Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Agustus 2012

Kapal Perang Siluman Diluncurkan

Kapal Cepat Rudal (KCR) KRI Klewang bernomor lambung 625, meluncur di Selat Bali, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (31/8). KRI Klewang tersebut mempunyai panjang 63 meter, berbahan dasar vinylester carbon fiber (infused), menggunakan teknologi maju di bidang pembuatan kapal perang antara lain kemampuan tidak terdeteksi oleh radar, tidak mengandung unsur magnet, serta tingkat deteksi panas dan suara yang rendah. (Foto: ANTARA/Seno S./ss/mes/12)

1 September 2012, Banyuwangi: TNI Angkatan Laut kini kian kuat. Kemarin satu kapal cepat rudal (KCR) yang diyakini mampu menjadi kekuatan pemukul di matra laut,KCR Trimaran, resmi diluncurkan dari galangan kapal milik PT Lundin Industry Invest di Pantai Cacalan,Kecamatan Kalipuro,Banyuwangi.

Kapal perang pertama berlunas banyak di Asia Tenggara, bahkan diklaim sebagai salah satu tercanggih di dunia,secara resmi dinamakan KRI Klewang– pedang bermata tunggal tradisional Indonesia berasal dari Pulau Madura– dengan nomor lambung 625. Selain kecanggihan teknologinya,desain kapal juga terbilang radikal karena sisi depannya sangat lancip dan berlunas tiga (trimaran) dengan keseluruhan elemen berbahan dasar infus vinylester karbon fiber.Dengan penggunaan material seperti ini bodi KRI Klewang mampu menginduksi panas sehingga sulit terdeteksi radar (stealth).

Peluncuran kapal perang yang dengan panjang keseluruhan 63 meter itu dilakukan Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Pertama Sayyid Anwar, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan PT Lundin. “Kapal ini pengembangan lanjutan dari riset agar TNI AL tetap diperhitungkan di dunia internasional. Kapal ini sangat canggih dan baru ada di Amerika SerikatdanIndonesia,”kata Laksamana Sayyid Anwar.

Dia menjelaskan, KRI Klewang ini dianggarkan dari pengadaan dana sisa devisa anggaran tahun 2009 yang kemudian pengerjaan kapal dilakukan oleh PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi. KRI Klewang akan dipersenjatai peluru kendali asal China C-705 yang akan diproduksi di Indonesia dengan jarak tembak hingga 120 kilometer. “Kapal cepat siluman ini yang pertama dengan menggunakan rudal dan berlunas trimaran. Kapal ini tidak bisa terdeteksi oleh radar karena menggunakan bahan khusus salah satunya dari komposit,”ujarnya.

Spesifikasi kapal itu memiliki panjang 63 meter,kecepatan maksimal 35 knot, bobot 53,1 GT, serta mesin utama 4x marine engines MAN nominal 1.800 PK. Saat diluncurkan ke perairan Selat Bali, kondisi pengerjaan KRI Klewang baru selesai 90%. Adapun finalisasinya, termasuk pemasangan peralatan persenjataannya, akan dilakukan di Pangkalan TNI AL Banyuwangi.

Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) Andi Widjajanto menilai peluncuran KRI Klewang yang berjenis kapal cepat rudal merupakan awal yang baik bagi pengembangan kapal modern pada masa mendatang.

Sekarang ini hanya ada beberapa negara yang mampu membuat kapal dengan tiga lambung seperti Amerika Serikat dan Jerman. Karena itu, jumlah kapal berlambung tiga ini juga masih sedikit di dunia, apalagi yang digunakan untuk kapal militer. “Kapal dengan tiga lambung ini menjadi arah pengembangan industri ke depan, dan kita sudah mampu membuatnya,” katanya. Andi menilai, Indonesia perlu mengembangkan kapal seperti ini karena selain mengikuti arah pengembangan kapal modern,kapal jenis ini juga cocok dengan kondisi perairan Indonesia. Kapal ini memiliki stabilitas yang lebih baik dibandingkan kapal-kapal lain yang berlambung satu.

“Ini sangat cocok untuk kondisi perairan dengan gelombang dan angin keras seperti yang ada di Indonesia,” ungkap dia. Meskipun merupakan salah satu kapal modern, kehadiran kapal ini bagi jajaran TNI Angkatan Laut dinilai belum cukup memberi perubahan berarti bagi perimbangan kekuatan dengan negara tetangga.“ Trimaran belum memberi perubahan apa-apa karena kapasitas minim, teknologi, dan tonase kecil,”bebernya. Karena itu, kapal ini perlu dikembangkan lagi pada masa mendatang. Andi menyebut ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam pengembangan antara lain dari segi kapasitas tonase.

KRI Klewang memiliki tonase yang kecil sehingga menjadi masalah tersendiri karena tak bisa mengangkut amunisi banyak untuk senjata rudal yang dimilikinya. KRI Klewang dilengkapi peluru kendali (rudal) yang standarnya sama dengan kapal perang jenis fregate.“Hanya tonase kecil, masalah utama ada di daya angkut amunisi.Ke depan perlu dikembangkan kapal sejenis dengan kapasitas lebih besar,minimal menyerupai frigate,”tuturnya. Selain itu, pengembangan juga diharapkan menyangkut masalah teknologi yakni membuat kapal menjadi antiradar (stealth).

“Amerika Serikat sekarang sudah merancang prototipe yang stealth. Kalau yang KRI Klewang ini belum stealth, baru andalkan teknologi permukaan saja dan memiliki lambung tiga,”sebut Andi. Untuk bisa membuat kapal antiradar (stealth),dibutuhkan bahan dan teknologi khusus dalam membuatnya. Kapal antiradar berbahan titanium ringan yang proses pembuatannya didesain sedemikian rupa sehingga mampu meminimalisasi irisan radar hingga mendekati nol.

Cocok untuk Karakteristik Indonesia

Kapal patroli siluman 32m rancangan LOMOCean Design, Selandia Baru. (Image: LOMOCean)

Direktur PT Lundin Industry Invest Lizza Lundin dan John Lundin memaparkan,kapal ini hasil kolaborasi riset, desain, dan pengembangan antara North Sea Boats Pte Ltd/PT Lundin dan arsitek kapal LOMOCean dari Selandia Baru yang dilakukan secara intensif selama 24 bulan. “Hasil kolaborasi tersebut merepresentasikan suatu langkah maju dalam penggunaan teknologi maju di bidang pembuatan kapal perang,” kata Lizza.

Penggunaan bahan baku karbon foam sandwich untuk aplikasi kapal dalam skala yang luas seperti itu suatu hal yang belum pernah dilakukan di luar Skandinavia dan suatu representasi kemutakhiran teknologi di bidang rekayasa struktural dan produksi.Dengan kemampuan stabilitas yang sangat baik dan rancangan lambung yang dangkal, kapal ini didesain untuk berpatroli di pesisir yang panjang. Bentuk lambung dirancang agar kapal dapat melaju dengan kecepatan yang tinggi,namun dengan tetap memperhatikan kemampuan kru atau kapal untuk beroperasi di laut curam dan pendek yang merupakan karakteristik garis pantai di kepulauan di Indonesia.

Sedangkan bagian bawah garis air telah dioptimalkan untuk dapat mencapai kecepatan jelajah yang cukup jauh. Pajang, posisi melintang dan membujur, serta kemampuan peredaman dari masing-masing lunas telah dirancang secara khusus guna daya tahan terbaik dengan menggunakan analisis slender body dan towing tank. Desain struktural, meskipun masih memerlukan persetujuan dari Germanischer Lloyd di Hamburg Jerman, menggunakan metodologi desain yang dirancang khusus untuk geometri dari sebuah kapal berlunas tiga yang dapat memecah ombak.

Konstruksi kapal ini menawarkan beberapa keunggulan antara lain lebih ringan (karbon fiber yang telah dilaminasi memimiki tingkat kepadatan separuh lebih rendah daripada alumunium) dan efisien dalam biaya perawatan (karbon komposit tidak dapat berkarat dan memiliki batas kelelahan yang tinggi).

Kapal tersebut juga mempunyai kemampuan tidak terdeteksi oleh radar karena bentuk panel yang benar-benar datar yang didapat sebab tidak ada distorsi selama proses perakitan, tingkat keakuratan geometris yang sangat tinggi, tidak mengandung unsur magnet, tingkat deteksi panas,dan suara yang rendah. Untuk tenaga dan sistem propulsi,kapal ini menggunakan beberapa mesin diesel MAN V 12 dan waterjet MJP 550, yang mana terletak di lunas tengah dan juga di masing-masing lunas kiri dan kanan,guna menghasilkan tenaga pendorong yang maksimum dan kemampuan bermanuver yang baik.

“Ruang akomodasi disediakan untuk 29 orang kru kapal pada tiga lantai dek termasuk anjungan kapal dan ruang kendali, juga disediakan fasilitas dan peralatan termasuk kapal rigid inflatable boat sepanjang 11 meter yang dapat dipergunakan untuk penerjunan pasukan khusus,”katanya.

KRI Klewang Ditempatkan di Armatim



Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Pertama Sayyid Anwar, mengatakan Kapal Cepat Rudal Trimaran KRI Klewang 625 akan ditempatkan di Armada Timur, Surabaya.

Meskipun begitu, kata dia, kapal bisa dioperasikan di seluruh kawasan di Indonesia sesuai kebutuhan. "Operasinya bisa di kawasan barat atau timur sesuai dengan kebutuhan," kata dia usai meluncurkan KCR Trimaran di galangan kapal PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi, Jumat, 31 Agustus 2012.

Menurut Sayyid Anwar, KCR Trimaran ini berfungsi sebagai kapal perang. Kapal ini dilengkapi empat peluru kendali dengan daya jelajah hingga radius 120 kilometer. KRI Klewang juga diklaim memiliki teknologi khusus sehingga tidak dapat dideteksi radar musuh.

Sumber: SINDO/TEMPO

Kapal Perang Siluman KRI Klewang-625 Diluncurkan

Seorang satpam melintas di epan Kapal Cepat Rudal (KCR) KRI Klewang bernomor lambung 625, di pabrik kapal PT. Lundin Industry Invest, di Klatak, Kalipuro, Banyuwangi, Jatim, Jumat (31/8). Kapal KCR Trimaran pesananan Kementrian Pertahanan untuk memperkuat armada TNI AL ini berbahan dasar Carbon Fibre dan mempunyai kemampuan tidak terdeteksi radar (stealth) hingga mampu melaksanakan operasi keamanan laut dan tempur laut. (Foto: ANTARA FOTO/pandu dewantara/pd/12)

31 Agustus 2012, Banyuwangi: TNI Angkatan Laut meluncurkan kapal cepat rudal (KCR) Trimaran di galangan kapal milik PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat, 31 Agustus 2012. PT Lundin Industry Invest adalah perusahaan dalam negeri yang memproduksi kapal-kapal perang sejak 2007.

Peluncuran kapal perang yang diberi nama KRI Klewang ini dilakukan oleh Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Sayyid Anwar. Kapal ini merupakan pesanan Kementerian Pertahanan untuk memperkuat alat utama sistem pertahanan.

Kapal memiliki panjang 63 meter, kecepatan maksimal 35 knot, bobot 53,1 GT, serta mesin utama 4x marine engines MAN nominal 1.800 PK. Anggaran yang dikeluarkan sebesar Rp 114 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sejak tahun 2009 hingga 2011.

Menurut Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Sayyid Anwar, KCR Trimaran merupakan kapal siluman yang tidak mudah dideteksi oleh radar lawan.

Kapal ini dibuat dengan teknologi tinggi berbahan serat optik, dipersenjatai peluru kendali dengan jarak tembak hingga 120 kilometer. "Di dunia, kapal seperti ini baru dibuat di Amerika dan Indonesia," kata Sayyid Anwar, Jumat, 31 Agustus 2012.

Kapal ini sendiri baru selesai 90 persen dan dalam proses ditarik dari galangan ke perairan Selat Bali. Pengisian kelengkapan kapal akan dilakukan di Pangkalan TNI AL Banyuwangi.

Pemilik PT Lundin Industry Invest, Jhon Lundin, menyatakan terima kasih atas kepercayaan TNI AL kepada perusahaannya untuk membuat KCR Trimaran ini. "Kapal ini merupakan teknologi baru di Indonesia," kata dia. Bahkan di Asia, kata dia, aplikasi teknologi di kapal ini merupakan yang pertama di Asia.

John bercerita awal mula ide kapal ini berasal dari mantan KSAL Slamet Subiyanto pada 2005 lalu. Saat itu, kata dia, Slamet ingin membuat kapal dengan teknologi tercanggih yang dapat dikerjakan oleh perusahaan dalam negeri.

Peluncuran kapal ini menjadi tontotan warga sekitar. Ratusan warga telah memadati pantai untuk melihat langsung proses penarikan kapal menuju laut.

Sumber: TEMPO

Rabu, 29 Agustus 2012

Perwira Siswa TNI AL Kunjungi Korps Marinir

Seorang prajurit Korps Marinir menjelaskan kepada Pasis TNI AL tentang kesenjataan yang dimiliki Korps Marinir saat mengunjungi Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Rabu, (29/8). Kunjungan ini dalam rangka mendapatkan pembekalan wawasan dan pengetahuan kematraan guna meningkatkan jiwa serta semangat integrasi, selain itu juga sebagai sarana memantapkan sikap dan perilaku sebagai prajurit matra laut. (Foto: ANTARA/Kuwadi/ed/pd/12)

29 Agustus 2012, Surabaya: Sebanyak 41 perwira siswa (pasis) PA PK Angkatan XIX-2012 yang terdiri dari 22 Pasis Korps Kesehatan dan 19 Pasis Korps Khusus, Rabu, mengunjungi Pasmar-1.

Kedatangan para pasis di Trian Sutedi Sena Putra, Bhumi Marinir, Karang Pilang, Surabaya itu untuk pembekalan dan pengenalan berbagai macam kendaraan tempur serta kesenjataan yang dimiliki Korps Marinir.

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Aspers Pasmar-1 Kolonel Marinir Daru Sukendar, Komandan Pasmar-1 Kolonel Marinir R. Gatot Suprapto mengatakan, Pasis Dikma PK merupakan calon perwira TNI AL yang perlu mendapat pembekalan wawasan dan pengetahuan kematraan.

"Pembekalan itu untuk meningkatkan jiwa serta semangat integrasi, sekaligus sebagai sarana memantapkan sikap dan perilaku sebagai prajurit matra laut," katanya.

Selain itu, kunjungan ini merupakan salah satu metode dalam rangka peningkatan wawasan dan pemahaman prajurit matra laut secara utuh.

Dalam kunjungan tersebut, para pasis sangat antusias saat diputarkan film profil Korps Marinir yang menjelaskan mulai susunan organisasi, kesenjataan-kesenjataan yang dimiliki Korps Marinir sampai dengan kiprah prajurit Marinir dalam berbagai penugasan baik di dalam maupun di luar negeri.

Para Pasis juga diberi kesempatan melihat secara langsung berbagai macam material tempur Korps Marinir yang berada di bawah jajaran Pasmar-1.

Menanggapi pengenalan itu, seorang pasis Letda Laut (KH) Elvin Novianto S.Kom mengaku kunjungan ke Pasmar-1 merupakan kunjungan yang paling berkesan.

"Itu karena untuk pertama kalinya, saya dapat melihat berbagai macam material tempur yang belum pernah saya lihat, apalagi dapat memegang secara langsung senjata-senjata tersebut," katanya.

Dalam acara tersebut, tampak hadir pula para Komandan Satlak dan Perwira Staf di bawah jajaran Kolak/Satlak Pasmar-1.

Sumber: ANTARA Jatim

Selasa, 28 Agustus 2012

Awak KRI Ajak-653 Latihan Prosedur Penembakan Torpedo


29 Agustus 2012, Surabaya: Guna mengasah tingkat kemampuan profosionalisme prajurit, tidak ada kata lain yang harus dilakukan, yaitu melaksanakan latihan dan latihan. Dengan melaksanakan latihan secara periodik dan berlanjut, diharapkan tingkat kemampuan profesional prajurit tetap terjaga dan terpelihara.

Demikian juga yang dilakukan oleh jajaran prajurit Satuan Kapal Cepat Komando Armada RI Kawasan Timur (Satkat Koarmatim), khsususnya perwakilan perwira Korps Pelaut dan Tim Pos Informasi Tempur (PIT) prajurit KRI Ajak-653 pada minggu ke dua bulan Agustus ini, telah melaksanakan latihan prosedur penembakan Torpedo (TPO) Sut di Arsenal Batu Poron Madura.

Latihan teori dan praktek yang berlangsung selama tiga hari tersebut berjalan lancar sesuai yang dijadwalkan. Selama latihan, nampak para perwira dan Tim PIT prajurit KRI Ajak-653 sangat antusias menerima semua pembekalan yang diberikan oleh Tim instruktur dari Arsenal. Materi yang diberikan selama latihan berlangsung diantaranya, pengetahuan umum, karakteristik operasional dan pengendalian Torpedo Sut.

“Latihan ini disamping untuk meningkatkan kemampuan profesional prajurit KRI Ajak dalam melakukan prosedur penembakan Torpedo Sut secara benar dan akurat, disisi lain juga sekaligus untuk persiapan menghadapai latihan Armada Jaya XXXI yang akan digelar dalam waktu dekat ini, “kata Komandan KRI Ajak-653 Letkol Laut (P) Alan Dahlan menegaskan.

Sumber: Dispenarmatim

Kamis, 23 Agustus 2012

TNI AL Kirim KRI Frans Kaisiepo-368 Ikuti Latma Kakadu 2012


23 Agustus 2012, Surabaya: Kapal Perang Republik Indonesia (KRI ) Frans Kaisiepo-368. Hari ini, Kamis (23/8) diberangkatkan Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Agung Pramono SH. M.Hum dari atas geladak KRI Diponegoro-365 yang bersandar di dermaga Madura,Koarmatim,Ujung, Surabaya. Untuk mengikuti latihan Multilateral Kakadu tahun 2012 yang diikuti oleh 8 negara Asia Pasifik di Darwin, Australia.

Kapal perang dari Satuan Kapal Eskorta Koarmatim (Satkor Koarmatim) Sigma Class buatan Belanda itu di lepas oleh Pangarmatim di dermaga Madura, Koarmatim, Ujung, Surabaya. Kapal perang canggih Indonesia ini pernah menunaikan tugas sebagai wakil Indonesia untuk bergabung dalam misi perdamaian dunia di Lebanon Maritime Task Force (MTF) UNIFIL.

Latihan Multilateral yang diikuti oleh Indonesia ini bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan hubungan kerja sama antarnegara di Asia Pasifik, sehingga diharapkan dapat mewujudkan stabilitas keamanan di kawasan Asia Pasifik. Bagi TNI AL kesempatan latihan ini merupakan ajang komparasi profesionalitas prajurit dalam menguasai berbagai problem latihan yang dilaksanakan serta kemampuan alutsista yang dimiliki dihadapkan pada alutsista peserta lainnya.

Pada latihan 2 tahunan kali ini, TNI Angkatan Laut mengirimkan KRI Frans Kaisiepo – 368 dan Heli BO – 105 untuk turut serta dalam latihan bergengsi yang diikuti 8 negara, ke 8 negara itu antara lain Australia, Brunei Darussalam, Indonesia, Perancis, Jepang, Selandia Baru, Singapura dan Thailand. Indonesia ditunjuk sebagai participantships dalam latihan Kakadu 2012 yang diselenggarakan oleh Royal Australian Navy (RAN).

Latihan Kakadu 2012 akan diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus s/d 14 September 2012. Latihan Kakadu 2012 merupakan upaya untuk menyamakan persepsi dan tindakan dalam hal penanganan dan tindakan dalam menghadapi ancaman yang mungkin terjadi di wilayah perairan laut negara masing-masing pada umumnya dan di Asia Pasifik pada khususnya.

Sumber: Dispenarmatim

Sabtu, 18 Agustus 2012

Dua Kapal Perang Jenis LST Docking di Semarang


19 Agustus 2012, Semarang: Kepala Dinas Pemeliharaan Kapal (Kadisharkap) Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Kolonel Laut (T) Rachmat Hartoyo, S.Sos. bersama Inspektur Kolinlamil Kolonel Laut (P) Chairil Hapri, S.E. melaksanakan peninjauan ke KRI Teluk Manado-537 dan KRI Teluk Lampung-540 yang tengah melaksanakan docking di PT. Dock Jasa Marina Indah, Semarang.

Pada kesempatan tersebut Kadisharkap mengatakan, untuk mewujudkan kesiapan alutsista Kolinlamil secara optimal, KRI Teluk Manado-537 dan KRI Teluk Lampung-540 melaksanakan docking di PT. Dock JMI Semarang. Adapun tujuan pemeliharaan maupun perbaikan yang dilaksanakan terhadap Kapal jenis Frosch ini, merupakan perbaikan rutin KRI dalam menunjang kesiapan tugas operasi.



Lebih lanjut dikatakan Kadisharkap, Kegiatan peninjauan ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan pekerjaan docking KRI Teluk Manado-537 dan KRI Teluk Lampung-540 yang saat ini memasuki tahap pengerjaan.

Dalam pelaksanaan docking di PT.Dock JMI Semarang yang dilaksanakan kurang lebih 10 hari ini merupakan pelaksanaan docking rutin, sebelum turun dock dilaksanakan pengecekkan terhadap semua item perbaikkan dan cek kebocoran serta pelaksanaan Sea Trial setelah kapal turun Dock, ujarnya.

Sumber: Kolinlamil

Kamis, 16 Agustus 2012

KRI Teluk Sibolga Singgah di Bengkulu


16 Agustus 2012, Bengkulu: KRI Teluk Sibolga merapat di Dermaga Nusantara Bengkulu pukul 11.45 WIB setelah melaksanakan patroli rutin dari perairan laut Sibolga, Padang, Bengkulu, Lampung dan Jakarta.

Kapal ini akan melaksanakan bekal ulang air, logistik dan debarkasi materil selama sandar di Bengkulu.

Kapal buatan Jerman Timur pada tahun 1977 untuk Angkatan Laut Jerman Timur jenis Frosch-I/Type 108 ini dibeli pemerintah Indonesia untuk TNI Angkatan Laut dan masuk jajaran armada pada tahun 1993 sebagai armada pendarat bagi pasukan Marinir TNI AL dan juga sebagai kapal pengangkut logistik.

Komandan KRI Teluk Sibolga Mayor Laut (P) Ronald Rarun akan mengadakan “Open ship” untuk masyarakat Bengkulu selama sandar di Dermaga Nusantara dari pukul 08.00 s.d 18.00 WIB.

Kapal yang memiliki berat 1,900 ton dengan dimensi 90,70 meter x 11,12 meter x 3,4 meter dan ditenagai oleh 2 mesin diesel, 2 shaft ini bisa menghasilkan 12,000 hp yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 18 knot.

Kapal yg dilengkapi radar MR-302/Strut Curve Air/Surface Search dan diawaki 65 personil ini mampu mengangkut Cargo hingga seberat 600 ton.

Kapal yang dilengkapi senjata 1 kanon laras ganda kaliber 37mm Model 1939, 1 Meriam Bofors 40/70 berkaliber 40mm dengan kecepatan tembakan 120-160 rpm, jangkauan 10 Km untuk target permukaan terbatas dan target udara dan 2 kanon laras ganda kaliber 25mm ini akan melanjutkan patroli menuju Jakarta pada hari Kamis 16 Agustus 2012 sore hari setelah Open ship ditutup.

Sumber: Pen Lanal Bengkulu

Rabu, 15 Agustus 2012

TNI AL Beli 11 Helikopter Anti-Kapal Selam

AgustaWestland AW101 berkemampuan anti-kapal selam. (Foto: AgustaWestland)

15 Agustus 2012, Jakarta: Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut menambah alat utama sistem senjata (alutsista) dengan membeli 11 helikopter antikapal selam pada 2014, karena dua unit helikopter antikapal selam yang ada sudah dipensiunkan.

"Sebenarnya, kita sudah punya sejak tahun 1960 tetapi pada tahun 1970 sudah dipensiunkan. Pembelian helikopter tersebut untuk memenuhi target Minimum Essential Force (MEF) dan untuk pertahanan negara," kata Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal), Laksamana Madya Marsetio saat jumpa pers bersama Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (15/8).

Kendati demikian, jelas Marsetio, pihaknya masih membahas dengan Kementrian Pertahanan 11 jenis helikopter tersebut, apakah akan mendatangkan jenis Seasprite atau Agusta.

Selain pembelian helikopter antikapal selam, TNI AL juga akan menambah tiga kapal selam, dimana sudah melakukan kontrak dengan Korea Selatan untuk pembelian kapal selam tersebut.

"Saat ini ada dua kapal selam, dan akan membeli 3 unit lagi. Ini sudah kontrak dengan Korea Selatan. Rencananya 2015 itu baru akan datang," jelasnya.

Menurut dia, Singapura dan Malaysia telah memiliki lima unit kapal selam. Oleh karena itu, Indonesia perlu menambah tiga unit kapal selam.

"Idealnya enam unit kapal selam. Namun, penambahan kapal selam ini akan dilakukan secara bertahap," ujar Wakasal.

Sumber: Investor

Selasa, 14 Agustus 2012

Lanal Sibolga Diperkuat Kapal Patroli Jenis Combat Cat X-38


14 Agustus 2012, Sibolga: Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Sibolga di bawah Lantamal II Padang menerima satu unit kapal Patroli Keamanan Laut (Patkamla) jenis Combat Cat X-38 Combat dari Dinas Material dan Perbekalan Koarmabar, Senin (13/8).

Kapal diangkut menggunakan KRI Teluk Sibolga-536 dan diterima Danlanal Letkol (P) Ivan Gatot Prijanto, SE., di dermaga Pelabuhan Sambas, Sibolga disaksikan Wakil Bupati Tapanuli Tengah, Komandan Distrik Militer (Dandim) dan Kepala Polisi Resort (Kapolres) serta Kepala Pengadilan Sibolga.

Kapal jenis Combat Cat X-38 Combat diproduksi PT. Lundin Industry Invest, Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki spesifikasi bottom dua buah lunas dengan dua mesin Marine Diesel VGT 400 PK bertenaga 220 HP buatan Swedia serta dilengkapi dengan alat navigasi dan komunikasi modern.

Kapal memiliki kecepatan jelajah maksimal 40 knot dilengkapi juga dengan senapan mesin jenis M 240 Kaliber 7,62 atau M 60 Kaliber 7,62 dan dapat diganti peluncur Granat Kaliber 40 mm. Kapal cepat yang diawaki empat personel tersebut mampu mengangkut hingga dua puluh orang dengan persenjataan lengkap.

(Foto: North Sea Boats)

Danlanal Sibolga pada kesempatan tersebut mengatakan, kehadiran Combat Cat X-38 Combat di Lanal Sibolga diharapkan mampu menambah kekuatan unsur dalam meningkatkan keamanan, pengawasan serta penegakan hukum di laut secara maksimal di wilayah kerja Lanal Sibolga.

Sumber: Dispenarmabar
@Berita HanKam

Jumat, 10 Agustus 2012

TNI AL Bangun Pangkalan Kapal Selam di Teluk Palu


10 Agustus 2012, Palu: TNI Angkatan Laut akan membangun pangkalan kapal selam di Teluk Palu, Sulawesi Tengah. Komandan Pangkalan Angkatan Laut Palu Kolonel (P) Laut Boedi Utomo seusai shalat Tarawih bersama warga di KRI Makassar-509, Jumat (10/8) malam mengatakan, saat ini sudah tersedia lahan seluas 13 hektare.

"Tiga hektare diantaranya merupakan hibah dari pemerintah provinsi," kata Boedi Utomo.

Dia mengatakan, saat ini proyek sedang dalam tahapan pembangunan.

Boedi Utomo mengatakan, salah satu alasan pemilihan Teluk Palu karena teluk ini cukup strategis di nusantara. Dia mengatakan, Teluk Palu memiliki lebar 10 kilometer dengan lingkar garis pantai sepanjang 68 kilometer.

"Kedalaman teluk ini mencapai 400 meter. Sangat strategis. Ini teluk paling dalam diantara teluk yang ada. Kapal induk saja bisa berlabuh. Di Singapura saja itu hanya 25 meter, tidak bisa dilewati kapal induk," katanya.

Sementara itu Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengatakan, masyarakat sekitar lokasi pembangunan pangkalan selam di Watusampu kiranya mendukung rencana tersebut.

"Semua ini untuk kita di Sulawesi Tengah. Sekarang kita sudah rasakan bagaimana KRI Makassar bisa berlabuh di sini sehingga kita bisa melihat langsung dan naik di atas kapal," kata Longki.

Jumat malam ratusan masyarakat mengikuti shalat Tarawih bersama di atas kapal sepanjang 122 meter tersebut. Menurut rencana KRI Makassar yang berkapasitas muatan 22 tank dan tiga helikopter serta 700 personel tersebut rencananya akan bertolak ke Bitung, Sabtu siang.

Sumber: Republika

Kamis, 02 Agustus 2012

Satuan Kapal Ranjau Koarmabar Gelar Persiapan Latihan Armada Jaya 2012

(Foto: Koarmabar)

3 Agustus 2012, Jakarta: Satuan Kapal Ranjau Komando Armada RI Kawasan Barat (Satran Koarmabar) dalam rangka persiapan Latihan Armada Jaya XXXI/2012 melaksanakan persiapan personel dan kesiapan unsur Kapal Perang Satran Koarmabar.

Komandan Satuan Kapal Ranjau Koarmabar (Dansatranarmabar), Kolonel Laut (P) Eko Wahyono mengatakan persiapan personel dan unsur Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) melaksanakan latihan Geladi Tugas Tempur Tingkat I (L1) serta Geladi Tugas Tempur Tingkat II (L2).

Kepala Dinas Penerangan Koarmabar, Letkol Laut Agus Cahyono dalam siaran persnya, Jumat (3/8), mengatakan untuk kegiatan persiapan personel diberikan materi latihan guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap mental Anak Buah Kapal (ABK) KRI Pulau Rangsang (PRG-727) dalam melaksanakan Geladi Tugas Tempur Tingkat I (L1) secara bertingkat dan berlanjut.

Hal tersebut untuk menjaga kesiapan dan naluri tempur pengawak alat utama (Alut) secara optimal ABK KRI Pulau Rangsang (PRG-727). Selanjutnya selesai melaksanakan Geladi Tugas Tempur Tingkat I (L1) dilanjutkan dengan kegiatan berlayar dalam rangka melaksanakan Geladi Tugas Tempur Tingkat II (L2) di perairan Kepulauan Riau.

Kegiatan latihan secara bertingkat dan berlanjut dilaksanakan dalam rangka meningkatkan keterampilan dan kemampuan personel dalam mengawaki kapalnya dalam kondisi kesiapan tempur yang optimal.

Sumber: Jurnas

Koarmatim Gelar Latihan Pra Tugas Satgas Operasi Perbatasan Laut

Seorang ABK salah satu kapal perang RI (KRI) Diponegoro-365 siaga di meriam kaliber 20mm saat peran tempur bahaya udara, dalam rangkaian Latihan Pra Tugas Satgas Operasi Perbatasan Laut di Laut Jawa, Kamis 2/8). Latihan Pratugas Satgas Operasi Perbatasan Laut yang digelar 31 Juli - 2 Agustus 2012 serta melibatkan delapan kapal perang dan 2 pesawat udara tersebut, merupakan salah satu upaya TNI AL khususnya Koarmatim untuk selalu memelihara dan meningkatkan kesiapsiagaan, baik personel maupun alutsistanya dalam menjawab tantangan tugas dalam menjaga dan mengamankan wilayah perairan yurisdiksi nasional yang berbatasan dengan negara lain. (Foto: ANTARA/HO-Serka Adrian Alekander/EI/ss/pd/12)

2 Agustus 2012, Surabaya: Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), siap mengamankan perbatasan wilayah laut dalam gelar latihan Manuvra Lapangan (Manlap) unsur-unsur laut dan udara, yang tergabung dalam Latihan Pratugas Satuan Tugas Operasi (Satgas Ops) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Laut tahun 2012 di Sekitar laut Jawa, Kamis (02/8). Gladi tempur laut itu dilaksanakan selama tiga hari, mulai 31 Juli hingga berakhir hari ini, Kamis (2/8).

Manlap Pratugas Satgas Opspamtas Laut tahun 2012, melibatkan 8 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yaitu KRI Oswald Siahaan-354, KRI Abdul Halim Perdana Kusuma-355, KRI Frans Kaisiepo-368, KRI Diponegoro-365, KRI Untung Surapati-372, KRI Layang-805, KRI Arun-903 dan sebuah kapal selam yaitu KRI Nanggala-402.

Selain unsur laut, dalam latihan tersebut juga melibatkan unsur udara yaitu sebuah Pesawat Udara (Pesud) jenis Cassa dan sebuah Helikopter Bolcow dari Pusat Penerbangan Angakatan Laut (Puspenberbal) Juanda Surabaya.

Selama tiga hari di laut, unsur KRI dan Pesud melaksakan beberapa serial latihan peperangan laut diantaranya melawti medan ranjau Mine Fild Transit (Mft), pertempuran bahaya udara Air Defence Exercise (Adek), Manuvra Taktis (Mantak), komunikasi dengan isyarat bendera (Falg Hoist) dan isyarat menggunakan sinar atau cahaya (Flahsex) dan penembakan senjata artileri Gun Exercise (Gunex).

Gladi tempur laut selanjutnya adalah tindakan unsur laut dan udara dalam menanggulangi aksi kejahatan dan terorisme di laut Maritime Interdiction Operation (MIO) dengan mengerahkan tim Visit Boarding Search and Seizure (VBSS), dalam Bording Exercise (Bordex).

Guna meningkatkan kesiapan personel KRI dalam menghadapi ancaman kebakaran dan kebocoran kapal, juga telah dilaksanakan Peran Penyelamatan Kapal (PEK) atau Damage Control Exercise (Dcex). Tak kalah pentingnya dalam konvoi kapal perang dalam pertempuran laut tersebut, adalah kemampuan untuk melaksanakan bekal ulang di laut atau Relenisment at Sea Approach (Rasap).


Gladi Manlap itu dipimpin langsung oleh Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Pamtas Laut tahun 2012 Kolonel laut (P) Rahmat Eko Rahardjo yang sehari-hari mejabat sebagai Koamndan Satuan Kapal Patroli (Dansatrol) Koarmatim.

Latihan Pratugas Satgas Operasi Perbatasan Laut ini, merupakan salah satu upaya TNI AL khususnya Koarmatim untuk selalu memelihara dan meningkatkan kesiapsiagaan, baik personel maupun alutsistanya dalam menjawab tantangan tugas dalam menjaga dan mengamankan wilayah perairan yurisdiksi nasional yang berbatasan dengan negara lain.

Sumber: Dispenarmatim

Selasa, 31 Juli 2012

KRI Lambung Mangkurat Bersandar di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin

Seorang awak kapal memperhatikan haluan KRI Lambung Mangkurat yang sandar di pelabuhan Trisakti Banjarmasin untuk melakukan penambahan logistik, bahan bakar dan perawatan selama tiga hari setelah melakukan Operasi Tameng Hiu di perairan perbatasan Kalimantan Timur - Malaysia, Selasa (31/7). KRI Lambung Mangkurat menggelar open ship bagi masyarakat untuk berkunjung ke kapal dan melihat persenjataan canggih yang di miliki kapal tersebut. (Foto: ANTARA/Herry Murdy Hermawan/Koz/nz/12)

1 Agustus 2012, Banjarmasin: KRI Lambung Mangkurat (874) bersandar di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, pukul 20.00 WITA, Senin (30/7).

KRI Lambung Mangkurat kapal perang jenis korvet Parchim tergabung dalam Armada Timur TNI AL, sedang melakukan Operasi Tameng Hiu yaitu patrol perbatasan wilayath RI dan Malaysia di kawasan Kalimantan Timur.

Kapal dibawah komandan Letkol Laut (P) Wahyu Endriawan, bersandar di Pelabuhan Trisakti setelah melakukan operasi selama 2 bulan dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya untuk menambah logistik, bahan bakar dan perawatan, selanjutnya melakukan perlayaran ke peraiaran Kalimantan Timur.

 
Seorang awak kapal menarik tali sandar KRI Lambung Mangkurat di pelabuhan Trisakti Banjarmasin. (Foto: ANTARA/Herry Murdy Hermawan/Koz/nz/12)

KRI Lambung Mangkurat bersandar di Pelabuhan Trisakti hingga Jumat (3/8). Masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya diberi kesempatan mengunjungi kapal perang selama bersandar di pelabuhan.

KRI Lambung Mangkurat diawaki 60 personel telah berkunjung ke Banjarmasin pada 1994, saat peluncuran pertama kapal perang tersebut dalam jajaran armada TNI AL.

Sumber: ANTARA News Kalsel
@Berita HanKam

Senin, 30 Juli 2012

KRI Teluk Penyu Sandar di Lantamal VI

30 Juli 2012, Makassar: KRI Teluk Penyu –513 yang dikomandani Mayor Laut (P) Ashary Alamsyah sandar di dermaga Layang Mako Lantamal VI, Makassar, Sabtu ( 29/7/12).

KRI Teluk Penyu -513 dari jajaran Satuan Kapal Amfibi Komando Armada RI Kawasan Timur jenis Landing Ship Tank (LST) saat ini di Bawah Kendali Operasi (BKO) Gugus Kemanan Laut Armada RI Kawasan Timur.

Kedatangan KRI Teluk Penyu-513 di Lantamal VI dalam rangka dembarkasi material. Rencananya, KRI Teluk Penyu – 513 usai melaksanakan dembarkasi, selanjutnya akan melanjutkan pelayaran menuju Lantamal VII.


Sumber: Lantamal VI

Minggu, 29 Juli 2012

KRI Yos Sudarso-353 Patroli ke Pulau Terluar


28 Juli 2012, Biak: KRI Yos Sudarso-353 Kapal Markas Guskamlatim meninggalkan Kota Biak menuju Pulau Mapia untuk mendukung kegiatan Tim Inspektorat Jenderal (Itjen) TNI dalam rangka kegiatan pengawasan dan pemeriksaan (Wasrik) terhadap pengamanan terbatas dan pulau-pulau terluar di wilayah Papua dan perbatasan laut Republik Indonesia di Pulau Fanildo, Pulau Brass Kabupaten Supiori dan Pulau Fani Kabupaten Raja Ampat.

KRI Yos Sudarso-353 yang dikomandani Letkol Laut (P) A Wibisono tersebut merupakan Kapal Markas Guskamlatim yang pada saat pelayaran tersebut On Board Komandan Guskamlatim Laksamana Pertama TNI Siwi Sukma Adji dan Asintel Guskamlatim Kolonel Laut (E) Yunus Anis serta Tim Wasrik Itjen TNI. Pada saat pelepasan kapal/ merplug di dermaga Umum Biak Nufor, dihadiri Panglima Kosek Hanudnas IV Biak, Komandan Korem 173/PVB Biak serta para pejabat militer yang berada di Biak Numfor.

Selain mendukung Tim Wasrik Itjen TNI ke Pulau Mapia, KRI Yos Sudarso-353 juga membawa dukungan logistik yang akan diserahkan kepada prajurit yang sedang melaksanakan tugas pengamanan di pulau tersebut. Pulau-pulau terluar biasanya adalah daerah terpencil, miskin bahkan tidak berpenduduk. Keberadaan pulau-pulau ini secara geografis sangatlah strategis, karena berdasarkan pulau inilah batas negara ditentukan.

Pulau Mapia merupakan kepulauan yang langsung berbatasan dengan Republik Palau di Samudera Pasifik. Jarak Pulau Mapia sekitar 240 km dari ibu kota Kabupaten Supiori, tepatnya di utara Papua. Pada masa pemerintahan Belanda termasuk dalam wilayah Residensi Ternate dan sekitarnya.

Nama Mapia sendiri diyakini berasal dari bahasa Sangir, berarti baik. Pulau ini merupakan sebuah pulau karang yang berbentuk cincin dan hanya mungkin didarati pada saat air laut pasang. Gugusan kepulauan terdiri dari lima pulau, yaitu Pulau Pegun atau Mapia (332 ha) yang terluas, Pulau Bras atau Beras (309 ha),Pulau Fanildo (50 ha), Pulau Bras Kecil (6 ha) dan Fanildo Kecil (4 ha). Lingkaran pulau pulau ini ditengahnya membentuk laguna seluas 3.000 m2.

Sumber: Guskamlatim

Jumat, 27 Juli 2012

Tim VBSS Koarmatim Siap Mengamankan Wilayah Perbatasan Laut


27 Juli 2012, Surabaya: Tim Visit Boarding Search and Seizure (VBSS) Koarmatim siap mengamankan wilayah perbatasan laut, saat gelar latihan disekitar Dermaga Koarmatim, Ujung Surabaya, Jum’at (27/07). Sebanyak empat tim pasukan VBSS bersenjata dilengkapi dengan sarana kendaraan air cepat Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) dikerahkan dalam Latihan Pratugas Satuan Tugas (Satgas) Operasi Perbatasan Laut Tahun 2012.

Tim VBSS tersebut dibekali dan diuji kemampuannya dalam menanggani berbagai permasalahan tindak pelanggaran di wilayah perbatasan laut seperti pembajakan, perompakan, penyelundupan manusia, pembalakan liar, ilegal fishing, pelanggaran batas wilayah maritim dan aksi terorisme di laut. Masing-masing tim beranggotakan 6 personel dan seorang perwira yang menjabat sebagai Komandan Tim.

Untuk mengasah kemampuan naluri tempur agar tetap terjaga dan meningkat, personel yang terlibat dalam VBSS ini melaksanakan latihan pemeriksaan kapal (bording) dengan didampingi pelatih dari Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmatim. Empat tim boarding yang disiapkan oleh Koarmatim terdiri dari satu tim VBSS KRI Untung Suropati-372, KRI Abdul Halim Perdana Kusuma-355, KRI Frans Kaisiepo-368 dan KRI Arun-903.


Pasukan penjaga perbatasan laut ini juga dibekali dengan pengetahuan tentang hukum laut internasional, hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam menjalankan tugasnya. Selain itu pelatih juga menerapkan prosedur operasional yang sangat ketat dalam menangani berbagai masalah atau gangguan yang menimpa prajurit seperti prosedur keselamatan diri (safety), pengaman personel dan material serta prosedur penanganan terhadap tawanan maupun musuh.

Latihan Pratugas Satgas Pengamanan Laut tahun 2012 ini, dilaksanakan untuk menyikapi masalah yurisdiksi wilayah maritim yang masih sangat problematik, sebagai akibat dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penentuan batas wilayah maritim. Masalah tersebut akhirnya menjadi salah satu potensi konflik karena adanya perbedaan persepsi dasar hukum yang digunakan sebagai dasar penentuan titik – titik batas wilayah negara.

TNI AL sebagai komponen utama pertahanan negara di laut merupakan penindak dan pencegah awal terhadap segala bentuk ancaman lewat laut terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah perairan yurisdiksi nasional. Kesiapsiagaan satuan-satuan operasional TNI AL merupakan suatu tuntutan dan kewajiban dalam menjawab berbagai permasalahan yang timbul di bidang maritim, baik yang bersifat ancaman militer negara lain maupun terhadap ganggunan penegakan hukum di laut yurisdiksi nasional.

Sumber: Dispenarmatim

Selasa, 24 Juli 2012

TNI AL Gelar Operasi Sapu Rajau di Morotai

Kapal penyapu ranjau KRI Pulau Rengat-711. (Foto: KRI Pulau Rengat)

24 Juli 2012, Jakarta: TNI Angkatan Laut (TNI) akan menyapu ranjau di perairan Morotai oleh Satuan Kapal Penyapu Ranjau Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmartim) Surabaya. Kegiatan itu dalam rangka persiapan Sail Morotai 2012.

"Penyapuan ranjau tersebut diperlukan karena wilayah Morotai merupakan salah satu lokasi pertempuran pada akhir Perang Dunia II," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Untung Suropati di Jakarta, Selasa (24/7).

Di wilayah perairan Morotai, lanjut dia, banyak sisa-sisa alat perang seperti bangkai kapal dan lainnya. Faktor sejarah ini pula yang diharapkan ikut mendongkrak daya tarik Sail Morotai pada September 2012 mendatang, ujarnya. Tak hanya itu, TNI Angkatan Laut telah membentuk tim khusus untuk mendukung pelaksanaan kegiatan Sail Morotai 2012.

Tim yang dibentuk Staf Operasi Angkatan Laut (Sopsal) tersebut bertugas melakukan kegiatan inspeksi lapangan, operasi survei, dan pemetaan hidro-oseanografi di perairan Morotai, Maluku Utara. Kadispenal mengatakan, pelaksanaan inspeksi tersebut sekaligus untuk meninjau kesiapan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Morotai.

Sail Morotai diselenggarakan di Ternate dan Morotai, Provinsi Maluku Utara pada Juni hingga September 2012 dengan puncak acara yang dilaksanakan di Pelabuhan Daruba Morotai pada tanggal 14 September 2012. Acara itu merupakan lanjutan dari tiga kegiatan sail sebelumnya, yakni Sail Bunaken (2009), Sail Banda (2010), dan Sail Wakatobi-Belitong (2011).

Sumber: Republika

Senin, 23 Juli 2012

TNI AL Gunakan UAV milik LAPAN

UAV FADEX. (Foto: pustekbang lapan)

23 Juli 2012, Jakarta: Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut akan memanfaatkan pesawat intai tanpa awak (UAV) milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh itu ditandai dengan penandatanganan Piagam Kesepakatan Bersama yang dilakukan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno dan Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan, di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.

KSAL Laksamana TNI Soeparno, mengatakan, kerja sama yang dilakukannya itu, ada jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendeknya, meningkatkan kapasitas atau kualitas SDM dengan cara pelatihan bersama, saling memberi, saling tukar informasi.

Sementara, jangka panjang memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, seperti penggunaan satelit dan pesawat intai tanpa awak (UAV).

"Kerja sama ini dapat membantu tugas TNI AL dalam menjaga kedaulatan negara, seperti pengawasan kapal-kapal yang melintas di perairan Indonesia. Pulau-pulau terluar juga akan diawasi," kata KSAL.

Menurut dia, kerja sama itu dapat menghemat anggaran yang ada karena bisa memadukan dua instansi yang memiliki keterkaitan.

"Untuk pertama ini, kita akan coba lima tahun. Mungkin nanti ditambah lagi lima tahun. Mungkin setelah 10 tahun sudah tercapai apa yang kita inginkan," katanya seraya berharap melalui kerja sama ini pengamanan laut bisa lebih optimal.

Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, mengatakan, teknis bantuan yang diberikan LAPAN kepada TNI AL, yakni pesawat intai tanpa awak (UAV) dan satelit sebagai penginderaan jauh untuk melakukan pengamatan di daerah laut.

"Kita akan membangun satelit yang bisa dipakai angkatan laut, umumnya TNI. Kami mencoba membangun kemampuan LAPAN ini yang bisa mendukung kegiatan di TNI AL. Satelit yang akan dibangun membawa sensor sistem identifikasi otomatis," katanya Menurut dia, tidak ada target pencapaian karena antariksa itu infrastruktur penting untuk pertahanan.

"Jadi tidak terbatas. Proyeksi ini akan terus diulang lima tahun dan diulang lagi sampai jelas bentuknya. Lima tahun ini kita lebih fokus ke penginderaan jauh, pemantauan pulau kecil, pemanfaatan satelit untuk kegiatan TNI AL," kata Bambang.

Ruang lingkup kerja sama itu, meliputi bidang penelitian, pengkajian, pengembangan, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kedirgantaraan. Iptek kedirgantaraan itu sendiri mencakup, penginderaan jauh, sains dirgantara dan teknologi kedirgantaraan.

Selain itu, kedua instansi juga bekerja sama dalam bidang pertukaran ilmu pengetahuan, data, informasi, dan tenaga ahli serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Dalam acara itu, juga ditandatangani dua perjanjian kerja sama antara LAPAN-Dinas Pengamanan AL (Dispamal) tentang pendidikan, pelatihan, dan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan LAPAN-Dinas Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Dishidros).

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh menjadi fokus utama dalam kerja sama itu karena teknologi ini sangat membantu dalam pemantauan dan pengamatan laut. Penginderaan jauh juga dapat memberikan data yang akurat, komprehensif dan dapat diterima setiap saat, sehingga membantu tugas TNI AL.

Sumber: Jurnas

Sabtu, 14 Juli 2012

Ranpur Marinir Diangkut Tiga Kapal Perang

KRI Banda Aceh kapal perang jenis Landing Platform Dock. (Foto: Kolinlamil)

14 Juli 2012, Jakarta: Tiga kapal perang TNI AL dari jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) melaksanakan embarkasi kendaraan amfibi Marinir yang akan digunakan pada latihan pendaratan amfibi Pasmar-2 di Pantai Caligi Pesangrahan, di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok Jakarta, Jumat (13/07).

Dari ketiga kapal perang tersebut, dua diantaranya berada di bawah pembinaan Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Jakarta yaitu KRI Banda Aceh (BAC)-593 dan KRI Teluk Amboina (ABN)-503, sedangkan KRI Teluk Bone (TBO)-511 berada di bawah pembinaan Satlinlamil Surabaya.

KRI Banda Aceh (BAC)-593 yang merupakan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) dengan Komandan Letkol Laut (P) Suratun, melaksanakan embarkasi kendaraan dan perlengkapan yang akan dipergunakan dalam rangka latihan pendaratan amfibi, mengangkut tank jenis BMP-3F, Howitzer, kendaraan pendarat amfibi (Ranratfib), angkut personel jenis LVT-7, Kapa, Komob, perahu karet (PK) .

KRI Teluk Amboina (ABN)-503 yang merupakan kapal perang jenis Landing Ship Tank (LST) dengan Komandan Letkol Laut (P) Totok Suharyanto, melaksanakan embarkasi kendaraan dan perlengkapan yang akan dipergunakan dalam rangka latihan pendaratan amfibi, mengangkut material kendaraan pendarat amfibi (Ranratfib) angkut personel jenis BTR-50, dan perahu karet (PK).

Sedangkan KRI Teluk Bone (TBO)-511 yang merupakan kapal perang jenis LST dengan Komandan Letkol Laut (P) Jales Jamca Jayamahe, mengangkut material tank jenis PT-76 M, dan perahu karet (PK).

Sumber: Kolinlamil

Minggu, 08 Juli 2012

Dua Perwira TNI AL Gugur dalam Latihan SAR Kapal Selam

Proses pengangkatan jenazah perwira TNI AL yang gugur dalam latihan evakuasi awak kapal selam KRT Cakra 401 di perairan Pasir Putih Situbondo, Sabtu (7/7/2012). Dua perwira TNI AL meninggal dunia dalam peristiwa itu. (Foto: SURYA/Izi Hartono)

8 Juli 2012, Situbondo: Tragedi Situbondo terulang. Setelah enam Marinir gugur akibat tank amfibi yang dikendarai tenggelam di Pantai Banongan pada 2008 lalu, kemarin, latihan Search and Rescue (SAR) kapal selam diwarnai kecelakaan.

Dua perwira Satuan Kapal Selam TNI AL gugur dalam latihan di perairan Pasir Putih, Situbondo. Kedua perwira yang meninggal tersebut Komandan Satuan Kapal Selam Kolonel Laut (P) Jefri S Sangel dan Mayor Laut (T) Eko Idang Prabowo.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Untung Suropati, yang dihubungi melalui telepon membenarkan gugurnya kedua perwira tersebut. Tadi malam kedua korban dibawa menuju rumah duka masing-masing.

Menurut Untung, kedua perwira TNI AL tersebut mengalami kecelakaan dalam latihan SAR kapal selam di perairan Pantai Pasir Putih, Kabupaten Situbondo. ”Itu latihan hari kedua. Hari pertama sukses. Hari kedua ini pun pada latihan pertama pagi oke, baru pada latihan kedua ada masalah,” kata Untung kemarin.

Menurut dia, pada latihan itu kapal selam berhenti di dasar laut, kemudian para prajurit keluar dari dalam melalui conning tower. Dalam pelatihan seperti ini, ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan. Di antaranya faktor spesifikasi kapal, kemampuan manusianya, serta kondisi alam di bawah laut seperti gelombang dan arus.

Kedua prajurit yang celaka langsung ditangani tim medis di atas ponton yang ditambatkan tak jauh dari pantai.”Ini bagian dari prosedur pelatihan,” ungkapnya. Musibah yang menimpa kedua perwira terjadi pukul 10.39 WIB kemarin.

Dalam simulasi latihan,kapal selam KRI Cakra 401 dilaporkan karam sehingga tak bisa muncul ke permukaan. Karena beberapa personel terjebak di dalam kapal, tim SAR Satuan Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) diterjunkan mencari posisi kapal hingga akhirnya ditemukan.

Latihan operasi penyelamatan lantas digelar di depan para petinggi Komando Armada RI KawasanTimur (Armatim). Kedua perwira, Kolonel Jefri dan Mayor Eko, turut dalam latihan operasi penyelamatan. Musibah terjadi saat keduanya melakukan proses pembebasan personel dari KRI Cakra 401 di dasar laut. Diduga karena terlalu lama di bawah air atau terlalu cepat naik ke permukaan, kedua korban mengalami dekompresi, yakni terakumulasinya nitrogen di dalam tubuh saat berada di kedalaman air.

Ketegangan terjadi saat kedua perwira terlambat muncul ke permukaan. Akibatnya perut dan mulut mereka kemasukan air. Kondisi ini sontak membuat petugas penyelamat di permukaan air panik. Sambil melambaikan tangan, seorang penyelamat berteriak, ”Darurat!” ke arah tim medis dan perahu penyelamat. Namun respon belum juga muncul karena beberapa petugas medis menyangka kejadian tersebut bagian dari skenario latihan. Mau tidak mau teriakan darurat diulang hingga berkali-kali.

Teriakan itu membuat petugas medis dan tim evakuasi kapal ponton sadar bahwa terjadi kecelakaan sungguhan terhadap awak kapal selam. Saat itu juga tubuh korban dievakuasi menuju kapal ponton untuk diberi pertolongan.

Kolonel Jefri dievakuasi terlebih dulu. Berikutnya tubuh Mayor Eko Idang diangkat ke geladak kapal ponton. Saat proses evakuasi ini, kedua perwira tersebut dalam kondisi pingsan. Dari mulut keduanya keluar busa. Kondisi Mayor Eko lebih parah, dari hidung, telinga, dan mulutnya keluar darah.

Sejumlah perwira TNI AL berusaha membantu mengeluarkan air. Perut Jefri dan Eko juga ditekan beberapa kali. Namun upaya itu belum membuahkan hasil. Petugas medis lantas memberi pertolongan oksigen, napas buatan, hingga alat pacu jantung. Lebih dari setengah jam upaya pertolongan diberikan, namun belum juga membawa hasil. Kedua korban belum juga sadar. Sejumlah penolong mulai khawatir, ”Allahu Akbar,” teriak para penolong berkali-kali.

Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, para petinggi TNI AL, dan beberapa undangan yang menyaksikan latihan terdiam, termenung. Mereka berdoa untuk keselamatan kedua korban.Tak berselang lama kedua korban lantas dimasukkan ke dalam tabung (chamber), alat untuk menetralisasi suhu dan kondisi tubuh. Sayang hingga kurang lebih satu jam kedua perwira tersebut belum juga sadar. “Mereka akan dikeluarkan kalau sudah siuman. Selama masih dalam keadaan pingsan mereka masih tetap berada di dalam,” kata seorang petugas.

Situasi genting tersebut memaksa simulasi penyelamatan personel kapal selam dihentikan. Dua korban kemudian dibawa ambulans menuju rumah sakit dan diterbangkan ke RSAL dr Ramelan, Surabaya, dengan helikopter. Kabar terakhir, sesuai keterangan Kadispenal Laksamana Pertama TNI Untung Suropati, kedua perwira tersebut gugur dalam latihan.

Pangarmatim : Latihan SAR Kapal Selam Wahana Pengukur Kemampuan

Kapal selam KRI Cakra 401 melakukan simulasi di perairan Pasir Putih, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (7/7). KRI Cakra yang memiliki berat selam 1,395 ton, dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter dan ditenagai oleh mesin diesel elektrik, 4 diesel, kecepatan 21,5 knot, diawaki 34 pelaut. (Foto: ANTARA/HO/Seno S./ss/ama/12)

Latihan Search and Rescue (SAR) kapal selam merupakan wahana untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan unsur – unsur Koarmatim dalam melaksanakan tugas pencarian dan penyelamatan kapal selam yang mengalami kedaruratan di laut. Demikian ditegaskan oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Agung Pramono SH. M.Hum dalam amanat tertulisnya yang dibacakan oleh Kasarmatim Laksma TNI Darwanto SH. MAP pada upacara Gelar Pasukan Latsar Kapal Selam Tahun 2012, di dermaga Madura, Koarmatim, Ujung, Surabaya. Rabu (4/7).

Lebih lanjut menurut Pangarmatim sasaran yang ingin dicapai dalam latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan personel dalam menyusun rencana operasi serta prosedur pencarian dan penyelamatan kapal selam, menguji kemampuan seluruh personel kapal selam dalam melaksankan penyelamatan diri (Free Escape), mengukur kesiapan sarana dan prasarana pencarian dan penyelamatan kapal selam serta menguji buku petunjuk pelaksanaan tentang SAR Kapal Selam.

Masih menurut Pangarmatim latihan ini bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan unsur operasional Koarmatim dalam melaksanakan tugas pencarian dan penyelamatan terhadap kapal selam yang mengalami kedaruratan di laut, tegas Pangarmatim.

Unsur-unsur peserta latihan yang terlibat, yaitu 1 kapal selam, 3 kapal atas air, 2 tim Dislambair, 1 ponton Lumba-lumba, 1 tim Satkopaska serta 2 tim Kesehatan dari Lakesla dan RSAL dr. Ramelan Surabaya. Sedangkan dari unsur tugas udara, yaitu 1 pesawat Cassa dan 1 Heli BO-105.

Pada gelar pasukan ini seluruh unsur – unsur yang terlibat dalam latihan mengikuti upacara termasuk unsur pendukung latihan. Upacara ini diikuti oleh Perwira, Bintara dan Tamtama dan dihadiri oleh para Asisten, Kasatker, Komandan Satuan dan Komandan Unsur.

Sumber: SINDO/Dispenarmatim