Senin, 01 Maret 2010

PAK FA Tidak Disertakan Pada Farnborough Air Show 2010

T-50 saat melakukan uji terbang pertama kalinya 29 Januari lalu. (Foto: Sukhoi)

2 Februari 2010 -- Rusia tidak akan menampilkan jet tempur generasi kelima T-50, pada pameran dirgantara internasional Farnborough di Inggris, musim panas ini ungkap Direktur Utama Sukhoi Mikhail Pogosyan.

Sukhoi harus melakukan uji terbang pada tiga jet tempur lainnya pada akhir 2010 atau awal 2011, ditambahkan Pogosyan setelah bertemu Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin.

T-50 berencana memulai uji terbang standar pada April, akan menghabiskan beberapa tahun menuntaskan program pengujian menurut sebuah sumber di Sukhoi.

Prototipe PAK FA yang disebut T-50 pertama kali mengudara dipiloti Sergey Bogdan selama 47 menit di Timur Jauh Rusia 29 Januari lalu. Uji terbang kedua dilakukan 12 Februari. Setelah serangkaian uji terbang di Komsomolsk-on-Amur, pesawat diangkut ke Pangkalan Udara Zhukovsky dekat Moskow untuk pengujian akhir.

(Grafis: RIA Novosti)

Rusia mengembangkan jet tempur generasi kelima sejak era 1990-an. Hanya tiga negara yang mengembangkan jet tempur generasi kelima, Amerika Serikat dengan F-22 Raptor dan F-35 JSF, Cina dan Rusia.

Rusia akan bekerjasama dengan India mengembangkan PAK FA. India akan melakukan modifikasi salah satunya jumlah awak pesawat menjadi dua orang. PAK FA dapat mengendong rudal didalam perutnya atau diluar.

AU Rusia dijadwalkan menerima pesawat pertama pada 2015. Harga pesawat perunit dibanderol 100 juta dolar lebih murah dari F-35 JSF. AU Rusia dan India berencana masing-masing membeli 100 pesawat.

RIA Novosti/@info-terkumpul

RI-Vietnam Perangi Penangkapan Ikan Ilegal

Pejabat sementara Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Adi Putra Taher (kiri) didampingi Ketua Parlemen Vietnam Nguyen Phu Trong (kanan) dan Deputi Menteri Luar Negeri Hamzah Thayeb (tengah) menghadiri forum bisnis Indonesia- Vietnam di Jakarta, Senin (1/3). Forum dihadiri para pengusaha kedua negara tersebut membahas mengenai investasi, peluang dan kerjasama bisnis antara Indonesia dan Vietnam. (Foto: ANTARA/Prasetyo Utomo/Koz/mes/10)

2 Maret 2010, Jakarta -- Pengusaha Indonesia dan Vietnam sepakat menekan penangkapan ikan secara ilegal, yang kerap terjadi di perairan Indonesia. Pemberantasan penangkapan ikan secara ilegal selama ini sulit dilakukan karena terjadi perbedaan persepsi antara Indonesia dan Vietnam.

Kesamaan persepsi tentang pemberantasan penangkapan ikan secara ilegal tersebut dilakukan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pelaksana Tugas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Adi Putra Tahir dan Vietnam Chamber of Commerce and Industry (VCCI) Vu Tien Loc di Jakarta, Senin (1/3). Acara ini disaksikan President of National Assembly of the Socialist Republic of Vietnam Nguyen Phu Trong.

Ketua Kadin Komite Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam Juan Gondokusumo menjelaskan, banyak nelayan Vietnam yang tertangkap sewaktu memasuki perairan Indonesia. ”Mereka menganggap orang Indonesia gampang dikasih pungutan liar. Jadi, mereka bisa gampang masuk ke perairan kita,” kata dia.

Guna mengatasi hal itu, lanjut Juan, dibuat kesepakatan di antara kedua negara dengan memahami hukum yang berlaku di Indonesia dan Vietnam.

Menurut Adi, untuk mencapai kesepakatan itu, harus ada kesamaan persepsi terhadap aturan hukum yang berlaku di dua negara, termasuk aturan penangkapan ikan. ”Kemungkinan aturan penangkapan ikan di Vietnam lebih bebas,” ujar dia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad berpendapat, untuk menangani penangkapan ikan secara ilegal, baik pencurian ikan maupun penangkapan ikan yang tidak dilaporkan, dibutuhkan koordinasi antarpemerintah.

Saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan hanya memiliki 24 unit kapal patroli. Padahal, untuk mengawasi perairan Indonesia yang luasnya 81.000 kilometer persegi dibutuhkan setidaknya 70 kapal patroli.

Selama ini, menurut Juan, hubungan Indonesia-Vietnam cukup erat. Namun, investasi lebih didominasi oleh Indonesia.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Riset, dan Teknologi Rahmat Gobel dalam persiapan pameran EcoProducts Internasional mengatakan, investasi pada masa mendatang bukan hanya membangun pabrik, melainkan harus mengutamakan proses produksi ramah lingkungan.

KOMPAS

KASAL: Indonesia Membutuhkan AL Yang Besar dan Kuat


2 Februari 2010, Surabaya -- Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) terbesar di dunia memiliki wilayah laut yang berbatasan langsung dengan sepuluh negara tetangga. Secara kewilayahan, Indonesia memiliki luas wilayah yurisdiksi nasional kurang lebih 7,8 juta km2 dengan dua pertiga wilayahnya adalah laut seluas 5,9 juta km2 yang mencakup Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia 2,7 juta km2, laut wilayah, perairan kepulauan serta perairan pedalaman seluas 3,2 juta km2. Selain itu memiliki panjang garis pantai 81.000 km, serta memiliki 17.499 pulau.

“Dengan melihat kondisi dan konstelasi geografi Indonesia dalam tatanan dunia modern dan dikaitkan dengan konsep Geopolitik dan Geostrategi, membuat kita tidak dapat memungkiri kenyataan, bahwa Indonesia membutuhkan Angkatan Laut yang besar dan kuat. Seiring dengan hal tersebut, kita bertekad untuk mewujudkan visi TNI Angkatan Laut yang kuat dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia,” tegas Kasal Laksamana TNI Agus Suhartono dalam amanatnya pada upacara serah terima empat jabatan strategis dalam jajaran TNI AL di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Ujung Surabaya, Senin (1/3).

Keempat jabatan yang diserahterimakan tersebut adalah Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) dari Laksamana Muda (Laksda) TNI Ignatius D. Surarto kepada Laksda TNI Among Margono, S.E, Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Danseskoal) dari Laksda TNI Among Margono, S.E. kepada Laksda TNI Didi Setiadi, Gubernur Akademi Angkatan Laut (Gubernur AAL) dari Laksda TNI Didi Setiadi kepada Laksamana Pertama (Laksma) TNI Bambang Suwarto dan Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Danpuspenerbal) dari Laksma TNI Rudy Hendro Satmoko kepada Laksma TNI Halomoan Sipahutar, M.Sc.

Sebagai negara yang merdeka, menurut Kasal lebih lanjut, Indonesia harus mampu menjaga kedaulatannya demi menjamin pemanfaatan sumber daya bagi kesejahteraan rakyat Indonesia, serta menjaga martabat dan kehormatan negara di mata masyarakat dunia. Kedaulatan itu diimplementasikan dengan membuat peraturan perundang-undangan Nasional yang harus dihormati dan dipatuhi oleh siapa saja, termasuk dunia internasional.

Kedaulatan negara tersebut harus dijunjung tinggi dan ditegakkan oleh aparatur negara yang terkait. Dalam konteks tersebut, secara universal, TNI Angkatan Laut mengemban tugas itu, yaitu menjaga kedaulatan dan keamanan negara di laut. Artinya, TNI Angkatan Laut harus mampu melindungi wilayah dan mengamankan kekayaan alam bangsa Indonesia di laut seutuhnya, tegasnya.

Bertitik tolak dari penegasan tersebut, Kasal Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., menegaskan kepada seluruh jajaran TNI Angkatan Laut untuk melakukan introspeksi tentang sejauh mana tugas-tugas yang diemban telah dilaksanakan selama ini. “Sebagaimana kita ketahui bahwa tolok ukur keberhasilan pelaksanaan tugas TNI Angkatan Laut, dapat dilihat dari sejauh mana TNI Angkatan Laut mampu menjaga dan mengamankan wilayah Indonesia, dengan wujud nyatanya berupa jumlah unsur-unsur yang mampu digelar sesuai dengan jenis operasinya, serta seberapa besar jaminan keamanan laut yang mampu diberikan,” tegasnya sambil mengajak seluruh jajarannya untuk bersama-sama membangun TNI Angkatan Laut yang kuat dan mejadi kebanggaan bangsa Indonesia.

DISPENAL

Militer China Terkuat

Frigate kelas Guangzhou milik AL China.

2 Maret 2010, Beijing -- Kekuatan militer China harus didorong menjadi yang terkuat di dunia dan bergerak cepat untuk mengalahkan AS sebagai kekuatan militer global. Oleh karena itu, China harus menghilangkan sikap bersahaja terkait tujuan globalnya dan berlari cepat menjadi nomor satu.

Pandangan tersebut disampaikan perwira senior Angkatan Darat China (PLA), Kolonel Liu Mingfu, dalam bukunya yang mulai beredar hari Senin (1/3) berjudul The China Dream.

Buku berbahasa China itu memiliki 303 halaman dan merupakan tambahan suara dorongan agar China bersikap lebih tegas terhadap AS dalam masalah-masalah perdagangan, Tibet, hak asasi manusia, dan penjualan persenjataan ke Taiwan.

”Tujuan besar China pada abad ke-21 adalah menjadi nomor satu, kekuatan tertinggi. Jika China pada abad ke-21 tidak bisa menjadi nomor satu, tidak bisa menjadi kekuatan tertinggi, maka tidak bisa dihindarkan hal itu akan menjadikan China seorang yang tersesat dan terpinggirkan,” tulis Liu, yang merupakan guru besar di Universitas Pertahanan Nasional, yang ternama itu.

”Selama China berusaha naik menjadi nomor satu di dunia, bahkan kalaupun China lebih kapitalis ketimbang AS, AS akan tetap berusaha keras untuk menghentikannya,” tambah Liu sambil menegaskan bahwa pandangan-pandangan di dalam buku itu sepenuhnya merupa- kan pendapat pribadi. ”Kita memerlukan kebangkitan militer seperti halnya kebangkitan ekonomi.”

Buku Liu menambah kesaksian adanya tekanan di dalam negeri China kepada kepemimpinan Partai Komunis China untuk menunjukkan pertumbuhan ekonomi China yang cepat itu diterjemahkan lebih besar ke dalam pengaruh yang lebih kuat terhadap Barat, yang berjuang melawan kelesuan ekonominya.

Perwira PLA lain sebelumnya telah menyampaikan agar anggaran pertahanan China tahun ini bisa mengirimkan sebuah sinyal perlawanan terhadap Washington, setelah pemerintahan Obama melanjutkan rencana menjual persenjataan bernilai 6,4 miliar dollar AS ke Taiwan pada Januari lalu.

”Salah satu bagian opini publik di mana para pemimpin menaruh perhatian terhadapnya adalah pandangan para elite termasuk perwira PLA,” kata Alan Romberg, pakar China dan Taiwan di Henry L Stimson Center, di Washington DC.

Terkunci ketiga

Menurut Liu, China harus menggunakan pendapatannya yang terus meningkat untuk menjadi kekuatan militer terbesar dunia, sebegitu kuatnya sehingga AS ”tidak akan berani dan tidak akan mampu mencampuri konflik militer di Teluk Taiwan”.

Jika tujuan kekuatan militer China tidak bisa melampaui AS dan Rusia, maka China akan terkunci menjadi kekuatan militer peringkat ketiga, dan hal itu bisa bermakna memberikan sejumlah besar kantong uang kepada para pemilik peluru.

Persaingan antara China dan AS, ditegaskan Liu, adalah pertarungan untuk menjadi negara pemimpin, sebuah konflik tentang siapa yang bangkit dan jatuh untuk mendominasi dunia. ”Untuk mengamankan dirinya, untuk mengamankan dunia, China harus bersiap untuk menjadi penjaga dunia,” ungkapnya.

Pemerintah China berhati-hati dalam menanggapi pandangan soal pembangunan militernya karena tidak ingin merusak hubungan dengan mitra dagang utamanya, AS. Sikap pemerintah terhadap pandangan elitenya itu akan tercermin pada pengesahan anggaran pertahanan 2010, sekitar pekan ini.

KOMPAS

Malaysia Bantah Terlibat dalam Latihan ala Militer di Aceh

Senjata api jenis AK bersama ribuan amunisi berhasil ditemukan aparat Polres Bireuen. Perlengkapan perang tersebut diduga milik anggota Jamaah Islamiah. (Foto: int/metroaceh)

01 Maret 2010, Kuala Lumpur -- Menteri Pertahanan Malaysia Ahmad Zahid Hamidi membantah militer Malaysia terlibat dalam aktivitas teror di Aceh, Indonesia. Kendati demikian, Ahmad Zahid meminta pemerintah Indonesia menyelidiki masalah tersebut.

Ahmad Zahid mengomentari laporan yang menyebutkan dalam sebuah penggerebekan pekan lalu di Aceh, Kepolisian Indonesia menyita bayonet, uang, DVD, juga seragam militer Malaysia.

Seperti diwartakan The Star, Senin (1/3), Ahmad Zahid mengatakan pemerintah Malaysia tidak pernah terlibat dalam konflik di negara-negara tetangga. Hal tersebut diungkapkan Ahmad Zahid kepada wartawan setelah melepas tentara Malaysia di pangkalan udara Subang, Malaysia, untuk memimpin misi International Monitoring Team-Mindanao, kemarin (28/2).

Tim yang dikomandani Mayor Jenderal Datuk Baharun Hamzah tersebut kembali diterjunkan ke wilayah Mindanao, Filipina, selama satu tahun setelah sempat ditarik.

Kepolisian Daerah Aceh menggerebek tempat latihan militer liar di kawasan hutan Pegunungan Jalin, Jantho, Aceh Besar, pada 22 Februari. Dalam operasi tersebut, tiga orang ditangkap dan puluhan lainnya dalam pengejaran. Kepolisian Daerah Aceh menduga mereka bagian dari kelompok Jamaah Islamiyah.

TEMPO Interaktif

Pangdam IV/Diponegoro: Prajurit Desersi Sedikit

Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Budiman (kiri), menyematkan tanda kehormatan Satya Lencana Kesetiaan, kepada empat prajurit TNI, pada upacara peringatan HUT ke-60 Kodam IV/Diponegoro, di Makodam IV/Diponegoro, di Semarang, Jateng, Senin (1/3). Dalam amanatnya, pangdam berpesan agar masalah disiplin prajurit harus selalu menjadi perhatian karena selama ini masih ditemukan adanya pelanggaran yang dilakukan sejumlah anggota TNI AD yang menyangkut masalah desersi, tindak pidana, asusila dan penyalahgunaan wewenang. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/Koz/mes/10)

01 Mar 2010, Semarang -- Panglima Komando Daerah Militer IV/Diponegoro Mayjen TNI Budiman menyatakan prajurit TNI yang desersi atau meninggalkan tugas tanpa izin pada tahun 2009 di wilayahnya relatif sedikit.

"Prajurit Kodam IV/Diponegoro yang desersi jumlahnya di bawah sepuluh orang," kata Pangdam usai menjadi inspektur upacara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-60 Kodam IV/Diponegoro di Lapangan Parade Makodam di Semarang, Senin.

Ia menjelaskan, sedikitnya jumlah prajurit yang desersi dikarenakan sudah mulai ada peningkatan kesejahteraan bagi anggota TNI.

Selain itu, kata dia, kehidupan di wilayah Kodam IV/Diponegoro relatif sederhana sehingga tidak terlalu jauh perbedaan antara kondisi kesejahteraan prajurit dengan lingkungan di sekitarnya.

Pangdam mengungkapkan, rata-rata prajurit yang desersi tersebut memilih melarikan diri karena menolak menjalani hukuman setelah melakukan suatu pelanggaran hukum.

"Bagi prajurit yang desersi dan melarikan diri, kita tetap berusaha agar secepatnya dapat ditangkap dan kalau sampai batas waktu yang telah ditetapkan belum berhasil ditangkap maka yang bersangkutan akan diadili secara "inabsensia" dan kemudian dipecat," ujarnya.

Terkait hal tersebut, Pangdam mengatakan, pada masa mendatang pihaknya akan melakukan pembinaan satuan untuk meningkatkan kedisplinan, profesionalisme keprajuritan serta meningkatkan kemanunggalan TNI dengan rakyat.


Sejumlah prajurit TNI AD berbaris, pada upacara peringatan HUT ke-60 Kodam IV/Diponegoro dengan inspektur upacara Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Budiman, di Makodam IV/Diponegoro, di Semarang, Jateng. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/Koz/mes/10)

Sejumlah prajurit TNI AD mementaskan atraksi barongsay Naga Doreng, usai berlangsungnya upacara peringatan HUT ke-60 Kodam IV/Diponegoro. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/Koz/mes/10)

Upacara peringatan HUT Ke-60 Kodam IV/Diponegoro juga dihadiri oleh sejumlah mantan Pangdam IV/Diponegoro yakni Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, mantan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, dan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Tyasno Sudarto.

Tema peringatan HUT Ke-60 Kodam IV/Diponegoro kali ini adalah "Dengan semangat perjuangan Pangeran Duponegoro, prajurit Kodam IV/Diponegoro bertekad meningkatkan disiplin, profesionalisme keprajuritan dan manunggal dengan rakyat dalam rangka melaksanakan tugas pokok TNI".

Dalam upacara tersebut, Pangdam menyematkan Tanda Kehormatan Negara Republik Indonesia (TKNRI) Bintang Kartika Eka Paksi Nararya kepada Mayor Inf Katam, Kapten CBA Suratno (Satya Lancana Kesetiaan 24 tahun), Serka Joko Suyanto (Satya Lancana Kesetiaan 14 tahun), dan Kopda Sutikno (Satya Lancana Kesetiaan 8 tahun).

Upacara peringatan dilanjutkan dengan parade dan defile pasukan dan acara syukuran yakni pemotongan nasi tumpeng oleh Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Budiman.

ANTARA JATENG

Laksda Among Margono Jabat Pangarmatim

KSAL, Laksamana TNI Agus Suhartono SE (kiri), bersama Pangarmatim baru, Laksamana Muda TNI Among Margono SE (dua kanan) dan Pangarmatim lama, Laksamana Muda TNI Ignatius Dadiek Surarto (kanan) melakukan salam komando usai upacara serah terima jabatan (Sertijab) Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim), di Dermaga Ujung Koarmatim Surabaya, Senin (3/3). Jabatan Pangarmatim kini dipegang oleh Laksamana Muda TNI Agus Margono SE, menggantikan pejabat lama, Laksamana Muda TNI Ignatius Dadiek Surarto. (Foto: ANTARA/Bhakti Pundhowo/Koz/mes/10)

01 Maret 2010, Surabaya -- Laksamana Muda TNI Among Margono resmi menjabat Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim), menggantikan pejabat lama Laksda TNI Ignatius Dadiek Surarto.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Agus Suhartono memimpin langsung serah terima jabatan Pangarmatim dalam upacara militer di Dermaga Koarmatim Ujung, Surabaya, Senin (1/3).

Laksda TNI Ignatius Dadiek Surarto yang alumni AAL tahun 1977, tergolong sangat singkat menduduki posisi sebagai orang pertama di Koarmatim, yakni kurang dari tujuh bulan. Sebelum menjabat Pangarmatim, Laksda TNI Among Margono adalah Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), sementara Laksda Ignatius Dadiek Surarto mendapat promosi sebagai Asisten Operasi KSAL.

KSAL Laksamana TNI Agus Suhartono menyematkan tanda jabatan Pangarmatim kepada Laksda TNI Among Margono. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

KSAL Laksamana TNI Agus Suhartono menandatangani berita acara serah terima jabatan Pangarmatim. Pangarmatim diserahterimakan dari Laksda TNI Ignatius Dadiek Surarto kepada Laksda TNI Among Margono. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

KSAL Laksamana TNI Agus Suhartono menyerahkan Pataka Seskoal kepada Laksda TNI Didi Setiadi saat serah terima jabatan Komandan Seskoal. Komandan Seskoal diserahterimakan dari Laksda TNI Among Margono kepada Laksda TNI Didi Setiadi. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

KSAL Laksamana TNI Agus Suhartono melakukan pemeriksaan pasukan saat upacara serah terima jabatan Pangarmatim, Gubernur AAL, Komandan Seskoal dan Komandan Puspenerbal. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Marching band dari Kadet AAL turut memeriahkan acara serah terima jabatan Komandan Puspenerbal, Komandan Seskoal, Pangarmatim dan Gubernur AAL. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Sejumlah Kadet AAL, Kowal, Marinir dan Pasukan Khusus turut serta dalam defile pasukan saat Serah Terima Jabatan Komandan Puspenerbal, Komandan Seskoal, Pangarmatim dan Gubernur AAL. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Pada kesempatan sama, KSAL juga sekaligus memimpin sertijab untuk tiga jabatan strategis di lingkungan TNI AL lainnya. Ketiga jabatan itu masing-masing Komandan Seskoal dari Among Margono kepada Laksda TNI Didi Setiadi yang sebelumnya menjabat Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL), sementara posisi Didi Setiadi diserahterimakan kepada Laksma TNI Bambang Suwarto.

Satu pergantian lainnya adalah Komandan Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal) dari Laksma TNI Rudi Hendro kepada pejabat baru Laksma TNI Halomoan Sipahutar.

Pangarmatim Laksda Among Margono yang lulusan AAL tahun 1978, sebelumnya pernah menduduki pos penting di lingkungan TNI AL, di antaranya Komandan Lantamal IV Tanjung Pinang, Wakil Asisten Perencanaan KSAL hingga terakhir Komandan Seskoal.

MEDIA INDONESIA