Minggu, 13 November 2011

Pangdam IV Diponegoro Lepas Ratusan Prajurit Yonzipur ke Kongo


14 November 2011, Semarang (ANTARA News): Panglima Komando Daerah Militer IV/Diponegoro Mayor Jenderal TNI Mulhim Asyrof melepas 130 prajurit Batalyon Zeni Tempur 4/Tanpa Kawandya dalam rangka tugas pemeliharaan perdamaian dunia di Republik Demokratik Kongo.

Upacara pemberangkatan pratugas prajurit yang tergabung dalam satuan tugas Kontingen Garuda XX-I/Monusca tersebut dipimpin Pangdam IV/Diponegoro dan berlangsung di markas Yonzipur 4/Tanpa Kawandya, di Banyubiru Ambarawa, Kabupaten Semarang, Senin.

Pangdam menjelaskan satuan tugas Kontingen Garuda XX-I/Monusca dengan jumlah total sebanyak 175 personel gabungan tersebut mempunyai tugas pokok menjaga stabilitas keamanan serta melaksanakan pembangunan atau rehabilitasi sarana dan prasarana wilayah di Kongo.

"Operasi luar negeri di bawah naungan bendera PBB ini merupakan bagian dari operasi militer selain perang sesuai Undang-undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI serta dilandasi oleh kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif," kata Pangdam.

Menurut Pangdam, prajurit Yonzipur 4/Tanpa Kawandya yang berangkat ke Kongo dituntut untuk senantiasa menjunjung tinggi kehormatan NKRI di mata internasional dalam setiap pelaksanaan tugas dan harus menjalin koordinasi serta hubungan yang baik dengan pemerintah setempat, termasuk pasukan perdamaian dari negara lain.

Lebih lanjut Pangdam menjelaskan, prajurit dari Yonzipur 4/Tanpa Kawandya yang menggantikan prajurit Yonzipur 10 dari Papua sebagai pasukan penjaga perdamaian sebelumnya, mendapat pembekalan fisik, mental, kesehatan, serta terkait pemasalahan teknis.

"Sebelum berangkat ke Kongo, para prajurit ini akan melakukan pematangan persiapan di pusat misi pemeliharan perdamaian (PMPP) di Mabes TNI bersama 45 prajurit dari kesatuan TNI yang lain," ujarnya.

Pangdam mengatakan, para prajurit Yonzipur 4/Tanpa Kawandya yang diseleksi secara khusus dari 600 prajurit itu juga telah dibekali dengan keterampilan di bidang seni seperti kesenian Reog dan Jatilan, tari Kecak, Tari Saman, serta rebana.

"Berbagai kesenian tersebut diharapkan dapat dikenalkan dan ditampilkan kepada warga negara Kongo pada saat ada perayaan nasional di negara setempat sebagai sarana untuk mengenalkan budaya Indonesia," kata Pangdam.

Sumber: ANTARA News

Sabtu, 12 November 2011

TNI AL Siagakan Enam Kapal Perang

Sejumlah anggota Kopaska TNI AL melakukan patroli dengan menggunakan kapal Sea Raider di kawasan pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Sabtu (12/11). TNI AL menempatkan tiga tim Kopaska dengan dilengkapi kapal tempur untuk mengamankan kawasan perairan pelaksanaan KTT ASEAN ke-19, pertemuan KTT terkait dan KTT Asia Timur ke-6 yang dimulai tanggal 17-19 November. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/hp/11)

12 November 2011, Nusa Dua (ANTARA News): TNI AL menyiagakan enam kapal perang untuk mengamankan pelaksanaan KTT ASEAN ke 19 yang akan berlangsung pada 17-19 November di Nusa Dua, Bali.

Komandan Lanal Denpasar Kolonel Laut (P) I Wayan Suarjaya, Sabtu mengatakan, kapal perang RI yang sudah merapat di Bali saat ini terus melakukan patroli pengamanan di setiap sudut pantai di Bali.

"Ada enam KRI yang sudah siaga sejak beberapa hari, dan terus melakukan patroli di wilayah Bali khususnya di kawasan Nusa Dua, sebagai pola pengamanan pintu masuk Bali," ujarnya.

Enam kapal perang tersebut yakni KRI KSP, KRI Sura, KRI Sri, KRI Banda Aceh, KRI Cendrawasih dan KRI Kerapu.

Di setiap masing kapal perang tersebut terdapat 150 personel TNI AL salah satunya dari Satuan Amfibi Armatim.


Seorang anggota Kopaska TNI AL memegang senapan mesin di atas kapal Sea Raider saat berpatroli di kawasan Nusa Dua, Bali, Sabtu (12/11). (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/hp/11)

Sedangkan dari Lanal Denpasar, menyiagakan 150 personel TNI AL. Semua titik di pintu masuk pulau Bali pun mendapat pengamanan yang ketat, seperti pelabuhan Gilimanuk, Padangbai, pelabuhan Celukan bawang, dan pelabuhan-pelabuhan kecil lainnya menjadi pantauan.

"Semua titik pintu masuk dari laut diamankan, tetapi tetap terfokus di Nusa Dua," ujarnya.

Dari pengamatan di lapangan, sejumlah kapal besar tampak berlabuh dan beberapa tampak mondar-mandir di kawasan pantai Nusa Dua dan pantai Sanur.

Pengamanan KTT ASEAN di kawasan laut tersebut tidak hanya dilakukan oleh TNI AL, melain juga dilakukan oleh Polri yang telah menyiagakan dua kapal perang Polri, yakni Kapal Perang Bisma yang merupakan kapal tipe A2, dan Kapal Perang Kutilang tipe B.

"Selain itu juga dibantu dengan enam kapal patroli tipe C dengan panjang sekitar 10 meter, serta kapal-kapal kecil untuk menghalau kapal yang mencurigakan yang melintas di kawasan terlarang," jelas Dirpolair Polda Bali Kombes Pol Agoes Doeta Soepranggono saat dihubungi terpisah.

Jika Massa Merangsek, TNI dan Polisi Siap Hadapi

Beberapa anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) bergerak menuju pos tugasnya dalam gelar Pasukan TNI Pengamanan KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali, Sabtu (12/11). Sekitar 15.000 aparat TNI dan Polri dari berbagai satuan dikerahkan untuk pengamanan selama KTT ASEAN yang puncaknya berlangsung 17-19 Nopember 2011. (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/hp/11)

Pengamanan pelaksanaan KTT ASEAN dan KTT Terkait di Nusa Dua, Bali, dilakukan dalam tingkat maksimal. Mulai dari pemerikaan orang dan kendaraan, patroli di laut dan udara, hingga jika ada massa berdemonstrasi dan mencoba merangsek masuk ke arena.

Simulasi pengamanan dan penghalauan massa itu terjadi pada Minggu, di Perempatan Jalan Pratama, menuju kawasan Nusa Dua, Bali. Titik ini bisa dibilang sebagai "titik terakhir" sebelum masuk ke Kompleks Nusa Dua.

Ratusan personel gabungan TNI dan polisi, diskenariokan, menyekat dan menghalau para demonstran yang tidak setuju atas pelaksanaan KTT ASEAN dan KTT Terkait itu. Karena tidak bisa diajak bicara lagi maka tindakan tegas dilakukan, apalagi mereka bertekad menghalangi mobil-mobil kepala negara dan kepala pemerintahan yang akan masuk arena.

Semprotan meriam air bertekanan ekstra tinggi yang bisa membuat manusia dewasa mental dari posisinya berdiri itu juga diterapkan. Demikianlah kira-kira bentuk keseriusan pengamanan kelangsungan persidangan KTT ASEAN dan KTT Terkait kali ini.

Guna mencapai itu, Indonesia menerjunkan sekitar 15.000 personel TNI dari berbagai matra dan kesatuan serta korps, sebagaiman halnya juga dengan Kepolisian Indonesia. Hal itu akan bertambah lagi jika dimasukkan unsur kekuatan fisik dan arsenal milik TNI dan Kepolisian Indonesia.

Mereka digabung dalam satu gugus tugas pengamanan, yang jika dirinci meliputi 7.562 personel Komando Operasional Pengamanan TNI, 750 personel dari Satgas Pengamanan VVIP dan 2.563 personel dari Satgas Pengamanan Wilayah.

Masih 600 personel Satgas Pengamanan Laut, 300 personel Satgas Pengamanan Udara, 200 personel satuan intelijen,dan aparat Polri sekitar 1.799 personel.

Sumber: ANTARA News

Jumat, 11 November 2011

Konvoi Kapal Perang RI “Diserang Musuh”


10 November 2011, Surabaya (Dispenarmatim): Konvoi Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang tergabung dalam operasi amfibi mendapat “serangan” dari pesawat intai musuh ketika hendak memasuki perairan Kota Baru Kalimantan Timur, Selasa (08/11). Terjadi pertempuran yang sengit selama kurang lebih 30 menit antara kapal-kapal perang RI dengan pesawat musuh yang sedang berpatroli di sekitar perairan Selat Makasar.

Beberapa KRI yang menjadi unsur tabir yaitu KRI Diponegoro-365, KRI Frans Kaisiepo-368, KRI Yos Sudarso-353 serta kapal perang lainnya terus melakukan perlawanan guna melindungi keberadaan unsur-unsur Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib) yang mengangkut pasukan pendarat Marinir dan peralatan tempurnya. Seketika itu juga sekitar pukul 09.00 Wita bunyi sirine meraung-raung mengagetkan personel yang sedang bertugas di KRI dr. Soeharso-990 menandakan adanya serangan bahaya udara.

Tidak lama kemudian juga terdengar sirine bahaya kebakaran di geladak heli akibat serangan udara oleh pesawat musuh. Personel KRI dr. Soeharso-990 yang tergabung dalam regu Pemadam Kebakaran (PEK) segera melaksanakan pemadaman dengan peralatan PEK lengkap. Dalam waktu singkat api dapat dikuasai dan dipadamkan selama kurang lebih 15 menit. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari latihan peran tempur yang dilaksanakan oleh personel KRI dr. Soeharso-990 yang tergabung dalam Latihan Armada Jaya XXX/11.

Geladi peran tempur bahaya udara melibatkan satu buah Pesawat Udara (Pesud) Cassa U-622 dari Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) Juanda Surabaya. Skenario yang dilaksanakan adalah Cassa U-622 sebagai pesawat musuh, tiba-tiba melakukan serangan udara secara mendadak. Seluruh unsur Kogasgabfib melaksanakan peran tempur bahaya udara sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing dan seluruh personel mempati pos tempur sesuai peralatan dan persenjataan yang mereka awaki. Demikian pula personel KRI dr. Soeharso-990, yang merupakan main body dalam konvoi Kogasgabfib, turut melaksanakan latihan peran tempur bahaya udara.

Guna menjaga kerahasiaan rencana serbuan amfibi maka unsur-unsur kapal perang itu melakukan diam pancaran radio dan melaksankan komunikasi antar kapal menggunakan isyarat dengan bendera (Flag Hoist), semaphore dan lampu (flash). Selain itu juga dilaksanakan Replenish At Sea (RAS) antara KRI dr. Soeharso-990 dengan KRI Frans Kaisepo-368. Pembekalan dilaut (RAS) dapat dilakukan untuk pengisian bahan bakar dan air tawar dari kapal ke kapal secara cepat dan terjamin kerahasiaannya.


Seluruh latihan peran tersebut disaksikan oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E. sebagai Direktur Latihan (Dirlat) Armada Jaya XXX/11 yang onboard di KRI dr. Soeharso-990. Turut menyaksikan Ketua Pengawas dan Pengendali Latihan (Kawasdal) Laksamana Pertama TNI Ary Atmaja (Kepala Staf Kolinlamil) dan Ketua Tim Penilai Laksamana Pertama TNI Didik Wahyudi (Dankodikopsla Kobangdikal).

Selama perjalanan Lintas Laut (Linla) dari Pangkalan Surabaya menuju daerah sasaran, rombongan KRI yang membawa peralatan tempur dan pasukan Marinir itu melaksanakan berbagai macam gladi tempur laut seperti dalam kondisi saat peperangan yang sesungguhnya.

Pada kesempatan itu Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E. selaku Direktur Latihan Armada Jaya XXX/11 melakukan teleconference dari KRI dr. Soeharso-990 dengan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) dan Wakasal yang berada di Mabesal Jakarta. Dalam siaran langsung yang tampil dalam layar monitor berupa komunikasi visual dan audio itu diikuti juga oleh Mako Koarmatim serta KRI Surabaya-591 selaku kapal markas Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib).

Pangarmatim selaku Direktur Latihan (Dirlat) didampingi Panglima Komando Tugas Gabungan Amfibi (Pangkogasgabfib) Laksamana Pertama TNI Taufiqurrachman serta pejabat staf lainnya melaporkan kesiapan personel dan materiil serta menyampaikan hasil kompetisi artileri yang dilaksanakan oleh unsur-unsur kapal perang yang tergabung dalam Latihan Armada Jaya XXX/11. Pada kesempatan yang sama Komandan Pasukan Pendarat (Danpasrat) Kolonel Marinir Amir Faisol juga melaporkan kepada Kasal tentang kesiapan personel dan persenjataan dalam melaksanakan serbuan amfibi yang akan dilaksanakan nanti.

