Minggu, 19 Juli 2009

Eksekutor Diduga Kalangan Elit

Foto Nur Hasdi yang ditengarai sebagai pengebom bunuh diri di Hotel JW Marriott. Apakah foto itu memiliki kemiripan atau malah sama, dengan pelaku pengeboman di Jakarta (17/7)?. (Foto: Radar Semarang/Mukhtar Lutfi/JPNN)

20 Juli 2009, Jakarta -- Petugas Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri bekerja 24 jam untuk mencari identitas dua kepala pengebom JW Marriott dan Ritz Carlton. Dua dokter polisi berangkat ke Temanggung, Jawa Tengah tadi malam.

“Kami diperintahkan mencari sampel DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) atas nama Nur Sahid,” ujar seorang dokter forensik yang bertugas di Mabes Polri kepada koran ini, kemarin.

Nama Nur Sahid muncul setelah Baintelkam Mabes Polri menerima data dari Habib Abdurrahman Assegaf, pimpinan Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII) Sabtu (18/7). Kebetulan, Nur Sahid sudah menghilang dan tak menghubungi keluarganya di Temanggung sejak 2004. “Nanti akan kami cocokkan dengan kepala yang ditemukan di Marriott,” jelasnya.

Awalnya polisi melalui Polda Jawa Tengah berupaya mengundang keluarga Nur Sahid ke Jakarta. “Itu juga sedang diupayakan. Tapi yang jelas dua dokter kami sudah berangkat,” tandasnya. Setelah sampel didapat (bisa darah, rambut atau air liur) selanjutnya diperiksa.

Dia mengakui upaya merekonstruksi dan mencocokkan wajah pelaku sangat rumit. Penyidik sudah menerima foto-foto dari Densus 88. “Jumlahnya 400-an wajah, nanti akan dicocokkan kalau sketsanya jadi,” jelasnya.

Mengapa belum juga jadi? Bukankah sudah tiga hari? Menurut dokter polisi yang juga menangani kasus pengeboman Marriott Agustus 2003 itu, tingkat kerusakan wajah sangat parah.

“Berbeda dengan 2003. Waktu itu dalam dua hari kami sudah bisa perkirakan sketsa wajahnya karena relatif lebih utuh,” ujarnya meyakinkan.

Kapolri Jendral Pol Bambang Hendarso Danuri sebelumnya mengungkapkan kepala dua pelaku dalam keadaan rusak berat. Batok kepalanya hancur.

Apakah itu berarti nama Nur Sahid merupakan tersangka? Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna membantah. “Belum ada penetapan nama tersangka. Semua informasi masih ditelusuri,” tandasnya menjawab pertanyaan wartawan di Media Crisis Centre, kemarin.

Polisi juga sedang mencocokkan potongan kepala itu dengan rekaman CCTV yang menunjukkan wajah tamu kamar 1808 Hotel JW Marriott. Dalam semua rekaman yang ada, orang yang dicurigai polisi selalu bertopi. “Dalam beberapa frame dia juga menggunakan kacamata hitam. Jelas sekali dia sadar rekaman CCTV,” ujar sumber di Mabes Polri. Total sudah 35 orang yang dimintai keterangan.

Menurut sumber itu, pelaku pengeboman Marriott sudah berlatih dan melakukan simulasi menginap di hotel berbintang lima sejak lama. “Ini teroris necis. Kalaupun dia orang lama, jelas ada mentor yang mengajari tentang prosedur check in hotel dan sebagainya,” urainya.

Karena itu, dugaan kuat penyidik yakni pelaku berasal dari golongan menengah ke atas. “Kalau orang lama, perawakannya pasti langsung dicurigai. Misalnya kurus, berjenggot. Kalaupun mencukur jenggot, bahasa tubuh mereka pasti akan terbaca sekuriti hotel,” paparnya.

Pelaku juga tak canggung menggunakan travel bag dan sangat paham prosedur menginap di hotel ekslusif. “Selama ini, persepsi orang bahwa teroris pasti berasal dari orang miskin, kesulitan ekonomi, tidak berpendidikan, itu sudah tidak berlaku lagi. Mereka juga bisa merekrut orang-orang well educated seperti dokter atau insinyur,” ujar sumber itu.

Dia menjelaskan, jika menggunakan pelaku dari jaringan lama, rata-rata orang bersangkutan berprofesi sekenanya. “Lihat itu Saefudin Zuhri yang kita tangkap di Cilacap Juni, dia penjual habbatus sauda (jinten hitam). Banyak juga yang berprofesi sebagai penjual minyak wangi, tukang kunci, penjual mainan anak-anak, atau penjual koran di emperan masjid,” katanya.

Karena itulah, plot atau skenario pengeboman dengan model menyusup ke dalam benar-benar mencengangkan. Sumber membeberkan, pernah membuat analisa tentang para aktivis JI. Ada yang dipetakan golongan menengah ke atas, tapi tidak menyangka jika golongan itu yang menjadi eksekutornya langsung. “Selama ini kami mengira mereka hanya perencana,” ungkapnya.

Menurut perwira yang pernah kursus penanganan teror di luar negeri itu, security hotel sekelas JW Marriott tentu sudah dilatih untuk membaca gelagat mencurigakan. “Kalau si pelaku belum pernah menginap di hotel, akan kikuk. Apalagi ini sampai tiga hari,” ujarnya.

Kemarin, para petinggi Bareskrim Mabes Polri rapat maraton di Mabes Polri. Rapat dipimpin Kabareskrim Komjen Susno Duadji. Tampak hadir Kepala Pusat Identifikasi Brigjen Bekti Suwarno dan Kadensus 88 Brigjen Saut Usman Nasution.

Sumber koran ini menjelaskan, dalam rapat itu, Susno meminta seluruh penyidik mempercepat kerja. “Tak boleh ada HP mati, tak perlu pulang,” katanya menirukan Susno. Susno juga meminta setiap tiga jam ada laporan terbaru dari penyidikan. Kalau ada indikasi awal, penyidik langsung follow up dan tidak remehkan setiap informasi.

Sementara itu, Kadivhumas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna menjelaskan, pengungkapan mengarah pada aktivis Jamaah Islamiyah yang pernah melakukan pengeboman. “Dari rangkaian bom identik dengan bom yang ditemukan di Cilacap. Itu dilihat dari alatnya, transistor, dan model rangkaian. Untuk efek mematikan gotri diganti mur dan baut,” papar Nanan.

Dia menambahkan, rangkaian bom juga identik dengan bom Bali. “Yang membuat satu sekolahan. Meski begitu, kemungkinan lain juga dicari,” jelasnya.

Polisi pun berencana bekerjasama dengan kepolisian asing yang menawarkan bantuan. “Sementara kita bisa atasi. Kita punya peralatan. Tapi mereka (polisi asing, red) on call,” katanya.

RADAR BOGOR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar