Tampilkan postingan dengan label Profil Satuan TNI AD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Satuan TNI AD. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juli 2010

Tim Pendahulu Paspampres Awal kesuksesan Tugas Pengamanan Presiden Ditentukan


13 Juli 2010 -- "Setia Waspada" Umumnya, sebelum suatu acara atau kegiatan di suatu tempat/daerah diputuskan untuk dihadiri Presiden RI atau Wakil Presiden RI (acara/kegiatan Kenegaraan) terlebih dahulu diselenggarakan “Rapat Koordinasi” yang diprakarsai oleh Kepala Biro Protokol Sekretaris Presiden. Pada umumnya Rakor ini paling lambat diselenggarakan satu minggu sebelum pelaksanaan kegiatan tersebut, dengan materi bahasan meliputi kelaiakan acara, tranportasi Presiden/Wakil Presiden, akomodasi dan situasi keamanan daerah setempat. Peserta Rakor yang diundang antara lain perangkat Kepresidenan seperti Biro Protokol, Sekretaris Militer, Paspampres, dan Bais TNI serta dari daerah dihadirkan Panitia penyelenggara, Pemda, aparat TNI dan Polri setempat.


Untuk pengamanan kunjungan Presiden dan Wakil Presiden RI ke suatu daerah, Paspampres selalu mengirimkan tim pendahulu yang sering disebut “Advance Team”. Mereka terdiri dari anggota Grup, Detasemen Deteksi, Detasemen Kesehatan, Denkomlek dan bisa juga diperkuat dari anggota satuan pendukung atau pelaksana lainnya seperti Dronkavser dan Yonwalprotneg. Tim Pendahulu umumnya dipimpin oleh seorang Pamen sebagai Dantim. Bila objek / tempat yang akan dikunjungi lebih dari satu maka dalam organisasi Tim Pendahulu ada beberapa Subtim yang mana dalam setiap Subtim ada unsur Pampri, Pamins, Matan, Deteksi, Foodsec, Komlek dan tentunya seorang Danplek. Yang mengirimkan Tim Pendahulu sebenarnya bukan hanya Paspampres saja, melainkan pihak Protokol Istana, Sesmil dan Bais TNI juga mengirimkan personelnya sebagai Tim Pendahulu.


Tim Pendahulu Paspampres diberangkatkan ke daerah tujuan minimal tiga hari sebelum hari “H”, untuk melakukan koordinasi dengan aparat setempat dan pihak-pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas, melakukan survey tempat guna menilai kebutuhan dan penempatan personel, perlengkapan/peralatan seperti secdoor, Rumah sakit rujukan, Safe Room, Safe House, Rute kunjungan, rute evakuasi medis dan taktis (Konrat). Untuk meyakinkan seluruh persiapan berjalan dengan rencana maka sebelum kedatangan VVIP Tim Pendahulu dengan aparat setempat yang terlibat menyelenggarakan gladi acara kegiatan dan gladi pengamanan. Tim Pendahulu Paspampres dengan waktu yang terbatas harus mampu merencanakan dan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik sehingga mampu meyakinkan Danpaspamres bahwa lokasi yang akan dikunjungi benar-benar aman. Dipundak Tim Pendahulu lah, awal dari kelancaran dan kesuksesan tugas pengamanan Presiden ditentukan. (Mayor Kav Urip)

Paspampres

Minggu, 11 April 2010

Yonif 500 Riders Kodam V/ Brawijaya

Tim anti teror Yonif 500/Raider. (Foto: detikFoto/Rois Jajeli)

11 April 2011 -- Bagi Kunto Arief, menjabat sebagai komandan Yo­nif 500 Riders Komando Daerah Militer (Kodam) Brawijaya adalah tanggung jawab yang tidak bisa dibilang mudah. Maklum, kesatuan yang dipimpinnya merupakan kesatuan pasukan elite Angkatan Darat.

Pria dengan dua melati di pundak itu dikenal memiliki ciri khas sebagai komandan yang punya visi dan pandangan jauh ke depan. Karisma sebagai seorang pemimpin yang te­gas dan berwibawa begitu melekat pada pria 39 tahun itu.

Arief menyatakan, pasukan elite Yonif 500 Riders merupakan kesatuan yang berbeda daripada kesatuan lainnya di lingkungan TNI-AD. Untuk masuk sebagai Riders, prajurit harus menjalani tahap seleksi yang sangat ketat.

Secara pendidikan, anggota Riders 500 merupakan orang-orang terpilih untuk menjalani pelatihan selama enam bulan di pusat pendidikan pasukan khusus (Pusdik Pasus) di Batu Jajar, Bandung, Jawa Barat. ''Pendidikannya satu lokasi dengan Kopassus. Namun, kami dilatih sendiri,'' papar Arief kepada Jawa Pos.

Tidak hanya prajurit pilihan, melainkan juga para perwira. Mereka (perwira) juga menjalani tahap seleksi yang ketat. Jadi, bukan berarti karena berpangkat perwira, mereka lantas bisa langsung masuk menjadi Riders. Justru pendidikan untuk perwira lebih berat ketimbang para prajurit.


Saat ini, Yonif 500 Riders Kodam Brawijaya memiliki 711 personel. Mereka terbagi menjadi 27 perwira, 50 personel pasukan penanggulangan teror (Gultor), serta sisanya tamtama dan bintara.

Arief mengatakan, untuk menjadi pasukan elite Riders, ada beberapa tahap atau materi yang diajarkan selama menempuh pendidikan di Pusdik Pasus Jawa Barat. Di antaranya, pertempuran dalam kota (purkota), demolisi (taktik penghancuran), pembebasan sandera (ride bus one), mobil udara (mobud), berkendara (ride car), dan operasi intelijen (Sandi Yuda).

''Khusus Gultor diperkuat pada Sandi Yuda,'' ujar Arief. Arief menyatakan, pasukan Riders berasal dari kata Ride yang artinya mencuri atau melakukan misi dengan kecepatan, ketepatan, dan senyap. Karena itu, pasukan Riders diharapkan memiliki keterampilan khusus untuk menjalankan operasi militer dengan baik.

Mengenai taktik pertempuran, Arief menambahkan, pasukan Riders mendapat porsi seluruh latihan inti selama di Kopassus. Selebihnya dikembangkan sendiri ketika mereka dikembalikan ke barak tempat menjalani tugas sebagai pasukan elite.

Anak keenam di antara tujuh bersaudara itu mencontohkan, ilmu bela diri yang dilakoni pasukan Riders saat ini merupakan pengembangan dari berbagai cabang ilmu bela diri. Di antaranya, karate, taekwondo, dan kick boxing. Percampuran tersebut merupakan cara baru di dunia kemiliteran.

Meski demikian, bukan berarti percampuran itu mengubah dasar-dasar ilmu bela diri yang sudah ada. Melainkan, ada pengembangan dalam gerakan-gerakan yang sudah diajarkan. ''Sehingga, ada penyelarasan gerak dan teknik. Sekali lagi bukan bermaksud untuk mengubah secara total,'' imbuh Arief.


Begitu juga taktik pengamanan. Pasukan Riders mempunyai cara tersendiri ketika dihadapkan pada suatu bentuk pengamanan atau perlindungan. Bagaimana pasukan Riders harus bisa mengerjakan misi yang diberikan dengan minim risiko kegagalan. Praktis, para pasukan elite itu memang harus bekerja ekstrakeras agar operasi dapat dilakukan secara sempurna.

Terutama saat menjalankan taktik demolisi. Pasukan Riders harus paham betul target perusakan, penculikan, maupun penonaktifkan kegiatan yang dianggap membahayakan misi dalam pertemupuran. ''Semua lebih bersifat logistik dan sangat vital,'' jelas Arief.

Dia lantas menceritakan operasi pembebasan sandera yang dilakukan oleh sekelompok teroris. Dalam pekerjaan itu, anggota Gultor paling banyak berperan. Sebab, mereka dituntut untuk bisa ''merapikan'' situasi dengan meminimalisasi jatuhnya korban. Memang nyawa yang menjadi taruhan. Namun, pasukan Gultor dapat diandalkan dalam situasi tersebut.

Salah satunya, kenang Arief, saat melakukan operasi perburuan tokoh teroris komplotan lanjutan Dr Azhari. Pasukan Riders turut berperan dalam operasi militer secara rahasia. Mereka (anggota Riders dan Gultor) harus berhari-hari jauh dari keluarga dan menyamar sebagai sipil. Namanya juga misi rahasia, Arief tidak menceritakan detail kegiatan yang mereka lakukan.

Jawa Pos

Sabtu, 21 Februari 2009

Batalyon 500/Raider/Kodam V/Brawijaya - bag. 2


K-9 Yonif 500/Raider
Tim K-9 Yonif 500/Raider tergabung tim Penanggulangan Teror (Gultor), bertugas pencarian jejak dan pelacakan dibentuk 4 April 2006. Dipimpin seorang Bintara selaku Komandan Tim (Dantim), yang membawahi 10 orang prajurit dan 10 ekor anjing. Seorang perwira ditunjuk sebagai koordinator pelatih.

Jenis anjing yang dimiliki, lima ekor anjing / Herder (German Shepherd), dua ekor Rottweiler, dua ekor Doberman, dan seekor Golden Retriever.

Tim K-9 hanya dimiliki oleh Yonif 500/Raider tidak dimiliki batalyon raider lainnya. K-9 Korps (Canine Corps) dibentuk pertama kali oleh Quartermaster Corps AB Amerika Serikat 13 Maret 1945.

Prestasi Menggagumkan



Tidak lama dilantik menjadi Raider, Yonif 500 diterjunkan ke medan laga di bumi serambi Mekah. Langsung meraih prestasi gemilang setelah Tim Jayabaya I Yonif 500/Raider berhasil menewaskan Ishak Daud Panglima Operasi Gerakan Separatis Aceh (GSA) Wilayah Peureulak, Kabupaten Aceh Timur.

Setelah baku tembak di kawasan hutan Kampung Babah Krueng, Peureulak sekitar 392 Km sebelah timur kota Banda Aceh sekitar pukul 12.30 WIB, 8 September 2004. Selain menewaskan Ishak Daud, turut tewas Cut Rostina istri Ishak Daud anggota Inong Bale (Tentara Wanita GAM) serta 14 anggota GAM. Sedangkan satu prajurit Yonif 500/Raider Praka Abubakar Siddiq gugur.

Usai baku tembak anggota Tim Jayabaya I berhasil menyita 320 butir amunisi AK, tiga buah magazen AK, tiga buah Box Magazen, satu sangkur, dua helm tempur, sebuah teropong besar, sebuah kopel riem, dua lembar bendera GSA, dan 23 buah tenda plastik hitam.



Atas prestasinya seluruh anggota Tim Jayabaya I Yonif 500/Raider mendapatkan Kenaikan Pangkat Medan Tempur (KPMT) dari Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto tanggal 20 September 2004, atas nama Serka Herlambang (Komandan Tim), Serka TH. Yosi Wibowo K, Kopka Ramdim, Koptu Moh. Kastur, Kopda Puji Haryono, Praka Prapto Bashori. W, Praka Edi Suyatno, Pratu Bambang Purnomo, Pratu Nurdi Iswahyudi, Pratu Zaenal Abidin, Pratu Umar, Pratu Feri Yoga L dan Pratu M. Wahyudi.

Riwayat Tugas
Agustus 1945 - Hingga akhir 1949: gerilya melawan pasukan penjajah Belanda di daerah Tulungagung, Blitar, Ponorogo dan Madiun;
1950: menumpas pemberontakan APRA di Bandung;
1953 – 1954: menumpas DI/TII di Jawa Tengah;
1955 – 1957: menumpas DI/TII Kahar Muzakar;
1958: menumpas PRRI di Bukit Tinggi, Sumatera Barat
1964 – 1965: kembali menumpas DI/TII Kahar Muzakar;
1970 an – 1990 an: operasi di Timor Timur;
2000: operasi di Atambua;
2001 – 2005: operasi di Aceh.

@info-terkumpul.blogspot.com
bagian kedua dari dua bagian
Sumber: Majalah Defender Tahun 2 Edisi 24 Oktober 2007, tempointeraktif.com, kompas.com, tniad.mil.id, gatra.com, sejarahtni.mil.id
Foto: detiknews, kompas.com

Batalyon 500/Raider/Kodam V/Brawijaya - bag. 1


Infanteri (Yonif) 500 Raider/Kodam V Brawijaya merupakan perubahan dari Yonif 507/BS Sikatan/Kodam V Brawijaya setelah ditingkatkan kemampuannya melalui pelatihan raider di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Asembagus, Situbondo, 16 Juli hingga 26 Oktober 2003. Pelatihan ini diikuti oleh 850 prajurit Yonif 507/BS. 50 prajurit kembali dilatih anti teror di Puslatpur Kopassus.

Pelantikan Batalyon menjadi batalyon raider dilakukan Kasad Jenderal Ryamizard Ryacudu, bertepatan Hari Juang Kartika TNI Angkatan Darat di Kemayoran, Jakarta 22 Desember 2003.

Pembentukan batalyon raider merupakan keputusan rapat komando TNI AD 26-28 Maret 2003 di Lhoukseumawe, Aceh. Dimana akan dibentuk 10 batalyon Raider, delapan di yonif Kodam dan dua di yonif Kostrad.

Sejarah Batalyon
Sejarah batalyon dimulai terbentuknya TKR di Mojokerto, Jawa Timur, Agustus 1945 dipimpin Shodanco RM. Soedarsono. Bertambahnya personel TKR ini, maka diberi nama Batalyon 7420 dibawah pimpinan Shodanco R. Soemardjo dan wakilnya Shodanco RM. Soedarsono di bulan Oktober 1945. Saat bertempur dengan tentara Ghurka, Shodanco RM. Soedarsono gugur. Komandan batalyon kembali dijabat Shodanco RM. Soedarsono.

Dua tahun kemudian, Yon 7420 menjadi Yon 6010 dan menjadi Yon Stoof dibawah Divisi I Jawa Timur. Tak lama kemudian diubah lagi menjadi Yon 131 tanggal 4 Januari 1948. Bergantinya komando batalyon 131 dari Divisi I Jatim ke Brigade 2/Divisi I Jatim, penamaan batalyon berubah lagi menjadi Yon 23/Sikatan tanggal 10 September 1948.


Personel Yon 23/Sikatan bertambah dengan bergabungnya Kompi Sobirin Mochtar eks Yon 124 Kediri dan Kompi R. Affandi eks Divisi Siliwangi yang hijrah dari Jawa Barat. Penggabungan guna kepentingan penumpasan pemberontakan PKI-Muso di Madiun.

Terjadi penggabungan kembali 1 kompi dari Yon 124 dan 1 kompi dari Divisi Siliwangi tanggal 25 Oktober 1948. Kemudian diresmikan oleh Komandan Brigade 2/Divisi I Jatim menjadi Yonif 507/BS Sikatan Mahastra Yudha dengan Komandan Batalyon Mayor RM. Soedarsono. Peresmian batalyon ini ditetapkan sebagai hari jadi batalyon.

Hingga saat ini telah mengalami 36 kali pergantian Danyon, terakhir Letnan Kolonel Inf Supriono lulusan Akmil 1991 yang dilantik Pangdam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Bambang Suranto S,Sos tanggal 29 Oktober 2007, menggantikan Letkol Inf Syaiful Azis.

Pertama kali batalyon ini bermarkas di Mojokerto 1945 – 1948, kemudian pindah ke Kediri hingga tahun 1949. Dalam operasi penumpasan pemberontakan PKI-Muso, batalyon bersifat mobile di daerah Tulungagung, Blitar, Ponorogo dan Madiun. Dan menetap hingga sekarang di Gunungsari, Surabaya.

Tugas-Tugas Pokok
1. Memelihara dan meningkatkan kemampuan intelijen Yonif 500/Raider, untuk deteksi dini dan peringatan dini terhadap setiap kerawanan dan ancaman, agar tidak berkembang menjadi ancaman nyata;
2. Memelihara dan meningkatkan kemampuan taktik dan teknik tempur serta operasional Yonif 500/Raider, dengan cara meningkatkan pemantapan satuan, menata organisasi dan budaya belajar dan berlatih;
3. Menyiapkan prajurit secara professional, dengan mematuhi hukum dan HAM dalam pelaksanaan tugas;
4. Menyiapkan satuan sehingga sewaktu-waktu siap digerakkan untuk mengatasi setiap trouble spot yang terjadi di wilayah Jawa Timur;
5. Menyiapkan satuan dalam rangka member bantuan kepada Polda Jatim, guna pemulihan dan pemeliharaan stabilitas keamanan di wilayah Jatim;
6. Menyiapkan kekuatan Yonif 500/Raider yang professional, efektif dan modern serta memiliki kualitas dan mobilitas tinggi, untuk menangkal segala bentuk ancaman;
7. Memelihara dan meningkatkan kemampuan pembinaan territorial terbatas, agar dapat memperkokoh kemanunggalan TNI-Rakyat, menumbuhkan kepekaan dan daya tanggap terhadap perkembangan situasi yang terjadi di wilayah Jatim;


8. Menyelenggarakan pengamatan instalasi objek vital TNI dan non TNI, kegiatan kenegaraan, keamanan fisik pejabat penting Negara (VIP) dan tamu Negara serta pejabat perwakilan negara sahabat yang berada di wilayah Kodam V/Brawijaya berdasarkan perintah Komando Atas;
9. Membantu pelaksanaan fungsi pemerintah dalam kondisi dan situasi yang memerlukan sarana, alat dan kemapuan TNI, untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi, antara lain membantu mengawasi akibat bencana alam dan merehabilitasi infrastruktur.

bagian pertama dari dua bagian
Sumber: Majalah Defender Tahun 2 Edisi 24 Oktober 2007, tempointeraktif.com, kompas.com, tniad.mil.id, gatra.com, sejarahtni.mil.id
Foto: detiknews, kompas.com

Minggu, 01 Februari 2009

Denarhanud Rudal 003

Alutsista
Sebelumnya Denarhanud Rudal 003/1/Dam Jaya mengunakan rudal Rapier buatan British Aerospace Inggris (Sekarang MBDA UK).

Rudal Rapier (Photo : mmvg.net)

Sesuai program peremajaan alutsista, pada 16 Juli 2007 rudal Rapier dikembalikan ke Gudang Pusat Senjata (Gupusjat) Cakung, Jakarta Timur dan Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) Bojong Rangkong, Bekasi.

Sebagai pengantinya sistem senjata meriam 23mm/Zur dan rudal permukaan ke udara Grom (Petir) 72mm buatan Radwar (Bumar Group) Polandia.

POPRAD Peluncur rudal anti pesawat terbang (Photo: bumar.com)

Proses pelatihan alutsista baru ini dilakukan di markas Denarhanud Rudal 003/1/Dam Jaya, Cikupa, Tangerang, Banten selama sebulan.

Dimana proses pelatihan dibagi dalam dua tahap, tahap pertama dimulai minggu ketiga September hingga minggu keempat Oktober 2007. Para peserta pelatihan dibagi menjadi dua kelompok. Dimana kelompok pertama mempelajari meriam 23mm/Zur dan kelompok kedua mempelajari rudal Grom, radar dan kendaraan taktis komando.

Mobile Multibeam 3D Search Radar (Photo: bumar.com)

Pelatihan tahap kedua diikuti peserta yang dipersiapkan sebagai teknisi dengan tugas mengatasi permasalahan apabila persenjataan rusak atau mengalami gangguan saat dioperasikan.

Meriam 23mm/Zur Hybrid Rudal Grom (Photo: bumar.com)

POPRAD (Photo: radwar.com.pl)

Setelah proses pelatihan selesai dilakukan uji tembak meriam pada 24-25 Oktober 2007 di lapangan tembak Ciampea, Bogor dengan hasil memuaskan. Kemudian dilakukan uji tembak rudal di lapangan uji tembak senjata berat di Bulus Pesantren, Kebumen, Jawa Tengah pada 28 Oktober – 3 Nopember 2007.

Drone (Photo: pussenarhanud.mil.id)

Empat buah rudal ditembakan ke sasaran berupa drone saat pelatihan berlangsung. Meskipun keempat rudal tersebut luput mengenai sasaran, akan tetapi menurut perhitungan, akurasi, dan toleransi terhadap sasaran yang sesungguhnya berupa pesawat terbang, sasaran dapat dihancurkan sebelum mendekati obyek vital.

Bagian kedua dari dua bagian
Sumber: majalah Defender Tahun 3 Edisi 35 September 2008, bumar.com, radwar.com.pl, pussenarhanud.mil.id

Sabtu, 31 Januari 2009

Denarhanud Rudal 003

Markas Komando Denarhanud Rudal 003/1/F/Dam Jaya di Cikupa, Tangerang, Banten (Photo: pussenarhanud.mil.id)

Denarhanud (Detasemen Artileri Pertahanan Udara) Rudal 003 merupakan bagian dari satuan Arhanud yang berada dibawah Resimen Arhanud-1/Faletehan Kodam Jaya, dimana membawahi juga Yonarhanudse-6 dan Yonarhanudse-10.

Resimen Arhanud-1/F/Dam Jaya merupakan satu-satunya Resimen Artileri Pertahanan Udara di Indonesia. Selain Denarhanud Rudal 003/1/Dam Jaya, TNI AD masih mempunyai Denarhanud Rudal 001/Kodam Iskandar Muda, Denarhanud Rudal 002/Kodam VI Tanjung Pura dan Denarhanud Rudal 004/Kodam I Bukit Barisan.

Denarhanud Rudal 003/Dam Jaya dibentuk berdasarkan Surat Perintah Kasad Nomor Sprin/607/IV/1988 tanggal 21 April 1988 tentang pembentukan Organisasi Denarhanud Rudal 003 Dam Jaya. Setahun kemudian dikeluarkan Surat perintah Kasad Nomor Sprin/444/II/1989 tanggal 1 Maret 1989 tentang persiapan untuk peresmian berdirinya Denarhanud Rudal 003/Jaya Organik Menarhanud 1 Dam Jaya.

Untuk memenuhi TOP (Tabel Organisasi dan Personel), sejumlah personel direkrut dari sejumlah kesatuan diantaranya; Pusdikarhanud Karang Ploso – Malang, Batalyon Arhanudse 10/1/ Dam Jaya, serta Batalyon Arhanudse 6/1/ Dam Jaya. Pada tanggal 2 Maret 1989, Kasad Jenderal TNI Edy Sudrajat meresmikan berdirinya Denarhanud Rudal 003/Dam Jaya.

Struktur Organisasi
Denarhanud Rudal 003/Dam Jaya saat ini dibawah komandan Mayor Blasius Popylus (Dandenarhanud) dibantu wakil komandan Kapten Pandji Permana (Wadandenarhanud) membawahi Maden, Siops, Simin, Ton Rudal dan Tim Har.


Tunggul dan Lambang Satuan
Tunggul Satuan “AKASA RAKCA KSATRYA “, dimana Akasa berarti Angkasa, Rakca berarti Penjaga dan KSATRYA berarti Prajurit. Arti secara utuh adalah Prajurit Penjaga Angkasa.

Lambang satuan berupa Burung Elang mengigit dua anak panah dan mencengkram busur, dihiasi bintang bersudut lima dengan delapan puluh sembilan lilitan tambang serta dilatarbelakangi tiga buah rudal.

Burung Elang dengan Sayap dalam melambangkan prajurit Denarhanud berjumlah 7 helai dan sayap luar Rudal 003 yang cerdas,kuat dan berjumlah 8 helai wibawa dengan berpijak pada Sapta Marga dan 8 TNI Wajib.

Dua anak panah melambangkan tanggal kelahiran satuan, tiga buah rudal melambangkan bulan lahir satuan, sedangkan bintang bersudut lima dengan delapan puluh sembilan lilitan tambang memiliki arti Satuan TNI Angkatan Darat yang beridiologi Pancasila dilahirkan di Tahun 1989.

Makna lambang secara keseluruhan Detasemen Arhanud Rudal 003/1/Dam Jaya lahir pada tanggal 2 Maret 1989 adalah Satuan dalam naungan TNI Angkatan Darat yang beridiologikan Pancasila, serta berpedoman pada sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 TNI Wajib adalah Kesatria- Kesatria penjaga Angkasa terhadap segala ancaman yang datang dari dalam dan luar negeri yang akan merongrong Kesatuan Bangsa Indonesia.

Tugas Pokok

Istana Merdeka (Photo: pbase.com)

Denarhanud Rudal 003/1/Dam Jaya memiliki tugas pokok menyelenggarakan pertahanan udara aktif untuk melindungi obyek vital nasional yang ada di wilayah Kodam Jaya, yaitu: Istana Negara, Jakarta; Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang; dan Pusat Penelitian Ilmu dan Teknologi (Puspitek), Serpong, Tangerang. Dengan cara penghancuran atau mengurangi serangan udara musuh, berupa pesawat terbang, peluru balistik ataupun peluru kendali (rudal).

Bagian pertama dari dua bagian
Sumber: majalah Defender Tahun 3 Edisi 35 September 2008, bumar.com, radwar.com.pl, pussenarhanud.mil.id

Jumat, 30 Januari 2009

Batalyon Kavaleri 7/Panser Khusus (Yonkav 7/Sersus) -- Bag. 2

Unit Yonkav 7Yonkav 7 terdiri dari empat unit kompi, Kompi Markas, Kompi Panser Ringan 71, Kompi Panser Ringan 72, Kompi Panser Ringan 73, dan Kompi Panser Berat 74. Selain itu, didukung empat staf, Staf-1/Intelijen, Staf- 2/Operasi, Staf-3/Personil, dan Staf-4/Logistik.

Unit terkecil dari kompi adalah seksi, yang terdiri dari sebuah panser pengintai, sebuah panser bermeriam dan sebuah AP (Angkut Personel). Bila setara dua seksi digabungkan menjadi satu peleton. Sedangkan setara tiga peleton digabungkan ditambah sebuah panser komando menjadi kompi.

Personil Yonkav 7 yang baru baik itu tamtama, bintara maupun perwira yang telah mendapatkan pendidikan di Pusdikav (Pusat Pendidikan Kavaleri) di Bandung, harus melalui beberapa tahap penggembelangan di internal Yonkav 7.