Dalam formasi konvoi Linla menuju daerah sarasan, juga disimulasikan terjadi kecelakaan yang dialami oleh salah seorang personel yang berada di KRI Surabaya 591. Kelasi Kepala Rum Herwanto jatuh dari tangga saat menuju dek heli kemudian korban ditolong oleh Bintara Kesehatan Kapal (Bakes) Kopda Farmasi (Far) Odi dengan melakukan tindakan pertolongan medis pertama. Melihat kondisi korban yang mengalami patah tulang (fraktur) betis dan paha pada kaki sebelah kiri dan peralatan medis yang ada di KRI Surabaya kurang memadai selanjutnya korban segera dievakuasi menuju KRI dr. Soeharso-990 dengan menggunakan heli Bolcow yang berada di KRI Teluk Mandar-514. Evakuasi Medis Udara (EMU) berlangsung dengan cepat, kemudian heli mendarat di geladak KRI dr. Soeharso dan pasien menjalani penanganan medis di Unit Gawat Darurat (UGD) kapal rumah sakit itu.

Kegiatan simulasi latihan EMU dari kapal ke kapal tersebut, adalah untuk mengukur sejauh mana kemampuan dan kesiapan personel medis dan para medis saat melaksanakan pertolongan terhadap pasukan yang mengalami kecelakaan atau terluka dalam pertempuran.

Sumber: Dispenarmatim

TNI AD Terima Rp14 Triliun untuk Alutsista

TNI AD berencana mengakuisisi helikopter termpur Apache. (Foto: PEO Aviation)

11 November 2011, Magelang (ANTARA): Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat menerima alokasi pengadaan untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari pemerintah sebesar Rp14 triliun.

Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo di Magelang, Jumat mengatakan, hasil terakhir dalam sidang kabinet terbatas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, TNI AD diberi porsi untuk pengadaan alutsista Rp14 triliun.

Ia mengatakan hal tersebut usai acara Wisuda Purnawira Perwira Tinggi TNI AD di Akademi Militer Magelang. Pada kesempatan tersebut diwisuda 166 perwira tinggi TNI AD yang telah memasuki masa pensiun, antara lain Jenderal TNI (Purn) Agustadi Sasongko Purnomo, Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, dan Jenderal TNI (Purn) George Toissuta.

Menurut Pramono, anggaran tersebut antara lain akan digunakan untuk membeli tank, roket, meriam, dan helikopter.

Ia mengatakan, untuk pengadaan alutsista tersebut TNI AD telah menugaskan Wakasad TNI AD untuk melihat langsung pabrik senjata di Eropa bersama tim dari Kementerian Pertahanan.

Menurut dia, alutsista yang akan dibeli misalnya main battle tank atau tank berat yang selama ini Indonesia belum pernah memiliki. "Jika ini bisa diwujudkan maka Indonesia akan menjadi negara yang seimbang dengan negara tetangga," katanya.

Ia mengatakan, dengan kondisi perekonomian eropa yang sedang tidak baik maka mereka membutuhkan uang tunai sehingga mereka menjual senjata dengan harga murah.

Ia menuturkan, dari plafon untuk pembelian 44 tank berat, ternyata mereka menawarkan untuk pembelian 100 unit tank berat.

"Indonesia sebenarnya diuntungkan dengan situasi ekonomi Eropa kurang baik saat ini, mereka berani menjual dengan harga murah, sedangkan Indonesia butuh peralatan tersebut," katanya.

Pramono mengatakan, untuk pengadaan helikopter Apache, Indonesia dapat harga khusus, dari harga 30 juta dolar AS per unit mendapat keringanan 5 juta dolar AS per unit sehingga harganya menjadi 25 juta dolar AS per unit.

"Karena membeli delapan unit helikopter maka dapat menghemat dana hingga 40 juta dolar AS," katanya.

Ia mengatakan, pengadaan alutsista tersebut harus selesai tahun 2014 sesuai anggaran yang disiapkan pemerintahan saat ini.

Sumber: ANTARA News Jatim

Kasau Lantik Komandan Skadron Udara 45


11 November 2011, Jakarta (Pos Kota): Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP meresmikan Skadron Udara 45 dalam upacara militer di Lanud Halim Perdanakusuma, Jumat (11/11). Bersamaan dengan peresmian Skadron Udara 45 ini, secara struktur organisasi, dilantik pula Letkol Pnb Muzawar sebagai Skadron Udara 45, dihadiri oleh pejabat TNI Angkatan Udara dan tamu undangan.

Dalam sambutannya, dikatakan sebagai salah satu komponen pertahanan Negara, TNI Angkatan Udara dapat menjadi salah satu “bargaining power” dalam upaya menyelesaikan konflik antar Negara. Meski disadari, bahwa untuk membangun sebuah Angkatan Udara yang kuat adalah tidak mudah dan memerlukan dana yang tidak sedikit.

Namun demikian, kebijakan TNI Angkatan Udara kedepan tetap mengarah pada upaya peningkatan kesiapan operasional TNI Angkatan Udara. Oleh karena itu, prioritas utama yang harus dilakukan terfokus pada upaya tercapainya kemampuan operasional yang optimal dari segenap satuan-satuan udara TNI Angkatan Udara.

“Sebagai pangkalan operasional, Lanud Halim Perdanakusuma menjadi salah satu pengkalan dengan tingkat operasional yang sangat tinggi, oleh karena itu seluruh personel Satuan Lanud Halim Perdanakusuma harus benar-benar memperhatikan masalah Keselamatan Terbang dan Kerja yang menjadi dasar sebagai pegangan dalam setiap pelaksanaan tugas”, demikian arahan Kasau.

Lanud Halim P merupakan satuan pelaksana Koopsau I, dan sesuai kebijakan pimpinan, maka Skadron Udara 45 menambah optimal tugas Lanud Halim P. Skadron Udara 45 merupakan skadron angkut khusus VIP/VVIP yang dalam operasionalnya menggunakan pesawat jenis helikopter.

Sumber: Pos Kota

KRI Tanjung Nusanive, Raksasa di Antara Para Ketek

Sejumlah personel TNI Angkatan Laut (AL) menyaksikkan kedatangan Kapal perang TNI AL, KRI Tanjung Nusanive-973, merapat di Pelabuhan Boom Baru, Sungai Musi, Palembang, Sabtu (5/11). KRI Tanjung Nusanive-973 yang memiliki daya angkut 1.300 personel tersebut disiapkan untuk mendukung kegiatan SEA Games XXVI di Palembang. (Foto: ANTARA/Asril Syahalam/ip/ed/pd/11)

12 November 2011, Palembang (Koran Jakarta): Selama digelarnya SEA Games XXVI 2011, ada pemandangan berbeda di Sungai Musi. Kapal KRI Tanjung Nusanive bersandar di dermaga Pertamina. Kapal yang sejak 2005 digunakan untuk militer tersebut berdiri kokoh di antara perahu-perahu kecil yang biasa lalu lalang di sungai yang membelah Kota Palembang itu.

Kehadiran Nusanive menjadi hal istimewa karena inilah kali pertama kapal milik militer Indonesia berlabuh di tengah Kota Palembang. Bobot dan besar kapal itu tak berbeda jauh dengan kapal-kapal lain yang pernah bersandar di dok Pertamina.

"Sebelumnya banyak kapal besar seperti ini, bahkan lebih besar yang masuk ke tengah Kota Palembang ini. Tapi, untuk militer mungkin ini yang pertama menembus Sungai Musi," kata Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) TNI Angkatan Laut Heri Widodo di Palembang, Jumat (11/11).

Tak mudah bagi kapal berbobot lebih dari 14 ribu ton itu masuk ke tengah Sungai Musi. Selain panjang yang mencapai 144 meter, kapal itu memiliki panjang 6 meter ke bawah. Padahal, rata-rata kedalaman Sungai Musi terkadang hanya 5 meter.

"Tak mudah masuk ke sini. Di Selat Jaran, kami sempat tertahan karena di sana dangkal. Bahkan bawah kapal kami menempel pada lumpur," jelas Heri. Memasuki sungai juga tak mudah. Dengan kecepatan 10 knot, kapal produksi 1984 itu harus masuk dengan hati-hati. Kenapa demikian? Di sepanjang aliran Sungai Musi, terdapat banyak perahu kecil yang lebih dikenal masyarakat Palembang dengan perahu ketek. Disebut demikian karena saat dibunyikan, perahu akan mengeluarkan suara "tek tek tek".

Walau berbentuk raksasa, kapal Nusanive terlihat indah dipandang dari kejauhan, terutama dari Jembatan Ampera. Meski kapal militer, Nusanive bukan kapal perang, melainkan kapal protokoler yang biasa digunakan para pejabat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah menggunakan kapal ini pada 2009 lalu, ketika memberikan bantuan sosial bagi masyarakat Kepulauan Seribu. Sebagai kapal protokoler, Nusanive memiliki fasilitas mumpuni.

Salah satu kamar istimewa tentu saja kamar VVIP yang pernah digunakan SBY. Kamar terbesar di kapal ini memiliki fasilitas ruang santai dengan berbagai peralatan elektronik. Di sebelah ruang ini juga ada ruang karaoke untuk bersantai para pejabat yang datang serta para perwira di kapal ini. Selain ruang VVIP, VIP, ada kamar-kamar dengan berbagai kelas dengan dua dan empat tempat tidur.

Total, kapal ini dapat menampung 1.700 orang dengan berbagai ukuran kamar. Karena fasilitas inilah pelaksana SEA Games (Inasoc) memilih Nusanive sebagai tempat penginapan selama berlangsungnya multievent dua tahunan itu.

Sumber: Koran Jakarta

Alutsista Eropa Dijual Murah, SBY Beri Waktu Dua Pekan Kaji Pembelian

MBT Leopard 2 digunakan sejumlah negara di Eropa diantaranya Jerman, Belanda, Spanyol, Austria, Filandia, Denmark, Yunani, Norwegia, Polandia, Swedia, Swiss. (Foto: KMW)

11 November 2011, Jakarta (Jurnas.com): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan batas waktu selama dua minggu untuk mengkaji perlu tidaknya untuk melakukan pembelian alat utama sistem persenjataan (Alutsista) dari negara-negara Eropa yang sedang dilanda krisis. Hal tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai Rapat Kabinet Terbatas tentang pengadaan alutsista TNI dan Polri di Kantor Presiden, Kamis (9/11).

Dalam rapat kabinet tersebut, menurut Menhan, juga membahas akibat krisis yang dialami di Eropa, hal mana kekuatan-kekuatan militer mereka banyak dikurangi. Artinya mereka juga akan melakukan penjualan alutsista dengan harga murah. Untuk itu, bagaimana kita menyikapi itu. Presiden memberikan waktu selama dua minggu untuk menyikapi apa ada yang perlu untuk melakukan pembelian Alutsista.

Kalau ada pembelian alutsista di Eropa, menurut Menhan, Presiden SBY berpesan agar tidak boleh melebihi dari pagu anggaran yang sudah ditetapkan.

Menhan mengungkapkan negara-negara Eropa, misalnya Jerman, Belanda, Prancis, Italia, dan Spanyol akan melepas asetnya berupa Heli, tank, dan lain-lain.

Alutsista Bekas Eropa Masih Dalam Kajian


Pengadaan alutsista bekas pakai negara Eropa masih dalam kajian Kementerian Pertahanan. Jika disepakati, pembeliannya diupayakan melalui program Government to Government (G to G).

“Kami belum sampai pada fase memutuskan. Baru menilai apakah kita layak melengkapi pertahanan dengan alutsista itu,”kata Sekjen Kemenhan Marsekal Madya Eris Herryanto di Jakarta, Jumat (11/11).

Prinsip pengadaannya, kata Eris, diupayakan dalam bentuk G to G. Jika tidak memungkinkan, pembelian akan dilakukan secara langsung pada perusahaan pembuatnya. Eris tidak mempersoalkan adanya peranan broker asalkan atas arahan langsung perusahaan. “Kami tak masalah berkomunikasi dengan agen, untuk memperlancar. Kami dealnya sama pabrik, karena agen ditunjuk pabrik,” katanya.

Peran agen, jelas Eris, diperlukan karena merupakan representasi perusahaan di Indonesia. “Kalau ada apa-apa kami hubungi dia untuk disampaikan ke pabrikan.”

Indonesia menjajaki alutsista bekas dari Eropa yang terkena imbas krisis ekonomi, untuk mengurangi anggaran pertahanan mereka. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai rapat alutsista di Istana kemarin (10/11), Kementerian Pertahanan diminta melakukan inventarisasi kebutuhan alutsista. Beberapa alutsista yang dilirik Indonesia diantaranya heli Apache dan tank Leopard.

Sumber: Jurnas