Senin, 24 Oktober 2011

Kostrad akan Bentuk Yonif Mekanis


24 Oktober 2011, Jakarta (Kodam Jaya): Panglima Kodam Jaya/Jayakarta Mayor Jenderal TNI Waris didampingi Danbrigif-1 PIK/Jaya Sakti Kolonel Inf Sonny Apriyanto SE menerima kunjungan Panglima Komando Strategis TNI Angkatan Darat ( Pangkostrad ) Letnan Jenderal TNI A.Y. Nasution bertempat di Markas Batalyon Infanteri Mekanis 201/Jaya Yudha Jl Raya Bogor Km 28 Gandaria Jakarta Timur. Senin ( 24/10 ).

Hadir dalam acara kunjungan tersebut Wairjen TNI Mayjen Jenderal TNI Asahari Siregar, Aslog Kasdam Jaya, Kahubdam Jaya, Kapaldam Jaya, Kabekangdam Jaya, sedangkan Pangkostrad didampingi Asops, Aslog Kaskostrad, Kahub Kostrad, Kapal Kostrad, Danyonkav-1/1 Kostrad serta perwakilan dari Pussenkav Kodiklat TNI AD.

Kunjungan kali ini untuk melihat kesiapan Yonif Mekanis yang berada di jajaran Kodam Jaya/Jayakarta yang nantinya Kostrad sendiri akan membentuk Yonif Mekanis dibawah Satuan Divisi Infanteri Mekanis Kostrad. Setelah kunjungan ke Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha juga Pangkostrad rencananya akan berangkat ke Australia untuk perbandingan Yonif Mekanis di Negara tersebut.

Dalam rangkaian kegiatan kunjungan tersebut Pangkostrad dan Pangdam Jaya beserta rombongan menerima paparan dari Danyonif Mekanis 201/JY Letkol Inf Ali Aminuddin, mengenai Batalyon Infanteri Mekanis, kegiatan dengan dilanjutkan menyaksikan demonstrasi pleton dalam serangan. Rombongan selanjutnya bergerak mengikuti Pangkostrad dan pangdam jaya untuk meninjau kesiapan Ranpur yang dimiliki Yonif Mekanis 201/JY.

Sumber: Kodam Jaya

Mabes TNI gelar Latihan Operasi Udara di Sulut

Sejumlah anggota Polisi Militer TNI AU (POM AU) mengamankan pilot pesawat sipil yang terbang tanpa ijin dalam wilayah RI berhasil dipaksa mendarat (force down) oleh pilot pesawat tempur Sukhoi pada Latihan Pertahanan Udara TUTUKA XXXV di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Senin (24/10). Latihan ini untuk menguji rencana operasi dari Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) dalam suatu operasi pertahanan udara di wilayah kedaulatan udara RI. (Foto: ANTARA/Basrul Haq/Koz/Nz11)

24 Oktober 2011, Manado, (Antara News Manado): Markas Besar TNI menggelar latihan operasi pertahanan udara nasional dengan nama sandi "latihan Tetuka" XXXV/11 di wilayah Sulawesi Utara (Sulut).

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Sam Ratulangi (Danlanudsri) Manado Letkol Pnb Jorry Koloay di Manado, Sabtu, mengatakan latihan ini bertujuan untuk menguji rencana operasi dari Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) dalam suatu operasi pertahanan udara di wilayah kedaulatan udara RI.

"Untuk mewujudkan sistem pengamatan, penangkalan, penindakan yang handal terhadap berbagai situasi darurat yang perlu direspon dan antisipasi dengan cepat," kata Koloay.

Koloay menambahkan, kegiatan ini merupakan latihan operasi pertahanan udara nasional, yang gunanya untuk melaksanakan operasi pertahanan udara terhadap berbagai ancaman, gangguan dan halangan yang datangnya menggunakan media udara di wilayah RI.

Jorry Koloay mengatakan, kegiatan latihan ini dilaksanakan dari tanggal 24-26 Oktober 2011 diikuti sekitar 1.479 personel yang terbagi pada tiga wilayah latihan.

Ketiga wilayah latihan meliputi Sulut, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan dengan pusat kendali operasi udara nasional di Jakarta.

Sejumlah prajurit TNI AU menjaga sebuah pesawat sipil yang yang berhasil dipaksa mendarat (force down) oleh pilot pesawat tempur Sukhoi. (Foto: ANTARA/Basrul Haq/Koz/Nz11)

Adapun unsur-unsur yang terlibat dalam kegiatan ini yakni, unsur pesawat tempur terdiri dari empat pesawat sukhoi, empat pesawat hawk 100/200.

Unsur radar terdiri radar udara Kwandang, radar udara Balikpapan dan radar udara Makassar.

Unsur Pangkalan udara yakni Sam Ratulangi Manado, Sepinggan Balikpapan dan Sultan Hasanudin Makassar.

Unsur rudal yakni arteleri pertahanan udara Bontang, dan unsur kapal perang yaitu satu KRI berkemampuan pertahanan udara di Laut Sulawesi.

Untuk wilayah Sulut atau Lanud Sam Ratulangi, ditempatkan empat pesawat Sukhoi, satu set perlengkapan TDAS ("Transmition Data Air Situation"), satu tim pertahanan pangkalan dan satu tim investigator udara.

Dia mengatakan, terdapat dua skenario dalam latihan itu masing-masing pertama, ada pesawat tempur musuh yang masuk ke wilayah kedaulatan RI.

"Serta ada pesawat komersil atau angkut sipil yang melintas tanpa izin di wilayah kedaulatan udara RI," kata Kolay.

Sumber: ANTARA News Manado

Indonesia-AS Bahas Mekanisme Hibah F-16

(Foto: Lanud Iswahjudi)

24 Oktober 2011, Nusa Dua (ANTARA News): Pemerintah Indonesia Republik (RI) dan Amerika Serikat (AS) membahas mengenai mekanisme rencana hibah pesawat tempur F-16, kata Staf Khusus Presiden bidang Luar Negeri, Teuku Faizasyah.

"Ada dibicarakan dengan rencana hibah F-16 dari AS dengan berbagai variasi," kata Faiza di Nusa Dua, Bali, Senin, seusai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan AS, Leon Panette.

Menurut dia, dalam pertemuan itu disampaikan komitmen Pemerintah dan Kongres AS untuk memastikan kerja sama tersebut diberlakukan.

Ia juga mengatakan bahwa melalui kunjungan itu ada komitmen AS terhadap kawasan Asia Tenggara dan Asia TImur, serta membahas rencana kedatangan Presiden AS, Barack Obama.

Hal senada juga dikemukakan oleh Duta Besar RI untuk AS, Dino Patti Djalal. "Kita membahas mengenai kemungkinan Indonesia mendapat F-16," ujarnya.

Namun, menurut Dino, rincian mengenai kerja sama itu belum sepenuhnya selesai dibahas.

"Tapi, detailnya, seperti masalah harga, dan teknis belum, masih perlu dibahas lebih lanjut," ujarnya.

Pertemuan selama 45 menit itu, kata Dino, secara umum lebih membahas komitmen AS untuk mendorong arsitektur regional, yang disambut baik oleh Presiden Yudhoyono.

Dino mengatakan bahwa Presiden Yudhoyono dan Panetta juga membahas mengenai situasi di Timur Tengah dan Asia Pasifik.

Leon Panetta berada di Bali untuk mengikuti pertemuan Menteri Pertahanan Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan mitra wicaranya.

Sumber: ANTARA News

Minggu, 23 Oktober 2011

Inggris latih ZEE untuk Asia Tenggara


24 Oktober 2011, Jakarta, 24/10 (ANTARA): Inggris mengadakan pelatihan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Jakarta untuk beberapa negara di kawasan Asia Tenggara ditambah Papua Nugini dengan tujuan membantu penyelesaian masalah maritim di wilayah tersebut.

Pelatihan yang akan berlangsung 24-28 Oktober 2011 ini dibuka Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementrian Pertahanan, Mayor Jenderal TNI Suwarno, di Jakarta, Senin.

Konflik perbatasan, pencurian ikan, dan pembajakan kapal merupakan isu utama yang akan dibahas karena kawasan Asia Tenggara beberapa kali mengalami kejadian tersebut.

Dalam masalah batas laut, potensi konflik tersebut bisa dilihat dari klaim bersama antara Vietnam, Brunei, Malaysia, Filipina, dan Taiwan atas Kepulauan Spratly di Laut China Selatan.

Sedangkan pencurian ikan juga sering terjadi di wilayah ini, terakhir sembilan kapal pencuri ikan Indonesia dari Vietnam tertangkap perairan Natuna, 29 September lalu.

Delegasi Indonesia yang menghadiri pelatihan ini berjumlah 32, Malaysia dan Singapura mengirim satu wakil dan sisanya masing-masing dua.

Instruktur pelatihan adalah Mayor Ted Bath yang sudah berpengalaman mengadakan pelatihan sejenis sebanyak 23 kali, delapan kali di Inggris dan 15 di luar Inggris. Di Jakarta sendiri, pelatihan ini sudah dilakukan lima kali.

Unit Pelatihan Internasional dan Persemakmuran (International and Commonwealth Training Unit/ICTU) yang merupakan bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris akan menjadi pelaksana pelatihan tersebut.

"Indonesia dan negara-negara tetangga sering mengalami persoalan berkaitan dengan batas teritorial laut, pelatihan ini diharapkan mampu menyelesaikan beberapa persoalan tersebut," kata Suwarno dalam sambutan sebelum membuka pelatihan.

Persoalan perbatasan laut itu, katanya, disebabkan sulit untuk mengimplementasikan hukum laut internasional dan ZEE yang sudah diratifikasi sejak 1992.

"Kehadiran peserta dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, negara Timor Timur, dan Papua Nugini akan membantu penyelesaian masalah perbatasan, pembajakan kapal, dan terorisme di wilayah ini," kata dia.

Sementara Atase Pertahanan Kedutaan Inggris untuk Indonesia, Kolonel Philip Thorpe, melalui rilis media mengatakan, kesulitan itu implementasi hukum laut internasional itu disebabkan keragaman bahasa yang digunakan dalam hukum itu. Alhasil, interpretasinya berbeda-beda.

"Perbedaan interpretasi dapat memperburuk stabilitas regional itu. Pelatihan ZEE yang dihadiri perwakilan dari tujuh negara tetangga akan memungkinkan mereka berbagi pesan yang sama sehingga sikap saling menghormati dan memahami dapat terbangun," kata Thorpe.

Sumber: ANTARA News

Presiden-Menhan AS Bahas Peningkatan Hubungan Bilateral

Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro (3 kanan) memimpin delegasi Indonesia saat mengadakan pertemuan bilateral dengan delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat, Leon E Panetta (3 kiri) di sela Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN (ADMM) di Nusa Dua, Bali, Minggu (23/10). Pertemuan tiga hari itu diawali dengan pertemuan tingkat pejabat tinggi (SOM) dan menteri dari 10 negara ASEAN untuk membahas kerjasama negara anggota serta tantangan ke depan. (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/ed/nz/11)

24 Oktober 2011, Nusa Dua (ANTARA News): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat dapat terus dipertahankan dan meningkat.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden Yudhoyono saat menerima Menteri Pertahanan AS Leon Panetta di Nusa Dua, Bali.

"Saya ucapkan terima kasih atas kerjasama bilateral (kedua negara)," kata Presiden di awal pertemuan tertutup yang berlangsung lebih kurang 45 menit itu.

Sementara itu Panetta memuji keindahan Pulau Dewata dan menyampaikan apresiasinya atas keramahan budaya setempat.

Menko Polhukam Djoko Suyanto seusai pertemuan menjelaskan bahwa pertemuan itu membahas peningkatan kerjasama kedua negara.

Djoko mengatakan bahwa Panetta selaku menhan baru AS menyatakan keinginannya untuk tetap menjalin kerja sama dengan negara-negara ASEAN.

"Tetap bahwa Indonesia dan ASEAN," ujarnya seraya mengatakan bahwa Indonesia dan AS memiliki sejarah panjang kerjasama bilateral antara lain di bidang maritim dan kontra terorisme.

Turut mendampingi Presiden dalam pertemuan itu adalah Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Duta Besar RI untuk AS Dino Patti Djalal.

Pada Minggu sore (23/10), Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panetta telah melakukan pertemuan di sela-sela ASEAN Defence Ministerial Meeting untuk membahas kerja sama bidang militer.

Menurut Purnomo dalam pertemuan itu pemerintah Amerika Serikat menyatakan komitmennya untuk menyediakan alat utama sistem senjata (Alutsista) bagi Indonesia.

Namun ia mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui jenis alutsista yang akan diberikan kepada Indonesia.

Selain itu, kata Purnomo, pemerintah Amerika Serikat juga mendukung pembentukan ASEAN Security Community yang akan diwujudkan pada 2015.

"Indonesia juga berencana mengembangkan keamanan maritim karena dua per tiga wilayah Indoneisa adalah lautan," katanya.

Purnomo mengatakan, saat ini Amerika juga sudah membantu dengan pemasangan sistem radar di Selat Malaka, dan akan dikembangkan di selat Sulawesi.

Sementara itu Kepala Negara melakukan kunjungan kerja selama empat hari di Bali, 21-24 Oktober, guna antara lain membuka ASEAN Fair.

Sumber: ANTARA News

TNI Kembangkan Teknologi Alutsista


24 Oktober 2011, Jakarta (Suara Karya): TNI melalui Angkatan Udara (AU) dan Angkatan Laut (AL), tertantang mengembangkan kecanggihan teknologi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam rangka menyempurnakan ketrampilan operasi. Upaya pengembangan ini seiring tantangan ancaman.

Pada akhir pekan lalu, TNI AL mengadakan uji coba prototipe Landing Craft Unit (LCU) dengan mesin pendorong water jet dari Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Teluk Jakarta. Uji coba water jet produksi lokal ini sekaligus penyempurnaan kemampuan kapal. "Jika sebelumnya LCU biasa menggunakan Fixed Picth Propeller (FPP), LCU dengan mesin pendorong water jet ini memiliki kelebihan," ujarnya.

Di antaranya, mampu manuver/berputar dalam satu sumbu rotasi, akselerasi lebih cepat, olah gerak sangat baik, berbahan aluminium, mampu beroperasi di perairan dangkal, memiliki kecepatan kosong hingga 40 knot, tidak bising dan minim getaran, serta memiliki alat navigasi yang dapat dioperasikan di malam hari. "Dengan kapasitas muatan 100 orang personel/1 buah unit truk RM -70 (beban hingga 26 ton)," ujar Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno ketika menyaksikan uji coba kapal itu.

Secara terpisah, Komandan Lanud (Danlanud) Sulaiman, Kolonel (Pnb) Elianto Susetio mengatakan, berorientasi pada misi dan persenjataan modern yang dimiliki TNI AU, maka kemampuan dan ketrampilan personel yang menangani alutsista setiap saat dapat mengimbangi teknologi modern.

Sumber: Suara Karya

Sukhoi Dilengkapi Bom Pindad


23 Oktober 2011, Makassar (SINDO): Sistem senjata jet tempur Sukhoi kini semakin komplet setelah dilengkapi bom tajam nasional BTN- 250 dan bom latih asap BCA-50 produksi PT Pindad.

Bom yang dalam katalog PT Pindad disebut dengan BT-250 ini, di dalamnya terdapat tritonal 90 kilogram dengan daya ledak dan hancur yang besar. Bom juga dilengkapi fuze pada ekor dan hidung bom,serta arming distance yang dapat diatur sesuai ketinggian pengeboman. Hal ini memungkinkan bom untuk dapat berfungsi pada segala jenis medan operasi. Bom untuk melengkapi sistem senjata jet buatan Rusia ini telah diperkenalkan Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbangau) Mabes TNI AU di Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar.Presentasi dilakukan tim Dislitbangau Mabes TNI AU dipimpin Kasubdis Rudalsen Dislitbangau Kolonel Tek Noviardi Suryanto.

Dia didampingi Mayor Tek Ari Santoso, Mayor Tek Amin Bagiono, Kapten Tek Yogaswara, dosen Politeknik Bandung Singgih, serta staf dari PT Pindad. Pertemuan yang dihadiri Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama (Marsma) TNI Barhim itu,mendiskusikan penelitian dan penggunaan kedua jenis bom,termasuk mengenai prosedur dan parameter pengeboman Sukhoi. Misalnya kapasitas maksimal pesawat untuk single releasedan fight data recording.

Tak ketinggalan mengenai karakteristik aerodinamika kedua bom. Tim juga menerangkan mengenai tinjauan operasional dan teori dari kedua jenis bom tersebut. Menurut tim, BTN- 250 telah diteliti menyangkut kualitas dan jumlah pecahannya.“ Juga bagaimana perkenaan dan daya tembusnya,”tutur Kolonel Tek Noviardi kemarin. Marsma TNI Barhim mengingatkan agar dalam kegiatan kajian bom dilakukan secara teliti dan saksama. Mereka juga harus memperhatikan faktor safetykarena bom ini cukup berbahaya.

Sumber: SINDO