Kamis, 28 Mei 2009

Lemhanas Minta Utamakan Diplomasi Soal Ambalat


28 Mei 2009, Jakarta -- Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) meminta pemerintah mengutamakan diplomasi dan menghindari pendekatan militer dalam menyelesaikan masalah Blok Ambalat bersama Malaysia.

"Pendekatan diplomasi harus diutamakan karena ada ASEAN Charter yang menekankan supaya perselisihan antarnegara ASEAN apa pun beratnya diselesaikan dengan diplomasi," kata Gubernur Lemhanas Muladi di Gedung Depkeu Jakarta, Kamis.

Lemhanas juga menyarankan agar pemerintah melakukan persiapan sebaik-baiknya untuk melakukan penyelesaian secara hukum/yuridis melalui mahkamah internasional di Den Haag, Belanda .

"Kita harus siapkan tim khusus. Jangan sampai kecolongan seperti Sipadan dan Ligitan. Pendekatan militer kalau bisa dihindarkan, tapi negara yang cinta damai adalah negara yang siap berperang juga," katanya.

Menurut dia, dalam sengketa seperti itu, peran militer lebih ditujukan untuk menimbulkan efek jera atau takut negara lain.

Muladi menyebutkan, di masa yang akan datang masalah pertahanan dan keamanan menjadi masalah yang makin penting.

"Adanya kasus-kasus yang mengejutkan seperti Ambalat semakin menyadarkan kita bahwa masalah perlindungan terhadap nusantara menjadi penting menghadapi ancaman terhadap integritas teritorial dan kedaulatan. Ini harus mendapat perhatian yang lebih. Ini menyangkut kebanggaan bangsa," katanya.

Anggaran

Mengenai alokasi anggaran pertahanan dan keamanan, Muladi mengatakan, kebutuhan anggaran hankam untuk membangun kekuatan pokok minimum adalah Rp127 triliun, namun saat ini baru terpenuhi sekitar Rp35 triliun/tahun .

"Kekuatan esensial yang minimum sekarang masih jauh. Rp35 triliun itu sudah termasuk gaji, jadi sangat menyedihkan," katanya.

Menurut dia, meski anggaran masih minim , pemerintah harus membangun kekuatan minimum untuk membangun kedaulatan.

"Saya kira negara lain di sekitar sudah lebih tinggi anggarannya. Kita lihat negara sekitar kita tergabung dalam Commonwealth yang terikat pada pertahanan bersama," katanya.

Menurut dia, untuk membangun kedaulatan harus dibangun melalui pembangunan ekonomi terlebih dulu.

Mengenai kasus separatis Papua, Muladi mengatakan, dana otsus perlu lebih dimanfaatkan lebih baik. Banyak daerah memimpikan dana seperti itu.

"Masalah Papua tidak hanya internal tapi eksternal juga, kadang-kadang ada kejailan dari lembaga internasional lain, baik LSM maupun anggota Kongres(AS, red) . Kita harus berbuat yang terbaik untuk Papua, termasuk menghindari pelanggaran HAM," katanya.

(ANTARA News)

Capres dan Cawapres “Diserang”

27 Mei 2009, Mataram -- Dua personil Polda NTB mengikuti latihan pengamanan VVIP di Jalan Lingkar Selatan Mataram, NTB, Rabu (27/5). Sebanyak 75 personil dari berbagai satuan di Mapolda NTB sudah dilatih sebagai Satgas PAM VVIP sejak 2008 dan terus melakukan latihan untuk melakukan pengamanan terhadap Capres dan Cawapres yang akan berkampanye di NTB. (Foto: ANTARA/Budi Afandi/Koz/ama/09)

28 Mei 2009, Mataram -- Kampanye calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) tahun 2009 di lapangan Gajah Mada Polda NTB, Rabu (27/5) pagi, ricuh. Peristiwa tersebut dilatarbelakangi adanya gangguan keamanan dari para peserta kampanye. Karena khawatir terjadi sesuatu, capres dan cawapres ini pun diamankan pasukan pengamanan VVIP Polda NTB ke tempat persembunyian yang tak seorang pun tahu, bahkan pasukan pengamanan sendiri.

Insiden kericuhan tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 WITA. Saat itu, capres dari salah satu partai terkenal tengah melakukan kampanye terbuka di hadapan massa pendukungnya. Namun huru hara pun terjadi ketika, satu-persatu massa kampanye mendekati capres yang tengah berorasi. Kejadian tersebut membuat pasukan pengamanan VVIP yang dilengkapi persenjataan tempur mengamankan capres. Karena kondisi makin kacau, pasukan VVIP pun mengambil keputusan untuk mengamankan sang capres masa depan ke tempat tertentu melalui jalur rahasia.

Namun dalam perjalanan tepatnya di depan makan Loang Baluk, Jalan Lingkar Selatan, Mataram, iring-iringan capres dan pasukan pengamanan ini kembali mendapat serangan dari teroris. Dua kali tembakan dilepaskan teroris untuk menghalau rombongan. Mendapat serangan tersebut, pasukan VVIP pun mengambil posisi menghadang serangan. Sementara sang capres dievakuasi ke mobil lainnya dan meninggalkan TKP. Dengan senjata serbu ringan, pasukan pengamanan VVIP ini akhirnya bisa melumpuhkan serta mengendalikan situasi.

Pengamanan dan serangan di atas tidak benar-benar terjadi. Rangkaian peristiwa tersebut merupakan skenario latihan bagi keselamatan capres dan wapres ketika mendapat serangan saat tengah berkampanye.

Kasatgas Pengamanan VVIP Polda NTB, AKBP I Made Darmandi Giri, saat ditemui di tengah-tengah latihan mengatakan, latihan tersebut untuk merefresh kembali latihan yang telah didapat sebelumnya. Untuk meningkatkan pengetahuan bagi anggota pengamanan sesuai yang telah diajarkan. “Kita latih sesuai latihan yang didapatkan di Mabes Polri,” ujar Giri. Latihan ini sendiri akan dilanjutkan setiap hari hingga menjelang pelaksanaan kampanye capres dan cawapres. Sementara pengamanannya sendiri dilaksanakan 29 Mei hingga 4 Juli mendatang.

(Harian Suara NTB, Kamis, 28 Mei 2009)

Fasharkan Pesawat Udara Puspenerbal


28 Mei 2009, Surabaya -- Danpuspenerbal, Laksma TNI Rudi Hendro Satmoko (kiri) berbincang dengan Kepala Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat Udara (Fasharkan Pesud) Puspenerbal, Kolonel Laut (E) Bambang Eko Palgunadi, usai peresmian Fasharkan Pesud di depan pesud latih Tobago milik Skuadron Udara 200 Wing Udara-1 Puspenerbal di Apron Base Ops Lanudal Juanda, Kamis (28/5). Pembentukan Fasharkan Pesud tersebut, untuk mendukung kesiapan operasional seluruh pesud TNI AL dalam patroli maritim di wilayah NKRI. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/Koz/mes/09)

Pesawat latih Tobago


Danpuspenerbal, Laksma TNI Rudi Hendro Satmoko (kiri) melepas penutup juaja (lambang kehormatan) Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat Udara (Fasharkan Pesud) Puspenerbal, saat peresmian di Apron Base Ops Lanudal Juanda, Kamis (28/5). (Foto: ANTARA/Eric Ireng/Koz/mes/09)

TNI Ingin Pemerintah Segera Selesaikan Negosiasi Ambalat

28 Mei 2009, Surabaya -- Sebuah perahu pengangkut air bersih, melintas di depan sejumlah kapal perang TNI AL yang siaga di Dermaga Madura, Koarmatim Ujung Surabaya, Kamis (28/5). Pasca pelanggaran wilayah yang dilakukan Malaysia terhadap batas wilayah NKRI, TNI-AL menyiagakan tujuh kapal perang dan 20 kapal patroli ringan di sekitar perairan Blok Ambalat, Dalam patroli rutin itu, armada mulai pertahanan udara, pertahanan permukaan, dan kemampuan pertahanan bawah air, dalam kondisi siap perang. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/Koz/hp/09)

28 Mei 2009, Jakarta -- Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso berharap pemerintah segera menyelesaikan perundingan perihal Ambalat dengan Malaysia dan memastikan militer Indonesia tak akan menambah kekuatan armada perang di wilayah itu meski tetap akan secara ketat mengamankannya sesuai prosedur standar operasional pengamanan perbatasan wilayah laut.

Berbicara usai menghadiri seminar "Memahami Indonesia Yang Asing: Realitas Sosial Budaya di Perbatasan RI-Malaysia" di Jakarta, Kamis, Djoko memaparkan, TNI dan Angkatan Bersenjata Malaysia memiliki prosedur standar operasional bersama untuk pengamanan perbatasan wilayah laut kedua negara, termasuk Ambalat.

"Jadi, jika terjadi pelanggaran, maka masing-masing akan menjalankan tugasnya sesuai prosedur bersama yang telah disepakati dan melakukan komunikasi dengan mereka sampai tahapan pengusiran terhadap kapal-kapal mereka yang melanggar wilayah RI," tegasnya.

Djoko mengakui, kapal-kapal perang Malaysia kerap melanggar perbatasan wilayah perairan Ambalat.

"Itu karena kedua pihak baik Malaysia maupun Indonesia memiliki dasar hukum yang kuat terhadap batas kedua negara di Ambalat. Jadi, batas wilayah kedua negara di Ambalat yang masih disengketakan ini harusnya segera diselesaikan oleh pemerintah kedua negara," kata Djoko.

Oleh karena itu, sambil menunggu hasil perundingan kedua pemerintahan mengenai Ambalat, TNI tetap melakukan pengamanan yang sesuai dengan prosedur standar operasional TNI dan Angkatan Bersenjata Malaysia.

Panglima TNI mengungkapkan, angkatan bersenjata kedua negara kerap bertemu secara rutin untuk membahas berbagai persoalan di perbatasan kedua negara, baik perbatasan laut maupun darat.

Senin lalu, KRI Untung Surapati berhasil mengusir sebuah kapal perang Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) yang mencoba memasuki wilayah kedaulatan Republik Indonesia di perairan Blok Ambalat.

Kapal perang RI yang dikomandani Mayor Laut (P) Salim tersebut saat itu sedang mengadakan operasi penegakan kedaulatan di laut wilayah RI, khususnya Laut Sulawesi dan sekitarnya.

Saat kapal perang Malaysia muncul, anak buah kapal KRI Untung Surapati mengambil posisi tempur bahaya permukaan dan mencoba menjalin kontak komunikasi lewat radio.

Dari hasil komunikasi itu diperoleh informasi bahwa kapal TLDM itu akan ke Tawau, namun haluan kapal bertentangan dengan yang diinformasikannya, bahkan malah hendak memasuki wilayah Indonesia sambil menambah kecepatan.

Akhirnya, KRI Untung Surapati-872 yang berjenis korvet kelas Parchim eks Jerman itu mengejar untuk menghalau kapal perang Malaysia itu sekaligus memerintahkan mereka segera keluar dari wilayah kedaulatan Republik Indonesia.

Setelah diberikan peringatan tegas, kapal TLBM KD melakukan diam radio dan keluar dari wilayah NKRI.

Sehari sebelumnya, KRI Hasanudin juga mengusir KD Baung-3509 dan heli Malaysian Maritime Enforcement Agency serta pesawat dari jenis "beechraft" yang juga mencoba memasuki Blok Ambalat.

Berdasarkan data TNI AL, pada periode Januari sampai April 2009, pelanggaran laut dan udara oleh TLDM dan polisi laut Malaysia di Perairan Kalimantan Timur, khususnya Ambalat, tercatat sembilan kali.

(ANTARA)

Diplomasi Batas Wilayah RI Malaysia Masih Buntu

Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Tun Abdul Razak di Istana Merdeka. (Foto: beritasore)

28 Mei 2009, Jakarta -- Proses diplomasi penentuan batas wilayah antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia di Perairan Ambalat, Kalimantan Timur, masih menemui jalan buntu. Belum adanya titik temu batas wilayah inilah yang seringkali memicu terjadinya insiden angkatan laut kedua negara di perbatasan.

"Sampai sekarang diplomasi batas wilayah di Ambalat masih deadlock. Kali terakhir rapat koordinasi Deplu dengan Malaysia pada 2008 belum mengarah pada perkembangan," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Iskandar Sitompul, Rabu (27/5).

Malaysia masih menggunakan peta yang dibuat pada 1979. Sedangkan Indonesia tetap mengacu pada peta yang dikeluarkan pada 1945. Kedua peta itu berbeda dalam penentuan batas wilayah perairan negara masingmasing.

Perbedaan peta itulah, ungkap Iskandar, yang kerap berujung insiden masuknya kapal laut Malaysia ke wilayah Indonesia. Selama Januari sampai Mei 2009, sudah sembilan kali kapal laut Indonesia menghalau kapal laut Malaysia karena melanggar batas wilayah.

Teranyar adalah insiden Senin (25/5) lalu ketika kapal milik Angkatan Laut Diraja Malaysia kembali memasuki wilayah perairan Ambalat yang langsung dihalau kapal patroli TNI AL.

Pernyataan serupa dikemu kakan Kepala Pusat Penerangan TNI, Marsekal Muda Sagoem Tam bun. "Masalah pokoknya soal batas wilayah. Karenanya, upaya diplomatik adalah jalan keluar yang perlu diselesaikan," kata Sagoem.

Iskandar berharap, Deplu melanjutkan langkah-langkah diplomasi dengan Malaysia. "Kalau tindakan ofensif itu kan harus ada persetujuan DPR dan Presiden dulu. Malaysia pun punya aturan yang sama," jelas Iskandar.

Namun, Iskandar memastikan, pada tingkat komando, komunikasi antara TNI AL dan Diraja Malaysia, tak ada masalah serius yang perlu diperdebatkan. "Masing-masing saling menghormati. Mereka berkunjung ke sini, kita ke sana. Tapi, kalau di laut memang sulit karena batasnya tidak bisa dilihat kasat mata."

Direktur Perjanjian Internasional Deplu, Rahmat Budiman, mengaku, selama ini TNI AL dan Deplu selalu berkoordinasi. Jika ada yang terjadi di Ambalat, biasanya TNI AL melaporkan ke Deplu.

Tapi, hingga kemarin sore, pihaknya belum mendapat laporan soal insiden Senin tersebut. "Mungkin laporan belum sampai," katanya.

Rahmat mengakui batas maritim kedua negara memang belum selesai dibahas. Termasuk di antaranya soal batas perairan di wilayah Ambalat. "Kami berharap perundingan segera dilakukan dan penentuan batas maritim bisa selesai secepatnya."

Saat PM Malaysia, Tun Abdul Razak, bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka, Jakarta, 23 Maret lalu, SBY mengatakan, masalah perbatasan kedua negara bisa diselesaikan dengan baik sebagai sesama anggota ASEAN.

(Republika)

Rabu, 27 Mei 2009

TNI AL Kirim Tujuh Kapal Perang ke Ambalat

KRI Untung Surapati.

27 Mei 2009, Surabaya -- Markas Komanda RI Kawasan Timur (Makoarmatim) menggerahkan tujuh kapal perang ke wilayah Ambalat menyusul meningkatnya intensitas keamanan di blok tersebut setelah kapal perang Malaysia memasuki wilayah Ambalat.

"Ada tujuh KRI yang berada di sekitar Ambalat. Ini sebagai bentuk antisipasi masuknya kembali kapal perang Malaysia," kata Kadispen Armatim Letkol Laut Toni Syaiful di Surabaya, Rabu (27/5).

KRI Untung Surapati 827 berhasil mengusir kapal perang tentara laut Diraja Malaysia, KDU 3508, saat berada di perairan Blok Ambalat pada Senin (25/5). Sehari sebelumnya, KRI Hassanudin 366 juga mengusir Kapal Diraja (KD) Baung 3509 dan helikopter Malaysian Maritime Enforcement Agency yang mencoba masuk ke wilayah Ambalat.

Menurut Kadispen, dalam dua hari ini tidak terdengar lagi adanya kapal perang Malaysia masuk kembali, namun kewaspadaan harus dijaga. Karena itu, katanya, dengan kekuatan tujuh KRI yang selalu berpatroli di sekitar Ambalat dianggap cukup untuk menghadang kekuatan kapal milik perang milik Malaysia.

Selain tujuh kapal perang, Armatim juga menempatkan satu satuan setingkat kompi (SSK) marinir di Nunukan yang bisa dikerahkan sewaktu-waktu. "Ini menunjukkan bahwa TNI AL tidak main-main dalam menjaga kedaulatan negara. Apalagi, ada kekuatan asing yang masuk ke wilayah kita," katanya.

(Media Indonesia)

A330 MRTT Pemenang Tender Pesawat Tanker Udara AU India

Pesawat tanker udara Il-78 AU India. (Foto: globalsecurity.org)

26 Mei 2009 -- Rusia tersingkir dari tender penyedian 6 pesawat tanker udara untuk Angkatan Udara Inida senilai USD 1 Milyar disebabkan buruknya pelayanan perbaikan purna jual.

AU India telah mengoperasikan armada pesawat tanker udara Il-78 selama 6 tahun dan mengumumkan tender untuk penambahan 6 pesawat tiga tahun yang lalu. Il-78 buatan Rusia dan A330 MRTT (Multi Role Tanker Transporter) buatan Airbus Eropa sebagai peserta tender.

A-330 MRTT. (Foto: defenseindustrydaily)

“Kami telah menyelesaikan seluruh evaluasi dan memilih A330 MRTT. Kesepakatan segera dilakukan setelah disetujui oleh CSS (Cabinet Committee on Security). Platform Rusia tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan.,” ujar KASAU India Marsekal Fali Homi Major saat wawancara dengan Hindustan Times.

Major mengatakan India tidak puas dengan tingkatan pelayanan purna jual yang disediakan oleh Rusia.

Meskipun India tetap merupakan pembeli utama senjata Rusia, hubungan bilateral teknis militer dibayang-bayangi oleh sejumlah masalah terkait supplai suku cadang, buruknya dukungan penjualan, mahalnya ongkos pemeliharaan dan issu transfer teknologi.

A330 MRTT dibuat oleh EADS berdasarkan pesawat penumpang A330. A330 MRTT pertama dikirimkan ke AU Israel setelah tiga tahun penandatangan kesepakatan, lima pesawat sisanya dikirimkan 15 bulan kemudian.

RIA Novosti/@info-terkumpul