Jumat, 27 Juli 2012

Ketuk Tilu Mapag Hujan Masih Hidup

Ketuk Tilu Mapag Hujan Masih Hidup
Ketuk Tilu Mapag Hujan EMPAT penari membawakan tari Nimang pada pagelaran Ketuk tilu Mapag Hujan di Teater Terbuka Balai Taman Budaya Jawa Barat, Sabtu (7/7) malam.* (foto: Pikiran Rakyat)
Kesenian tradisional Ketuk Tilu Mapag Hujan yang hanya ada dan dilaksanakan masyarakat Desa Sirap, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang, memiliki nilai filosofi kehidupan hubungan antara manusia dan alam. Bahwa hujan memberikan penghidupan bukan hanya pada manusia di muka bumi ini tetapi juga pada tumbuh-tumbuhan.

Pergelaran Ketuk Tilu Mapag Hujan sebagai kesenian menyambut musim hujan di awali dengan tembang bubuka “Kidung”, “Kembang Gadung” dan “Engko” diikuti tari “Nimang” disambung “Ngayun” dengan membawa bibit padi diiringi tembang ‘Cibabatan”, “Benjang”, dan “Gedut”. Setelah itu, para penari cantik melakukan soderan mengalungkan selendang ke leher penonton mengajak untuk menari bersama.

Kesenian ketuk tilu bisa berlangsung sepanjang hari. Bahkan, bila grup bajidor mulai berdatangan, baik ketuk tilu maupun juru tembang dan ronggeng bisa tidak berhenti sejak pagi hingga keesokan harinya. Pergelaran kesenian tradisi Ketuk Tilu Mapag Hujan ini, biasanya dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember atau setiap musim hujan.

Sumber: Retno HY/”Pikiran Rakyat”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar