Jumat, 11 November 2011

TNI AU Bentuk Skuadron Helikopter Baru

Heli Puma TNI AU. (Foto: Dispenau)

11 November 2011, Jakarta (KOMPAS.com): TNI Angkatan Udara membentuk skuadron helikopter baru, yakni Skuadron 45. Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat meresmikan Skuadron Udara 45 yang merupakan satuan angkut VIP dan VVIP di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jumat (11/11/2011).

KSAU juga melantik Letkol (Pnb) Muzawar sebagai Komandan Skuadron Udara 45. "Untuk membangun Angkatan Udara yang kuat adalah tidak mudah dan membutuhkan dana yang tidak sedikit," kata KSAU.

Menurut KSAU, sebagai pangkalan operasional, Lanud Halim Perdanakusuma menjadi salah satu pengkalan dengan tingkat operasional yang sangat tinggi. Karena itu, semua personel Satuan Lanud Halim Perdanakusuma harus benar-benar memperhatikan masalah keselamatan terbang dan kerja yang menjadi dasar sebagai pegangan dalam setiap pelaksanaan tugas.

Saat ini di Lanud Halim berpangkalan Skuadron Udara 17 yang juga bertugas mengangkut para penumpang VIP dan VVIP. Skuadron Udara 17 menggunakan pesawat fixed wing, seperti Boeing, dan sejumlah pesawat terbang lain.

Sumber: KOMPAS

Indonesia Incar Alutsista Eropa

MBT Leopard 2 diminati Indonesia untuk memperkuat TNI AD, direncanakan akan ditempatkan di Yonkav Kodam VI/Mulawarman yang akan dibentuk 2012. (Foto: KMW)

12 November 2011, Jakarta (SINDO): Modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) terus dilakukan. Salah satunya dengan membeli alutsista buatan Eropa, mengingat sejumlah negara di Benua Biru tersebut berniat menjual alutsista mereka secara besar-besaran.

”Sebagai akibat keadaan di Eropa dan Amerika,mereka sedang kena krisis,maka mereka sekarang mengurangi alutsistanya. Mereka menjual murah sekali. Bagaimana kita menyikapi itu? Presiden memberikan waktu selama dua minggu untuk kita,menyikapi apa ada yang perlu (dibeli) nggak,”papar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro seusai menghadiri sidang kabinet terbatas membahas alutsista di Kantor Presiden,Kamis (10/11).

Purnomo menjelaskan, masing-masing angkatan di TNI yaitu Angkatan Laut (AL), Angkatan darat (AD),dan Angkatan Udara (AU) telah memberikan daftar inventarisir alutsista yang mereka inginkan. Mereka juga telah menjajaki alutsista tersebut dengan datang ke Eropa langsung.

Namun,Purnomo menegaskan bahwa daftar alutsista yang bisa dipenuhi pemerintah kepada masing-masing angkatan tidak akan melebihi pagu anggaran 2010/2011 untuk alutsista, yakni USD6,5 miliar. ”Sudah diajukan oleh AD,AL, dan AU.Pesan Presiden,silakan mengajukan tetapi tidak boleh melebihi anggaran,” tambah Purnomo.

Mantan menteri ESDM tersebut memastikan alutsista yang akan dibeli Indonesia dari Eropa bukanlah baru. Meskipun second (bekas), Purnomo menegaskan bahwa alutsista tersebut masih bagus. Untuk menguji kelayakan alutsista yang dibeli dari Eropa, pemerintah juga akan mengirim tim teknis ke Eropa.Kemungkinan alutsista yang akan dibeli dari Eropa adalah heli Apache,tank Leopard,serta main battle tank. ”Saya kira (alutsistanya) second ya.

Contohnya heli Apache, itu kan heli powerfull,”tegasnya. Lebih lanjut Purnomo mengungkapkan, dari angkatan yang ada di TNI,AL dan AU akan mendapat porsi anggaran terbesar karena teknologi alutsista di kedua angkatan tersebut harus memakai yang terbaru.” AL dan AU kan alutsistanya teknologi yang terbaru, makanya perlu dijajaki juga nantinya.

Kalau dilihat, udara sama laut itu memang dia kan technology intensive,”ucapnya. Persoalan alutsista menjadi pembahasan utama dalam rapat terbatas di Kantor Presiden kemarin.Rapat yang ke sekian kalinya dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama jajaran menteri terkait dalam membahas alutsista.

Hadir dalam rapat kemarin yakni Presiden SBY, Wapres Boediono,Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Armida Alisjahbana, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dan Kapolri Jederal Pol Timur Pradopo.

”Kita pastikan pengadaan alutsista,mestidalambatasanggaran. Wajib hukumnya menggunakan alutsista produk industri pertahanan kita, manakala alutsista sudah bisa diproduksijajaranindustripertahanan kita.Kalau membeli dari negara sahabat tanpa kondisionalitas, apalagi kondisionalitas politik,” ucap Presiden SBY dahttp://www.blogger.com/img/blank.giflam pengantarnya kemarin.

Presiden SBY juga kembali mengingatkan akan pentingnya kemandirian bangsa dalam mengembangkan alutsista.Kalaupun Indonesia belum mampu memproduksi alutsista yang bersangkutan,Indonesia harus memilih join investment, joint production, joint research and development.

Sumber: SINDO

Nasi "Tutug Opak" Opaknya Asli Produk Conggeang

opak
Makan dengan nasi tutug opak kebiasaan saya semasa kecil. Hehehehe... Sekarang pun saya tak pernah bosan menyantap tutug opak. Apalagi opak yang dibakarnya sedikit gosong (opak tutung). Seperti gambar di samping (tapi itu juga tergantung selera). Yang pasti tutug opak kaya akan kandungan karbohidrat.

Cara membuatnya sangat sederhana, nasi digalo/dicampur opak yang sudah ditumbuk menjadi bagian-bagian kecil atau dirames, tambahan sedikit garam. setelah selesai mengolahnya akan terasa nikmat langsung dimakan, opaknya masih terasa renyah.

Opak adalah penganan bakar berbahan baku beras ketan. Dahulu opak merupakan hidangan pada acara hajatan atau perayaan hari-hari besar. Tapi sekarang opak diproduksi terus menerus dan dipasarkan secara luas. Mudah didapat. Jadinya tutug opak bukan hanya menu makan urang lembur (kampung). Yang tinggal diperkotaan pun bisa membuat tutug opak ini.

Kampung kami (Conggeang) merupakan sentranya perajin opak di Kabupaten Sumedang. Salah satunya opak ketan bakar asli produk Conggeang, berlabel OPAK NIA.

salam

Selasa, 01 November 2011

PT DI Nyatakan Mampu Remajakan F-16


2 November 2011, Bandung (Jurnas.com): PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menyatakan kemampuannya untuk melakukan retrofit (peremajaan) pesawat, termasuk pesawat tempur F-16 yang akan dihibahkan Amerika Serikat pada Indonesia melalui TNI AU.

Direktur Teknik Teknologi dan Pengembangan PT DI Dita Ardonni Jafri mengatakan, yang dibutuhkan PT DI hanya kepercayaan dan penghargaan.

“Jika tak sesuai dengan penghargaan yang kami terima, buat apa,”kata Ardoni di Bandung Jawabarat, Selasa (1/11).

Menurut Donni, lebih baik PT DI tidak dilibatkan jika nilai proyek retrofit pesawat tersebut tidak sesuai. “Kalau nilainya signifikan kita kerjakan tapi jika tidak PT DI tidak perlu dilibat," imbuhnya.

Soal kemampuan, Donni meyakinkan PT DI mampu mengerjakan proyek tersebut. Dia katakan, PT DI sudah terbiasa melakukan integrasi untuk avionik. Untul hal seperti ini, PT DI sudah memiliki pengalaman saat mengintegrasikan pesawat di Turki.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat berdalih retrofit F-16 hibah dari Amerika Serikat tidak dilakukan di Indonesia karena beban biaya membawa pesawat ke tanah air dan ketidaklengkapan alat serta sumber daya PT DI.

Lisensi Habis, PT DI Butuh Proyek Pengembangan Pesawat


Akibat krisis keuangan yang sempat menimpa PT Dirgantara Indonesia, perusahaan pesawat terbang nasional ini kehilangan lisensi beberapa pesawat yang sebelumnya bisa diproduksi.

Direktur Teknik Teknologi dan Pengembangan PT. DI Dita Ardonni Jafri berharap, pemerintah dapat memberi bantuan agar PT DI bisa terus hidup.

"Lisensi produksi helikopter kita telah habis,"kata Ardonni di kantor PT DI di Bandung Jawa Barat, Selasa (1/11).

Menurut dia, habisnya lisensi pembuatan pesawat ini dikarenakan PT DI telah mencapai kapasitas produksi yang ditentukan. Untuk mengatasi persoalan ini, Ardonni berharap pemerintah dapat membantu dengan memberikan proyek pembuatan pesawat agar PT DI dapat terus hidup.

Namun, menurut Ardonni, akan lebih baik jika pemerintah memberikan proyek jangka panjang agar pengembangan pesawat baru bisa terus dilakukan.

“Selama ini pemerintah memberikan proyek setahun, setahun. Ini membuat kami kesulitan. Lebih baik jangka panjang, dengan jumlah yang besar,”kata Ardonni.

Lisensi milik PT DI yang saat ini telah habis diantaranya lisensi untuk helikopter Super Puma dan NBell-412.

Selain itu, ada beberapa pesawat yang akan dikembangkan PT DI. CN-235 Next G, Pesawat Twin Outer N-219 yang difungsikan untuk pengamanan wilayah Indonesia bagian timur, IF-X / KF-X yang merupakan Joint Production dengan Korea Selatan, Roket RHan 122 yang sekarang sudah dipesan Kemhan sebanyak 1000 buah, dan helikopter tempur Bumblebee. “Tapi kalau tak ada proyek, kami tak bisa melakukan pengembangan ini,”kata Ardonni.

Pemerintah Komitmen Bangun Industri Pertahanan

Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskomblik) Kementerian Pertahanan Brigjen Hartind Asrin mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk menggunakan alutsista dalam negeri. Komitmen ini turut didukung DPR yang meminta TNI/Polri untuk menggunakan produk alutsista dalam negeri.

Menurut Kapuskomblik, komitmen pemerintah terlihat dari pembentukan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang bertujuan mencapai kemandirian alutsista.

“Dengan adanya komitmen ini, ke depan industri pertahanan akan lebih maju,” katanya di Bandung, Jawa Barat (1/11).

Selain itu, saat kunjungannya untuk melihat prototipe pesawat C-295 26 Oktober lalu, presiden telah menginstruksikan untuk menghidupkan PT DI.

Hartind menambahkan, sebagai salah satu komitmen pengembangan PT DI, industri pesawat terbang ini telah menandatangani kontrak untuk permodalan senilai 2 triliun rupiah dengan Bank Rakyat Indonesia.

“Pengucuran dana akan dimulai pada 2012, sebesar Rp 1 triliun,” katanya.

Sumber: Jurnas

Pesawat Tempur dan 3 Kapal Perang Amankan KTT ASEAN


1 November 2011, Denpasar (MICOM): KTT ASEAN yang akan digelar di Nusa Dua Bali tanggal 17 hingga 19 November nanti sudah menjadi sorotan dunia.

KTT ASEAN kali ini akan dihadiri oleh sekitar 18 kepala negara termasuk Presiden AS Barack Obama dan dua pejabat senior PBB dan para pejabat ASEAN setingkat kepala negara.

Tentunya, TNI akan melakukan pengamanan secara ketat. Terkait pola pengamanan tamu peserta dan tamu negara VVIP, Kodam IX Udayana, mengerahkan ribuan personel TNI/Polri yang diperkuat unsur keamanan lainnya, di antaranya satu Kompi Pasukan Khusus (Pakhas) TNI AU dan 4 pesawat tempur jenis F 16 yang saat ini sudah disiagakan wilayah Bali.

Keberadaan pesawat tempur F 16 tersebut disiapkan untuk mengawal pesawat-pesawat yang mengangkut kepala negara dan peserta KTT ASEAN.

Sementara itu, Pangkalan Angkatan Utama TNI Angkatan Laut V Denpasar juga telah menyiagakan tiga kapal perang untuk mengamankan jalur laut dalan KTT ASEAN. Ketiga Kapal didatangkan dari pangkalan TNI Laut Surabaya.

"Ketiga Kapal perang itu disiagakan 6 hari sebelum hari H KTT ASEAN. Salah satunya ditempatkan di kawasan Nusa Panida, dan terkonsentrasi di selatan dan utara Bali," jelas Komandan Lanal Denpasar Kolonel Laut I Wayan Suarjana, Selasa (1/11).

Ia menegaskan, kendati tidak ada pengamanan khusus terkait kedatangan Presiden Barack Obama dengan menyertakan Kapal Induk AS, pihaknya belum mendapat konfirmasi dari rekan sejawat mereka di AS.

"Pelaksanaan pengamanan wilayah Bali, dan pertahanan laut di kawasan Indonesia, jelang KTT sampai berakhir tetap menerapkan pola pengamanan TNI AL sendiri, tidak melibatkan pihak asing, termasuk AS," tandas Suarjana.

Pola pengamanan di laut, kata Kolonel Laut I Wayan Suarjana, dilakukan sistem penyekatan. Sekitar 600 orang personel melakukan patroli dengan kapal di utara dan selatan, dibantu tim intelijen yang saat ini sudah melaksanakan tugas mereka dijalur tikus.

"Seluruh kekuatan akan dikerahkan. Seluruh kesatuan dan kekuatan personel yang ada akan dikerahkan untuk melakukan pengamanan," ujar Pangdam IX Udaya Mayjen TNI Leonard Louk, dalam kesempatan yang sama.

Menurutnya, dalam beberapa pekan terakhir seluruh staf yang ada di Kodam IX Udaya bersama Polri telah melakukan peninjauan di daerah perbatasan di Bali baik di Gilimanuk Bali barat maupun di Padangbai Bali Timur.

Pengamanan seluruh pintu masuk saat ini sudah memenuhi standar dan akan terus ditingkatkan menjelang hari H nanti.

Sumber: MI.com

Malaysia Ingin 32 Unit Panser Pindad

Bagian dalam panser Anoa. (Foto: Berita HanKam)

1 November 2011, Bandung (KOMPAS.com): Malaysia berniat membeli 32 unit panser pengangkut pasukan (Armoured Personnel Carrier-APC) Anoa 6x6.

Direktur Pengembangan PT Pindad Tri Haryono, dalam pertemuan dengan Kementerian Pertahanan di Bandung, Selasa (1/11/2011), menjelaskan, satu unit Anoa dijual dengan harga 1 juta dollar AS (sekitar Rp 9 miliar).

"Kita mengalahkan produk Korea Selatan dan Perancis. Sekarang sedang tahap akhir dan mudah-mudahan semua lancar," kata Tri.

Anoa sudah menjalani pelbagai uji teknis di Malaysia. Produk tersebut dikembangkan PT Pindad sejak tahun 2004.

Sumber: KOMPAS

PT Pindad Kembangkan Panser Canon

Panser canon Anoa dipamerkan di Indo Defense 2008. (Foto: Berita HanKam)

1 November 2011, Bandung (Jurnas.com): PT Pindad akan melakukan pengembangan Panser Canon 6x6. Pengembangan yang didasarkan pada Panser 6x6 Anoa ini, akan menghasilkan Kavaleri (Canon 90 mm) dan Infanteri Fighting Vehicle (Canon 20 mm). “Rencananya kami akan melakukan kerja sama dengan Korea Selatan pada 2012,” kata Direktur Produk Manufaktur Tri Hardjono di Bandung Jawa Barat, Selasa (1/11).

Pengembangan panser ini, tambah dia, juga untuk mendukung satuan Korps Marinir TNI AL terhadap kebutuhan kebutuhan panser amfibi. Selain itu, PT Pindad akan melakukan peremajaan medium tank dengan perkiraan harga per unit mencapai Rp 35 miliar. “Pengembangannya memakan waktu 1,5-2 tahun,” kata Tri.

Dia berharap, pada 2014 nanti, medium tank ini sudah bisa unjuk kemampuan di hadapan masyarakat. Tri juga mengatakan, perusahaan BUMN Industri Pertahanan itu akan menjalankan program retrofit tank AMX-13 beroda rantai untuk peningkatan daya gerak, daya gempur, fungsi optik, dan komunikasi.

Menurutnya, program ini akan memakan anggaran Rp400 miliar selama lima tahun. “Ini kami lakukan dalam rangka proses penguasaan rancang bangun dan industrialisasi ranpur kanon Indonesia,” katanya.

PT Pindad Butuh Dukungan Pemerintah

Indonesia yang tengah gencar melakukan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) untuk mengejar minimum essential forces membuka pasar industri pertahanan semakin lebar. Namun begitu, BUMN Industri Pertahanan Indonesia, masih kesulitan menyesuaikan tantangan ini. “Kebutuhan alutsista 2010-2014 ini cukup besar, munisi untuk pemenuhan MEF juga besar, tapi kami masih terkendala dalam pemenuhannya,” kata Direktur Produk Manufaktur PT Pindad Tri Hardjono di Bandung Jawa Barat, Selasa (1/11).

Tri menjabarkan, kondisi PT Pindad saat ini memerlukan dukungan untuk bangkit. Mesin produksi yang dimiliki PT Pindad saat ini, kata dia, kurang optimal sehingga berdampak pada hasil produksi. SDM yang dimiliki rata-rata memasuki usia tak produktif yaitu 43 tahun. Selain itu, beban fixed cost yang tinggi, dan modal kerja yang sangat terbatas membuat PT Pindad tak bisa bekerja secara optimal.

Padahal, menurut Tri, peluang pasar kebutuhan alutsista pada 2010-2014 cukup besar. Dia mencontohkan, kebutuhan senjata ringan (jatri) dan senjata pokok (jatpok) pada periode tersebut mencapai 126.248 pucuk atau senilai Rp1,315 miliar. Kendaraan taktis mencapai 693 unit atau senilai Rp339 miliar, dan kendaraan tempur 424 unit atau senilai Rp. 10,782 milyar. “Keseluruhan peluang pasar mencapai Rp13,664 miliar,” kata Tri.

Untuk memenuhi MEF, lanjut Tri, kebutuhan terhadap munisi juga besar. Dia mencontohkan, kebutuhan munisi kaliber kecil mencapai 675.623.042 butir atau senilai Rp2,649 miliar. Granat meriam sekitar 1.546.617 buah atau bernilai Rp5,954 miliar. “Keseluruhan nilainya mencapai Rp12,781 miliar,” katanya.

Sumber: Jurnas