Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan
Jumat, 31 Agustus 2012
Super Tucano Dijadwalkan Tiba di Indonesia 2 September
31 Agustus 2012, Jakarta: Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, menyiapkan hangar untuk menampung enam pesawat Super Tucano baru. Pada tahap awal, TNI Angkatan Udara akan menerima sebanyak empat unit pesawat tempur taktis dari pabrikan Embraer Brazil.
Dijadwalkan pesawat tiba 2 September setelah diterbangkan dari Brazil. "Tahap kedua, yakni Maret 2013, empat pesawat lagi dikirim," kata Komandan Skuadron 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Mayor (PNB) James Yanes Singal, Jumat, 31 Agustus 2012.
Kementerian Pertahanan meneken kontrak pemesanan pesawat Super Tucano sebanyak 16 unit hingga 2014. Pesawat itu akan menggantikan OV-10 Bronco yang di-grouded karena dianggap sudah tak laik terbang.
Pesanan pesawat tersebut sudah diberangkatkan dari Brazil dengan menempuh rute penerbangan Brazil-Maroko-Spanyol-Italia-Doha-Qatar-India-Thailand-Indonesia. Pesawat transit dan beristirahat di sejumlah negara sehingga total perjalanan mencapai 12 hari. "Istirahat demi keamanan dan konsentrasi penerbang," katanya.
Pesawat dikirim langsung produsen Super Tucano Embraer bersama delapan penerbang dan teknisi. Mereka bertugas mengirimkan pesawat hingga serah terima pada 17 September. Adapun para teknisi terus mengawasi pesawat hingga masa garansi setahun. Kini pesawat telah tiba di Pengkalan Udara Halim Perdana Kusuma.
Setelah melakukan perjalanan jauh, pesawat akan menjalani pemeriksaan fisik dan konfigurasi, lalu diikuti pengecekan terbang yang bakal diikuti bersama Komandan Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh, Letnan Kolonel Andi Wijaya dan James Yanes Singal. Keduanya telah menjajal pesawat yang berfungsi untuk serangan udara taktis.
Usai menjalani pemeriksaan, uji terbang, dan diserahterimakan dari Embraer, pesawat segera digunakan untuk operasi pengamanan. Namun, James tak bersedia mengungkapkan misi pertama yang bakal dilakukan Super Tucano (burung maskot Brazil). Pesawat berfungsi membantu tembakan udara ke darat membantu pasukan infanteri, patroli udara, dan serangan udara terbatas.
Total sebanyak 12 penerbang telah mengikuti pelatihan khusus untuk mengenal karakteristik pesawat asal Brazil. Para pilot sebelumnya berpengalaman menerbangkan OV-10, Hawk, Sukhoi dan F-5. Mereka dilatih selama sebulan di Brazil.
Selain itu, ada juga dukungan pelatihan dengan simulator atau computer based training dan simulator untuk menerbangkan pesawat di kawasan Skadron 21. Sebanyak 36 teknisi juga dilatih merawat pesawat.
Pesawat tempur ringan dengan call sign EMB 314 ini dicat kepala hiu berwarna merah di bagian moncongnya. Keempat Super Tucano TT-3101, TT-3102, TT-3103, dan TT-3104 ini mampu mengangkut peralatan tempur seperti persenjataan dan bom hingga 1.500 kilogram. Maksimal bisa mengangkut sekitar empat bom.
Sumber: TEMPO
Selasa, 14 Agustus 2012
Sukhoi dan Fighting Falcon Latihan "Fly Pass"
Sukhoi dan Fighting Falcon TNI AU diparkir di Lanud Halim Perdanakusumah setelah selesai berlatih terbang formasi. (Foto: TNI AU)
14 Agustus 2012, Jakarta: Pesawat Sukhoi dan F-16 latihan terbang melintas di atas Istana Merdeka pada gladi pertama, Selasa (14/8). Latihan Fly-pass ini dalam rangka upacara peringatan HUT RI ke-67 yang rencananya akan dipimpin oleh Kepala Negara Susilo Bambang Yodhoyono.
Komandan Skadron Udara 3 “Dragon F-16” Letkol Pnb Ali Sudibyo memimpin formasi “Double V” Garuda Elemen 1 yang terdiri dari lima pesawat F-16, sedangkan Komandan Skadron Udara 11 “Thunder Sukhoi” Letkol Pnb M. Untung Suropati memimpin formasi Garuda Elemen 2.
Garuda Flight merupakan call-sign yang digunakan, terbang melintas dengan ketinggian 1500 feet dengan kecepatan 420 knots. Sukhoi mengangkasa pukul 09.58 WIB diikuti F-16 pukul 10.00 WIB. Namun sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesehatan bagi awak pesawat atau Pre Flight Check (PFC).
Menurut Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, Marsma TNI A. Adang Supriyadi, SE; kegiatan ini merupakan sebentuk kehormatan dan penghargaan Pimpinan Negara kepada TNI AU. Sebab, ini kali kedua, pesawat-pesawat kebanggaan milik bangsa Indonesia, mengisi perayaan HUT Kemerdekaan RI. Yakni tahun 2011 dan 2012 pada bulan Agustus ini.
Rencananya akan dilakukan gladi kedua pada esok hari, Rabu (15/8). Turut pula mendukung keberhasilan aktivitas ini adalah pesawat NAS 332 Super-Puma sebagai kesiapan SAR. Ini sudah merupakan standar operasional. Pesawat ini siap untuk mendukung pergerakan pesawat tempur seandainya terjadi emergency-eject. “Kemana pesawat tempur pergi pasti ada heli stand-by selaku penanggungjawab pertolongan saat darurat”, tandas Kapten Pnb Guruh Mahardika pemimpin NAS 332 Super-Puma.
Sumber: TNI AU
14 Agustus 2012, Jakarta: Pesawat Sukhoi dan F-16 latihan terbang melintas di atas Istana Merdeka pada gladi pertama, Selasa (14/8). Latihan Fly-pass ini dalam rangka upacara peringatan HUT RI ke-67 yang rencananya akan dipimpin oleh Kepala Negara Susilo Bambang Yodhoyono.
Komandan Skadron Udara 3 “Dragon F-16” Letkol Pnb Ali Sudibyo memimpin formasi “Double V” Garuda Elemen 1 yang terdiri dari lima pesawat F-16, sedangkan Komandan Skadron Udara 11 “Thunder Sukhoi” Letkol Pnb M. Untung Suropati memimpin formasi Garuda Elemen 2.
Garuda Flight merupakan call-sign yang digunakan, terbang melintas dengan ketinggian 1500 feet dengan kecepatan 420 knots. Sukhoi mengangkasa pukul 09.58 WIB diikuti F-16 pukul 10.00 WIB. Namun sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesehatan bagi awak pesawat atau Pre Flight Check (PFC).
Menurut Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, Marsma TNI A. Adang Supriyadi, SE; kegiatan ini merupakan sebentuk kehormatan dan penghargaan Pimpinan Negara kepada TNI AU. Sebab, ini kali kedua, pesawat-pesawat kebanggaan milik bangsa Indonesia, mengisi perayaan HUT Kemerdekaan RI. Yakni tahun 2011 dan 2012 pada bulan Agustus ini.
Rencananya akan dilakukan gladi kedua pada esok hari, Rabu (15/8). Turut pula mendukung keberhasilan aktivitas ini adalah pesawat NAS 332 Super-Puma sebagai kesiapan SAR. Ini sudah merupakan standar operasional. Pesawat ini siap untuk mendukung pergerakan pesawat tempur seandainya terjadi emergency-eject. “Kemana pesawat tempur pergi pasti ada heli stand-by selaku penanggungjawab pertolongan saat darurat”, tandas Kapten Pnb Guruh Mahardika pemimpin NAS 332 Super-Puma.
Sumber: TNI AU
Senin, 13 Agustus 2012
F-16 dan Sukhoi Meriahkan HUT RI ke-67
Sukhoi Su-27 Flanker TNI AU. (Foto: RAAF)
13 Agustus 2012, Jakarta: Satu flight pesawat tempur TNI Angkatan Udara F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi, Madiun dan satu Flight pesawat tempur Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanudin, Makasar masing-masing yang dibawah kendali langsung oleh Komandan Skadron Udara 3 Letkol Pnb Ali Sudibyo dan Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb M. Untung Suropati mendarat di Lanud Halim Perdankusuma, Senin (13/8).
Kedatangan pesawat F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi di Lanud Halim Perdanakusuma tersebut dalam rangka akan ikut serta memeriahkan HUT ke-67 Kemerdekaan Repubilk Indonesia dengan melakukan Fly Pass di area udara Istana Negara.
Sumber: TNI AU
13 Agustus 2012, Jakarta: Satu flight pesawat tempur TNI Angkatan Udara F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi, Madiun dan satu Flight pesawat tempur Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanudin, Makasar masing-masing yang dibawah kendali langsung oleh Komandan Skadron Udara 3 Letkol Pnb Ali Sudibyo dan Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb M. Untung Suropati mendarat di Lanud Halim Perdankusuma, Senin (13/8).
Kedatangan pesawat F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi di Lanud Halim Perdanakusuma tersebut dalam rangka akan ikut serta memeriahkan HUT ke-67 Kemerdekaan Repubilk Indonesia dengan melakukan Fly Pass di area udara Istana Negara.
Sumber: TNI AU
Rabu, 08 Agustus 2012
PTDI Rampungkan Perakitan Tiga KT-1B Pesanan TNI AU
KT-1B Wong Bee TNI AU. (Foto: Lanud Adisutjipto)
8 Agustus 2012, Bandung: PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah merampungkan pesanan perakitan tiga pesawat KT-1B buatan Korea untuk selanjutnya akan diserahkan kepada TNI AU.
"Tiga pesawat sudah selesai dirakit sejak April 2012 lalu, Rabu ini ada dua pesawat yang akan diterbangkan ke Lanud Adisutjipto Yogyakarta untuk selanjutnya diserahkan pihak Korea kepada TNI AU," kata Manager Bisnis Integrasi Binis Directorat Aircraft PTDI Slamet Kadan di sela-sela peresmian Indonesia - Japan Joint Airborne Cambaign Piser-L2 di Hanggar PTDI Bandung, Rabu (8/8).
Menurut Slamet, tiga pesawat yang baru selesai dirakit itu merupakan tiga dari 15 pesawat yang dipesan TNI-AU dari Korea. Pesawat propeler bermesin turbo itu akan menjadi pesawat akrobatik dan pesawat latih TNI AU yang berpangkalan di Lanud Adisutjipto Yogyakarta.
Penyelesaian perakitan pesawat berwarna merah-merah itu bukan kali ini saja dilakukan PTDI, pada 2008 perusahaan dirgantara nasional itu juga merangkai lima pesawat sejenis yang saat ini memperkuat jajaran TNI-AU. "Akhir Agustus 2012 ini rencanaya ada dua pesawat lagi yang akan dirakit di sini (PTDI)," katanya.
Pesawat KT-1B merupakan pesawat kecil dengan baling-baling bermesin turbo. Pesawat itu lebih besar dari pesawat Maserati. Menurut Slamet pesawat itu cukup lincah dan bisa bermanuver dalam banyak formasi.
Perakitan pesawat itu sendiri dilakukan bersama teknisi dari perusahaan pembuatan KT-1B.
"Perjanjian kontraknya sih antara Korea dengan TNI-AU, PTDI hanya mendapat order asembling dan perakitannya saja, seluruh komponen dikirim dari Korea," kata Slamet.
Sementara itu Assisten Dirut PTDI Bidang Manajemen Mutu Sonny Saleh Ibrahim menyebutkan perakitan pesawat KT-1B itu hanya sebatas menerima pesanan asembling aja.
"PTDI tidak membuat pesawat KT-1B karena pasarnya sulit. PTDI konsentrasi pada CN-235 MPA dan N-395," kata Sonny Saleh Ibrahim menambahkan.
Sumber: Investor
8 Agustus 2012, Bandung: PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah merampungkan pesanan perakitan tiga pesawat KT-1B buatan Korea untuk selanjutnya akan diserahkan kepada TNI AU.
"Tiga pesawat sudah selesai dirakit sejak April 2012 lalu, Rabu ini ada dua pesawat yang akan diterbangkan ke Lanud Adisutjipto Yogyakarta untuk selanjutnya diserahkan pihak Korea kepada TNI AU," kata Manager Bisnis Integrasi Binis Directorat Aircraft PTDI Slamet Kadan di sela-sela peresmian Indonesia - Japan Joint Airborne Cambaign Piser-L2 di Hanggar PTDI Bandung, Rabu (8/8).
Menurut Slamet, tiga pesawat yang baru selesai dirakit itu merupakan tiga dari 15 pesawat yang dipesan TNI-AU dari Korea. Pesawat propeler bermesin turbo itu akan menjadi pesawat akrobatik dan pesawat latih TNI AU yang berpangkalan di Lanud Adisutjipto Yogyakarta.
Penyelesaian perakitan pesawat berwarna merah-merah itu bukan kali ini saja dilakukan PTDI, pada 2008 perusahaan dirgantara nasional itu juga merangkai lima pesawat sejenis yang saat ini memperkuat jajaran TNI-AU. "Akhir Agustus 2012 ini rencanaya ada dua pesawat lagi yang akan dirakit di sini (PTDI)," katanya.
Pesawat KT-1B merupakan pesawat kecil dengan baling-baling bermesin turbo. Pesawat itu lebih besar dari pesawat Maserati. Menurut Slamet pesawat itu cukup lincah dan bisa bermanuver dalam banyak formasi.
Perakitan pesawat itu sendiri dilakukan bersama teknisi dari perusahaan pembuatan KT-1B.
"Perjanjian kontraknya sih antara Korea dengan TNI-AU, PTDI hanya mendapat order asembling dan perakitannya saja, seluruh komponen dikirim dari Korea," kata Slamet.
Sementara itu Assisten Dirut PTDI Bidang Manajemen Mutu Sonny Saleh Ibrahim menyebutkan perakitan pesawat KT-1B itu hanya sebatas menerima pesanan asembling aja.
"PTDI tidak membuat pesawat KT-1B karena pasarnya sulit. PTDI konsentrasi pada CN-235 MPA dan N-395," kata Sonny Saleh Ibrahim menambahkan.
Sumber: Investor
Senin, 06 Agustus 2012
Embraer Serahkan Empat Super Tucano ke TNI AU
6 Agustus 2012, São Paulo -- Embraer Defense and Security menyerahkan empat pesawat tempur ringan dan latih A-29 Super Tucano ke TNI AU di Gavião Peixoto, São Paulo, Brazil. Indonesia negara pertama operator Super Tucano di kawasan Asia-Pasifik.
Empat A-29 Super Tucano batch pertama dari delapan unit yang dibeli oleh TNI AU pada 2010. TNI AU telah memesan batch kedua sebanyak 8 unit, sehingga total 16 unit.
Pembelian A-29 Super Tucano bagian dari modernisasi alutsista TNI AU. Super Tucano dipilih menggantikan armada OV-10 Bronco yang telah digrounded.
Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang menjadi sarang Super Tucano. TNI AU telah membangun 6 shelter tambahan, hingga total 8 shelter untuk Super Tucano. Dan juga pembangunan sarana penunjang lainnya, seperti ruang simulator, ruang pengembangan teknologi, serta pengiriman 12 penerbang untuk menjalani training di Brazil.
Sumber: Embraer
@Berita Hankam
Super Tucano Dipersenjatai Bom Produk Lokal
6 Agustus 2012, Pesawat tempur ringan Super Tucano yangs egera memperkuat jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Udara akan mengandalkan persenjataan dari dalam negeri.
Hanya misil andalan pesawat ini yakni MAA-1 Piranha didatangkan dari luar karena industri pertahanan dalam negeri belum mampu membuatnya. Pesawat ini dijadwalkan tiba di Tanah Air pada 28 Agustus nanti setelah diterbangkan dari pabrik pembuatnya Embraer, Brasil. Menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat seusai peringatan Hari Bhakti TNI AU, pada 28 Agustus nanti ada empat unit Super Tucano yang tiba di Tanah Air.
Tiga bulan selanjutnya disusul empat unit lagi sehingga tahun ini ada delapan Super Tucano untuk mengisi Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Pengadaan pesawat asal Brasil ini terpisah dengan sistem persenjataannya.“Kalau untuk senjata seperti bom, kita sudah bisa buat sendiri. Kita pakai itu. Tapi kalau seperti misil Piranha, kita belum bisa buat, jadi harus beli,” ungkapnya belum lama ini.
Sementara itu,Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Azman Yunus menambahkan, empat unit pesawat tempur ringan Super Tucano sudah siap untuk diterbangkan dari Brasil ke Indonesia.Keempat pesawat itu adalah Super Tucano TT-3101, TT-3102, TT-3103, dan TT-3104 dengan desain moncong berwarna merahkarya almarhumMarsda TNI (Purn) F Djoko Poerwoko.
Tim dari Kementerian Pertahanan dan TNIAngkatan Udara telah melakukan pemeriksaan pesawat dengan nomor seri produksi 179 dan 180 tersebut di fasilitas produksi Embraer di Gaveao Peixoto, SaoPaulo, Brazil. Pemeriksaan meliputi dokumen, pencocokan komponen pesawat, interior pesawat, pengecatan, dan uji terbang. Adapun uji terbang dilaksanakan oleh test pilot Embraer, William disertai oleh Komandan Skuadron Udara 21 Mayor Pnb James Yanes Singal.
Duber Brazil Bantu Pembelian Super Tucano
Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Jumat (3/8), menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Brazil untuk Indonesia Mr Paolo Alberto da Silveira Soares di Kantor Kemhan, Jakarta. Dalam pertemuan ini Wamenhan menyampaikan rasa terima kasih kepada Dubes Brazil untuk Indonesia yang telah membantu dalam upaya pengadaan pesawat Super Tucano.
Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto dan Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo akan datang ke Brazil untuk menghadiri upacara penyerahan periode pertama pada bulan Agustus ini. Periode kedua pesawat akan diserahkan pada tahun 2013 sehingga dapat memenuhi satu skadron tempur. Sementara itu, Dubes Soares berharap Wamenhan dapat segera berkunjung ke Brazil sehingga Memorandum of Understanding antara RI dan Brazil dalam bidang kerjasama pertahanan dapat segera diwujudkan.
Sumber: SINDO/DMC
Senin, 30 Juli 2012
KASAU: Kekuatan Dirgantara Menjadi Tulang Punggung Pembangunan Nasional
Sukhoi Su-27 Flanker TNI AU. (Foto: Australia DoD)
30 Juli 2012,Yogyakarta: Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat menyatakan kekuatan dirgantara menjadi tulang punggung pembangunan nasional, karena sekarang ini terjadi pergeseran karakter ancaman yakni perang modern yang mengandalkan teknologi.
"AU sangat berperan dalam perang modern karena perang modern bentuknya mengandalkan teknologi tinggi. Karenanya TNI AU membuat perencanaan pengadaan alutsista sesuai MEF yakni dengan mengisinya dengan pesawat-pesawat terbaik dan radar yang berkualitas canggih," demikian dikatakan KSAU pada upacara peringatan HUT ke-65 Hari Bakti TNI AU di Yogyakarta, Minggu (29/7).
Disampaikan KSAU bahwa pembangunan kekuatan udara didukung teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) canggih harus tetap menjadi prioritas tanpa menabrak kebijakan kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF).
Lebih lanjut, katanya, kekuatan dirgantara sebagai bagian pertahanan negara banyak memengaruhi aspek kepentingan nasional di kancah global. Itu artinya, menurut KSAU, pengelolaan kedirgantaraan nasional harus dilakukan dengan baik sebagai bagian dari komponen kekuatan nasional di bidang pertahanan militer.
"Kekuatan dirgantara kita harus dapat membantu upaya komponen kekuatan negara lainnya seperti diplomasi, ekonomi, dan informasi untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dalam membela kepentingan nasional di kancah global antar negara," ujar KSAU.
Dia menyebut, untuk pesawat tempur sekarang ini teknologi tercanggih ada pada pesawat F-22 Raptor milik Amerika Serikat. Pesawat ini memiliki kemampuan untuk tidak terlacak radar (stealth). Pesawat dengan kemampuan yang tak jauh beda adalah F-35 yang digunakan beberapa negara sekutu Amerika Serikat.
"Kita belum ke sana, tapi untuk pesawat antiradar ini kita sekarang sedang membuatnya bekerja sama dengan Korea Selatan, yaitu KFX/IFX. Itu pesawat generasi 4,5," beber Imam.
Terkait realisasi program MEF tersebut, pada 28 Agustus mendatang akan tiba di tanah air empat unit pesawat tempur ringan Super Tucano. Empat unit lainnya akan menyusul dalam kurun tiga bulan setelahnya. Pesawat ini akan berhome base di Sakdron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, menggantikan pesawat OV-10F Bronco.
Namun, Imam tak mengesampingkam membangun sebuah angkatan udara yang kuat, diperlukan SDM yang handal. "Juga didukung sumber dana atau anggaran yang tidak sedikit dan pengetahuan akan teknologi tinggi dan modernisasi," sebutnya.
Saat ini, aspek personel dan anggaran serta kebutuhan akan penguasaan teknologi tinggi masih menjadi tatangan tersendiri dalam membangun kekuatan kedirgantaraan, khususnya TNI Angkatan Udara. Tantangan tersebut, kata KSAU, harus dapat dijawab oleh jajaran TNI AU ke depan.
Lebih lanjut dia menuturkan, TNI AU berharap pada realisasi kebijakan MEF melalui rencana strategis lima tahunan. "MEF merupakan jawaban tepat dalam memenuhi kebutuhan modernisasi TNI AU. Melalui pelaksanaannya kita berharap TNI AU yang modernisasi setahap demi setahap mampu kita wujudkan," terang Imam.
Sepuluh Hercules akan Perkuat TNI AU
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI Hartind Asrin mengatakan, pemerintah saat ini sedang dalam proses pengadaan 10 pesawat angkut Hercules bekas dari Australia. Dari jumlah itu, empat hibah dan enam lainnya beli.
”Ada pesawat yang masih bisa terbang, ada yang bisa terbang, tapi setelah sebulan harus diperbaiki. Kita pilih semua di-retrofit di sana, jadi ketika ke sini kondisinya sudah siap semua,”ujarnya.
Dia menuturkan, pengadaan Hercules itu lebih hemat dan efisien dari pada proses perbaikan dilakukan di Indonesia. Meskipun bekas, dia menyebutkan, pesawat-pesawat itu setelah diperbaiki masih sanggup untuk terbang sekitar 15-20 tahun lagi.
Sumber: Suara Karya/SINDO
30 Juli 2012,Yogyakarta: Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat menyatakan kekuatan dirgantara menjadi tulang punggung pembangunan nasional, karena sekarang ini terjadi pergeseran karakter ancaman yakni perang modern yang mengandalkan teknologi.
"AU sangat berperan dalam perang modern karena perang modern bentuknya mengandalkan teknologi tinggi. Karenanya TNI AU membuat perencanaan pengadaan alutsista sesuai MEF yakni dengan mengisinya dengan pesawat-pesawat terbaik dan radar yang berkualitas canggih," demikian dikatakan KSAU pada upacara peringatan HUT ke-65 Hari Bakti TNI AU di Yogyakarta, Minggu (29/7).
Disampaikan KSAU bahwa pembangunan kekuatan udara didukung teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) canggih harus tetap menjadi prioritas tanpa menabrak kebijakan kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF).
Lebih lanjut, katanya, kekuatan dirgantara sebagai bagian pertahanan negara banyak memengaruhi aspek kepentingan nasional di kancah global. Itu artinya, menurut KSAU, pengelolaan kedirgantaraan nasional harus dilakukan dengan baik sebagai bagian dari komponen kekuatan nasional di bidang pertahanan militer.
"Kekuatan dirgantara kita harus dapat membantu upaya komponen kekuatan negara lainnya seperti diplomasi, ekonomi, dan informasi untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dalam membela kepentingan nasional di kancah global antar negara," ujar KSAU.
Dia menyebut, untuk pesawat tempur sekarang ini teknologi tercanggih ada pada pesawat F-22 Raptor milik Amerika Serikat. Pesawat ini memiliki kemampuan untuk tidak terlacak radar (stealth). Pesawat dengan kemampuan yang tak jauh beda adalah F-35 yang digunakan beberapa negara sekutu Amerika Serikat.
"Kita belum ke sana, tapi untuk pesawat antiradar ini kita sekarang sedang membuatnya bekerja sama dengan Korea Selatan, yaitu KFX/IFX. Itu pesawat generasi 4,5," beber Imam.
Terkait realisasi program MEF tersebut, pada 28 Agustus mendatang akan tiba di tanah air empat unit pesawat tempur ringan Super Tucano. Empat unit lainnya akan menyusul dalam kurun tiga bulan setelahnya. Pesawat ini akan berhome base di Sakdron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, menggantikan pesawat OV-10F Bronco.
Namun, Imam tak mengesampingkam membangun sebuah angkatan udara yang kuat, diperlukan SDM yang handal. "Juga didukung sumber dana atau anggaran yang tidak sedikit dan pengetahuan akan teknologi tinggi dan modernisasi," sebutnya.
Saat ini, aspek personel dan anggaran serta kebutuhan akan penguasaan teknologi tinggi masih menjadi tatangan tersendiri dalam membangun kekuatan kedirgantaraan, khususnya TNI Angkatan Udara. Tantangan tersebut, kata KSAU, harus dapat dijawab oleh jajaran TNI AU ke depan.
Lebih lanjut dia menuturkan, TNI AU berharap pada realisasi kebijakan MEF melalui rencana strategis lima tahunan. "MEF merupakan jawaban tepat dalam memenuhi kebutuhan modernisasi TNI AU. Melalui pelaksanaannya kita berharap TNI AU yang modernisasi setahap demi setahap mampu kita wujudkan," terang Imam.
Sepuluh Hercules akan Perkuat TNI AU
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI Hartind Asrin mengatakan, pemerintah saat ini sedang dalam proses pengadaan 10 pesawat angkut Hercules bekas dari Australia. Dari jumlah itu, empat hibah dan enam lainnya beli.
”Ada pesawat yang masih bisa terbang, ada yang bisa terbang, tapi setelah sebulan harus diperbaiki. Kita pilih semua di-retrofit di sana, jadi ketika ke sini kondisinya sudah siap semua,”ujarnya.
Dia menuturkan, pengadaan Hercules itu lebih hemat dan efisien dari pada proses perbaikan dilakukan di Indonesia. Meskipun bekas, dia menyebutkan, pesawat-pesawat itu setelah diperbaiki masih sanggup untuk terbang sekitar 15-20 tahun lagi.
Sumber: Suara Karya/SINDO
Jumat, 27 Juli 2012
Empat Super Tucano Tiba Akhir Agustus
27 Juli 2012, Sao Paulo: Bertempat di fasilitas produksi Embraer di Gaveao Peixoto Sao Paulo Brazil, baru-baru ini telah dilaksanakan pemeriksaan pesawat Super Tucano TNI-AU nomor seri produksi 179 dan 180 oleh tim dari Kementerian Pertahanan RI/TNI-AU.
Tim pemeriksa yang dipimpin oleh Letkol Lek Alit Erbawa dengan anggota Letkol Tek Sianturi, Mayor Pnb James Yanes Singal dan Mayor Tek Yani Prasetyo melakukan pemeriksaan pesawat meliputi dokumen, pencocokan komponen pesawat, interior pesawat, pengecatan dan uji terbang.
Adapun uji terbang dilaksanakan baru-baru ini oleh test pilot Embraer, William, yang duduk di kursi depan disertai oleh Komandan Skadron Udara 21, Mayor Pnb James Yanes Singal yang duduk di kursi belakang.
Dalam uji terbang yang setiap sortinya memakan waktu sekitar dua jam, test pilot Embraer melakukan pemeriksaan terhadap berbagai sistem pesawat yang diamati oleh Mayor Pnb James.
Pemeriksaan di darat dimulai dari melihat kondisi fisik pesawat, pemeriksaan instrumen pesawat sebelum dan sesudah mesin dinyalakan dan pemeriksaan kendali pesawat selama taxy. Dalam uji terbang yang dilaksanakan hingga ketinggian 25.000 kaki, diperiksa beberapa sistem pesawat meliputi sistem bahan bakar, tekanan udara, auto pilot, mesin, navigasi, komunikasi, penembakan (simulasi) dan landing gear.
Selain itu diperiksa pula handling pesawat selama dilakukan berbagai maneuver.
Setelah bekerja selama tiga hari, tim pemeriksa menyatakan bahwa pesawat nomor seri produksi 179 dan 180 dalam kondisi baik. Dengan demikian, saat ini empat pesawat Super Tucano TNI-AU telah siap untuk diterbangkan ke Indonesia yang direncanakan akan dilakukan pada pertengahan bulan Agustus.
Super Tucano TT-3101, 3102, 3103 dan 3104 dengan cocor merah desain dari Almarhum Marsda TNI (Purn) F. Djoko Poerwoko akan segera memperkuat Skadron Udara 21 pada akhir bulan Agustus 2012.
Indonesia Pesan 8 Unit Tambahan
TNI AU dan Embraer menandatangani kontrak pembelian 8 pesawat tempur ringan A-29 Super Tucano di Pameran Dirgantara Farnborough, Inggris (10/7).
Kontrak ini termasuk satu unit simulator untuk pelatihan para pilot TNI AU.
Pesawat diharapkan akan diterima TNI AU pada 2014. TNI AU telah memesan 8 unit A-29 Super Tucano pada November 2010 dan empat unit batch pertama akan tiba di Indonesia pada Agustus 2012.
Sumber: TNI AU/Embraer
@Berita HanKam
Minggu, 22 Juli 2012
TNI AU Kembangkan Jaringan Komunikasi Tertutup
21 Juli 2012, Jakarta: TNI Angkatan Udara intensif mengembangkan jaringan komunikasi tertutup berteknologi canggih berbasis Information and Communication Tehnology (ICT). Modernisasi teknologi militer ini untuk mendukung operasi perang militer (OMP) dan operasi perang selain militer (OMSP).
Asisten Operasi Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Asops KSAU), Marsda TNI Ismono Wijayanto di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta, Kamis (19/7), menguji serta meresmikan penggunaan ICT yang mencakup Jaringan Komunikasi Berita (Jarkombra), Voice Over Internet Protokol (Voip) dan Video Conference (Vicon). ICT sebagai bagian dari moderniasi sistem komando, kendali, komunikasi dan informasi (K3I) TNI AU.
ICT berhasil dikembangkan TNI AU didukung PT Telkom Indonesia sebagai penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi terbesar di Indonesia.
Asops KSAU mengakui jika ICT menjadi penentu utama dalam proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. TNI AU menyikapi kemajuan teknologi dan arus modernisasi yang demikian cepat sehingga harus dimbangi dengan pengembangan teknologi pula. Ini telah menjadi tuntutan dan kebutuhan di segala aspek kegiatan khususnya di lingkungan militer.
Awal implementasi ICT dari penyatuan dan pengembangan K3I. Di bawah kendali yang sama, ICT dikembangkan menjadi sistem komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengamatan dan pengintaian.
K4IP, dikatakan Ismono, mutlak jadi sarana pengambil keputusan pimpinan secara cepat dan tepat tanpa terkendala oleh jarak dan waktu. "Sistem K4IP TNI AU harus sangat handal karena dislokasi satuan-satuan TNI AU yang tersebar diseluruh pelosok NKRI," ujar Asops KSAU.
Sistem komunikasi modern jaringan tertutup TNI AU ini dibangun dengan dukungan PT Telkom Indonesia sebagai penyedia jasa telekomunikasi terbesar di Indonesia sehingga menjadi jaminan akan kehandalannya. Dukungan ICT jadi penting dalam mendukung operasi dan latihan, baik dimasa damai atau masa krisis. "Khusus untuk TNI AU sebagai organisasi militer penegak kedaulatan Negara di udara diperlukan untuk mendukung pelaksanaan OMP dan OMSP," ujar dia.
Organisasi Modern
General Manager Enterprise PT Telkom Indonesia, Muhamad Syalsabil mengatakan sistem komunikasi data berbasiskan ITC sudah merupakan kebutuhan utama dan bukan pelengkap lagi. Teknologi Komunikasi dan Informasi Modern yang digunakan TNI AU telah menjadikan organisasi ini selangkah lebih maju menuju organisasi modern.
"Berdasarkan pengalaman PT Telkom saat mulai menggunakan teknologi yang sama bisa mempersingkat proses surat menyurat dan pengambilan keputusan dari empat hari menjadi hanya satu jam," ujar dia.
Sistem teknologi dan komunikasi TNI AU, ini sepenuhnya menggunakan jalur VPN-IP PT.Telkom Indonesia. Jarkombra akan berfungsi sebagai sarana untuk pengiriman berita secara online, sistim Voip sebagai sarana untuk komunikasi audio telephone dan system Vicon untuk komunikasi audio dan video.
Sistem tersebut merupakan hasil pengembangan TNI AU bekerjasama dengan PT Telkom Tbk sebagai penyedia jasa jarring komunikasi serta pembangunan infrastruktur komunikasinya guna mendukung kesiapan operasional TNI AU .
Pada acara uji fungsi Jarkombra, Voip dan Vicon tersebut, Asops KSAU mengadakan uji komunikasi data (berita radiogram), komunikasi suara (voice) lewat VOIP dan komunikasi gambar (video) lewat VICON dengan seluruh satuan jajaran TNI AU yang telah dipasangi ICT. Hasil ujicoba komunikasi cukup memuaskan dengan kecepatan berita yang disampaikan interaksi suara dan gambar video cukup baik.
"Telkom Indonesia berjanji akan terus mendukung kebutuhan TNI AU dalam kebutuhan komunikasi baik menggunakan jalur komunikasi jaringan terbuka maupun jaringan tertutup," ujar Syalsabil.
Sumber: Suara Karya
Sabtu, 21 Juli 2012
TNI AU Kirim Empat Penerbang ke Spanyol
C295 Polish Air Force. (Photo: Airbus Military)22 Juli 2012, Jakarta: Empat penerbang TNI Angkatan Udara dari Skadron Udara 2 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma mengikuti training menggunakan pesawat C-295 di Airbus Military Spanyol. Pesawat tersebut ditargetkan mulai tahun ini memerkuat jajaran Skadron Udara 2 menggantikan pesawat angkut ringan Fokker-27.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Azman Yunus menjelaskan pesawat C-295 buatan Airbus Military ini akan memerkuat jajaran Skadron Udara 2. “Tahun ini pesawat sudah mulai datang untuk menggantikan operasional pesawat F-27 (Fokker) yang belum lama ini dinyatakan tidak boleh terbang lagi oleh pemerintah,” katanya, di Jakarta, Jumat (20/7).
Keempat penerbang akan menjalani pelatihan di Spanyol selama sekitar tiga bulan terhitung sejak Juli hingga september 2012. Para penerbang masing-masing adalah Komandan Skadron Udara 2 Letkol (Pnb) Elistar Silaen, Mayor (Pnb) Destianto, Myor (Pnb) Trinanda, dan Kapten (Pnb) Reza Fahlifie.
Pesawat C-295 tersebut merupakan pengembangan dari pesawat CN-235 yang sekarang juga sudah memerkuat jajaran Skadron Udara 2. Pengembangan pesawat ini bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia sehingga namanya berubah menjadi CN-295. Kontrak kerjasama antara Airbus Military dengan PT DI selaku produsen di Indonesia dilakukan pada pertengahan Februari silam di sela-sela Singapura Air Show dengan nilai kontrak mencapai US$325 juta.
Di antara poin kerjasama tersebut adalah mencantumkan soal training. Karenanya, PT DI juga mengirimkan penerbang test pilotnya yaitu Ester Gayatri Saleh dan Novirsta Mafriando, serta satu flight test engineer Heru Riadhi Soenardi. Seluruh peserta training sekarang sudah berada di Sevilla, Spanyol.
Kapentak Lanud Halim Perdanakusuma Mayor (Sus) Gerardus Maliti mengungkapkan, sekarang ini Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma diisi pesawat angkut ringan yakni Fokker-27 dan CN-235. Khusus untuk Fokker-27, sementara dilarang terbang pasca jatuhnya salah satu pesawat di kompleks Lanud Halim Perdanakusuma.
Sumber: Info Publik
Senin, 16 Juli 2012
Latihan Sikatan Daya 2012 Ditutup
16 Juli 2012, Malang: Setelah enam hari kegiatan Latihan Sikatan Daya 2012 dilaksanakan di jajaran Koopsau II dan Daerah Pandan Wangi Lumajang Jawa Timur yang dimulai tanggal 9 Juli sampai dengan 16 Juli 2012, pada hari ini Kamis (16/7) latihan tersebut ditutup oleh Pangkoopsau II Marsekal Muda TNI Agus Supriyatna di ikuti para pejabat Lanud dan seluruh anggota Lanud Abd Saleh bertempat di Taxy Way Lanud Abdulrahman Saleh.
Pangkoopsau II menjelaskan bahwa latihan Sikatan Daya yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini sangat penting artinya bagi TNI Angkatan Udara dalam upaya mencapai tingkat kesiapan operasional yang tinggi. Selain itu, latihan ini juga dalam rangka pembinaan profesionalisme bagi para awak pesawat. Sebagai salah satu Kotama operasi TNI, Koopsau II senantiasa harus siap menghadapi tugas-tugas operasi, tingkat kemampuan dan kesiapan operasionalnya perlu terus dibina dan ditingkatkan. Demikian juga langkah-langkah evaluasi atas kemampuan dan kesiapan operasional satuan jajaran beserta unsur-unsurnya perlu terus dilakukan secara cermat.
Dalam latihan ini, setiap satuan dalam jajaran Koopsau II telah diuji tingkat kemampuan, ketrampilan, ketepatan dan kecepatan dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing satuan. Melalui latihan antar satuan semacam ini dapat diketahui secara nyata kemampuan dan kesiapan operasional tiap satuan jajaran.
Latihan melibatkan Pelaku, Komando Latihan dari Lanud jajaran Koopsau II, sebanyak 1500 personel dari Lanud Iswahyudi Madiun, Lanud Hasanuddin Makassar dan Lanud Abd Saleh ini dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Salah satu faktor keberhasilan dari latihan ini adalah disiplin yang tinggi serta terjalinnya koordinasi yang baik dari seluruh Pelaku dan Komando Latihan dalam melaksanakan tugasnya, tambahnya. Diharapkan kepada anggota yang terlibat agar sekembalinya ke satuan masing-masing agar lebih meningkatkan lagi kemampuannya sehingga kita selalu siap jika dibutuhkan sewaktu-waktu.
Sebelum Latihan Sikatan Daya ditutup, pagi pukul 06.30 Wib di ASR Pandanwangi Lumajang dilakukan manuver lapangan diawali pesawat Boing 737 sebagai unsure pengintai, kemudian dilakukan foto udara dan penerjunan Dalpur oleh pesawat Cassa 212, penembakan target oleh pesawat Sukhoi dan pesawat F-16, dilanjutkan penerjunan pasukan satuan tempur dari 3 pesawat C-130 Hercules, juga 1 pesawat Hercules untuk penerjunan Cargo Develery System (CDS) dan satu lagi pesawat Hercules Air Refueling yaitu pengisian bahan bakar di udara serta satu pesawat helikopter Puma untuk SAR.
Dalam Latihan tersebut semuanya dapat berjalan dengan baik, aman, lancar dan tepat sasaran. Pangkoopsau II yang didampingi Komandan Lanud Abdulrahman Saleh beserta pejabat Lanud lainnya merasa puas dengan latihan sikatan daya 2012 ini. Semoga latihan tahun berikutnya lebih dapat ditingkatkan lagi
Sumber: Lanud Abdulrachman Saleh
Rabu, 11 Juli 2012
Paskhas Latihan Perang di Lanud Palembang
Prajurit pasukan khas TNI AU melakukan pendaratan dengan terjun payung pada penutupan Latihan Trisula Perkasa di Baseops Lanud Palembang, Selasa (10/7). Latihan yang merupakan puncak perkaskhas trisula perkasa ini melibatkan kurang lebih satu hingga tiga pesawat heli dari skadron 7 bogor, satu pesawat tempur Hawk dari Pekanbaru, satu pesawat Hercules dari skadron udara 31 Jakarta, dan skadron udara 32 Malang. (Foto: ANTARA/ Feny Selly/ss/ama/12)
11 Juli 2012, Palembang: Suasana Landasan Udara (Lanud) Palembang, kemarin mendadak mencekam. Dentuman suara rudal dan senjata bersahutan membuat situasi tak terkendali sehingga menyebabkan keberangkatan pesawat dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang tertunda sementara (expect delay).
Situasi makin memanas saat rombongan prajurit Paskhas TNI AU diberondong peluru dan rudal jarak pendek oleh musuh dari negara asing yang sudah lebih dulu menguasai Lanud Palembang. Paskhas TNI AU langsung menurunkan ratusan penerjun tim Bravo dengan menggunakan pesawat Hercules untuk melakukan penyerangan balik ke Lanud Palembang. Ratusan prajurit Paskhas yang diterjunkan berhasil memukul mundur lawan seusai menguasai sebagian pangkalan. Namun sebelumnya prajurit Paskhas mendapatkan perlawanan sengit. Baku tembak tak dapat dihindarkan.
Sejurus kemudian ratusan prajurit Paskhas merangsek ke depan areal landasan udara untuk menyudutkan musuh yang terjebak di pangkalan. Tak lebih dari satu jam pasukan elite TNI AU ini akhirnya berhasil melumpuhkan dan menaklukan lawan. Begitulah sedikit skenario yang digelar Korps Paskhas TNI AU yang melibatkan 700 prajurit Paskhas. Khusus simulasi ini TNI AU membawa dua pesawat tempur dari skuadron 12, tiga pesawat Hercules dari Squadron 31 dan 32 (Jakarta dan Malang) serta helikopter dari Squadron 6 Bogor serta 8 rudal jarak pendek atau QW 3.
“Seperti sungguhan. Ledakannya begitu menakutkan. Apalagi desingan pelurunya,” ujar Ade Rassat,tamu undangan acara tersebut. Komandan Korpaskhas Marsekal Muda TNI Amarullah mengungkapkan kegiatan rutin yang dilakukan TNI AU itu sengaja digelar untuk meningkatkan profesionalitas prajurit Paskhas. “Setelah ini kami berencana melakukan simulasi lagi yang tak kalah berat yakni Angkasa Yuda untuk meningkatkan kemampuan prajurit TNI AU yang akan dilakukan pada 42 Lanud di Indonesia,” ungkapnya kemarin.
Mengenai kelengkapan peralatan perang yang dimiliki TNI AU saat ini Amarullah menyatakan sudah memadai. Namun demikian pihaknya berharap perlengkapan yang dimiliki saat ini tetap dilakukan penyesuaian karena perubahan teknologi yang kian pesat. Sementara itu, Komandan Lanud Palembang, Letkol Pnb, Adam Suharto mengatakan dalam acara ini pihaknya hanya dilibatkan sebagai tuan rumah. Dia berharap kegiatan ini mebuat masyarakat Palembang mengetahui tugas dan fungsi pasukan elit dilingkungan TNI AU meski sebatas simulasi.
Selain aksi perebutan Lanud Palembang, ratusan tamu yang hadir dalam puncak puncak Trisula Perkasa juga disuguhi atraksi menarik berupa aksi penyelamatan korban yang dilakukan tim SAR.
Sumber: SINDO
11 Juli 2012, Palembang: Suasana Landasan Udara (Lanud) Palembang, kemarin mendadak mencekam. Dentuman suara rudal dan senjata bersahutan membuat situasi tak terkendali sehingga menyebabkan keberangkatan pesawat dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang tertunda sementara (expect delay).
Situasi makin memanas saat rombongan prajurit Paskhas TNI AU diberondong peluru dan rudal jarak pendek oleh musuh dari negara asing yang sudah lebih dulu menguasai Lanud Palembang. Paskhas TNI AU langsung menurunkan ratusan penerjun tim Bravo dengan menggunakan pesawat Hercules untuk melakukan penyerangan balik ke Lanud Palembang. Ratusan prajurit Paskhas yang diterjunkan berhasil memukul mundur lawan seusai menguasai sebagian pangkalan. Namun sebelumnya prajurit Paskhas mendapatkan perlawanan sengit. Baku tembak tak dapat dihindarkan.
Sejurus kemudian ratusan prajurit Paskhas merangsek ke depan areal landasan udara untuk menyudutkan musuh yang terjebak di pangkalan. Tak lebih dari satu jam pasukan elite TNI AU ini akhirnya berhasil melumpuhkan dan menaklukan lawan. Begitulah sedikit skenario yang digelar Korps Paskhas TNI AU yang melibatkan 700 prajurit Paskhas. Khusus simulasi ini TNI AU membawa dua pesawat tempur dari skuadron 12, tiga pesawat Hercules dari Squadron 31 dan 32 (Jakarta dan Malang) serta helikopter dari Squadron 6 Bogor serta 8 rudal jarak pendek atau QW 3.
“Seperti sungguhan. Ledakannya begitu menakutkan. Apalagi desingan pelurunya,” ujar Ade Rassat,tamu undangan acara tersebut. Komandan Korpaskhas Marsekal Muda TNI Amarullah mengungkapkan kegiatan rutin yang dilakukan TNI AU itu sengaja digelar untuk meningkatkan profesionalitas prajurit Paskhas. “Setelah ini kami berencana melakukan simulasi lagi yang tak kalah berat yakni Angkasa Yuda untuk meningkatkan kemampuan prajurit TNI AU yang akan dilakukan pada 42 Lanud di Indonesia,” ungkapnya kemarin.
Mengenai kelengkapan peralatan perang yang dimiliki TNI AU saat ini Amarullah menyatakan sudah memadai. Namun demikian pihaknya berharap perlengkapan yang dimiliki saat ini tetap dilakukan penyesuaian karena perubahan teknologi yang kian pesat. Sementara itu, Komandan Lanud Palembang, Letkol Pnb, Adam Suharto mengatakan dalam acara ini pihaknya hanya dilibatkan sebagai tuan rumah. Dia berharap kegiatan ini mebuat masyarakat Palembang mengetahui tugas dan fungsi pasukan elit dilingkungan TNI AU meski sebatas simulasi.
Selain aksi perebutan Lanud Palembang, ratusan tamu yang hadir dalam puncak puncak Trisula Perkasa juga disuguhi atraksi menarik berupa aksi penyelamatan korban yang dilakukan tim SAR.
Sumber: SINDO
Enam Super Tucano Segera Tiba di Indonesia
Super Tucano milik TNI AU sedang uji terbang perdana. (Foto: Embraer)
11 Juli 2012, Jakarta: Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sedang menunggu kedatangan pesawat tempur yang dipesan dari negeri samba Brazil, Super Tucano EMB-314, tahun ini. Rencananya usai Lebaran, pesawat tersebut tiba di Tanah Air.
"Rencananya sebelum Lebaran perwakilan pemerintah akan berangkat ke Brazil untuk mengurusi pengiriman pesawat," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin, saat dihubungi Tempo.
Namun, pengiriman pesawat tersebut akan dilakukan secara bertahap. Rencananya, untuk tahun ini baru akan dikirim enam unit pesawat dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan Indonesia.
"Kalau urusan pengiriman itu masalah teknis saja," tambahnya.
Rencananya, pesawat Super Tucano akan dioperasikan oleh Skadron Udara 21 untuk menggantikan peran OV-10 Bronco. Pesawat itu dinyatakan grounded atau tidak lagi dioperasikan oleh Markas Besar TNI Angkatan Udara pada 2009 setelah mengalami sejumlah kecelakaan.
Selain pesawat Super Tucano EMB-314, pemerintah juga tengah menanti kedatangan 24 pesawat hibah dari Amerika Serikat, F16. Namun kedatangan pesawat bekas negeri Paman Sam ini masih membutuhkan waktu cukup lama, pasalnya pesawat tersebut masih dalam proses up-grade.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan menyatakan sedang menunggu kedatangan dua dari enam pesawat jet tempur Sukhoi SU-30 MK2 pada November mendatang. Keenam pesawat itu akan dikirim secara berangsur oleh pabrikan di Rusia sebanyak tiga kali dalam jangka waktu tiga tahun.
Pembelian enam pesawat jet tempur ini diharapkan mampu menambah kekuatan dirgantara Indonesia. Keenam pesawat tersebut rencananya akan melengkapi 10 pesawat serupa yang telah dimiliki TNI AU, hingga genap menjadi satu skuadron. Skuadron Sukhoi ini rencananya akan di tempatkan di Pangkalan Udara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Sumber: TEMPO
11 Juli 2012, Jakarta: Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sedang menunggu kedatangan pesawat tempur yang dipesan dari negeri samba Brazil, Super Tucano EMB-314, tahun ini. Rencananya usai Lebaran, pesawat tersebut tiba di Tanah Air.
"Rencananya sebelum Lebaran perwakilan pemerintah akan berangkat ke Brazil untuk mengurusi pengiriman pesawat," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin, saat dihubungi Tempo.
Namun, pengiriman pesawat tersebut akan dilakukan secara bertahap. Rencananya, untuk tahun ini baru akan dikirim enam unit pesawat dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan Indonesia.
"Kalau urusan pengiriman itu masalah teknis saja," tambahnya.
Rencananya, pesawat Super Tucano akan dioperasikan oleh Skadron Udara 21 untuk menggantikan peran OV-10 Bronco. Pesawat itu dinyatakan grounded atau tidak lagi dioperasikan oleh Markas Besar TNI Angkatan Udara pada 2009 setelah mengalami sejumlah kecelakaan.
Selain pesawat Super Tucano EMB-314, pemerintah juga tengah menanti kedatangan 24 pesawat hibah dari Amerika Serikat, F16. Namun kedatangan pesawat bekas negeri Paman Sam ini masih membutuhkan waktu cukup lama, pasalnya pesawat tersebut masih dalam proses up-grade.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan menyatakan sedang menunggu kedatangan dua dari enam pesawat jet tempur Sukhoi SU-30 MK2 pada November mendatang. Keenam pesawat itu akan dikirim secara berangsur oleh pabrikan di Rusia sebanyak tiga kali dalam jangka waktu tiga tahun.
Pembelian enam pesawat jet tempur ini diharapkan mampu menambah kekuatan dirgantara Indonesia. Keenam pesawat tersebut rencananya akan melengkapi 10 pesawat serupa yang telah dimiliki TNI AU, hingga genap menjadi satu skuadron. Skuadron Sukhoi ini rencananya akan di tempatkan di Pangkalan Udara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Sumber: TEMPO
Selasa, 10 Juli 2012
Penutupan Latihan Trisula Perkasa 2012
Sejumlah prajurit pasukan khas TNI AU melakukan penyusupan pada penutupan Latihan Trisula Perkasa di Baseops Lanud Palembang, Selasa (10/7). Latihan yang merupakan puncak perkaskhas trisula perkasa ini melibatkan kurang lebih satu hingga tiga pesawat heli dari skadron 7 bogor, satu pesawat tempur Hawk dari Pekanbaru, satu pesawat Hercules dari skadron udara 31 Jakarta, dan skadron udara 32 Malang. (Foto: ANTARA/ Feny Selly/ss/ama/12)
10 Juli 2012, Palembang: Komandan Korps Paskhas TNI AU Marsda TNI Amarullah selaku Inspektur Upacara (Irup), Selasa (10/7), dengan resmi menutup Latihan Trisula Perkasa TA.2012 dalam suatu upacara di Lapangan Apel Mako Lanud Palembang diikuti seluruh pasukan peserta latihan. Penutupan ditandai dengan pelepasan pita tanda latihan oleh Irup kepada perwakilan peserta latihan. Acara dihadiri pejabat militer satuan samping, pejabat sipil baik propinsi maupun kota Palembang, serta undangan lainnya.
Disampaikan dalam sambutan Irup antara lain dikatakan bahwa Latihan Trisula Perkasa Paskhas TNI AU dilaksanakan secara rutin dan terprogram setiap tahun dengan lokasi yang berpindah-pindah. Sedang Latihan yang baru saja dilaksanakan adalah dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit Paskhas TNI AU sehingga mampu dengan baik dan maksimal dalam melaksanakan setiap tugas yang diemban. Selesai acara seluruh kontingen langsung menuju Apron Bravo untuk kembali ke satuan masing-masing.
Sumber: TNI AU/
10 Juli 2012, Palembang: Komandan Korps Paskhas TNI AU Marsda TNI Amarullah selaku Inspektur Upacara (Irup), Selasa (10/7), dengan resmi menutup Latihan Trisula Perkasa TA.2012 dalam suatu upacara di Lapangan Apel Mako Lanud Palembang diikuti seluruh pasukan peserta latihan. Penutupan ditandai dengan pelepasan pita tanda latihan oleh Irup kepada perwakilan peserta latihan. Acara dihadiri pejabat militer satuan samping, pejabat sipil baik propinsi maupun kota Palembang, serta undangan lainnya.
Disampaikan dalam sambutan Irup antara lain dikatakan bahwa Latihan Trisula Perkasa Paskhas TNI AU dilaksanakan secara rutin dan terprogram setiap tahun dengan lokasi yang berpindah-pindah. Sedang Latihan yang baru saja dilaksanakan adalah dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit Paskhas TNI AU sehingga mampu dengan baik dan maksimal dalam melaksanakan setiap tugas yang diemban. Selesai acara seluruh kontingen langsung menuju Apron Bravo untuk kembali ke satuan masing-masing.
Sumber: TNI AU/
Senin, 09 Juli 2012
Super Tucano TNI AU Sukses Uji Terbang
9 Juli 2012, Jakarta: Satu pesawat EMB-314 Super Tucano TT-3102 TNI AU sukses melakukan penerbangan perdana. Pesawat dicat cocor merah mirip OV-10 Bronco yang digantikannya. Empat unit Super Tucano dijadwalkan tiba di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang pada 28 Agustus 2012 atau awal September 2012. Diharapkan delapan unit Super Tucano diterima pada 2012, dan semuanya dioperasikan oleh Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh.
Proses Pra-assembling
Proses Assembling Akhir
Proses Pengecatan
Persiapan Penerbangan Perdana
Penerbangan Perdana Super Tucano TT-3102
Sumber: Embraer
@Berita HanKam
Proses Pra-assembling
Proses Assembling Akhir
Proses Pengecatan
Persiapan Penerbangan Perdana
Penerbangan Perdana Super Tucano TT-3102
Sumber: Embraer
@Berita HanKam
Senin, 02 Juli 2012
Paskhas Rebut Kembali Lanud Palembang
1 Juli 2012, Palembang: Sebanyak 700 personel Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Paskhas) bakal diterjunkan pada operasi Trisula dengan skenario merebut kembali Pangkalan TNI AU Palembang dari pendudukan negasor (negara asing), 6-10 Juli 2012 mendatang.
"Ini merupakan latihan puncak yang melibatkan dari beberapa batalyon Paskhas di Indonesia," ungkap Danlanud Letkol Pnb Adam Suharto di sela-sela Operasi Jalak Sakti yang melibatkan enam pesawat jet tempur Hawk dengan target pengeboman Tanjungpandan, Minggu (1/7/2012).
Menurut Adam yang merupakan lulusan AAU 1991, pada operasi Trisula Perkasa ini akan ada beberapa skenario.
"Nantinya Lanud diduduki negasor. Lalu tugas tim kita akan merebut kembali. Setelah prosesnya matang, Dalpur (Pengendali Tempur) ada satu regu beranggotakan 10 hingga 12 personel diterjunkan malam hari," terang Adam.
Kemudian kata Adam, mereka ini melakukan penyusupan mulai dari jarak 15 km dari pangkalan yang diduduki oleh musuh yang diperankan para personel Paskhas lainnya.
"Nanti ada 10 orang seperti rambo memasang bom di instalasi vital. Apabila dirasa aman baru diterjunkan Satpur (satuan tempur) yang rencana melibatkan empat pesawat Hawk untuk melaksanakan serangan udara langsung secara mendadak dan akan diikuti penerjunan pasukan (terjun payung).
Juga melibatkan empat pesawat Hercules dimana tiap-tiap pesawat akan menerjunkan 64-95 orang bersenjata lengkap SS-1 dalam rangka perebutan pangkalan. Ini baru latihan mandiri jadi hanya Paskhas yang turun. Kalau sudah gabungan, setelah dari Paskhas diserahkan ke angkatan darat," terangnya.
Sumber: Sripoku
Pesawat Tempur TNI AU Berganti Warna
Hawk Skuadron Udara 12 Pekanbaru. (Foto: Sripoku)
2 Juli 2012, Malang: Sebuah gambar kepala Panther Hitam menempel garang di badan pesawat tempur Hawk 200. Mulutnya mengaum garang,berlatar belakang sebuah gambar kilat yang menyala tajam. Warna abu-abu langit juga semakin membuat kepala Panther ini hidup dan siap menerjang. Angka 12 tersebut merupakan penanda burung besi mematikan buatan Inggris tersebut berangkat dari Skuadron Udara 12, Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Pekanbaru.Hampir di ujung moncong pesawat juga tertulis angka 09. Nomor ini merupakan tanda nomor pesawat di skuadron tersebut.
Burung besi ini nampak mengkilat,dengan motif loreng perpaduan abu-abu muda dan abu-abu tua.Tampangnya garang, siap menerjang angkasa, menembus langit biru nusantara, menggeliat cerdik di antara awan-awan putih, menghunus pusaka menerjang setiap lawan yang mengancam.
Warna loreng abu-abu ini baru saja selesai digarap oleh para putra terbaik TNI AU yang tergabung di dalam Satuan Pemeliharaan (Sathar) 32 Depo Pemeliharaan 30, Lanud TNI AU Abdulrachman Saleh, Malang.
Bukan ahli dari Inggris, atau Amerika Serikat,yang membuat burung besi menjadi garang,segarang Panther. Putra-putra terbaik bangsa,yang bernaung di Sathar 32, mampu mandiri membuat Panther Skuadron Udara 12 mengaum di langit nusantara.
Hanya berjarak beberapa langkah di depan Panther Skuadron Udara 12, tampak logo kepala Jonga atau Kijang, mulai sumringah. Jonga yang terpampang di badang Hawk 200 milik Skuadron Udara 1 Pontianak tersebut,juga akan menjalani masa-masa pergantian warna di Sathar 32.
Saat ini,Jonga lambang kelincahan, kecerdikan,dan kecepatan ini,masih menggunakan warna lama. Loreng hijau tua dipadu hijau muda, dan cokelat masih menempel lekat. Sebentar lagi, tangantangan terampil putra-putra terbaik yang tergabung di Sathar 32,akan memanjakannya dengan warna baru,loreng abu-abu.
“Warna loreng abu-abu, menjadi warna kamuflase resmi para pesawat tempur TNI AU,” ujar Pembantu Letnan Dua (Pelda) Lagiono. Prajurit TNI AU,yang sudah mengabdikan diri sejak tahun 1986 tersebut,menjadi salah satu bintara senior di Sathar 32. Perannya,khusus dalam hal menangani pengecatan pesawat TNI AU. Banyak pesawat tempur sudah ditanganinya, termasuk pesawat tempur F-16.
Dari tangan telaten para prajurit tersebut, saat ini sudah ada delapan unit pesawat tempur jenis Hawk yang sudah berganti kamuflase loreng abu-abu. Lagiono menyebutkan, pesawat jenis Hawk yang sudah selesai dicat dan diperbaiki, ada di Skuadron Udara 1 sebanyak lima unit, dan di Skuadron Udara 12 sebanyak tiga unit.
“Pengerjaannya dilakukan di Malang. Ada juga yang kami kerjakan di skuadronnya masing-masing,” ujarnya begitu ramah. Butuh sedikitnya 7-8 galon cat,atau sekitar 28-32 liter cat untuk mengecat satu unit pesawat. Pengerjaannya dilakukan selama 1-2 minggu. Prosesnya dimulai dari pembersihan cat lama, perbaikan, kemudian pengecatan dengan cat baru. Kualitas hasil pengecatan, tidak bisa diremehkan. Karya anak negeri ini,sudah terbukti memiliki kualitas tinggi.
Salah satu buktinya,pengecatan yang dilakukan terhadap pesawat tempur taktis F- 16, sudah berusia 10 tahun, namun belum menunjukkan kerusakan.“ Kualitas kami utamakan. Selain itu, kerja seni juga menjadi bagian dari pencetan pesawat ini. Hingga membuat pesawat tampil garang, menawan, dan memiliki kualitas bagus,”ujar Lagiono.
Bukan sekadar kamuflase warna di badannya saja yang diganti dan dibersihkan. Kemampuan avionik, dan listrik instrumen pesawat juga turut dibenahi dan dijaga di Sathar 32. Alhasil,pesawat temput taktis ini tidak hanya garang di luar, namun kegarangan mesinnya layak diacungi jempol.
Kepala unit avionik dan listrik instrumen (Aviolinst) Sathar 32,Letnan Satu (Lettu) Elektronik (Lek) Andhi Setyo menyatakan, setiap pesawat tempur yang masuk perawatan di Sathar 32, akan dicek kondisi keseluruhannya. “Satu incipun tidak boleh luput dari pengecekan, karena kondisi pesawat yang prima akan sangat mendukung kegiatan operasi yang dijalankan,”tegasnya.
Secara keseluruhan, ada tiga tahap yang harus dilaksanakan dalam pengecatan dan perbaikan pesawat tempur ini. Tahapan itu, menurut kontrol kualitas Sathar 32, Pembantu Letnan Satu (Peltu) Haryanto, antara lain tahap predock; in dock; dan post dock.
Tahap pre dock meliputi penerimaan pesawat dari skuadron yang mengoperasionalkan. Kemudian dilanjutkan dengan tes seluruh sistem pesawat, termasuk uji fungsi dan performance engine pesawat. Tahap in dock, berupa pembongkaran, pemeriksaan,perbaikan, dan pengetesan.“Dalam tahap terakhir atau post dock akan dilakukan penimbangan, pengecekan terakhir, dan tes terbang,”terangnya.
Pengalaman dan prestasi pengecatan pesawat,serta perbaikannya ini, sudah berjalan sangat lama. Menurut Komandan Depo Pemeliharaan 30 Lanud TNI AU Abdulrachman Saleh Malang, Kolonel Dento Priyono,pada tahun 2012 ini, jadwal pengecatan sangat padat.
Setelah menyelesaikan pengecatan sebanyak enam pesawat F 16, dilanjutkan pengecatan delapan unit Hawk 100, dan Hawk 200. “Selain itu, masih menyelesaikan pengecatan pesawat angkut Cassa A2103, dan Cassa A2017,” ujarnya.
Setiap pengecatan,dan perbaikan pesawat ini,dilaksanakan oleh tim kecil yang beranggotakan 8-10 orang personel. Mereka terdiri dari satu orang perwira, anggota, dan kontrol kualitas.
Depo Pemeliharan sendiri,membawahi tiga satuan yakni Sathar 31; Sathar 32; dan Sathar 33.
Sebuah kebanggaan tersendiri bagi bangsa ini. Setiap personel Sathar, memiliki ketelitian, kemampuan, dan jiwa seni untuk memperbaiki pesawat tempur. Mereka membuat setiap burung besi TNI AU menjadi garang, layak terbang, dan lincah bermanuver di langit biru, memecah angkasa, menjaga setiap jengkal kedaulatan udara nusantara.
Satu Motif
Seiring dengan terbitnya Petunjuk Teknik Udara (PTU) No 126, perbaikan Ke-4 tahun 2011 tentang standardisasi pola dan warna pengecatan pesawat TNI AU, kini warna pesawat tempur dan angkut ringan pun berubah menjadi satu motif dengan warna yang sama. Tingkat kamuflasenya ketika mengudara ataupun di darat akan semakin sempurna.
Khusus untuk EMB 314 Super Tucano, kata Komandan Satuan Pemeliharaan 32 Depo Pemeliharaan 30 Lanud Abdulrachman Saleh Malang Letkol M Sarifudin, warna pesawat ini memang didesain di Indonesia dan sudah diserahkan ke pihak produsen (Embraer Brasil). Nantinya pesawat tersebut datang ke Indonesia sudah memakai warna khas TNI AU.
Sumber: SINDO/Suara Merdeka
2 Juli 2012, Malang: Sebuah gambar kepala Panther Hitam menempel garang di badan pesawat tempur Hawk 200. Mulutnya mengaum garang,berlatar belakang sebuah gambar kilat yang menyala tajam. Warna abu-abu langit juga semakin membuat kepala Panther ini hidup dan siap menerjang. Angka 12 tersebut merupakan penanda burung besi mematikan buatan Inggris tersebut berangkat dari Skuadron Udara 12, Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Pekanbaru.Hampir di ujung moncong pesawat juga tertulis angka 09. Nomor ini merupakan tanda nomor pesawat di skuadron tersebut.
Burung besi ini nampak mengkilat,dengan motif loreng perpaduan abu-abu muda dan abu-abu tua.Tampangnya garang, siap menerjang angkasa, menembus langit biru nusantara, menggeliat cerdik di antara awan-awan putih, menghunus pusaka menerjang setiap lawan yang mengancam.
Warna loreng abu-abu ini baru saja selesai digarap oleh para putra terbaik TNI AU yang tergabung di dalam Satuan Pemeliharaan (Sathar) 32 Depo Pemeliharaan 30, Lanud TNI AU Abdulrachman Saleh, Malang.
Bukan ahli dari Inggris, atau Amerika Serikat,yang membuat burung besi menjadi garang,segarang Panther. Putra-putra terbaik bangsa,yang bernaung di Sathar 32, mampu mandiri membuat Panther Skuadron Udara 12 mengaum di langit nusantara.
Hanya berjarak beberapa langkah di depan Panther Skuadron Udara 12, tampak logo kepala Jonga atau Kijang, mulai sumringah. Jonga yang terpampang di badang Hawk 200 milik Skuadron Udara 1 Pontianak tersebut,juga akan menjalani masa-masa pergantian warna di Sathar 32.
Saat ini,Jonga lambang kelincahan, kecerdikan,dan kecepatan ini,masih menggunakan warna lama. Loreng hijau tua dipadu hijau muda, dan cokelat masih menempel lekat. Sebentar lagi, tangantangan terampil putra-putra terbaik yang tergabung di Sathar 32,akan memanjakannya dengan warna baru,loreng abu-abu.
“Warna loreng abu-abu, menjadi warna kamuflase resmi para pesawat tempur TNI AU,” ujar Pembantu Letnan Dua (Pelda) Lagiono. Prajurit TNI AU,yang sudah mengabdikan diri sejak tahun 1986 tersebut,menjadi salah satu bintara senior di Sathar 32. Perannya,khusus dalam hal menangani pengecatan pesawat TNI AU. Banyak pesawat tempur sudah ditanganinya, termasuk pesawat tempur F-16.
Dari tangan telaten para prajurit tersebut, saat ini sudah ada delapan unit pesawat tempur jenis Hawk yang sudah berganti kamuflase loreng abu-abu. Lagiono menyebutkan, pesawat jenis Hawk yang sudah selesai dicat dan diperbaiki, ada di Skuadron Udara 1 sebanyak lima unit, dan di Skuadron Udara 12 sebanyak tiga unit.
“Pengerjaannya dilakukan di Malang. Ada juga yang kami kerjakan di skuadronnya masing-masing,” ujarnya begitu ramah. Butuh sedikitnya 7-8 galon cat,atau sekitar 28-32 liter cat untuk mengecat satu unit pesawat. Pengerjaannya dilakukan selama 1-2 minggu. Prosesnya dimulai dari pembersihan cat lama, perbaikan, kemudian pengecatan dengan cat baru. Kualitas hasil pengecatan, tidak bisa diremehkan. Karya anak negeri ini,sudah terbukti memiliki kualitas tinggi.
Salah satu buktinya,pengecatan yang dilakukan terhadap pesawat tempur taktis F- 16, sudah berusia 10 tahun, namun belum menunjukkan kerusakan.“ Kualitas kami utamakan. Selain itu, kerja seni juga menjadi bagian dari pencetan pesawat ini. Hingga membuat pesawat tampil garang, menawan, dan memiliki kualitas bagus,”ujar Lagiono.
Bukan sekadar kamuflase warna di badannya saja yang diganti dan dibersihkan. Kemampuan avionik, dan listrik instrumen pesawat juga turut dibenahi dan dijaga di Sathar 32. Alhasil,pesawat temput taktis ini tidak hanya garang di luar, namun kegarangan mesinnya layak diacungi jempol.
Kepala unit avionik dan listrik instrumen (Aviolinst) Sathar 32,Letnan Satu (Lettu) Elektronik (Lek) Andhi Setyo menyatakan, setiap pesawat tempur yang masuk perawatan di Sathar 32, akan dicek kondisi keseluruhannya. “Satu incipun tidak boleh luput dari pengecekan, karena kondisi pesawat yang prima akan sangat mendukung kegiatan operasi yang dijalankan,”tegasnya.
Secara keseluruhan, ada tiga tahap yang harus dilaksanakan dalam pengecatan dan perbaikan pesawat tempur ini. Tahapan itu, menurut kontrol kualitas Sathar 32, Pembantu Letnan Satu (Peltu) Haryanto, antara lain tahap predock; in dock; dan post dock.
Tahap pre dock meliputi penerimaan pesawat dari skuadron yang mengoperasionalkan. Kemudian dilanjutkan dengan tes seluruh sistem pesawat, termasuk uji fungsi dan performance engine pesawat. Tahap in dock, berupa pembongkaran, pemeriksaan,perbaikan, dan pengetesan.“Dalam tahap terakhir atau post dock akan dilakukan penimbangan, pengecekan terakhir, dan tes terbang,”terangnya.
Pengalaman dan prestasi pengecatan pesawat,serta perbaikannya ini, sudah berjalan sangat lama. Menurut Komandan Depo Pemeliharaan 30 Lanud TNI AU Abdulrachman Saleh Malang, Kolonel Dento Priyono,pada tahun 2012 ini, jadwal pengecatan sangat padat.
Setelah menyelesaikan pengecatan sebanyak enam pesawat F 16, dilanjutkan pengecatan delapan unit Hawk 100, dan Hawk 200. “Selain itu, masih menyelesaikan pengecatan pesawat angkut Cassa A2103, dan Cassa A2017,” ujarnya.
Setiap pengecatan,dan perbaikan pesawat ini,dilaksanakan oleh tim kecil yang beranggotakan 8-10 orang personel. Mereka terdiri dari satu orang perwira, anggota, dan kontrol kualitas.
Depo Pemeliharan sendiri,membawahi tiga satuan yakni Sathar 31; Sathar 32; dan Sathar 33.
Sebuah kebanggaan tersendiri bagi bangsa ini. Setiap personel Sathar, memiliki ketelitian, kemampuan, dan jiwa seni untuk memperbaiki pesawat tempur. Mereka membuat setiap burung besi TNI AU menjadi garang, layak terbang, dan lincah bermanuver di langit biru, memecah angkasa, menjaga setiap jengkal kedaulatan udara nusantara.
Satu Motif
Seiring dengan terbitnya Petunjuk Teknik Udara (PTU) No 126, perbaikan Ke-4 tahun 2011 tentang standardisasi pola dan warna pengecatan pesawat TNI AU, kini warna pesawat tempur dan angkut ringan pun berubah menjadi satu motif dengan warna yang sama. Tingkat kamuflasenya ketika mengudara ataupun di darat akan semakin sempurna.
Khusus untuk EMB 314 Super Tucano, kata Komandan Satuan Pemeliharaan 32 Depo Pemeliharaan 30 Lanud Abdulrachman Saleh Malang Letkol M Sarifudin, warna pesawat ini memang didesain di Indonesia dan sudah diserahkan ke pihak produsen (Embraer Brasil). Nantinya pesawat tersebut datang ke Indonesia sudah memakai warna khas TNI AU.
Sumber: SINDO/Suara Merdeka
Jumat, 29 Juni 2012
Jupiter Aerobatic Team Beraksi di Langit Bangkok
29 Juni 2012, Bangkok: Jupiter Aerobatic Team (JAT) TNI AU unjuk kebolehan dan telah memukau publik Bangkok dalam atraksinya pada acara Air Show di Appron Terminal Cargo, Don Muang International Airport, Thailand, pada tanggal 29-30 Juni 2012. Tampilnya JAT TNI-AU dimaksud atas undangan Royal Thai Air Force (RTAF) Thailand dalam rangka perayaan 100 Tahun RTAF yang puncak peringatannya akan dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 2012 dan akan dihadiri oleh PM Yingluck Sinawatra, berikut pejabat tinggi negara lainnya baik sipil maupun militer.
Dalam acara peringatan satu abad penerbangan RTAF sebagaimana tersebut di atas, RTAF mengadakan kegiatan dengan mengundang angkatan udara dari sejumlah negara sahabat dalam exhibition, Static Show, Air Show, Aerobatic Show RTAF, RSAF dan TNI AU, serta music band yang dimainkan oleh tim RTAF dan TNI AU. Negara yang terlibat dalam acara ini adalah Thailand, Indonesia, Singapura dan Malaysia.
Keikutsertaan JAT dalam HUT bersejarah penerbangan RTAF Thailand ini merupakan implementasi dan bukti hubungan bilateral yang sangat baik antara TNI AU – RTAF. Kedua belah pihak merupakan negara pertama di ASEAN yang telah melakukan Latihan Bilateral dengan nama Elang Thainesia, yang dimulai 30 tahun yang lalu, dan pada periode waktu selanjutnya diikuti oleh negara-negara ASEAN lainnya.
Setelah pelaksanaan Air Show, telah dilangsungkan pula upacara penyerahan flying suit oleh Komandan JAT TNI AU kepada Commander-in-Chief RTAF ACM Itthaporn Subhawong dan Duta Besar Lutfi Rauf, yang didampingi Atase Udara RI Kol Pnb A.Joko Takarianto.
Duta Besar Lutfi Rauf menyampaikan harapannya bahwa hadirnya JAT dalam peringatan ini menjadi awal tonggak sejarah untuk semakin mempererat hubungan bilateral kedua angkatan udara TNIAU-RTAF.
“Kehadiran JAT merupakan perwujudan dari hubungan yang baik antar kedua negara, terutama antara kedua Angkatan Udara. Disamping itu, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi JAT untuk menunjukkan keterampilan dan profesionalitas para penerbang TNI AU dalam aerobatic team ini” demikian Duta Besar Lutfi menyampaikan.
Sementara itu Commander-in-Chief RTAF menyampaikan penghargaan yang setinggi tingginya dan rasa terima kasih untuk JAT yang telah turut berpartisipasi dalam peringatan 100 tahun penerbangan RTAF Thailand, peringatan yang sangat bersejarah ini sembari mengucapkan salam "EVERLASTING FRIENDSHIP TNI AU-RTAF."
Terdapat hal yang perlu dicatat dalam event ini, bahwa JAT adalah aerobatic team pertama yang hadir dalam perayaan ini. Selain itu, bagi JAT sendiri, event ini merupakan pengalaman pertama tampil di luar negeri. Pada kegiatan ini, tak ketinggalan pula RSAF F16 turut serta dalam solo aerobatic, seluruh pesawat RTAF dengan Aerobatic Team-nya Blue Phoenix, RTN, RSAF, RTA, serta Royal Thai Police yang ikut meramaikan acara.
JAT tiba di Thailand pada tanggal 26 Juni 2012 didahului oleh pesawat tim aju C-130 dari Skuadron Udara 32, disusul 7 pesawat KT1 dan diakhiri oleh pesawat C-130 sebagai pendukung. JAT dan rombongan terbang melalui Medan, Hatyai, Prachuab, Bangkok dimana pada setiap pemberhentian mengisi bahan bakar. Rombongan JAT dipimpin oleh Kol Pnb Lubis, Komandan Wing Pendidikan Terbang dengan diikuti 12 penerbang lainnya.
Sumber: Kemlu
Kamis, 28 Juni 2012
Tim Aerobatik Jupiter TNI AU Tiba di Don Muang
28 Juli 2012, Bangkok: Tim Aerobatik Jupiter dari TNI AU akhirnya mendarat dengan selamat di bandara Don Muang Bangkok pada hari Selasa tanggal 26 Juni 2012 dalam rangka turut berpartisipasi dalam Perayaan 100 tahun Penerbangan Thailand.
Sebelumnya Tim Jupiter telah melakukan perjalanan panjang sebelum akhirnya tiba di Don Muang. Kedatangannya didahului oleh sebuah pesawat tim aju C-130 dari Skadron Udara 32, disusul 7 pesawat KT-1, dan disusul mendaratnya sebuah pesawat C-130 pendukung.
Rombongan Tim Jupiter kebanggaan Indonesia ini berangkat pada hari Minggu 24 Juni 2012 dengan rute Lanud Adisutjipto Yogyakarta – Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta – Lanud Palembang – Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru – Lanud Suwondo Medan – Lanud Hat Yai - Lanud Prachuab – Lanud Don Muang Bangkok.
Rombongan singgah untuk menginap atau RON (Remain Over Night) di kota Palembang dan kota Medan sebelum terbang memasuki wilayah udara tanggal 26 Juni 2012 dan mendarat di Don Muang Bangkok.
Disetiap landasan persinggahan rombongan mengisi bahan bakar dan oksigen yang dibutuhkan dalam penerbangan. Rombongan yang berjumlah 65 orang tersebut berada dibawah Mission Commander (pimpinan) Komandan Wingdik Terbang Kolonel Pnb M. Khairil Lubis.
Untuk Tim Aerobatik Jupiter sendiri terdiri dari 12 Instruktur Penerbang TNI AU dari Lanud Adisutjipto dibawah pimpinan Flight Leader Letkol.Pnb.Dedy Susanto. Tim didampingi Team Supervisor Kolonel Pnb. Anang Nurhadi. Sebagai personel pendukung Tim Jupiter adalah para tehnisi pesawat KT-1B dari Skadik 102 dan Skatek 043 Lanud Adisutjipto.
Saat singgah di landasan Hat Yai kedatangan Tim Jupiter disambut oleh Konjen RI Bapak Heru Wicaksono yang didampingi Komandan Lanud RTAF Hat Yai. Selanjutnya saat tiba di Lanud Don Muang Bangkok rombongan disambut dengan hangat oleh Bapak Dubes RI HE Lutfi Rauf yang didampingi Atase Udara RI Kol Pnb A.Joko Takarianto serta Deputi Direktur Operasi RTAF Group Captain Thawonwat yang mewakili Comannder In Chief RTAF ACM Itthaporn Subhawong.
Pada kesempatan itu Dubes RI menyatakan bahwa kedatangan JAT merupakan perwujudan hubungan yang baik antar kedua negara dan khususnya antar kedua angkatan udara. Kesempatan ini juga bermanfaat untuk menunjukan keterampilan dan profesionalitas para penerbang TNI AU yang diwakili kemampuan aerobatic team ini.
Pada akhir welcoming greetingnya Bapak Dubes menyampaikan selamat dan doa agar semua yang direncanakan dan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar sampai pada saatnya kembali ke Indonesia.
GC Thawonwat pada sambutannya menyampaikan rasa terima kasih yang setinggi tingginya pada TNI AU karena JAT ikut berpartisipasi dalam peringatan seabad penerbangan RTAF Thailand ini.
Perayaan 100 tahun Penerbangan Thailand akan dirayakan dengan meriah di Bangkok pada tanggal 2 Juli 2012. Untuk memeriahkan acara pesta kedirgantaraan ini maka Angkatan Udara Thailand atau Royal Thai Air Force (RTAF) mengadakan kegiatan kedirgantaraan berupa Aerospace Exhibition, dengan pameran kedirgantaraan berupa Static Show dan Air Show.
Untuk memeriahkan pesta kedirgantaraan ini mengundang Jupiter Aerobatic Team TNI AU untuk berpartisipasi dengan unjuk kebolehan di langit diatas area terminal kargo Pangkalan Udara yang juga merangkap Bandara Don Muang.
Tim Aerobatik Jupiter direncanakan akan menampilkan atraksi “High Show” saat cuaca baik dimana cuaca baik dan awan sedikit atau tinggi, dan melaksanakan atraksi “Low Show” saat cuaca diselimuti ketinggian dasar awan rendah yang tidak memungkinkan manuver vertical. Adapun manuver saat cuaca cukup baik untuk melakukan manuver vertical akan ditampilkan “High Show” dengan antara lain : Jupiter Roll, Loop, X-Clover Leap, Jupiter Wheel, Mirror, Tango to Diamond, Kite Barrel dan Jupiter Roll back. Sedangkan pada saat cuaca kurang memungkinkan untuk manouver vertical maka akan dilaksanakan“Low Show” dengan melaksanakan Jupiter Roll, Hi “G” Turn, Jupiter Wheel, Screw Roll, Mirror, Roll Slide dan Break Off.
Tampilnya tim aerobatik Jupiter TNI AU yang merupakan kebanggaan rakyat Indonesia ini dalam rangka berpartisipasi memeriahkan perayaan seabad penerbangan RTAF Thailand. Hal ini menjadi bukti implementasi hubungan bilateral TNI AU-RTAF mewakili hubungan kedua Negara yang sangat baik dan erat. TNI AU dan RTAF merupakan dua Angkatan Udara pertama di ASEAN yang mempunyai Latihan Bilateral dengan nama Elang Thainesia sejak 30 tahun lebih yang lalu sebelum adanya latihan bersama diantara sesama anggota ASEAN lainnya.
Sejarah juga akan mencatat bahwa JAT adalah tim aerobatik luar negeri pertama yang hadir dalam perayaan ini dan disisi lain JAT juga mencatat sejarahnya sebagai pengalaman pertama tampil di arena kedirgantaraan di luar negeri.
Pada kegiatan ini tak ketinggalan pula pesawat F-16 dari RSAF akan turut serta dalam solo aerobatik. Disamping itu akan tampil seluruh pesawat milik RTAF disamping pesawat milik RTN, RTA serta Royal Thai Police juga ikut meramaikan. RTAF juga akan menampilkan Tim Aerobatiknya yang dikenal dengan nama Blue Phoenix.
Dalam perayaan kedirgantaraan ini, disamping airshow juga digelar exhibition dan static show di Appron Terminal Cargo Bandara Don Muang.
Kegiatan pesta kedirgantaraan sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 29-30 Juni dengan puncak acaranya pada tanggal 2 Juli ditandai dengan Upacara Peringatan yang akan dihadiri PM Thailand Yingluck Sinawatra dan pejabat tinggi negara lainnya, baik dari kalangan sipil maupun militer.
Tujuan kehadiran Tim Aerobatik TNI AU Jupiter dalam perayaan 100 Tahun Aviation Thailand adalah menjalin hubungan persahabatan antara kedua Negara dan khususnya kedua Angkatan Udara.
Tujuan lainnya adalah untuk memperkenalkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia juga memiliki putra-putra bangsa yang tidak kalah bersaing dalam kancah kedirgantaraan dunia lewat unjuk kebolehan Tim Aerobatik TNI AU di pentas internasional.
Semoga hadirnya JAT dalam peringatan ini mempererat hubungan bilateral kedua Negara sekaligus menjadi awal tonggak sejarah kebangkitan kembali dunia kedirgantaraan Indonesia.
Sumber: Dispenau
Selasa, 26 Juni 2012
Tujuh Wong Bee Singgah di Lanud Soewondo
Tiga orang anak melihat 7 pesawat latih tempur jenis KT 1B Wong Bee, yang dibawa Jupiter Aerobatic Team TNI AU, di Lanud Medan, Sumut, Senin (25/6). Kedatangan 7 pesawat latih tempur tersebut, untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang kemampuan pesawat yang akan mengikuti kegiatan 100 tahun Aviasi Thailand. (Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi/ss/ama/12 )
26 Juni 2012, Medan: Sebanyak 7 pesawat latih tempur dan latih lanjut milik TNI-AU yang akan mengikuti acara 100 Tahun Aviasi Dunia di Thailand tiba di Bandara TNI-AU Soewondo, Jalan Adi Sucipto Medan, Senin (25/6) siang.
Tujuh pesawat jenis KT-1B Wong Bee dengan jumlah 14 penerbang TNI-AU disambut oleh Danlaud Kol Pnb A Rasyid Jauhari, Kadispora Medan, Hanas Hasibuan, Camat Medan Polonia, perwakilan Kodam I/BB, perwakilan Lantamal Belawan, perwakilan Polda Sumut, dan perwira di jajaran TNI-AU Medan.
Begitu turun dari pesawat, Kadispora Medan, Hanas Hasibuan, mewakili Wali Kota Medan langsung menyerahkan ulos kepada Komandan Tim Jupiter Indonesia Airforce TNI-AU yang diterima oleh Letkol Pnb Dedy Susanto, yang juga Komandan Skuadron Pendidikan 102 Lanud Adi Sucipto Yogyakarta.
Kedatangan ke-14 penerbang TNI-AU tersebut juga disambut dengan lagu-lagu yang dipersembahkan marching band siswa taruna-taruni ATKP Medan. Keempat belas penerbang tersebut disambut dengan 5 buah lagu.
Warga juga antusias datang ke lokasi Lanud TNI-AU Soewondo Medan menyambut kedatangan 14 penerbang tersebut. Sebelum turun, terlebih dahulu 7 pesawat yang masing-masing dikemudikan 2 orang di dalam pesawat itu melakukan manuver ringan di hadapan para tamu dan masyarakat yang ada di Lanud Soewondo TNI-AU Medan.
Danlanud Soewondo Medan, Kol Pnb A Rasyid Jauhari mengatakan, ketujuh pesawat ini singgah di Medan dan akan dilanjutkan berangkat Selasa hari ini dalam rangka mengikuti acara 100 Tahun Aviasi Dunia di Thailand.
Menurutnya, ini merupakan jenis pesawat spesifikasi latih tempur dan latih lanjut yang wajib dipergunakan oleh para siswa-siswi penerbang seperti Taruna Akademi TNI AU.
“Pesawat ini dilengkapi dengan 1 baling-baling dan pesawat dilengkapi dengan 1 awak di depan dan 1 awak di belakang,” sebutnya. Leader Tim Jupiter Indonesia Airforce TNI-AU, Letkol Pnb Dedy Susanto yang juga Komandan Skuadron Pen didikan 102 Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta mengaku, jenis pesawat KT-1B Wong Bee ini bisa melakukan full manuver ringan dan sedang.
Sumber: Harian Sumut Pos
26 Juni 2012, Medan: Sebanyak 7 pesawat latih tempur dan latih lanjut milik TNI-AU yang akan mengikuti acara 100 Tahun Aviasi Dunia di Thailand tiba di Bandara TNI-AU Soewondo, Jalan Adi Sucipto Medan, Senin (25/6) siang.
Tujuh pesawat jenis KT-1B Wong Bee dengan jumlah 14 penerbang TNI-AU disambut oleh Danlaud Kol Pnb A Rasyid Jauhari, Kadispora Medan, Hanas Hasibuan, Camat Medan Polonia, perwakilan Kodam I/BB, perwakilan Lantamal Belawan, perwakilan Polda Sumut, dan perwira di jajaran TNI-AU Medan.
Begitu turun dari pesawat, Kadispora Medan, Hanas Hasibuan, mewakili Wali Kota Medan langsung menyerahkan ulos kepada Komandan Tim Jupiter Indonesia Airforce TNI-AU yang diterima oleh Letkol Pnb Dedy Susanto, yang juga Komandan Skuadron Pendidikan 102 Lanud Adi Sucipto Yogyakarta.
Kedatangan ke-14 penerbang TNI-AU tersebut juga disambut dengan lagu-lagu yang dipersembahkan marching band siswa taruna-taruni ATKP Medan. Keempat belas penerbang tersebut disambut dengan 5 buah lagu.
Warga juga antusias datang ke lokasi Lanud TNI-AU Soewondo Medan menyambut kedatangan 14 penerbang tersebut. Sebelum turun, terlebih dahulu 7 pesawat yang masing-masing dikemudikan 2 orang di dalam pesawat itu melakukan manuver ringan di hadapan para tamu dan masyarakat yang ada di Lanud Soewondo TNI-AU Medan.
Danlanud Soewondo Medan, Kol Pnb A Rasyid Jauhari mengatakan, ketujuh pesawat ini singgah di Medan dan akan dilanjutkan berangkat Selasa hari ini dalam rangka mengikuti acara 100 Tahun Aviasi Dunia di Thailand.
Menurutnya, ini merupakan jenis pesawat spesifikasi latih tempur dan latih lanjut yang wajib dipergunakan oleh para siswa-siswi penerbang seperti Taruna Akademi TNI AU.
“Pesawat ini dilengkapi dengan 1 baling-baling dan pesawat dilengkapi dengan 1 awak di depan dan 1 awak di belakang,” sebutnya. Leader Tim Jupiter Indonesia Airforce TNI-AU, Letkol Pnb Dedy Susanto yang juga Komandan Skuadron Pen didikan 102 Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta mengaku, jenis pesawat KT-1B Wong Bee ini bisa melakukan full manuver ringan dan sedang.
Sumber: Harian Sumut Pos
Langganan:
Postingan (Atom)