Tahap pertama pada seluruh jenjang kepangkatan mendapatkan pengenalan satuan, disebut dengan trakor (tradisi korps). Pada tahap ini, pengenalan persenjataan Yonkav 7 selama satu setengah bulan. Materi yang diberikan pengetahuan otomotif, persenjataan serta perangkat komunikasi ranpur.

Tahap trakor selesai, tamtama atau bintara diklasifikasikan sebagai penembak regu serbu. Unit ini merupakan bagian dari panser VAB. Unit ini berkekuatan sepuluh prajurit dipimpin oleh Komandan Regu (Danru) sekaligus menjabat Komandan Kendaraan (Danran) VAB dengan pangkat bintara.

Jabatan diatas penembak regu serbu adalah penembak senjata ranpur atau pelayan radio komunikasi. Dengan syarat lolos Pendidikan Pengembangan Spesialis (Dikbangspas) selama satu setengah bulan di Pusdikav.

Satu tingkat jabatan selanjutnya pengemudi panser, dimana seorang tamtama harus lulus pendidikan Kursus Pengemudi (Sustamudi) selama satu setengah bulan.

Jabatan tertinggi dalam panser Komandan Kendaraan (Danran), dimana seorang tamtama harus lulus Sekolah Calon Bintara (Secaba) terlebih dahulu dilanjutkan dengan Kursus Danran (Susdanran).

Kompi Markas

Membantu dan menjadi pelaksana Danyon dalam menyelenggarakan pelayanan satuan dan staf dengan tugas kewajiban sebagai berikut:
1) Melaksanakan tugas-tugas urusan dalam, dalam lingkungan Markas Yonkav;
2) Mengatur dan mengkoordinasi pelaksanaan apel dan upacara dilingkungan Mayonkav;
3) Mengatur dan membuat jadwal kegiatan umum dan pembinaan jasmani;
4) Melaksanakan pengamanan personil, materiil, pemberitaan dan komplek Mayonkav;
5) Melaksanakan perawatan dan pelayanan logistik/perbekalan dalam hal pengambilan, penyimpanan dan penyaluran dilingkungan Mayonkav;
6) Mengatur dan mengurus masalah perumahan dan perkantoran termasuk alat-alat perlengkapan/inventarisnya yang langsung dalam pengawasannya;
7) Mengatur dan melaksanakan usaha-usaha kantin, hiburan olahraga serta lain-lain usaha dibidang kesejahteraan;
8) Mengawasi pelaksanaan pembinaan kesehatan personil Yonkav;
9) Mengatur dan mengawasi pemberian gaji dan tunjangan bagi personil Mayonkav.

Kompi Panser Ringan & Berat 71/72/73/74
Membantu dan menjadi pelaksana Danyon dalam menyelenggarakan tugas-tugas operasi, dengan tugas kewajiban sebagai berikut:
1) Melaksanakan latihan secara teratur dan berlanjut baik fisik, mental maupun keterampilan teknis/taktis;
2) Melaksanakan tugas-tugas penintaian dan pengamana berdasarkan rancana Yonkav;
3) Melaksanakan pembinaan fisik, mental dan keterampilan teknis & taktis bagi kompinya.

Dari berbagai sumber @info-terkumpul.blogspot.com/photo yonkav7.mil.id

Kamis, 29 Januari 2009

Batalyon Kavaleri 7/Panser Khusus (Yonkav 7/Sersus) -- Bag. 1

Sejarah Pembentukan
Pembentukan Yonkav 7/Sersus berdasarkan SK Menpangad No. Skep/911/VII/1962, tanggal 9 Juli 1962. Bertempat di lapangan Tegal Lega, Bandung tanggal 23 Juli 1962 , tepat pukul 10:00 WIB diresmikan Batalyon Kavaleri 7 Panser/Caduad oleh Menpangad Mayjen TNI Achmad Yani.

Mayor Kav.Gustav Adolf. Manulang diangkat sebagai komandan pertama Yonkav 7 Panser/Caduad, dimana penyerahan tongkat kepemimpinan diserahkan langsung oleh Menpangad Mayjen TNI Achmad Yani.

Bermodalkan 50 unit panser buatan Inggris macam Ferret Scout Car, Saladin dan Saracen, Batalyon baru ini menumpang bermarkas di Rinkavnis (Resimen Induk Kavaleri Mekanis) di Purbaya, Padalarang, Bandung. Sebenarnya batalyon ini merupakan hasil peleburan Batalyon Kridha Yudha Turangga I dan Batalyon Kridha Yudha Turangga II.

Proses peleburan ini baru dapat dilaksanakan setelah selesainya Operasi Pagar Betis untuk menumpas Pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Berdasarkan Surat Keputusan Pangab Nomor Skep / 1044 / IX / 1963 Yonkav 7 Panser/Caduad secara resmi menjadi batalyon organik Kodam V / Jaya.

Awal perpindahan dari Padalarang ke DKI Jakarta, empat unit kompi dari Yonkav 7/Sersus bermarkas terpisah-pisah. Kompi 1 bermarkas di Palmerian, Kompi 2 di Bendengan Utara, Kompi 3 di Kramat, Kompi 4 di Tanah Abang dan Theresia (belakang Sarinah) dan Kompi Markas di lapangan Merdeka Barat. Kemudian markas Kompi Markas dipindahkan ke Theresia karena lokasinya dibangun Monumen Nasional (Monas) oleh pemerintah saat itu.

Gapura Yonkav 7/Sersus (Photo @yonkav7.mil.id)

Di tahun 1972, seluruh kompi Yonkav 7/Sersus dipindahkan ke Cijantung, DKI Jakarta hingga sekarang.

Mayonkav Yonkav 7/Sersus (Photo @yonkav7.mil.id)

Sampai sekarang Yonkav 7/Sersus telah dipimpin dua puluh lima komandan, secara berurutan: Mayor Kav GA. Manulang (25 Juli 1962 - 25 April 1963), Letkol Kav Nana Sukarna (16 Oktober 1963 - 5 September 1966), Letkol Kav Brotolaksono (5 September 1966 - 22 September 1971), Letkol Kav A. Bernadi (29 September 1971 - 11 Maret 1973), Letkol Kav Sucipto (11 Maret 1973 - 16 Mei 1974), Letkol Kav B. Sarjono (16 Mei 1974 - 31 Agustus 1976), Letkol Kav Susilo (31 Agustus 1976 - 31 Juli 1978),

Danyonkav 7/Sersus Letkol Kav Bahir Alamsyah
Tahun 1994
(Photo @yonkav7.mil.id)

Letkol Kav Hutomo (10 Desember 1978 - 10 April 1980), Letkol Kav HR. Garnardi(10 April 1980 - 10 Desember 1982), Letkol Kav Johni P. Mandas (10 Desember 1982 - 9 Juni 1985), Letkol Kav S. Windratmo (9 Juli 1985 - 26 November 1987), Letkol Kav M. Butarbutar (25 Juli 1987 - 26 November 1988), Letkol Kav FX. Leksmono (26 November 1988 - 10 Juni 1991), Letkol Kav E. Soepriyadi (10 Juni 1991 - 5 Agustus 1993), Letkol Kav Bahir Alamsyah (05 Agustus 1993 - 23 Nopember 1994),Letkol Kav Marciano Norman (23 Nopember 1994 - 01 September 1995), Letkol Kav Burhanudin Siagian (01 September 1995 - 01 Juni 1997), Letkol Kav Agus Suharto (01 Juni 1997 - 01 Juni 1999), Letkol Kav M. Thamrin. MZ (01 Juni 1999 - 30 Maret 2000), Letkol Kav Okta Hendarji (30 Maret 2000 - 29 Januari 2002), Letkol Kav Wawan Ruswandi, S. IP (29 Januari 2002 - 01 Juni 2003), Letkol Kav Prantara Santosa, S. Sos (01 Juni 2003 - 12 Januari 2005), Letkol Kav Hilman Hadi, S. IP (01 Desember 2004 – 28 Juni 2006), Letkol Kav Steverly C Parengkuan (28 Juni 2006 – 21 Oktober 2008), Letkol Kav Ketut Adi SP, SE (21 Oktober 2008 - Sekarang).

Lambang, Sesanti dan Motto Batalyon
Lambang batalyon adalah “Kepala Orang Utan” atau MAWAS dengan sesanti “PRAGOSA SATYA” yang artinya mempunyai kesetiaan yang tinggi, bergambar diatas dasar warna kuning dan merah berbentuk segitiga melambangkan “ Tri Daya Sakti ” yaitu daya gerak, daya tembak dan daya kejut.

CEPAT TEPAT TUNTAS, prajurit YONKAV 7 SERSUS yang harus terampil dan mampu bergerak CEPAT, bertindak TEPAT , serta menyelesaikan tugasnya dengan TUNTAS.
Diolah dari berbagai sumber @majalahmiliter.blogspot.com/info-terkumpul.blogspot.com