Selasa, 28 September 2010

Lulusan Akmil Harus Berdaya Saing Internasional

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI George Toisutta (tengah) melakukan salam komando dengan pejabat baru gubernur Akademi Militer (Akmil) Brigjen TNI Suharsono SIP (kanan) dan pejabat lama Mayjen TNI Gatot Nurmantyo (kiri) pada upacara Sertijab gubernur Akmil di Lapangan Sapta Marga komplek Akmil, Magelang, Jateng, Selasa (28/9). Mayjen TNI Gatot Nurmantyo selanjutnya menduduki jabatan baru sebagai Panglima Kodam v/Brawijaya. (Foto: ANTARA/Anis Efizudin/ed/10)

28 September 2010, Magelang -- Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI George Toisutta menyatakan Akademi Militer harus tertata dalam sistem, mekanisme serta cara kerja baku dan profesional mengarah pada kelulusan yang memiliki daya saing berstandar nasional dan internasional.

Faktor yang menentukan keberhasilan Akademi Militer (Akmil) dalam menjalankan misi mulia itu terletak pada kerja keras yang dilakukan dengan penuh ketekunan dan kesungguhan dari semua unsur yang mengawaki lembaga ini, katanya di Magelang, Selasa.

Ia mengatakan hal tersebut pada serah terima jabatan Gubernur Akmil dari Mayjen TNI Gatot Nurmantyo kepada Brigjen TNI Suharsono. Sebelumnya Suharsono sebagai Kasdam II/Sriwijaya, sedangkan Gatot Nurmantyo akan menempati jabatan baru sebagai Pangdam V/Brawijaya.

KSAD mengharapkan agar lembaga ini tetap memegang teguh prinsip bekerja keras dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran secara berlanjut, untuk lebih meningkatkan mutu hasil didik sesuai tuntutan perubahan dan kemajuan.

Ia mengatakan, Akmil harus senantiasa meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan yang sesuai perkembangan masyarakat dan teknologi sehingga diharapkan kualitas lulusan memiliki bekal profesionalisme dan kejuangan serta berkepribadian sapta marga, sumpah prajurit, dan delapan wajib TNI.

"Hal ini penting untuk dijadikan pedoman agar para Perwira TNI Angkatan Darat kelak mampu tetap eksis dan berperan dalam dunia yang semakin terbuka serta mampu menyesuaikan diri dengan cepat di alam persaingan yang semakin ketat," katanya.

Untuk mencapai mutu hasil didik yang memiliki kriteria tanggap, tanggon, dan trengginas, katanya, Akmil perlu terus melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan terkait, baik di lingkungan TNI maupun di luar TNI.

Ia mengatakan, dengan kerja sama tersebut sehingga diperoleh suatu sistem penyelenggaraan pendidikan yang tepat guna menjawab tantangan serta tuntutan zaman.

Selain itu, Akmil harus senantiasa mengkaji, meningkatkan dan menyempurnakan kualitas perangkat kendali operasi pendidikan, serta terus memantapkan sistem pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan.

Ia mengatakan, hal itu perlu dilakukan agar proses belajar dan mengajar di Akmil mampu menghasilkan perwira yang mempunyai karakter kepribadian, jasmani dan wawasan akademik secara seimbang sehingga benar-benar memancarkan makna tri cakti wiratama.

Akmil sebagai lembaga pendidikan pembentukan pertama, katanya, tidak cukup hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berorientasi jangka pendek saja, tetapi harus membekali para peserta didik dengan pengetahuan yang berorientasi jauh ke depan.

Selain itu, katanya, Akmil juga harus mampu mencetak perwira dengan latar belakang dari suku dan budaya yang beragam untuk memiliki keunggulan iman dan takwa serta keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi.

ANTARA News

Pemerintah Terus Lengkapi Sistem Senjata Sukhoi

(Foto: RIA Novosti/Mikhail Tsiganov)

29 September 2010, Jakarta -- Pemerintah terus berupaya melengkapi sistem persenjataan sepuluh pesawat tempur Sukhoi yang telah dibeli dari Rusia, kata Menteri Pertahanan Poernomo Yusgiantoro.

Ketika ditemui di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, Poernomo mengatakan pihaknya masih mendalami produsen senjata dan sumber dana yang akan digunakan untuk membeli senjata tersebut.

Poernomo mengatakan, produsen senjata tidak harus berasal dari Rusia. Pesawat tempur Sukhoi, katanya, bisa dipersenjatai dengan senjata yang diproduksi oleh produsen lain.

"Sebetulnya senjata itu bisa dibeli dan tidak harus buatan Rusia," katanya.

Namun demikian, Kementerian Pertahanan sudah memulai kerjasama dengan pihak Kedutaan Besar Rusia dan Rosoboronexport sebagai produsen untuk pengadaan sistem persenjataan Sukhoi.

Poernomo menegaskan, Indonesia bisa bekerjasama dengan produsen lain untuk melengkapi sistem persenjataan itu. Bahkan, katanya, pesawat Sukhoi bisa dilengkapi dengan sistem persenjataan buatan dalam negeri, seperti bom P100.

"Itu kita lihat untuk latihan bombingnya itu di Takalar, itu dengan buatan dalam negeri sudah bisa," katanya.

Terkait pendanaan, Poernomo mengatakan ada tiga pilihan sumber dana untuk membiayai pembelian sistem persenjataan Sukhoi, yaitu pinjaman dalam negeri melalui sindikasi perbankan nasional, pinjaman luar negeri, dan APBN.

Namun demikian, Poernomo belum bisa memastikan jumlah dana yang dibutuhkan untuk mempersenjatai Sukhoi yang nantinya akan ditingkatkan jumlahnya menjadi satu skadron atau 16 unit pesawat.

"Nilainya memang mahal, tapi untuk mempertahankan negara ini kan memang mahal," katanya.

Indonesia menegaskan akan menambah enam unit pesawat jet tempur Sukhoi guna menggenapkan sepuluh unit yang ada menjadi satu skuadron.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat kepada ANTARA menyatakan, rencana penambahan enam Sukhoi itu telah mendapat persetujuan presiden.

Ia mengatakan, keberadaan sepuluh pesawat Sukhoi yang bermarkas di Skadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, belum memadai untuk memberikan daya tangkal.

"Dibandingkan dengan wilayah udara nasional yang begitu luas, sepuluh unit Sukhoi yang ada belum memadai," tutur Imam.

Sebagai perbandingan, Malaysia memiliki 18 Sukhoi meski luas wilayah udaranya lebih kecil. Sementara itu, berdasar catatan, Singapura memiliki 24 pesawat F15.

Sejak 2003 Indonesia telah memiliki sepuluh pesawat tempur Sukhoi yang dibeli dari Rusia. Pada 2003 Indonesia membeli empat Sukhoi jenis SU-30MK dan SU-27SK, masing-masing dua unit.

Indonesia kemudian membeli enam pesawat Sukhoi lagi pada 2007. Perusahaan Rusia penghasil pesawat tempur Sukhoi pada 21 Agustus 2007 mengumumkan penjualan enam pesawat tempur kepada Indonesia tersebut bernilai sekitar 300 juta dollar AS atau senilai Rp 2,85 triliun.

Enam pesawat Sukhoi yang dibeli itu terdiri atas tiga Sukhoi SU-30MK2 dan tiga jenis SU-27SKM. Tiga jenis Sukhoi SU-30MK2 telah tiba pada Desember 2008 dan Januari 2009. Dan tiga unit Sukhoi SU-27SKM masing-masing tiba pada Jumat (10/9) dan Kamis (16/9).

TNI Angkatan Udara juga telah mengirimkan calon penerbang dan teknisi Sukhoi ke Rusia dan Cina untuk belajar.

ANTARA News

Presiden Lantik Agus Suhartono

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kanan) dan Ibu Negara Ani Yudhoyono (kanan) memberikan ucapan selamat kepada Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono (kiri) dan Isteri, Tetty Sugiarti seusai acara pelantikan Panglima TNI di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/9). Dalam kesempatan yang sama, Presiden SBY melantik Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) yang baru Laksamana Madya TNI Soeparno. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/Spt/10)

28 September 2010, Jakarta -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Selasa, melantik Laksamana TNI Agus Suhartono sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang baru.

Presiden Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono tiba di tempat pelantikan tepat pada pukul 15.00 WIB.

Sejumlah pejabat tinggi negara yang hadir dalam acara itu antara lain, Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua Mahkamah Konstitusi Mafud MD, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Poernomo, dan para pimpinan DPR.

Para menteri koordinator dan menteri Kabinet Indonesia Bersatu II juga hadir dalam acara pelantikan itu.

Pelantikan diawali dengan pembacaan Keppres Nomor 51/TNI/2010 tentang pengangkatan Laksamana TNI Agus Suhartono sebagai Panglima TNI, dan Keppres Nomor 52/TNI/2010 tentang pengangkatan Laksamana Madya TNI Soeparno sebagai Kepala Staf Angkatan Laut.

Setelah itu, Presiden memimpin pembacaan sumpah dan janji jabatan yang diikuti oleh Agus dan Soeparno. Acara kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan berkas pelantikan.

Sidang paripurna DPR pada Senin 27 September 2010 secara bulat menyetujui pengangkatan Agus Suhartono sebagai Panglima TNI.

