Minggu, 28 Maret 2010

Danlanud Yadi-Imron Tukar Posisi

Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara 1 (Pang-koopsau I), Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto (tengah), melakukan salam komando dengan Komandan Lanud Supadio Pontianak yang baru, Kolonel Penerbang Imron Baidirus (kiri), dan Pejabat lama Kolonel Penerbang Yadi Indrayadi (kanan), sesaat setelah upacara serah terima jabatan di Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Sabtu (27/3). Kolonel Penerbang Imron Baidirus menggantikan Pejabat lama Kolonel Yadi Indrayadi, yang selanjutnya akan bertugas sebagai Kepala Bagian Detasemen Peleton Golongan IV Mabes TNI AU. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ss/mes/10)

27 Maret 2010, Pontianak -- Jabatan Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Supadio Pontianak diserahterimakan dari Kolonel Pnb Yadi Indrayadi kepada Kolonel Pnb Imron Baidirus, dalam upacara yang digelar di Apron Lanud Supadio, Sabtu (27/3) pukul 08.20.

Imron yang sebelumnya Kepala Bagian Detasemen Peleton Golongan IV Mabes TNI AU menjadi Danlanud yang menggantikan Yadi yang selanjutnya menempati jabatan yang ditinggalkan Imron. Artinya, keduanya bertukar posisi.

Inspektur upacara sertijab, Panglima Komando Operasi TNI AU, Marsma TNI Edy Suyanto SP mengatakan, tujuan utama penggantian adalah untuk mendayagunakan sumber daya manusia secara optimal dengan menempatkan personil yang tepat.

"Melalaui pergantian jabatan, diharapkan dapat ditumbuhkembangkan suasana yang segar dan membangkitkan kinerja. Tapi yang paling penting adalah kualitas dari pelaksanaan tugas," kata Edy.

Upacara sertijab itu dihadiri perwakilan Pemprov Kalbar, Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan, Wakil Wali Kota Pontianak Paryadi, dan para pejabat militer lainnya.

Tribun Pontianak

Sabtu, 27 Maret 2010

TNI AU Butuh Radar di Kalbar


27 Maret 2010, Kubu Raya -- Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara membutuhkan radar militer di Provinsi Kalimantan Barat. Pasalnya, selama ini belum ada radar militer di Kalimantan Barat yang berbatasan darat dan laut dengan negara Malaysia.

Demikian diungkapkan mantan Komandan Pangkalan TNI AU Supadio Kolonel (Pnb) Yadi Indrayadi, Sabtu (27/3). Yadi menyerahkan jabatan kepada penggantinya, Kolonel (Pnb) Imran Baidirus. Serah terima jabatan dipimpin oleh Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto.

"Tanpa radar militer, kami tidak bisa mendeteksi pelanggaran pesawat-pesawat asing di wilayah kita," kata Yadi. Namun, dari patroli-patroli yang dilakukan rutin oleh TNI AU di Kalbar, belum pernah didapati pesawat asing yang melintas secara ilegal.

Imran mengatakan, pembangunan radar militer di kawasan Kalimantan Barat sudah menjadi prioritas. "Setidaknya sebelum tahun 2014, radar militer itu sudah ada dan bisa digunakan di Kalbar," kata Imran.

KOMPAS.com

Pasis AAL Arungi Laut Indonesia Timur

KRI Teluk Sangkuriang-542 jenis LST kelas Frosch.

27 Maret 2010, Surabaya -- Sedikitnya 59 perwira siswa (pasis) Akademi Angkatan Laut (AAL) akan mengarungi laut wilayah Indonesia bagian timur selama tiga bulan untuk melaksanakan latihan praktik program "Seaman Officer Application Course".

Pelaksana harian Direktur Pendidikan AAL Kolonel Laut (E) Totok Subali Asmoro di Surabaya, Sabtu, mengatakan, latihan dengan sandi Operasi Trisila Arung Hiu-10 itu melibatkan lima kapal perang.

Kelima kapal perang itu adalah KRI Slamet Riyadi-352, KRI Teluk Banten-516, KRI Sangkuriang-542, KRI Sungai Gerong-906, dan KRI Sutanto-877.

"Latihan ini terbagi dalam dua rute, yakni rute utara dan rute selatan," katanya didampingi Kabag Penerangan AAL, Mayor Laut (Kh) Jamaluddin.

Rute utara berangkat dari Surabaya melintasi Makasar, Palu, Bitung, Ternate, Sorong, Ambon, Tual, Timika, Merauke, Kupang, Maumere, Benoa, dan kembali lagi ke Surabaya.

Sementara rute selatan dari Surabaya akan menyinggahi Maumere, Kupang, Tual, Merauke, Timika, Ambon, Sorong, Biak, Bitung, Tarakan,
Balikpapan, Benoa, dan kembali lagi ke Surabaya.

Para pasis yang menjalankan program itu akan mendapatkan materi keperwirajagaan, kebaharian, navigasi, kesenjataan di KRI, dasar-dasar peperangan, hidro-meteorologi, komunikasi, sistem permesinan pokok dan bantu, sistem elektronika
komunikasi, navigasi dan senjata, administrasi, dan logistik.

Totok berharap, para pasis Korps Pelaut Angkatan XII/2010 itu nantinya mampu
melaksanakan tugas-tugas sebagai asisten perwira divisi, asisten perwira jaga darat, dan asisten perwira jaga laut di kapal, baik pada situasi damai maupun situasi peperangan.

Sementara itu, Gubernur AAL Laksamana Pertama TNI Bambang Suwarto menambahkan, pembekalan latihan praktik di kapal perang telah diberikan di dalam kelas.

Menurut dia, latihan yang akan berakhir pada Mei mendatang itu didukung sedikitnya 200 personel Komando Latihan Armada RI Kawasan Timur (Kolatarmatim).

ANTARA JATIM

USS Independence LCS Kedua

27 Maret 2010 -- USS Independence (LCS 2) kapal perang jenis LCS (Littoral Combat Ship) kedua, mempunyai panjang 419 kaki, bobot 2800 ton, mampu dioperasikan pada perairan dengan kedalaman kurang dari 20 kaki. Kapal menggunakan 4 water jet dengan 2 mesin diesel dan 2 mesin gas turbin. USS Independence dapat dipacu hingga 45 knot dengan jarak jelajah hingga 3500 mil laut. Kapal berpangkalan di San Diego. (Foto: USN/ Mass Communications Specialist 1st Class Tiffini Jones Vanderwyst)

Jumat, 26 Maret 2010

Operasi Penyelamatan Awak Cheonan Dilanjutkan

Bagian bawah kapal perang Cheonan terlihat Sabtu (27/3), setelah korvet tenggelam karena ledakan dibagian buritan Jumat malam (26/3) dimana penyebabnya belum diketahui. (Foto: YONHAP)

27 Maret 2010 -- Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak memerintahkan “cepat dan cermat” menginvestigasi penyebab tenggelamnya kapal perang, simpan semua kemungkinan,” ungkap Presiden di kantornya, Sabtu (27/3).

Cheong Wa Dae dari kantor kepresidenan mengatakan sejauh ini tidak ada pergerakan khusus oleh Korea Utara, meskipun pada awalnya media melaporkan Korut disalahkan penyebab insiden tenggelamnya korvet Cheonan, Jumat (26/3) di dekat Kepulauan Baeknyeong, Korsel saat melakukan patroli rutin.

Sebelumnya media melaporkan Cheonan tenggelam karena ditorpedo oleh kapal perang Korut.

Karena beberapa waktu setelah Cheonan meledak dan tenggelam, kapal perang Korsel lainnya melepaskan tembakan selama 10 menit pada suatu sasaran. Setelah diinvestigasi sasaran tersebut hanya sekawanan burung.

Pejabat militer mengatakan kepada kantor berita Korsel Yonhap ledakan melubangi bagian belakang kapal, mesin dimatikan dan segera meninggalkan kapal. Sejumlah awak kapal terjun ke laut.

Sekoci penyelamat yang digunakan awak kapal Cheonan terlihat di tepi pantai Kepulauan Baeknyeong dekat kejadian tenggelamnya kapal, Sabtu (27/3). (Foto: Reuters)

Enam kapal perang dan dua kapal penjaga pantai serta helikopter segera menuju lokasi menyelamatkan korban. Cheonan membawa 104 pelaut dan hanya 58 pelaut yang berhasil diselamatkan sejauh ini. Tiga belas pelaut berada di rumah sakit guna pemulihan luka yang diderita, kondisi mereka tidak mengkhawatirkan.

Kapten kapal Cheonan berhasil selamat tanpa luka, dan segera bergabung dalam operasi penyelamatan. Kondisi Laut Kuning yang tidak dapat diprediksi dikhawatirkan menghambat jalanya operasi penyalamatan.

Para penyelam militer tiba di lokasi tenggelamnya kapal guna mencari 46 pelaut yang hilang.

Insiden ini merupakan yang terburuk dalam sejarah AL Korsel. Pada bulan lalu, AU Korsel kehilangan tiga pilotnya setelah dua jet tempur F-5 bertabrakan di udara dan satu helikopter AD Korsel jatuh di persawahan tidak ada korban tewas dalam insiden ini.

Yonhap/@info-terkumpul

TNI AL Siapkan Satgas Tempur Laut


27 Maret 2010, Jakarta -- Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar), Laksamana Pertama TNI Hari Bowo mengatakan prajurit TNI AL wilayah Koarmabar telah mempersiapkan satuan tugas (Satgas) dalam operasi tempur laut. Persiapan satgas tempur laut TNI AL ini sebagai perwujudan dari tingginya tanggung jawab, pengabdian dan loyalitas dalam menjaga keutuhan NKRI.

Hal tersebut dikatakan Kepala Staf Koarmabar melalui Kepala Dinas Penerangan Koarmabar, Letkol Supriyono pada acara penutupan Latihan Pratugas Satgas Tempur Laut wilayah Koarmabar di Markas Komando Armabar, Jakarta, Kamis (25/3).

Letkol Supriyono, menjelaskan latihan Satgas tempur laut ini diproyeksikan untuk melaksanakan operasi siaga tempur laut dan Operasi Arung Pari-10 tahun 2010, guna menghadapi berbagai kontinjensi yang mungkin akan timbul. "Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dalam latihan pratugas ini, dapat menambah bekal untuk diaplikasikan dalam pelaksanaan tugas di lapangan," katanya.

Secara terpisah, Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) III, Laksma TNI Iskandar Sitompul mengatakan salah satu tugas pokok Lantamal III dalam Pembinaan Potensi Nasional di bidang Maritim, diantaranya melalui kegiatan pelestarian lingkungan hidup (Ekosistem) laut di perairan Kepulauan Seribu dan sekitarnya.

JURNAL NASIONAL

ROKS Cheonan Tenggelam Karena Ledakan di Buritan

ROKS Cheonan-PCC772 tenggelam di Laut Kuning karena ledakan di bagian buritan. Penyebab ledakan masih diselidiki. (Foto: AFP)

27 Maret 2010 -- Kapal Angkatan Laut Korea Selatan tenggelam di dekat perbatasan maritim dengan Korea Utara, Jumat (26/3) setelah terjadi ledakan dibagian buritan kapal, diumumkan pihak AL Korsel. Penyebab ledakan belum dapat diketahui secara pasti.

Korvet ROKS Cheonan membawa 104 awak kapal mulai tenggelam antara pukul 21:00 waktu setempat (09:00 GMT) dan 22:00 dekat Kepulauan Baengyeong di Laut Kuning. Operasi penyelamatan dilakukan oleh kapal AL Korsel serta Penjaga Pantai berhasil menyelamat 58 orang, lainnya dikhawatirkan tewas dalam insiden ini.

Presiden Korsel Lee Myung-Bak memerintahkan berusaha secara maksimal menyelamatkan para awak kapal., disampaikan juru bicara kepresidenan Kim Eun-Hye.

“Menemukan kebenaran (penyebab insiden) hal yang penting, tetapi menyelamatkan para pelaut kita jauh lebih penting,” dikatakan Presiden.

Sementara itu Kepolisian Korsel meningkatkan keamanan di sekitar ibu kota Seoul.

Sumber di pemerintahan mengatakan pada kantor berita Yonhap, para petugas sedang menginvestigasi kemungkinan penyebab ledakan, apakah serangan torpedo Korut, ranjau laut yang disebarkan Korut atau ledakan amunisi pada kapal.

Sumber di militer mengatakan pada Yonhap, Cheonan berlubang di bagian buritan dekat propeler.

Penduduk setempat mendengar sebuah kapal perang AL Korsel melepaskan tembakan selama 10 menit kearah Utara pada pukul 23:00 waktu setempat. Pejabat militer mengkonfirmasikan setelah diidentifikasi sasaran tembak hanya sekawanan burung.

Insiden mematikan melibatkan angkatan laut kedua negara yang berseteru terjadi pada 1999, 2002 dan terakhir November 2009 ketika sebuah kapal patroli AL Korut terbakar terkena tembakan yang menyebabkan tewasnya satu orang di pihak Korut.

Korvet Cheonan

ROKS Cheonan PCC-772 termasuk korvet kelas Pohang dibangun oleh Korea S.E.C, Pusan, mulai bertugas 1989. Kelas Pohang diklasifikasikan sebagai Patrol Combat Corvette. Pohang diambil dari nama sebuah kota di Korsel.

Kapal kelas Pohang dibagi dua tipe; ASUW dan ASW, yang membedakannya meriam dan kemampuan ASW atau SSM.

Cheonan termasuk tipe ASW dipersenjatai 2 pucuk meriam OTO Melara 76 mm, 2 pucuk meriam Breda 40 mm, sonar, 6 torpedo, 12 bom laut tanpa dilengkapi SSM. AL Korsel memiliki 20 kapal tipe ini.

Korvet berbobot 1220 ton, mempunyai panjang 88,3 meter, kecepatan maksimal korvet 32 knot dengan jarak jelajah 4000 mil laut pada kecepatan 15 knot.

Yonhap/BBC/AFP/@info-terkumpul