Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2012

Hikmat Berbalut Tradisi (Lebaran di Beberapa Kampung Adat)

Hikmat Berbalut Tradisi (Lebaran di Beberapa Kampung Adat)
FOTO: USEP USMAN NASRULLOH/ ”PR”
WARGA bersalaman saling memaafkan seusai salat Id di Balai Pertemuan Kesatuan Adat Banten Kidul di Kasepuhan Adat Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Minggu (19/8)
GEGAP gempita perayaan hari kemenangan Idulfitri menjadi agenda tahunan masyarakat perkotaan. Keberhasilan melewati satu bulan Ramadan, diakhiri dengan gema beduk dan kumandang takbir di masjid sampai menyusuri jalan, juga tumpah ruahnya manusia ke pusat perkotaan dengan aneka kembang api dan petasa. Meriah.

Kondisi berbeda akan pembaca temukan jika merayakan Idulfitri di Kampung Adat di Jawa Barat. Idulfitri yang dimaknai kembalinya manusia kepada fitrahnya yang suci, lebih berlangsung hikmat, dengan menjunjung tinggi sakralitas hari kemenangan. Tentunya, tradisi khas yang masih dipelihara tetap menjadi pemandangan unik yang bisa pembaca saksikan.

Di Kampung Adat Urug yang terletak di Kiara Pandak, Sukajaya, Kabupaten Bogor, hikmatnya Idulfitri 1433 H, sebenarnya sudah terasa sejak malam-malam ganjil di sepuh hari terakhir atau saat katam Alquran penghujung bulan Ramadan. Pada malam-malam tersebut, ketupat atau yang dikenal dengan sebutan pesor sudah disajikan. Hal itu berbeda dengan kebiasaan masyarakat kebanyakan yang menyajikan ketupat pada 1 Syawal.

Maka jangan heran, pada 1 Syawalnya justru tidak ada ketupat dan opor ayam di kampung berjarak 55 kilometer dari Kota Bogor ini. Makan yang paling umum disajikan adalah nasi tumpeng lengkap dengan lauk berupa daging dan ayam, kadang dengan bakakak ayam (ayam utuh).

Ketua Adat Kampung Urug Abah Ukat menuturkan sebelum mengumandangkan takbir di masjid Kampung Adat, masyarakat setempat menyiapkan syukuran di rumah masing-masing dengan makanan seadanya yang disebut ririungan. “Ririungan ini dimaksud untuk mengingat para leluhur,” ujar Abah Ukat.

Seusai ririungan, masyarakat berduyun-duyun ke masjid untuk mengumandangkan takbir hingga dini hari. Masjid kemudian akan menjadi pusat kegiatan selama Labaran. Pagi hari, salat Id mereka selenggarakan di masjid setempat. Setelah itu masyarakat adat berkumpul kembali ke masjid dengan membawa sejumlah makanan. Di tempat itu pula, mereka berbagi makan dan kegembiraan.

Sementara berlebaran di Kampung Pulo yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, masjid kampung adat tidak dijadikan sebagai tempat salat Idulfitri. Masyarakat adat lebih memilih salat Id di masjid desa setempat, membaur dengan warga lainnya.

Seusai salat Id, warga Kampung Adat Pulo berkumpul di halaman enam rumah yang berderet saling berhadapan. Warga kampung adat yang merupakan garis keturunan Eyang Dalem Arif Muhammad, penyebar Islam di Garut itu, menyambut hari kemenangan dengan peluk dan salam saling memaafkan. Barulah kemudian mereka berkumpul di Masjid Pulo.

Doa-doa dipanjatkan, dipimpin oleh Ketua Kampung Adat. Kusyuk dan khidmat, mereka memohon keselamatan bagi Rasulullah saw. dan para sahabatnya, memohon berkah dan keselamatan bagi warga kampung adat dan masyarakat sekitar.

“Setelah itu, baru kami berziarah ke makam keluarga dan makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, leluhur Kampung Pulo yang tereletak di belakang Candi Cangkuang,” ujar Ketua Kampung Adat sekaligus kuncen Makam Arif Muhammad, Tatang Sanjaya (57).

Tradisi itu terus dipertahankan seperti halnya ketentuan jumlah dan bentuk tujuh bangunan pokok di Kampung Adat yang tidak boleh berubah. Tujuh bangunan pokok itu yakni enam rumah panggung panjang berbahan kayu dan bilik dengan posisi masing-masing tiga berjajar salang berhadapan dan masjid kecil.

Tidak boleh ada lebih dari satu kepala keluarga di dalam rumah. Saat ini, 21 orang warga yang tinggal di enam rumah adat Kampung Pulo adalah generasi ke-8, 9, dan 10 dari nenekk/kakek mereka. Mereka terdiri dari 12 laki-laki dan sembilan perempuan, termasuk diantaranya enam anak-anak.

Petasan Lodong Bambu
Suasana yang agak berbeda dari kampung adat di atas, bisa pembaca temukan di Kasepuhan Adat Ciptagelar yang berada di kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Di sana ada tradisi petasan tradisional lodong bambu, sang Ketua Abah Anom atau Abah Ugi Sugriana Rakasiwi bersama istrinya, Ma alit, didampingi para rorokan dan baris kolot (para sesepuh kampung) turun dari Imah Gede (rumah utama) pada malam menjelang idulfitri. Pakaiannya khas, mengunakan baju koko hitam atau putih dan berikat kepala.

Tidak hanya menyaksikan pembakaran petasan lodong, Abah Anom pun turut membakarnya, membaur dengan warga. Tradisi itu tetap bertahan mengingat menyalakan lodong rupanya menjadi kesenangan tersendiri Abah Anom sejak kecil.

Dalam waktu hampir bersamaan, ratusan anak kecil yang dibagi beberapa kelompok mendatangi rumah warga di sejumlah kampung. Dengan bunyi-bunyian, mereka berkeliling kampung mendatangi rumah warga mengumpulkan sedekah. Kegiatan itu disebut Nopeng dan berlangsung hingga tengah malam. Selanjutnya hasil nopeng dikumpulkan di balai peremuan untuk sedekah warga dan anak-anak yang terlibat ikut takbiran.

Sedekah juga diterima oleh Amil Adat Ciptagelar Rahman berupa makan dari warga yang langsung datang ke rumah Amil. Sedekah itu disebut sedekah kadaharan.

Prosesi pembuatan hingga pembagian sedekah kadaharan itulah yang berkesan hikmat. Sehari sebelum Idulfitri, warga sudah menghentikan seluruh aktivitas bercocok tanam dan berkonsentrasi Mapag Lebaran dengan berbagai acara ritual, salah satunya kegiatan bubar panggang.

Seluruh warga yang memiliki binatang ternak, wajib memotong dan memanggangnya. Daging panggang adalah salah satu makanan menu andalan lebaran yang sudah harus siap sebelum azan Magrib berkumandang.

“Binatang ternak, seperti ayam, bebek, kambing, dan itik harus tuntas dipanggang sebelum mamasuki takbiran bersama. Kalau tidak tuntas hingga Magrib maka pamali,” kata Amil Adar Ciptagelar Rahman. Selanjutnya, Amil akan menerima sedekah makanan hasil bubar panggang.

Dibantu seluruh anggota keluarganya, makan sedekah didistribusikan kembali kepada seluruh warga, tanpa terkecuali. Pembagian makanan harus tuntas sebelum salat Idulfitri.

“Warga yang memberikan sedekah harus kembali menerima makanan yang berbeda. Karena itu, keluarga Amil tidak menerima kunjungan tamu hingga usai membagikan makan sedekah,” tutur dia.

Pada 1 Syawal, hikmatnya lebaran mencapai puncaknya ketika Abah Anom didampingi istrinya, Ma Alit, menggelar Patarema Leungeun ( bersalaman). Kegiatan itu tidak hanya dihadiri para rorokan dan baris kolot. Semua warga juga tumplek memenuhi Imah Gede.

Uniknya, warga penuh santun bersalaman dengan cara ngesot baik kepada ketua adat, juga orang-orang yang dituakan. Puncak Lebaran berakhir setelah Abah Anom menyelenggarkan upacara Salametan Syukuran Lebaran.

Salametan ditandai dengan disajikannya semua olahan masakan Imah Gede kepada seluruh warga.

Agak berbeda dengan tradisi di Kelurahan Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan.

Pertemuan disertai sapa salam lebaran dari warga non-Muslim kepada warga Muslim seperti itu, mewarnai suasana Idulfitri kemarin.

“Kelurahan Cigugur ini, sejak dulu sampai sekarang dikenal sebagai kelurahan di Kabupaten kuningan yang memiliki banyak penduduk berbeda-beda agama. Namun, kerukunan antarumat beda agama warga di kelurahan kami ini sampai sekarang selalu terjaga baik. Bahkan karena itu, Kelurahan Cigugur ini sering dibilang banyak orang, miniaturnya Indonesia,” ututr H. Diding Sunardi, seorang tokoh masyarakat setempat.
Ungkapan sanada juga dilontarkan sejumlah warga lainnya di kelurahan tersebut, termasuk Lurah (Kepala Kelurahan) Cigugur Ujang Sutrisna dan Camat Cigugur Jojo Juharsa yang melaksanakan Salat Id berjamaah di alun-alun depan Masid Jami Al-Jihad di kelurahan tersebut.

“Kerukunan antarwaarga berbeda agama di keluran ini tidak hanya ditunjukkan warganya pada hari raya Idullfitri sepertio sekarang ini, tetapi selalu terjaga pula dalam suasan sehari-hari serta pada hari raya agama lainnya,” kata Camat Cigugur Jojo Juharsa. (Dirangkum Amaliya/-“PR”. Laporan dari Ahmad Rayadie/Kismi Dwi Astuti/Arif Budi/Nuryaman/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Kampung Adat Sang Penawan Wisatawan

Kampung Adat Sang Penawan Wisatawan
ARIF BUDI K/”PR”
KELUARGA keturunan Kampung Adat Pulo berziarah di makam Eyang Dalem Arif Muhammad dengan latar belakang Candi Cangkuang di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Minggu (19/8). Berziarah ke makam penyebar pertama agama Islam di Garut itu menjadi salah satu tradisi keluarga Kampung Adat Pulo pada perayaan Idulfitri.
UNIK selalu menjadi perhatian. Demikian pula dengan Kampung Adat di Jawa Barat, keunikannya mampu menawan para wisatawan termasuk wisatawan manca negara.

Tak heran, saat lebaran termasuk pada tahun ini, sejumlah kampung Adat kedatangan “tamu” dari luar kampung. Tidak sedikit wisatawan yang sengaja mampir ke Kampung Adat misalnya Kampung Pulo untuk mengabadikan kentalnya suasana adat.

Kampung Adat Pulo yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, memang ramai dilintasi ribuan pengunjung. Selain penasaran dengan tradisi kampung adat, pengunjung biasanya ingin menikmati keindahan Candi Cangkuang atau berziarah ke makam Arif Muhammad.

Candi Cangkuang memang menjadi salah satu objek wisata andalan Garut yang menyedot wisatawan, terutama wisatawan asing. Pesona utama objek wisata tersebut sebenarnya adalah sebuah candi dengan arca Dewa Syiwa peninggalan budaya Hindu abad VII-VIII.

Candi Hindu pertama dan satu-satunya yang ditemukan di Tanah Pasundan ini menjadi daya pikat turis asing sekaligus dijadikan sumber penelitian. Tetapi di belakang candi, terdapat makam Eyang Dalem arif Muhammad, penyebar agama Islam di Garut. Makam tersebut berhadapat dengan museum kecil yang berisi naskah-naskah Alquran dan Khotbah berusia sekitar empat ratus tahun.

Danau kecil menjadi perlintasan yang harus dilalui dengan rakit untuk bisa menjejak daratan tempat situs berdiri. Sepanjang perjalan di atas rakit, udara segar dan angin dingin akan terasa semilir. Gunung Haruman, Mandalawangi, dan Guntur yang menjulang dengan elok juga jadi pemandangan memesona yang dapat dinikmati kala menumpang rakit.

Sementara di Kampung Urug yang terletak di Kiara Pandak, Sukajaya, Kabupaten Bogor. Kebanyakan wisatawan lokal maupun asing, datang hanya pada perayaan tertentu seperti ruwahan, seren taun (perayaan syukur atas hasil bumi), sedekah bumi sebelum menanam padi, dan menyambut tahun baru Isalam. Pada saat Lebaran, nihil wisatawan.

Hal yang sama juga terjadi di Kasepuhan Adar Ciptagelar yang berada di wilayah Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Wisatawan ramai saat perasaan seren taun.

Tidak hanya warga setempat, warga di luar Kabupaten Sukabumi pun sangat antusias menyaksikannya. “Hampir setiap upacara seren taun, kami selalau menyempatkan diri menghadiri. Upacara tahunan di Ciptagelar, sangat kami nanti. Dari agenda yang kami dapat di kasepuhan, seren taun berlangsung 1-3 September mendatang,” kata Ruli, salah seorang warga Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Bagi masyarakat adat kasepuhan Banten Kidul di kaki Gunung Halimun yang mayoritas petani, aktivitas upacara seren taun yang diawali arak-arakan warga mengusung padi (rengko) merupakan bentuk syukuran atas panen yang mereka peroleh selama setahun. Arak-arakan ribuan pocong padi kemudian disimpan di lumbung yang disebut leuit di jimat. (Dirangkum Amaliya/”PR”. Laporan dari Ahmad Rayadie/Kismi Dwi Astuti/Arif Budi K,/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Selasa, 07 Agustus 2012

Ramadan Bersahaja di Kampung Adat

Ramadan Bersahaja di Kampung Adat
KRISHNA AHADIYAT/"PR"
RUMAH adat Kampung Kuta yang masih tetap terjaga kelestariannya di Dusun Kuta, kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jumat (27/7). menururt sesepuh Kampung adat Kuta, Ki Warja (64), agama Islam yang dipeluk warganya merupakan amanat dari para pendahulu. Adalah "pamali' jika ada warga yang tidak mengemban amanat itu dengan baik.*
Di Kota, suasana Ramadan identik dengan ingar-bingar yang dibalut komersialisme. Sementara di kampung adat, Ramadan disikapi secara sederhana. Tidak ada penjual tajil dadakan atau pemhamburan uang dengan membakar petasan. Masyarakat kampung adat menjalni puasa apa adanya dengan tetap menjung karifan lokal.

Akhir pekan lalu, ”Pikiran Rakyat” berkesempatan mengunjungi Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya dan Kampung Kuta di Kabupaten Ciamis. Meski hanya melewatkan waktu masing-masing satu hari dikedua kampung itu, kesan khidmat dan kerendahan hati dengan mudah ditangkap. Orang-orang yang menghabiskan hidupnya dengan memegang teguh prinsip adar-istiadat itu ternyata dapat memaknai Ramadan begitu dalam.

Di kampung Naga, warga berbuka puasa dengan memanfaatkan bahan-bahan makanan yang dihasilkan dari bumi kampungnya. Beras dari sawah yang ditanam sendiri, sayur-mayur dari kebun yang mereka petik sendiri, dan ikan dari sungai Ciwulan yang mereka pancing sendiri. tidak ada menu istimewa yang sengaja dihidangkan sebagai kompensasi menahan lapar seharian seperti yang banyak terjadi di perkotaan.

Aktivitas warga pun berlangsung sebagaimana hari-hari lain di luar Ramadan. Para perempuan masih menumbuk padi untuk makanan sehari-hari. Anak-anak juga masih dengan sabar menapaki ratusan anak tangga dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah. Kampung naga pun tetep dibuka untuk kunjungan para wisatawan mancanegara dan lokal. Pria-pria kampung Naga yang bekerja sebagai pemandu kunjungan dengan sabar menemani dan menjawab pertanyaan dari para pengunjung.

Menurut salah satu warga Kampung Naga, Abah Ayo (56), tidak ada yang istimewa dengan pelaksanaan ibadah puasa di kampungnya. Hanya ada dulag di masjid kampung yang selalu dibunyikan untuk membangunkan warga menjelang sahur. Suasana berbeda baru didapat pada malam hari takbiran, dimana gema takbir dengan alunan dulag diselingi dengan permainan rebana dan lantunan selawat.
**

Di Kampung Kuta Kabupaten Ciamis, bulan Ramadan tahun ini dijalani dengan khidmat. Kondisi kampung yang kesulitan air membuat banyak warga mengalami gagal panen. Sebagian warga menyebut tahun ini sebagai tahun paceklik. Itu sebabnya, para sesepuh adat di kampung Kuta mengimbau agar semua warga menahan diri. Anak-anak tidak diperkenankan membakar petasa. Selain mengganggu ketertiban, bermain petasan juga dianggap menyia-nyiakan uang. Warga kampung pun diimbau untuk memanfaatkan hasil bumi kampung seefisien mungkin.

Menurut sesepuh kampung Kuta. Ki Warja (64). Agama Islam yang dipeluk warga Kampung Kuta merupakan amanat dari para pendahulunya. Adalah pamali jika ada warga yang tidak mengemban amanat itu dengan baik. Itu sebabnya, sampai sekarang, semua warga Kampung Kuta masih memeluk agama Islam. “Aya kasebat cenah pamali. Pamali téh aya makna, perilaku manusa anu bener, jujur, yakin, iman. Pamali téh poma ulah lali,” ujarnya.

Hanya dengan kecap pamali dari tokoh adat, warga dapat memahami norma-norma yang berlaku dalam kehidupan di kampung adat. Jarang ada warga yang berani melanggar hal-hal yang dianggap tabu itu. Mungkin itu sebabnya Ki Warja sangat yakin bahwa tradisi memeluk agama Islam di Kampung Kuta akan bertahan hingga kiamat datang.

Suasana puasa di Kampung Kuta baru terasa hingar bingar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam ganjil. Dalam rangka menyambut lailatulqadar, warga melaksanakan syukuran pada setiap malam ganjil. Penduduk setempat kerap mengistilahkannya sebagai lilikuran. Para pria dan anak-anak menggelar terbangan, permainan alat musik mirip rebana yang dipadu dengan lantunan selawat dan lirik tentang dakwah.

Pada malam-malam itu, secara bergantian, warga mengirimkan makanan ke masjid kampung untuk disantap para jemaah. Biasanya, acara berlangsung sejak bakda salat Isya hingga menjelang sahur. Makanan yang dihidangkan merupakan makanan khas Kampung Kuta.

Seperti Kampung Naga, bahan-bahan yang digunakan sebagai makanan juga berasal dari hasil bumi kampung. Di Kampung Kuta, makanan khas yang selalu hadir saat malam lilikuran adalah cimplung, yaitu singkong muda yang direbus dalam air gula aren.

Begitulah warga kampung adat menyikapi Ramadan. Mereka dapat menempatkan dari sesuai dengan makna-makna dalam setiap berkah yang terkandung di bulan puasa. Tidak ada satu pun warga yang ditemui "PR" dalam mengungkapkan kresahannya menyambut Lebaran. Mereka semua tampak berbahagia dan bersyukur dengan apa yang dilikinya saat ini. Cara pikir mereka memang sederhana, tetapi merekalah yang justru mampu memahami ini dari bulan penuh ampunan ini. Mereka tidak terjebak ke dalam makna-makna semu yang terkadang sangat jauh dari arti Ramadan yang sesungguhnya.

Sumber: Lia Marlia/”Pikiran Rakyat”

Kujang bukan Senjata

kujang
Oleh: Ajip Rosidi, Ketua Dewan Yayasan Kebudayaan Rancage

PADA awal tahun 1950-an, dalam masyarakat Sunda timbul ketidakpuasan terhadap orang Jawa, sehingga timbul gerakan kasundaan baik di kalangan orang-orang yang sudah aktif dalam gerakan kasundaan sejak sebelum perang, maupun di kalangan para pemuda dan mahasiswa. Tokoh-tokoh Sunda yang sudak aktif sejak masa sebelum perang seperti Ema Bratakusumah, Soetisn (Soetisna Sendjadja), Iwa Koesoemasoemantri, Otong Kosasih, Djoearsa, Joedakoesomah, dll. yang mendirikan organisasi al. Daya Sunda, Badan Musawarah Sunda, dll. Sedang para mahasiswa dan pemuda di Bandung, Bogor dan Jakarta seperti Adjam Syamsupradja, Hasan Wargakusumah, Saikin Suriawidjaja, Alibasjah Natapradja, dll, mendirikan oraganisasi al. Nonoman Sunda, Putra Sunda, Daya Nonoman Sunda, Front Pemuda Sunda dll.

Dalam majalah-majalah bahasa Sunda yang terbit waktu itu terutama dalam Kalawarta Kudjang (Bandung) dan majalah Warga (Bogor), banyak dimuat tulisan dan karikatur yang menyatakan ketidapuasan terhadap orang Jawa dan pemerintah pusat dengan Presiden Soekarno (walupun kemudian eksekutif di tangan perdana mentri) yang dianggap lebih mementingkan orang Jawa.

Hal itu disebabkan adanya kebijaksanaan dari pemerintah Republik Indonesia tentang "non" dan "kok". Yang disebut non (kooprator) ialah mereka yang menolak bekerja pada pemerintah Belanda, dan tetap bertahan sebagai "republikein". Sedangkan ko (opretor) ialah mereka yang bersedia bekerja pada pemerintah pendudukan Belanda. Setelah KMB (Konferensi Meja Bundar) dan Belanda mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia, pemerintah Republik Indonesia dengan kebijaksanaan tentang "non" dan "ko" itu menggeser orang-orang "ko" dari jabatannya dan menggantinya dengan orang "non". Padahal orang-orang Sunda yang menjadi "ko" di Jawa Barat itu berbuat demikian setelah ada anjuran dari Wakil Presiden M. Hatta – lama sebelum KMB – yang membolehkan kaum republikein yang tinggal di daerah pendudukan bekerja pada pemerintah pendudukan asal bukan dalam lapangan kemiliteran dan pertahanan, karena pekerjaan itu niscaya besar manfaatnya buat rakyat Republik Indonesia, seperti guru yang mengajar di sekolah pendudukan karena yang diajarnya adalah anak-anak kaum republikein. Yang dianggap kaum "non" ialah orang-orang Jawa yang pulang mengungsi dari Yogyakarta atau daerah Jawa Tengah lainnya. Dan ternyata para pejabat baru itu bukan saja tidak mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik, melainkan juga memboyong saudara-saudara atau teman-temannya dari daerah asal untuk menduduki berbagai lowongan. Karena itu, timbul perasaan dan umpatan tentang adanya "penjajahan oleh bangsa sendiri".

Peristiwa Bubat dihidup-hidupkan kembali untuk menunjukan bahwa orang Jawa (Gadjah Mada itu sifatnya khianat dan dalam persitiwa itu Raja Sunda dan putrinya Citreresmi atau Dyah Pitaloka menjadi korban. Untuk menunjukan bahwa orang Sunda juga ada yang berani melawan terhadap kekerasan jaman tentara Jawa zaman Mataram. Dihidupkan kembali cerita tentang Dipati Ukur. Ceritanya ditulis kembali oleh Rohendy Sumardinata & Supis (Supian Iskandar) diterbitkan oleh Daya Sunda Pusat (Bandung) setelah dimuat bersambung dalam Kalawarta Kudjang.

Dalam cerita Dipati Ukur yang itulah pertamakali ditulis bahwa orang Sunda berperang dengan menggunakan senjata khusus yang disebut kujang. Sejak itu dimitoskan bahwa kujanglah senjata orang Sunda, Sedangkan keris adalah senjata orang Jawa. Pendeknya orang Sunda tidak kalah oleh orang Jawa. Kalau orang jawa punya senjata keris, orang Sunda punya senjata kujang. Padahal keris juga sebenarnya senjata orang Sunda, seperi juga senjata orang melayu, karena itu ada keris yang disebut "keris Padjadjaran". Namun karena pada waktu itu ada semangat bahwa orang Sunda itu lain dari orang Jawa, dan tidak kalah hebat, pemitosan kujang sebagai senjata khas Sunda kian keras. Pada sekitar tahun 1960 sudah tebentuk anggapan bahwa kujang adalah lambang Sunda, sehingga dijadikan lambang pemerintah Jawa Barat. Tidak mustahil gagasan tersebut timbul dari Pak Ema Bratakusuma dan lingkungan Daya Sunda yang menerbitkan Kalawarta Kudjang. Dalam buku-buku naskah yang ditulis sebelum tahun 1950, termasuk dalam wawacan-wawacan, tak pernah dilukiskan bahwa orang berperang mempergunakan kujang. Tidak mustahil gagasan tentang kujang sebagai senjata orang Sunda itu berasal dari Pak Ema Bratakusumah dan lingkungan Daya Sunda yang menertbikan Kalawarta Kudjang.

Ahli sejarah dan kesenian Sunda, almarhum Saleh Danasasmita dengan menggunakan nama samara Asmalasuta menulis dalam karangan berjudul Semar Djeung Kudjang (majalah Handjuang No. 5, 1971) bahwa ia merasa berdosa kalau mebiarkan saja, karena telah terjadi kekeliruan yang telah diterima masarakat secara luas tentang Semar dan kujang. Menurut para ahli ternyata kepercayaan itu bisa dibentuk. "Sanajan carita hayal mun ditabeuh unggal waktu, dipisieup siga heueuh, lila-lila bakal dianggap enyaan". (Meski ceria hayali, kalau diberitakan setiap waktu, dibuat-buat seakan-akan benar, lama-lama akan dianggap benar). Karena itu dia merasa perlu menulis karangan untuk mnejelaskan hal yang sebenaranya walupun ia tahu bahwa "mun beja geus dipercaya hese ngabedokeunana" (kalau berita sudah dipercaya, susah membatalkannya).

Saya tidak akan mengutip yang ditulis Saleh mengenai Semar, melainkan hanya akan mengutip tentang kujang. Menurut Saleh dia menunjukkan bahwa tentang kujang sudah diteliti dan dibahas oleh Snouck Hurgronje dalam TBG (Tijdchrift van het Bataviaasch Genootchap van Kunsten en Wetenschappen) jilid 41 (1904) Snouck melakukan penelitiannya di daerah Priangan yang masih ditemukan berbagai macam kujang. Tapi pada waktu itu pun (awal abad ke-20), sudah tidak dapat diperoleh keterangan tentang bagaimana menggunakannya. Kujang yang sekarang popular adalah kujang Bandung yang dengan fantasi yang cukup dapat dianggap sebagai senjata. Padahal kujang-kujang yang terdapat di daerah-daerah lain bukanlah bentuk senjata untuk perang. Yang terdapat di daerah Banten lebih dekat dengan bentuk arit.

Dalam naskah Sunda Kuno koropak 630 (Siksa Kanda ng Karesyian) waktu mengurai tentang dina nataan senjata buat pakakas poertang yang disebut adalah pedang, abet panusuk, golok, peso poateundeut, nusuk, golok, dan keris. Kujang tidak disebut. Kujang disebut dalam alat bertani, yaitu, kujang, baliung, parkit, koered, sadap. Di Banten ada pribahasa yang kira-kira berbunyi "mun aya bentang kidang, turun kujang" (kalau bintang kidang telah tampak, kujang pun ditutunkan untuk digunakan". Bintang kidang menjadi tanda bahwa musim hujan sudah tiba, waktunya turun ke ladang. Dari pribahasa itu jelas bahwa kujang itu alat bertani.

Setelah dimitoskan sebagai senjata orang Sunda, wajarlah kalau tumbuh kebanggaan terhadap kujang dan didorong oleh rasa bangga itu lantas banyak yang membuat kujang senjata sesuai dengan fantasinya. Konon Prof. Dr. Kusnaka Adimihardja pernah mengemukakan pendapat bahwa kujang memang mempunyai beberapa fungsi. Ada yang memang sebagai pekakas bertani tetapi ada juga sebagai senjata untuk perang, di samping kujang yang diberikan oleh penguasa sebagai penghargaan, yang disebut "kujang nugraha". Apakah penemuan fungsi-fungsi (yang diperoleh oleh Snouck Hurgronje pada awal abad ke-20) itu berdasarkan penelitian yang cermat dan ilmiah? Sebab mungkin saja, karena didorong oleh kebanggaan terhadap senjata warisan leluhur seperti yang dimitoskan, belakangan banyak yang membuat kujang sesuai dengan fantasinya.

Karena itu, saya merasa lucu (dan sedih) waktu membaca berita "Kujang Didaftarkan ke UNESCO" (Pikiran Rakyat Sabtu, 21 Juli, 2012). Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat bersama dengan Tim Gugus Hak Kekayaan Intelektual (HKI) hendak mengajukan agar UNESCO mengakui kujang "sebagai senjata tradisional orang Sunda". Selain Tim Gugus HKI dan juga dosen ITB dan para sarjana pejabat pemda staf gubernur dan wakil dari komunitas kasundaan.

Entah siapa yang pernah mengadakan penelitian tentang kujang. Yang jelas dalam berita itu alasan yang dikemukakan oleh Aris Kurniawan, M.Sn, staf pengajar Seni Rupa ITB sama sekali tidak bersifat alamiah melainkan "ngelmu" karena alasan itu merupakan kirata basa. Katanya setelah melakukan penelitian selama tujuh tahun, dia sampai pada kesimpulan bahwa "Kudi" dalam arti Kudia atau Ku Anjeun memberi pengertian "Titah" atau perintah dari Kahayangan kepada manusia atau manu. Kudi dianggap mempunyai bentuk menyerupai kepala burung, hal ini memberi makna bahwa manusia sebagai bentuk perwakilan Hyang Tunggal atau Tuhan yang senantiasa harus meningkatkan bakti atau bukti kepada Negara dan Tuhan Yang Maha kuasa dimarcapada atau buwana Panca Tengah. Nah lu!!

Sumber: Pikiran Rakyat

Jumat, 20 Juli 2012

"MUNGGAH" Tradisi Menjelang Ramadan

MUNGGAH Tradisi Menjelang Ramadan
Nandang Sukanda/"PR"
Di Jawa Barat, munggah merupakan tradisi yang dijalankan setiap tahun, menjelang Ramadan. Ada yang mengisinya dengan berziarah kemakam keluarga, ada yang pulang kampung untuk melewatkan sahur pertama bersama orang tua, ada pula yang mengisinya dengan melakukan ritus “mandi besar”. Ternyata, munggah merupakan tradisi yang sudah sangat tua dan berhubungan dengan kebiasaan masyarakat Jawa Barat pada zaman prasejarah.

Dalam bahasa Sunda, kata “munggah” berarti “naik’ dan mengandung makna “peningkatan” atau “perubahan”. Budayawan Usep Romli mengatakan, dalam konteks menyambut Ramadan, munggah berarti menuju peningkatan demi mencapai tahap yang lebih baik. Apalagi, didalam Surat Albaqarah ayat 183 disebutkan, Ramadan – melalui perintah saum – akan menjadikan orang-orang mukmin mencapai tingkat taqwa. “Urgensinya, ketika masuk ibadah saum, kita sudah siap lahir dan batin karena sudah dibersihkan waktu munggah itu,” ujarnya.

Di dalam syariat Islam, tradisi munggah sebenarnya tidak dikenal. Di arab Saudi, masyarakat hanya memiliki kebiasaan membaca doa melihat hilal menjelang datangnya bulan Ramadan, itu pun dilakukan secara perseorangan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan kata lain, tradisi munggah, termasuk takbir keliling dan mamaleman (“mencari” Lailatulkadar), hanya tradisi lokal yang dipadukan dengan unsur religius islam. Usep menyebutkannya sebagai transformasi dan variasi budaya sebagai bentuk “lokalisasi Islam”

Hal itu dibenarkan oleh budayawan Jakob Sumardjo. Menururt dia, sejumlah kegiatan dalam tradisi munggah merupakan kegiatan yang sebenarnya dilakukan pada upacara yang bermakna “manunggal dengan nenek moyang” pada zaman purba. Sisa-sisa upacara itu masih lestari dalam bentuk bersih desa, ngalaksa, seren taun, ngarot, dan sejenisnya. Dalam upacara-upacara semacam itu, dilakukan penyatuan manusia sebagai mikrokosmos dengan alam sebagai makrokosmos dan arwah nenek moyang berupa mitos, mitos sebagai metakosmos.

Rangkaian upacara dari mulai mandi bersama (bersih badan). Pantang dan puasa, ziarah kubur, seni pertunjukan yang mementaskan kisah mitologi nenek moyang pendiri wilayah, dan akhirnya makan bersama atau kenduri. Tempatnya bisa di tanah lapang balai desa, leuwi, mata air, bisa juga diperkuburan desa. Pada upacara-upacara tahunan seperti itulah semua penduduk kampung berkumpul.

Sewaktu agama Islam masuk Indonesia, tradisi lama itu kemudian disesuaikan dengan kepentingan Islam. Soalnya, jika tak dilakukan, masyarakat akan merasa ada sesuatu yang hilang dari bagian dirinya sebagai kelompok. Momentum yang tepat untuk pelaksanaan upacara pun bergeser. Bukan lagi pada saat panen, melainkan menjelang bulan Puasa dan Lebaran. Artinya, kedua momentum itu dianggap sama istimewanya dengan waktu panen.

Seperti mudik, munggah akan selalau menjadi tradisi yang istimewa karena, entah mengapa, selalu sukses memunculkan suasana religius yang haru dan romantis serta rasa rindu terhadap “rumah”. Selain sejarah yang panjang mengenai tradisi itu, mungkin kesan itulah yang membuat munggah masih eksis dalam peradaban umat Islam Indonesia.

Sumber: Lia Marlia/”Pikiran Rakyat”


Marhaban ya Ramadhan

Rabu, 18 Juli 2012

Semangat Berbagi Melalui Tradisi Misalin

Semangat Berbagi Melalui Tradisi Misalin
Tradisi MisalinWARGA mengikuti ritual misalin di situs keramat makam Galuh Salawe di Cimaragas Kabupaten Ciamis, Minggu (15/7). Misalin salah satu ritual yang digelar menjelah Ramadan.**(foto: Pikiran Rakyat)
Jelang Ramadan, beberapa ritual adat digelar di sejumlah situs di Ciamis. Salah satunya ritual Misalin di situs keramat makam Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh, di Dusun Tinggarahayu, Desa dan Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis.

Misalin secara harfiah berarti melakukan pergantian menuju kesejahteraan hidup lahir batin.

Tradisi tahunan ini telah dilakukan masyarakat di wilayah tersebut secara turun temurun. Pada tradisi ini, masyarakat bergotong royong membersihkan makam leluhur sekaligus berdoa di tempat tersebut untuk menyucikan diri menyambut Ramadan.

“Misalin juga bermakna membersihkan diri dari segala macam perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma agama,” ujar juru kunci makam keramat Galuh Salawe, Latif Adiwijaya.

Lebih lanjut Latif menuturkan ritual itu tidak hanya sebatas membersihkan makam karuhun yang rutin dilaksanakan.

Namun, menurut dia, Misalin juga merupakan momentum untuk “ngikis diri” demi mendapat keberkahan hidup.

Pada tradisi itu warga secara sukarela bergotong-royong membuat pontrang, yakni makanan yang disajikan di atas anyaman daun kelapa yang dibentuk segi empat menyerupai bentuk kapal.

Pontrang itu kemudian dibagikan kepada warga yang hadir dalam ritual untuk selanjutnya dimakan bersama-sama.

Pontrang itu wadah makan jaman dulu ketika acara atau hajat masyarakat digelar seperti di acara khitanan ataupun pernikahan. Pontrang dibuat dari daun kelapa dan mengingatkan kita pada sumber-sumber alam yang bis dimanfaatkan,” ucap Ayip salah seorang penyelenggara.

Uniknya, tidak seperti ritual di daerah lain, tak ada aksi saling rebut saat pontrang dibagikan.

Ratusan warga dengan sabar duduk menunggu jatah pembagian dari panitia penyelenggara.

Pontrang dibagikan setelah prosesi tawasulan usai dilaksanakan. Singkatnya seluruh acara dalam ritual tersebut berlangsung dengan khidmat dan tertib.

Sumber: Yulistyne Kasumaningrum/”Pikiran Rakyat”


Marhaban ya Ramadhan

Selasa, 10 Juli 2012

Pernikahan Adat Tangerang

Pernikahan Adat Tangerang yang Dipengaruhi Budaya Banten

- Ngolotkeun
Mengirim utusan dari calon pengantin wanita ke pengantin pria.
Berbeda dengan adat lainnya, yang menentukan calon menantu adalah dari pihak wanita.

- Seserahan
Kedua keluarga pengantin memberikan makan dan pakaian sebagai bekal pengantin dalam kehidupan berkeluarga. Biasanya acara dilaskanakan pada malam hari setelah akad nikah.
Barang yang diberikan: pakaian, tebu wulung, seikat padi, sirih dan pinang dengan tangkainya.
Pengantin wanita menjemput pengantin pria dirumahnya dengan membawa seserahan, kemudian diiringi rombongan kedua pengantin kembali ke rumah pengantin wanita.

- Buka pintu
Upacara buka pintu yang melambangkan penerimaan pihak pengantin wanita terhadap pengantin pria.
Pengantin wanita masuk terlebih dahulu ke dalam rumah, sementara keluarga pria mendendangkan lagu terlebih dahulu, baisanya terdri atas kolum, bayti, raubi, dan sebagainya.

- Huap lingkung
Pengantin disuapi oleh sesepuh dengan nasi punar
Upacara dilaksanakan di depan rumah dan kedua pengantin duduk menggunakan alas tikar.

- Ngeroncong
Kedua pengantin menerima uang receh yang diberikan oleh seluruh keluarga dan undangan.
Kedua pengantin duduk di kursi yang dialasi oleh kain batik baru. Seluruh keluarga bergantian menyalami pengantin dan memberikan uang receh ke tempat yang disediakan.

Sumber: Pikiran Rakyat

Kamis, 21 Juni 2012

Pernikahan Adat Cirebonan/Pantura

Tahap Pernikahan Adat Cirebon

- Njegog atau tetail (meminang)
Utusan pria datang ke rumah orang tua wanita untuk menyampaikan niatnya meminang anak mereka.

- Seserahan
Orang tua wanita menerima kedatangan utusan pihak pria yang disertai rombongan pembawa seserahan.
Seserahan yang diberikan buah-buahan, umbi-umbian, sayur-sayuran, mas kawin berupa perhiasan dan uang tunai.

- Siram tawandari
Orang tua dan sesepuh calon pengantin bergantian menyirami kedua calon. Bila calon pengantin merupakan keturunan dari keraton kecirebonan, sebelum pernikahan mereka akan melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan leluhur raja Cirebon untuk meminta restu.

Colon mengantin menggunakan sarung batik khas cirebon bernama kain wadasan berwarna hiaju (melambangkan keseburan).
Bendrong sirat: air bekas siraman pengantin dipercikkan pda anak gadis atau jejaka yang hadir di cara ini.

- Parasan
Juru rias membuang rambut halus (ngerik). Acara ini disaksikan oleh orang tua dan kerabat.
Diiringi musik karawitan moblong yang artinya murub mencur bagaikan bulan purnama.

- Tenteng pengantin
Pihak pengantin wanita mengirimkan utusan untuk menjemput pengantin pria, lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Orang tua pengantin pria dilarang menyaksikan prosesi akad nikah.
Pada waktu ijab Kabul calon pengantin pria ditutup dengan kain milik ibu penganitn wanita, menandakan pria tersebut menjadi menantunya.

- Salam temon
Prosesi injak telur. Bila penganitn berasal dari keluarga yang cukup berada, biasanya saat salam temon ini diadakan acara gelondongan pangareng, atau membawa upeti berupa barang/harta yang cukup lengkap.

Kulit telur melambangkan wadah/tempat. Putih adalah suci atau pengabdian seorang istri. Kuning adalang lambing keagungan.

- Sawer
Penaburan uang receh yang dicampur dengan beras kuning (tanda agar kedua pengantin diberikan limpahan rezeki)

- Pugpugan Tawur
Kepala pengantin ditaburi oleh pugpugan yang terbuat dari welit (ilalang atau daun kelapa yang sudah lapuk.
Simbol agar pernikahan berjalan awet bagaikan welit yang terikat sampai lapuk.

- Adep-adep sekul
Makan nasi ketan kuning yang berbentuk bulatan kecil sebanyak 13 butir. Masing-masing orang tua pengantin menyuapi sebanyak 4 butir. Pengantin saling menyuapi senyak 4 butir, dan satu butir lagi diperebutkan.
Melambangkan kerukunan dalam rumah tangga, terhadap pasangannya, orang tua, serta mertua.

- Sungkem pada orang tua
Kedua pengantin melakukan sungkem dengan posisi berjongkok.
Ceriman rasa hormat dan kasih sayang terhadap orang tua. Setelahnya didengdangkan Kidung Kinanti sebagai harapa pengantin dapat sela, sekata, sehidup, semati.

- Pemberian restu, upacan selamat atau hiburan
Ada acara hiburan berupa tari-tarian seperti tari topeng, tari bedoyo, dan tari tayub.

Sumber: Pikiran Rakyat

Sabtu, 16 Juni 2012

Busana Adat Pengantin Sunda


 pengantin Sumedang
pengantin Sumedang



pengantin Garut
pengantin Garut


pengantin Bandung
pengantin Bandung



pengantin Karawang
pengantin Karawang


pengantin Indramayu
pengantin Indramayu



pengantin Majalengka
pengantin Majalengka

Sumber: (Foto) Pikiran Rakyat

Senin, 30 April 2012

Rangkaian Pernikahan/Perkawinan Adat Sunda

ngeuyeuk_seureuh
Tata perkawinan adat sunda di Jawa Barat dimulai dengan adat meminang. Keluarga calon mempelai pria berkunjung ke rumah calon mempelai wanita untuk mengetahui sejumlah keterangan mengenai calon memperalai wanita. Tahap ini disebut nanyaan. Apabila status sang gadis sudah jelas, dan kedua orang tua setuju, kegiatan dilanjutkan dengan neundeun omong.

Disediakan waktu beberapa pekan atau bulan setelah neundeun omong sebelum mencapai proses selanjutnya, yakni nyeureuhan atau ngalamar (melamar). Waktu yang disediakan itu dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada kedua keluarga untuk saling mengenal. Dahulu, keluarga pengantin pria selalu membawa bingkisan sirih lengkap yang dibungkus rapi disertai sejumlah uang. Pasalnya, ngalamar berarti sirih atau menyatukan menjadi satu. Jika pihak keluarga calon pengatin wanita membuka dan langssung dimakan bersama-sama itu menandakan lamaran sang pria diterima. Sementara uang yang diserahkan saat prosesi ini berfungsi sebagai penyangcang atau mengikat sekaligus merupakan ukuran besar uang yang akan diberikan calan pengatin pria kelak untuk biaya pernikahan.

Di dalam buku Upacara Perkawinan Adat Sunda karya Thomas Wiyasa Bratawidjaja (1990) disebutkan, upacara seserahan biasanya berlangsung sehari atau dua sebelum acara pernikahan. Orang tua dan calon pengantin pria datang ke rumah calan pengantin wanita sambil membawa barang-barang keperluan calon pengantin wanita serta peralatan untuk upacara ngeuyeuk seureuh.

Upacara ini dipimpin oleh seorang wanita “berumur” yang disebut pangeuyeuk. Tujuannya untuk memberikan nasihat kepada kedua calon mempelai dalam menjalankan hidup berumah tangga. Setelah panyeuyeuk menjelaskan arti bahan-bahan ngeuyeuk seureuh kepada calon pengantin, bahan-bahan yang diperlukan disimpan di kamar pengantin untuk upacara akad saat pernikahan berlangsung. Sementara bahan-bahan yang tidak diperlukan disimpan diatas tikar teertutup dan ditumpahkan di perempat jalan terdekat. Dahulu prosesi ini digunakan untuk mengumumkan kepada pendduduk desa bahwa di daerah itu akan ada orang tua yang mengawiinkan putrinya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengajian, ngecagkeun aisan/ngaras sampean, lalu ngibakan atau ngebakan (siraman). Setelah itu, kedua calon pengantin mengikuti upacara ngeningan atau mengerik bulu-bulu halus yang ada di wajah, kuduk, leher, serta memotong rambut didahi untuk membentuk amis cau, dan membuat godeng lengkungan di batas pipi. Sementara untuk calon mengantin pria, ngeningan hanya untuk membersihkan bulu halus.

Setelah pelaksanaan akad nikah, kedua mempelai melakukan sembah sungkem kepada orang tua, dilanjutkan dengan prosesi sawer. Menurut Ketua bidang Kepribadian Ikatan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indoensia Tiara Kusuma Jawa Barat Hj. Yetty Kurniati, di dalam acara saweran, kedua mempelai diberi nasihat yang makna rohaninya sangat tinggi. Nasihat itu disampaikan dalam kidung (nyanyian empat baris) atau sekar macapat, seperti dangdanggula, kinanti, sinom, asmarandana, dan sebagainya.

Prosesi berikutnya, pengantin meuleum harupat dan nincak endog. Prosesi ini mengandung pesan dan juga melambangkan harapan bahwa istri mampu menjadi penenang suami dan bersama-sama membuang sifat yang tidak baik.

Tata upacara adat Sunda juga meliputi prosesi ngalangkah barera, di mana kedua mempelai bersama-sama melangkahi barera sebagai simbol menuju kehidupan yang baru. Ada pula adat “buka pintu” dimana mempelai pria berada di luar rumah dan mempelai wanita berada di dalam rumah. Melalui komunikasi berbalas pantun atau kidung, mempelai wanita meminta suaminya untuk membacakan syahadat sebelum diizinkan memasuki rumah.

Setelah diperbolehkan memasuki rumah, kedua mempelai yang telah syah sebagai suami istri kemudian menempati pelaminan lalu melakukan prosesi huap lingkung dan pabetot-betot bakakak hayam. Ini bermaksa tugas orang tua untuk membimbing anak-anaknya telah selesai dan diserahkan kepada pengatin untuk membina rumah tangga yang rukun dan sejahtera.

Satu lagi prosesi adat yang selalu hadir dalam pernikahan orang Jawa Barat adalah mapag panganten oleh lengser dan penari merak. Ketua Ikatan Ahli Kecantikan dan Penguasa Salon Tiara Kusuma Jawa Barat Hj. Uun Unajah mengatakan, lengser merupkan simbol dari tetua adat atau kokolot yang memandu jalan pengantin meuju pelamian. Ini mengandung arti bahwa dalam menjalani perkawinan pasangan harus berjalan lurus dan selalau setia. Sementara kehadiran pera menari merak merupakan bentuk penyambutan luar biasa kepada pengantin yang dianggap sebagai raja dan ratu sehari.

Diluar upacara-upacara adat ini masih banyak upacara adat lain dalam prosesi pernikahan adat Sunda, seperti ngunduh mantu, munjungan, serta ngarunghal.***

Sumber: Lia Marlia – Weyatini/*Pikiran Rakyat

Minggu, 15 April 2012

si Lengser Mapag Panganten

Dalam Pernikahan orang Jawa Barat ada satu prosesi adat yaitu mapag panganten oleh lengser dan penari merak. Lengser merupakan simbol dari tetua adat atau kokolot yang memandu jalan pengantin menuju pelaminan. Ini mengandung arti bahwa dalam menjalani perkawinan pasangan harus berjalan lurus dan selalu setia. Sementara kehadiran para penari merupakan bentuk penyambutan luar biasa kepada pengantin yang dianggap sebagai raja dan ratu sehari.



Jumat, 16 Maret 2012

Pencak Silat, Budaya Melayu Modal untuk Maju

pencak silat
Pencak silat bukan sekedar olah raga atau ilmu bela diri. Budaya asli Indonesia ini juga punya dua aspek lain, yang terkadang dilupakan orang, yaitu aspek mentalitas spiritual dan seni tradisional. Jika pencak silat dipandang secara utuh, maka tidak berlebihan rasanya jika tokoh-tokoh silat nusantara mengklaim bahwa sesungguhnya bangsa kita sejak dulu sudah memiliki modal untuk menjadi bangsa yang maju.

Silat diperkirakan sudah menyebar di kepulauan nusantara sejak abad ke-7 Masehi, yang diakui sebagai budaya suku Melayu. Penduduk di Pulau Sumatra. Semenanjung Malaka, serta barbagai kelompok etnik yang menggunakan bahasa Melayu di Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi mengembangkan silat dengan gaya sendiri.

Masyarakat Minangkabau mengenal Silat Bungo, Silat Kumango, Silat Sitaralak, Silat Pauah, Silat Lintau, dan Silat Buayo. Di Betawi terdapat Silat Cingkrik, Silat Silau Macan, Silat Sabeni, Silat Tiga Berantai, dan Silat Gerak Saka. Sementara di Jawa Barat yang juga dikenal sebagai “indung” aliran silat di Indoensia, terdapat tiga aliran silat besar, yaitu Cimande, Cikalong, dan Syahbandar atau sahbandar atau Sabandar.

Aliran Cimande diciptakan oleh Mbah Khair pada akhir 1700-an, berpusat di Kampung Tarikolot, Desa Cimande, Kabupaten Bogor. Pada tahun 1800-an, Rd. H Ibrahim mengembangkan aliran Cikalong, setelah berguru kepada tujuh belas guru, termasuk diantaranya Rd. Ateng Alimudin, H. Ma’ruf dan Bang Madi dari Tanah Abang, serta Bang Kari. Pada abad yang sama, Muhammad Kosim yang merantau dari Pulau Sumatra ke kampung Sahbandar-Cianjur juga menyebarkan aliran Sahbandar

Cimande merupakan salah satu aliran pencak silat tertua di Indoensia. Sementara Cikalong dan Sahbandar pun sudah mendapatkan termpat di kalangan para pesilat. Aliran-aliran silat tersebut bahkan disebut-sebut dikembangkan di luar Jawa Barat, seperti Bangkalan Madura, Palembang, dan Sumantra Barat. Dengan kamta lain, Jawa Barat menempati posisi yang penting dalam hal perkembagnan pencak silat.

Dewan Pendekar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jawa Barat, H. Masri Atmadja menjelasakan bahwa pada awal kemunculannya, tidak semua orang bisa mempelajari pencak silat. Hanya orang-orang terpilih yang biasanya berasal dari kaum bangsawan atau menak, serta memiliki ilmu agama yang tinggi yang bisa belajar silat. Itulah sebabnya, silat sangat identik dengan nilai-nilai agama Islam. Sejarah juga mencatat bahwa dahulu latihan silat tidak pernah dilakukan secara terbuka dan pada siang hari. Para pesilat memilih berlatih malam hari setelah salat Isya dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Menurut Masri, itu karena saat penjajahan Belanda, pencak silat dilarang. Penjajah khawatir penguasaan bela diri serta nilai-nilai kepemimpinan dan keberanian yang tertanam dalam pencak silat akan digunakan untuk melawan mereka.

Perjalanan perkembangan silat di Indonesia kemudian melahirkan istilah jawara atau pendekar. Penulis Menapaki Jejak Sang Jawara: Entitas Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat, Gusman “Jali” Natawidjaja menyebutkan bahwa penamaan sosok jawara di Banten muncul sejak abad ke-19. namun seiring berjalannya waktu, persepsi masyarakat terhadap jawara memiliki pemahaman baragam, dari mulai yang positif, hingga negatif.

Di Jawa Barat, pencak silat sangat menyatu dengan kehidupan masyarakat. Menururt pendiri Lembaga Pewarisan Pencak Silat (Garis Paksi) Gending Raspuzi, dahulu pencak silat merupakan hal yang wajib dipelajari anak lali-laki. Di Kab. Cianjur, laki-laki yang tidak bisa silat dianggap ketinggalan zaman atau euweuh kahayang (tidak punya cita-cita). Orang tua pada saat itu menganggap anak-anaknya perlu mempelajari silat, karena memahami empat aspek yang dimiliki pencak silat, yaitu mentalitas spiritual, seni, bela diri, dan olahraga. Keempat aspek itu sangat penting untuk menghasilkan generasi unggul, dengan segala elemen penunjangnya.

“Mungkin kondisi zaman dulu yang tidak seperti sekarang, memang membuat orang-orang membutuhkan silat sebagai ilmu bela diri,” katanya.

Bukti lain bahwa sisi mentalitas spritualitas pencak silat sangat kuat adalah, ritual pengambilan “talek” atau sumpah/janji yang selalu dilakukan oleh setiap perguruan sebelum seseorang diterima sebagai murid.

Talek ini pada umumnya merupakan sumpah/janji calon-calon murid untuk tidak menyalahgunakan ilmun silat yang akan dipelajarinya, dengan membangun mentalitas spiritual yang kokoh. Seperti bersumpah akan bertakwa kepada Tuhan, taat kepada orang tua, serta setia kepada Negara. Ini bukti bahwa selain olah fisik lewat jurus, seorang pesilat juga harus hidup sebagai orang baik.

Sekretaris Umum IPSI Jabar Prijatna Danusubrata mengakui, pada praktiknya ada orang yang memperdalam silat dengan dibumbui oleh kegiatan nonfisik. Padahal sebenarnya, tingkatan “spiritual” merupakan pembinaan puncak serta sasaran akhir untuk menjawab mengapa seseorang mendalami pencak silat. Lalu dengan tingginya penalaran para sesepuh dan tokoh sialt, pencak silat pun mulai dibungkus oleh aspek seni. Beberapa generasi kemudian, muncullah pencak silat sebagai seni tradisional yang hadir dalam berbagai upacara adat.

Membicarakan pencak silat di tatar Sunda tidak terelepas dari corak usik dan musik yang berwarna-warni. Dan musik yang paling menonjol di samping terbang/rudat, bedug, dan patingtung, adalah kendang penca. Kini, mengolah pencak silat sebagai olah seni menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jawa Barat dan Banten. Karenan dengan begitu, pencak silat benar-benar sudah mendarah daging setelah mencakup keempat aspek tersebut.

Pada perkembagan selanjutnya, pencak silat diajarkan secara terbuka kepada siapa pun yang tertarik untuk mempelajarinya, termasuk orang-orang asing dari Negara lain. Saat ini, dunia persilatan bahkan mengenal perguruan modern dan perguruan tradisional. Masing-masing memiliki cara dan sistem tersendiri dalam mengajarkan jurus-jurus silat, termasuk mewariskan nilai-nilai kebaikan melalui tradisi lisan dari guru ke murid. Bahkan ada pesilat yang membuat program latihan silat jarak jauh secara online, khusus untuk murid-murid dari Negara lain.

Ajaran silat secara umum memang bersifat universal. Melihat kenyataan itu, pencak silat sangat relevan untuk kehidupan saat ini, baik sebagai pembangun mentalitas spiritual, ilmu bela diri, sebagai seni, mampun sebagai olahraga.

Sumber: Lia Marlia/*Pikiran Rakyat**

Senin, 12 Maret 2012

Gamelan Sari Oneng, Daya Tarik Bagi Museum Geusan Ulun

gamelan sari oneng
Pada puncak hari Maulid Nabi Muhammad saw (1433 H), Kamis (23/2) lalu, masyarakat dari segenap pelosok Kabupaten Sumedang dan warga Sumedang yang tinggal di luar daerah Sumedang berdatangan memenuhi ruas jalan protokol kota berjuluk kota tahu. Mereka datang ke Sumedang karena penasaran ingin melihat langsung dari dekat benda-benda pusaka milik Kerajaan Sumedanglarang, yang merupakan benda-benda warisan leluhur. Benda-benda tersebut dipamerkan dalam acara Helaran Benda Pusaka Museum yayasan Pangeran Sumedang (YPS).

Benda-benda pusaka yang dipamerkan itu antara lain Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tajimalela Raja Sumedanglarang pertama (721-778), Keris Ki Dukun Prabu Gajah Agung (893-998), Keris Panunggul Naga Prabu Geusan Ulun (1578-1601), Keris Nagasasra Pangeran Panembahan (1656-1706), Keris Nagasasra II Pangeran Kornel (1791-1828), Badik Curul Aul Senapati Jayaperkosa dan tentunya Mahkota Binokasih dibuat Raja Galuh, Sanghyang Bunisora Suradipati (1357-1371) merupakan masterpiece Museum Geusan Ulun Sumedang warisan Kerajaan Sunda yang diarak menggunakan replika Kereta Naga Paksi Liman.

Namun, rasa penasaran masyarakat pada waktu itu belum sepenuhnya terobati. Pasalnya, Gamelan Sari Oneng Mataram dan Gamelan Sari Parakan Salak yang belakangan banyak diberitakan di media cetak maupun elektronik tidak turut dalam iring-iringan benda pusaka. “Saya penasaran, sengaja datang ke Sumedang ingin melihat langsung gamelan yang pernah melanglangbuana ke sejumlah Negara Eropa dan Amerika untuk promosi hasil perkebunan negeri kita pada abad 18 M. Kalaupun melihat langsung datang ke museum (Museum Gesan Ulun harus waktu-waktu tertentu, “ujar Ridwan (22) salah seorang mahasiswa ISI Solo, ditemui seusai kirab.

Diakui Pimpinan Museum Geusan Ulun, Raden Moh. Ahmad Wiriaatmadja, dalam dua tahun terakhir keberadaan Gamelan Sari Oneng Parakan Salak dan Sari Oneng Mataram mulai terpublikasikan sebagai masterpiece Museum Geusan Ulun selain Mahkota Binokasih dan Kereta Naga Paksi Liman.

“Tetapi karena kurangnya informasi dan letak museum yang menyatu degan kompleks pemerintahan (Pemkab) Sumedang, masyarakat yang hendak berkunjung pun menjadi ragu-ragu untuk berkunjung, “Ujar Raden Moh. Ahmad Wiriaatmadja, saat mendampingi Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Rosdianan Rachmiwaty, seusai mendiskusikan rencana Program Pewarisan Kesenian Tradisional Gamelan Sari Oneng Sumedanglarang.

Di dalam museum Geusan Ulun ini banyak tersimpan manuskrip sejarah kerajaan Sunda di tanah Jawa, yang merupakan cikal bakal berdirinya pemerintahan di Provinsi Jawa Barat. Sayangnya hal itu kurang bergema gaungnya. Sumedang yang terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Bandung sering kali hanya jadi persinggahan lintas antarkota. Padahal. Di kota kecil yang berada di antara Bandung dan Majalengka-Cirebon, pernah ada suatu kerajaan besar bernama Sumedanglarang.

Tinggalan budaya kerajaan yang konon didirikan oleh keluarga Prabu Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi I itu, saat ini hanya tinggal pusaka-pusakanya, yang disimpan di museum yang diresmikan pada 11 November 1973. “Belakangan banyak mahasiswa dari dalam maupun luar negeri yang datang berkunjung ke museum ini untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan Gamelan Sari Oneng Parakan Salak dan Sari Oneng Mataram, “ujar Raden Aom.

Keberadaan gamelan Sari Oneng sendiri, menururt Raden Aom, bukan kali ini membuat penasaran masyarakat. Tapi sudah sejak abad ke-19 M lalu, atau tepatnya antara 1840 hingga 1860. pada masa itu, Karel Frederick Holle dan Adrian Walraven Holle membawa Gamelan sari Oneng Parakan Salak bersama sejumlah seniman dan seniwati Sunda untuk melanglangbuana ke sejumlah Negara di Eropa dalam rangka promosi hasil perkebunan teh dan kopi dari tanah Sunda.

“Seniman Sunda dan Gamelan Sari Oneng pernah manggung secara rutin di World Exhibiton Amsterdam Belanda dari tahun 1880-1931, di Expositon Universelle Paris, Prancis (1889) pada perayaan 100 tahun revolusi Prancis dan peresmian menara Effel. Selain itu digelar pula dalam acara World Columbian Exposition Chicago (1893). Bukti-bukti itu antara lain foto, terdapat dalam album van Mientje dengan angka tahun 1860. dalam foto itu menampilkan sosok Adrian yang tengah mengenakan pakaian tradisonal Sunda dan memainkan rebab di antara nayaga pemain Gamelan Sari Oneng,” Ujar Raden Aom, seraya menambahkan bahawa pertunjukan besar terakhir Sari Oneng adalah saat mengiringi ulang tahun perkawinan ke-60 Soeriadanoeningrat, 36 tahun lalu.

Hal yang tidak kalah menarik adalah cerita keberadaan goong indung atau goong ageung (gong besar) Sari Oneng bergaris tengah 92 cm dengan berat 30 kg, yang tertinggal di Belanda. Goong Ageung yang disimpan di Tropen Museum, selalu berbunyi dan membuat takut pengelola maupun pengunjung museum, karena sering bunyi sendiri. Pada April 1989, benda-benda pusaka itu dikembalikan ke Indonesia. Anda merasa penasaran? Kalau sempat berwisata budayalah ke Sumedang dan berkunjung ke Museum Geusan Ulun.

Sumber: Retno HY/*Pikiran Rakyat”

Sabtu, 25 Februari 2012

“Poyok Ungkal” (Gaya sindiran orang Ungkal memang berbeda dengan gaya pada umumnya)

Dalam berbahasa, masyarakat Sunda wilayah Priangan, sering dianggap teu tegel, tidak biasa menyatakan sesuatu secara ceplak pahang, poksang atau togmol (langsung pada sasaran yang dimaksud). Dalam mengutarakan maksud dan tujuannya, mereka cenderung menggunakan ungkapan yang malibir atau malapah gedang, supaya tidak nerag, yang berakibat menyinggung perasaan yang diajak bicara.

Representasi dari fenomena malibir itu akan kita temukan di masyarakat Ungkal Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang. Namun sayang, kebiasaan malibir ini sering disalahtatsirkan teruatama oleh pihak diluar dengan label “negatif” yakni: poyok atau cegek. Mungkin mereka (orang luar) memaknai poyok berdasarkan arti kamus, yakni sebagai ungkapan yang berisi hinaan atau nyawad (menyindir), sehingga dikenal dengan poyok/cegek Ungkal. Akibatnya masyarakat Ungkal sering dicap sebagai suatu komunitas yang suka membuat gara-gara.

Justru yang bikin gara-gara itu pada dasarnya adalah orang luar itu sendiri yang bertanya tentang keberadaan poyok tersebut. Bagi orang Ungkal pertanyaan itulah yang bikin gara-gara “ngusik-ngusik ula mandi, ngagugahkeun macan turu” (menggangu ular yang sedang mandi dan membangunkan macan tidur) yang artinya memancing sehingga bangkit amarahnya. Maka jangan aneh bila ada yang bertanya pasti akan “dibekelanpoyok. Objek yang di-poyok-nya itu tidak akan pandang bulu, apakah rakyat atau pejabat, dari yang mahiwal hingga yang normal., pria maupun wanita, nu kasep atau nu goring, mereka akan dibekelan secara mereta.

Masyarakat Ungkal sebenarnya merupakan suatu komunitas yang mengedepankan harmoni, toleran, dan saling menghargai sesama, baik sesama warga termasuk terhadap pendatang. Namun akibat kuatnya opini negatif tersebut, sikap-sikap yang baik itu seolah-olah terhapus begitu saja, menyebarkan wacana negatif di kawasan Sumedang dan sekitarnya tentang poyok Ungkal itu diindikasikan karena perbedaan persepsi mengenai konsep poyok itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku yang dianggap pewaris aktif (active bearer) poyok Ungkal, diperoleh keterangan bahwa konsep poyok/moyok harus dibedakan dengan konsep moyokan.
Bagi masyarakat Ungkal, konsep poyok adalah satu bentuk kreativitas tradisonal yang menggambarkan apa yang dikomentarinya secara simbolis, dengan maksud untuk kepentingan “mengasah” (menguji) seseorang, seberapa surti (paham) yang di-poyok mampu memaknainya. Ada kebanggan tersendiri dengan kemahiran poyok tersebut, karena bagi mereka kemahiran dengan memainkan kata dengan diksi yang nyamuni pertanda orang itu memiliki “kecerdasan” tinggi. Dalam pandangan mereka konsep poyok/moyok itu identik dengan kesenian Sunda, seperti halnya sisindiran (pantun) maupun wawangsalan (pantun 2 baris). Sedangkan istilah atau konsep moyokan mempunyai pengertian menghina dan biasanya diekspresikannya secara ceplak pahang (langsung), seperti lewat kata Si Beke (Si Cebol), Si Jeding (si Bibir Tebal), Si Leststreng (Si Hitam Legam), dsb.

Munculnya poyok biasanya secara spontan, spontanitas itu sebagai respons terhadap stimulus berupa pertanyaan, maka secepat kilat orang yang ditanya itu akan menelisik kekurangan atau “kelebihan” yang ada dalam penampilan (fisik) termasuk cara berpakaian di penanya (pendatang). Menururt Allan dan Burridge (1991) kebiasaan itu merupakan gejala disfemisme (dysphemisme).

Gaya sindiran orang Ungkal memang berbeda dengan gaya pada umumnya, poyok-nya menggunakan diksi dengan analogi yang memiliki kesan harfiah “jauh” dari objek yang disindirnya, terutama bagi orang yang tidak surti (paham). Objek sindirannya biasanya sangan tersembunyi karena bersifat metaforikal (kiasanan), mirip dengan teka-teki. Akibatnya, tidak sedikit orang disindirnya tidak bereaksi apa-apa karena tidak sadar atau kurang “paham” terhadap makna sindiran tersebut. Makna sindirannya mungin tidak akan pernah terpamahi atau baru terkuak beberapa waktu kemudian setelah dipikirkan secara mendalam adan/atau mungkin dikonfirmasikan dengan \warga masyarakat setempat. Ketika maknanya terungkap, baru si tersendir tereprangah dan sadar bahawa ia telah kena sindir. Sebagai bentuk folklor, makan sindiran yang terkuak itu dapat sangan menyakitkan, nyelekit kana ati, nyentug kana jajantung (menyentuh relung hati yang paling dalam). Menurut Danandjaja (1994), hal yang utama dari folklor itu mengungkapkan kepada kita, baik disaadari atau tidak, bagaimana folkjnya berpikir. Selain itu, folklor juga mengabadikan apa-apa yang dirasakan penting (dalam suatu waktu) oleh folk pendukungnnya.

Apakah orang Ungkal sendiri suka saling poyok? Tentu saja. Poyok itu biasanya muncul dalam suasana informal, terutam saat warga berkumpul dan ngobrol bersama dalam pertemuan dengan suasana santai, seperti warung kopi, saat berkumpul di depan sebuah rumah, gardu ronda atau saat menunggu giliran di tempat pemandian umum, dsb. Bila sudah saling poyok suasana biasanya akan menjadi cair dan akrab, penuh gelak tawa. Dari kebiasaan moyok itu sampai saat ini belum terdengar adanya dapamak buruk.

Pengungkapan makna moyok Ungkal dapat ditelusuri melalui simbol (analogi) suatu cara yang lazim digunakan oleh pemakai ( si pe-moyok) agar maksud dari poyok itu tidak kasar (nerag/neuhak). Lebih jauh lagi, si pe-moyok memberikan semacam “PR” untuk menguji kecerdasan apakah si ter-poyok memahami maksud dan makna poyok-an, termasuk mampu menimpalinya.

Ditinjau dari unsur kesejarahan, sulit ditentukan atau dilacak, kapan dan siapa yang memulai serta mengapa tradisi moyok muncul di Desa Ungkal ini. Ketika dicoba ditalenteng, pada umumnyya masyarakat menyatakan tidak tahu. Mereka cukup dengan mengatakan tos kitu bae ti dituna! Naum bila melihat artefak berupa kuburan kahot (tua) yang ada di tengah-tengah desa tersebut akan ditemukan nisan dengan nama: Mbah Puragati, Mbah Jerad, Mbah Rangit, Mbah Nayapatra, Mbah Karapyak, Mbah Lebe, Mbah Gombak, Mbah Nyi Mas Gedeng Larang Tanjung Bang, dan Mbah Raden.

Kita hanya menduga dengan mengidentifikasi nama-nama itu, jangan-jangan mereka yang dipemdem di dalamnya merupakan pelarian tentara Mataram yang bersembunyi. Logikanya, mereka sebagai pelarian tentu harus pintar menyembunyikan jati diri, sehingga semua ahrus serba simbolis (disamarkan). Kemudian bila kita menelusuri kata ‘ungkal” ternyata berasal dari bahasa Jawa dari kata “wungkal” yang berarti batu asahan. Oleh karena itu, besar kemungkinan munculnya moyok/poyok tujuannya untuk “mengasah” (menguji) seseorang sesuai dengan arti ungkal itu sendiri. Seberapa surti (paham) yang dipoyok mampu memaknainya. Cag!**

Sumber: Dede Kosasih, Lektor Kepala pada Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI Bandung/”Pikiran Rakyat”

Jumat, 24 Februari 2012

Poyok Ungkal, Kreativitas Tradisional

Kebiasaan berkomentar masyarakat Ungkal (Desa Ungkal, Kec. Conggeang, Kab. Sumedang) sudah dikenal sejak lama, bahkan menjadi perhatian dan sesuatu yang membuat penasaran, terutama bagi masyarakat di luar Ungkal. Mereka umumnya penasaran seperti apa Poyok Ungkal itu. Salah seorang di antaranya adalah dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Drs Dede Kosasih, MSi. Dalam tesisnya, Dede yang menyelesaikan pendidikan S-2 di Jurusan Sosiolagi-Antropologi Unpad memilih tema budaya poyok masyarakat Ungkal.

Dede yang mengaku berasal dari Desa Legok, Kab. Sumedang, sejak kecil sudah sering mendengar istilah Poyok Ungkal. “Namun. Waktu itu saya tidak tahu bagaimana poyok Ungkal itu. Paling-paling orang tua suka berkata, “Ih cegekan siga urang Ungkal! (Segala dikomentari seperti orang Ungkal)!”

Namun, setelah melakukan penelitian Dede berpendapat, meski namanya Poyok Ungkal tetapi bukan berarti masyarakat Ungkal suka mengata-ngatai atau menghina. Menurut Dede, masyarakat Ungkal membedakan antara moyok atau poyok dengan moyokan. Kalau menghina atau mengata-ngatai istilah dalam bahasa Sundanya adalah moyokan. Sementara moyok atau poyok lebih merupakan kebinangkitan atau kreativitas orang Ungkal untuk menggambarkan apa yang akan dikomentarinya secara simbolis.

Warga Ungkal mengemukakan poyok-nya dengan menyamarkan maksud sebenarnya dengan nama benda atau peristiwa yang bersifat sama dengan yang dimaksudnya. “Jadi, semakin tinggi kecerdasan atau semakin banyak pengetahuan seorang warga Ungkal, poyok-nya juga semakin halus dan beragam,” tutur Dede.

Kendati demikian, Dede hanya bisa menduga-duga asal muasal Poyok Ungkal. Menurut perkiraannya, kebiasaan moyok boleh jadi berasal dari buyut warga Ungkal yang diduga adalah pelarian tentara Mataram. Sebagai seorang pelarian, logikanya dia harus menyembunyikan jati dirinya, sehingga semuanya harus disamarkan.

Dede memperkirakan hal itu dengan mempertimbangkan asal kata nama beberapa daerah/wilayah di sekitar Ungkal. Termasuk Ungkal. Desa Ungkal berbatasan dengan Desa Cacaban. Cacaban diduga berasal dari kata ceceg artinya nyecebkeun (membenamkan) yang bisaanya diterapkan kepada tanaman. “Menurut informasi, sawah tertua di Jawa Barat kan adanya di wilayah Conggeang,” ujar Dede.

Sementara Ungkal dalam bahasa Jawa berarti batu asahan. Dede menduga asahan itu menggambarkan warga Ungkal yang terus mengasah otak dan pikirannya untuk bisa mengungkapkan apa yang dimaksud agar tidak terkesan kasar atau to the point.

“Namun, semua itu hanya dugaan dan perkiraan saya, berdasarkan pertimbangan tertentu dan dikaitkan dengan peninggalan-peninggalan yang ada. Untuk pembuktian selanjutnya, diperlukan penelitan lebih dalam oleh ahli sejarah dara para pakar ilmu lain yang terkait,” Kata dede pula.

Dede setuju jika kebisaaan moyok masyarakat Ungkal dikategorikan sebagai budaya verbal. Namun, dia belum bisa berpendapat apakah budaya tersebut bisa dilestarikan (secara sengaja) atau tidak. Terlebih, bentuk pelestariannya pun belum terpikirkan. “Budaya ini unik. Orang, terutama di luar warga Ungkal, tidak bisa langsung mengerti Poyok Ungkal, diperlukan daya nalar tinggi atau pembiasaan yang cukup lama untuk bisa mengetahui atau mengerti adanya Poyok Ungkal dalam suatu percakapan. Jadi, tidak seperti Heureuy Bandung atau Sisindiran yang bisa lebih mudah dimengerti oleh lawan bisaca, “ujar Dede.

Pihak Pemerintah Sumedang pun sudah lama mengetahui kebiasaan yang ada di masyarakat Ungkal. “Saat ini kami baru melakukan pendataan dan pemilahan serta pengklasifikasi budaya-budaya yang ada di masyarakat Sumedang. Khusus untuk Poyok Ungkal, belum terpikirkan bagaimana bentuk upaya pelestariaanya,’ kata Ade Rohana, Kasi Kesenian di Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumedang.

Sumber: Yeni Endah Pertiwi/”Pikiran Rakyat”

Senin, 09 Januari 2012

Kampung Dukuh dengan Adat Tradisinya

Kampung Dukuh yang keberadaannya sudah tiga abad ini. Berada di pegunungan Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Kampung Dukuh terbagi empat bagian, yaitu: Dukuh Tonggoh (Dukuh Jero), Dukuh Landeuh (Dukuh Luar), Tanah karamat dan Tanah Tutupan. Dukuh Tonggoh, sampai sekarang masih taat terhadap larangan adat, seperti tidak diperbolehkan membuat rumah dengan bahan bangunan tembok atau genteng, tidak boleh menjadi pedagang, dan tidak boleh menjadi pegawai negeri.

Setahun sekali warga Dukuh Tonggoh dan Dukuh Landeuh merayakan upacara Wisata Jaroh, Mandi Barokah, Ngabungbang, Maturan Tuang dan Maneja. Setiap tanggal 14 Maulid mengadakan acara muludan dengan ritual ngalap cai karuhun. Sertiap ritual yang diselenggarkan di Kampung Dukuh, selalu dihadiri oleh warga di luar Kampung Dukuh.

Terdapat tiga dasar warisan leluhur yang harus diperhatikan seluruh warga Kampung Dukuh. Pertama, warga Dukuh harus memelihara kampungnya sendiri. Kedua, harus menjaga makan karuhun (leluhur), makam Syeh Abdul Djalil. Ketiga, harus memelihara hutan supaya tetap memberi kehidupan untuk manusia.

Barang siapa yang berani merusak (menebang pohon) di Leuweung tutupan (leuweung Goong), akan kena musibah (sakit). Kecuali untuk kepentingan umum atau membangun rumah yang rusak karena bencana.*** (Galura)

Kamis, 29 September 2011

Mengenal Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu

dayak indramayu
Bila suatu ketika kita berkunjung ke daerah Indramayu, tidak jauh dari Pantai Eretan Wetan, di sepanjang lajur sebelah kanan by pass dari arah Jakarta ke Cirebon (jalur Pantura), terdapat sebuah jalan kecil yang bila ditelusuri menuju ke lokasi pemukiman sebuah komunitas yang menamakan dirinya Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Orang luar sering juga menyebutnya dengan istilah “Dayak Losarang”, atau "Dayak Indaramayu”. Komunitas ini tepatnya bermukim di Kampung Segandu. Desa Krimun, Kecamatan Losarang. Kabupaten Indramayu.

“Suku Dayak Indramayu” mulai mencuat ke permukaan sejak pernyataan mareka untuk menjadi “Golongan Putih” (golput= tidak memilih salah satu partai) pada Pemilu tahun 2004.

“Suku Dayak Indramayu” hidup di tengah-tengah masyarakat sekitarnya, akan tetapi dalam beberapa hal, mereka mengisolasikan diri dari lingkungan masyarakatnya. Misalnya untuk tempat tinggal dan tempat peribadatan (ritual) mereka, dibentengi dengan dinding yang cukup tinggi dan diberi ornament lukisan-lukisan. Di dalam benteng ini terdapat beberpa bangunan yang terdiri atas: rumah pemimpin suku, pendopo, pesarean, pesanggaran, dan sebuah bangunan rumah tinggal salah satu pemimpin suku.

Benteng yang mengelilingi padepokan
Beberapa bangunan, yaitu rumah pemimpin suku dan pesarean sudah merupakan bangunan permanent, berdinding tembok, berlantai keramik, dan beratap genteng. Gedung pendopo berdinding semi permanent, yaitu dinding bagian bawah berupa tembok dan duduk jendela/setengah badan ke atas menggunakan papan yang dilapis bilik, berlantai keramik, dan beratap genteng. Sementara itu, bangunan pesanggaran adalah bangunan non-permanen, berlantai tanah, beratap sirap dan dindingnya dibuat dari papan dan bilik.

Lingkungan alam di sekitarnya adalah lingkungan pertanian sawah dan palawija. Oleh sebab itu, mereka dalam kesehariannya bermata pencaharian sebagai buruh tani. Data tentang deskripsi kehidupan mereka diperoleh melalui wawancara dengan ketua Suku Dayak Hindu Budha.

Asal Usul Nama Suku Dayak Bumi Segandu
Komunitas ini menamakan dirinya dengan sebutan “Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu”. Menurut penjelasan warga komunitas ini, penamaan Suku Dayak ini mengandung makna sebagai berikut: Kata “Suku” artinya kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing.

Kata “Dayak” berasal dari kata “ayak” datau “ngayak” yang artinya memilih atau nyaring. Makna kata “Dayak” disini adalah menyaring, memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Kata “Hindu” artinya kandungan atau rahim. Filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dari kandungan sang Ibu (perempuan).

Sedangkan kata “Budha”, asal dari kata “wuda”, yang artinya telanjang. Makna filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang.

Selanjutnya adalah kata “Bumi Segandu Indramayu”. “Bumi mengandung makna wujud, sedangkan “Segandu” bermakna sekujur badan. Gabungan kedua kata ini, yakni “Bumi Segandu” mengandung makna filosofi sebagai kekuatan hidup.

Adapun “Indramayu”, mengandung pengertian “In” maknanya adalah “inti”, “Darma” artinya orang tua, dan kata “ayu” maknanya perempuan.

Makna filosofinya adalah bahwa ibu (perempuan) merupakan sumber hidup, karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan.

Jadi penyebutan kata “suku” pada komunitas ini bukan dalam konteks terminology suku bangsa (etnik) dalam pengertian antropologis, melainkan penyebutan istilah yang diambil dari makna kata-kata dalam bahasa daerah (jawa).

Demikian juga dengan kata “Dayak”, bukan dalam pengertian sukubangsa (etnik) Dayak yang berada di daerah Kalimantan, kendati pun dari sisi performan ada kesamaan, yakni mereka (kaum laki-laki) sama-sama tidak mengenakan baju. Serta mengenakan asesoris berupa kalung dan gelang (tangan dan kaki).

Lebih jauh, pemimpin komunitas ini menjelaskan tentang pemakaian kata “Hindu-Budha” pada sebutan komunitas ini. Kendatipun kominitas ini menggunakan kata “Hindu-Budha”, bukan berarti bahwa mereka adalah penganut agama Hindu ataupun Budha. Penggunaan kata “Hindu”, karena komunitas ini meneladani peri kehidupan kelima tokoh Pandawa, yang terdiri atas: Yudistira, Bima(Wirekudara), Arjuna(Permadi), Nakula dan Sadewa, serta tokoh Semar, yang dipandang sebagai seorang mahaguru yang sangat bijaksana. Adapun penyebutan kata “Budha” karena mereka mengambil inti ajaran “aji rasa” (tepuk seliro) dan kesahajaan yang merupakan inti ajaran agama Budha.

Konsep-konsep Ajaran Sejarah Alam Ngaji Rasa.
Ajaran dari kelompok “Dayak Indramayu” dinamakan dengan sebutan “Sejarah Alam Ngaji Rasa”. Menururt penjelasan salah seorang pengikut senior dari Pak Takmad, “Sejarah” adalah perjalanan hidup (awal, tengah, dan akhir) berdasarkan ucapan dan kenyataan. Sementara itu, “alam” adalah ruang lingkup kehidupan atau sebagai wadah kehidupan.

Adapun “Ngaji rasa” adalah tatacara atau pola hidup manusia yang didasari dengan adanya rasa yang sepuas mungkin harus dikaji melalui kajian antara salah dan benar, dan dikaji berdasarkan ucapan dan kenyataan yang sepuas mungkin harus bisa menyatu dan agar bisa menghasilkan sari atau nilai-nilai rasa manusiawi, tanpa memandang ciri hidup, karena pandangan salah belum tentu salahnya, pandangan benar belum tentu benarnya. “Oleh karena itu, kami sedang belajar ngaji rasa dangan prinsip-prinsip jangan dulu mempelajari orang lain, tapi pelajarilah diri sendiri antara salah dengan benarnya, dengan proses ujian mengabdikan diri kepada anak dan istri”, ungkapnya.

Konsep-konsep ajaran ini tidak didasarkan pada kitab suci, aliran kepercayaan, agam maupun akar budaya tertentu. Mereka berusaha mencari pemurnian dari dengan mengambil teladan sikap dan perilaku tikoh pewayangan Semar dan Pandawa Lima yang dianggapnya sangat bertanggungjawab terhadap kelaurga.

Proses menuju pemurnian diri, menurut Takmad, melalui beberapa tahap yang harus dijalin dengan menjauhkan diri dari keramaian dunia yang mengejar kesengan duniawi.
Tahap-tapah tersebut adalah: wedi-sabar-ngadirasa (ngajirasa)-memahami benar-salah.

Pada awalnya, setiap manusia wedi-wedian (takut, penakut) baik terhdap alam maupun lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu, manusia harus mengembangkan perasaan sabar dan sumerah diri dalam arti berusaha selaras dengan alam tanpa merusak alam. Prinsipnya adalah jangan merusak alam apabila tidak ingin terkena murka alam. Itulah yang disebut ngaji rasa atau ngadirasa. Setelah bersatu dan selaras dengan alam, dalam arti mengenal sifat-sifat alam sehingga bisa hidup dengan tenteram dan tenang karena mendapat lindungan dari Nur Alam (pencipta alam), manusia akan memahami benar-salam dan selanjutnya dengan mudah akan mecapai permurnian diri; manusia tidak lagi memiliki kehendak duniawi. Cerminan dari manusia yang telah memahami benar-salah, tampak dalam kehidupan sehari-harinya. Manusia yang telah mencapai tahap tersebut, akan selalu jujur dan bertanggungjawab.

Ngajisara, ajaran yang diakui sebagai jalan menuju pemurnian diri, mendidik setiap pengikutnya untuk mengendalikan diri dari “TIGA TA (harta, tahta dan wanita).

Bagi para pengikut yang telah menikah, suami harus sepenuhnya mengabdikan diri pada keluarga. Suami tidak boleh menghardik, memarahi, atau berlaku kasar terhadap anak dan istrinya. Oleh karena itu, perceraian merupakan sesuatu yang dianggap pantang terjadi. Demikian juga, hubungan di,luar pernikahan sangat ditentang. “Jangan coba-coba berzinah apabila tidak ingin terkena kutuk sang guru,” demikian salah seorang pengikut Pak Talmad mengungkapkan.

Ngaji rasa juga mengajarkan untuk saling mengasihi kepada sesama umat manusia. Misalnya, menolong orang yang sedang kesulitan walaupun berbeda kepercayaan, tidak menagih utang kepada orang yang diberi pinjaman. Yang terbaik adalah membiarkan orang yang berutang tersebut untuk membayar atas kesadarannya sendiri. Demikian juga dalam hal mendidik anak, sebaiknya tidak terlalu banyak ngatur karena yang bisa mengubah sikap dan perilaku adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Jalan menuju pemurnian diri juga ditunjukan dengan hidup yang sederhana, menjauhi keinginan mengejar kesenangan duniawi, menghilangkan perasaan dendam, penasaran dan iri kepaada orang laina.

Konsepsi tentang alam tampak dari keyakjian bahwa dunia berasal dari bumi segandu (bumi yang masih bulat) bernama Indramayu. Bumi segandu, kemudian menimbulkan lahar menjadi daratan, kekayon, dan air. Setelah itu muncul alam gaib, yangmengendlaikan semua itu adalah Nur Alam.

Ritual
Ritual yang dijalankan oleh anggota Suku Dayak Hindu-Budha Segandu Indramayu, dilakukan pada setiap malam Jum’at kliwon, bertempat di pendopo Nyi Ratu kembang. Beberapa puluh orang laki-laki bertelanjang dada dan bercelana putih hitam, duduk mengelilingi sebuah kolam kecil di dalam pendopo. Sementara itu,kaum perempuan duduk berselonjor diluar pendopo.

Ritual diawali dengan melantunkan Kidung Alas Turi dan Pujian Alam secara bersama-sama. Salah satu baik dari Pujian Alam, berbunyi sebagai berikut: ana kita ana sira, wijile kita cukule sira, jumlae hana pira, hana lima, ana ne ning awake sira. Rohbana ya rohbana 2x, robahna batin kita. Ning dunya sabarana, benerana, jujurana, nerimana, uripana, warasana, sukulana, penanan, bagusana [ada (pada) saya ada (pada) kamu, lahirnya aku tumbuhnya kamu, jumlahnya ada berapa, jumlahnya ada lima. Adanya di badan kita, Rohbana ya rohbana 2x, rubahnya bathin kita. Di dunia sabar, benar, jujur, nerima, hidup, sembuh (sadar), tumbuh, dirawat, (supaya) bagus].

Selesai melantunkan Kidung dan Pujian Alam, pemimpin kelompok, Takmad Diningrat, membeberkan cerita pewayangan tentang kisah Pandawa Lima dan guru spiritual mereka, Semar. Usai paparan wayang, Pak Takmad memberikan petuah-petuah kepada para pengikutnya. Paparan wayang dan petuah ini berlangsung hingga tengah malam. Usai itu, para lelaki menuju ke sungai yang terletak di belakang benteng padepokan. Di sungai dangkal itu mereka berendam dalam posisi telantang, yang muncul hanya bagian mukanya saja. Mereka berendam hingga matahari terbit. Ritual beremdam ini disebut kungkum.

Siang harinya, di saat sinar matahari sedang terik, mereka berjemur diri, yang berlangsung mulai sekitar jam 9 hingga tengah hari. Ritual ini disebut pepe.

Medar (menceritakan) cerita pewayangan, kungkum (berendam), pepe (berjemur) dan melantunkan Kidung dan Pujian Alam, adalah kegiatan ritual mereka yang dilakukan setiap anggota ini sehari-hari. Kegiatan secara massal hanya dilakukan pada setiap malam jum’at kliwon.

Ritual-ritual ini pada dasarnya adalah sebagai upaya menyatukan diri dengan alam, serta cara mereka melatih kesabaran. Semua ini dilakukan tanpa ada paksaan. “Bagi yang mampu silahkan melakukannya, tapi bagi yang tidak mampu, tidak perlu melakukan, atau lakukan semampunya saja,” ungkapnya.

Sumber: Drs. Toto Sucipto, dkk/* Tabloid BeJa (Berita Jawa Barat) Vol. III Tahun 2011

Rabu, 14 September 2011

Seni (Adu) Ketangkasan Domba di Tips Wisata Murah

domba
Ngadu domba yang dulunya hanya merupakan kebiasaan budak angon (penggembala). Berkembang menjadi ajang yang cukup bergengsi di tatar Pasundan. Penggemar domba Garut bukan hanya didominasi oleh golongan orang tua. Kaum mudanya pun sangat menggemari domba Garut (domba tangkas) ini. Jadinya tradisi ini akan tetap terjaga keberadaannya.

Pemilik domba Garut zaman dahulu disebut Juragan. Sebutan Juragan tentu sangat identik dengan orang yang sangat terpandang. Untuk zaman sekarang pun sebutan Juragan masih pantas bagi pemilik domba Garut (domba tangkas). Berdasar pada harga domba yang sangat pantastis.

Domba Garut yang dikonteskan terbagi dalam beberapa kelompok berdasarkan berat domba (kg). Misalnya gambar di samping atas ini. Domba dengan nama “Bangsawan” dari Pakalungan SJR milik H. Nun Al Shaqab yang berdomisili di Conggeang-Sumedang. Domba ini termasuk kelompok A dengan berat antara 60-80 kg.

Banyak artilek yang membahas tentang kontes seni ketangkasan domba. Diantaranya artikel Wisata Adu Domba milik Tips Wisata Murah. Tentunya sobat yang satu ini cara pemaparannya dari sudut perspektif wisata.

salam

Sabtu, 10 September 2011

Uniknya, Pengantin Naik Kuda Renggong

kuda renggong2
Kuda Renggong merupakan kesenian daerah yang berasal dari Sumedang. Secara umum pertunjukkan seni Kuda Renggong dilaksanakan pada hajatan khitanan.

Tapi ada tradisi yang unik yang sudah lama dilakukan oleh sebagian warga di Buahdua (Sumedang), Kuda Renggong diacara pernikahan. Kedua mempelai diarak naik Kuda Renggong. Dari rumah mempelai wanita menuju mesjid untuk melangsungkan akad. Setelah akad, di arak kembali dengan Kuda Renggong menuju tempat resepsi pernikahan.

Kuda yang dirias seperti halnya dalam acara khitanan, dengan musik pengiringan yang komplit pula.

Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur keluarga pengantin. Dan juga mengabarkan rasa suka cita kepada saudara dan tetangga.

Sekalipun tradisi ini sudah cukup lama keberadaannya, namun acara ini tetap menjadi nontonan yang menarik bagi penduduk yang tempatnya dilalui arak-arakan Kuda Renggong

Kamis, 08 September 2011

Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon

Kesultanan Keraton Kanoman Cirebon menggelar tradisi Grebeg Syawal yang digelar dipasarean (Makam) Sunan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

Ritual ini dilaksanakan pagi hari, diawali dengan kedatangan Sultan Kanoman. Selanjutnya, Sultan dan rombongan memasuki makam Gunung Jati. Dalam perjalanan menuju makam rombongan melewati beberapa pintu (9 pintu) yang di buka pada hari-hari tertentu saja seperti ritual Grebeg Syawal ini, pintu-pintu yang dilewati di antaranya Pintu Pasujudan, Pintu Kandok, Pintu Pandan, Pintu Soko, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan Pintu Gusti.

Tahlil, dzikir dan doa lainnya dilafalkan dibeberapa makam. Dimulai dari makam Sunan Gunung Jati yang berdampingan dengan makam ibunya Ratu Mas Rarasantang serta makam para leluhur terkenal di Cirebon, seperti makam Pangeran Cakrabuana (kakak dari ibu Sunan), Fatahillah (menantu Sunan), Pangeran Pasarean (Putra Mahkota Sunan), Pangeran Kejaksan (Syayid Syarifudin), dan Putri Ong Tien nio (istri Sunan).

Secara urutan ritus, sebenarnya membagikan “nasi jimat" dan koin merupakan rangkai Grebeg Syawal. Grebeg yang bisa diartikan sebagai serbuan atau keserempakan mereka yang meyakini keberkahan Allah SWT melalui makam Sunan Gunung Jati, sejatinya merupakan rangkaian prosesi doa untuk Sunan Gunung Jati dan para raja pendahulu keraton saat hari ke tujuh bulan Syawal.

Tradisi Grebeg Syawal sudah berlangsung ratusan tahun sejak zaman Sunan Gunung Jati masih jumeneng, karena pada saat itu pun sudah ada makam para sesepuh Cirebon. (dari berbagai sumber)