Pernikahan Adat Tangerang yang Dipengaruhi Budaya Banten
- Ngolotkeun
Mengirim utusan dari calon pengantin wanita ke pengantin pria.
Berbeda dengan adat lainnya, yang menentukan calon menantu adalah dari pihak wanita.
- Seserahan
Kedua keluarga pengantin memberikan makan dan pakaian sebagai bekal pengantin dalam kehidupan berkeluarga. Biasanya acara dilaskanakan pada malam hari setelah akad nikah.
Barang yang diberikan: pakaian, tebu wulung, seikat padi, sirih dan pinang dengan tangkainya.
Pengantin wanita menjemput pengantin pria dirumahnya dengan membawa seserahan, kemudian diiringi rombongan kedua pengantin kembali ke rumah pengantin wanita.
- Buka pintu
Upacara buka pintu yang melambangkan penerimaan pihak pengantin wanita terhadap pengantin pria.
Pengantin wanita masuk terlebih dahulu ke dalam rumah, sementara keluarga pria mendendangkan lagu terlebih dahulu, baisanya terdri atas kolum, bayti, raubi, dan sebagainya.
- Huap lingkung
Pengantin disuapi oleh sesepuh dengan nasi punar
Upacara dilaksanakan di depan rumah dan kedua pengantin duduk menggunakan alas tikar.
- Ngeroncong
Kedua pengantin menerima uang receh yang diberikan oleh seluruh keluarga dan undangan.
Kedua pengantin duduk di kursi yang dialasi oleh kain batik baru. Seluruh keluarga bergantian menyalami pengantin dan memberikan uang receh ke tempat yang disediakan.
Sumber: Pikiran Rakyat
Tampilkan postingan dengan label panganten sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label panganten sunda. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 Juli 2012
Kamis, 21 Juni 2012
Pernikahan Adat Cirebonan/Pantura
Tahap Pernikahan Adat Cirebon
- Njegog atau tetail (meminang)
Utusan pria datang ke rumah orang tua wanita untuk menyampaikan niatnya meminang anak mereka.
- Seserahan
Orang tua wanita menerima kedatangan utusan pihak pria yang disertai rombongan pembawa seserahan.
Seserahan yang diberikan buah-buahan, umbi-umbian, sayur-sayuran, mas kawin berupa perhiasan dan uang tunai.
- Siram tawandari
Orang tua dan sesepuh calon pengantin bergantian menyirami kedua calon. Bila calon pengantin merupakan keturunan dari keraton kecirebonan, sebelum pernikahan mereka akan melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan leluhur raja Cirebon untuk meminta restu.
Colon mengantin menggunakan sarung batik khas cirebon bernama kain wadasan berwarna hiaju (melambangkan keseburan).
Bendrong sirat: air bekas siraman pengantin dipercikkan pda anak gadis atau jejaka yang hadir di cara ini.
- Parasan
Juru rias membuang rambut halus (ngerik). Acara ini disaksikan oleh orang tua dan kerabat.
Diiringi musik karawitan moblong yang artinya murub mencur bagaikan bulan purnama.
- Tenteng pengantin
Pihak pengantin wanita mengirimkan utusan untuk menjemput pengantin pria, lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.
Orang tua pengantin pria dilarang menyaksikan prosesi akad nikah.
Pada waktu ijab Kabul calon pengantin pria ditutup dengan kain milik ibu penganitn wanita, menandakan pria tersebut menjadi menantunya.
- Salam temon
Prosesi injak telur. Bila penganitn berasal dari keluarga yang cukup berada, biasanya saat salam temon ini diadakan acara gelondongan pangareng, atau membawa upeti berupa barang/harta yang cukup lengkap.
Kulit telur melambangkan wadah/tempat. Putih adalah suci atau pengabdian seorang istri. Kuning adalang lambing keagungan.
- Sawer
Penaburan uang receh yang dicampur dengan beras kuning (tanda agar kedua pengantin diberikan limpahan rezeki)
- Pugpugan Tawur
Kepala pengantin ditaburi oleh pugpugan yang terbuat dari welit (ilalang atau daun kelapa yang sudah lapuk.
Simbol agar pernikahan berjalan awet bagaikan welit yang terikat sampai lapuk.
- Adep-adep sekul
Makan nasi ketan kuning yang berbentuk bulatan kecil sebanyak 13 butir. Masing-masing orang tua pengantin menyuapi sebanyak 4 butir. Pengantin saling menyuapi senyak 4 butir, dan satu butir lagi diperebutkan.
Melambangkan kerukunan dalam rumah tangga, terhadap pasangannya, orang tua, serta mertua.
- Sungkem pada orang tua
Kedua pengantin melakukan sungkem dengan posisi berjongkok.
Ceriman rasa hormat dan kasih sayang terhadap orang tua. Setelahnya didengdangkan Kidung Kinanti sebagai harapa pengantin dapat sela, sekata, sehidup, semati.
- Pemberian restu, upacan selamat atau hiburan
Ada acara hiburan berupa tari-tarian seperti tari topeng, tari bedoyo, dan tari tayub.
Sumber: Pikiran Rakyat
- Njegog atau tetail (meminang)
Utusan pria datang ke rumah orang tua wanita untuk menyampaikan niatnya meminang anak mereka.
- Seserahan
Orang tua wanita menerima kedatangan utusan pihak pria yang disertai rombongan pembawa seserahan.
Seserahan yang diberikan buah-buahan, umbi-umbian, sayur-sayuran, mas kawin berupa perhiasan dan uang tunai.
- Siram tawandari
Orang tua dan sesepuh calon pengantin bergantian menyirami kedua calon. Bila calon pengantin merupakan keturunan dari keraton kecirebonan, sebelum pernikahan mereka akan melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan leluhur raja Cirebon untuk meminta restu.
Colon mengantin menggunakan sarung batik khas cirebon bernama kain wadasan berwarna hiaju (melambangkan keseburan).
Bendrong sirat: air bekas siraman pengantin dipercikkan pda anak gadis atau jejaka yang hadir di cara ini.
- Parasan
Juru rias membuang rambut halus (ngerik). Acara ini disaksikan oleh orang tua dan kerabat.
Diiringi musik karawitan moblong yang artinya murub mencur bagaikan bulan purnama.
- Tenteng pengantin
Pihak pengantin wanita mengirimkan utusan untuk menjemput pengantin pria, lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.
Orang tua pengantin pria dilarang menyaksikan prosesi akad nikah.
Pada waktu ijab Kabul calon pengantin pria ditutup dengan kain milik ibu penganitn wanita, menandakan pria tersebut menjadi menantunya.
- Salam temon
Prosesi injak telur. Bila penganitn berasal dari keluarga yang cukup berada, biasanya saat salam temon ini diadakan acara gelondongan pangareng, atau membawa upeti berupa barang/harta yang cukup lengkap.
Kulit telur melambangkan wadah/tempat. Putih adalah suci atau pengabdian seorang istri. Kuning adalang lambing keagungan.
- Sawer
Penaburan uang receh yang dicampur dengan beras kuning (tanda agar kedua pengantin diberikan limpahan rezeki)
- Pugpugan Tawur
Kepala pengantin ditaburi oleh pugpugan yang terbuat dari welit (ilalang atau daun kelapa yang sudah lapuk.
Simbol agar pernikahan berjalan awet bagaikan welit yang terikat sampai lapuk.
- Adep-adep sekul
Makan nasi ketan kuning yang berbentuk bulatan kecil sebanyak 13 butir. Masing-masing orang tua pengantin menyuapi sebanyak 4 butir. Pengantin saling menyuapi senyak 4 butir, dan satu butir lagi diperebutkan.
Melambangkan kerukunan dalam rumah tangga, terhadap pasangannya, orang tua, serta mertua.
- Sungkem pada orang tua
Kedua pengantin melakukan sungkem dengan posisi berjongkok.
Ceriman rasa hormat dan kasih sayang terhadap orang tua. Setelahnya didengdangkan Kidung Kinanti sebagai harapa pengantin dapat sela, sekata, sehidup, semati.
- Pemberian restu, upacan selamat atau hiburan
Ada acara hiburan berupa tari-tarian seperti tari topeng, tari bedoyo, dan tari tayub.
Sumber: Pikiran Rakyat
Sabtu, 16 Juni 2012
Busana Adat Pengantin Sunda
Senin, 30 April 2012
Rangkaian Pernikahan/Perkawinan Adat Sunda
Tata perkawinan adat sunda di Jawa Barat dimulai dengan adat meminang. Keluarga calon mempelai pria berkunjung ke rumah calon mempelai wanita untuk mengetahui sejumlah keterangan mengenai calon memperalai wanita. Tahap ini disebut nanyaan. Apabila status sang gadis sudah jelas, dan kedua orang tua setuju, kegiatan dilanjutkan dengan neundeun omong.
Disediakan waktu beberapa pekan atau bulan setelah neundeun omong sebelum mencapai proses selanjutnya, yakni nyeureuhan atau ngalamar (melamar). Waktu yang disediakan itu dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada kedua keluarga untuk saling mengenal. Dahulu, keluarga pengantin pria selalu membawa bingkisan sirih lengkap yang dibungkus rapi disertai sejumlah uang. Pasalnya, ngalamar berarti sirih atau menyatukan menjadi satu. Jika pihak keluarga calon pengatin wanita membuka dan langssung dimakan bersama-sama itu menandakan lamaran sang pria diterima. Sementara uang yang diserahkan saat prosesi ini berfungsi sebagai penyangcang atau mengikat sekaligus merupakan ukuran besar uang yang akan diberikan calan pengatin pria kelak untuk biaya pernikahan.
Di dalam buku Upacara Perkawinan Adat Sunda karya Thomas Wiyasa Bratawidjaja (1990) disebutkan, upacara seserahan biasanya berlangsung sehari atau dua sebelum acara pernikahan. Orang tua dan calon pengantin pria datang ke rumah calan pengantin wanita sambil membawa barang-barang keperluan calon pengantin wanita serta peralatan untuk upacara ngeuyeuk seureuh.
Upacara ini dipimpin oleh seorang wanita “berumur” yang disebut pangeuyeuk. Tujuannya untuk memberikan nasihat kepada kedua calon mempelai dalam menjalankan hidup berumah tangga. Setelah panyeuyeuk menjelaskan arti bahan-bahan ngeuyeuk seureuh kepada calon pengantin, bahan-bahan yang diperlukan disimpan di kamar pengantin untuk upacara akad saat pernikahan berlangsung. Sementara bahan-bahan yang tidak diperlukan disimpan diatas tikar teertutup dan ditumpahkan di perempat jalan terdekat. Dahulu prosesi ini digunakan untuk mengumumkan kepada pendduduk desa bahwa di daerah itu akan ada orang tua yang mengawiinkan putrinya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pengajian, ngecagkeun aisan/ngaras sampean, lalu ngibakan atau ngebakan (siraman). Setelah itu, kedua calon pengantin mengikuti upacara ngeningan atau mengerik bulu-bulu halus yang ada di wajah, kuduk, leher, serta memotong rambut didahi untuk membentuk amis cau, dan membuat godeng lengkungan di batas pipi. Sementara untuk calon mengantin pria, ngeningan hanya untuk membersihkan bulu halus.
Setelah pelaksanaan akad nikah, kedua mempelai melakukan sembah sungkem kepada orang tua, dilanjutkan dengan prosesi sawer. Menurut Ketua bidang Kepribadian Ikatan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indoensia Tiara Kusuma Jawa Barat Hj. Yetty Kurniati, di dalam acara saweran, kedua mempelai diberi nasihat yang makna rohaninya sangat tinggi. Nasihat itu disampaikan dalam kidung (nyanyian empat baris) atau sekar macapat, seperti dangdanggula, kinanti, sinom, asmarandana, dan sebagainya.
Prosesi berikutnya, pengantin meuleum harupat dan nincak endog. Prosesi ini mengandung pesan dan juga melambangkan harapan bahwa istri mampu menjadi penenang suami dan bersama-sama membuang sifat yang tidak baik.
Tata upacara adat Sunda juga meliputi prosesi ngalangkah barera, di mana kedua mempelai bersama-sama melangkahi barera sebagai simbol menuju kehidupan yang baru. Ada pula adat “buka pintu” dimana mempelai pria berada di luar rumah dan mempelai wanita berada di dalam rumah. Melalui komunikasi berbalas pantun atau kidung, mempelai wanita meminta suaminya untuk membacakan syahadat sebelum diizinkan memasuki rumah.
Setelah diperbolehkan memasuki rumah, kedua mempelai yang telah syah sebagai suami istri kemudian menempati pelaminan lalu melakukan prosesi huap lingkung dan pabetot-betot bakakak hayam. Ini bermaksa tugas orang tua untuk membimbing anak-anaknya telah selesai dan diserahkan kepada pengatin untuk membina rumah tangga yang rukun dan sejahtera.
Satu lagi prosesi adat yang selalu hadir dalam pernikahan orang Jawa Barat adalah mapag panganten oleh lengser dan penari merak. Ketua Ikatan Ahli Kecantikan dan Penguasa Salon Tiara Kusuma Jawa Barat Hj. Uun Unajah mengatakan, lengser merupkan simbol dari tetua adat atau kokolot yang memandu jalan pengantin meuju pelamian. Ini mengandung arti bahwa dalam menjalani perkawinan pasangan harus berjalan lurus dan selalau setia. Sementara kehadiran pera menari merak merupakan bentuk penyambutan luar biasa kepada pengantin yang dianggap sebagai raja dan ratu sehari.
Diluar upacara-upacara adat ini masih banyak upacara adat lain dalam prosesi pernikahan adat Sunda, seperti ngunduh mantu, munjungan, serta ngarunghal.***
Sumber: Lia Marlia – Weyatini/*Pikiran Rakyat
Disediakan waktu beberapa pekan atau bulan setelah neundeun omong sebelum mencapai proses selanjutnya, yakni nyeureuhan atau ngalamar (melamar). Waktu yang disediakan itu dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada kedua keluarga untuk saling mengenal. Dahulu, keluarga pengantin pria selalu membawa bingkisan sirih lengkap yang dibungkus rapi disertai sejumlah uang. Pasalnya, ngalamar berarti sirih atau menyatukan menjadi satu. Jika pihak keluarga calon pengatin wanita membuka dan langssung dimakan bersama-sama itu menandakan lamaran sang pria diterima. Sementara uang yang diserahkan saat prosesi ini berfungsi sebagai penyangcang atau mengikat sekaligus merupakan ukuran besar uang yang akan diberikan calan pengatin pria kelak untuk biaya pernikahan.
Di dalam buku Upacara Perkawinan Adat Sunda karya Thomas Wiyasa Bratawidjaja (1990) disebutkan, upacara seserahan biasanya berlangsung sehari atau dua sebelum acara pernikahan. Orang tua dan calon pengantin pria datang ke rumah calan pengantin wanita sambil membawa barang-barang keperluan calon pengantin wanita serta peralatan untuk upacara ngeuyeuk seureuh.
Upacara ini dipimpin oleh seorang wanita “berumur” yang disebut pangeuyeuk. Tujuannya untuk memberikan nasihat kepada kedua calon mempelai dalam menjalankan hidup berumah tangga. Setelah panyeuyeuk menjelaskan arti bahan-bahan ngeuyeuk seureuh kepada calon pengantin, bahan-bahan yang diperlukan disimpan di kamar pengantin untuk upacara akad saat pernikahan berlangsung. Sementara bahan-bahan yang tidak diperlukan disimpan diatas tikar teertutup dan ditumpahkan di perempat jalan terdekat. Dahulu prosesi ini digunakan untuk mengumumkan kepada pendduduk desa bahwa di daerah itu akan ada orang tua yang mengawiinkan putrinya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pengajian, ngecagkeun aisan/ngaras sampean, lalu ngibakan atau ngebakan (siraman). Setelah itu, kedua calon pengantin mengikuti upacara ngeningan atau mengerik bulu-bulu halus yang ada di wajah, kuduk, leher, serta memotong rambut didahi untuk membentuk amis cau, dan membuat godeng lengkungan di batas pipi. Sementara untuk calon mengantin pria, ngeningan hanya untuk membersihkan bulu halus.
Setelah pelaksanaan akad nikah, kedua mempelai melakukan sembah sungkem kepada orang tua, dilanjutkan dengan prosesi sawer. Menurut Ketua bidang Kepribadian Ikatan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indoensia Tiara Kusuma Jawa Barat Hj. Yetty Kurniati, di dalam acara saweran, kedua mempelai diberi nasihat yang makna rohaninya sangat tinggi. Nasihat itu disampaikan dalam kidung (nyanyian empat baris) atau sekar macapat, seperti dangdanggula, kinanti, sinom, asmarandana, dan sebagainya.
Prosesi berikutnya, pengantin meuleum harupat dan nincak endog. Prosesi ini mengandung pesan dan juga melambangkan harapan bahwa istri mampu menjadi penenang suami dan bersama-sama membuang sifat yang tidak baik.
Tata upacara adat Sunda juga meliputi prosesi ngalangkah barera, di mana kedua mempelai bersama-sama melangkahi barera sebagai simbol menuju kehidupan yang baru. Ada pula adat “buka pintu” dimana mempelai pria berada di luar rumah dan mempelai wanita berada di dalam rumah. Melalui komunikasi berbalas pantun atau kidung, mempelai wanita meminta suaminya untuk membacakan syahadat sebelum diizinkan memasuki rumah.
Setelah diperbolehkan memasuki rumah, kedua mempelai yang telah syah sebagai suami istri kemudian menempati pelaminan lalu melakukan prosesi huap lingkung dan pabetot-betot bakakak hayam. Ini bermaksa tugas orang tua untuk membimbing anak-anaknya telah selesai dan diserahkan kepada pengatin untuk membina rumah tangga yang rukun dan sejahtera.
Satu lagi prosesi adat yang selalu hadir dalam pernikahan orang Jawa Barat adalah mapag panganten oleh lengser dan penari merak. Ketua Ikatan Ahli Kecantikan dan Penguasa Salon Tiara Kusuma Jawa Barat Hj. Uun Unajah mengatakan, lengser merupkan simbol dari tetua adat atau kokolot yang memandu jalan pengantin meuju pelamian. Ini mengandung arti bahwa dalam menjalani perkawinan pasangan harus berjalan lurus dan selalau setia. Sementara kehadiran pera menari merak merupakan bentuk penyambutan luar biasa kepada pengantin yang dianggap sebagai raja dan ratu sehari.
Diluar upacara-upacara adat ini masih banyak upacara adat lain dalam prosesi pernikahan adat Sunda, seperti ngunduh mantu, munjungan, serta ngarunghal.***
Sumber: Lia Marlia – Weyatini/*Pikiran Rakyat
Minggu, 15 April 2012
si Lengser Mapag Panganten
Dalam Pernikahan orang Jawa Barat ada satu prosesi adat yaitu mapag panganten oleh lengser dan penari merak. Lengser merupakan simbol dari tetua adat atau kokolot yang memandu jalan pengantin menuju pelaminan. Ini mengandung arti bahwa dalam menjalani perkawinan pasangan harus berjalan lurus dan selalu setia. Sementara kehadiran para penari merupakan bentuk penyambutan luar biasa kepada pengantin yang dianggap sebagai raja dan ratu sehari.
Langganan:
Komentar (Atom)





