Selasa, 23 Februari 2010

Malaysia Curi Kayu di Perbatasan


23 Februari 2010, Pontianak -- Hutan di dekat perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat rawan pencurian. Ironisnya, sebagian besar pelakunya adalah warga negeri jiran itu karena mudahnya akses yang mereka miliki.

Gubernur Kalbar Cornelis mengungkapkan adanya pencurian kayu di Nanga Merakai, Kabupaten Sintang, yang berbatasan dengan Malaysia. ''Mereka menggunakan alat berat, masuk, dan mengambil kayu di situ," ungkapnya saat pertemuan dengan Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Balai Petitih kemarin (22/2).

Cornelis menjelaskan, sampai kemarin alat berat tersebut masih ditahan warga setempat. Warga pun sempat marah dan melapor ke polisi diraja Malaysia.

Seringnya pencurian kayu oleh warga Malaysia itu, menurut Cornelis, disebabkan akses ke perbatasan dari negeri jiran lebih mudah daripada akses dari wilayah Indonesia. "Mereka lebih mudah mencapai lokasi karena sarana transportasinya lebih baik. Sementara kita sangat sulit mencapai daerah itu karena sarana jalan yang masih minim," bebernya.

Di Malaysia, kata Cornelis, mulai Biawak sampai Kinibalu, sudah terdapat jalan yang kondisinya baik sehingga aparat jiran dapat dengan lancar melakukan pengawasan. Sebaliknya, di sisi Indonesia, belum ada jalan tembus dari Aruk sampai Badau.

Kepala Bidang Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Kalbar Soenarno menyebutkan, aktivitas pencurian kayu di Nanga Merakai sebetulnya sudah berlangsung lama. ''Sejak tahun 2000-an," katanya.

Ada dugaan, hasil curian itu dibawa dengan menggunakan alat berat ke Batu Lintang, kawasan Malaysia yang berbatasan langsung dengan Kalbar. Di sana sudah beroperasi sebuah perusahaan kayu Hardwood Timber Sdn Bhd.

Bahkan, tambah Soenarno, salah satu NGO/LSM Malaysia pernah melaporkan aktivitas pencurian kayu tersebut langsung ke menteri kehutanan RI pada 2003. Hanya, laporan itu belum mendapat respons baik. ''Tanggapannya wassalam. Itu kasus lama. Kalau kasus yang baru ini, saya belum tahu jelas," ujarnya.

Mengawasi daerah itu juga sangat sulit, terutama dari segi transportasi. Transportasi hanya lancar sampai ke Desa Tanjung Lesung. Sementara itu, dari Desa Tanjung Lesung menuju tempat kejadian perkara cuma bisa ditempuh dengan jalan kaki selama sembilan jam.

''Bagaimana kita bisa menangkap. Kita sudah capek sampai ke sana dan dia sudah melarikan diri. Apalagi alat komunikasi mereka cukup canggih dan menggunakan telepon satelit. Ketika ada pergerakan dari sini, mereka bisa langsung mundur," jelasnya.

Indikasi serupa juga terjadi di Taman Nasional Betung Kerihun. Jajarannya pernah secara tidak sengaja menemukan helipad milik Malaysia di kawasan tersebut. Lokasi itu bisa dicapai dengan sepuluh hari jalan kaki dari desa terdekat.

JAWA POS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar