Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2012

Yakin, Sadar, Sabar (Karinding)

Yakin, Sadar, Sabar (Karinding)
(foto: Pikiran Rakyat)
Oleh: Iman Rahman A.K, personal Karinding Attack

KARINDING sebagai alat musik tradisional, memiliki begitu banyak kekayaan iintelektualitas di balik bentuknya yang sederhana, cara memainkan, juga kisah-kisah seputar upaya revitalisasinya. Dari bentuknya, karinding terbagi menjadi tiga bagian, pancepengan, yaitu bagian yang harus dipegang dengan mantap, cecet ucing di mana buluh bambu karinding yang dibuat kecil dan tipis akan bergetar dan menghasilkan bunyi ketika bagian ke tiga, paneunggeulan, ditabuh.

Bagian pertama dari karinding, pancepengan, merupakan bagian dimana pemain karinding harus memegangnya dengan baik. Tak usah erat, yang penting pas dan mantap. Pancepengan serta cara sang pemain karinding memegannya mengandung nilai filosofi yakin, bahwa ia harus yakin dengan apa yang di pegang sebelum kemudian ia mainkan akan berguna bagi banyak orang.

Yakin kepada diri sendiri akan meniupkan ruh positif bagi individu sehingga ia akan terus berkata, “Aku akan memupuk semangat dalam kreaktivitas dan dengan demikian, kita sebenarnya sedang membuka sumbat yang menutupi potensi diri kita, membimbing mencapai tujuan yang kita yakini. Energi ini membantu kita dalam mencari referensi, bertanya, mengurus pekerjaan, menyusun berbagai langkah ikhlas dan tawakal, membina kita agar senantiasa berada dalam kerendahan hati ketika berpikir, berucap, dan bertindak.

Setelah dengan yakin bahwa ia menggenggam karinding, maka pemain karinding bisa mulai menabuh karinding dengan sabar, tidak tergesa-gesa, tidak terlalu cepat, tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan, namun pas di tengah-tengah. Orang-orang bijak selalu berkata bahwa sebaik-baik urusan adalah yang berada di tengah-tengah, dan kesabaran yang pas seperti ini pula yang diperlukan dalam menabuh karinding agar suara yang dikeluarkan bisa semantap keyakinan yang ia pegang.

Sabar adalah kata kerja, berkonotasi ketekunan sehingga akan memberikan penerangan bagi orang-orang yang meyakininya. Sebagai sebuah ketekunan, sabar mengacu pada disiplin dari dan bagaimana kita bisa mengatur waktu serta komitmen untuk mewujudkan apa yang kita cita-citakan. Sadar juga berhubungan erat dengan upaya terus menerus untuk mencapai yang terbaik, pantang menyerah dan kreatif dalam menyusun langkah-langkah yang diyakini benar. Sabar meningkatkan kekuatan orang-orang yang yakin, baik kekuatan fisik, mental, maupun spiritual.

Saat sudah dipegang dengan yakin dan ditabuh dengan sabar, makan rapatkan karinding ke rongga mulut sampai mengeluarkan bunyi. Ketika akhirnya bunyi itu hadir dalam ritme elok yang kita atur, maka hendaknya kita sadar bahwa bunyi itu bukanlah bunyi kita sendiri, bukan milik kita, melainkan milik Dia Sang Pencipta Bunyi. Yang sedang kita lakukan dalam bermain karinding bukanlah menghasilkan bunyi, melainkan memainkan bunyi yang telah ada, untuk sebaik-baiknya menajdi karya yang bisa diapresiasi secara positif oleh khalayak.

Kesadaran ini mengandung makna keikhlasan dan kerja. Ikhlas bahwa apa pun yang kita sangka milik kita, ternyata bukan seperti yang kita kira, sehingga yang harus kita lakukan adalah memelihara sebaik mungkin untuk kita kembalikan kepada-Nya dalam kondisi sebaik-baiknya. Untuk menjaga agar tetap utuh dan baik tentu diperlukan kerja. Dan kerja tidak bisa dilakukan sekali dua kali, melainkan terus menerus dalam pola yang terencana dengan hasil bukan untuk meraih sesuatu – namun melampaui apa yang dalam pikiran kta ingin raih.

Betapa indah filosofi “Yakin Sabar Sadar” yang terkandung dalam karinding. Tiga hal ini jika sudah bisa disatukan dalam harmoni maka akan sangat berguna dalam membentuk kepribadian manusia yang unggul dalam sisi-sisi kehidupannya. Manusia yang sederhana, arif, harmonis, dan memiliki ketenangan jiwa. Semoga ***

Sumber: Pikiran Rakyat

Minggu, 26 Agustus 2012

Seni Tembang (Macapat, Tengahan, Gedhe)

Seni Tembang (Macapat, Tengahan, Gedhe)
Seni Tembang (Macapat, Tengahan, Gedhe), adalah salah satu kesenian yang terdapat di daerah Jawa. Artikel yang mengulas tentang seni tembang ini, archive69 mengambilnya dari Buku Pintar Pepak Basa Jawa (Penyusun Ronggo Warsito, Penerbit NUSANTARA Surakarta). Seni Tembang “Macapat dan tengahan” ada persamaan nama-namanya dengan seni tembang yang ada di daerah Sunda yaitu Pupuh.

Seperti biasa saya ketik ulang sebagian isi buku yang mempergunakan bahasa Jawa ini. Sebagai berikut:

Tembang Jawa Ana Telung Warna:
- Tembang Macapat ana 11 pupuh
1. Asmradana 7. Magatruh
2. Dhandhang gula 8. Mijil
3. Durma 9. Pangkur
4. Gambuh 10. Pucung
5. Kinanthi 11. Sinom
6. Maskumambang
- Tembang Tengahan
1. Balabak 3. Jurudemung
2. Girisa 4. Wirangrong
- Tembang Gedhe
1. Citamengeng 3. Mintajiwa
2. Kusumastuti 4. Pamularsih

Ing tembang Jawa saben sak baris diarani sak gatra
Dhandang gula ana : 10 gatra (baris)
Gambuh ana : 5 gatra (baris)
Kinanthi ana : 6 gatra (baris)
Megatruh ana : 5 gatra (baris)
Pangkur ana : 7 gatra (baris)
Sinom ana : 9 gatra (baris)

Guru Wilangan lan Guru Lagu
Guru Wilangan - yaiku : Akehing kecap (ucap) suku tembung saben sa gatra (baris)
Guru Lagu - yaiku : Aksara urip (vokap) ing pungkasaning gatra (baris)

Tuladna:
Kinanthi guru wilangan guru lagu
Anoman malumpat sampun = 8 wanda = u
Prapteng witing nagasari = 8 wanda = i
Mulat mangandhap katingal = 8 wanda = a
Wanodya yu kuru aking = 8 wanda = i
Galung rusak wor lan kisma = 8 wanda = a
Kang iga-iga kaeksi = 8 wanda = i

Demikian artikel yang membahas tentang keberagaman seni yang ada di bumi Pertiwi ini. Tapi maaf-maaf, kalau pengetikan ulangnya ada kesalahan, maklum saya kurang memahami bahasa Jawa. Kalau ada sobat yang lebih fasih dan berkenan untuk mengalihkan bahasanya ke bahasa Indonesia, sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Salam

Jumat, 27 Juli 2012

Ketuk Tilu Mapag Hujan Masih Hidup

Ketuk Tilu Mapag Hujan Masih Hidup
Ketuk Tilu Mapag Hujan EMPAT penari membawakan tari Nimang pada pagelaran Ketuk tilu Mapag Hujan di Teater Terbuka Balai Taman Budaya Jawa Barat, Sabtu (7/7) malam.* (foto: Pikiran Rakyat)
Kesenian tradisional Ketuk Tilu Mapag Hujan yang hanya ada dan dilaksanakan masyarakat Desa Sirap, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang, memiliki nilai filosofi kehidupan hubungan antara manusia dan alam. Bahwa hujan memberikan penghidupan bukan hanya pada manusia di muka bumi ini tetapi juga pada tumbuh-tumbuhan.

Pergelaran Ketuk Tilu Mapag Hujan sebagai kesenian menyambut musim hujan di awali dengan tembang bubuka “Kidung”, “Kembang Gadung” dan “Engko” diikuti tari “Nimang” disambung “Ngayun” dengan membawa bibit padi diiringi tembang ‘Cibabatan”, “Benjang”, dan “Gedut”. Setelah itu, para penari cantik melakukan soderan mengalungkan selendang ke leher penonton mengajak untuk menari bersama.

Kesenian ketuk tilu bisa berlangsung sepanjang hari. Bahkan, bila grup bajidor mulai berdatangan, baik ketuk tilu maupun juru tembang dan ronggeng bisa tidak berhenti sejak pagi hingga keesokan harinya. Pergelaran kesenian tradisi Ketuk Tilu Mapag Hujan ini, biasanya dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember atau setiap musim hujan.

Sumber: Retno HY/”Pikiran Rakyat”

Selasa, 10 Juli 2012

Kesenian “Gong Sibolong” dari Tanah Baru Kec. Beji Kota Depok

kesenian Gong Sibolong
Kesenian Gong SibolongENGKONG Samin yang menari tayub bersama ronggeng mengundang gelak tawa saat pergelaran kesenian Gong Sibolong dari Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, sabtu (21/4) malam, di Teater Terbuka Balai Pengolahan Taman Budaya Jawa Barat.***
(foto: Pikiran Rakyat)
Buang Jayadi selaku pewaris kesenian Gong Sibolong, mengatakan bahwa awal terbentuknya kesenian ini berawal dari ditemukannya seperangkat alat musik tradisional Sunda yang ditemukan oleh Jimin pada tahun 1648 di daerah Ciganjur (sekarang masuk wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan). Kesenian ini banyak ditanggap karena keanehannya.

Sejarah Gong Sibolong ini pun tergolong unik. Alkisah pada abad ke-16, Kampung Tanah Baru pada saat itu sebagain besar masih berupa hutan dan rawa. Penduduknya sangat sedikit dan umumnya bertani. Dikampung Tanah Baru tersebut kerap kali terdengar bunyi-bunyian suara gamelan di malam hari, tetapi ketika sumber dari suara tersebut dicari tak satu pun orang yang dapat menemukannya.

Di tahun 1648, seorang warga yang merupakan alim ulama dari Ciganjur bernama Pak Jimin menemukan sumber bunyi tersebut, yang ternyata memang seperangkat gamelan. Namun ternyata tidak ada orang yang memainkannya.

Lokasi penemuannya adalah di sekitar Curug Agung di aliran sungai Krukut. Pak Jimin pun hanya sanggup membawa sebuah gong yang bolong di tempat pukulnya, gendang dan bende. “Ketika Pak Jimin kembali lagi bersama beberapa tetangganya untuk mengambil sisa perangkat gamelan itu, ternyata perangkat gamelan lainnya sudah raib. Ketiga alat musik tersebut diberi nama di Gledek. Karena bunyinya yang nyaring,” tutur Buang Jayadi, bercerita ihwal kesenian tradisional Gong Sibolong yang merupakan warisan kakek buyutnya.

Dari tangan Jimin, Gong diwariskan kepada Pak Tua Galung (Jerah). Di tangan Jerah inilah Gong Sibolong dilengkapi dengan kendang, saron dan kromong, kedemung, kenong, terompet, bende, serta gong besar. Ini pula yang menandai terbentuknya Kelompok Kesenian Gong Sibolong dan eksistensinya terus dipertahankan oleh Buang Jayadi yang merupakan generasi ke sembilan.

Seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya. Gong Sibolong mengawali pergelaran dengan komposisi musik instrumen “Cara Bali”. Dinamai demikian karena menilik suara gamelan yang dimainkan tidak beda jauh dengan gamelan Bali.

Baru setelah gamelan pembuka diteruskan dengan tari Tayub dan diselingi instrumen “Ajeng” kemudian Nayub lagi dengan lagu “Bangket”, dan begitu seterusnya.

Gong Sibolong pun sekarang menjadi nama dari kelompok kesenian khas Kota Depok. Kelompok kesenian ini pernah memenangi juara 1 dalam pergelaran kesenian Jawa Barat Travel Exchange 2008.

Sumber: Retno HY/”Pikiran Rakyat”

Kamis, 21 Juni 2012

Menguak Kisah di Balik Topeng Jati atau Topeng Menor

Topeng MenorLatar belakang keberadaan kesenian topeng tidak terlepas dari sejarah perkembangan Islam di bumi Parahyangan. Kenyataan ini berkaitan dengan fungsi pertunjukan topeng semasa Cirebon dipimpin Sunan Gunung Djati. Saat itu pertunjukan topeng dijadikan alat penyebaran agama Islam,. Nyi Mas Gandasari yang masih keluarga Sunan Gunung Djati telah berperan sebagai penari topeng untuk menaklukan Pangeran Welang dari Karawang agar masuk Islam.

Walaupun topeng Cirebon asal muasalnya dari kebudayaan Hindu Budha pada zaman Majapahit yang membawakan cerita panji, tetapi oleh para penyebar Islam (wali) ke dalam kesenian topeng ini dimasukkan nilai-nilai Islam.

Sebutan Topeng Menor ada kaitanya dengan tradisi di lingkungan para seniman Cirebon. Kebiasaan menyertakan identitas pribadi dibelakang kata topeng adalah kebiasaan yang sangat umum untuk menunjukkan profesi seseorang.

Menor adalah nama lain dari Carini (56), seorang dalang topeng berdarah Cirebon yang tinggal di Dusun Babakan Bandung, Desa Jati, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang. Sebutan Menor diberikan karena ia adalah satu-satunya anak perempuan dari empat bersaudara (Sunaryo, Supendi, dan Komar) buah perkawinan dari Sutawijaya dan Sani.

Keberadaan Topeng Cirebon di Cipunagara pada mulanya berasal dari dua daerah pusat penyebaran topeng, yaitu Cirebon dan Indramayu. Ditahun 1930-an Aki Resa (kakek buyutnya Carini) dipanggil untuk nopeng (menari topeng) oleh Juragan Demang.

Pangga (anaknya Aki Resa) tahun 1940-an menetap di Desa Jati, mewariskan kesenian topeng kepada keturunanya (yaitu Winda, Talim, Aminah, Sutawijaya). Di Desa Jatilah kesenian topeng berkembang hingga dinamai topeng jati dan setelah Carini yang mendapat julukan si Menor menjadi penerus, maka nama topeng Jati pun menjadi topeng Menor.

Seperti tempat asalnya (Cirebon), Topeng Jati mempunyai beberapa topeng dengan karakter masing-masing. Topeng Panji berwarna merah muda dan putih diibaratkan sebagai seorang kesatria dengan karakter yang lemah lembut, lungguh, dan alim.

Topeng Samba berwarna merah muda berambut diibaratkan sebagai kesatria yang memiliki sifat gandang.

Topeng Rumyan diibaratkan sebagai seorang kesatria yang mempunyai karakter pemberani dan gandang.

Topeng Tumenggung atau Punggawa memiliki karakter yang berani sebagai halnya prajurit kerajaan yang siap berperang. Warna topeng biasanya berwarna merah muda dan berkumis.

Topeng Kelana atau Rahwana, berkawakter garang, serakah, dan suka membuat onar. Warna topeng baisanya merah dan berkumis tebal

Topeng Buta mempunyai karakter garang, menakutkan, dan berperilaku jahat. Warna topeng biasanya merah berkumis tebal.

Sumber: Retno HY, Pikiran Rakyat.

Kamis, 03 Mei 2012

Kesenian Tarling, Seni Klasik Direformasi Jadi Indah dan Sempurna

tarling
Kiprah warga keturunan Tionghoa dengan segala kelebihan dan kekuranganya, diakui atau tidak, sangat berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian di Indonesia. Namun, siapa menduga kalau ada keturunan dari negeri tirai bambu itu yang ternyata turut mereformasi kesenian klasik di pantai utara (pantura)

Bahkan karena reformasinya itu seni tradisional pantura yang kemudian diberi nama tarling dinilai menjadi lebih sempurna, enak dinikmati, dan dikenal di nusantara, bahkan di dunia. Meskipun sudah sepi panggilan manggung dan kurangnya regenerasi pelaku kesenian tersebut, tarling masih tetap menjadi ikon kesenian Cirebon di samping topeng.

Diceritakan, sekitar tahun 1940-an, di Cirebon ada seorang pemuda WNI keturunan Tionghoa yang sangat piawai meniup suling bernama Lian Sin You. Ia dikenal pula dengan panggilan Barang. Entah apa sebabnya pemuda yang satu ini tempo dulu dikenal dengan Brang. Pemuda tersebut sangat hobi memancing di sungai atau laut. Sambil membawa alat musik tipu terbuat dari bambu itu.

Pangkal pancing yang terbuat dari bambu tidak ia pegang sebagai mana lazimnya orang memancing. Namun, ditancapkan di tanah pinggiran sungai atau pantai. Sementara Lian Sin You asyik meniup suling. Ketika tali bergerak-gerak sebagai tanda ikan memangsa umpan,barulah dia mencabut gagang pancing lalu melepas ikan dari mata kail. Setelah itu kembali memberi umpan, menancapkan pancing dan lagi-lagi meniup seruling.

Kepintarannya memainkan suling membuat pemuda tersebut dikenal dimana-mana hingga ke luar kota Cirebon, Kuningan, Majalengka, Indramayu Jawa Barat hingga sebagian wilayah Kabupaten Brebes, Slawi, Tegal Jawa Tengah banyak yang mengenal Lian Sin You. Tidak heran apabila pada suatu ketika Jayana, anggota grup Tuleg, datang ke Cirebon untuk mencari dan bertemu dengan Lian Sin You. Ketika datang, Jayana mendapati Lian tengah asyik meniup suling hingga mendayu-dayu di tepi Sungai Kesunean, sebalah timur kompleks Keraton Kasepuhan sambil memancing ikan.

Setelah melakukan kompromi mereka pun berkolaborasi mengisi siaran Radio Republik Indonesia (RRI) regional Cirebon sekitar tahun 1949. dengan alat cukup sederhana berupa gitar dan suling, mereka melantunkan tembang khas Cirebonan seperti lagu-lagu kiser yang menjadi daya tariknya. Siaran langsung tersebut membuat para pemirsa RRI terkesima, apalagi yang membawakannya ternyata Jayana dan Lian, hingga banyak diantaranya yang keedanan (tergila-gila) pada kesenian tersebut.

Tokoh tarling Jayana juga bekerja sama dengan beberapa pesinden di antaranya Nyi Carini, Nyi Keni, Nyi Tarila, dan Nyi Kamas. Waditra tarling juga semakin lengkap hingga menghasilkan gabungan bunyi yang semakin enak dinikmati. Masyarakat pun semakin antusias menerima kehadiran kesenian tersebut.

Versi lain seperti yang ditulis budayawan Cirebon Nurdin M Noer dan Sumbadi Sastra Ala dalam bukunya “Bulan Tanpa Awan”, pada tahun 1965, kesenian tarling seringkali mengudara di gelombang RRI Cirebon. Atas inisiatif dari Fadjar Madradji Kepala Stasiun RRI Cirebon pada waktu itu, nama tarling diubah menjadi “melodi kota udang” tembang-tembangnya lebih apresiatif dan dinamis hingga lebih disukai pemirsa segala usia. Tidak lagi mendayu-dayu, tetapi mengarah pada lagu-lagu pop Cirebonan.

Pelopornya adalah, seniman muda tarling pada masa itu yakni H. Abdul Adjib dan Sunarto Marta Atmadja yang lebih dikenal dengan Kang Ato. Bahkan, lagu “Warung Pojok” karya seniman Abdul Adjib yang monumental itu sempat tampil dalam International Folklore Festival (festival lagu-lagu rakyat internasional) di Kota Denhaag, Belanda tahun 1969. setelah digubah Pranajaya dalam festival internasional tersebut, nama kesenian tarling mendadak dikenal di dunia.

Versi lain seperti ditulis Supali Kasim dalam bukunya “Tarling Migrasi Bunyi dan Gamelan ke Gitar Suling” (2003) menyebutkan, tarling muncul di Desa Kepandean, Kecamatan/kabupaten Indramayu, Jawa Barat sekitar tahun 1931. diceritakan saat itu ada seorang komisaris Belanda yang meminta tolong Mang Sakim, warga setempat, untuk memperbaiki gitarnya yang rusak. Mang Sakim dikenal sebagai pakar gamelan. Namun, setelah diperbaiki, komisaris Belanda tersebut tidak kunjung datang untuk mengambil gitarnya yang sudah diperbaiki.

Iseng-iseng Mang Sakim mempelajari nada-nada gitar tersebut dan dibandingkan dengan nada-nada pentatonis gamelan. Putra Mang Sakim, Sugra tertarik untuk mempelajari nada-nada tersebut. Bahkan, Sugra melakukan eksperimen dengan memindahkan nada-nada pentatonis gamelan ke senar gitar, yang bernada diatonis. Dengan eksperimen itu, tembang-tembang seperti kiser dermayonan dan cerbonan yang semula lazimnya diiringi gamelan, menjadi jauh lebih enak didengar ketika diiringi dengan petikan gitar. Kekhasan dan keindahan musik dan tembang klasik tersebut semakin lengkap manaklan dipadukan pula dengan alunan suling miring.

Sejak itulah gitar dan suling miring yang mengiringi kiser dermayonan dan cerbonan semakin memasyarakat hingga selanjutnya ditiru oleh para pemuda kota dan desa saat mereka kumpul-kumpul di “pejagan”/”jondol” (poskamling). Masyarakat, terutama para pemuda di wilayah Indramayu dan Cirebon sepertinya menerima tarling itu sebagai gaya hidup.

Dalam bukunya itu Supali menuturkan, pada tahun 1935 tarling dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, kendi berfungsi sebagai gong. Pada tahun 1936 dipadukan lagi dengan baskom dan ketipung kecil yang dimanfaatkan untuk perkusi, Sugra dan kawan-kawan kerap mendapatkan objekan panggungan ke mana-mana. Sugra pun melengkapi pertunjukannya dengan drama yang memaparkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat.

Meskipun semakin memasyarakat tarling pada waktu itu belum disebut sebagai jenis aliran musik. Tarling saat itu biasa disebut “melodi kota udang” untuk daerah Cirebon dan “melodi kota ayu” untuk daerah Indramayu. Istilah tarling baru dibakukan ketika RRI kerapkali menyiarkan jenis musik tersebut dan pada 17 Agustus 1962 bertepatan dengan HUT RI, Badan Pemerintahan Harian, semacam DPRD setempat meresmikannya dengan nama TARLING.**

Sumber : Akim Garis/*Pikiran Rakyat*

Kamis, 19 April 2012

17 Pupuh Sunda (Sekar Ageung, Sekar Alit)

17_pupuh
Pupuh merupakan karya sastra berbentuk puisi yang termasuk bagian dari sastra Sunda. Pupuh itu terikat oleh patokan (aturan) pupuh berupa guru wilangan, guru lagu, dan watek. Guru wilangan adalah jumlah engang (suku kata) tiap padalisan (larik/baris). Guru lagu adalah sora panungtung (bunyi vokal akhir) tiap padalisan. Sedangkan watek adalah karakteristik isi pupuh.

Terdapat 17 jenis pupuh yang terbagi ke dalam dua kategori, yaitu: Sekar Ageung (4 jenis pupuh) dan Sekar Alit (13 jenis pupuh). Pupuh sekar ageung dapat dinyanyikan (ditembangkeun) dengan menggunakan lebih dari satu jenis lagu, sedangkan pupuh sekar alit hanya bisa dinyanyikan dengan satu jenis lagu.

Setiap pada (bait) ke-17 jenis memiliki jumlah padalisan yang berbeda, begitu pun dengan patokan pupuh berupa guru wilangan, guru lagu, dan watek-nya pun berbeda. Di bawah selengkapnya bisa dilihat perbedaannya:

Sekar Ageung
1. Kinanti [unduh]
Watek:
Menggambarkan perasaan sedang menanti (nungguan), khawatir (deudeupeun), atau rasa sayang (kanyaah).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-u, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, 8-i

2. Sinom [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa gembira (gumbira) atau rasa sayang (kadeudeuh).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 7-i, 8-u, 7-a, 8-i, 12-a

3. Asmarandana [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa asmara (kabirahian), cinta kasih (deudeuh asih), atau rasa sayang (nyaah).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-i, 8-a, 8-Ă©/o, 8-a, 7-a, 8-u, 8-a

4. Dangdanggula [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa kedamaian (katengtreman), keindahan (kawaasan), keagungan (kaagungan), atau kegembiraan (kagumbiraan).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
10-i, 10-a, 8-Ă©/o, 7-u, 9-i, 7-a, 6-u, 8-a, 12-i, 7-a


Sekar Alit
5. Pucung [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa marah (ambek) terhadap diri sendiri, atau benci (keuheul) karena tidak setuju hati.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
12-u, 6-a, 8-Ă©/o, 12-a

6. Wirangrong [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa malu (kawiwirangan), malu oleh perilaku sendiri.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-i, 8-o, 8-u, 8-i, 8-a, 8-a

7. Maskumambang [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa kesedihan (kanalangsaan), sedih dengan sakit hati.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
12-i, 6-a, 8-i, 8a

8. Ladrang [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa lelucon (banyol) dengan maksud menyindir (nyindiran)
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
10-i, 4-a (2x), 8-i, 12-a

9. Balakbak [unduh]
Watek:
Menggambarkan lelucon (heureuy) atau komedi (banyol).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
15-Ă©, 15Ă©, 15-Ă©

10. Magatru [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa sedih, penyesalan (handeueul) oleh perilaku sendiri, atau menasehati (mapatahan).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
12-u, 8-i, 8-u, 8-i, 8-o

11. Lambang [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa lelucon (banyol) tetapi banyol yang mengandung hal yang harus dipikirkan.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 8-a, 8-a, 8-a

12. Jurudemung [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa bingung, susah dengan apa yang harus dilakukan (pilakueun).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, 8-i

13. Gurisa [unduh]
Watek:
Menggambarkan orang yang sedang melamun (ngalamun) atau melamun kosong (malaweung)
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a

14. Gambuh [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa sedih (kasedih), susah (kasusah), atau sakit hati (kanyeri).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
7-u, 10-u, 12-i, 8-u, 8-o

15. Mijil [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa bersedih (kasedih) tetapi dengan penuh harapan.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
10-i, 6-o, 10-Ă©, 10-i, 6-i, 6-u

16. Pangkur [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa marah (ambek) yang tersimpan dalam hati atau menghadapi tugas yang berat.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 11-i, 8-u, 7-a, 12-u, 8-a, 8-i

17. Durma [unduh]
Watek:
Menggambarkan rasa marah (ambek), besar hati (gedé haté), atau semangat (sumanget)
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
12-a, 7-i, 6-a, 7-a, 8-i, 5-a, 7-i

Sebagai contoh satu dari ke- 17 pupuh yang diasripkan, silahkan tinggal klik mp3 player di bawah ini.
Wilujeng Ngadangukeun

Minggu, 15 April 2012

Unjuk Kabisa Celempungan, Alat musik Bambu

Menurut si empunya. Gambar hidup celempungan siswa SMP Negeri 2 Conggeang ini. Diambil saat tampil mengisi acara pentas seni penutupan Jambore Ranting Gerakan Pramuka Kwarran Conggeang tahun 2011.

Selamat menikmati cekedot lahhhhhhhhh


Kamis, 01 Maret 2012

Wangi Indriya, Pewaris Topeng Tambi

topeng tambi
Awal 2004 hingga pertengahan 2011 menjadi waktu paling berharga bagi Wangi Indrya (51) seorang dalang wayang yang juga dikenal sebagai penari topeng asal Desa Tambi, Sliyeg, Indramayu, Jawa Barat. Pewaris kesenian tradisional Tari Topeng Gaya Tambi ini diajak main drama kolosal “I La Galigo” karya sutradara Robert Wilson, yang diangkat dari naskah “I La Galigo”, naskah kuno karya Arung Pancana Toa, berdurasi empat jam tanpa jeda. Dalam pertunjukan tersebut, Wangi Indriya dipercaya untuk menghidupkan peran We Nyilih Timoq.

Pada Maret 2004, “I La Goligo” digelar di Esplanade Singapura. Setelah itu lalu digelar di Muziektheater Belanda, Teatro Liure Barcelona, dan Teantro Espanol Madrid (Mei 2004), Les Nuits de Fourviere Lyon, dan Teatro Alighieri Ravenna memjadi penutup rangkaian pergelaran “I La Galigo” di tahun 2004.

Tahun 2005 pementasan hanya dilakukan di New York, Amerika Serikat (Juli 2005) dan Jakarta (Desember 2005), sementara di Australia pegelaran berlangsung pada Oktober 2006, Milan, Italia dan Taipei, Taiwan (2008) diakhiri di Makassar pada April 2011.

Dalam hal menjalin kerja sama, Wangi tidak hanya bekerja sama dengan Robert Wilson tetapi juga menjalin kerja sama dengan Mugiyono Dance dan Teater Grasi Yogyakarta. “Kerja sama isi saya lakukan selain untuk memperkenalkan apa dan bagaimana tari topeng itu, juga berupaya untuk menyebarluaskan ke masyarakat dunia,” ujar Mimi Wangi Indriya, disela-sela persiapan pegelaran Program Revitalisai dan Pewarisan Kesenian Tradisonal yang diselenggarakan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, bertempat di Teater Terbuka (Dago Tea House), Sabtu (25/2) lalu.

Dikatakan Wangi, untuk mencapai “sari” sebagai penari topeng yang profesional akan hal itu bukanlah perkara yang mudah. “Saya menjalani kesenian sejak dulu hingga seperti sekarang ini bukan perkara yang mudah. Banyak halangan dan rintangan pahit getir yang harus dijalani,” ujar wanita kelahiran Indramayu 10 Agustus 1961, yang mendapat ilmu menari langsung dari Wisad kakeknya di usia 5 tahun.

Selain mendapat ilmu menari topeng dari Wisad (kakeknya), Mimi Wangi juga mendapat ilmu dari Warsem (asal Juntiyuat)), serta dari Nargi, Tomo, dan Tarip (asal Sukagumiwang). Keinginan untuk menjadi penari juga membawa Mimi Wangi bertemu dengan maestro tari topeng asal Pakandangan Alm, Mimi Rasinah.

“Sebenarnya sudah lama disuruh Mama Taham (ayahnya) untuk menemui Mimi Rasinah. Tapi baru bisa menemui sekitar tahun 1994, itu pun sangat susah karena Mimi tidak mau lagi menari karena sudah 20 tahun lebih tidak menari. Baru setelah mengajak Pak Toto (Amsar) dan Pak Endo (Suwanda), secara perlahan Mimi mau berbagi ilmu,” ujar Mimi Wangi mengenang.

Setelah mendapat ilmu dari kakeknya (Wisad) dan ayahnya (Taham) serta sejumlah maestro, tanggung jawab moral pun tertumpu di pundak Mimi Wangi. Dirinya mempunyai kewajiban untuk menjaga dan memelihara serta mewariskan kepada turunan serta mereka yang sama-sama memiliki kepedulian akan tari topeng. “Banyak berkiprah di luar menjadi jalan satu-satunya untuk memacu keinginan anak-anak belajar tari topeng. Apa pun saya lakukan seperti terlibat dalam berbagai karya seni dengan seniman lain yang menghantarkan saya ke banyak Negara,” ujar Mimi Wangi.

Gayung bersambut, Sanggar Seni Mulya Bhakti yang didirikan Taham mamanya pada tahun 1983 mendapat bantuan rehab sanggar pada tahun 2000. Baru tahun 2007 Mimi Wangi yang mewarisi sanggar menjalankan dengan serius. Tercatat ada 347 orang berlatih tari topeng, belajar gamelan (347 orang), seni pedalangan (6 orang), dan seni berokan (20 orang). “Mudah-mudahan warisan seni ini akan tetap langgeng dan terjaga,” ujar Mimi Indriya berharap.

Sumber: Retno HY/*Pikiran Rakyat”

Sabtu, 08 Oktober 2011

Ronggeng Kesenian Daerah Ciamis

ronggeng
Putra Haur Kuning dari Kerajaan Galuh, Raden Anggalarang jatuh cinta kepada putri ke-38 Prabu Siliwangi, Dewi Siti Samboja. Cinta mereka pun kemudian disatukan dalam ikatan perkawinan. Raden Anggalarang memimpikan membangun kehidupan cinta mereka dalam sebuah kerajaan di Pananjung yang sekarang lebih dikenal Pangandaran, Kabupaten Ciamis.

Dalam perjalanan ke Pananjung Raden Anggalarang tewas dibunuh kawanan perampok (bajo). Dewi Siti Samboja yang kehilangan cintanya sejatinya, sembunyi di kaki Gunung dan menyamar (berganti nama menjadi Dewi Rengganis) menjadi seorang penari ronggeng. Penyamarannya untuk menjebak para perampok yang telah merenggut nyawa suaminya. Ronggeng gunung pun menjadi tarian berbau maut dan berbalutkan balas dendam. Begitulah Sepenggal kisah asal mula kesenian ronggeng yang berkembang di Daerah Ciamas.

Ronggeng gunung tidak berbeda dengan ronggeng pada umumnya, yaitu kesenian tradisonal yang menampilkan seorang penari atau lebih yang diiringi lagu dari suara juru kawih atau sinden. Yang paling khas dari kesenian ronggeng adalah karembong (selendang) untuk dikalungkan di leher penonton sebagai ajakan untuk menari.

Seni ronggeng terbagi menjadi tiga jenis, berdasarkan asal penarinya: Ronggeng gunung, penarinya berwasal kari kawasan pengunungan. Ronggeng kaler penarinya berasal dari wilayah utara. Ronggeng kidul, menarinya berasal dari wilayah bagian selatan.

Ronggeng gunung sangat sederhana. Seorang penari yang memiliki peran ganda sebagai juru kawih atau sinden dan hanya diiringi tiga orang nayaga.

Ronggeng kaler dan ronggeng kidul, tidak ada perbedaan yang mencolok. Penari tidak berperan ganda menjadi sinden. Biasanya terdapat 4 – 6 ronggeng yang diiringi sekitar empat belas nayaga dengan alat musik yang cukup lengkap ditambah seorang juru kawih atau sinden. Ronggeng kaler hampir sama dengan Tayub. Ronggeng kaler hadir sebagai tarian untuk melayani Dalem (kerajaan).

salam

Jumat, 30 September 2011

Menelusuri Tari Angguk Bersama ASPeMusik

tari angguk
Ini adalah posting pertama archive69 yang bertalian dengan seni budaya yang ada di tanah air selain dari Tatar Pasundan. Kesenian rakyat yang akan diarsipkannya yaitu seni tari angguk yang berasal dari Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta. Untuk lebih melengkapi tulisan tentang tari angguk, saya mencoba mencari beberapa sumber yang membahas tentang tari angguk.

Tari Angguk adalah tarian tradisional yang menceritakan kisah Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono dalam Serat Ambiyo. Tarian ini dimainkan secara berkelompok oleh 15 penari wanita yang berkostum menyerupai serdadu Belanda dan dihiasi gombyok barang emas, sampang, sampur, topi pet warna hitam, dan kaos kaki warna merah atau kuning dan mengenakan kacamata hitam. Tarian ini dimainkan selama 3 hingga 7 jam. (Sumber: Wikipedia)

Lirik lagu pada musik angguk ini adalah budaya campuran antara jawa arabian. dalam pantun yang kental dengan pendidikan mental kesenian angguk tersebut. lirik lagu dari kitab tlodo yang berhuruf arab pegon, tapi dinyanyikan dengan notasi jawa.(sumber: Tips Wisata Murah)

Sumber terakhir yang ditelusuri dari artikelnya ASPeMusik. Dalam artikel tersebut, lebih menitik beratkan ke warna musik yang mengiringi tari Angguk. Apabila sobat-sobat ingin mengetahui gambaran dan daya tarik dari warna musik tari angguk. Silahkan kunjungi dan simak artikelnya yang berjudul "Angguk" Mettal Jawa.

Sumber Gambar: http://aspemusikrecording.blogspot.com/2010/03/angguk-mettal-jawa.html

salam....(LESTARI BUDAYAKU)

Sabtu, 10 September 2011

Uniknya, Pengantin Naik Kuda Renggong

kuda renggong2
Kuda Renggong merupakan kesenian daerah yang berasal dari Sumedang. Secara umum pertunjukkan seni Kuda Renggong dilaksanakan pada hajatan khitanan.

Tapi ada tradisi yang unik yang sudah lama dilakukan oleh sebagian warga di Buahdua (Sumedang), Kuda Renggong diacara pernikahan. Kedua mempelai diarak naik Kuda Renggong. Dari rumah mempelai wanita menuju mesjid untuk melangsungkan akad. Setelah akad, di arak kembali dengan Kuda Renggong menuju tempat resepsi pernikahan.

Kuda yang dirias seperti halnya dalam acara khitanan, dengan musik pengiringan yang komplit pula.

Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur keluarga pengantin. Dan juga mengabarkan rasa suka cita kepada saudara dan tetangga.

Sekalipun tradisi ini sudah cukup lama keberadaannya, namun acara ini tetap menjadi nontonan yang menarik bagi penduduk yang tempatnya dilalui arak-arakan Kuda Renggong

Selasa, 10 Mei 2011

Asal Mula Wayang Golek

wayang golek
Banyak yang menyangka bahwa seni wayang golek berasal dari India. Namun, dalam buku pengenalan wayang golek purwa di Jawa Barat, R. Gunawan Djajakusumah membantah hal ini. Menurut beliau wayang golek adalah budaya asli yang dikembangkan masyarakat Indonesia. Mungkin saja didalamnya ada akulturasi dengan pengaruh budaya lain.

Perkataan wayang berasal dari “wad an hyang”. Artinya leluhur. Akan tetapi ada juga yang berpendapatan yaitu dari kata “boyangan", mereka yang berpendapatan bahwa wayang berasal dari India, nampaknya melihat dari asal ceritanya yaitu mengambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata berasal dari kitab suci Hindu, tetapi selanjutnya cerita-cerita itu diubah dan disesuaikan dengan kebudayaan Jawa.

Kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit karena wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Namun, Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1583 masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek yang dapat dipentaskan pada siang hari. Sejalan dengan itu Ismunandar (1988) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangunan wayang purwa sejumlah 7 buah dengan menarik cerita menarik yang diiringi gamelan salendro. Pertunjukannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini tidak memerlukan kelir. Bentuknya menyeruai boneka yang terbuat dari kayu, bukan dari kulit sebagaimana halnya wayang kulit. Jadi seperti wayang golek oleh karena itu disebut sebagai wayang golek.

Pada mulanya yang dilakonkan dalam wayang golek adalah cerita panji dan wayangnya disebut wayang golek menak. Konon wayang golek ini ada sejak masa Panembahan Ratu Cicin Sunan Gunungjati (1540-1640). Disana didaerah Cirebon disebut wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar. Pda jaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakon-lokn yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840 (Sumatri, 1988).

Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh Dalem Karangayar (Wiranta Koesoemah III) pada masa akhir jabatannya. Waktu itu Dalem memerintahkan Ki Darman (penyungging wayangkulit asal Tegal) yang tinggal di Cibiru Ujungberung untuk membuat wayang dari kayu. Bentuk wayang yang dibuatnya semula berbentuk gepeng dan berpola pada wayang kulit.

Namun, pada perkembangan selanjutnya atas anjuran Dalam Ki Darman membuat wayang golek yang tidak jauh berbeda dengan wayang golek sekarang. Di daerah Priangan sendiri dikenal pada awal abad ke-19. Perkenalan masyarakat Sunda dengan wayang golek dimungkinkan sejak dibukanya jalan raya Daendels yang menguhubungan daerah pantai dengan Priangan yang bergunung-gunung. Semula wayang golek di Priangan menggunakan bahasa Jawa namun setelah orang Sunda pandai mendalang bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda.

Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. Cara pembuatannya adalah dengan meraut dan mengukirnya, sehingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir dan motif dikepala wayang, digunakan cat duko. Cat ini wayang menjadi lebih cerah. Pewarnaan wayang merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun warna dasar yang digunakan dalam wayang ada 4 yaitu: merah, putih, prada, dan hitam.

Wayang golek sebagai suatu kesenian tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi meliputi keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati pedalangan yang mengembangkan kode etik pedalangan. Kode etik pedalangan tersebut dinamakan “sapta sila kehormatan seniman seniwati pedalangan Jawa Barat”. Rumusan kode etik pedalangan tersebut merupakan hasil musyawarah para seniman seniwati pedalangan pada tanggal 28 Ferbuari 1964 di Bandung.

Sumber: Tim Citizen Journalist (Cecep Heryadi, Usman S., Adbi Halim, Tepi M/dari berbagai sumber) Pikiran Rakyat

Kamis, 07 April 2011

Wayang Purwa (pertama)

wayang purwa
Wayang kulit purwa adalah kesenian tradisional yang dimiliki Cirebon. Kata purwa (pertama) dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit yang lainnya. Selain wayang purwa ada juga wayang wahyu, wayang sadat, wayang gedhog, wayang kancil, wayang pancasila, dam sebagainya.

Purwa berarti awal, wayang purwa diperkirakan mempunyai umur yang paling tua diantara wayang kulit lainnya. Kemungkinan mengenai berita adanya wayang kulit purwa dapat dilihat dari adanya prasasti abad ke-11 pada zaman pemerintahan Erlangga.

Wayang purwa sendiri biasanya menggunakan cerita Ramayana dan Mahabarata, sedangkan jika sudah merambah ke cerita Panji Biasanya disajikan dengan wayang gedhong. Wayang kulit purwa sendiri terdiri atas beberapa gaya atau gagrak, ada gagrak Kasunanan, Mangkunegaran, Ngayogjakarta, Banyumasan, Jawatimuran, Kedu, Cerbon, dan sebagainya.

Wayang kulit purwa biasanya terbuat dari bahan kulit kerbau yang ditatah, diberi warna sesuai dengan kaidah pulasan wayang pedalangan. Selanjutnya diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri atas tuding dan gapit.

Ketika zaman Wali Songo menyebarkan agama Islam, wayang purwa juga dijadikan medianya. Seperti Sunan Kalijaga (Raden Mahmud syadid) berhasil memanfaatkan wayang purwa untuk menyebarkan dakwah atau tuntunan moral.

Ada dua jenis gamelan yang digunakan dalam pagelaran wayang kulit purwa, gamelan pelog (gaya kidulan) dan gamelan prawa (gaya loran).

Jumat, 18 Februari 2011

Sekilas Tentang Tutunggulan

tutunggulan
Seni tradisional yang berkultur masyarakat agraris, diantaranya yaitu seni tutunggulan. Seni tunggualan masih bertahan keberadaanya di Desa Cacaban Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang. Alat yang digunakan dalam seni tutunggulan adalah halu (alu) dan lisung (lesung).

Kata tutunggulan, berasal dari kata nutu (menumbuk). Nutu itu sendiri adalah kegiatan atau pekerjaan menumbuk gabah kering hingga menjadi beras, atau dari beras menjadi tepung. Nutu biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu antara empat sampai enam orang dan ayunan halu yang saling bergantian mengenai bagian lisung sehingga menimbulkan suara/bunyi. Dan itu menjadi bagian hiburan ibu-ibu untuk menghilangkan rasa lelah selama nutu.

Sebelum tutunggulan berkembang menjadi sebuah kesenian, Tutunggulan digunakan sebagai alat untuk memanggil warga supaya menghadiri acara pertemuan di kampung tersebut. Tutunggulan juga dimainkan jika terjadi samagaha (gerhana) bulan atau matahari.

Dari kebiasaan itulah, akhirnya muncul seni tutunggulan, hanya saja ketika dimainkan tidak menumbuk padi tetapi langsung menumbukkan halu-nya ke lisung. Dari ayunan halu itu menghasilkan suara-suara sesuai dengan keinginan yang memainkannya.

Senin, 31 Januari 2011

Seni Buhun “Beluk”

Lengking suara-suara ini menjadi suatu harmoni tersendiri. Mengalun dan meliuk-liuk bak irama angin yang menari di atas ombak beiringan susul-menysul dari mula nada rendah hingga nada tinggi sekali. Seni buhunbeluk”. Para leluhur menamai kesenian tradisonal tersebut sesuai dengan alunannya yang meliuk.

Menurut sejarahnya, kesenian atau seni beluk yang ditampilkan merupakan jenis kesenian yang berbasis tradisi bertani yang mengandalkan pada kekuatan vokal tanpa waditra (instrument), banyak terdapat di beberapa daerah pertanian di Jawa Barat.

Beluk merupakan sarana hiburan masyarakat pedesaan. Hal ini bermula dari kebiasaan masyarakat peladang yang lokasi mereka berjauhan dari satu tempat ke tempat lainnya sehingga untuk mengadakan komunikasi diperlukan suara yang keras yang mempunyai pola tinggal menetap tetapi saling berjauhan.

Selain itu, beluk juga berawal ketika mesyarakat yang bepergian melewati hutan sendirian. Untuk mengusir rasa sepi, melakukan teriakan-teriakan untuk memberi tahu kalau ada orang lain di hutan tersebut.

Keberadaan beluk sebenarnya sudah sejak dahulu, yaitu sejak masa penjajahan Belanda. Beluk pada hakikatnya merupakan kesenian tembang buhun (kuno) yang lebih mengutamakan tinggi rendahnya suara. Syair yang dilantunkan adalah jenis wawacan (carita babad) yang dibawakan seperti dijumpai dalam beberapa pupuh mulai dari pembukaan sampai pada penutupan seperti pupuh kinanti, asmarandana, pucung, dangdanggula, balakbak, magatru, mijil, dan ladrang.

Pengiring lainnya biasanya wawacan, adapun jenis wawacan yang disampaikan juru beluk bergantung pada yang diikuasainya seperti wawacan ogin, rengganis, babar nabi, barjah, amungsari, jayalalana, natakusuma, lutung kasarung, mahabarata, dan ciung wanara.

Beluk biasanya dilakukan oleh lima orang. Cara penyajiannya pun tergolong unik karena seni beluk hanyalah mengutamakan kemampuan suara juru ilo atau tukang ngilo adalah pembaca syair wawacan tanpa dinyanyikan (naratif) dalam tempo sedang, dengan artikulasi yang jelas. Dibaca per-padalisan (garis). Tukang ngajual fungsinya yaitu menyajikan syair yang dibacakan oleh tukang ngilo sesuai dengan pupuh-nya, tetapi cara menyajikannya tanpa ornamen. Tukang meuli, tugasnya adalah melanjutkan lagu yang disajikan oleh tukang ngajual dengan dilengkapi ornamen-ornamennya. Tukang naekeun, tugasnya adalah melanjutkan sajian tukang meuli dengan menggunakan nada yang melengking tinggi dan meliuk-liuk dengan artikulasi yang tidak jelas, dilengkapi ornamentasi yang sangan dominan.

Peranan para menyaji dilakukan secara bergiliran. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kondisi fisik dan suara agar tetap fit. Karena penyajian seni beluk pada waktu malam hari dan biasanya dilakukan sampai akhir cerita wawacan. Beluk dan wawacan akhirnya sangat berkaitan erat.

Bentuk dan kontur lagu yang cenderung menggunakan nada tinggi, mengalun, dan meliuk-liuk. Dari kata “nada tinggi” sudah mencerminkan bahwa kesenian beluk ini tidak lazim dikumandangankan diruangan, tetapi di alam bebas. Seiring perkembangannya beluk terdengar di rumah-rumah penduduk. Ini terkait dengan pengaruh wawacan atau membacaan kitab kuno yang  dinyanyikan untuk ritual tertentu, misalnya ritual kelahiran bayi, acara hajatan, dan sunatan. Secara evolutif, beluk dan wawacan telah bersanding dalam sajian musik vokal. (Sumber: Erwin R. Widiagiri/”Kabar Priangan”. PR)

Minggu, 16 Januari 2011

Celempung dan Celempungan

celempung
Celempungan adalah grup musik yang merupakan bagian perkembangan dari celempung. Celempung sendiri merupakan alat musik yang terbuat dari hinis bambu yang memanfaatkan gelombang resonansi yang ada dalam ruas batang bambu. Saat ini celempung yang waditranya mempergunakan bambu masih dipertahankan di Desa Narimbang Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang. Namun dalam celempungan, waditra celempung-nya sudah diganti oleh kayu yang dibentuk ruang segi delapan yang hinis bambunya diganti dengan plat dari besi.

Alat pemukulnya terbuat dari bahan bambu atau kayu yang ujungnya diberi kain atau benda tipis agar menghasilkan suara nyaring. Cara memainkan alat musik ini ada dua cara, yaitu a) cara memukul; kedua alur sembilu dipukul secara bergantian tergantung kepada ritme-ritme serta suara yang diinginkan pemain musik, b) pengolahan suara; Yaitu tangan kiri dijadikan untuk mengolah suara untuk mengatur besar kecilnya udara yang keluar dari bungbung (badan) celempung. Jika menghendaki suara tinggi lubang (baham) dibuka lebih besar, sedang untuk suara rendah lubang ditutup rapat-rapat Suara celempung bisa bermacam-macam tergantung kepada kepintaran si pemain musik. Untuk saat ini alat musik ini sudah jarang dimainkan, dalam ensambel celempungan perannya sudah diganti dengan kendang dan kulanter.

Selain waditra tersebut, dalam celempungan waditranya sudah ditambah dengan kecapi dan biola. Jadi kata celempu-ngan adalah kesenian celempung yang sudah ditambah dengan waditra lain. Kata “ngan” menganalogikan adanya penambahan fungsi waditra dengan maksud untuk membuat celempung lebih halus dan lebih bernada.

Waditra celempung sendiri aslinya adalah alat yang tidak memliki nada baku, karena bunyi celempung keluar ketika alatnya dipukul pada pelat besinya, yang pada sebelum bunyi dihasilkan dengan cara memukul hinis bambu, yang mana nadanya keluar sesuai dengan keinginan atau kepiawaian si penambuh waditra. Dalam celempungan, waditra kacapi dan biola adalah penuntun nada, dimana laras yang dipakai bisa jatuh pada salendro atau pelog, sedangkan dalam celempung nada yang dihasilkan bisa fleksibel yang kondisinya tidak dipatok oleh nada, bahkan celempung ini seringkali jatuh pada nada dimana tidak di salendro ataupun di pelog, nada tersebut sementara ini dinamakan nada timber, dia ada tapi belum terdeskripsikan dengan jelas, tapi jika hal ini di teliti lebih lanjut dia akan bisa memiliki nada yang mana alat yang dipakai bisa disesuaikan dengan keinginan si penabuh, karena bunyi yang dihasilkan dalam celempung sangat tergantung pada tipis tebalanya bambu yang dipakai.

Adapun lagu-lagunya adalah seperti Galuh dan Maung Lugay, juga Kidung Rahayu. Dilihat dari perkembangan nada yang dipakai bisa di pastikan celempungan lahir sesudah musik celempung ada, hanya tepat masanya sampai hari ini belum bisa ditentukan kapan celempung lahir begitu juga celempungan, karena dalam sejarah seni pertunjukan belum ada sumber lisan ataupun tulisan yang merujuk hal ini. Maka kami rekomendasikan hal ini untuk bisa diteliti lebih lanjut oleh para ahli seni yang juga konsen terhadap seni pertunjukan, karena walau bagaimana pun celempung dan celempungan pada sekarang walaupun pelaku dan penikmatnya masih terbatas, bahkan seniman celempung sudah hampir punah, maka hal ini sudah selayaknya untuk bisa lebih diperhatikan lagi. Dan untuk pemerintah dukungan moril mapun materil terhadap perkembangan seni ini, seyogyanya juga bisa lebih besar lagi, karena hampir bisa di pastikan kalau seni ini adalah warisan tak ternilai dari para karuhun Sunda dimasa lampau dengan budayanya yang bersifat agraris, mereka sudah mampu untuk mengembangkan estetika bunyi yang dihasilkan oleh ruas batang bambu yang merupakan salahsatu cirri seni agraris. Dalam celempungan estetikanya semakin kentara karena inovasi penggabungan waditra kacapi dan biola yang nada-nadanya sudah terbentuk sempurna dalam dawai yang mengalun syahdu.


Sumber, Penulis: Endah Jubaedah, Pemuda Pelopor Jawa Barat 2005 Bidang Pariwisata budaya asal Kab. Sumedang, [sumedangonline.com]

Minggu, 09 Januari 2011

Seni Tradisi yang Terpinggirkan

KEBUDAYAAN maupun seni tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, dalam konteks tertentu merupakan suatu ritus yang menghubungkan antara dirinya pribadi dan kelompok dengan sejarah masa lalu primordial masyarakatnya yang sakral. Sakralitas kebudayaan dan seni tradisi terletak pada apresiasi masyarakat terhadap sejarah masa lalunya, bukan pada objek yang diapresiasi. Sakralitas tumbuh dan berkembang tidak bisa diidentikkan dengan sakralitas keagamaan, yang bukan hanya pada apresiasi tapi juga pada objek apresiasinya.

Dalam pandangan kosmologi budaya dan seni tradisi Sunda yang tergambar dalam mitologi berpijak pada karakter ke-ambu-an (keibuan), masyarakat Sunda dalam mitologinya menggambarkan Sunan Ambu, Dewi Sri (tokoh-tokoh di Kahiyangan), Purba Sari, Dewi Asri, Dayang Sumbi (tokoh-tokoh di Marcapada), dan yang lainnya, sebagai sosok ideal. Sementara kehadiran tokoh Sangkuriang, Mundinglaya di Kusumah (tokoh di Marcapada), dan Lutung Kasarung atau Guru Minda (tokoh Kahiyangan) merupakan tokoh penegas terhadap sosok ideal tersebut. Dengan kata lain, lewat Sunan Ambu dan Dewi Sri (anak angkat Sunan Ambu) sebagai performa ideal, struktur mitologi Sunda didasarkan pada kearifan tokoh ibu.

Hal ini dapat dipahami, karena mata pencaharian masyarakat Sunda pada umumnya adalah bercocok tanam yang mengedepankan simbol kesuburan, yaitu sosok perempuan. Namun, sosok perempuan tersebut dimunculkan dalam nuansa berwarna keibuan, ambu, dengan diawali terma sunan yang bisa dimakna anu disuhun atau yang diagungkan. Kehadiran sosok perempuan dengan performa "ibu" (ambu) sebagai pusat gravitasi dalam mitologi Sunda, tidak berujung dan tidak pula berawal dari tema-tema dan pesan-pesan erotisme, tetapi lebih pada sisi-sisi moralitas keperempuanan (ibu, ambu) sebagai sosok yang memiliki keteguhan hati, lembut, kharismatis, penuh kasih sayang, dan hal lain yang sejenis.

Namun, dalam konteks kekinian di mana pola pikir dan modernisasi terus berkembang, kebudayaan dan seni tradisi yang pernah ada dan tumbuh berkembang di masyarakat tersebut tidak hanya semakin terpinggirkan, bahkan acapkali berbenturan dengan pemahaman serta pandangan keagamaan. "Padahal sangat jelas, kalau kebudayaan dan seni tradisi adalah segala hal yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Sementara agama adalah suatu ajaran yang dibawa oleh para nabi untuk umatnya," ujar Dindin Rasidin, S.Sn., M.Hum., praktisi seni tradisi yang juga tenaga pengajar di STSI Bandung, pada salah satu kesempatan.

Memang, bila melihat latar belakang sejarah, kebudayaan dan seni tradisi oleh para wali yang menyebarkan agama Islam pernah dijadikan kendaraan syiar agama. Setidaknya ada struktur dan biografi yang membentuk kebudayaan dan seni tradisi Sunda yang dapat menjadi acuan, terutama saat pendudukan Mataram di Tatar Priangan. Di mana adanya kebudayaan dan seni tradisi Islam Sunda yang merupakan warisan Sunda-Islam masa para wali. Budaya ataupun tradisi ini kemudian sering disebut sebagai tradisi pesantren. Sunda pesantren ini merupakan suatu budaya ataupun tradisi yang telah menyatu antara kebudayaan dan tradisi Sunda dengan tradisi keislaman (merupakan strategi dakwah Sunan Gunung Djati).

Perdebatan antara kebudayaan, seni tradisi, dan agama, kiranya tidak akan pernah berhenti, karena kalangan seniman maupun budayawan memiliki pandangan tersendiri, denikian pula halnya dengan alim ulama, pasti memiliki argumentasi dan dalil juga. Dindin mencontohkan, kasus berkembangnya seni bajidoran dan dombret yang diadopsi Gugum Gumbira menjadi tarian jaipongan dengan seni tayuban. Di sini terjadi resistensi kebudayaan dan seni tradisi Sunda terhadap tradisi Jawa (Mataram). Setidaknya terdapat dua bentuk peta resistensi tersebut. Pertama, resistensi Sunda asli terhadap kebudayaan dan seni tradisi Jawa Mataram asli atau seni tradisi Mataram-Islam. Kedua, resistensi Sunda-Islam terhadap kebudayaan dan seni tradisi Jawa-Mataram atau terhadap Mataram-Islam.

Pada kasus tradisi tayuban terutama di Keraton Kacirebonan, bisa dipandang sebagai resistensi tradisi seni Sunda-asli terhadap seni tradisi Jawa-Mataram, dengan menghilangkan aspek erotik yang diganti dengan unsur-unsur kelembutan. Atau resistensi pesantren-Sunda terhadap Jawa-Mataram terhadap unsur yang sama, dengan memunculkan aspek-aspek religius dalam syair-syairnya.

Demikian juga dengan seni tradisi jaipongan sebagai wujud baru sebagai hasil dari resistensi seni tadisi Sunda terhadap seni bajidoran dan dombret. Bila melihat upaya eliminasi unsur-unsur erotis dalam seni-tradisi Jawa-Mataram yang dilakukan seniman tradisi Sunda-asli dan Sunda-pesantren atau Sunda-Islam, terdapat cara pandang yang "sama" terhadap erotisme (antara Sunda-asli dan Sunda-pesantren). Dengan demikian, asumsi yang berkembang bahwa seni tayuban di daerah Kacirebon, Kasumedangan, dan Cianjuran merupakan resistensi seni-tradisi Sunda-asli terhadap Sunda-pesantren, merupakan asumsi yang sangat tidak berdasar. Karena, seni-seni tradisi tayuban, ronggeng, serta tradisi sejenis seperti seni tradisi dombret, tradisi "warung-remang", dan sejenisnya, merupakan seni dan tradisi warisan pasukan Mataram di Tatar Sunda.

Kini, keterpinggiran kebudayaan dan seni tradisi yang katanya merupakan warisan leluhur yang harus dipelihara dan dilestarikan masih merupakan kalimat retorika yang selalu didengungkan kalangan pemerintah di acara-acara seremonial seni budaya. Demikian pula halnya dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menggantikan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Lahirnya UU tersebut yang menuntut perubahan sikap (attitude) pemerintah daerah (provinsi, kota, dan kabupaten) untuk lebih mengarah pada steering, assisting, fasilitator, koordinator, dan menjadi mitra, nyatanya kurang begitu terasakan. Pelaku seni budaya tradisi hingga kini masih harus memosisikan dirinya sebagai pewaris tunggal yang senantiasa harus menjaga keutuhannya. Karena memiliki wewenang untuk mengelola daerahnya, hampir semua daerah menjadikan sektor seni budaya sebagai program nomor kesekian dibandingkan dengan program lainnya. Semisal Kota Bandung, meskipun mencanangkan diri pada 2008 sebagai kota seni budaya, nyatanya tidak ada satu pun kegiatan yang diselenggarakan pemerintah yang menandakan sebagai kota seni budaya. Bahkan hingga kini saat tahun 2008 segera berakhir.

Lain lagi dengan yang terjadi di daerah pakaleran, tumbuh dan berkembangnya seni tradisi sering kali dijadikan sapi perahan. Setiap kali seniman bajidoran, dombret, ataupun jaipongdut (jaipong dangdut) akan atau usai tampil, mereka harus membayar uang manggung. Bahkan belakangan, uang pembinaan sanggar yang seharusnya diterima sanggar atau kelompok seni, malah dijadikan ajang bancakan orang yang dekat aparat pemerintahan dengan membentuk sanggar atau kelompok seni baru.

Demikian pula halnya dengan Instruksi Presiden RI Nomor 16 Tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata dan Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 48 Tahun 2006 tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPD), di mana ditegaskan agar pemerintah daerah mengambil langkah nyata guna mengoptimalkan akselerasi pembangunan kebudayaan dan pariwisata dalam upaya tidak hanya melestarikan tetapi juga menyejahterakan masyarakat, membuka lapangan kerja, dan memeratakan pembangunan. Tapi dalam implementasi di lapangan tidak dirasakan seniman maupun budayawan (tradisi).

Bahkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah secara tegas menyatakan bahwa Satuan Kerja Pemerintah Daerah (Dinas) tidak memberikan secara langsung bantuan. Pengeluaran bantuan dari bantuan khusus atau dana hibah hanya menjadi wewenang gubernur ataupun kepala daerah (wali kota dan bupati). Kondisi ini menjadikan budaya dan seni tradisi semakin terpuruk serta kurang terperhatikan karena setingkat dinas (kebudayaan dan pariwisata) tidak memiliki wewenang lagi memberikan bantuan kegiatan ataupun pemeliharaan kebudayaan dan seni tradisi.

Dalam laporan jelang pergantian tahun ini, Kasubdin Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Drs. Wawan Irawan mengatakan, secara kuantitas terjadi peningkatan. Tapi secara kualitas kebudayaan dan seni tradisi terjadi penurunan. "Kondisi ini terjadi karena jumlah seniman maupun budayawan terus mengalami peningkatan dan seiring dengan hal tersebut, banyak bermunculan sanggar-sanggar seni baru diikuti karya-karya seni baru dengan budaya dan seni tradisi sebagai pijakan. Sementara budaya dan seni tradisi yang aslinya sendiri ditinggalkan dan akhirnya kembali orang tua lagi-orang tua lagi yang menjadi penjaga, pelestari dan menjalankannya. Dalam posisi seperti ini tongkat estafet budaya dan seni tradisi dari orang yang dituakan kepada generasi penerus tidak terjadi. Bukan karena orang tua tidak mempercayai generasi muda, tapi lebih disebabkan anak-anak muda lebih menyukai seni kekinian," ujar Wawan.

Berdasarkan catatan akhir tahun Disbudpar Jabar, potensi kebudayaan Jawa Barat, untuk naskah kuno tinggal 143, cerita rakyat (364), ungkapan tradisional (140), permainan tradisional (284), upacara tradisional (533), sistem kemasyarakatan (385), sistem religi (75), sistem perekonomian (85), sistem teknologi (49), pola lingkungan budaya (83), perubahan lingkungan budaya (86), dan hubungan antarbudaya (75). Data kesenian, dari 35 rumpun dan 391 jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang di Jawa Barat, yang berkembang hanya 39 , sangat berkembang (61), tidak berkembang (248), dan mengalami kepunahan (43).

Sementara organisasi atau sanggar seni yang tercatat mencapai 3.424. Untuk sanggar seni karawitan ada 1.008, seni teater (235), seni padalangan (97), seni sastra (212), seni rupa (334), seni musik (472), seni pertunjukan (525), dan seni tari (541). Jumlah seniman maupun budayawannya mencapai 49.534 orang, terdiri dari 30.085 orang pria dan 18.938 orang wanita.

Namun sejalan dengan cara pandang masyarakat yang lebih cenderung pada hal-hal yang berbau materi, kegiatan yang dianggap kurang mendatangkan keuntungan akan ditinggalkan. "Padahal dalam kondisi kekinian segala sesuatu yang berbau tradisi, baik kebudayaan maupun kesenian banyak dicari dan bila di-manage secara benar dengan sendirinya akan menghasilkan materi," ujar Wawan.

Akan tetapi, karena kondisi dan unsur-unsur luar berseberangan dengan prinsip kosmologi kebudayaan dan seni tradisi itu sendiri, yang otentik bagi masyarakat Sunda, persoalannya menjadi lain. Artinya, terjadi perkembangan atau bahkan peralihan paradigma baru dan itu dianggap biasa dalam masyarakat. Padahal disadari atau tidak, modernisasi telah menciptakan kemandulan dalam budaya dan seni tradisi suatu daerah. Bahkan menafikan nilai-nilai primordial bangsanya.

Sumber: Retno HY (Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 27 Desember 2008)

Jumat, 10 Desember 2010

Calung (Calung Jinjing)

calung
Satu lagi kesenian Sunda yang penyajiannya berbentuk seni pertunjukkan (hiburan) yaitu calung. Ada dua bentuk calung Sunda yaitu:

1. Calung rantay bilah tabungnya dideretkan dengan tali kulit waru (lulub) dari yang terbesar sampai yang terkecil, jumlahnya 7 wilahan (7 ruas bambu) atau lebih. Komposisi alatnya ada yang satu deretan dan ada juga yang dua deretan (calung indung dan calung anak/calung rincik). Cara memainkan calung rantay dipukul dengan dua tangan sambil duduk bersilah, biasanya calung tersebut diikat di pohon atau bilik rumah (calung rantay Banjaran-Bandung), ada juga yang dibuat ancak "dudukan" khusus dari bambu/kayu, misalnya calung tarawangsa di Cibalong dan Cipatujah, Tasikmalaya, calung rantay di Banjaran dan Kanekes/Baduy.

2. Adapun calung jinjing berbentuk deretan bambu bernada yang disatukan dengan sebilah kecil bambu (paniir). Calung jinjing berasal dari bentuk dasar calung rantay ini telah dibuat dalam empat bagian bentuk wadrita yang terpisah . Waditra calung jinjing terbuat dari bahan bambu hitam (awi hideung) dan seperangkat calung jinjing yang digunakan dalam pertunjukan biasa bertangga nada salendro, pelog serta madenda ( nyorog ) wadrita calung jinjing merupakan perkembangan dari bentuk calung rantay/ calung gambang, calung dalam bentuk ini sudah merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan.

Waditra calung jingjing terdiri dari:

1 Kingking (terdiri dari 12 tabung bambu)
Calung kingking jumlahnya 15 nada / 3 oktaf dalam nada yang paling kecil (tertinggi).

2 Panempat (5 /3 dan 2 tabung bambu)
Calung panempat jumlahnya lima potong untuk lima nada (1 oktaf) nadanya merupakan sambungan nada terendah calung kingking dan dari lima nada tersebut ada yang yang dibagi dua ada yang digorok (disatukan).

3 Jongjrong (5 /3 dan 2 tabung bambu)
Calung jongjrong seperti halnya panempat yang berbeda hanya nadanya yang lebih rendah dari panempat, nada panempat bentuknya selalu tinggi dibagi dua yaitu 3 potong untuk nada berturut-turut dari yang tinggi, dua potong untuk dua nada lanjutan.

4 Gonggong (2 tabung bambu)
Calung Gonggong merupakan calung yang paling besar jumlahnya hanya dua bumbung yang disatukan keduanya dalam nada rendah diantara keseluruhan calung .

Jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal adalah calung jinjing. Calung jingjing dimainkan oleh 4 orang dan ditambah satu orang pemain yang memegang alat kosrek (bambu yang digosok/digesek kawat besi). Cara memainkannya dipukul dengan tangan kanan memakai pemukul, dan tangan kiri menjinjing/memegang alat musik tersebut. Sedangkan teknik menabuhnya antara lain dimelodi, dikeleter, dikemprang, dikempyung, diraeh, dirincik, dirangkep (diracek), salancar, kotrek dan solorok.

Selasa, 07 Desember 2010

Kesenian Reog

reog
Kesenian Reog yang satu ini merupakan kesenian masyarakat sunda. Reog diambil dari istilah rereongan (gotong royong), hal ini menunjukan bahwa kesenian tersebut mengajak untuk menggalang persatuan dan kegotongroyongan. Kesenian reog disamping sebagai sarana hiburan, juga diharapkan menjadi tuntunan dalam kehidupan keseharian. Pertunjukkannya dikemas dengan perpaduan antara tembang (lagu-lagu) dan dagelan (komedi). Biasanya kesenian reog digelar pada malam hari.

Alat pengirng kesenian reog antara lain:
1. Dogdog pertama disebut tilingit fungsinya mengawali lagu, membuka dan mengatur tinggi rendahnya ketukan.
2. Dogdog kedua disebut belentong atau tong, fungsinya menjawab doddog pertama atau memadukan irama.
3. Dogdog ketiga disebur kemprung atau brung, fungsinya menyambung lagu.
4. Dogdog keempat disebut badublag atau badubangpak, fungsinya adalah meraih tabuh sebagai kendang.
5. Tarompet selaku jurukawih (pennyanyi).

Pemegang tilingit disebut dalang selaku pemimpin pertunjukkan, tugasnya memberikan penyuluhan kepada penonton. Pola tabuh-nya ada yang disebut tabuh turun ka cai (irama lambat) dan tabuh kempringan (irama cepat).

Sesuai perkembangannya, alat pengiring kesenian reog dilengkapi dengan gamelan dan juru sinden.