Sabtu, 29 Agustus 2009

DPR Minta Pemerintah Usut Senjata Pindad

Senapan buatan Pindad jenis SS1-V1. (Foto: wikipedia)

29 Agustus 2009, Jakarta -- Dewan Perwakilan Rakyat mendesak pemerintah mengusut penyitaan puluhan senjata buatan PT Pindad oleh Bea Cukai dan Kepolisian Filipina.

"Ini harus diusut," kata Anggota Komisi I DPR Yusron Ihza Mahendra dalam diskusi di Jakarta, Sabtu.

Ia mengemukakan, instansi seperti Departemen Pertahanan, Kementrian Badan Usaha Milik Negara, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian dan Badan Pemeriksa Keuangan harus berkoordinasi mengusut kasus itu.

"Agar jelas, apakah pengiriman itu legal atau tidak," tegas Yusron.

Ia menjelaskan, Filipina tidak mungkin mempermasalahkan pengiriman senjata itu, jika PT Pindad memiliki dokumen yang lengkap. "Masa pesanan sendiri dinyatakan penyelundupan," kata dia.

Petugas Bea Cukai Filipina menahan sebuah kargo berbendera Panama bernama Capt Ufuk yang sedang berlabuh di lepas pantai Mariveles, Kamis pekan lalu.

Petugas menemukan 50 senapan buatan Pindad sejenis SS1-V1 dan beberapa perlengkapan militer lainnya.

Tak hanya itu, petugas juga menemukan 10 peti kayu kosong. Mereka menduga isinya sudah dipindahkan sebelum aparat memeriksa kapal tersebut.

Polisi setempat menduga senjata tersebut akan digunakan sindikat internasional untuk kelompok teroris dan organisasi kriminal di Asia dan Afrika.

PT Pindad sendiri mengaku, senjata tersebut merupakan senjata pesanan Mali dan Filipina, serta membantah tudingan senjata itu dijual secara ilegal. Perusahaan negara itu menerima pesanan 10 pucuk pistol P2 Pindad dari Persatuan Menembak Filipina.

Bersamaan dengan itu, Pindad juga mengirimkan pesanan dari Mali berupa 100 pucuk senapan SS1-V1.

Pesanan tersebut dimuat dalam 20 kotak yang satu kotak diantaranya pesanan untuk Filipina. Seluruh pesanan dikirimkan dalam satu kapal kargo.

ANTARA News

Enam Kapal Vietnam Pencuri Akar Bahar Ditangkap

Seorang anggota Polair Polda Kalbar memeriksa sejumlah nelayan asal Vietnam di atas salah satu dari tiga kapal yang tertangkap dan diamankan di dermaga Polair Polda Kalbar, Rabu (1/7). (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/hp/09)

29 Agustus 2009, Tanjungpinang -- Tim gabungan dari Kecamatan Tambalen, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, dua bulan terakhir menangkap enam kapal nelayan Vietnam yang memasuki perairan Tambelan dan mengambil akar bahar (Antiphates SP).

"Bulan Juli sampai 28 Agustus lalu, kami sudah menangkap enam kapal nelayan Vietnam dengan jumlah anak buah kapal (ABK) sebanyak 74 orang," kata Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Bintan Yohanes Widodo, Sabtu (29/8).

Ia mengatakan, penangkapan yang dilakukan oleh gabungan aparat keamanan dan masyarakat nelayan Tambelan tersebut dilakukan di beberapapulau kecil yang tersebar di Kecamatan Tambelan.

"Mereka ditangkap di Pulau Bungin, Pulau Manggirai, dan terakhir Jumat (28/8) di Pulau Ibul sebelah selatan perairan Tambelan," ujarnya.

Yohanes juga heran dengan banyaknya nelayan Vietnam yang melakukan pencurian akar bahar di wilayah Indonesia. "Namun kami akan terus melakukan patroli bersama dan akan menindak
setiap penjarahan yang dilakukan oleh warga negara asing," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini 18 dari 74 orang ABK yang ditangkap sudah diserahkankan ke Kejaksaan Negeri Tanjungpinang. "Berkas-berkasnya sudah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan dan sekarang menunggu persidangan di Pengadilan Negeri Tanjungpinang," ujarnya.

Sebanyak 74 orang ABK tersebut diancam dengan Pasal 53 juncto 48 UU RI No 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dengan ancaman 10 tahun penjara.

MEDIA INDONEDIA

Cassa TNI-AL Alami Gangguan Saat Mendarat

Cassa 212 TNI AL. (Foto: detikFoto)

29 Agustus 2009, Jakarta -- Pesawat 212 Cassa TNI Angkatan Laut mengalami gangguan pada salah satu rodanya, saat mendarat di Bandara Dobo, Kepulauan Aru, Maluku Tenggara, Sabtu (29/8) pagi.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Sabtu mengatakan, gangguan pada roda pesawat kini tengah diupayakan diatasi oleh kru pesawat agar dapat segera diterbangkan kembali.

"Masih dalam perbaikan, dan diupayakan secepat mungkin agar tidak mengganggu arus penerbangan lainnya dari dan ke bandara itu," ujarnya.

Iskandar menambahkan, pesawat yang dipiloti Kapten Marpaung itu membawa sembilan personel TNI Angkatan Laut, Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Dobo yang akan menjalani rotasi enam bulanan.

Ia mengemukakan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu dan tim kini masih berupaya memperbaiki bagian roda yang bermasalah.

Cassa TNI Angkatan Laut itu adalah bagian dari satuan intai maritim TNI Angkatan Laut wilayah Timur Indonesia. "Kemungkinan pesawat semula akan mendarat di Makassar atau Manado," tutur Iskandar.

Pesawat jenis angkut ringan yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia pada 1995 ini terhenti di runway Bandara Dobo sehingga beberapa penerbangan seperti Merpati rute Dobo-Ambon tidak bisa terbang karena landasan terhalang pesawat Cassa itu. Pesawat 212 Cassa TNI Angkatan Laut mengalami gangguan pada salah satu rodanya, saat mendarat di Bandara Dobo, Kepulauan Aru, Maluku Tenggara, Sabtu (29/8) pagi.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Sabtu mengatakan, gangguan pada roda pesawat kini tengah diupayakan diatasi oleh kru pesawat agar dapat segera diterbangkan kembali.

"Masih dalam perbaikan, dan diupayakan secepat mungkin agar tidak mengganggu arus penerbangan lainnya dari dan ke bandara itu," ujarnya.

Iskandar menambahkan, pesawat yang dipiloti Kapten Marpaung itu membawa sembilan personel TNI Angkatan Laut, Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Dobo yang akan menjalani rotasi enam bulanan.

Ia mengemukakan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu dan tim kini masih berupaya memperbaiki bagian roda yang bermasalah.

Cassa TNI Angkatan Laut itu adalah bagian dari satuan intai maritim TNI Angkatan Laut wilayah Timur Indonesia. "Kemungkinan pesawat semula akan mendarat di Makassar atau Manado," tutur Iskandar.

Pesawat jenis angkut ringan yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia pada 1995 ini terhenti di runway Bandara Dobo sehingga beberapa penerbangan seperti Merpati rute Dobo-Ambon tidak bisa terbang karena landasan terhalang pesawat Cassa itu.

ANTARA News

Jumat, 28 Agustus 2009

“Latma Elang Ausindo 2009”, Dilaksanakan Di Australia

Danwing 3 Lanud Iswahjudi, Kolonel Pnb Tatang Harlyansyah. S.E., sedang memberikan arahan kepada Danskadron Udara 3,14 dan 15 seusai melaksanakan upacara pelepasan pemberangkatan latihan bersama Elang Ausindo di Skadron Udara 3, Jumat (28/8).

29 Agustus 2009, Madiun -- Profesionalisme selain diperoleh melalui pendidikan, juga bisa diperoleh melalui latihan-latihan yang dilaksanakan secara berjenjang, bertahap dan berlanjut. Seperti yang dilakukan TNI Angkatan Udara dengan Angkatan Udara Australia (Royal Australia Air Force (RAAF)) kali ini yang dilaksanakan di Darwin, Australia. Untuk mendukung Latihan Bersama dilaksanakan selama empat hari (1-4/9) tersebut, Lanud Iswahjudi memberangkatkan pesawat-pesawat tempur jenis F-16/Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 beserta 57 personil pendukung latihan.

Latihan Bersama dengan sandi “Elang Ausindo 2009”, tersebut dilaksanakan selain untuk mempererat hubungan bilateral kedua Negara, juga dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme dan kemampuan kerjasama para personel angkatan udara kedua Negara.

Komandan Lanud Iswahjudi dalam sambutannya yang dibacakan Danwing 3 Kolonel Pnb Tatang Harlyansyah. S.E., mengharapkan agar latihan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa tanggung jawab. Karena tempat latihan merupakan daerah baru, untuk itu seluruh personil latihan harus memperhatikan unsur-unsur keselamatan terbang dan kerja (lambangja) serta melaksanakan koordinasi dengan satuan-satuan terkait dengan baik, agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.

Sedang macam dan metode dalam latihan bersama “Elang Ausindo 2009” adalah latihan taktis dengan materi latihan meliputi Familirization, Dissimilar Basic Fighter Manouver (DBFM), Dissimilar Air Combat Manouver (DACM) serta Dissimilar Air Combat Taktic (DACT).

Upacara pemberangkatan Alutsista dan personil penduklung latihan dipimpin oleh Danwing 3 Lanud Iswahjudi Kolonel Pnb Tatang Harlyansyah. S.E., di Skadron Udara 3 Jumat (28/8). Hadir dalam upacara tersebut, Para Kepala Dinas, Para Komandan Satuan dan Para Pejabat Jajaran Lanud Iswahjudi.

PENTAK LANUD ISWAHJUDI

Jabatan Kasarmatim Diserahterimakan


28 Agustus 2009, Surabaya -- Jabatan Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Timur (Kasarmatim) diserahterimakan dari Laksamana Pertama TNI Slamet Yulistiono kepada penggantinya Laksamana Pertama TNI Arief Rudianto.

Upacara serah terima jabatan dipimpin langsung oleh Panglima Koarmatim Laksamana Muda TNI Lili Supramono di Gedung Gajah Madah, Ujung, Surabaya, Jumat.

Sebelum menjabat Kasarmatim, Arief Rudianto adalah Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) V Surabaya.

Sementara itu, Slamet Yulistiono selanjutnya akan menjabat perwira Staf Ahli Panglima TNI Tingkat III Bidang Pengawasan Khusus dan Lingkungan Hidup.

Dalam sambutannya, Panglima Koarmatim mengatakan, jabatan Kasarmatim merupakan jabatan yang strategis sebagai penyelenggara koordinasi dan pengarahan pada setiap tingkatan unsur staf dihadapkan dengan luas wilayah kerja, tanggung jawab, dan besarnya aset yang dibina Koarmatim.

"Oleh karena itu, Kasarmatim dituntut untuk mampu membina dan menajamkan fungsi setiap unsur dalam susunan organisasi Koarmatim, agar roda organisasi berjalan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya," katanya.

Lili menambahkan, pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi pada setiap kegiatan di semua jajaran, harus dapat diwujudkan dalam jalinan kerja sama yang terpelihara secara sinergis dan simultan dalam rangka pencapaian tugas pokok Koarmatim, baik dalam kedudukannya sebagai komando utama pembinaan, maupun operasional.

Sementara itu, jabatan Panglima Koarmatim akan diserahterimakan dari Lili Supramono kepada Laksamana Pertama TNI Ign. Dadiek Surarto.

Upacara serahterima jabatan itu akan dipimpin langsung Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno di Koarmatim, Ujung, Surabaya, Senin (31/8) sore.

ANTARA JATIM

KRI Teluk Ende Dilepas Lewat Lagu

KRI Teluk Ende.

29 Agustus 2009, Makassar -- Sebanyak 179 kadet (taruna) Akademi Angkatan Laut yang mengikuti pelayaran Kartika Jala Krida dengan menggunakan KRI Dewa Ruci akhirnya meninggalkan Makassar, Sabtu (29/8).

Pelepasan dilakukan tepat pukul 08.00 wita di dermaga Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VI Makassar. Kepergian mereka juga disaksikan warga setempat yang ingin melihat kapal tersebut dari arah dekat.

Namun tidak semuanya kadet meninggalkan Makassar dengan menggunakan KRI Dewa Ruci. Ada pula yang menggunakan KRI Teluk Ende.

Sesaat setelah meninggalkan dermaga, kelompok marching band dari Lantamal VI memainkan lagu-lagu perjuangan. Salah satunya lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut.

Musik mereka berbalas dengan lagu lain yang dimainkan para taruna dari atas dek KRI Dewa Ruci.

Tribun Timur

TNI AL Tambah 56 Personel Pasukan Elite

Anggota Intai Amfibi (Taifib). (Foto: marinir.mil.id)

28 Agustus 2009, Surabaya - TNI Angkatan Laut (AL) berhasil menambah 56 personel pasukan elite yang memiliki kemampuan khusus di bidang pertempuran laut.

Sebanyak 56 personel itu selesai menjalani penggemblengan di Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI Angkatan Laut (Kobangdikal) untuk mendapatkan brevet sebagai prajurit Pasukan Katak dan prajurit Intai Amfibi (Taifib).

Upacara penyematan brevet di Kobangdikal, Bumimoro, Surabaya, Jumat, dipimpin langsung oleh Wakil Komandan Kobangikal, Brigjen TNI (Mar) Arief Suherman.

"Dalam penggemblengan selama 10 bulan, 56 prajurit calon pasukan elite TNI AL ini, telah menjalani pendidikan yang berbeda dengan pendidikan prajurit biasanya," katanya.

Tingkat kesulitan, bobot, dan risiko latihannya pun lebih tinggi bila dibanding dengan prajurit lainnya. "Hal ini harus dimaklumi karena pasukan elite memang disiapkan untuk melaksanakan tugas-tugas khusus dengan tingkat tekanan yang tinggi namun harus tetap cermat, tepat, dan akurat dalam pelaksanaan di lapangan," katanya.

Sebanyak 56 prajurit TNI AL itu terdiri atas 14 prajurit Pasukan Katak dan 42 prajurit Taifib. Mereka yang mengikuti pendidikan khusus itu diharapkan menjadi prajurit yang andal dan memiliki kemampuan khusus pada setiap operasi TNI AL atau operasi gabungan TNI.

"Harapan kami, pengorbanan dan kerja keras tersebut tidak sia-sia, karena brevet Paska dan Taifib harus diraih dengan kerja keras dan semangat tinggi," kata Arief.

Sebagai lembaga pencetak sumber daya TNI AL, Kobangdikal setiap tahun meluluskan prajurit dengan kualifikasi khusus. Ia mengingatkan agar seorang prajurit pasukan khusus harus lebih menyadari bahwa hanya dengan sikap dan perilaku disiplin, bermoral, dan profesional, TNI AL akan menuju terwujudnya pasukan laut yang besar, kuat, dan profesional.

Sejalan dengan pembangunan kekuatan TNI AL hingga 2013, lanjut dia, penyiapan pasukan khusus TNI AL tentunya juga dikembangkan mengikuti pembangunan kekuatan itu sendiri.

"Tidak semua ancaman di laut dapat langsung dihadapi dengan kekuatan kapal perang atau marinir. Ancaman terorisme, pembajakan di laut, perompakan di laut, dan sabotase terhadap objek vital di laut membutuhkan pasukan khusus untuk mengatasinya," katanya.

Meskipun demikian, Arief berpesan agar seluruh mantan siswa Dikpaska dan Diktaifib untuk menjauhkan sikap ego sektoral dan kebanggaan sempit sebagai pasukan khusus.

"Kekuatan dan kekhususan yang dimiliki anggota Kopaska dan Batalion Taifib Marinir harus disinergikan untuk memperoleh kemampuan tempur yang dapat dibanggakan," katanya.

ANTARA JATIM