Tampilkan postingan dengan label istilah sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label istilah sunda. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2011

Basa (bahasa) Wewengkon dan Basa (bahasa) Lulugu di Tatar Sunda

Dalam bahasa Sunda mengenal istilah basa (bahasa) wewengkon dan basa (bahasa) lulugu. Keanekaragaman basa (bahasa) wewengkon sangat berperan dalam menambah kekayaan khazanah bahasa Sunda.

Saya coba arsipkan kembali pelajaran yang didapat waktu duduk dibangku sekolah dasar beberapa puluh tahun yang lalu, tentang pengertian dan contoh basa (bahasa) wewengkon dan basa (bahasa) lulugu:

Basa (bahasa) wewengkon adalah bahasa yang biasa dipakai oleh anggota masyarakat di satu daerah (wewengkon), yang berbeda dengan bahasa-bahasa yang dipergunakan di daerah-daerah lainnya (mandiri).[Wangunan basa anu biasa dipake ku jalma-jalma atawa anggota masyarakat dihiji wewengkon anu tangtu, anu beda jeung basa-basa biasa anu dipake ku jalma-jalma di wewengkon sejenna. Kecap wewengkon (basa wewengkon) sok nambahan kabengharan basa lulugu.]

Basa (bahasa) lulugu adalah bahasa yang diterima dan dipergunakan oleh masyarakat Sunda secara keseluruhan [Basa anu ditarima sarta dijadikeun basa anu dipake ku masyarakat sunda sagemlemngna. Bsa lulugu biasana dipake sakur panyatur basa Sunda nyaho tur ngarti.]

Basa WewengkonBasa Lulugu
Ciamis
AmringBe’ak (habis)
MantangBoled (ubi)
SanaonSabaraha (berapa)
TipagutTitajong (tersandung)
NyanehManeh (kamu, anda)
BalaburUsum Hujan (musih hujan)
SungeSumur
KusiKungsi (pernah)
Kuningan
MungkalBatu
MenitRieut (pusing, sakit kepala)
KaguguHayang Seuri (ingin tertawa)
EndiMana
DageOncom
teu rajeunTeu keyeng (tidak semangat, malas)
Cirebon
NengkolMengkol (belok)
MuharaMuara
KacapeuSampeu (ketela)
JejengkokJojodog (tempat duduk)
GandelaJandela (jendela)
Banten
AbongSedih
AlusLeutik (kecil)
Aran Ngaran (nama)
CaweneParawan (Perawan)
Kabubun Labuh (jatuh)

Tentunya masih banyak contoh-contoh basa (bahasa) wewengkon, yang saya tulis ini hanya sebagian kecil saja. Di bagian contoh paling atas, ada beberapa bahasa yang biasa dipergunakan di Ciamis, tempat kelahiran kang Er’end/Cinta Deras (Hatur lumayan. manawi tiasa ngalubarken rasa kasono ka lembur matuh, dayeuh maneuh banjar karang pamidangan). Mudah-mudahan saya tidak salah dalam penulisannya.

salam

Jumat, 02 September 2011

Pranata Mangsa Petani Zaman Baheula

Pranata Mangsa atau aturan musim, biasanya digunakan oleh para petani pedesaan pada zaman dahulu (baheula).

Pranata Mangsa berasal dari dua kata, yaitu Pranata (aturan), dan Mangsa (musim atau waktu). Jadi Pranata Mangsa adalah aturan waktu yang digunakan petani sebagai penentuan/pijakan mengolah lahan pertaniannya, dalam kurun waktu satu tahun. Dengan urut-urutan sebagai berikut :

Kasa (kahiji). Musim kahiji mulai tanggal 21 Juni sampai 31 Juli. Lamanya 41 hari. Perlambang/ibaratnya: lir sotya (dedaunan) murca saka ngembanan (kayu-kayuan).Ditandai: Angin datang dari arah utara timur (timur laut), daun-daun berjatuhan dari pohonnya, telur bitangan kecil (seperti jangkrik) mulai menetas, siang hari terasa panas sekali malam harinya teresa dingin, kondisi tanah panas Bintang Wuluku mucul di sebelah timur, kalangkang/bayangan ke arah selatan. Musim ini musim kemarau bukan waktu yang tepat buat bertani.

Karo (kadua), Musim kadua mulai tanggal 1 Agustus sampai tanggal 23 Agustus, lamanya 23 hari. Perlambang/ibaratnya: beutule rengko (tanah retak). Ditandai: angin datang dari arah selatan dan utara berhembus ke arah barat, siang hari masih terasa panas dan malam hari terasa dingin, tanah kering dan ratak, selokan, sungai, dan sumur airnya mulai berkurang, daun muda (pucuk) pepohonan mulai keluar, seperti pohon karet, atau jeruk, di pagi hari bintang wukulu muncul di sebelah timur, tumbuhan buah-buahan mulai berbunga. Petani menanam palawija yang umurnya pendek.

Katiga (katilu). Musim katilu mulai tanggal 24 Agustus sampai tanggal 16 September, lamanya 24 hari. Perlembang/ibaratnya: akar-akar keluar. Ditandai: Angin datang dari arah utara, udara dingin tapi terasa segar, waktunya panen palawija, sebagian petani membuat petak pembinihan padi (tebar) di sawah. Waktunya pemupukan tanaman yng umurnya panjang saperti kalapa, durian, rambutan , dsb

Kapat (kaopat). Musim kaopat mulai tanggal 17 September sampai tanggal 11 Oktober, Lamanya 25 hari. Perlambang/ibaratnya: Gumading resi (gembira). Ditandai: angin datang dari arah barat berputar-putar menyebabkan turun hujan, musim kawin binatang kaki empat, pohon kapuk mulai berbuah, patani sibuk panen palawija dan menggarap sawah.

Kalima. Musim kalima mulai tanggal 12 Oktober sampai tanggal 7 Nopember, Lamanya 27 hari. Perlambang/ibaratnya: pancuran sumawur ing jagat (musim hujan). Ditandai: angin berhembus kencak datangnya dari arah barat dan utara (barat laut)bersamaan dengan hujan, hujan turun pada sore hari dan pagi hari, pepohonan banyak yang tumbang, pohon asem mulai tumbuh daun, penati mulai menanam padi (trandur) di sawah. Bintang Wuluku terlihat sore hari,

Kanem (kagenep). Musim kagenep mulai  tanggal 8 Nopember sampai tanggal 20 Desember, Lamanya 43 hari. Perlambang/ibaratnya: Ni’mating roso (merasakan kenikmatan). Ditandai: angin berhembus kencang datangnya dari arah barat, curah hujan banyak, memasuki musim panen buah-buahan (rambutan durian, manggis, dukuh, dsb). Sawah yang cukup air diangkat atau dibersihkan rumput-rumputnya (dirambet). Bintang Wuluku terlihat sore hari, Binatang kecil yang hidup disawah mulai bertelur.

Kapitu (katujuh). Musim katujuh mulai tanggal 21 Desember sampai tangga 1 Februari, Lamanya 42 hari. Perlambang/ibaratnya: Guci pecah ing lautan (ghuci retak dilautan). Ditandai: curah hujan tinggi kadang menimbulkan banjir, sawah yang ada di daearah pegunungan bisa ditanami padi (tandur), angin datang dari arah barat yang tak menentu, udara dingin, air di sawah seperti mendidih menandakan tanah masih panas, bintang Wuluku terlihat sore hari,. binatang kecil yang hidup di sawah mulai menetas, jagung dan kacang di huma cukup untuk dipanen

Kawolu (kadalapan). Musim kadalapan mulai tanggal 2 Februari sampai tanggal 28 Februari. Lamanya 27 hari. Perlambangna/ibaratnya: puspo anjrah (jroning kayung seungi sakeroning hate). Ditandai: angin datang dari arah utara barat berputar, hujan mulai berkurang, musin ini waktunya bertanam yang umurnya panjang. Padi di huma mulai mekar.

Kasongo (kasalapan). Musim kasalapan mulai tanggal 1 Maret sampai tanggal 25 Maret, Lamanya 25 hari. Perlambang/ibaratnya: wedaling wasono (timbul babasaan). Ditandai: angin datang dari arah selatan, kadang-kadang merusak padi yang sedang mekar. Hujan mulai berkurang, suara binatang sawah mulai terdengar, padi di mupa mulai menguning ada sebagian yang dipanen, sama halnya dengan padi disawah sudah ada yang dipanen.

Kasada (kasapuluh). Musim kasapuluh mulai tanggal 26 Maret sampai tsanggal 17 April, Lamanya 23 hari. Perlambang/ibaratnya: gedong ukeb jeroning kalbu (bangunan di hati). Ditandai; angin datang dari arah timur selatan (tenggara), banyak binatang hamil, dan sejenis burung terdengar kicauannya, dipegunungan padi siap dipanen dan sebagian sudah dipanen, sawah yang subur air mulai digarap lagi, membuatan pembinihan padi (tebar).

Desta (kasawelas). Musim kasawelas mulai tanggal 18 April sampai tanggal 10 Mei, Lamanya 23 hari. Perlambang/ibaratnya: pamungkas sinorowedi (patani sibuk panen). Ditandai: angin datang dari arah timur selatan (tenggara), udara dan tanah terasa panas, hama kungkang mulai merusak tanaman di sawah dan di huma, pepohonan daun mulai berjatuhan, musih ini masih waktunya menanam palawija umur pendek, disawah sibuk menanam padi (tandur), ada juga yang menenam palawija

Sada (kaduawelas). Musim kaduaerla mulai tanggal 11 Mei sampai tanggal 21 Juni, Lamanya 41 hari. Perlambang/ibaratnya: Tirta syaksing saseno (air meninggalkan tempatnya). Ditandai: angin datang dari arah timur, siang hari terasa panas malam hari dingin, tidak berkeringat. Dedauan layu tak tahan menahan panas datangnya hama padi. musim ini waktunya tebar nyadon atau palawija.

Menurut sumber lain. Dahulunya Pranata Mangsa ini diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan hasil pertanian. Apakah dengan kondisi yang tidak menentu seperti sekarang ini, Pranata Mangsa masih bisa dijadikan acuan untuk bertani dan membuat hasil pertanian yang berlimpah?

salam

Jumat, 29 April 2011

Nama Anak Binatang (Sasatoan)

Masih membahas tentang kajembaran basa. Sekalipun bukan hal yang baru, karena sudah banyak yang membahas tentang nama anak binatang (sasatoan). Saya sendiri pertama kali mengenal nama anak binatang (sasatoan) ini ketika duduk di bangku sekolah dasar.

Berikut ini sebagian nama-nama anak binatang (sasatoan):
Anak meri, entog (itik) = titit
Anak lauk emas (ikan mas)= burayak, kebul
Anak sapi = pedet
Anak munding (kerbau) = eneng
Anak kuda = belo
Anak monyet = begog
Anak ucing (kucing) = bilatung
Anak bangkong (katak)= buruy
Anak anjing = kikirik, kicik
Anak kancra = aom
Anak buaya = bocokok
Anak belut = kuntit
Anak reungit (nyamuk) = utek-utek
Anak bagong (babi hutan) = begu
Anak embe (domba) = ceme
Anak maung (harimau) = juag
Anak gajah = menel
Anak bogo = cingok
Anak gabus = kacalan
Anak keuyeup = bonceret
Anak kutu = kuar
Anak lele = nanahaon
Anak japati (merpati) = piyik
Anak bajing (tupai) = kekes
Anak hayam (ayam) = ciak
Anak banteng = bangkanang
anak lubang = leungli

Pada kenyataannya isitilah-istilah ini mulai jarang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat, 18 Maret 2011

Nama kekembangan (bunga) di Tatar Sunda

Bahasa Sunda sangat kaya dengan keanekaragaman kata. Bisa kita jumpai dari nama kekembangan (bunga). Nama kembang disini bukan dari jenis tanaman hias yang biasa terlihat di pot atau halaman rumah. Tapi nama kekembangan atau bunganya dari tumbuhan-tumbuhan seperti: sayuran, palawija, buah-buahan, bahkan bunga dari tumbuhan/pohon yang tumbuh liar di hutan.

Berikut dibwah ini nama-namanya:

Kembang koneng = unyang unyeng
Kembang surawung
(kemangi)= solasih
Kembang boled
(ubi jalar)= atela
Kembang laja = jamotrot
Kembang bawang = ulated
Kembang waluh (
labu) = alewoh
Kembang awi
(bambu)= eumbreuh
Kembang pare
(padi)= ringsang
Kembang eurih = ancul
Kembang tiwu
(tebu) = badaus
Kembang jambu aer (air
) = lenyap
Kembang jambu batu = karuk
Kembang jengkol = merekenyenyen
Kembang tangkil
(melinjo) = uceng.
Kembang kadu
(durian) = olohok
Kembang muncang
(kemiri) = rinduy
Kembang jarak = uing
Kembang leunca = pengit
Kembang cengek
(cabe rawit) = mencenges
Kembang honje = comrang
Kembang bako
(tembakau) = bosongot
Kembang jambe = mayang
Kembang salak: sedek/gojod
Kembang kelewih
(sejenis sukun) = beled
Kembang kaso = ciriwis
Kembang genjer = gelenye
Kembang jeruk = angkruk
Kembang jati = janiti
Kembang cau
(pisang)= jangtung
Kembang peuteuy
(petey)= pendul
Kembang jotang = puncung
Kembang bolang = ancul
Kembang lopang = cacas
Kembang kalapa
(kelapa) = suligar
Kembang sampeu
(ketela) = dingdet
Kembang taleus (
talas) = ancal
Kembang limus = seleksek
Kembang kawung
(enau, aren) = pengis

Nama kekembangan di atas hanya sebagian saja, kemungkinan namanya berbeda di tiap-tiap tempat di tatar Sunda.

Senin, 07 Februari 2011

Mengenal Jam Sunda (Orang Sunda memiliki 24 jam yang saat ini hampir dilupakan)

Jam sunda bukanlah jam seperti biasanya, pada saat saya mendengar “jam sunda” ini yang saya bayangkan jam seperti biasanya lalu membentuk ornamen-ornamen budaya sunda. Ternyata dugaan saya salah, jam sunda yang dimaksud bukan jam yang seperti biasanya, yang ada angka-angkanya, tetapi jam ini memiliki keunikan tersendiri yaitu memakai kata-kata, bukan memakai angka-angka.

Kata-kata ini menggambarkan suasana sekitar pada jam tersebut di jaman dahulu kala. Seperti misalnya jam 12.00 berarti disebut Tangage, lalu jam 04.00 berarti jam “kongkorongok hayam” yang berarti pada jam ini ayam berkokok di waktu ini.

Berikut nama-nama waktu jam sunda
jam 12.00 = tangage,
jam 13.00 = lingsir (panon poe lirgsir ngulon),
jam 14.00 = kalangkang satangtung,
jam 15.00 = mengok,
jam 16.00 = tunggak gunung (pononpoe tunggak gunung),
jam 17.00 = sariak luyung,
jam 17.30 = sareupna,
jam 19.00 = hariem beungeut,
jam 20.00 = sareureuh budak,
jam 21.00 = tumoke,
jam 22.00 = sareureuh kolot,
jam 23.00 = indung peuting,
jam 00.00 = tengah peuting,
jam 01.00 = tumorek,
jam 02.00 = janari leutik,
jam 03.00 = janari gede,
jam 04.00 = kongkorongok hayam,
jam 05.00 = balebat,
jam 06.00 = carangcang tihang,
jam 07.00 = meletek panonpoe,
jam 08.00 = ngaluluh taneuh,
jam 09.00 = haneut moyan,
jam 10.00 = rumangsang,
jam 11.00 = pecat sawed.

Selain itu juga, pemberian waktu di dalam bahasa sunda tidak seperti biasanya seperti pagi, siang, sore malam. pukul 10.00 sampai dengan pukul 14.00 disebut beurang, pukul 15.00 sampai dengan 16.00 disebut sore, pukul 17.00 sampai dengan pukul 19.00 disebut Burit, pukul 20.00 sampai dengan pukul 00.00 disebut peuting, pukul 01.00 sampai dengan pukul 03.00 disebut janari, pukul 04.00 sampai dengan pukul 05.00 disebut subuh-subuh, pukul 06.00 sampai dengan pukul 09.00 disebut isuk-isuk.

Namun setelah islam masuk, nama-nama waktu disesuaikan dengan waktu shalat seperti Shubuh-shubuh, Lohor, Ashar, Maghrib, Isya. Bukan lagi sore, beurang, peuting, janari dan isuk-isuk.

Bagaimana jika jam ini dibentuk seperti jam asli, tetapi memakai kata-kata ini, bukan angka seperti biasanya?
Silahkan anda bayangkan sendiri. (PR 2009)

Sumber, [sumedangonline.com]