Rabu, 18 Juli 2012

Semangat Berbagi Melalui Tradisi Misalin

Semangat Berbagi Melalui Tradisi Misalin
Tradisi MisalinWARGA mengikuti ritual misalin di situs keramat makam Galuh Salawe di Cimaragas Kabupaten Ciamis, Minggu (15/7). Misalin salah satu ritual yang digelar menjelah Ramadan.**(foto: Pikiran Rakyat)
Jelang Ramadan, beberapa ritual adat digelar di sejumlah situs di Ciamis. Salah satunya ritual Misalin di situs keramat makam Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh, di Dusun Tinggarahayu, Desa dan Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis.

Misalin secara harfiah berarti melakukan pergantian menuju kesejahteraan hidup lahir batin.

Tradisi tahunan ini telah dilakukan masyarakat di wilayah tersebut secara turun temurun. Pada tradisi ini, masyarakat bergotong royong membersihkan makam leluhur sekaligus berdoa di tempat tersebut untuk menyucikan diri menyambut Ramadan.

“Misalin juga bermakna membersihkan diri dari segala macam perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma agama,” ujar juru kunci makam keramat Galuh Salawe, Latif Adiwijaya.

Lebih lanjut Latif menuturkan ritual itu tidak hanya sebatas membersihkan makam karuhun yang rutin dilaksanakan.

Namun, menurut dia, Misalin juga merupakan momentum untuk “ngikis diri” demi mendapat keberkahan hidup.

Pada tradisi itu warga secara sukarela bergotong-royong membuat pontrang, yakni makanan yang disajikan di atas anyaman daun kelapa yang dibentuk segi empat menyerupai bentuk kapal.

Pontrang itu kemudian dibagikan kepada warga yang hadir dalam ritual untuk selanjutnya dimakan bersama-sama.

Pontrang itu wadah makan jaman dulu ketika acara atau hajat masyarakat digelar seperti di acara khitanan ataupun pernikahan. Pontrang dibuat dari daun kelapa dan mengingatkan kita pada sumber-sumber alam yang bis dimanfaatkan,” ucap Ayip salah seorang penyelenggara.

Uniknya, tidak seperti ritual di daerah lain, tak ada aksi saling rebut saat pontrang dibagikan.

Ratusan warga dengan sabar duduk menunggu jatah pembagian dari panitia penyelenggara.

Pontrang dibagikan setelah prosesi tawasulan usai dilaksanakan. Singkatnya seluruh acara dalam ritual tersebut berlangsung dengan khidmat dan tertib.

Sumber: Yulistyne Kasumaningrum/”Pikiran Rakyat”


Marhaban ya Ramadhan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar