Senin, 03 Oktober 2011

Tank Terbang TNI AD Hadir di HUT ke-66 TNI

Mi-35 TNI AD berlatih menembak. (Foto: Puslatpur)

3 Oktober 2011, Jakarta (ANTARA News): Satu helikopter berkelir hijau gelap diparkir di halaman rumput Markas Besar TNI, Cilangkap, sebagai komponen upacara hari jadi ke-66 TNI pada 5 Oktober nanti. Dua kanon 30 milimeter dan dua selongsong besar peluncur roket menambah sangar penampilan.

Helikopter itu adalah Mil Mi-35P adalah helikopter serang buatan Rusia dan merupakan turunan dari helikopter militer sebelumnya yaitu Mi-24. Dia mengombinasikan kemampuan tembak sekaligus mengangkut tentara, dan julukannya adalah tank terbang.

Ada beberapa versi Mi-35, salah satunya adalah Mi-35P yang dimiliki TNI Angkatan Darat sejak Oktober 2010. Terdapat lima unit Mi-35P yang bermarkas di Skuadron 31/Serbu Pusat Penerbangan TNI-AD.

Pembelian helikopter tersebut merupakan realisasi perjanjian pemerintah RI dan Rusia pada September 2007 menggunakan fasilitas kredit pembelian luar negeri dari pemerintahan Rusia sebesar 56,1 juta dolar AS atau setara dengan 64,5 miliar rupiah. Harga itu termasuk pencakupan persenjataan dan amunisi serta pelatihan bagi para calon awak pesawat.

Berdasarkan nomenklatur helikopter militer yang dilansir Jane's Defence, Mi-35P memiliki kesamaan fungsi dengan jenis helikopter AH-1 Cobra, UH-60 Black Hawk, AH-64 Apache atau pun Mangusta A129. Masih ada lagi yang cukup sekelas, yaitu Kaman Ka-50 Alligator, juga buatan Rusia.

Di Indonesia, Mi-35P itu dimodifikasi dengan menambahkan senjata mesin fleksibel berkaliber 12,7 mm dan senjata laras ganda dengan kaliber 30mm. Bersanding di antara dua NAS-332 Super Puma, jelas keganasan helikopter berkursi duduk ganda model tandem itu bertambah-tambah.

Helikopter tersebut juga dilengkapi dengan sistem AT-6 tank anti rudal yang berguna dalam operasi kontra kendaraan lapis baja. Masih ada dudukan meriam dan sistem tembak untuk target udara yang bergerak lambat; yang semuanya demi mendukung transportasi pasukan.
Rusia sudah mengekspor beberapa varian helikopter Mi-35 ke sejumlah negara selain ke Indonesia di antaranya Republik Ceko yang memesan 10 helikopter pada 2005-2006, Venezuela dengan 10 Mi-35M pada 2006, serta Brazil yang memesan 12 helikopter Mi-35M pada 2008.

Varian helikopter Mi-35 tersebut banyak dipakai di Afghanistan sejak perang 2001 dan biasanya terbang membawa 1.470 peluru, 128 roket dan dua rudal anti tank. Jadi bisa dibayangkan bobot maksimal helikopter serang yang mampu pula membawa enam personel itu.
Model awal dari helikopter Mi-35P adalah jenis Mi-24, bisa dibilang tipe ini menjadi model paling mudah untuk dikonversi menjadi model-model lain lebih letal. Dari tipe inilah lalu lahir tipe Mi-35P yang pertama muncul perdana di muka umum pada peresmian batalion-batalion infantri raiders di Jakarta pada 2004.

Mi-35P merupakan helikopter bermesin ganda yang ditujukan untuk memberikan dukungan bagi tentara darat dari jarak dekat, menghancurkan kendaraan lapis baja serta sebagai alat transportasi pasukan atau barang; artinya helikopter ini merupakan alat tempur pasukan infantri yang terbang.

Oleh pilot Soviet yang berbahasa Rusia, Mi-35P dijuluki letayushiy tank atau tank terbang. Konon tubuh dan kanopi kacanya mampu menahan tembakan hingga kaliber 20 milimeter dari jarak cukup dekat. Nama lainnya adalah buaya karena kemiripan bentuk.

Karakteristik lainnya adalah kabin barang dan kokpit terhubung dengan ukuran panjang 2,83 meter, lebar 1,46 meter dan tinggi 1,2 meter sehingga mampu mengangkut delapan tentara yang dapat menembakkan senjata mereka dari jendela samping yang dapat dibuka.

Jumlah baling-baling atas helikopter itu berjumlah lima dengan panjang 17,3 meter sedangkan baling-baling ekor berjumlah tiga dengan panjang 3,9 meter. Panjang sayap adalah 6,5 meter. Helikopter itu dapat terbang hingga kecepatan 335 kilometer per jam dengan jumlah kebutuhan bahan bakar 360 liter avtur per jam.

Bobot di darat helikopter tersebut tanpa muatan adalah 8,5 ton dan mampu mebawa delapan tentara ditambah senjata eksternal berbobot 1,5 ton.

Sumber: ANTARA News

PT DI gandeng Airbus Military

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menerima CEO Airbus Military Domingo Urea Raso di Jakarta, Senin (3/10). Pertemuan membahas Kesepakatan Kerjasama Strategis (Strategic Collaboration Agreement) antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). (Foto: ANTARA/ Dhoni Setiawan/ss/Spt/11)

3 Oktober 2011, Jakarta (ANTARA News) - Setelah sempat "putus hubungan", PT Dirgantara Indonesia (PT DI) akan kembali menjalin kerja sama dengan Airbus Military untuk meningkatkan daya saing PT DI.

Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta, Senin, mengatakan, "Sudah 10 tahun lebih kami ketinggalan. Oleh sebab itu, kita akan tingkatkan kerjasama lagi dengan Airbus Military guna meng-`improve` PT DI lagi."

Pada kesempatan itu, Budi juga mengungkapkan bahwa sebagian besar produk Airbus Military, yang sebelumnya bernama CASA, merupakan buatan PT DI. Untuk itu, menurut Budi, tanpa kehadiran PT DI, Airbus Military diperkirakan juga akan kesulitan.

"Agar membuat PT DI lebih kompetitif lagi, mereka mengajak kita mengenal teknologi yang mereka terapkan sekarang seperti apa. Mereka akan ajarkan kepada kita," ulasnya.

Rencana kerja sama itu, katanya, akan ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT DI dengan Airbus Military pada pekan depan.

Adapun langkah nyata dari kerjasama ini meliputi peningkatan produksi dan kerja sama produk.

Budi mencontohkan beberapa produk kerja sama itu, di antaranya pesawat jenis CN235, CASA 212, NC295, dan CN235.

Keuntungan lain dari adanya kerja sama ini adalah perseroan dapat mengetahui produksi industri kedirgantaraan dan bagaimana bisnis di sektor ini, ucapnya.

"Yang penting buat kami juga bukan angkanya, tapi di sini kemampuan untuk bisa `survive`. Tanpa meng-`upgrade` kemampuan kami, lima tahun lagi PT DI tidak akan kompetitif lagi," pungkasnya.

Sebenarnya, PT DI sudah pernah melakukan kerja sama dengan Airbus Military sejak 35 tahun lalu.

Sumber: ANTARA News

Panglima Persilakan Daerah Hibahkan Alutsista ke TNI

Pemerintah daerah Kaltim menghibahkan helikopter NBell 412EP untuk TNI AD. (Foto: Kompas/Riza Fathoni)

3 Oktober 2011, Jakarta (TEMPO Interaktif): Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Laksamana Agus Suhartono mempersilakan daerah-daerah untuk menghibahkan alat utama sistem persenjataan kepada Kementerian Pertahanan apabila daerah mampu dan memerlukan pengamanan untuk wilayahnya. Kementerian Pertahanan akan menyerahkan alutsista hibah tersebut kepada pasukan TNI.

"Silakan pemerintah daerah yang merasa mampu dan memerlukan untuk mengamankan wilayahnya karena kondisi alutsista TNI di wilayah tersebut kekurangan," katanya usai memimpin gladi resik upacara peringatan HUT ke-66 TNI di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin 3 Oktober 2011.

Keuntungan dari memberikan hibah ini adalah pemerintah daerah bisa mengoptimalkan penggunaan alutsista tersebut, tapi yang mengawakinya tetap TNI. Agus sebelumnya mengatakan adanya keinginan dari pemerintah daerah untuk membantu pengadaan alutsista bagi TNI. Hal itu, kata Agus, dimungkinkan melalui mekanisme hibah. Pemerintah daerah membuat atau membeli alutsista, lalu dihibahkan kepada Kementerian Pertahanan.

Hibah alutsista dari daerah kepada TNI contohnya seperti yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Kalimantan Timur beberapa waktu lalu. Saat itu Pemda menghibahkan helikopter dan lahan untuk pembangunan markas dan landasan pesawat TNI di wilayah perbatasan Kalimantan.

Kementerian Pertahanan selanjutnya memberikan peralatan ini kepada TNI. "Memang ada kekhawatiran seolah TNI menjadi bagian dari daerah. Namun perlu kami sampaikan bahwa pada dasarnya apa yang dihibahkan pemerintah daerah menjadi aset nasional," kata Panglima.

Aset itu pun tidak selalu digunakan di pangkalan TNI yang ada di daerah pemberi hibah. "Bisa kami gunakan untuk seluruh wilayah kesatuan RI. Namun kami berkomitmen, utamakan daerah yang memberikan hibah tersebut," katanya. Aset alutsista yang berasal dari hibah itu, kata dia, akan diprioritaskan untuk daerah pemberi pada saat kondisi-kondisi damai.

Sumber: TEMPO Interaktif

PTDI Kembangkan Pesawat Tempur

Penandatanganan Letter of Intent (LoI) pengembangan bersama jet tempur Korsel-indonesia, Komisioner Byun mewakili Korsel dan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsudin dari Indonesia disaksikan kedua kepala negara. (Foto: DAPA)

3 Oktober 2011, Jakarta (ANTARA News): 35 staf PT Dirgantara Indonesia (PT DI) telah berada di Korea Selatan untuk menggarap proyek pengembangan pesawat tempur (fighter) generasi 4,5 yang merupakan proyek kerjasama Korea Selatan dan Indonesia.

"Mereka dikirimkan dalam tugas negara yang diberikan kepada PT DI oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertahanan," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis PT DI, Dita Ardonni Jafri, kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Kementerian Pertahanan menjadi koordinator program dengan melibatkan TNI-AU, PT DI, ITB, Kementerian Riset dan Teknologi serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Persiapan untuk pembuatan pesawat tempur masa depan yang sementara ini diberi kode KF-X/IF-X (Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment) tersebut akan berjalan panjang dan sertifikasi baru akan keluar sekitar tahun 2021.

Pesawat tempur akan berkelas di atas F-16 atau Sukhoi-30, namun masih di bawah F-35 Amerika Serikat yang sudah masuk generasi 5.

Di luar Amerika Serikat, baru Indonesia dan Korea Selatan yang serius mempersiapkan pesawat tempur sekelas ini dan dirancang terbang berdaya tahan terbang 4,5 jam dan berdaya angkut 6.000 kg, termasuk sistem persenjataan.

Dalam program ini, Indonesia berusaha memajukan industri nasional dengan aktif merancang, memproduksi, mengintegrasi dan mengujikan pesawat tempur ini.

Rancangannya diarahkan memenuhi persyaratan operasi jangka pendek, menengah dan jangka panjang TNI AU, disamping guna meningkatkan kemampuan industri, pengembangan teknologi nasional, dan kemandirian sistem pertahanan nasional di masa datang.

Kedua pemerintah telah menandatangani Letter of Intent proyek ini pada 6 Maret 2009 dan Nota Kesepahaman (MOU) pada 15 Juli 2010, lalu Kesepakatan Penjagaan Kerahasiaan pada 20 November 2010 serta Hak Kekayaan Intelektual dan Persetujuan Proyek pada 11 Maret 2011.

Program KF-X/IF-X memasuki fase pengembangan teknologi selama setahun (2011-2012), kemudian akan memasuki fase pengembangan rekayasa manufaktur mulai 2013 sampai 2020, dan produksi pada 2021.

Sumber: ANTARA News

Panglima: TNI Perkuat Armada di Darat dan Laut


3 Oktober 2011, Jakarta (ANTARA News): Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, pihaknya tengah memperkuat armada baik di darat maupun laut dengan mengembangkan satuan dan armada di kedua matra tersebut.

"Program pengembangan armada dan satuan di masing-masing matra masuk dalam rencana strategis TNI 2010-2014," katanya usai menyaksikan persiapan akhir peringatan HUT ke-66 TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Senin.

Agus menegaskan, pengembangan satuan dan armada tersebut tetap memperhatikan kebijakan "zero growth" dan "resizing" personel di TNI. "Rambu-rambu itu harus menjadi pegangan kuat demi memperbaiki postur anggaran TNI. Jika anggaran lebih banyak untuk pegawai, biaya untuk pengadaan dan pemeliharaan alat utama sistem senjata akan berkurang," katanya.

"Jadi, kami konsisten untuk menambah kekuatan, satuan, peralatan dan persenjataan alat utama sistem senjata tanpa disertai dengan penambahan personel," kata Panglima TNI.

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengatakan dalam rencana strategis 2011-2014 TNI Angkatan Laut akan menambah satu armada yakni armada barat, armada tengah, dan armada timur. "Armada barat berpusat di Jakarta, armada tengah berpusat di Makassar dan armada timur berpusat di Sorong.

"Ketiga armada itu akan berada di bawah satu komando kewilayahan atau kowila yang akan ditempati oleh perwira bintang tiga," katanya.

Ia menambahkan, pengembangan armada TNI Angkatan Laut dari dua menjadi tiga didasarkan pada daerah rawan di masing-masing armada, luas laut setiap armada yang tidak sama satu sama lain, keberadaan tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang akan diawasi masing-masing armada, dan pemerataan alat utama sistem senjata.

"Ini tentu tidak bisa langsung diwujudkan seperti sulap. Perlu penyiapam sarana dan prasarana, utamanya penataan personel sesuai kebijakan 'zero growth' dan 'resizing'," kata Kasal menekankan.

TNI Angkatan Darat telah menyiapkan pengembangan divisi baru di Papua. Saat ini Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat telah memiliki dua divisi yakni di Divisi-1/Kostrad di Jakarta dan Divisi-2/Kostrad di Malang.

Armada Baru Disiapkan oleh TNI Angkatan Laut


Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan berfokus mengembangkan sumber daya manusia dan pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sampai 2014 mendatang. Panglima TNI Agus Suhartono mengatakan dua hal itu menjadi agenda yang mendesak dilaksanakan. Untuk mewujudkan hal tersebut ketiga matra TNI akan menambah divisi dan batalion.

"Postur dan struktur TNI yang dikembangkan ke depan bercirikan peningkatan profesionalisme TNI. Itu diwujudkan dengan memusatkan diri pada tugas-tugas pertahanan," katanya usai memimpin gladi resik upacara peringatan HUT ke-66 TNI di Markas Besar TNI Cilangkap Jakarta Timur, Senin 3 Oktober 2011.

Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) akan menambah satu divisi linud, satu batalion armed, dua brigade infanteri, dan dua batalion infanteri. Satuan tempur setingkat brigade dan batalion juga akan dibangun di beberapa Komando Daerah Militer (Kodam).

Sementara itu, di bawah koordinasi TNI Angkatan Laut juga akan dikembangkan tiga armada, dari sebelumnya hanya dua armada dan tiga pasukan marinir. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Suparno mengatakan Armada RI Kawasan Tengah akan dibentuk melengkapi armada kawasan timur dan barat.

"Karena ada tiga alur laut Indonesia dan tiga daerah rawan di setiap armada yang memerlukan pengawasan," kata dia. Pembentukan armada baru juga bertujuan agar alutsista lebih merata. Sedangkan pelaksanaan pembentukan armada akan dilakukan bertahap.

Tak ketinggalan, TNI Angkatan Udara juga akan membentuk empat skadron baru, terdiri dari berbagai pesawat dan helikopter serta tiga satuan radar dan tiga detasemen khusus. "Juga mengembangkan pasukan khas (paskhas) dan pembentukan beberapa pangkalan udara," kata Panglima Agus.

Sumber: ANTARA News/Tempo Interaktif

Minim, Alat Dukung Kolinlamil


3 Oktober 2011, Surabaya (Jurnas.com): Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) yang bertugas melaksanakan pembinaan terhadap potensi angkutan laut nasional guna kepentingan pertahanan keamanan negara maupun pembangunan nasional didukung peralatan yang terbatas.

Selain unsur peralatan yang sudah tua, dengan kisaran usia dari 50 tahun, dukungan anggaran pemeliharaan Kolinlamil juga sangat terbatas. “Karena itu, pola kepemimpinan Komandan Satuan (Dansat) dan para komandan unsur sangat berpengaruh terhadap kesiapan KRI dan profesionalisme prajurit dalam melaksanakan pemeliharaan dan perawatan secara berkesinambungan terhadap seluruh alutsista yang dimiliki, yang pada akhirnya sangat menentukan kesiapan unsur-unsur tersebut untuk dioperasikan,” kata Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil) Laksamana Muda (Laksma) TNI Agung Pramono dalam upacara serah terima jabatan (sertijab) Komandan Satuan Lintas Laut Militer (dansatlinlamil) Surabaya di Lapangan Apel Mako Baru Satlinlamil Surabaya, Senin (03/10).

Satlinlamil Surabaya, kata Pangkolinlamil dalam siaran persnya, bertugas melaksanakan pembinaan kekuatan dan kemampuan terhadap unsur-unsur organiknya termasuk di dalamnya pembinaan personel dan material berikut dukungan logistik dan administrasi dalam rangka kesiapan operasi angkutan laut militer (anglamil), maupun dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

Dansatlinlamil Surabaya berganti komandan dari Kolonel Laut (P) Irwan Achmadi kepada Kolonel Laut (P) Ferial Fachroni. Serah terima jabatan dansatlinlamil ini dipimpin oleh Pangkolinlamil. Hadir pada upacara tersebut Irkolinlamil, Aslog, Aspers, Asrena Pangkolinlamil, Komandan Satlinlamil Surabaya, Kadismatbek, Kadisharkap, Kadisku, dan Kadispen Kolinlamil serta para Komandan Unsur/KRI jajaran Satlinlamil Surabaya.

Usai upacara Pangkolinlamil didampingi pejabat teras Kolinlamil yang hadir pada upacara sertijab tersebut, melaksanakan penanaman pohon beringin putih di halaman kantor Satlinlamil Surabaya dilanjutkan dengan inspeksi ke KRI Banjarmasin-592 di Dermaga Madura Timur dan ke KRI Teluk Saleh-510 serta KRI Teluk Bone-511 di Dermaga Semampir Ujung Surabaya.

Sumber: Jurnas

Kapal Selam TNI AL Paling Mutakhir


3 Oktober 2011, Jakarta (Jurnas.com): Kapal selam untuk mendukung pelaksanaan tugas Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dalam mengamankan wilayah laut Indonesia akan memiliki sistem senjata paling mutakhir.

Kapal selam ini merupakan buatan Korea Selatan yang dilakukan dalam bentuk joint production Indonesia-Korsel. "Kapal selam yang paling canggih saat ini tipe 214. TNI AL akan memadukannya dengan mengambil bodi kapal tipe 209 1.500 ton, tapi dengan sistem persenjataan 214," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno kepada wartawan usai menghadiri gladi bersih upacara peringatan HUT TNI di Markas Besar (Mabes) TNI di Cilangkap Jakarta, Senin (3/10). KSAL menambahkan, Indonesia telah memiliki kapal selam jenis 209 berbobot 1.300 ton.

KSAL menuturkan, saat ini kemampuan industri pertahanan dalam negeri belum mampu untuk membangun kapal selam. Karenanya pengadaan kapal selam ini dilakukan dalam bentuk joint production dengan Korsel. Kerja sama yang akan menghasilkan tiga unit kapal selam ini akan dilakukan di kedua negara.

Pembangunan kapal selam pertama dilakukan di Korea disertai pengiriman ahli dari Indonesia untuk mempelajari teknologinya. "Yang kedua separuh-separuh oleh kedua negara, dan yang ketiga baru di bangun di Indonesia," jelas KSAL.

Dijelaskan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di tempat yang sama, pengadaan alat utama sistem senjata (Alutsista) harus dibeli dari produksi dalam negeri. "Kalau belum bisa, kita lakukan joint production. Kalau joint production pun tidak bisa, boleh membeli, seperti kapal selam ini," kata Panglima. Namun demikian, kata Panglima, pembelian kapal selam buatan Korsel ini menguntungkan Indonesia karena dapat dilanjutkan dengan joint production sehingga terjadi transfer teknologi.

Pada Jumat (30/9) lalu KSAL mengatakan, biaya pembangunan tiga kapal selam ini menghabiskan dana Rp9,5 triliun. Pengadaan kapal selam untuk TNI AL ini menjadi prioritas setelah pengadaannya terlambat 2-3 tahun. Untuk menyusul keterlambatan ini, pengadaan kapal Selam tersebut akan dipercepat dari 30 bulan menjadi hanya 1,5 tahun.

Sumber: Jurnas