadaan pesawat baru dijadwalkan periode 2010-2014. Meski kecewa, Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal Subandrio mengaku tidak mempermasalahkan keputusan tersebut. "Masih lebih baik karena pengadaan yang sudah dijadwalkan tidak ada yang dipotong," katanya menjawab Jurnal Nasional, beberapa waktu lalu.

Dalam percepatan kredit ekspor US$1,2 miliar atau sekitar Rp14 triliun itu, TNI AU mendapat jatah pengadaan rudal dan bom pesawat tempur, serta alokasi bertahap pembayaran pembelian enam Sukhoi dari Rusia. "Kontrak-kontrak itu yang harus diselesaikan tahun ini," katanya.

Beberapa persenjataan yang dialokasikan dibeli antara lain, panser Pindad untuk TNI AD, pesawat Skytruck asal Polandia pesanan TNI AL, serta pembelian kapal selam dan kapal perusak kawal rudal.

KSAU mengungkapkan, secara operasional sebenarnya penggantian kedua pesawat tidak bisa ditunda. Alasannya, Bronco sudah dikandangkan sejak medio 2007 lalu. Matra udara sudah merekomendasikan Super Tucano dari Brasil untuk menggantikan Bronco.

"Waktu itu dikandangkan supaya cepat diganti, ternyata tidak juga (penggantinya)," kata Subandio. Dari enam unit MK-53 yang ada, hanya dua unit yang kondisinya siap terbang. Ketersediaan suku cadang yang makin sulit mengakibatkan tingkat kesiapan MK-53 makin menurun.

Untuk pengganti MK-53, TNI AU mengaku masih menggodok berbagai jenis pesawat. Setidaknya terdapat lima alternatif, yakni, L-159B dari Republik Ceko, Yak-130 dari Rusia, Aermacchi M346 asal Italia, Chengdu FTC-2000/JL-9 dari China, dan T-50 asal Korea.

Pilot-pilot tempur matra udara pun telah mencoba seluruh pesawat-pesawat tersebut. Namun, karena anggaran belum jelas, TNI AU masih mengelak menyebutkan pesawat mana yang menjadi prioritas. (jurnalnasional)

Admin:
HALO !!!! para pemangku kekuasaan
Ada dua skadron tanpa pesawat
Ada lusinan pilot terlatih tanpa pesawat
Ada wilayah nan luas makin tak terjaga
Apakah tak ada cara yang cerdas mengatasi kurangnya anggaran

Disisi lain, dana melimpah diparkir di SUN
mengharapkan rente daripadanya
karena tak pernah dilaporkan berapa rente yang didapat
kemanakah larinya rente-rente tsb ?????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar