Selasa, 27 Juli 2010

Destroyer Choi Young Tembakan Kanon dan Torpedo di Latma Korsel-AS

28 Juli 2010 -- Foto ini dikeluarkan oleh AL Korea Selatan, destroyer ROKS Choi Young menembakan kanon Mk 45 Mod 4 127 mm saat latihan bersama laut-udara Korsel-Amerika Serikat di Laut Timur, Selasa (27/7). Kapal perang Korsel-AS latihan menembakan kanon dan menjatuhkan bom anti kapal selam. Latihan berlangsung tiga hari memberikan isyarat pada Korea Utara untuk tidak melakukan agresi dalam bentuk apapun. Latma ini dilakukan sebagai jawaban karamnya korvet Cheonan oleh torpedo Korut, menurut para investigator internasional. (Foto: AP)

Awak kapal ROKS Choi Young (DDH 981) AL Korsel menembakan torpedo dari tabung torpedo 324 mm. Destroyer Choi Young termasuk kelas Chungmugong Yi Sun-shin dibagun oleh Hyundai Heavy Industries Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korsel membangun enam kapal kelas ini. (Foto: AP)

ROKS Choi Young tembakan decoy Torpedo Acoustic Counter Measures (TACM). (Foto: AP)

Berita HanKam

LHD Dokdo di Latma Laut Udara Korsel-AS

28 Juli 2010 – Kapal amphibi ROKS Dokdo dan kapal induk tenaga nuklir kelas Nimitz USS George Washington transit di Laut Jepang, 27 Juli 2010. Korsel dan AS mengelar latihan bersama berkode 'Invincible Spirit' di perairan Semenanjung Korea, 25 – 28 Juli 2010. ROKS Dokdo kapal perang jenis LHD, dibangun di galangan kapal Hanjin Heavy Industries & Constructions Co. di Busan, Korsel. Kapal dioperasikan AL Korsel 3 Juli 2007. Dokdo berbobot 14,300 ton, kapal perang berbobot terberat yang dimiliki AL Korsel saat ini. (Foto: Getty Images)

Kapal amphibi ROKS Dokdo dan kapal induk tenaga nuklir kelas Nimitz USS George Washington transit di Laut Jepang, 27 Juli 2010. (Foto: Getty Images)

Helikopter Sea Hawk AL AS dari Skuadron 14 Helikopter Anti Kapal Selam terbang dekat kapal amphibi ROKS Dokdo. (Foto: Getty Images)

ROKS Dokdo berlayar di Laut Jepang beriringan dengan destroyer USS Lassen dan USS Chung-Hoon. (Foto: Getty Images)

Berita HanKam

Kerjasama Militer dengan Brunei Dianggap Penting


27 Juli 2010, Senayan -- Kerjasama militer antara Indonesia dan Brunei Darussalam diangga penting oleh hampir seluruh anggota Komisi I DPR. “Tidak ada satu negara pun di dunia sekarang ini, yang tidak melakukan perjanjian dengan negara lain,” ujar Helmy Fauzi dari F-PDIP saat rapat kerja dengan Menteri Pertahanan, Menteri Hukum dan HAM dan Menteri Luar Negeri dalam agenda membahas RUU Ratifikasi Perjanjian Teknik Militer dengan Rusia dan dan MoU Kerjasama Militer dengan Brunei di Kompleks Parlemen, Selasa (27/7).

Sebagai bagian dari masyarakat internasional, kata Helmy, Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari keterikatan dan hubungan dengan negara lain, termasuk dengan negara tetangga Brunei Darussalam. Namun, untuk perjanjian international dibutuhkan ratifikasi undang-undang jika berkenaan dengan politik, perdamaian, perbatasan, keamanan dan pertahanan.

Menurut Helmy, prinsip yang harus dipegang saat menjalin kerjasama militer ada tiga. Pertama, pemerintah Indonesia memegang prinsip bahwa kesamaan dan kesetaraan. Kedua, perlindungan dari kedua belah pihak. Dan ketiga, meningkatkan pertahanan kedua belah pihak.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Mahfudz Siddiq dari F-PKS. Bahwa kerjasama militer hendaknya demi perdamaian kawasan dan kerjasama kedua belah pihak. ”Kami Fraksi PKS menyetujui pembahasan RUU Ratifikasi MoU dengan Brunei ini dilanjutkan untuk kemudian disahkan menjadi undang-undang,” katanya.

Sedangkan Tantowi Yahya dari Fraksi Partai Golkar berharap bahwa kerjasama militer ini menjadi pintu masuk untuk menjalin kerjasama di bidang lainnya.

Semua Fraksi setuju ratifikasi MoU militer RI-Brunei

Semua fraksi di Komisi I DPR setuju untuk membahas MoU kerja sama pertahanan dan militer dengan Kerajaan Brunei Darussalam dan selanjutnya diajukan ke paripurna untuk meminta persetujuan untuk dibahas.

Mahfudz Siddiq dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera memandang, perdamaian dan kerja sama bisa tercapai di ASEAN. MoU ini, kata Mahfudz, merupakan langkah maju dan konkret dalam kerja sama ASEAN.

"Dengan mengucap bismillahiraahmanirahim. Kami Fraksi PKS menyetujui pembahasan RUU Ratifikasi MoU dengan Brunei ini dilanjutkan untuk kemudian disahkan menjadi undang-undang," kata Mahfudz dalam rapat kerja dengan Kementerian Pertahanan di Kompleks Parlemen, Selasa (27/7).

Soemintarsih Suntoro dari F-Hanura juga menyatakan, ratifikasi MoU perlu segera dilakukan agar menjadi undang-undang. "Kami telah mempelajari MoU dan mengikuti rapat dengar pendapat dengan pemerintah, TNI dan pakar. Setelah memahami isi MoU ini, maka Fraksi Partai Hanura memandang perlu melakukan ratifikasi undang-undang terhadap MoU ini," ujarnya.

Fraksi Golkar juga melalui jurubicaranya Tantowi Yahya mengatakan, kerja sama pertahanan dengan Brunei sangat penting. Fraksi Partai Golkar juga memandang kerja sama pertahanan ini bisa menjadi pintu masuk kerja sama dibidang lainnya.

"Karena itu Fraksi Partai Golkar menyetujui pembahasan MoU kerja sama pertahanan dengan Brunei tersebut untuk dilanjutkan sebagai ratifikasi undang-undang pada tahap berikutnya," ujarnya.

Jurnal Parlemen.com

KRI HSN-366 Dikunjungi Pangarmabar


28 Juli 2010, Surabaya -- Kapal Perang TNI AL KRI Hasanuddin-366 (HSN) dari jajaran unsur Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) yang sedang berlayar menuju Singapura mendapat kunjungan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Marsetyo dan Komandan Guskamlabar Laksamana Pertama TNI Ade Supandi, kemarin Selasa (27/7).

KRI Hasanuddin-366 dari jenis Sigma Kelas buatan Belanda ini dengan unsur lainnya KRI Fatahilah-361dan 1 pesawat Cassa sedang melaksanakan latihan bersama antara TNI AL dengan RSN (Republic Singapore Navy) dengan sandi “Latma Ex -Eagle 21/10”.

Sedangkan dari pihak RSN melibatkan RSS Tenacious, RSS Vigour dan 1 F50 MPA. Latihan ini dipimpin oleh Komandan Satgas Latihan Kolonel Laut (P) Dadi Hartanto, yang sehari-hari menjabat Komandan Satuan Kapal Patroli Koarmatim. Pada saat KRI Hasanuddin-366 berlayar menuju Singapura, Pangarmabar didampingi Komandan Guskamlabar dari Batam dengan menggunakan Combat Boat TNI AL mengunjungi dan Onboard di KRI Hasanuddin-366 menuju Pangkalan RSN di Changi Naval Base.

Menurut rencana, Pangarmbar akan membuka latihan bersama ini di Pangakalan RSN tersebut. Latma Ex-Eagle 21/10 dimulai 28 Juli 2010, dengan kegiatan Eagle Cup I yang berlangsung di Changi Naval Base. Kemudian pada tahap manuvra lapangan dilaksanakan di Laut Jawa dan sekitarnya.

Sedangkan untuk tahap pengakhiran dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 5 Agustus 2010 di Koarmatim Surabaya, dengan rangkaian kegiatan meliputi Courtesy Call, Community Services, Eagle Cup II, kaji ulang dan penutupan. Menurut rencana Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto akan menutup kegiatan latihan ini di Koarmatim Surabaya.

Dispenarmatim

BAE Systems to Modernize Destroyers Under U.S. Navy Ship Repair Contract


27 July 2010, NORFOLK, Virginia -- BAE Systems, Inc., a leading U.S. non-nuclear ship repair, modernization, and conversion company, will modernize 11 Arleigh Burke (DDG 51) class guided missile destroyers under a contract with the U.S. Navy with a potential value of $365 million. This work, along with the recent acquisition of Atlantic Marine, reflects BAE Systems' efforts to support new-era requirements of customers for the readiness and sustainment of equipment and systems.

The company received the multi-ship, multi-option drydock contract to service ships home-ported or visiting the Norfolk area.

The company will start executing the contract in August when it begins planning, modernization, maintenance, and repair work on the flagship of the class, the USS Arleigh Burke. The contract consists of an initial one-year award plus four option years. If all of the options are exercised, the total value of the engagement could reach between $350 million and $500 million.

"This contract, coupled with those for CG 47-class and amphibious ships in Norfolk, San Diego, and Hawaii, reinforces BAE Systems' robust, trusted partnership with the Navy," said Bill Clifford, president of BAE Systems' Ship Repair business. "We already will be well into the DDG modernization process on the USS John Paul Jones (DDG 53) in San Diego when the USS Arleigh Burke comes into Norfolk for the same work. This will allow us to leverage our experience in San Diego to provide an enhanced final product to the Navy," Clifford said.

Having executed 21 Chief of Naval Operations availabilities on DDG 51-class ships since 2006, BAE Systems Norfolk Ship Repair has more than 1.5 million man-hours of experience in DDG maintenance and repair. The company has also made significant investments in facilities and process improvements.

BAE Systems Ship Repair is a leading non-nuclear ship repair, modernization, and conversion company, focusing on drydock and ship repair services for the U.S. Navy, other defense agencies, and commercial customers. It has major operations in Norfolk, San Diego, San Francisco, and Hawaii, and it recently added operations in Mayport and Jacksonville, Florida; Moss Point, Mississippi; and Mobile, Alabama through the acquisition of Atlantic Marine.

About BAE Systems

BAE Systems is a global defense, security and aerospace company with approximately 107,000 employees worldwide. The Company delivers a full range of products and services for air, land and naval forces, as well as advanced electronics, security, information technology solutions and customer support services. In 2009 BAE Systems reported sales of £22.4 billion (US $36.2 billion).

BAE Systems

Indonesian National Defence Forces Personnel Complete SAR Course


27 July 2010 -- Eighteen members of the Indonesian National Defence Forces (TNI) have completed a maritime Search and Rescue (SAR) air-drop course held in Adelaide last week.

The TNI members - comprising pilots, load masters and life support fitters from one Navy and five Air Force flying squadrons - gained skills in fixed wing air delivery of SAR equipment in emergencies.

The course provided an opportunity for personnel from TNI, the Australian Defence Force (ADF) and the Australian Maritime Safety Authority (AMSA) to work together, share knowledge and gain skills in dropping SAR equipment from aircraft into the ocean.

Brigadier Ian Errington, Defence International Policy Division, said that the defence relationship with Indonesia was an important one for Australia and that training had provided benefits to both countries.

"It's a pleasure to see our respective organisations sharing knowledge of Search and Rescue skills," Brigadier Errington said.

"Dropping SAR equipment from an aircraft so that it lands precisely in the desired area can be difficult, especially in poor weather conditions.

"The SAR drop course also has the benefit of developing friendships and networks between TNI, the ADF and AMSA that can be called upon in the future if required."

The course was funded through the Defence Cooperation Program and delivered by AMSA at the South Australian State Emergency Service training facility at Adelaide Airport.

Participating personnel were presented with certificates on completion of the course by Brigadier Ian Errington and AMSA's General Manager Emergency Response, Mr John Young.

Australia DMC

Latihan Tingkat Satuan Jalak Sakti Dimulai

(Foto: Dispenau)

27 Juli 2010, Jakarta -- Latihan setingkat satuan jajaran Koopsau I dengan sandi Jalak Sakti secara resmi dibuka oleh Pangkoopsau I Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto, ST. Pembukaan latihan dilakukan secara online dari Markas Koopasu I Jakarta sebagai Posko Pengendali Latihan Jalak Sakti 2010, Senin (26/7). Kegiatan itu dapat dimonitor dari seluruh Posko Lanud operasional di jajaran Koopasau I.

Dalam kegiatan Latihan Jalak Sakti tahun 2010 ini Lanud Halim Perdanakusuma sebagai Pangkalan Induk melibatkan Skadron angkut berat, angkut sedang, dan angkut ringan sehingga mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan; baik itu memindahkan pasukan dari satu tempat ke tempat lain yang diskenariokan dengan rahasia, sehingga tidak dapat dipantau oleh pihak musuh, mendrop logistik skala besar untuk pasukan yang telah berada di bawah; baik itu perlengkapan pasukan maupun peralatan tempur lainnya.

Latihan selama dua hari itu, Lanud Halim Perdanakusuma melibatkan Skadron-skadron yang ada di jajaran Lanud Halim Perdanakusuma.

Pelita