Kamis, 05 Juli 2012

Geolistrik & Georadar Kuak Misteri :: Situs Gunung Padang

Geolistrik & Georadar Kuak Misteri Situs Gunung Padang
Doc. Dr Danny Hilman Natawidjaja
Denah Situs Magalit Gunung Padang (Zona Utama)
Artikel Terkait:
SALAH satunya adalah hasil eksplorasi terakhir Tim Penelitian Mandiri yang menemukan bahwa situs di Gunung Padang ternyata bukan hanya bangunan yang nampak di atas permukaan puncak gunung. Akan tetapi, kemungkinan besar bangunan situs juga mencakup bagian dalam dan lereng gunung, membentuk satu konstruksi punden berundak setinggi 100 meter.

Butuh waktu berbulan-bulan bagi Tim Penelitian Mandiri terpadu Gunung Padang untuk mendapatkan kesimpulan itu. Selain melakukan eskavasi sederhana di lereng Gunung Padang, mereka juga menggunakan peralatan geolistrik dan georadar untuk mengetahui kondisi tanha di bawah permukaan. Kedua alat ini lazim digunakan para geolog untuk mempelajari lapisan-lapisan muda tanah, yang berada di kedalaman puluhan meter. Di luar negeri, para arkeolog sudah menggunakan georadar dan geolistrik, sebelum melakukan penggalian.

Menurut Ketua Tim Geologi Tim Penelitian Mandiri Terpadu Gunung Padang Dr Danny Hilman Natawidjaja, timnya telah mendata bagian bawah permukaan tanah situs Gunung Padang melalui banyak lintasa georadar dan geolistrik. Setidaknya sudah 39 lintasan georadar dari berbagai arah yang pernah dipasang di atas permukaan gunung itu.
MISTERI situs megalitik Gunung Padang seperti tidak ada habisnya. Sejak diteliti pertama kali pada 1979 hingga kini, berbagai temuan, analisis dan hipotesis mengenai punden berundak ini selalu sukses membuat penasaran orang.

Pada prinsipnya, georadar dan geolistrik bekerja seperti USG pada manusia. Bedanya, USG menggunakan gelombang suara untuk merekam data di dalam tubuh manusia lalu memantulkannya kembali dalam bentuk gambar. Sementara georadar dan geolistrik menggunakan gelombang elektromagnetik yang ditembakkan ke dalam tanah, lalu dipantulkan kembalil sambil membawa data mengenai resistivitas tanah. Dengan kata lain, georadar dan geolistrik itu seperti USG untuk perut bumi.

Unsur “handmade”
Hasil geolistrik dari salah satu lintasan yang melintang dari utara ke selatan menyebutkan, terdapat keganjilan di dalam lapisan tanah di kedalaman 20-30 meter di bawah permukaan situs. Pasalnya, terdapat lapisan andesit yang bentuknya seperti sudah mengalami perubahan, alias tidak alamiah, dengan keberadaan semacam sekat atau pemisah. Hasil geolistrik salah satu lintasan yang melintang ke arah timur-barat juga menunjukkan data yang sama.

“Ada kecurigaan ini semua ada unsur handmade-nya. Tetapi kita mesti ada tes lain, seperti pengeboran sampai kedalaman 100 meter, untuk membuktikan apakah analisa ini sama dengan kenyataan di lapangan,” kata Danny.

Namun, karena mengebor situs hingga kedalaman 100 meter memerlukan banyak persiapan dan perencanaan, maka tim pun memilih untuk mendetailkan data kondisi tanha hasil geolistrik dan georadar, serta pengeboran di dua teras dengan kedalaman maksimal 30 meter. Bor pertama ditancapkan di teras ketiga punden berundak Gunung Padang. Di kedalaman 5 meter ditemukan kolom andesit yang ditata rapi secara horizontal. Hasil pemeriksaan laboratorium sampel serpihan karbon dari kedalaman 4 meter menunjukkan bahwa umur tertua batuan itu 4.700 SM.

Lalu pada kedalaman 1-15 meter ditemukan struktur dinsing kolim andesit yang ditata berdiri miring. Tanda-tanda sentuhan manusia kembali ditemukan di kedalaman 17 meter, yaitu peneliti menemukan batuan lapuk setebal 2 meter, yang menutupi lapisan batuan segar di bawahnya.

Hasil pengeboran di teras lima juga tidak kalah mengejutkan. Hingga kedalaman 7 meter peneliti menemukan tanah uruk. Setelah melewati kedalaman itu, para pengebor baru menemukan lapisan batuan andesit. Namun itu tak berlangsung lama, karena setelah kedalaman 8 meter mata bor sampai keruang hampa yang terisi pasair setebal dua meter. Tim menduga itu dulunya merupakan ruangan yang digunakan untuk menyimpan sesuatu yang ditutup pasir untuk menjaga keberadaannya. Hasil tes laboratorium menyebutkan bahwa karbon dari kedalaman 8 meter itu paling tua berusia 10.000 SM.

Menurut Danny. Data hasil penelitian kondisi tanah di bawah permukaan situs ini serta merta mematahkan hipotesis yang menyebutkan bahwa Gunung Padang merupakan gunung api purba. Paling tidak pada kedalaman 20 meter, terbukti bahwa kondisi tanah gunung Padang tak alamiah. Hasil pemeriksaan sampel karbon pun menyatakan kalau usia batuan di gunung Pdang baru mencapai ribuan dan puluhan ribu tahun. Jika benar Gunung Padang merupakan gunung api purba, semestinya usia batuan tadi mencapai jutaan tahun.

Bukti bahwa situs megalit Gunung Padang itu jauh lebih besar dari pada yang telah ditetapkan, secara kasat mata sebenarnya dapat terlihat jelas. Dari teras lima terlihat jelas ada jalur ke bawah sampai ke dekat sungai. Itu menandakan kalau bukti tersebut sudah dilapis oleh bangunan buatan manusia. Lalu ada stuktur banguan sampai keluar pagar situs.

Danny berharap, temuan ini dapat menjadi pintu masuk kepada temuan-temuan berikutnya. Penelitian situs di Gunung Padang ini akan menjadi menarik, karena masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Seperti siapa yang membangun situs itu, dan kapan tepatnya situs itu dibangun. Siapa tahu, jawabannya bisa ditemukan di dalam atau di sekitar Gunung Padang itu sendiri.

Sumber: Lia Marlia/”Pikiran Rakyat”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar