Tampilkan postingan dengan label Bilateral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bilateral. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Agustus 2012
Azerbaijan Tawarkan Kerjasama di Bidang Pertahanan
23 Agustus 2012, Jakarta: Dihari pertama kerja usai Hari Raya Idul Fitri, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Sekjen Kemhan) RI, Marsdya TNI Eris Heryanto, Kamis (23/8) menerima kunjungan, Duta Besar Republik Azerbaijan untuk RI, Ibrahim A. Hajiyev, di Kantor Kemhan, Jakarta.
Pertemuan yang berlangsung hangat diantara dua pejabat tersebut saling bertukar pikiran mengenai perkembangan hubungan dalam pembangunan bidang ekonomi dan investasi yang terjadi diantara dua negara.
Pada kesempatan tersebut Dubes Azerbaijan mengatakan saat ini, pemerintahnya sangat tertarik kepada pembangunan hubungan di bidang ekonomi dan invenstasi dengan pemerintah Indonesia. Ditambahkannya, karena Indonesia merupakan salah satu negera yang menjadi prioritas negara bagi pemerintah Azerbaijan dalam hal kerjasama internasional.
Senapan anti-material Istiglal 14,5mm produksi industri pertahanan Azerbaijan. (Foto: Ministry of Defence Industry Azerbaijan)
Disamping itu Dubes Azerbaijan menyatakan saat ini pemerintahnya juga menaruh perhatian kepada kerjasama di bidang pertahanan secara luas dengan Indonesia. Secara khusus dalam hal pengadaan persenjataan dan peralatan personel militer. Karena menurut Dubes Azerbaijan militer di negaranya masih dalam tahap pengembangan kekuatan pertahanan.
Diungkapkan Dubes Azerbaijan, sebagai tindak lanjut kedepannya, dirinya akan mengundang Menteri Pertahanan Azerbaijan untuk berkunjung ke Indonesia untuk menindak lanjuti kerjasama yang ingin dilaksanakan kedua negara.
Sementara itu Sekjen Kemhan RI menyambut baik penawaran pembangunan hubungan kerjasama bidang pertahanan dari pemerintah Azerbaijan. Sekjen juga mengatakan, saat ini Indonesia juga tengah berupaya untuk mengembangkan kapabilitas kekuatan pertahanan terlebih dalam hal pengadaan alutsista dan peralatan personel militer baik dari dalam ataupun luar negeri.
“ Kami juga sangat tertarik jika pemerintah anda ingin bekerjasama dengan pemerintah kami. Kita bisa saling bertukar pikiran tentang kapabilitas dibidang pertahanan,” Ungkap Sekjen Kemhan RI.
Sumber: DMC
HTMS Rattanakosin Bersandar di Tanjung Perak
Sejumlah anak buah kapal (ABK) kapal perang HTMS Rattanakosin-441 milik Thailand berada di geladak kapal yang sandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jatim, Rabu (22/8). HTMS Rattanakosin 441 yang merupakan Kapal Perang Class Corvette berisi 116 awak termasuk perwira dan bintara tersebut dalam rangka melanjutkan perjalanan ke Darwin, Australia untuk melakukan latihan bersama "Exercise Kakadu 2012"pada Kamis (23/8). (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/ama/12)
22 Agustus 2012, Surabaya: Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V menyambut kedatangan Kapal Perang Thailand HTMS Rattanakosin 441, yang sandar di Dermaga Jamrud Utara Tanjung Perak Surabaya, Rabu (22/8).
HTMS Rattanakosin 441 adalah Kapal perang Thailand Class Corvette dibuat pada tahun 1986 di USA, Kapal tersebut memiliki panjang 76,8 Meter, lebar 9,6 meter, draft 4,5 meter, bobot 960 ton dan mast 20 meter. Dalam melaksanakan berlayar dan bertempur dilengkapi dengan persenjataan Main Gun: 1 x oto Merala 76/62 Naval Gun, AA Gun: 1 x 40/70 Bre3da twin AA Gun, Secondary Gun: 2x20 mm Rheimental Gun, SSM: 1 x AspideLauncher With 8 Aspide Missiles dan dilengkapi senjata Utama jenis Terpedo: 6 x Mk.46.
Kapal Perang Class Corvette ini di Komandani oleh Comander Bira Adulyasak dengan jumlah ABK 116 Orang Prrajurit, Perwira 28 orang, Bintara beserta Tamtama berjumlah 88 Orang.
Kedatangan Kapal Perang Thailand tersebut adalah dalam rangka melaksanakan bekal ulang setelah melaksanakan latihan dengan beberapa Negara di Asia.
Hadir dalam acara penyambutan Kapal Perang tersebut Atase Pertahanan Thailand Kolonel Aphicat, Komandan Tim Intel (Dantim Intel) Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V Letkol Laut (P) M. Risahdi, Kepala Dinas Kesyahbandaran TNI AL (Kadissyahal) Lantamal V Letkol Laut Didik Dhuwijantoko, Komandan Satuan Keamanan Laut (Dansatkamla) Mayor Laut (P) Yanu Mawanda, Pabanren Sintel Lantamal V, Paban Ops Sops Lantamal V. Juga melibatkan satu unit Satsik Denma Lantamal V, Satu Peleton Pama Koarmatim, Satu Peleton Bintara / Tamtama Koarmatim, dan Satu Peleton Pasukan Merplog Satsiaga Denma Lantamal V.
Setibanya didermaga Gapura Surya Comander Bira Abdulyasak disambut secara resmi oleh Dantim Intel Lantamal V beserta staf yang sebelumnya diawali dengan Tarian Remo khas Jawa Timuran dari Sanggar Tari Manunggal Cipta Mandiri Pimpinan Sapto Sutedjo yang mengandung makna penyambutan bagi tamu-tamu kehormatan. dilanjutkan pengalungan bunga kepada Komandan Kaprang Thailand oleh perwakilan grup Tari Remo.
Sumber: Lantamal V Acara dilanjutkan dengan pemberian Cinderamata dari Komandan Kaprang Thailand kepada Dantim Intel Lantamal V Letkkol Laut (P) M. Risahdi di Long Room HTMS Rattanakosin, sebagai ucapan terima kasih dari Komandan Kaprang Thailand kepada Angkatan Laut Indonesia dalam hal ini Lantamal V yang diwakili oleh Dantim Intel atas penyambutannya.
Sumber: Lantamal V
22 Agustus 2012, Surabaya: Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V menyambut kedatangan Kapal Perang Thailand HTMS Rattanakosin 441, yang sandar di Dermaga Jamrud Utara Tanjung Perak Surabaya, Rabu (22/8).
HTMS Rattanakosin 441 adalah Kapal perang Thailand Class Corvette dibuat pada tahun 1986 di USA, Kapal tersebut memiliki panjang 76,8 Meter, lebar 9,6 meter, draft 4,5 meter, bobot 960 ton dan mast 20 meter. Dalam melaksanakan berlayar dan bertempur dilengkapi dengan persenjataan Main Gun: 1 x oto Merala 76/62 Naval Gun, AA Gun: 1 x 40/70 Bre3da twin AA Gun, Secondary Gun: 2x20 mm Rheimental Gun, SSM: 1 x AspideLauncher With 8 Aspide Missiles dan dilengkapi senjata Utama jenis Terpedo: 6 x Mk.46.
Kapal Perang Class Corvette ini di Komandani oleh Comander Bira Adulyasak dengan jumlah ABK 116 Orang Prrajurit, Perwira 28 orang, Bintara beserta Tamtama berjumlah 88 Orang.
Kedatangan Kapal Perang Thailand tersebut adalah dalam rangka melaksanakan bekal ulang setelah melaksanakan latihan dengan beberapa Negara di Asia.
Hadir dalam acara penyambutan Kapal Perang tersebut Atase Pertahanan Thailand Kolonel Aphicat, Komandan Tim Intel (Dantim Intel) Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V Letkol Laut (P) M. Risahdi, Kepala Dinas Kesyahbandaran TNI AL (Kadissyahal) Lantamal V Letkol Laut Didik Dhuwijantoko, Komandan Satuan Keamanan Laut (Dansatkamla) Mayor Laut (P) Yanu Mawanda, Pabanren Sintel Lantamal V, Paban Ops Sops Lantamal V. Juga melibatkan satu unit Satsik Denma Lantamal V, Satu Peleton Pama Koarmatim, Satu Peleton Bintara / Tamtama Koarmatim, dan Satu Peleton Pasukan Merplog Satsiaga Denma Lantamal V.
Setibanya didermaga Gapura Surya Comander Bira Abdulyasak disambut secara resmi oleh Dantim Intel Lantamal V beserta staf yang sebelumnya diawali dengan Tarian Remo khas Jawa Timuran dari Sanggar Tari Manunggal Cipta Mandiri Pimpinan Sapto Sutedjo yang mengandung makna penyambutan bagi tamu-tamu kehormatan. dilanjutkan pengalungan bunga kepada Komandan Kaprang Thailand oleh perwakilan grup Tari Remo.
Sumber: Lantamal V Acara dilanjutkan dengan pemberian Cinderamata dari Komandan Kaprang Thailand kepada Dantim Intel Lantamal V Letkkol Laut (P) M. Risahdi di Long Room HTMS Rattanakosin, sebagai ucapan terima kasih dari Komandan Kaprang Thailand kepada Angkatan Laut Indonesia dalam hal ini Lantamal V yang diwakili oleh Dantim Intel atas penyambutannya.
Sumber: Lantamal V
Kamis, 02 Agustus 2012
Pengamat: Indonesia-Australia Berusaha Cegah Konflik Bersejata karena Masalah Pencari Suaka
Sejumlah personel TNI-AL mengamati perairan Samudra Hindia saat mengikuti operasi penyisiran pencarian korban kapal pencari suaka asal Srilangka yang tenggelam di sisi Utara Pulau Chrismast, Australia, di wilayah perairan Indonesia, Minggu (24/6). TNI-AL melakukan operasi penyisiran lanjutan untuk mencari para pencari suaka asal Srilangka yang masih belum ditemukan setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam pada Kamis (21/6) lalu. Sejauh ini 110 orang dari sekitar 200 penumpang kapal tersebut telah berhasil diselamatkan dan dibawa menuju Pulau Chrismast, Austalia. (Foto: ANTARA/Ismar Patrizki/ss/pd/12)
3 Agustus 2012, Washington: Para pengamat menilai, kesepakatan untuk menyelamatkan para pencari suaka itu harus dicermati secara seksama untuk mencegah konflik bersenjata.
Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa mengatakan, gagasan mengenai kesepakatan maritim antara kedua negara bertetangga di kawasan Asia-Pasifik itu mencuat dari kunjungan Presiden Indonesia ke Darwin bulan lalu.
Tahun lalu, ratusan pencari suaka tenggelam di lepas pantai pulau Jawa ketika sedang dalam perjalanan laut menuju Australia, sementara ratusan kapal mengeluarkan panggilan permintaan bantuan.
Jakarta tidak memiliki kapasitas untuk merespon semua situasi darurat itu. Pekan lalu, misalnya, sebuah kapal yang sarat pencari suaka mengalami kesulitan dekat Pulau Bali namun pihak berwenang setempat tidak dapat menolong karena sudah malam, sementara angkatan laut Australia yang siap membantu terpaksa menunggu adanya permintaan bantuan resmi dari Indonesia.
Michael White, guru besar hukum laut di Universitas Queensland, Australia, mengatakan, peraturan dasar harus dipertimbangkan secara seksama untuk menghindari terjadinya konflik yang tidak diinginkan.
Sementara perundingan berlanjut, lebih banyak kapal yang mengangkut para pencari suaka berusaha melakukan perjalanan berbahaya dengan melintas dari Indonesia ke Australia. Sejauh ini pada tahun 2012, sekitar tujuh ribu orang berhasil dihentikan patroli-patroli perbatasan Australia.
Sebelumnya pekan ini, Angkatan Laut Australia membantu sebuah kapal yang sedang kesulitan dan mengangkut 65 tersangka pencari suaka dekat Pulau Sumba.
Di Canberra, pemerintah telah membentuk sebuah komisi independen untuk mempertimbangkan masalah migrasi ilegal setelah pemerintah gagal mendapat dukungan parlemen untuk rencana mereka mengirim ratusan pencari suaka ke Malaysia. Para pengritik menentang rencana itu karena Malaysia tidak menandatangani konvensi PBB mengenai pengungsi. Australia memberikan visa ke sekitar 13 ribu pengungsi setiap tahunnya, berdasarkan beragam kesepakatan global.
Sumber: VOA
3 Agustus 2012, Washington: Para pengamat menilai, kesepakatan untuk menyelamatkan para pencari suaka itu harus dicermati secara seksama untuk mencegah konflik bersenjata.
Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa mengatakan, gagasan mengenai kesepakatan maritim antara kedua negara bertetangga di kawasan Asia-Pasifik itu mencuat dari kunjungan Presiden Indonesia ke Darwin bulan lalu.
Tahun lalu, ratusan pencari suaka tenggelam di lepas pantai pulau Jawa ketika sedang dalam perjalanan laut menuju Australia, sementara ratusan kapal mengeluarkan panggilan permintaan bantuan.
Jakarta tidak memiliki kapasitas untuk merespon semua situasi darurat itu. Pekan lalu, misalnya, sebuah kapal yang sarat pencari suaka mengalami kesulitan dekat Pulau Bali namun pihak berwenang setempat tidak dapat menolong karena sudah malam, sementara angkatan laut Australia yang siap membantu terpaksa menunggu adanya permintaan bantuan resmi dari Indonesia.
Michael White, guru besar hukum laut di Universitas Queensland, Australia, mengatakan, peraturan dasar harus dipertimbangkan secara seksama untuk menghindari terjadinya konflik yang tidak diinginkan.
Sementara perundingan berlanjut, lebih banyak kapal yang mengangkut para pencari suaka berusaha melakukan perjalanan berbahaya dengan melintas dari Indonesia ke Australia. Sejauh ini pada tahun 2012, sekitar tujuh ribu orang berhasil dihentikan patroli-patroli perbatasan Australia.
Sebelumnya pekan ini, Angkatan Laut Australia membantu sebuah kapal yang sedang kesulitan dan mengangkut 65 tersangka pencari suaka dekat Pulau Sumba.
Di Canberra, pemerintah telah membentuk sebuah komisi independen untuk mempertimbangkan masalah migrasi ilegal setelah pemerintah gagal mendapat dukungan parlemen untuk rencana mereka mengirim ratusan pencari suaka ke Malaysia. Para pengritik menentang rencana itu karena Malaysia tidak menandatangani konvensi PBB mengenai pengungsi. Australia memberikan visa ke sekitar 13 ribu pengungsi setiap tahunnya, berdasarkan beragam kesepakatan global.
Sumber: VOA
Selasa, 31 Juli 2012
Terima Dubes Turki, Parlemen Inginkan Percepat Realisasi Kerjasama Pertahanan
31 Juli 2012, Jakarta: Ketua Komisi I DPR menerima kunjungan kehormatan Dubes Turki untuk Indonesia. Kunjungan tersebut dalam rangka mempersiapkan rencana Kunjungan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan ke Indonesia.
"Awalnya mereka akan berkunjung pada tahun 2014 namun dipercepat guna mempertimbangkan agenda Pemilu di Indonesia dan di Turki, akhirnya direncanakan tahun 2012," ujar Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq, di Gedung Nusantara II DPR, Kamis, (26/7).
Menurut Mahfudz, Turki merupakan negara muslim terbesar di Barat. Sementara Indonesia negara muslim terbesar di Timur karena itu, secara historis hubungan Indonesia dan Turki sudah berlangsung selama ratusan tahun. Jadi kunjungan PM Turki ini mempunyai peranan penting mengupdate hubungan bilateral kedua negara khususnya bidang pertahanan karena antara kedua negara sudah ada MOU kerjasama pertahanan dan militer di dua level tingkat Presiden dan Menteri.
"Implementasi dan realisasi yang mereka rasakan berjalan lamban, sementara pihak turki sendiri sangat terbuka dan ingin kerjasama pertahanan militer dan industri pertahanan ini bisa segera berjalan," ujarnya.
Dia menambahkan, Parlemen Indonesia mencoba memberikan informasi atau gambaran lebih detailnya guna mempercepat realisasi dan implementasi dari MOU tersebut. "Kita Beberapa kali rapat dengan Menhan pernah menyampaikan perlunya merealisasikan kerjasama dengan Turki, termasuk kerjasama dalam pengadaan Alutsista. Karena secara industri Turki ini sudah maju dan Produknya berstandar NATO," tambahnya.
Dia mengatakan, Saat kunker Komisi I DPR ke Turki dan menemui menteri Pertahanan Turki dan Industri pertahanan Turki, mereka menyatakan komitmennya untuk mengembangkan industrinya di Indonesia, termasuk kerjasama dengan industri pertahanan nasional Indonesia. "Akan sangat menguntungkan bagi Indonesia, karena itu kita perlu dorongan lebih kuat pada pihak Indonesia," ujarnya.
Sumber: DPR
Kamis, 26 Juli 2012
Kemhan dan SASTIND China Adakan Pertemuan Pertama
26 Juli 2012, Jakarta: Kementerian Pertahanan dalam hal ini Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan mengadakan 1st Defense Industry Cooperation Meeting RI – China, Rabu (25/7), di Kantor Kemhan, Jakarta. Pertemuan dipimpin oleh Dirjen Pothan Kemhan Dr Ir Pos M Hutabarat MA, PhD dari pihak Kemhan RI, sedangkan Delegasi China dipimpin oleh Deputy Director General Department of Military Trade and Foreign Affair, SASTIND, Liu Yunfeng. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Dir Tekind Ditjen Pothan Kemhan Brigjen TNI Ir Agus Suyarso, Kapus Ada Baranahan Kemhan Marsma TNI Asep Sumarrudin MSc dan perwakilan dari Mabes TNI, Angkatan dan BUMN Industri Pertahanan.
Saat membuka kegiatan tersebut Dirjen Pothan menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan kelanjutan dari penandatanganan MoU dan LoI antara Kemhan RI dan SASTIND China pada tanggal 22 Maret 2011. Kerjasama industri dan logistik pertahanan yang ingin dikembangkan antara lain ; pengadaan peralatan militer di bidang-bidang tertentu yang disepakati antara kedua Pemerintah dan transfer teknologi peralatan militer tertentu yang tidak terbatas pada perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, up grade dan pelatihan.
Selain itu, ingin dijalin pula kerjasama dalam produksi bersama peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu dan pemasaran bersama peralatan militer tertentu di dalam dan di luar negara masing-masing. Dalam pertemuan RI-China yang membahas mengenai kerjasama industri pertahanan ini diharapkan dapat meningkatkan kerjasama bilateral kedua negara khususnya di bidang industri dan logistik pertahanan yang lebih berimbang dalam hal alih teknologi dan nilai ekonominya.
Dirjen Pothan melanjutkan, terjalinnya kerjasama industri pertahanan dengan China diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemberdayaan segenap kemampuan industri nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan Alutsista. Beberapa jenis Alutsista yang dibicarakan antara lain ; C705 Antiship Missile dan CMS KCR 40C.
Delegasi China yang berjumlah 13 orang tersebut selain melakukan pertemuan dengan pihak Kemhan juga mengunjungi industri pertahanan seperti PT Pindad, PT DI, dan PT LEN di Bandung. Delegasi ini merupakan perwakilan dari SASTIND (State Administration for Science, Technology and Industry for National Defence) yaitu suatu otoritas sipil terkemuka di China yang bertanggung jawab langsung kepada Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT) . Tanggung jawab utama mereka diantaranya adalah menyusun pedoman, kebijakan, hukum dan peraturan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan industri pertahanan nasional.
Sumber: DMC
Senin, 16 Juli 2012
Panglima Armada Pasifik USN Kunjungan ke Menhan
17 Juli 2012, Jakarta: Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, Senin (16/7) menerima kunjungan Commander of US Pacific Fleet, Admiral Cecil Haney, di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.
Pada kesempatan tersebut, di bicarakan beberapa isu-isu yang berkembang seputar keamanan maritim di wilayah regional Asean dan Asia Pasifik, seperti Selat Malaka dan wilayah Laut Cina Selatan. Menhan menyampaikan TNI AL beserta lembaga terkait yang ada di pemerintahan Indonesia lainnya sangatlah berperan penting untuk mengamankan teritorial wilayah Indonesia yang sebagian besar terdiri dari lautan.
Ditambahkan Menhan fungsi pengamanan maritim ini juga sangat penting diwilayah-wilayah perairan yang menjadi jalur ekonomi dan perdagangan laut internasional seperti di Selat Malaka.
Menurut Menhan terkait pengamanan maritim yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia bersama negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand di wilayah Selat Malaka sangatlah efektif dan optimal. Selain itu pengamanan maritim yang dilakukan ini juga tidak terlepas dari adanya kontribusi dari pihak Amerika dengan pemberian bantuan berupa alat radar pengawasan laut atau Integrated Maritime Surveillance System.
Hal ini ditandai dengan menurunnya tindakan kejahatan seperti perompakan laut baik yang bertaraf nasional maupun internasional.
Menhan juga pada kesempatan pertemuan tersebut menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan kepada Pemerintah Amerika atas kerjasama dan dukungan kontribusi yang telah dijalin selama ini.
Sementara itu Admiral Cecil Haney juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia atas kesempatan yang diberikan kepada beberapa kapal perang Amerika yang berkunjung ke Indonesia untuk menjalin kerjasama ataupun latihan bersama dengan TNI Angkatan Laut.
Pada kesempatan tersebut Menhan didampingi Dirjen Strahan Kemhan Mayjen TNI Puguh Santoso, Dirjen Kuathan Kemhan Laksda TNI Bambang Suwarto dan Kapuskom Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin.
Sumber: DMC
Selasa, 10 Juli 2012
Wamenhan Teputi Menperindag Republik Ceko Jajaki Kerjasama Industri Pertahanan
9 Juli 2012, Jakarta: Jakarta, DMC – Wakil Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, Senin ( 9/7) menerima kunjungan Deputi Menteri Industri dan Perdagangan Czech Republic, Milan Hovorka di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.
Maksud kunjungan Deputi Menteri Industri dan Perdagangan Republik Ceko ke Indonesia merupakan rangkaian kunjungan audiensi kebeberapa industri di negara-negara Asia. Kaitan kedatangannya ke Kemhan RI tersebut selain sebagai partner kerja untuk membicarakan hubungan pertemanan antara kedua negara, juga untuk melakukan studi banding mengenai perspektif bidang industri pertahanan dan keamanan.
Selain itu Deputi mengharapkan kedatangannya kali ini dapat menyatukan semua sinergi dan mutualisme simpati yang positif melalui perdagangan dan invenstasi khususnya pengembangan kerjasama bidang industri pertahanan antara Indonesia dan Republik Ceko. Deputi juga sangat berharap dalam waktu dekat dapat menjalin peluang kerjasama dan mengimplentasi perjanjian tersebut kearah yang lebih konkrit.
Pada kesempatan pertemuan tersebut Wamenhan menjelaskan gambaran kaitan antara sektor Pertahanan dengan sektor ekonomi. Disampaikan oleh Wamenhan dalam hal ini Pemerintah Indonesia memiliki kebijakan umum mengenai Pertahanan yang mendukung sektor ekonomi.
Sehubungan dengan hal tersebut saat ini Indonesia tengah melakukan beberapa upaya untuk memodernisasi kekuatan pertahanan, salah satunya melalui peningkatan industri pertahanan dalam negeri serta mengembangkan kerjasama industri pertahanan dari luar negeri.
Diungkapkan Wamenhan, terkait kerjasama yang diadakan dengan Republik Ceko, bulan lalu DPR RI telah meratifikasi perjanjian kerjasama pertahanan antara Indonesia dengan Republik Ceko, dan saat ini tengah menunggu persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Lebih lanjut Wamenhan menuturkan, Pemerintah Indonesia memiliki suatu Komisi yang berada langsung dibawah presiden untuk mengelola proses pengadaan Alutsista dan non Alutsista. Komisi ini didalamnya terdapat 4 menteri, Menhan, Menteri Industri, Menteri BUMN, dan Menristek serta komponen user atau pengguna yaitu Panglima, Kepala Staf Angkatan dan Kapolri.
Komisi ini membuat kebijakan yang mengarah kepada usaha untuk mendukung seluruh kebutuhan perlengkapan dari angkatan bersenjata serta meningkatkan komunitas industri pertahanan alutsista dan nonalutsista yang ada didalam negeri.
Meski demikian Wamenhan mengatakan Kemhan RI masih dapat memfasilitasi dan mengakomodir penawaran-penawaran kerjasama pertahanan yang datang dari luar negeri. Namun, menurut Wamenhan ketika menjalin kerjasama dengan beberapa negara lain Indonesia melalui Kemhan RI mengundang mereka untuk bekerjasama dengan dasar skema Produksi bersama dan skema pengembangan bersama pada salah satu produk yang akan dapat dikembangkan.
“ Kita akan memfasilitasi dan mengakomodasi segala penawaran kerjasama indsutri pertahanan dari luar negeri,” Ungkap Wamenhan.
Saat menerima kunjungan Milan Hovorka, Wamenhan didampingi Dirjen Strategi Pertahanan, Mayjen TNI Puguh Santoso, Direktur Tekhnik Industri (Dirtekind), Brigjen TNI. Agus Soeyarso, dan Kapuskom Publik Kemhan, Brigjen TNI Hartind Asrin.
Sumber: DMC
Senin, 09 Juli 2012
Indonesia dan Republik Ceko Jajaki Kerja Sama Industri Pertahanan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) dan Presiden Republik Ceko Vaclav Klaus (kiri) saat memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (9/7). Presiden Yudhoyono dan Presiden Klaus beserta masing-masing delegasi melakukan pertemuan bilateral untuk meningkatkan hubungan kerjasama kedua negara. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/ama/12)
9 Juli 2012, Jakarta: Kunjungan kenegaraan Presiden Republik Ceko Vaclav Klaus ini penting bagi peningkatan kerja sama dan kemitraan Indonesia-Ceko. Perdagangan, investasi, dan pariwisata akan menjadi pilar bagi kerja sama bilateral. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal ini dalam keterangan pers bersama Presiden Vaclav Klaus, seusai pertemuan bilateral, di Istana Merdeka, Senin (9/7) sore. "Hubungan bilateral Indonesia dengan Republik Ceko berjalan dengan baik dan terus berkembang. Sebagai contoh hubungan perdagangan bilateral meningkat secara signifikan dari tahun 2010 ke 2011 meskipun jumlahnya masih relatif kecil," kata Presiden SBY.
Republik Ceko, SBY menambahkan, adalah negara yang penting di kawasan Eropa tengah dan timur, sedangkan Indonesia merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. "Kita berharap perdagangan dan investasi bisa ditingkatkan," SBY menambahkan.
Menurut Presiden SBY, pertemuan bilateral antara delegasi Indonesia dan Republik Ceko berlangsung konstruktif dan produktif. Ada tiga hal yang dibahas secara mendalam, yakni perdagangan, investasi, dan pariwisata. "Ini akan menjadi pilar atau prioritas kerja sama bilateral kita di waktu mendatang," SBY menjelaskan.
Kerja sama di bidang ekonomi hijau, energi terbarukan, dan industri pertahanan menjadi bagian lain yang dibicarakan dalam pertemuan bilateral. Pertemuan juga membahas situasi global sekarang ini, terutama perkembangan terbaru di Zona Euro.
Dalam delegasi Republik Ceko, terdapat komunitas bisnis yang juga menyempatkan untuk berinteraksi dengan mitranya dari Indonesia. Presiden SBY menilai hal ini penting karena di era globalisasi sekarang ini, konektivitas bukan hanya antarpemerintah atau parlemen, melainkan juga antarkomunitas bisnis dan antarwarga.
Sementara itu, Presiden Vaclav Klaus dalam keterangan persnya berharap masyarakat Indonesia dan Ceko dapat meningkatkan saling kunjung. Mengenai energi terbarukan, pemerintah Republik Ceko berinvestasi besar untuk itu. Vaclac menjelaskan bahwa sekarang ini terjadi degradasi lingkungan. "Saya harap ini pembahasan yang bisa terus kita wujudkan bersama," ujar Vaclav Klaus.
Sumber: Presiden RI
9 Juli 2012, Jakarta: Kunjungan kenegaraan Presiden Republik Ceko Vaclav Klaus ini penting bagi peningkatan kerja sama dan kemitraan Indonesia-Ceko. Perdagangan, investasi, dan pariwisata akan menjadi pilar bagi kerja sama bilateral. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal ini dalam keterangan pers bersama Presiden Vaclav Klaus, seusai pertemuan bilateral, di Istana Merdeka, Senin (9/7) sore. "Hubungan bilateral Indonesia dengan Republik Ceko berjalan dengan baik dan terus berkembang. Sebagai contoh hubungan perdagangan bilateral meningkat secara signifikan dari tahun 2010 ke 2011 meskipun jumlahnya masih relatif kecil," kata Presiden SBY.
Republik Ceko, SBY menambahkan, adalah negara yang penting di kawasan Eropa tengah dan timur, sedangkan Indonesia merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. "Kita berharap perdagangan dan investasi bisa ditingkatkan," SBY menambahkan.
Menurut Presiden SBY, pertemuan bilateral antara delegasi Indonesia dan Republik Ceko berlangsung konstruktif dan produktif. Ada tiga hal yang dibahas secara mendalam, yakni perdagangan, investasi, dan pariwisata. "Ini akan menjadi pilar atau prioritas kerja sama bilateral kita di waktu mendatang," SBY menjelaskan.
Kerja sama di bidang ekonomi hijau, energi terbarukan, dan industri pertahanan menjadi bagian lain yang dibicarakan dalam pertemuan bilateral. Pertemuan juga membahas situasi global sekarang ini, terutama perkembangan terbaru di Zona Euro.
Dalam delegasi Republik Ceko, terdapat komunitas bisnis yang juga menyempatkan untuk berinteraksi dengan mitranya dari Indonesia. Presiden SBY menilai hal ini penting karena di era globalisasi sekarang ini, konektivitas bukan hanya antarpemerintah atau parlemen, melainkan juga antarkomunitas bisnis dan antarwarga.
Sementara itu, Presiden Vaclav Klaus dalam keterangan persnya berharap masyarakat Indonesia dan Ceko dapat meningkatkan saling kunjung. Mengenai energi terbarukan, pemerintah Republik Ceko berinvestasi besar untuk itu. Vaclac menjelaskan bahwa sekarang ini terjadi degradasi lingkungan. "Saya harap ini pembahasan yang bisa terus kita wujudkan bersama," ujar Vaclav Klaus.
Sumber: Presiden RI
Senin, 02 Juli 2012
Misi Kemanusiaan USNS Mercy Pererat Kemitraan Indonesia dan AS
USNS Mercy (T-AH-19) berlabuh di Teluk Manado, Jumat (1/6/2012). (Foto: Camelia Montoy)
2 Juli 2012, Washington D.C.: Ketua Komisi Pertahanan DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, kehadiraan Rumah Sakit Terapung Milik Angkatan Laut Amerika Serikat USNS Mercy di perairan Sulawesi Utara baru-baru ini menunjukkan semakin eratnya kemitraan Indonesia dengan AS.
Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan Jum’at (29/6), kemitraan Indonesia dan AS tidak harus selalu terkait penanganan masalah-masalah pertahanan dan terorisme, namun aksi-aksi kemanusiaan juga perlu semakin ditingkatkan.
Menurut Mahfud, konteks kemitraan di kawasan Asia Pasifik selama ini mengalami peningkatan, terutama karena pertimbangan kepentingan jangka panjang yang cukup strategis.
“Sekarang ini memang bentuk-bentuk kerjasama militer , terutama dalam konteks pengamanan laut semakin berkembang. Contoh seperti yang dilakukan AS, secara geografis tidak berbatasan langsung dengan Indonesia, namun secara geopolitic, geostrategic dan geoeconomic memiliki kepentingan, berdasarkan itu kemitraan sangat mungkin dilakukan,” kata Mahfudz.
Dalam siaran pers Kedutaan AS di Jakarta baru-baru ini menyebutkan Rumah Sakit Terapung USNS Mercy telah merampungkan misi kemanusiaannya di perairan Sulawesi Utara, Indonesia sebagai bagian dari Pacific Partnership 2012 (PP12). Sejak berada di Manado pada 31 Mei, para awak kapal menjalankan berbagai program bekerjasama dengan rekan sejawat dari Indonesia dari berbagai instansi dan lembaga termasuk kantor pemda, militer, kepolisian, dan staf penanggulangan bencana.
PP12 yang merupakan misi kemanusiaan dan sipil terbesar di wilayah Asia Pasifik mencakup pelatihan dan perencanaan penanggulangan bencana alam, perawatan medis gratis di darat dan di atas kapal.
Beberapa pengamat pertahanan mengatakan, peningkatan kerjasama antar negara sekawasan Asia Pasifik cukup menguntungkan Indonesia. “Manfaatnya baik secara kekinian maupun jangka panjang. Memang hubungan antara Indonesia dengan AS dalam posisi yang cukup bagus saat ini, perlu saling membantu banyak hal," demikian kata Wawan Purwanto dari Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN).
"Yang paling utama hubungan (bilateral) ini tidak menyebabkan menimbulkan sentiment-sentimen baru , khususnya di negara-negara yang berseberangan dengan kebijakan politik Amerika Serikat,” lanjut Wawan.
Lebih lanjut disebutkan dalam siaran pers Kedubes AS, Rumah Sakit Terapung USNS Mercy sebelumnya merupakan sebuah kapal tanker. Kapal ini mampu menampung 1000 awak dengan 12 (dua belas) ruang operasi untuk keperluan tindakan medis. Selain bersandar di Manado, USNS Mercy juga menjalankan misi kemanusiaannya dengan melayari Kepulauan Sangihe dan Talaud. USNS Mercy setelah berada di Indonesia , meneruskan pelayaran ke arah utara mengunjungi Filipina, Vietnam, dan Kamboja.
Pacific Partnership 2012 atau Kemitraan di Pasifik 2012, merupakan aksi kemanusiaan terbesar di kawasan Asia-Pasifik, dengan beberapa negara tujuan seperti Indonesia, Filipina, Kamboja dan Vietnam. Aksi kemanusiaan dalam program Pacific Partnership meliputi bidang kesehatan, mencakup perawatan dan tindakan medis, perawatan gigi, kedokteran hewan, teknik sipil serta pertukaran para ahli.
Rumah Sakit Terapung Angkatan Laut Amerika Serikat USNS Mercy mulai menjalankan misi kemanusiaannya pasca tsunami Aceh tahun tahun 2004 silam. Para tim medis USNS Mercy telah mengobati lebih seratus ribu korban tsunami dalam melaksanakan misi kemanusiaannya selama di Aceh.
Kemudian pascagempa Sumatera bulan Maret 2005 silam, USNS Mercy juga melaksanakan pengobatan di perairan Pulau Simeulue dan Nias. Di Nias, USNS Mercy melakukan pelayanan kesehatan kepada lebih 1400 orang, 79 orang di antaranya dioperasi di atas kapal USNS Mercy. Paramedis dari USNS Mercy juga menggelar pelatihan bagi 180 tenaga medis dan paramedis Rumah sakit Umum Gunungsitoli dan melakukan perbaikan peralatan rumah sakit yang rusak di Nias, provinsi Sumatera Utara.
Sumber: VOA
2 Juli 2012, Washington D.C.: Ketua Komisi Pertahanan DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, kehadiraan Rumah Sakit Terapung Milik Angkatan Laut Amerika Serikat USNS Mercy di perairan Sulawesi Utara baru-baru ini menunjukkan semakin eratnya kemitraan Indonesia dengan AS.
Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan Jum’at (29/6), kemitraan Indonesia dan AS tidak harus selalu terkait penanganan masalah-masalah pertahanan dan terorisme, namun aksi-aksi kemanusiaan juga perlu semakin ditingkatkan.
Menurut Mahfud, konteks kemitraan di kawasan Asia Pasifik selama ini mengalami peningkatan, terutama karena pertimbangan kepentingan jangka panjang yang cukup strategis.
“Sekarang ini memang bentuk-bentuk kerjasama militer , terutama dalam konteks pengamanan laut semakin berkembang. Contoh seperti yang dilakukan AS, secara geografis tidak berbatasan langsung dengan Indonesia, namun secara geopolitic, geostrategic dan geoeconomic memiliki kepentingan, berdasarkan itu kemitraan sangat mungkin dilakukan,” kata Mahfudz.
Dalam siaran pers Kedutaan AS di Jakarta baru-baru ini menyebutkan Rumah Sakit Terapung USNS Mercy telah merampungkan misi kemanusiaannya di perairan Sulawesi Utara, Indonesia sebagai bagian dari Pacific Partnership 2012 (PP12). Sejak berada di Manado pada 31 Mei, para awak kapal menjalankan berbagai program bekerjasama dengan rekan sejawat dari Indonesia dari berbagai instansi dan lembaga termasuk kantor pemda, militer, kepolisian, dan staf penanggulangan bencana.
PP12 yang merupakan misi kemanusiaan dan sipil terbesar di wilayah Asia Pasifik mencakup pelatihan dan perencanaan penanggulangan bencana alam, perawatan medis gratis di darat dan di atas kapal.
Beberapa pengamat pertahanan mengatakan, peningkatan kerjasama antar negara sekawasan Asia Pasifik cukup menguntungkan Indonesia. “Manfaatnya baik secara kekinian maupun jangka panjang. Memang hubungan antara Indonesia dengan AS dalam posisi yang cukup bagus saat ini, perlu saling membantu banyak hal," demikian kata Wawan Purwanto dari Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN).
"Yang paling utama hubungan (bilateral) ini tidak menyebabkan menimbulkan sentiment-sentimen baru , khususnya di negara-negara yang berseberangan dengan kebijakan politik Amerika Serikat,” lanjut Wawan.
Lebih lanjut disebutkan dalam siaran pers Kedubes AS, Rumah Sakit Terapung USNS Mercy sebelumnya merupakan sebuah kapal tanker. Kapal ini mampu menampung 1000 awak dengan 12 (dua belas) ruang operasi untuk keperluan tindakan medis. Selain bersandar di Manado, USNS Mercy juga menjalankan misi kemanusiaannya dengan melayari Kepulauan Sangihe dan Talaud. USNS Mercy setelah berada di Indonesia , meneruskan pelayaran ke arah utara mengunjungi Filipina, Vietnam, dan Kamboja.
Pacific Partnership 2012 atau Kemitraan di Pasifik 2012, merupakan aksi kemanusiaan terbesar di kawasan Asia-Pasifik, dengan beberapa negara tujuan seperti Indonesia, Filipina, Kamboja dan Vietnam. Aksi kemanusiaan dalam program Pacific Partnership meliputi bidang kesehatan, mencakup perawatan dan tindakan medis, perawatan gigi, kedokteran hewan, teknik sipil serta pertukaran para ahli.
Rumah Sakit Terapung Angkatan Laut Amerika Serikat USNS Mercy mulai menjalankan misi kemanusiaannya pasca tsunami Aceh tahun tahun 2004 silam. Para tim medis USNS Mercy telah mengobati lebih seratus ribu korban tsunami dalam melaksanakan misi kemanusiaannya selama di Aceh.
Kemudian pascagempa Sumatera bulan Maret 2005 silam, USNS Mercy juga melaksanakan pengobatan di perairan Pulau Simeulue dan Nias. Di Nias, USNS Mercy melakukan pelayanan kesehatan kepada lebih 1400 orang, 79 orang di antaranya dioperasi di atas kapal USNS Mercy. Paramedis dari USNS Mercy juga menggelar pelatihan bagi 180 tenaga medis dan paramedis Rumah sakit Umum Gunungsitoli dan melakukan perbaikan peralatan rumah sakit yang rusak di Nias, provinsi Sumatera Utara.
Sumber: VOA
Kamis, 28 Juni 2012
Komisi I Kuker Pelajari IndustrI Pertahanan Brasil dan Spanyol
Super Tucano dipilih TNI AU penerus OV-10 Bronco. (Foto: Embraer)
27 Juni 2012, Senayan: Terkait pembahasan RUU Industri Pertahanan, sejumlah anggota Komisi I DPR akan melakukan kunjungan kerja ke Spanyol dan Brasil pada 1-7 Juli 2012. Apa tujuan dan alasan Komisi I kunker ke kedua negara tersebut?
"Jadi, tujuan kami kunker ke dua negara tersebut di antaranya untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai konsep dan sistem dalam industri pertahanan yang diselenggarakan pada negara tujuan kunker. Termasuk mempelajari berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai industri pertahanan di negara tersebut," ujar Wakil Ketua Komisi I Tubagus Hasanuddin dalam penjelasannya di Press Room DPR RI, Selasa (26/6).
Politisi PDIP ini mengatakan, sasaran yang diharapkan dapat tercapai dari kegiatan kunker ini ialah mendapatkan informasi mengenai sistem dan konsep yang berkaitan dengan industri pertahanan, dari segi kelembagaan atau pelaku industri pertahanan, penyertaan modal negara untuk pendirian industri pertahanan, lembaga regulasi industri pertahanan. Juga standardisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan, penelitian, pengembangan dan rekayasa dalam industri pertahanan (research and development) serta sistem pengadaan pertahanan terintergrasi.
"Termasuk soal sanksi terhadap kejahatan di bidang industri pertahanan, sistem pengawasan industri pertahanan, tanggung jawab anggaran industri pertahanan, serta bagaimana soal insentif tarif bea dan fiskal dalam industri pertahanan," ujarnya.
Lantas, kenapa negara yang jadi tujuan kunker adalah Spanyol dan Brasil? Kata Hasanuddin, kedua negara tersebut dinilai memiliki produk alutsista berkualitas tinggi dan memenuhi persyaratan atau tuntutan yang tinggi.
"Di negara tersebut industri pertahanannya secara aktif berpartisipasi dalam restrukturisasi berbagai sektor dan memperluas pasar serta menyesuaikan kapasistas produksinya dengan kebutuhan pasar. Termasuk Kemhan Spayol memberikan dukungan penuh atas kebijakan industri pertahanannya melalui armament and equipment policy terutama dalam inovasi teknologi yang mengadaptasikan dengan situasi dunia terkini," ujarnya.
Sementara, Brasil dipilih atas pertimbangan bahwa negara itu merupakan sebuah negara dengan wilayah yang paling luas dengan jumlah penduduknya yang besar (192 juta jiwa tahun 2010) di Amerika Selatan. Dengan kemajuan ekonominya kini mampu membangun beberapa industri pertahanan dengan kualitas yang sangat baik. Brasil kini menjadi salah satu negara penting pengekspor di bidang persenjataan, terutama bagi negara-negara berkembang.
"Produk industri Brasil selama ini dikenal berkualitas tinggi, mudah dalam pemeliharaan, kinerjanya baik dalam kondisi ekstrem sekalipun, dan harganya murah. Produknya meliputi amunisi, granat, ranjau, kendaraan pengangkut pasukan (APV), kapal patrol, pesawat patroli laut, turboprop trainers, tank, dan pesawat tempur supersonik," ujarnya.
Hasanuddin menambahkan, pada 15 Maret 2012, Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan Dubes Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silveira Soares di Jakarta. Dalam pertemuan itu, Dubes Brasil menawarkan produk alutsista terbaru kedirgantaraan atau kapal perang serta peningkatan kerja sama industri pertahanan melalui pembangunan pesawat terbang dan kapal perang antara industri pertahanan laut dan udara kedua negara. "Seperti diketahui, Indonesia pun saat ini telah memesan 16 unit pesawat tempur Super Tucano A29 buatan Industri Embraer Defense System, Brasil," pungkasnya.
Sumber: Jurnal Parlemen
27 Juni 2012, Senayan: Terkait pembahasan RUU Industri Pertahanan, sejumlah anggota Komisi I DPR akan melakukan kunjungan kerja ke Spanyol dan Brasil pada 1-7 Juli 2012. Apa tujuan dan alasan Komisi I kunker ke kedua negara tersebut?
"Jadi, tujuan kami kunker ke dua negara tersebut di antaranya untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai konsep dan sistem dalam industri pertahanan yang diselenggarakan pada negara tujuan kunker. Termasuk mempelajari berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai industri pertahanan di negara tersebut," ujar Wakil Ketua Komisi I Tubagus Hasanuddin dalam penjelasannya di Press Room DPR RI, Selasa (26/6).
Politisi PDIP ini mengatakan, sasaran yang diharapkan dapat tercapai dari kegiatan kunker ini ialah mendapatkan informasi mengenai sistem dan konsep yang berkaitan dengan industri pertahanan, dari segi kelembagaan atau pelaku industri pertahanan, penyertaan modal negara untuk pendirian industri pertahanan, lembaga regulasi industri pertahanan. Juga standardisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan, penelitian, pengembangan dan rekayasa dalam industri pertahanan (research and development) serta sistem pengadaan pertahanan terintergrasi.
"Termasuk soal sanksi terhadap kejahatan di bidang industri pertahanan, sistem pengawasan industri pertahanan, tanggung jawab anggaran industri pertahanan, serta bagaimana soal insentif tarif bea dan fiskal dalam industri pertahanan," ujarnya.
Lantas, kenapa negara yang jadi tujuan kunker adalah Spanyol dan Brasil? Kata Hasanuddin, kedua negara tersebut dinilai memiliki produk alutsista berkualitas tinggi dan memenuhi persyaratan atau tuntutan yang tinggi.
"Di negara tersebut industri pertahanannya secara aktif berpartisipasi dalam restrukturisasi berbagai sektor dan memperluas pasar serta menyesuaikan kapasistas produksinya dengan kebutuhan pasar. Termasuk Kemhan Spayol memberikan dukungan penuh atas kebijakan industri pertahanannya melalui armament and equipment policy terutama dalam inovasi teknologi yang mengadaptasikan dengan situasi dunia terkini," ujarnya.
Sementara, Brasil dipilih atas pertimbangan bahwa negara itu merupakan sebuah negara dengan wilayah yang paling luas dengan jumlah penduduknya yang besar (192 juta jiwa tahun 2010) di Amerika Selatan. Dengan kemajuan ekonominya kini mampu membangun beberapa industri pertahanan dengan kualitas yang sangat baik. Brasil kini menjadi salah satu negara penting pengekspor di bidang persenjataan, terutama bagi negara-negara berkembang.
"Produk industri Brasil selama ini dikenal berkualitas tinggi, mudah dalam pemeliharaan, kinerjanya baik dalam kondisi ekstrem sekalipun, dan harganya murah. Produknya meliputi amunisi, granat, ranjau, kendaraan pengangkut pasukan (APV), kapal patrol, pesawat patroli laut, turboprop trainers, tank, dan pesawat tempur supersonik," ujarnya.
Hasanuddin menambahkan, pada 15 Maret 2012, Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan Dubes Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silveira Soares di Jakarta. Dalam pertemuan itu, Dubes Brasil menawarkan produk alutsista terbaru kedirgantaraan atau kapal perang serta peningkatan kerja sama industri pertahanan melalui pembangunan pesawat terbang dan kapal perang antara industri pertahanan laut dan udara kedua negara. "Seperti diketahui, Indonesia pun saat ini telah memesan 16 unit pesawat tempur Super Tucano A29 buatan Industri Embraer Defense System, Brasil," pungkasnya.
Sumber: Jurnal Parlemen
Senin, 25 Juni 2012
Kerjasama Produksi Rudal Indonesia-China Perkuat TNI AL
26 Juni 2012, Jakarta: Pengamat intelijen Wawan Purwanto dari Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN) mengatakan kemitraan Indonesia dan Tiongkok dalam memproduksi peluru kendali, alias rudal, dinilai cukup strategis karena memperkuat kapal-kapal perang TNI Angkatan Laut dalam melindungi wilayah perbatasan Indonesia.
Menurut Wawan, di samping modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Laut, kerjasama produksi rudal tersebut oleh pihak pemerintah Indonesia dilakukan dengan menekankan mekanisme alih teknologi antar pakar kedua negara.
“Itu sangat konkrit, tampak ada kemajuan-kemajuan. Berbagai kepentingan terkait persenjataan, baik di darat, laut, udara dan Kepolisian didorong untuk 60 persen dipenuhi dari dalam negeri, tentu saja dengan persetujuan rakyat melalui DPR RI,” ujar Wawan di Jakarta pada Jumat (22/6).
Wawan menambahkan kemitraan Indonesia dan Tiongkok secara menyeluruh memiliki nilai strategis dalam mewujudkan stabilitas dan kerjasama pertahanan di kawasan Asia dan Pasifik.
“Di antara negara-negara tetangga, perlu ada suatu transparansi bahwa semua hubungan ini, yang terkait dengan kerjasama pesenjataan (alutsista), yang menyangkut alih teknologi maupun penggunaan sejata itu sendiri, tidak terkait dengan masalah-masalah ekspansi tetapi terkait dengan masalah ketahanan nasional Indonesia,” katanya.
Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, kerjasama produksi rudal Indonesia dan Tiongkok merupakan salah satu butir kesepakatan kemitraan yang lebih menyeluruh dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI.
”Ini penting, agar Indonesia bisa menjaga hubungan dengan banyak negara, dan Tiongkok merupakan mitra strategis di kawasan ini. Kementrian Pertahanan saat ini tengah menyusun mekanisme kemitraan kedua negara terkait kerja sama produksi rudal tersebut,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri melalui Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing baru-baru ini menyatakan, kerjasama Indonesia dengan Tiongkok berlandaskan mekanisme alih teknologi teknologi untuk produksi bersama peluru kendali (rudal) jenis C-705 yang akan digunakan TNI Angkatan Laut.
Dari kerjasama tersebut, diharapkan di masa depan Indonesia juga lebih mampu mengembangkan jenis rudal canggih untuk keperluan militer. Menurut kesepakatan kerja sama industri pertahanan antara kedua negara, pembelian senjata tertentu harus dilakukan antarpemerintah dan disertai alih teknologi peralatan militer yang antara lain mencakup cara perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, dan pelatihan.
Indonesia menetapkan anggaran sebesar 72 triliun rupiah untuk kebutuhan pertahanannya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2012.
Sumber: VOA Indonesia
Jumat, 22 Juni 2012
Parlemen Belanda Tetap Tolak Jual Tank ke Indonesia
22 Juni 2012, Amsterdam: Kamis kemarin kabinet Belanda gagal meyakinkan parlemen de Tweede Kamer untuk menyetujui rencana penjualan 80 tank kepada Indonesia. Mayoritas fraksi tetap menentang penjualan tank tersebut, sehubungan dengan pelanggaran Hak Asasi Indonesia (HAM) terutama di Papua.
Ini upaya terakhir kabinet demisioner Belanda untuk meyakinkan parlemen. Tiga menteri yaitu Menlu Rosenthal, Menteri Pertahanan Hillen dan Menteri Ekonomi, Bleker khusus mendatangi parlemen untuk mencari dukungan. Mereka hanya berhasil memperoleh dukungan dari Partai Liberal Konservatif (Volkspartij voor Vrijheid en Democratie, VVD) dan partai kristen demokrat (Christen-Democratisch Appèl, CDA).
Menindas Rakyat
Partai Buruh (Partij van de Arbeid,PvdA), Partai Sosialis (Socialistische Partij, SP), Partai Hijau (GroenLinks, GL) dan partai kristen konservatif (ChristenUnie, CU) tidak bergeming. Partai-partai itu memberi contoh, bahwa Mesir dan Bahrain menggunakan alutsista yang dibeli dari Belanda tahun lalu untuk menindas rakyat yang memberontak. "Ini tidak boleh terjadi lagi," kata Jasper dari Partai Sosialis.
Tahun lalu Parlemen mendukung mosi Arjan El Fassed dari GroenLinks untuk membatalkan penjualan tank itu. Makanya El Fassed menyebut debat di parlemen kemarin sebenarnya tidak perlu lagi. Menurut Han Ten Broeke dari VVD, dalam hal ini sikap Belanda bukan menggurui sebagai bekas penjajah. Ia juga menyinggung pemasokan senjata oleh perusahaan Belanda sebelumnya kepada Indonesia.
Menhan Hans Hillen ingin menjual tank Leopard sebagai bagian dari penghematan besar-besaran. Ia harus menghemat sekitar satu miliar euro. Hasil penjualan, yang jumlahnya sekitar 200 juto euro, akan digunakan untuk membeli pesawat tanpa awak.
HAM Indonesia Makin Membaik
Kabinet tidak keberatan terhadap penjualan itu, karena memenuhi kriteria ekspor senjata Uni Eropa. Selain itu, kondisi HAM di Indonesia makin membaik. Baik Belanda maupun Indonesia keduanya mau memperbaiki hubungan bilateral. Makanya penjualan tank tersebut, yang tidak akan dikerahkan di Papua, tidak bermasalah.
Menlu Uri Rosenthal mengakui memang masih "banyak yang perlu diprihatinkan" sehubungan dengan HAM di Indonesia "yang demokrasinya mulai stabil". Namun ia juga menambahkan, banyak insiden di Papua tidak terkait dengan HAM. Menolak transaksi penjualan tank, menurut Rosenthal, akan tidak dipahami oleh dunia internasional dan akan menimbulkan "kerepotan".
Rapat parlemen akhirnya diskors untuk memberi kesempatan para menteri kabinet berunding membahas kasus ini lagi. Menlu Rosenthal mengatakan, bahwa kabinet akan sangat mempertimbangkan pendapat parlemen atau De Tweede Kamer, karena kabinet ini statusnya demisioner.
Sumber: RNW
Ini upaya terakhir kabinet demisioner Belanda untuk meyakinkan parlemen. Tiga menteri yaitu Menlu Rosenthal, Menteri Pertahanan Hillen dan Menteri Ekonomi, Bleker khusus mendatangi parlemen untuk mencari dukungan. Mereka hanya berhasil memperoleh dukungan dari Partai Liberal Konservatif (Volkspartij voor Vrijheid en Democratie, VVD) dan partai kristen demokrat (Christen-Democratisch Appèl, CDA).
Menindas Rakyat
Partai Buruh (Partij van de Arbeid,PvdA), Partai Sosialis (Socialistische Partij, SP), Partai Hijau (GroenLinks, GL) dan partai kristen konservatif (ChristenUnie, CU) tidak bergeming. Partai-partai itu memberi contoh, bahwa Mesir dan Bahrain menggunakan alutsista yang dibeli dari Belanda tahun lalu untuk menindas rakyat yang memberontak. "Ini tidak boleh terjadi lagi," kata Jasper dari Partai Sosialis.
Tahun lalu Parlemen mendukung mosi Arjan El Fassed dari GroenLinks untuk membatalkan penjualan tank itu. Makanya El Fassed menyebut debat di parlemen kemarin sebenarnya tidak perlu lagi. Menurut Han Ten Broeke dari VVD, dalam hal ini sikap Belanda bukan menggurui sebagai bekas penjajah. Ia juga menyinggung pemasokan senjata oleh perusahaan Belanda sebelumnya kepada Indonesia.
Menhan Hans Hillen ingin menjual tank Leopard sebagai bagian dari penghematan besar-besaran. Ia harus menghemat sekitar satu miliar euro. Hasil penjualan, yang jumlahnya sekitar 200 juto euro, akan digunakan untuk membeli pesawat tanpa awak.
HAM Indonesia Makin Membaik
Kabinet tidak keberatan terhadap penjualan itu, karena memenuhi kriteria ekspor senjata Uni Eropa. Selain itu, kondisi HAM di Indonesia makin membaik. Baik Belanda maupun Indonesia keduanya mau memperbaiki hubungan bilateral. Makanya penjualan tank tersebut, yang tidak akan dikerahkan di Papua, tidak bermasalah.
Menlu Uri Rosenthal mengakui memang masih "banyak yang perlu diprihatinkan" sehubungan dengan HAM di Indonesia "yang demokrasinya mulai stabil". Namun ia juga menambahkan, banyak insiden di Papua tidak terkait dengan HAM. Menolak transaksi penjualan tank, menurut Rosenthal, akan tidak dipahami oleh dunia internasional dan akan menimbulkan "kerepotan".
Rapat parlemen akhirnya diskors untuk memberi kesempatan para menteri kabinet berunding membahas kasus ini lagi. Menlu Rosenthal mengatakan, bahwa kabinet akan sangat mempertimbangkan pendapat parlemen atau De Tweede Kamer, karena kabinet ini statusnya demisioner.
Sumber: RNW
Senin, 18 Juni 2012
TNI AU Kirim 10 Pilot Sukhoi ke China
19 Juni 2012, Jakarta: Tidak adanya simulator Sukhoi dan mahalnya biaya terbang langsung dengan pesawat buatan Rusia tersebut memaksa pemerintah mengirimkan para penerbang Sukhoi ke luar negeri untuk berlatih.
Sebanyak 10 penerbang tempur pesawat Sukhoi dikirim ke China berlatih menggunakan simulator. Pengiriman personel TNI Angkatan Udara (AU) itu menjadi bagian dari kerja sama pertahanan Indonesia dengan China yang dibahas dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dengan anggota Komisi Militer Pusat dan Panglima Korps Artileri II (Strategic Missile Corps) CPLA Jenderal Jin Zhiyuan di Jakarta kemarin.
Ada beberapa poin yang dibahas dalam pertemuan tertutup itu. Sekjen Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto yang ikut dalam pertemuan itu menerangkan, kedatangan Jin Zhiyuan ke Indonesia untuk meningkatkan hubungan kerja sama di bidang pertahanan. Jin menindaklanjuti perkembangan kerja sama yang sudah dibicarakan sebelumnya antarmenteri pertahanan kedua negara.
Hal yang dibahas di antaranya kerja sama dan dialog antarmiliter kedua negara, baik angkatan darat, laut maupun udara. Untuk pertahanan udara, China membuka kesempatan bagi TNI AU mengirimkan penerbang tempur Sukhoi guna mengikuti pelatihan di sana. ”Mereka membuka (kesempatan berlatih) dan kita memang memerlukannya, karena itu kita kirim,”tuturnya.
Eris menyebut, saat ini sudah dikirim 10 penerbang sesuai dengan kuota yang diberikan China. Pelatihan diperkirakan hanya berlangsung beberapa hari saja.”Tergantung kebutuhan kita. Kalau kita memerlukan lagi,mereka membuka diri bersedia menerima maksimum 10 orang,”jelasnya. Pada saat HUT TNI AU beberapa waktu lalu,Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat juga menyinggung soal simulator Sukhoi.
Menurut dia, mengirimkan penerbang untuk mengikuti pelatihan di luar negeri berisiko karena kelemahan penerbang TNI AU diketahui negara lain. Karenanya,akan lebih efektif dan efisien jika Indonesia memiliki simulator sendiri. Simulator yang dimiliki TNI AU saat ini di antaranya baru untuk F-16, Hawk, dan Hercules. Satu jam terbang Sukhoi bisa mencapai Rp500 juta.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Indonesia membutuhkan banyak penerbang tempur untuk Sukhoi seiring adanya penambahan pesawat tempur jenis ini. ”Karena itu kami berterima kasih atas simulator Sukhoi-nya,” katanya kepada Jin Zhiyuan. Dia juga menyambut baik rencana China untuk membantu pengamananmaritimdengansumbangan radarnya. Adapun Jenderal Jing Zhiyuan berharap kerja sama ini semakin erat. Dalam kunjungan ini, Jing bersama rombongan juga mendatangi markas Kopassus.
Sumber: SINDO
Indonesia - China Kerjasama Pertahanan
18 Juni 2012, Jakarta: Pemerintah China menawarkan pemberian bantuan radar kepada Indonesia untuk pengawasan dan pengamanan alur laut kepulauan Indonesia.
"Kami belum bicarakan apakah bantuan radar ini bentuknya hibah atau seperti apa. Masalah ini baru akan dibicarakan," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Kemhan) Marsekal Madya Eris Herryanto usai mendampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat menerima kunjungan Anggota Komisi Militer Pusat dan Panglima Korp Artileri II (Strategic Missile Corps) CPLA Jenderal Jing Zhiyuan di Kantor Kemhan, Jakarta, Senin.
Menurut dia, pengamanan di wilayah alur laut kepulauan Indonesia memerlukan pengawasan ketat guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam kunjungannya Jenderal Jing Zhiyuan itu, kata dia, juga dibicarakan tentang pengiriman sejumlah penerbang pesawat tempur Indonesia (TNI Angkatan Udara) untuk melakukan latihan dengan simulator pesawat Sukhoi di China.
"China membuka diri untuk membantu kebutuhan Indonesia ini," katanya.
Menurut dia, China menyediakan tempat bagi prajurit TNI yang akan mengikuti latihan ini dengan kapasitas maksimal sepuluh orang.
Kerja sama ini dilakukan lantaran Indonesia belum memiliki simulator Sukhoi, namun Kemhan telah merencanakan pengadaan simulator Sukhoi untuk memudahkan latihan prajurit TNI yang akan menerbangkan pesawat tempur buatan Rusia itu.
"Rencana pengadaannya pada 2012 dan sudah masuk dalam `blue book`, tinggal pelaksanaannya," kata Eris.
Sumber: ANTARA News
"Kami belum bicarakan apakah bantuan radar ini bentuknya hibah atau seperti apa. Masalah ini baru akan dibicarakan," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Kemhan) Marsekal Madya Eris Herryanto usai mendampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat menerima kunjungan Anggota Komisi Militer Pusat dan Panglima Korp Artileri II (Strategic Missile Corps) CPLA Jenderal Jing Zhiyuan di Kantor Kemhan, Jakarta, Senin.
Menurut dia, pengamanan di wilayah alur laut kepulauan Indonesia memerlukan pengawasan ketat guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam kunjungannya Jenderal Jing Zhiyuan itu, kata dia, juga dibicarakan tentang pengiriman sejumlah penerbang pesawat tempur Indonesia (TNI Angkatan Udara) untuk melakukan latihan dengan simulator pesawat Sukhoi di China.
"China membuka diri untuk membantu kebutuhan Indonesia ini," katanya.
Menurut dia, China menyediakan tempat bagi prajurit TNI yang akan mengikuti latihan ini dengan kapasitas maksimal sepuluh orang.
Kerja sama ini dilakukan lantaran Indonesia belum memiliki simulator Sukhoi, namun Kemhan telah merencanakan pengadaan simulator Sukhoi untuk memudahkan latihan prajurit TNI yang akan menerbangkan pesawat tempur buatan Rusia itu.
"Rencana pengadaannya pada 2012 dan sudah masuk dalam `blue book`, tinggal pelaksanaannya," kata Eris.
Sumber: ANTARA News
Rabu, 13 Juni 2012
Kemhan Jajaki Kerjasama Produksi Alutsista dengan Belarusia
2 Juni 2012, Jakarta: Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Senin (12/6) menerima Menteri Luar Negeri Republik Belarus, Sergei Martynov di Kantor Kementerian Pertahanan RI. Maksud dari kunjungan Menlu Belarus adalah selain untuk meningkatkan hubungan diplomatik kedua negara dan membuka peluang kerjasama strategis di bidang pertahanan. Kerjasama pertahanan ini lebih mengarah kepada produksi bersama Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) dengan dasar Transfer of Technology (ToT).
Sumber: DMC
Senin, 11 Juni 2012
Komisi I Bahas Kerja Sama Pertahanan RI dengan Ceko dan Italia
Truk T810 produksi TATRA Republik Ceko. (Foto: Tatra)
11 Juni 2012, Senayan: Komisi I DPR RI, Senin (11/6) ini menggelar rapat dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan jajarannya, Wakil Menlu, dan perwakilan Kementerian Hukum dan HAM. Rapat membahas tentang Pengesahan Perjanjian antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Ceko tentang Kerja Sama di Bidang Pertahanan dan MoU Kemhan RI dengan Kemhan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam Bidang Peralatan, Logistik, dan Industri Pertahanan.
"Saya sekadar mengingatkan bahwa pembahasan soal kerja sama dalam bidang pertahanan dan militer dengan Republik Ceko ini merupakan rapat yang kedua kalinya. Rapat sebelumnya telah mendengarkan penjelasan dari Kemhan mewakili pemerintah," ujar Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq dalam paparan awal Raker ini, Senin (11/6).
Mahfudz mengatakan, agenda raker saat ini adalah mendengarkan pandangan fraksi-fraksi, atas paparan dari pemerintah sebelumnya soal perjanjian kerja sama pertahanan dan militer dengan Republik Ceko dan kerja sama bidang peralatan, logistik, dan industri pertahanan dengan Italia.
"Jadi kita akan serahkan masing-masing fraksi atas kerja sama pertahanan dengan Ceko ini, apakah akan disetujui dalam hal diatur dalam UU, atau cukup MoU saja seperti halnya kerja sama dengan Rusia, di mana kerja sama itu cukup diatur MoU saja tanpa harus dibuat UU-nya," ujarnya.
Sementara, anggota Komisi I Tjahjo Kumolo mengusulkan, kerja sama pertahanan dengan Ceko dan kerja sama bidang peralatan, logistik, dan industri pertahanan dengan Italia cukup diatur oleh pemerintah sendiri.
Sehingga fraksi-fraksi tidak perlu bertele-tele menyampaikan pandangannya. "Karena pada prinsipnya soal teknis pengaturan kerja sama pertahanan itu cukup diputuskan dan ditentukan oleh kebijakan Pemerintah RI," tegasnya.
Kerja Sama Pertahanan RI dengan Ceko dan Italia Cukup Lewat Perpres
Komisi I DPR sepakat bahwa Perjanjian Kerja Sama Pertahanan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Ceko dan MoU Kemhan RI dengan Kemhan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam Bidang Peralatan, Logistik, dan Industri Pertahanan, cukup diatur melalui Peraturan Presiden (Perpres) atau tidak perlu diatur dalam peraturan UU. Hal itu mengemuka dalam pandangan fraksi-fraksi di Komisi I, Senin (11/6).
"Delapan fraksi yang hadir memberi persetujuan bahwa kerja sama pertahanan dengan Ceko dan Italia ini cukup diatur lewat Perpres, atau tidak perlu diatur lewat UU," ujar Ketua Mahfudz Siddiq dalam raker dengan pemerintah yang diwakili Menhan Purnomo Yusgiantoro.
Adapun fraksi yang memberikan catatan dalam hal ini, kata Mahfudz, adalah F-PKS. Fraksi tersebut meminta agar kerja sama industri pertahanan harus dirinci.
Sementara, Fraksi PAN melalui Muhammad Najib meminta agar terkait kerja sama dengan Republik Ceko, perlu memberi kesempatan pada pemerintah jika mempunyai pandangan lain, atau tidak dengan Perpres.
Sumber: Jurnal Parlemen
11 Juni 2012, Senayan: Komisi I DPR RI, Senin (11/6) ini menggelar rapat dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan jajarannya, Wakil Menlu, dan perwakilan Kementerian Hukum dan HAM. Rapat membahas tentang Pengesahan Perjanjian antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Ceko tentang Kerja Sama di Bidang Pertahanan dan MoU Kemhan RI dengan Kemhan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam Bidang Peralatan, Logistik, dan Industri Pertahanan.
"Saya sekadar mengingatkan bahwa pembahasan soal kerja sama dalam bidang pertahanan dan militer dengan Republik Ceko ini merupakan rapat yang kedua kalinya. Rapat sebelumnya telah mendengarkan penjelasan dari Kemhan mewakili pemerintah," ujar Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq dalam paparan awal Raker ini, Senin (11/6).
Mahfudz mengatakan, agenda raker saat ini adalah mendengarkan pandangan fraksi-fraksi, atas paparan dari pemerintah sebelumnya soal perjanjian kerja sama pertahanan dan militer dengan Republik Ceko dan kerja sama bidang peralatan, logistik, dan industri pertahanan dengan Italia.
"Jadi kita akan serahkan masing-masing fraksi atas kerja sama pertahanan dengan Ceko ini, apakah akan disetujui dalam hal diatur dalam UU, atau cukup MoU saja seperti halnya kerja sama dengan Rusia, di mana kerja sama itu cukup diatur MoU saja tanpa harus dibuat UU-nya," ujarnya.
Sementara, anggota Komisi I Tjahjo Kumolo mengusulkan, kerja sama pertahanan dengan Ceko dan kerja sama bidang peralatan, logistik, dan industri pertahanan dengan Italia cukup diatur oleh pemerintah sendiri.
Sehingga fraksi-fraksi tidak perlu bertele-tele menyampaikan pandangannya. "Karena pada prinsipnya soal teknis pengaturan kerja sama pertahanan itu cukup diputuskan dan ditentukan oleh kebijakan Pemerintah RI," tegasnya.
Kerja Sama Pertahanan RI dengan Ceko dan Italia Cukup Lewat Perpres
Komisi I DPR sepakat bahwa Perjanjian Kerja Sama Pertahanan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Ceko dan MoU Kemhan RI dengan Kemhan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam Bidang Peralatan, Logistik, dan Industri Pertahanan, cukup diatur melalui Peraturan Presiden (Perpres) atau tidak perlu diatur dalam peraturan UU. Hal itu mengemuka dalam pandangan fraksi-fraksi di Komisi I, Senin (11/6).
"Delapan fraksi yang hadir memberi persetujuan bahwa kerja sama pertahanan dengan Ceko dan Italia ini cukup diatur lewat Perpres, atau tidak perlu diatur lewat UU," ujar Ketua Mahfudz Siddiq dalam raker dengan pemerintah yang diwakili Menhan Purnomo Yusgiantoro.
Adapun fraksi yang memberikan catatan dalam hal ini, kata Mahfudz, adalah F-PKS. Fraksi tersebut meminta agar kerja sama industri pertahanan harus dirinci.
Sementara, Fraksi PAN melalui Muhammad Najib meminta agar terkait kerja sama dengan Republik Ceko, perlu memberi kesempatan pada pemerintah jika mempunyai pandangan lain, atau tidak dengan Perpres.
Sumber: Jurnal Parlemen
Sabtu, 09 Juni 2012
Afrika Selatan Ingin Gandeng RI Kembangkan Kerjasama Industri Strategis
(Foto: Kemlu)
8 Juli 2012, Jakarta: Afrika Selatan berkeinginan menggandeng Indonesia untuk mengembangkan kerjasama industri strategis. Keinginan itu mencuat dalam kunjungan Paramount Group, sebuah perusahaan berskala global yang bergerak dalam bidang industri pertahanan berbasis di Afrika Selatan, ke Indonesia (5-6/6/2012).
“Kunjungan Paramount Group ke Indonesia bertujuan untuk menjajaki kemungkinan terbentuknya kerja sama dan kemitraan di bidang industri strategis dengan pihak Indonesia serta membentuk kerja sama bisnis dan teknik yang saling menguntungkan melalui proses alih teknologi dan penelitian dan pengembangan,” demikian rilis yang dikeluarkan Direktorat Afrika Kemlu.
Delegasi Paramount Group diwakili oleh direksi dan pimpinan manajerial, yang dipimpin oleh John Craig, Under CEO, Paramount Group.
Dalam kunjungan ke PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia, delegasi Paramount Group yang didampingi oleh Direktorat Afrika dan pejabat fungsi ekonomi KBRI Pretoria menyatakan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk memperdalam dan memperluas bisnis dalam produk industri peralatan militer dan keamanan.
Selain itu dinyatakan bahwa Indonesia juga terlibat aktif dalam kegiatan peace keeping forces untuk perdamaian global. Dengan modalitas demikian, Paramount Group memiliki keinginan untuk memperluas jaringan akses kerja sama industri dan teknologi dengan Indonesia. Lebih lanjut, Paramount Group juga ingin menjadikan Indonesia sebagai basis pengembangan produk industrinya di kawasan Asia Tenggara.
Menanggapi tawaran kerja sama dari Paramount Group tersebut, direksi PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia mengemukakan bahwa Paramount Group menawarkan kontinuitas kerja sama yang bersifat jangka panjang melalui mekanisme pendanaan yang teratur dan tidak menekankan hanya pada proses jual-beli serta profit semata.
Oleh karena itu, kunjungan ini merupakan sarana dan wadah yang baik untuk memulai langkah awal kerja sama, sehingga ke depan Indonesia dapat mengembangkan sayap lebih jauh melalui kemitraan strategis dengan pihak yang tepat dan berdaya guna optimal.
Gallery Produk Paramount Group
Marauder MPV. (Foto: Paramount Group)
Matador MPV. (Foto: Paramount Group)
Stallion MPV. (Foto: Paramount Group)
Mbombe. (Foto: Paramount Group)
Sumber: Kemlu
8 Juli 2012, Jakarta: Afrika Selatan berkeinginan menggandeng Indonesia untuk mengembangkan kerjasama industri strategis. Keinginan itu mencuat dalam kunjungan Paramount Group, sebuah perusahaan berskala global yang bergerak dalam bidang industri pertahanan berbasis di Afrika Selatan, ke Indonesia (5-6/6/2012).
“Kunjungan Paramount Group ke Indonesia bertujuan untuk menjajaki kemungkinan terbentuknya kerja sama dan kemitraan di bidang industri strategis dengan pihak Indonesia serta membentuk kerja sama bisnis dan teknik yang saling menguntungkan melalui proses alih teknologi dan penelitian dan pengembangan,” demikian rilis yang dikeluarkan Direktorat Afrika Kemlu.
Delegasi Paramount Group diwakili oleh direksi dan pimpinan manajerial, yang dipimpin oleh John Craig, Under CEO, Paramount Group.
Dalam kunjungan ke PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia, delegasi Paramount Group yang didampingi oleh Direktorat Afrika dan pejabat fungsi ekonomi KBRI Pretoria menyatakan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk memperdalam dan memperluas bisnis dalam produk industri peralatan militer dan keamanan.
Selain itu dinyatakan bahwa Indonesia juga terlibat aktif dalam kegiatan peace keeping forces untuk perdamaian global. Dengan modalitas demikian, Paramount Group memiliki keinginan untuk memperluas jaringan akses kerja sama industri dan teknologi dengan Indonesia. Lebih lanjut, Paramount Group juga ingin menjadikan Indonesia sebagai basis pengembangan produk industrinya di kawasan Asia Tenggara.
Menanggapi tawaran kerja sama dari Paramount Group tersebut, direksi PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia mengemukakan bahwa Paramount Group menawarkan kontinuitas kerja sama yang bersifat jangka panjang melalui mekanisme pendanaan yang teratur dan tidak menekankan hanya pada proses jual-beli serta profit semata.
Oleh karena itu, kunjungan ini merupakan sarana dan wadah yang baik untuk memulai langkah awal kerja sama, sehingga ke depan Indonesia dapat mengembangkan sayap lebih jauh melalui kemitraan strategis dengan pihak yang tepat dan berdaya guna optimal.
Gallery Produk Paramount Group
Marauder MPV. (Foto: Paramount Group)
Matador MPV. (Foto: Paramount Group)
Stallion MPV. (Foto: Paramount Group)
Mbombe. (Foto: Paramount Group)
Sumber: Kemlu
Selasa, 29 Mei 2012
Kapal Perang AS Berlabuh di Tanjung Perak, Biaya Ekonomi Tinggi Mengintai
Dua kapal perang milik Amerika Serikat, USS Vandergrift (kanan) dan USGC Waesche (kiri) ketika bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Surabaya, Jatim, Selasa (29/5). Kedatangan dua kapal tersebut dalam rangka untuk mengikuti Latihan Bersama (Latma) TNI AL dengan US Pasific Command (USPACOM) bersandikan Cooperation Afloat Readiness And Training (CARAT) 2012. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/ss/mes/12)
29 Mei 2012, Surabaya: Tiga unit kapal perang Amerika Serikat (AS) masing-masing US CG WAESCHE, US Navy USS Vandegrift FFG-48, dan kapal USS GPN LSD 42 dengan 831 personel merapat ke terminal Jamrud utara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa (29/5/2012) sore.
Kedatangan mereka menghentikan sementara aktivitas puluhan kapal niaga yang akan sandar maupun bongkar muat. Setidaknya terdapat 15 kapal niaga yang terpaksa antre sejak kemarin sore, karena menurut Kepala Humas PT Pelindo III, Edi Priyanto, di area terminal Jamrud utara sudah mulai berdatangan kapal pendukung sehingga area tersebut sudah tertutup untuk umum.
"Kapal AS akan sandar hingga 7 Juni mendatang. Namun pada 3-5 Juni nanti kapal perang Amerika akan berlayar ke tempat lain, sehingga kapal niaga dan kapal penumpang dapat sandar seperti biasa," jelasnya.
Tapi pada 6-7 Juni nanti, Jamrud Utara kembali disterilkan karena 3 kapal itu kembali berlabuh di Jamrud Utara. Keputusan tersebut dianggapnya cukup lunak, karena sebelumnya pihak Amerika ingin pelabuhan dikosongkan hingga 10 hari ke depan sejak menjelang kedatangan.
Kedatangan kapal perang AS tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas kapal niaga. Terminal nanti hanya akan dapat disandari satu kapal niaga dan tiga kapal penumpang, Sebab panjang dermaganya hanya 1,2 kilometer dan 120 meter sedang tak bisa digunakan karena ada pengerjaan penguatan dermaga.
"Untuk itu kami menata ulang kembali jadwal sandar kapal, dan menekan perusahaan bongkar muat untuk mempercepat pekerjaannya," tambahnya.
Sebelumnya, kedatangan kapal perang AS itu sempat ditolak oleh kalangan pengusaha pelabuhan Tanjung Perak Surabaya karena akan mengganggu aktivitas kapal niaga.
Dari perhitungan kasar, kerugian logistik dari terhambatnya arus bongkar muat barang bisa mencapai 4,5 juta dolar AS dan menimbulkan dampak biaya ekonomi tinggi.
Tari Remo Sambut Kedatangan Kapal Perang AS
Sejumlah ABK USS Vandergrift berada digeladak ketika bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Surabaya, Jatim, Selasa (29/5). Kedatangan dua kapal perang milik Amerika Serikat, USS Vandergrift dan USGC Waesche tersebut dalam rangka untuk mengikuti Latihan Bersama (Latma) TNI AL dengan US Pasific Command (USPACOM) bersandikan Cooperation Afloat Readiness And Training (CARAT) 2012, rangkaian kerjasama bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat. (Foto: ANTARA/M RISYAL HIDAYAT/ss/mes/12)
Tarian tradisional Jawa Timur Remo menyambut kedatangan dua unit kapal perang Amerika Serikat yang bersandar di Dermaga Jamrud Utara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa petang. Asisten Operasional Lantamal V Kolonel Laut (P) Yudho Warsono mengatakan, Tari Remo sengaja disuguhkan sebagai penyambutan personel kapal perang AS karena merupakan tarian khas Jatim dan terkenal di Indonesia.
"Kapal perang AS masih dua yang bersandar, sedangkan satu lainnya menyusul dan dijadwalkan tiba pada Rabu (30/5) di dermaga yang sama," ujarnya kepada wartawan di sela-sela penyambutan personel kapal perang AS.
Dua kapal yang sudah bersandar adalah USS Vandegriff (FFG-48) dan USCG Waesche yang letak sandarannya berdampingan. Masih ada satu kapal perang lagi, yakni USS Germantown (LSD-42) akan menyusul merapat di dermaga.
Bersandar terlebih dahulu adalah USS Vandegriff (FFG-48) yang dikomandani oleh Comodore Branyon Bryan. Sedangkan komandan USCG Waesche adalah Kapten Kelly Hatfield.
Penjagaan ketat tampak di sekitar Dermaga Jamrud Utara. Puluhan kontainer berjajar ditempatkan mengelilingi lokasi sandarnya kapal. Di pintu gerbang juga dijaga oleh puluhan TNI AL.
Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Armada Timur Letkol Laut (KH) Yayan Sugiana menerangkan, personel TNI AL bersama Angkatan Laut Amerika Serikat di Jatim akan melakukan sejumlah kegiatan. Antara lain, bakti sosial yang melibatkan satu kompi Batalyon Zeni Korps Marinir di Desa Kwanyar, Madura. "Yang cukup menghibur, pada 31 Mei-5 Juni digelar pentas musik di SMAN 4, SMAN 5, dan SMAN 6, serta Lapangan Golf Ciputra dan Tunjungan Plaza.
Nantinya akan ada kolaborasi antara korps musik TNI AL dengan US Navy," ujarnya. Di samping itu, lanjut Yayan, akan digelar juga latihan perang bersama, meliputi Demonstrasi Centrixs di Pusat Latihan Kaprang Kolatarmatim dan Marinir Exercise di Karang Tekok, Situbondo.
"Ada juga Simposium Milops, Aviation, Submarine, Medical Subject Matter Expert Exchange (SMEE), Intel SMEE, Enginering SMEE dan Simpsium Navedtra," paparnya. Pada latihan bersama ini, TNI AL akan melibatkan 1.244 personel, sedangkan dari pihak US Navy sekitar 830 personel.
Sumber: KOMPAS/ANTARA News Jatim
29 Mei 2012, Surabaya: Tiga unit kapal perang Amerika Serikat (AS) masing-masing US CG WAESCHE, US Navy USS Vandegrift FFG-48, dan kapal USS GPN LSD 42 dengan 831 personel merapat ke terminal Jamrud utara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa (29/5/2012) sore.
Kedatangan mereka menghentikan sementara aktivitas puluhan kapal niaga yang akan sandar maupun bongkar muat. Setidaknya terdapat 15 kapal niaga yang terpaksa antre sejak kemarin sore, karena menurut Kepala Humas PT Pelindo III, Edi Priyanto, di area terminal Jamrud utara sudah mulai berdatangan kapal pendukung sehingga area tersebut sudah tertutup untuk umum.
"Kapal AS akan sandar hingga 7 Juni mendatang. Namun pada 3-5 Juni nanti kapal perang Amerika akan berlayar ke tempat lain, sehingga kapal niaga dan kapal penumpang dapat sandar seperti biasa," jelasnya.
Tapi pada 6-7 Juni nanti, Jamrud Utara kembali disterilkan karena 3 kapal itu kembali berlabuh di Jamrud Utara. Keputusan tersebut dianggapnya cukup lunak, karena sebelumnya pihak Amerika ingin pelabuhan dikosongkan hingga 10 hari ke depan sejak menjelang kedatangan.
Kedatangan kapal perang AS tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas kapal niaga. Terminal nanti hanya akan dapat disandari satu kapal niaga dan tiga kapal penumpang, Sebab panjang dermaganya hanya 1,2 kilometer dan 120 meter sedang tak bisa digunakan karena ada pengerjaan penguatan dermaga.
"Untuk itu kami menata ulang kembali jadwal sandar kapal, dan menekan perusahaan bongkar muat untuk mempercepat pekerjaannya," tambahnya.
Sebelumnya, kedatangan kapal perang AS itu sempat ditolak oleh kalangan pengusaha pelabuhan Tanjung Perak Surabaya karena akan mengganggu aktivitas kapal niaga.
Dari perhitungan kasar, kerugian logistik dari terhambatnya arus bongkar muat barang bisa mencapai 4,5 juta dolar AS dan menimbulkan dampak biaya ekonomi tinggi.
Tari Remo Sambut Kedatangan Kapal Perang AS
Sejumlah ABK USS Vandergrift berada digeladak ketika bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Surabaya, Jatim, Selasa (29/5). Kedatangan dua kapal perang milik Amerika Serikat, USS Vandergrift dan USGC Waesche tersebut dalam rangka untuk mengikuti Latihan Bersama (Latma) TNI AL dengan US Pasific Command (USPACOM) bersandikan Cooperation Afloat Readiness And Training (CARAT) 2012, rangkaian kerjasama bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat. (Foto: ANTARA/M RISYAL HIDAYAT/ss/mes/12)
Tarian tradisional Jawa Timur Remo menyambut kedatangan dua unit kapal perang Amerika Serikat yang bersandar di Dermaga Jamrud Utara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa petang. Asisten Operasional Lantamal V Kolonel Laut (P) Yudho Warsono mengatakan, Tari Remo sengaja disuguhkan sebagai penyambutan personel kapal perang AS karena merupakan tarian khas Jatim dan terkenal di Indonesia.
"Kapal perang AS masih dua yang bersandar, sedangkan satu lainnya menyusul dan dijadwalkan tiba pada Rabu (30/5) di dermaga yang sama," ujarnya kepada wartawan di sela-sela penyambutan personel kapal perang AS.
Dua kapal yang sudah bersandar adalah USS Vandegriff (FFG-48) dan USCG Waesche yang letak sandarannya berdampingan. Masih ada satu kapal perang lagi, yakni USS Germantown (LSD-42) akan menyusul merapat di dermaga.
Bersandar terlebih dahulu adalah USS Vandegriff (FFG-48) yang dikomandani oleh Comodore Branyon Bryan. Sedangkan komandan USCG Waesche adalah Kapten Kelly Hatfield.
Penjagaan ketat tampak di sekitar Dermaga Jamrud Utara. Puluhan kontainer berjajar ditempatkan mengelilingi lokasi sandarnya kapal. Di pintu gerbang juga dijaga oleh puluhan TNI AL.
Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Armada Timur Letkol Laut (KH) Yayan Sugiana menerangkan, personel TNI AL bersama Angkatan Laut Amerika Serikat di Jatim akan melakukan sejumlah kegiatan. Antara lain, bakti sosial yang melibatkan satu kompi Batalyon Zeni Korps Marinir di Desa Kwanyar, Madura. "Yang cukup menghibur, pada 31 Mei-5 Juni digelar pentas musik di SMAN 4, SMAN 5, dan SMAN 6, serta Lapangan Golf Ciputra dan Tunjungan Plaza.
Nantinya akan ada kolaborasi antara korps musik TNI AL dengan US Navy," ujarnya. Di samping itu, lanjut Yayan, akan digelar juga latihan perang bersama, meliputi Demonstrasi Centrixs di Pusat Latihan Kaprang Kolatarmatim dan Marinir Exercise di Karang Tekok, Situbondo.
"Ada juga Simposium Milops, Aviation, Submarine, Medical Subject Matter Expert Exchange (SMEE), Intel SMEE, Enginering SMEE dan Simpsium Navedtra," paparnya. Pada latihan bersama ini, TNI AL akan melibatkan 1.244 personel, sedangkan dari pihak US Navy sekitar 830 personel.
Sumber: KOMPAS/ANTARA News Jatim
Senin, 28 Mei 2012
Kedatangan Kapal Perang Amerika Serikat Tertunda
Frigate USS Vandegrift (FFG 48). (Foto: U.S. Navy/Mass Communication Specialist 2nd Class Chantel M. Clayton)29 Mei 2012, Surabaya: Kedatangan kapal perang Amerika Serikat tertunda beberapa jam dari jadwal karena alasan teknis di Dermaga Jamrud Utara hingga di luar jadwal yang ditentukan semula. Humas PT Pelindo III (Persero), Edi Priyanto, menjelaskan, kedatangan kapal perang AS yaitu "US Ship Vandergrift" dan "USGC Waesche" yang semula dijadwalkan sandar pada 29 Mei 2012 pukul 10.00 WIB menjadi pukul 16.00 WIB. "Sedangkan satu kapal yakni `US Ship Germantown` diperkirakan sandar pada tanggal 30 Mei 2012," katanya di Surabaya, Senin malam.
Menurut dia, pada hari ini sudah masuk sejumlah kapal yang mengangkut beragam pembekalannya, antara lain kapal BG Glenn Horizon, BG Glenn Cangi, dan MT Glenn Energi. "Kapal tersebut membawa berbagai peralatan pendukung seperti fender/karet, tangga akomodasi, drum untuk `barrier`, satu unit truk sampah," ujarnya.
Selain itu, hari ini juga telah dilakukan upaya sterilisasi lokasi. Apalagi ketiga kapal tersebut rencananya menempati posisi di Dermaga Jamrud Utara dengan total panjang hingga 353 meter. "Total panjang di Dermaga Jamrud Utara sendiri mencapai 1,2 kilometer," tukas dia.
Edi menambahkan, dari ukuran panjang tersebut, alokasi untuk kapal penumpang sepanjang 500 meter. Kemudian angka itu dikurangi dengan adanya perbaikan untuk penguatan dermaga sepanjang 120 meter. "Oleh karena itu, hanya ada 235 meter di sepanjang Dermaga Jamrud Utara yang bisa digunakan untuk bersandar kapal komersial," katanya.
Di sisi lain, ia mengemukakan, kedatangan tiga kapal perang AS tersebut memberikan kekhawatiran tersendiri bagi pelaku ekonomi di Jawa Timur karena ada 15 unit kapal yang terdampak dan harus antre untuk sandar di Dermaga Jamrud Utara.
"15 unit kapal itu antara lain KM Aya, MV Team Progress, MV Han Splendor, MV Lan Ha, MV Golden Princess, MV Fareast Glory, MV Thigayu, MV Acacia, MV Taikli, BG Luna Mulia, MV Pos Ametrin, Zeus, MV Ocean Friends, MV Woohyun Haemil, dan MV Bao Ying," tuturnya.
Untuk menjaga keamanan di Dermaga Jamrud Utara, lanjut dia, selama kedatangan tiga kapal AS tersebut seluruh pihak yang terkait diharapkan dapat mengkondisikannya hal tersebut termasuk pandu, tunda, tambat dan "Port Security".
Sumber: ANTARA News
Jumat, 25 Mei 2012
PNS Azmat Kapal Perang Pakistan Singgahi Sabang
25 Mei 2012, Sabang: Kapal perang Pakistan bernama Navy Ship Pakistan (PNS) Azmat 1013 yang baru dibeli dari Cina, berkunjung ke Sabang dalam rangka silaturrahmi dan kerja sama pengamanan laut. Kapal bersandar di dermaga BPKS, Rabu (23/5), pukul 07.30 WIB dan direncanakan akan kembali ke Pakistan siang ini.
Komandan Lanal Sabang Kolonel Laut (P) Dodi Hermawan mengatakan, kedatangan “Kapal Perang Cepat Rudal” berukuran panjang 63 meter dan lebar 7,5 meter ini, membawa 64 personel Angkatan Laut Pakistan. Kapal ini dilengkapi delapan rudal jarak jauh.
Rombongan kapal Azmat yang dikomandoi Letnan Kolonel Amed Husin disambut Danlanal Sabang Kolonel Laut (P) Dodi Hermawan, Danlanudal Mayor Laut Sugeng, dan Sekdako Sabang Amiruddin SE. Juga ada Asisiten III Ir Ridwan Staf Ahli Sayuti SH, Pasi Ops Mayor Laut Ali Setiandy, Pasi Intel Mayor Laut Jeffri dan sejumlah undangan lainnya seperti mahasiswa yang dipersilakan naik melihat kapal. Kedatangan kapal ini juga menjadi tontonan sejumlah warga Sabang.
“Tujuan kedatangan kapal ini adalah kunjungan silaturrahmi dan kerja sama pertahanan laut. Kita sambut baik mereka karena kita juga dapat memperkenalkan alam Sabang,” kata Kolonel Laut (P) Dodi Hermawan.
Rombongan yang juga didampingi atase pertahanan Pakistan Kolonel Umer selanjutnya dibawa ke Kantor Wali Kota Sabang dan sejumlah objek wisata seperti Gapang, Iboih, Tugu Nol Kilometer dan Sumur Tiga.
Komandan Kapal Perang PNS Azmat Letnan Kolonel Amed, mengatakan hadirnya mereka bukan untuk pamer kapal baru melainkan sebagai wujud silaturrahmi dan tindak lanjut kerja sama angkatan laut Pakistan dan Indonesia.
Sumber: Tribunnews Aceh
Langganan:
Postingan (Atom)






















