Selasa, 21 Juli 2009

Ubah Gula Jadi Bahan Peledak

Satu paket bom aktif milik kelompok teroris tergeletak di kamar 1808 Hotel JW Marriott. Rangkaian bom yang disimpan dalam tas laptop itu, dibungkus sebuah kardus berwarna hijau yang ditanami baut. Rangkaian bom tersebut dibungkus sebuah kardus berwarna hijau yang ditanami ratusan baut. (Foto: Courtesy MetroTV/detikFoto)

21 Juli 2009 -- Kendati masih berstatus mahasiswa semester tujuh Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Palembang, Sugiarto sudah hafal di luar kepala cara membuat bom. Dengan lancar, pemuda 21 tahun itu menyebutkan komposisi dan campuran bom mautnya.

Dia ditangkap dalam sebuah penggerebekan di Palembang pada November 2008. Saat ditangkap, polisi juga mengamankan 20 rangkaian bom yang selesai dirakitnya. Yang membuat miris adalah kemampuannya. Belajar dari seorang ustad di Ambon pada 2006, kemampuan Sugi (panggilan Sugiarto) dalam merakit bom, mengutip seorang anggota polisi, "semudah dia membuat mi instan".

Padahal, dalam level JI, kemampuan Sugi masih terbilang dasar. Dalam JI, ada sejumlah nama dengan kemampuan yang jauh di atasnya. Di antaranya, Ali Imron, Ali Fauzi, Mubarak, Dr Azhari, Dulmatin, dan Umar Patek. Kabarnya, nama-nama di atas bisa mengubah gula menjadi sebuah bahan peledak dengan daya ledak cukup besar. ''Hanya satu langkah di bawah TNT daya ledaknya,'' kata seorang mantan anggota JI senior kepada Rakyat Aceh Group. Nama-nama di atas memang mendapatkan pelatihan langsung dari kamp pelatihan Mujahidin Afghanistan.



Namun, yang paling istimewa adalah Azhari. Hanya dengan melihat saja, Azhari langsung bisa menghitung bahan yang diperlukan sekaligus berapa berat bahan-bahan yang dibutuhkan untuk meruntuhkan sebuah gedung, misalnya. Sementara itu, yang lainnya masih membutuhkan kalkulator.

Beruntung, Azhari telah tewas. Namun, sejumlah nama lainnya masih hidup. Beruntung pula, nama-nama legendaris tersebut kini mempunyai penafsiran mengenai ayat-ayat perang dan ayat-ayat damai yang relatif berbeda dengan yang terdahulu.

Hanya, orang yang mempunyai kemampuan membuat bom, baik yang expert maupun yang masih baru seperti Sugi, masih banyak. ''Ini tak lepas dari adanya konflik di Poso maupun Ambon. Di situ banyak orang yang mendapatkan pelatihan. Saya tak bisa membayangkan bila ada konflik seperti di Poso lagi,'' kata Ali Fauzi, alumnus kamp Hudaibiyah, yang juga adik kandung Ali Ghufron dan Amrozi (pelaku utama Bom Bali).

RAKYAT ACEH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar