Sabtu, 17 April 2010

Armabar Amankan Perairan Aceh


17 April 2010, Jakarta -- Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Barat (Guspurlaarmabar) menggelar operasi penegakan keamanan dan antisipasi aktivitas terorisme di perairan Nanggroe Aceh Darusalam (NAD). Operasi bernama Arung Pari 10 ini, melibatkan lima KRI serta pasukan elite Komando Pasukan Katak (Kopaska) Armada RI Kawasan Barat, Tim Intai Amfibi dan tim pendukung dari Pangkalan TNI AL (Lanal) Sabang.

"Dari aspek penegakan hukum di laut, operasi ini di gelar untuk memberikan dampak penangkalan (deterence) terhadap segala kemungkinan ancaman dan potensi kerawanan bagi gangguan keamanan dan pelanggaran di laut wilayah yurisdiksi nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," ujar Kepala Staf Gugus Tempur Laut Koarmabar, Kolonel TNI Mintoro Yulianto melalui Kepala Dinas Penerangan Armamabar, Letkol TNI Suriyono kepada Suara Karya di Jakarta, Jumat (16/4).

Mintoro turut serta dalam operasi yang akan dilaksanakan selama 180 hari, sejak Maret - Agsutus 2010. Unsur TNI AL yang dilibatkan, antara lain KRI Sultan Iskandar Muda-367 (kapal markas), KRI Teuku Umar, KRI Silas Papare, KRI Lemadang, KRI Silea, satu tim Paska, satu tim Repair, satu tim Taifib Marinir, satu helly dan tim pendukung Lanal Sabang.

"Selama pelayaran, tim-tim dan KRI serta timpendukung melaksanakan latihan-latihan VPSS, ISR, ARRCS, SRRCS, MANNEX, ASUWX, SAG, MOB, RAS," ujarnya.

Pengawal Perbatasan

Komandan Lanal Sabang, Kolonel TNI Yanuar Handwiono mengatakan, KRI Sultan Iskandar Muda-367 dalam operasi Arung Pari 10 mendukung upaya peningkatan keamanan di perairan Selat Malaka.

Selain itu, kapal perang jenis korvet kelas SIGMA ini, punya tugas untuk melakukan penyekatan terhadap aktivitas kelompok teroris yang diduga sedang membangun kekuatan (markas) di wilayah Aceh.

"Kehadiran KRI Sultan Iskandar Muda-367 di wilayah perairan Aceh diharapkan dapat memberikan dampak penangkalan terhadap aktivitas kelompok teroris," ujarnya.

Sekaligus, tutur dia, mendeteksi serta mencegah secara dini aksi-aksi penyelundupan serta kemungkinan aktifitas ilegal lainnya melalui laut di wilayah perairan Aceh.

Sementara itu, Supriyono menambahkan, keberadaan KRI Sultan Iskandar Muda-367 sebagai pengawal dan penegakan kedaulatan di wilayah perbatasan, yuridiksi nasional, pulau-pulau terluar dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia. "KRI yang dikomandani Letkol TNI Ariantyo Condro Wibowo Sultan ini, sangat penting dihadirkan di Aceh, guna menegakkan kedaulatan dan hukum serta menjamin kepentingan nasional NKRI," ujarnya.

Suara Karya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar