Minggu, 03 Mei 2009

KD Panglima Hitam Pasukan Komando TLDM


Unit Pasukan Khas Laut (Paskal) Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) berganti nama menjadi Kapal Diraja (KD) Panglima Hitam. Peresmian pergantian nama dilakukan Panglima Tentera Laut Laksamana Datuk Seri Abdul Aziz Jaafar, 15 April 2009 di Pangkalan TLDM Lumut.

Ide nama Panglima Hitam dilontarkan Sultan Selangor, Sultan Sharafuddin Idris Shah yang merupakan Kapten Yang Dipertuan TLDM. Nama ini diambil dari nama pahlawan Melayu, Panglima Hitam mempunyai ilmu beladiri yang tinggi, berbudi bahasa dan menjaga kesopanan, setia pada raja dan pemerintah.

KD digunakan untuk kapal perang yang bertugas di jajaran TLDM, selain itu diberikan kepada unit-unit atau pusat dalam TLDM yang telah banyak berjasa kepada negara dan tentara. Seperti KD Sultan Idris tempat pelatihan para kadet sebelum bertugas di TLDM, KD Duyong pusat pelatihan selam TLDM.

KD Hitam berhasil membebaskan dua kapal milik MISC Bhd. di perairan Teluk Aden, Somalia. Serta pernah melakukan sekurang-kurangnya 10 misi internasional, baik secara sendiri maupun bekerja sama dengan pasukan komando negara lain.

Pasukan ini sebelumnya Rejimen Keselamatan di Pangkalan TLDM Woodlands, Singapura yang bertugas menjaga keamanan pangkalan.


Rejimen ini kemudian mengikuti kursus komando hutan di Pusat Pendidikan Marinir TNI AL, Surabaya. Kemudian berlatih di Pusat Latihan Peperangan Khas, Sungai Udang, Melaka. Selain itu mengikuti kursus komando di Royal Marine Commando United Kingdom dan SEAL Amerika Serikat.

Utusan/@beritahankam

Perbatasan Indonesia-Papua New Guinea Ditutup


3 April 2009, Jayapura -- Perbatasan Republik Indonesia (RI) dengan negara tetangga Papua New Guinea (PNG) yang berada di Kampung Skouw, Distrik Muara Tami, Jayapura, ditutup sejak 9 April lalu untuk alasan keamanan.

Berdasarkan pantauan ANTARA di Jayapura, Minggu, ditutupnya perbatasan ini menyebabkan warga Indonesia tidak dapat menyeberang ke wilayah PNG untuk berbagai keperluan.

Tampak masyarakat Indonesia yang hendak menyeberang ke PNG akhirnya tidak bisa.

Namun sebaliknya, warga negara PNG tampak bebas melintasi perbatasan RI-PNG tanpa kendala apa pun.

Ditutupnya daerah perbatasan ini menyusul peristiwa penemuan bom di jembatan Muara Tami, Distrik Muara Tami, Jayapura pada Kamis (9/4) lalu.

Seorang warga Kota Jayapura, Ferry Sesa menyatakan, kekecewaannya karena tidak dapat melintasi perbatasan dan tertahan di pos penjagaan TNI yang terletak tidak jauh dari Kantor Imigrasi.

"Tapi untuk keamanan, saya ikuti saja peraturan yang berlaku karena saya juga tidak ingin ambil risiko," katanya.

Pada kondisi normal, warga Indonesia dapat melintasi perbatasan RI-PNG untuk keperluan kunjungan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam, hanya dengan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) di pos penjagaan TNI, selanjutnya melapor ke Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Darat Skouw.

Belum dapat diketahui batas waktu penutupan perbatasan RI-PNG ini. Walaupun demikian, kondisi di sekitar perbatasan cukup kondusif. Aktivitas masyarakat pun bisa berjalan seperti biasanya.

Pos perbatasan yang terletak di Kampung Skouw, sekitar 70 kilometer ke arah timur dari pusat Kota Jayapura ini dijaga satuan tugas dari Batalyon Infantri (Yonif) 725/Wirabuana.
(ANTARA)

Eks USS Conolly - DD 979 Menjadi Sasaran Tembak

2 Mei 2009 -- Bekas destroyer USS Conolly - DD 979 tenggelam setelah menjadi target penembakan dalam Sinking Exercise (SINKEX), merupakan bagian dari latihan internasional UNITAS Gold yang berlangsung mulai 20 April 2009 hingga 7 Mei 2009 di Jacksonville, Florida. USS Conolly dipensiunkan 18 September 1998 setelah bertugas 20 tahun.

UNITAS Gold 2009 diikuti kapal perang dari Angkatan Laut Amerika Serikat, Argentina, Brazil, Kanada, Chile, Kolombia, Ekuador, Jerman, Mexico, Peru dan Uruguay. Mexico dan Kanada partisipasi pertama kalinya.

Helikopter BO-105 Bolkow AL Mexico menembakan roket 2.75 inch ke bekas USS Conolly. (Foto: U.S. Navy/Mass Communication Specialist 2nd Class Alan Gragg)


Roket 2.75 inch ditembakan dari helikopter BO-105 AL Mexico mengenai tower signal bekas USS Conolly (Foto: U.S. Navy/ Chief Mass Communication Specialist Dawn C. Montgomery)

MarineBuzz/@info-terkumpul

Sabtu, 02 Mei 2009

Australia Ingin Jadi Militer Terkuat di Asia Pasifik

Gambar Konsep SEA 4000 Destroyer Australia

2 Mei 2009, Brisbane -- Australia berambisi dan berkeyakinan besar menjadi salah satu kekuatan militer terbaik dan terkuat di kawasan Asia Pasifik dalam 20 tahun mendatang, demikian Menteri Pertahanan Joel Fitzgibbon dalam pernyataan persnya menyertai publikasi Buku Putih Pertahanan negara itu, Sabtu.

"Kemampuan-kemampuan yang dipaparkan dalam Buku Putih ini (menyatakan bahwa dalam) lebih dari 20 tahun mendatang, angkatan bersenjata (Australia) akan menjadi salah satu yang terkuat di kawasan kita di bawah dukungan sistem, perlengkapan dan sumber daya manusia terbaik di dunia," klaim Fitzgibbon.

Angkatan bersenjata yang akan dikembangkan Australia ke depan akan dilengkapi dengan teknologi canggih, perlengkapan terbaik, serta pasukan darat, laut dan udara paling profesional, katanya.

Untuk mencapai semua ini, pemerintah telah mendorong reformasi menyeluruh yang pernah dilakukan dalam bidang pertahanan negara itu dengan mengarahkan kembali sumber daya keuangan pertahanan nasional yang penting bagi pembangunan kemampuan baru.

Pemerintah juga sepakat mengubah cara pendanaan urusan pertahanan negara melalui model pendanaan baru, termasuk pertumbuhan riil berkesinambungn tiga persen untuk anggaran pertahanan hingga 2017-2018.

Fitzgibbon mengatakan, Buku Putih Pertahanan 2009 yang merupakan hasil kerja keras berbagai pihak terkait selama lebih dari 14 bulan ini memberikan gambaran paling menyeluruh mengenai pertahanan Australia.

"Buku Putih ini menegaskan komitmen pemerintah pada pertahanan dan perlindungan kepentingan kedaulatan Australia, serta keamanan dan stabilitas kawasan kita," katanya.

Untuk ambisinya ini, Australia telah membeli 12 kapal selam, delapan kapal perang, dan 100 pesawat tempur baru, kata Fitzgibbon seperti dikutip ABC.

Total anggaran pertahanan yang diperlukan Australia untuk membeli sistem pertahanannya ini mencapai 100 miliar dolar Australia.
(ANTARA)

Paspampres Makin Waspada


2 April 2009, Jakarta -- Menyusul insiden pelemparan batu ke arah mobil dinas Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Kamis lalu, Pasukan Pengamanan Presiden kini meningkatkan kewaspadaan. Sampai saat ini belum dipastikan apakah insiden pelemparan itu dilakukan terencana atau secara spontan.

Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Mayor Jenderal Marciano Norman menyampaikan hal itu, Jumat (1/5).

”Ke depan, tentunya kita tidak boleh mengabaikan hal seperti itu. Kewajiban Paspampres adalah meningkatkan kewaspadaannya. Paspampres berkoordinasi dengan polda dan kodam di wilayah. Pada setiap kegiatan VVIP, kami akan meningkatkan kewaspadaan,” ujar Marciano.

Paspampres bertanggung jawab mengamankan presiden dan wakil presiden beserta keluarganya dalam seluruh kegiatan mereka. Meskipun dilakukan peningkatan kewaspadaan, Marciano mengatakan, Paspampres saat ini tidak menambah jumlah personel keamanan.

Ia juga menegaskan, peningkatan kewaspadaan Paspampres ini tidak lantas mengisyaratkan bahwa insiden pelemparan batu ke mobil Wapres Kalla itu terjadi karena lemahnya kewaspadaan saat itu.

”Ring satu pengamanan kami kan rangkaian kendaraan, lemparan itu datang dari luar. Begitu dia melempar, kami langsung tangkap pelempar itu dalam waktu yang sangat singkat. Kalau tidak kami tangkap, berarti kami tidak waspada,” katanya

Marciano menjelaskan, pihak kepolisian dan Paspampres masih terus memeriksa Zulkarnaen (45), pelempar batu itu.
(KOMPAS)

Jumat, 01 Mei 2009

Iran Memproduksi Destroyer

Kapal AL Iran P226 Falakhon, Kaman class missile boat

1 Mei 2009, Tehran -- Para ahli Iran berhasil mendisain dan memproduksi destroyer peluncur misil.

“Kami telah berhasil mendisain dan membuat sejumlah kapal untuk angkatan laut termasuk sebuah destroyer,” ujar Ahmad Karimi tenaga ahli Pagar System Company pada Mehr News Agency, Jumat, 30 April 2009.

Karimi mengatakan destroyer ini mempunyai panjang 100m dan berat 1200ton. Ditambahkannya tiga destroyer telah siap uji navigasi di laut Kaspia.

Destroyer cepat dan mampu bermanuver untuk digunakan sebagai pengawal kapal yang lebih besar dan melawan penyerang.

Mehr News Agency/@info-terkumpul

Radar Indonesia

Seorang peneliti asal LIPI mencoba radar pengawas pantai "Coastal Surveillance Radar" saat acara peluncuran radar pengawas pantai pertama buatan Indonesia di Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/4). Radar pengawas pantai yang diberi nama INDRA MX 2 tersebut merupakan hasil penelitian antara Perusahaan IT Solusi 247, ITB, LIPI serta Delft University Belanda.Radar tersebut memiliki daya jangkau hingga 40 Km dan telah di ujicoba di perairan Selat Sunda. (Foto: ANTARA/Rezza Estily/ss/nz/09)

1 April 2009, Bandung -- PT Utama Solusi 247 dan Radar & Communication Systems (RCS) selaku produsen radar maritim atau pantai pertama buatan Indonesia yang diberi nama "INDRA" atau Indonesia Radar siap menerima order pada Juni 2009, kata Direktur Utama RCS, Beno Pradekso di Bandung, Jumat.

INDRA resmi dipasarkan ketika diluncurkan bersamaan Seminar Nasional Radar III 2009 di hotel Savoy Homann Bandung, Kamis (30/4), sedangkan sepanjang 2009 ini akan diproduksi empat unit INDRA, namun bisa bertambah jika ada permintaan pasar.

Beno mengungkapkan, pembuatan satu unit radar membutuhkan waktu empat bulan, namun dia menolak memberitahukan harganya.

"Untuk harga belum bisa mematok dan akan dihitung secara spesifik oleh pihak marketing kami," ucapnya.

Beno optimistis pasar radar nasional dan regional cukup besar mengingat radar sangat penting untuk transportasi laut dan udara.

INDRA adalah radar maritim pertama yang diproduksi RCS yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPET LIPI), Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, DTE- FT UI.

Selain itu juga dibantu International Research Center for Telecommunication and Radar (IRCTR ) dari Technical University of Delf (TU-Delf) Belanda yang memang sudah sejak lama menguasai teknologi radar.

Dalam proses pengembangannya INDRA yang menghabiskan investasi Rp5 miliar ini akan mengoptimalisasi beberapa fungsi dasar radar yaitu menditeksi, mengukur dan menerjemahkan sinyal.
(ANTARA)