Rabu, 22 Juni 2011

Pembuatan Peta Laut Terkendala Dana


22 Juni 2011, Jakarta (Jurnas.com): Dinas Hidro Oseanografi (Dishidros) TNI Angkatan Laut yang bertugas dalam bidang survei dan pemetaan kelautan harus mengikuti perkembangan dan perubahan yang terjadi di lapangan. Karenanya survei dan peta laut harus diperbaharui secara berkala. Namun keterbatasan anggaran menjadi kendala Dishidros dalam menjalankan tugasnya tersebut.

"Ada 500 no peta yang harus di revisi per 5 tahun. Apalagi karena peta yang ada peninggalan belanda,"kata Subdis pemetaan Dishidros TNI AL Letkol A. Azis Muttaqim di Jakarta, Rabu (22/6).

Azis mengatakan, karena keterbatasan anggaran revisi terhadap peta-peta tersebut menjadi tidak maksimal. "Tiap tahun ada revisi, tapi anggarannya terbatas. Tiap tahun kami revisi 90 no peta,"katanya. Padahal revisi peta inhttp://www.blogger.com/img/blank.gifi penting untuk keselamatan pelayaran karena kondisi di lapangan selalu berubah.

Menurut Azis, pembuatan peta ini membutuhkan biaya yang tinggi. Namun dia tak menyebut berapa biaya yang dibutuhkan. "sebagai gambaran saja, peta dengan skala 1:12 ribu, areanya 12 mil bisa menghabiskan 1 Milyar lebih,"jelas Azis. Akibatnya banyak peta yang belum direvisi karena kekurangan dana.

Selain itu, kata Azis, dengan dana dan kapal yang terbatas pelaksanaan tugas Dishidros menjadi tak maksimal. Untuk melakukan survei, Dishidros hanya mampu menjangkau 12 lokasi. Padahal tempat dan lokasi yang harus disurvei terhitung banyak. "Apalagi kalau kita survei ke Papua, misalnya, bawa alatnya saja sudah butuh biaya. Kapal kami saat ini ada tujuh,"jelas Azis.

KSAL: Dishidros Pisau Bermata Dua

Dinas Hidro Oseanografi (Dishidros) TNI AL dituntut mampu menyediakan dan mendistribusikan data hidrografi dan oseanografi yang akurat, mutakhir, dan berkesinambungan.

Data itu penting untuk mendukung kebijakan maritim nasional maupun berbagai aktivitas kemaritiman. Misalnya, keselamatan bernavigasi di laut, pengelolaan pesisir, eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut, serta perlindungan lingkungan laut dan pertahanan laut.

”Baik di masa damai maupun di masa kritis,” kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno dalam sambutan saat membuka seminar dan pameran hari Hidrografi Dunia di Hotel Mercure Ancol di Jakarta, Rabu (22/6).

Dishidros seperti pisau bermata dua yang masing-masing sisinya sama tajam. Pada satu sisi bertugas menjalankan fungsi lembaga hidrografi militer/TNI untuk mendukung kepentingan pertahanan negara di laut. Sisi lain berperan mendukung kepentingan nasional pada aspek kesejahteraan, dalam hal pelayanan publik di bidang keselamatan navigasi pelayaran, mendukung kebijakan pemerintah dalam aspek kelautan, diplomasi batas maritim, serta penelitian kelautan khususnya di bidang hidrografi dan oseanografi.

”Dishidros secara institusional mewakili negara sebagai anggota International Hydrography Organization (IHO) sejak tahun 1960,” kata KSAL.

Sumber: Jurnas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar