Senin, 23 Februari 2009

TNI: Penguncian Dua Sukhoi Insiden Serius


23 Februari 2009, Jakarta -- Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengatakan, pihaknya menganggap serius insiden penguncian dua pesawat Sukhoi SU-30MK2 yang tengah melakukan latihan di wilayah udara Sulawesi Selatan, pada Jumat (20/2) lalu.

Di sela-sela rapat kerja bersama Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Senin (23/2), Panglima TNI mengatakan, hingga kini pihaknya masih terus melakukan penelitian terhadap insiden tersebut. "Yang jelas, setelah di-cross check ke sana (Makassar), tidak ada lintasan-lintasan pesawat asing saat latihan itu berlangsung," katanya.

Ketika ditanya apakah hal itu murni karena kerusakan pada sistem radar pesawat, Panglima mengatakan, hal itu belum diketahui. "Ya belum dapat diketahui, kan penelitiannya belum selesai dan kita anggap ini serius," katanya.

Sebelumnya, Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama Ida Bagus Putu Dunia, ketika dihubungi Jumat (20/2) menjelaskan, di masing-masing pesawat yang sedang berlatih itu terdapat instruktur terbang dari Rusia yang sedang melatih dua penerbang tempur TNI AU. "Alarm missile lock kedua pesawat berbunyi secara tiba-tiba, tetapi kedua pesawat canggih yang dibeli dari Rusia itu tidak bisa mengenali siapa pihak yang 'mengunci' mereka dengan tembakan misil.

Kedua instruktur itulah yang menyatakan alarm berbunyi karena pesawat di-lock missile. "Saya menerima laporannya sekitar pukul 09.00 WITA," kata Putu.

Menurutnya, pesawat itu melakukan terbang pada ketinggian 15.000-20.000 kaki, atau sekitar 4.572 meter hingga 6.096 meter di atas permukaan laut.

Pihak TNI AU juga telah melakukan pencarian dengan mengirimkan pesawat intai Boeing 737-400 yang telah terbang berkeliling dalam radius sekitar 370 km dari VOR MKS di Makassar, tetapi pencarian itu tidak menemukan apa-apa. (mediaindonesia)

DPR Anggap Serius Insiden Sukhoi

Panglima TNI diminta menjelaskan dalam rapat dengar pendapat dengan DPR, hari ini.


23 Februari 2008, Jakarta -- Komisi I (bidang pertahanan) DPR mengkritisi insiden dua pesawat tempur Sukhoi milik TNI AU. Saat latihan terbang di atas perairan Sulawesi Selatan, Jumat (20/2) lalu, sistem radar peringatan pesawat buatan Rusia itu menyalak tanpa diketahui sebab musababnya.

Anggota komisi I Andreas Pareira meminta TNI segera mengklarifikasi hasil penyelidikan kejadian tersebut. "Apa pun penyebabnya harus diungkap," katanya kepada Jurnal Nasional di Jakarta, Minggu (22/2). Dia menjelaskan, beberapa spekulasi muncul dari kejadian itu. Selain diduga dikunci pesawat asing, kondisi perlengkapan radar dan senjata pesawat dipertanyakan.

Dari analisa Andreas kemungkinan besar insiden terjadi karena kerusakan teknis pesawat berjuluk Flanker itu. "Terlalu jauh menyimpulkan diintai bahkan dikunci pihak lain," katanya. Alasannya, dari pengecekan radar Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional II , Makassar, tidak ditangkap sinyal pesawat lain.

Begitu pula pantauan langsung pesawat intai Boeing 737-200 yang mencari hingga radius 400 kilometer dari tempat kejadian. Tidak ditemukan adanya penerbangan gelap (black flight) atau permintaan izin terbang lintas di wilayah Indonesia.

Meski demikian, kerusakan teknis tetap menjadi perhatian serius. Pasalnya, Sukhoi menjadi pesawat tercanggih yang dimiliki TNI saat ini. "Apalagi pesawat didatangkan dalam kondisi gres," katanya.

Jika TNI tidak memberi penjelasan dengan gamblang, terlebih ada kesan ditutup-tutupi, DPR sebagai pemegang hak anggaran sekaligus hak kontrol akan mengevaluasi pembelian Sukhoi selanjutnya. Kolega Andreas, Yusron Ihza Mahendra akan menanyakan insiden itu ke Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso saat rapat dengar pendapat dengan jajaran pertahanan, hari ini.

"Ini serius, tidak bisa dianggap main-main," kata Wakil Ketua Komisi I itu. Sebelumnya, Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Koopsau) II Marsda Yushan Sayuti berjanji mengecek seluruh sistem radar peringatan pesawat Sukhoi terkait insiden penguncian itu.

"Apa pun kemungkinannya akan dicek. Mulai dari sistem radar pesawat sampai kemungkinan ada pihak asing," katanya. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Chaeruddin Ray menambahkan, saat ini masih ada teknisi Rusia yang berada di Makassar. "Pesawat-pesawat itu akan langsung diperbaiki," kata dia. (jurnalnasional)

Pangdam VI/Tanjungpura Resmikan Yonarmed 18/105 Tarik Buritkang


16 Februari 2009, Balikpapan -- Pangdam VI/Tpr Mayjen TNI Tono Suratman kembali meresmian satuan baru dijajaran Kodam VI/Tpr, setelah satu minggu yang lalu meresmikan Kodim 0912/Kutai Barat dibawah kendali Korem 091/Asn kini Pangdam VI/Tpr meresmikan Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 18/105 Tarik Buritkang yang berkedudukan di Kabupaten Berau, Kaltim Senin (16/02).

Peresmian Yonarmed 18/105 Tarik Buritkang dilaksanakan di Markas Yonarmed dalam sebuah upacara Parade yang dihadiri Danrem 091/Asn, pejabat Bupati Berau, Kapolres Berau, Ketua DPRD Berau, Kejaksaan Negeri Berau, pejabat TNI Kodam VI/Tpr, Ibu Ketua Persit Ny.Lia Tono Suratman, serta sejumlah personel TNI, anggota Ormas, tokoh masyarakat, tokoh Agama dengan demikian satuan tersebut telah menambah kekuatan baru TNI di Kodam VI/Tpr melaksanakan tugas pokoknya dalam menjaga integritas kedaulatan NKRI, khusunya wilayah Kalimantan Timur.

Pangdam VI/Tpr Mayjen TNI Tono Suratman dalam amanatnya pada peresmian Yonarmed 18/Buritkang mengatakan pembentukan Yonarmed 18/105 Tarik Buritkang telah melewati kajian yang cukup panjang serta evaluasi secara rinci terhadap berbagai aspek dan faktor yang memepengaruhi yang dikaitkan dengan tuntutan perkembangan lingkungan strategis yang bergerak dengan cepat, maka pimpinan TNI AD melakukan pengembangan organisasi dengan membentuk Batalyon Artileri Medan 18/105 Tarik Buritkang di wilayah Kodam VI/Tpr.

Selain itu Pangdam juga mengingatkan bahwa masalah pertahanan negara bukan hanya menjadi tugas pokok TNI tetapi menjadi tugas kita bersama yang harus ditangani secara baik, terkoodinasi dan berkelanjutan, sehingga akan mewujudkan tetap tegaknya kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Batalyon Artileri Medan 18/105 Tarik Buritkang yang mempunyai Tunggul bergambar keris bersinar 16 dengan dua buah kilat mempunyai visi dan misi Sapto Tunggal yang berarti menjadi prajurit Armed yang memiliki pandangan jauh kedepan, bertaqwa, solid, terampil, berprestasi, dicintai rakyat dan tertib administrasi.

Usai meresmikan Markas Yon Armed 18 Pangdam VI/Tpr bersama pejabat lainnya meninjau bangunan Yon Armed diantaranya perkantoran, barak remaja, perumahan serta melakukan penanaman pohon sawit di areal Markas Yon Armed. Jumlah personel Yon Armed 18/105 Tarik untuk sementara berjumlah 79 orang dibawah pimpinan Letkol Arm Rabimin S.Ip sebagai Komandan Batalyon dan Mayor Arm Sunar Filowanto Endarmaji sebagai Wadanyon.

kodam-tanjungpura

Minggu, 22 Februari 2009

Indonesia Fokus Dalam Pembangunan Ekonomi


20 Februari 2009, Jakarta -– Pemerintah Indonesia saat ini sedang memfokuskan pada bidang pembangunan ekonomi. Hal ini terkait dengan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan pada bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat (kesra) sebesar 80%.

Demikian dijelaskan Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono, Kamis (19/2), saat menerima kunjungan National Correspondent for The Atlantic and Senior Fellow at The Center for a New American Security in Washington Robert D. Kaplan yang didampingi Atase Pertahanan (Athan) AS untuk Indonesia Col. Kevin E. Richards, di kantor Dephan, Jakarta.

Menurut pandangan delegasi AS, Indonesia saat ini sedang menghadapi berbagai masalah terutama masalah penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) yang tentunya akan berdampak pada perekonomian Indonesia secara global.

Hal itu ditanggapi menhan dengan menjelaskan bahwa Indonesia selama ini telah kehilangan sekitar US $ 5 miliar pertahun akibat dari illegal fishing tersebut termasuk diantaranya illegal logging. Namun demikian, Indonesia berupaya secara bertahap untuk melakukan perbaikan dalam segala bentuk penyelundupan, pembalakan liar dan sebagainya.

Dalam kesempatan yang sama Sekjen Dephan menjelaskan kepada delegasi AS, idealnya ditengah keterbatasan anggaran, TNI harus tetap mempunyai kekuatan untuk mendukung kewibawaan bangsa dengan menggunakan strategi kemiliteran. TNI berupaya melakukan sinkronisasi antara strategi militer dan masyarakat dalam pertahanan negara.

Lebih lanjut Sekjen menambahkan bila menilik kebelakang TNI dan masyarakat bekerja bersama-sama dalam mengembangkan postur TNI. Hal ini menjadi catatan buruk bagi TNI ketika TNI melibatkan diri dalam politik praktis sehingga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap TNI. Untuk itu saat ini TNI berupaya untuk tidak terlibat dalam politik praktis dengan membangun citra yang baik di masyarakat. “Dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi TNI saat ini,” tegas Sekjen.

Saat menerima tamunya menhan didampingi Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Diranlingstra Ditjen Strahan Dephan Brigjen TNI Ir. Drs. Subekti, Dirkersin Ditjen Strahan Dephan Brigjen TNI (Mar) Ir. Syaiful Anwar, M.Bus, M.A, Karo Humas Setjen Dephan Brigjen TNI Slamet Hariyanto dan Karo TU Setjen Dephan Kol. Laut (P) Agus Purwoto. (DMC)

Admin: Sejak pemerintahan Suharto, B.J. Habibie, Abdulrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono alasan pembangunan ekonomi mengalahkan pengembangan kekuatan pertahanan.

Hasil pembangunan ekonomi sampai sekarang tidak menunjukan hasil yang spektakuler, meskipun di level Asia Tenggara. Index IPM bukan yang terbaik di kawasan ini, apalagi dunia.

Sedangkan otot kekuatan bersenjata negara tetangga semakin mengelembung. Sedangkan negeri tercinta ini semakin mengkerut.

Mensisihkan Rp 20 Trilyun setiap tahunnya selama 5 tahun, akan mengembalikan otot-otot yang mengkerut. Dananya darimana ????, subsidi BBM dikurangi. Tokh tidak efeknya buat rakyat kecil. Buktinya ????, BBM turun harga anteng bahkan mendaki. Kok bisa !!!, jalur distrbusi barang yang harus dipotong-potong agar rabat tidak terlalu banyak, harga bisa dikurangi.

Rusia Meminta Tambahan USD 700 Juta Untuk INS Vikramaditya


Rusia meminta tambahan harga hingga USD700 Juta untuk proses refit, perbaikan dan pengiriman kapal induk INS Vikramaditya (eks RFS Admiral Gorshkov), seperti dilaporkan Press Trust of India.

Proses pengerjaan perbaikan dan refit dilakukan di galangan kapal Sevmash. Sevmah memerlukan kucuran dana segar segera USD 190 Juta guna melanjutkan pekerjaan perbaikan.

Permintaan USD 700 Juta akan menaikan harga akhir jual kapal induk berbobot 44.570 ton menjadi USD 2,9 Milyar.

Proses penjualan kapal induk ini, diawali ketika Rusia menawarkan kepada India mengakuisisi RFS Admiral Gorshkov di tahun 1994. Kemudian dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antar dua negara, dimana India menyetujui mengakuisisi kapal induk serta membiayai program refurbish dan refit yang akan dilakukan oleh biro perancangan Nevskoye dan pengerjaan di galangan kapal Severnoye. Penandatanganan dilakukan bertepatan kunjungan Perdana Menteri Rusia Yevgeny Primakov ke India di bulan Desember 1998.

INS Vikramaditya dalam proses refurbish dan refit

Karena masalah harga yang tidak menemui titik temu, pengiriman kapal induk ini ke India tertunda. Sebelumnya INS Vikramaditya diharapkan telah dapat bertugas di jajaran armada AL India sebelum INS Viraat (eks HMS Hermes) dipensiunkan karena faktor usia.

Kapal induk Admiral Gorskhov merupakan kapal terakhir dari empat kapal dalam project 1143 kelas Kiev kapal pertahanan udara. Peletakan lunas di bulan Desember 1978 dan diluncurkan 31 Maret 1982. Sebagian laporan menyebutkan pelucuran kapal 17 April 1982. Mulai berdinas di jajaran AL Uni Soviet Desember 1987, sebagian laporan Januari 1987.

Pada mulanya kapal induk ini diberi nama Admiral Flota Sovietskogo Sojuza Gorshkov, kemudian diubah menjadi Admiral Gorshkov.

Kapal induk ini pernah mengalami kerusakan hebat saat ruang boiler meledak dan terbakar tahun 1994. Kemudian masuk dok di Severodvinsk tanggal 2 Februari 1994. Setelah diperbaiki, kapal dapat melaut kembali tahun 1995. Akan tetapi diistirahatkan dari armada Rusia tahun 1996 dan ditempatkan di dok Severodvinsk.

Kapal induk INS Vikramaditya akan mengusung 16 MiG-29 versi maritim serta campuran helikopter Ka-28 anti kapal selam dan Ka-31 peringatan dini. Dibagian depan kapal dipasang 12 peluncur misil jelajah P-500 Bazalt (SS-N-12 Sanbox) serta 4 peluncur misil permukaan - udara Antey Kinzhal (SA-N-9 Gauntlet).

india-defence/bharat-rakshak/@info-terkumpul

Destroyer Perancis Kelas Georges Leygues


Primauget D644 Destroyer Kelas Georges Leygues

Destroyer kelas Georges Leygues mempunyai bobot 3830 ton dan membawa awak 218 orang, diluncurkan di galangan kapal Brest tahun 1978. Sebagai pengerak kapal digunakan dua mesin gas Rolls Royce Olympus TM3B kecepatan putaran 46200 bhp dan dua mesin diesel SEMT- Pielstick 16PA6 CV280 kecepatan putaran 10400 bhp, keempat mesin menghasilkan kecepatan maksimal 30 knot, bila mesin diesel saja 21 knot. Jarak jelajah 13600 km pada kecepatan 18 knot.

Georges Leygues D640 Destroyer Kelas Georges Leygues

Persenjataan yang diusung kapal jenis ini, empat misil anti kapal Aerospatiale MM 38 Exocet, misil anti pesawat terbang Crotale dengan 26 peluncur , satu meriam 100 mm/55 Mod 68 CADAM multi fungsi, dua meriam Oerlikon 20 mm, empat senapan mesin M2HB 12,7 mm, dua peluncur torpedo, 10 torpedo ECAN L5, 12 torpedo Honeywell Mk46 untuk dua helikopter anti kapal selam Lynx dan dapat juga digunakan oleh kapal.

Destroyer kelas Georges Leygues, AL Perancis mempunyai tujuh buah kapal yaitu Georges Leygues D640 mulai bertugas 10 Desember 1979 , Dupleix D641/16 Juni 1981, Montcalm D642/28 Mei 1982, Jean De Vienne /25 Mei 1984, Primauguet D644/5 November 1986, La Motte-Picquet D645/18 Februari 1988, dan Latouche-Treville D646/16 Juli 1990. (globalsecurity/info-terkumpul.blogspot.com)

Kapal Induk Prancis Tiba di Jakarta Untuk Misi Diplomasi


22 Februari 2008, Jakarta -- Kapal induk helikopter Prancis "Jeanne d`Arc" dan kapal perusak "Georges Leygues" yang bertolak dari Brest, Prancis, pada 9 Desember, tiba di Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu untuk melakukan misi diplomasi dan persahabatan hingga 26 Februari 2009.

"Selain membawa misi diplomasi, kami juga ingin memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari Angkatan Laut Indonesia yang bersama mitra-mitranya dari Malaysia dan Singapura telah berhasil menumpas perompakan di Selat Malaka," kata Kapten Herve Blejean yang disertai Komandan Thierry Catard sebagai pemimpin "Georges Leygues" kepada wartawan yang meliput kedatangan kapal-kapal tersebut.

Menurut dia, angka perompakan di Selat Malaka yang dilalui banyak kapal kargo dan tanker menurun drastis selama dua tahun terakhir.

Lebih jauh Blejean mengatakan sesuai rencana pelayarannya, Jakarta dipilih sebagai tempat persinggahan kapal-kapal itu karena Ibukota Indonesia itu termasuk kota yang dinamis dan hubungan antara Indonesia dan Prancis berlangsung baik selama ini.

"Seorang perwira muda dari Indonesia ikut serta dalam rombongan kami dan jumlah kadet dari Indonesia bisa bertambah pada tahun-tahun mendatang," ujarnya.

Kapal "Jeanne d`Arc" digunakan terutama untuk latihan dasar bagi para kadet Angkatan Laut Prancis. Lettu Bagus Jatmiko dari Indonesia termasuk seorang kadet tamu yang mengikuti pelayaran kapal-kapal tersebut hingga Mei nanti.

Bagus bersyukur dapat memperoleh kesempatan mengikuti pelayaran ini dan menimba banyak pengetahuan termasuk penguasaan bahasa Prancis.

Sebagai kapal induk, "Jeanne d`Arc" dan "Georges Leygues" pernah ikut serta dalam misi bantuan kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam menyusul bencana tsunami yang melanda provinsi itu dan beberapa negara lain di Asia Tenggara pada 26 Desember 2004. Keduanya meninggalkan misi awalnya selama hampir dua bulan pada awal tahun 2005.

Kapal "Jeanne d`Arc" yang berawak 600 orang telah mengirimkan bantuan ke wilayah-wilayah terisolasi terutama Meulaboh dan desa-desa di sekitarnya.

Sebuah delegasi dari kota Brest yang dipimpin Walikota Francois Cuillandre juga ikut dalam rombongan tersebut. Walikota Brest menjajaki kemungkinan kerjasama di berbagai bidang dengan pihak-pihak terkait di Jakarta.

antara