Panglima TNI baru itu oleh DPR diharapkan mampu menuntaskan agenda reformasi di tubuh TNI secara menyeluruh.

Semua fraksi di DPR menyetujui Agus sebagai satu-satunya calon yang diajukan oleh Presiden Yudhoyono itu, setelah uji kelayakan dan kepatutan yang digelar pada 23 September 2010.

Agus Suhartono menggantikan Jenderal TNI Djoko Santoso yang memasuki masa pensiun.

Agus yang sebelumnya menjabat Kepala Staf Angkatan Laut itu, mengawali pendidikan militer di Akademi Angkatan Laut pada 1978.

Pria kelahiran Blitar, Jatim, 25 Agustus 1995, itu kemudian mengenyam sedikitnya sepuluh pendidikan militer tingkat lanjut. Pendidikan militer terakhir yang dia dalami adalah "Maritime Force Commander" pada 2006.

Sebelum menjadi Kepala Staf Angkatan Laut, Agus mengemban sejumlah jabatan strategis di lingkungan Angkatan Laut.

Beberapa jabatan yang pernah dia emban, antara lain komandan sejumlah kapal perang, staf ahli Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Armatim), Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Armabar), dan Irjen Departemen Pertahanan.

Karena pengabdian dan prestasinya, Agus mendapatkan sedikitnya sepuluh tanda jasa.

ANTARA News

Komandan Australia Nilai TNI Profesional

(Foto: Reuters)

28 September 2010, Kuta -- Komandan Komando Operasi Khusus (SOCOM) Australia, Mayor Jenderal Tim MacOwen, menilai tentara Indonesia profesional dan dia puas menyaksikan latihan penanggulangan teror bersama jajaran Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat.

"Kami mendapat banyak masukan berharga dari latihan bersama ini. Pasukan komando Anda sangat mumpuni dalam operasi penanggulangan teror seperti ini dan ini menjadi aset tidak ternilai untuk Indonesia," katanya kepada ANTARA News, di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali, Selasa.

MacOwen bersama sejawatnya, Komandan Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat (AD), Mayor Jenderal TNI Lodewijk Paulus, menyaksikan langsung operasi latihan bersama penanggulangan aksi teror di bandar udara internasional itu.

Hanya perlu waktu tiga menit saja bagi pasukan khusus gabungan kedua negara itu untuk menggulung kawanan teroris yang dipimpin tokoh fiktif bernama "Umar Patek", yang menuntut pembebasan para narapidana dan tahanan politik ditambah uang sebanyak Rp5 miliar.

Beberapa lantai bandar udara di Bali yang ramai itu bisa diduduki "Patek" dan kawan-kawan. Untuk mempertegas tuntutannya, kawanan teroris itu menembak mati satu dari puluhan sandera dari lantai dua Terminal Keberangkatan Internasional Bandar Udara Ngurah Rai, yang diduduki mereka sejak dua hari sebelumnya.

Panglima TNI tidak ingin keadaan bertambah buruk dan langsung memerintahkan Komando Pasukan Khusus TNI AD membentuk satuan tugas penanggulangan teror itu.

Selain itu, ikut dibajak pula sebuah pesawat terbang maskapai penerbangan nasional di jalur Jakarta-Perth yang melengkapi jumlah sandera, yang sebagian adalah warga negara Australia.

Komando Operasi Khusus Australia, atas perintah pemerintah negara itu, lalu menghubungi Markas Besar TNI agar bisa dilibatkan dalam operasi gabungan penanggulangan teror itu karena sebagian sandera adalah warga negaranya.

Alhasil, waktu yang diperlukan guna membentuk satu satuan tugas gabungan menjadi sangat singkat sampai operasi itu pun digelar.

"Salah satu bukti profesionalitas tentara Indonesia, dalam hal ini Kopassus TNI AD, adalah mampu melakukan koordinasi dan melakukan prosedur penyelamatan sandera dalam waktu singkat sekali. Kami sendiri juga lakukan hal serupa, akan tetapi waktu persis yang diperlukan tidak bisa saya ungkap pada Anda," katanya.

Menurut MacOwen, pasukan khusus Indonesia memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam ketepatan dan kecepatan aksi. "Lihat saja, dalam waktu singkat bisa ditumpas para teroris itu. Kami mendapat pengalaman berharga," katanya.

Komando Operasi Khusus Australia merupakan satu badan gabungan dari tujuh pasukan khusus yang dimiliki Australia. Dua di antara tujuh pasukan khusus itu telah sangat dikenal, yaitu "Special Air Force" (SAS) Australia dan "Australian Army Defence Force Commando".

Berlainan dengan Indonesia, di Angkatan Pertahanan Australia, ketujuh pasukan elit dari berbagai matra dan korps ini dikoordinasikan pembinaan dan pengerahannya ke dalam satu badan gabungan, yaitu SOCOM. Mereka juga menguasai prosedur-prosedur khusus yang berasal dari pasukan elit mitranya karena mereka sering saling berlatih.

(Foto: AP)

(Foto: Reuters)

(Foto: AP)



(Foto: AFP/Sonny Tumbelaka)

ANTARA News

AL Iran Operasikan Kapal Laut Terbang

28 September 2010 -- 28 September 2010 -- Satu skuadron kapal laut terbang diserahkan ke Korps Pengawal Revolusi Iran kekuatan laut oleh Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi, Selasa (29/9) di Bandar Abbas.

Kapal laut terbang dirancang oleh Angkatan Laut Iran dan organisasi industri dirgantara serta Universitas Malek Ashtar.

Wahana ini dapat melakukan misi pengintaian dan pengamatan di laut.

Setiap wahana dilengkapi sepucuk senapan mesin, teropong dan night vision, kamera video.

Iran berencana membangun kapal laut terbang generasi baru dalam waktu dekat, ujar Vahidi.









MEHR/Berita HanKam

Indonesia Target 180 Sukhoi dengan 10 Skadron

(Foto: detikFoto/Muhammad Nur Abdurrahman)

27 September 2010, Makassar -- Indonesia menargetkan membeli 180 pesawat tempur Sukhoi dan membangun 10 Skadron di seluruh Indonesia untuk memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro didampingi Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat di Makassar, Senin, menegaskan bahwa pertahanan NKRI harus diperkuat.

"Untuk mempertahankan kedaulatan NKRI kita menargetkan 180 pesawat tempur Sukhoi dengan membangun 10 Skadron," katanya.

Setiap skadron, lanjut mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu, akan diisi 18 pesawat tempur buatan Rusia itu.

TNI AU saat ini sudah memiliki enam pesawat Sukhoi dan bermarkas di Lanud Sultan Hasanuddin Makassar.

Menurut menteri, bukan hanya Sukhoi yang akan memperkuat pertahanan udara RI tetapi juga pesawat tempur F-16 Fightin Falcon yang sudah masuk dalam rencana kerja strategi (Renstra) Kemenhan sebagai pengganti dari pesawat Hawk Australia.

Ia mengatakan, target perencanaan penguatan 180 armada tempur TNI AU jenis Sukhoi itu diharapkan terealisasi hingga 2024.

Purnomo mengatakan, pengadaan pesawat tempur Sukhoi itu sangat dimungkinkan karena pemerintah Rusia siap menyediakan berapa pun jumlah pesawat tempur yang diminta Indonesia.

Menurutnya, dengan membaiknya kondisi keuangan negara diharapkan semua Renstra Kementrian Pertahanan bisa lebih cepat terlaksana.

"Dengan membaiknya perekonomian bangsa semakin memudahkan pemerintah untuk memperkuat pertahanan," terangnya.

ANTARA News

Senin, 27 September 2010

Menhan : Harga Diri Bangsa Jauh Lebih Mahal

(Foto: Reuters)

27 September 2010, Makassar -- Menteri Pertahanan dan Keamanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, untuk membangun pertahanan negara membutuhkan anggaran yang cukup besar, namun besarnya biaya itu tidak semahal dengan kehormatan dan harga diri bangsa.

Negara yang besar harus didukung dengan pertahanan yang kuat agar bangsa ini tidak dirongrong, baik dari dalam maupun dari luar, kata Purnomo Yusgiantoro didampingi Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat saat serah terima tiga pesawat tempur Sukhoi di Makassar, Senin.

Ia meminta kepada rakyat Indonesia agar tidak memikirkan mahalnya penyelenggaraan pemeliharaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) yang dimiliki bangsa ini.

"Jangan pernah berfikir penyelenggaraan pemeliharaan itu mahal karena mahal itu relatif," ujarnya.

Purnomo menegaskan bahwa sejak dahulu bangsa Indonesia mencintai perdamaian, tetapi jika kedaulatan NKRI ada yang ingin merongrongnya dari luar maka Indonesia siap berperang setiap saat.

"Saya kira kita semua sepakat bahwa bangsa ini cinta kedamaian, tetapi jika ada yang mengganggu dan mau menyerang bangsa ini, maka bangsa ini siap berperang dengan siapa saja," katanya.

Karena itu, pihaknya meminta kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan untuk bisa mendukung langkah pemerintah membangun pertahanan, khususnya membangun armada pertahanan udara.

Dengan adanya 10 pesawat tempur Sukhoi di Skadron XI Pangkalan Udara diharapkan bisa menjadi kebanggaan masyarakat Sulsel dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

ANTARA News