Rabu, 06 Juli 2011

TNI AU dan USAF Gelar Latihan Bersama di Lanud Abdul Rahman Saleh

6 Juli 2011, Malang (ANTARA News): Dua anggota Paskhas TNI-AU berkoordinasi dengan seorang personel United State Air Force (USAF) dalam melakukan operasi penyelamtan sandera pada latihan bersama di pangkalan TNI Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Rabu (6/7). Latihan dengan kode operasi "Teak Iron" tersebut untuk melatih kesiapan dan kerjasama kedua satuan tempur tersebut. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/Koz/Spt/11)

6 Juli 2011, Malang - Pasukan TNI Angkatan Udara Pangkalan Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menggelar latihan udara bersama pasukan Air Force Amerika Serikat, Rabu.

Komandan Pengkalan Udara Abdulrachman Saleh, Marsekal Pertama Dwi Putranto mengatakan, dalam latihan ini TNI AU menurunkan sebanyak 150 prajurit dan Angkatan Udara Amerika Serikat menurunkan sebanyak 87 prajurit.

Dalam latihan udara bersama tersebut, kedua negara menerapkan konsep operasi dukungan udara, khususnya prosedur taktis.

Dalam simulasinya, pesawat tempur Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh melakukan pendaratan darurat di daerah operasi, sebab di daerah itu ada lima awak pesawat telah disendera musuh.

"Untuk membebaskan para sandera, diturunkanlah tim gabungan Pasukan Khusus TNI AU bersama dengan US Air Force," katanya.

Sejumlah anggota Paskhas TNI-AU dan United State Air Force (USAF) menyelamatkan sandera pada latihan bersama di pangkalan TNI Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang, Jawa Timur. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/Koz/Spt/11)

Marsekal Pertama Dwi mengatakan, sejumlah prajurit telah disebar di daerah musuh dengan mengepung daerah operasi dengan tujuan untuk melumpuhkan musuh.

"Operasi ini dilakukan dalam hitungan menit, dan tim gabungan berhasil melumpuhkan lima prajurit musuh serta menyita sejumlah pucuk senjata api, dan penyanderaan lima prajurit berhasil dibebaskan, dua diantaranya mengalami luka tembak," katanya.

Sedangkan dalam evakuasi prajurit yang disandera itu, TNI AU menurunkan pesawat angkut Hercules guna menuju rumah sakit lapangan yang telah disediakan.

Simulasi yang berlangsung selama 30 menit tersebut, TNI AU menurunkan dua Hercules dari Skadron Udara 32 serta Batalyon paskhas 464, sedangkan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF - US Air Force) juga menggunakan dua hercules.

"Latihan ini bertujuan untuk lebih mempererat dan memperkokoh kerja sama antara TNI AU dan US Air Force, dan memantapkan konsep operasi dukungan udara bersama, khususnya prosedur taktik, teknis serta aplikasinya dalam operasi dukungan udara dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules," kata Dwi.

Dari latihan ini diharapkan bisa memantapkan konsep operasi dukungan udara bersama kedua negara.

Sumber: ANTARA News

Selasa, 05 Juli 2011

Lanud Pekanbaru Latma ke Thailand

Sebanyak lima pesawat tempur Hawk 100/200 dari Skadrom Idara 12 Lanud Pekanbaru akan mengikuti latihan bersama (Latma) dengan Royal Thailand Air Forces (RTAF) Angkatan Udara Thailand yang berlangsung sejak 3 Juni hingga 14 Juni mendatang. (Foto: Pentak Lanud Pekanbaru)

6 Juli 2011, Pekanbaru (Pelita): Sebanyak 70 personel TNI AU dari Lanud Pekanbaru terbang menuju Negeri Gajah Putih, Thailand, akhir pekan lalu. Misi dari keberangkatan ini adalah untuk mengikuti latihan bersama (Latma) dengan Royal Thailand Air Forces (RTAF) Angkatan Udara Thailand.

Latihan bersama dengan sandi Elang Thainisia 2011 ini merupakan yang ke-30 dan bertujuan untuk saling tukar keterampilan maupun pengalaman diantara para penerbang tempur dari kedua Angkatan Udara. Latma kali ini difokuskan lebih menitikberatkan pada kerja sama dalam pertempuran dan penghancuran di darat.

Selain itu Latma tersebut juga untuk meningkatkan profesionalisme dan keahlian masing-masing penerbang dan juga untuk mempererat persahabatan serta kerja sama antara kedua Angkatan Udara, demikian disampaikan Komandan Lanud Pekanbaru, Kolonel Pnb Bowo Budiarto, SE.

Pelaksanaan Latma ini direncanakan berlangsung selama dua pekan mulai minggu (3/7) hingga (14/7) ke depan di Thailand, dan melibatkan lima pesawat tempur Hawk 100/200 dari Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru.

Sumber: Pelita

Malaysia Tertarik Panser Buatan RI

Presiden SBY menerima kunjungan kehormatan Panglima Angkatan Tentera Malaysia (ATM) Jeneral Tan Sri Dato Sri Zulkifeli bin Mohd Zin dan delegasi, di Kantor Presiden, Selasa (5/7) pagi. (Foto: abror/presidensby.info)

5 Juli 2011, Jakarta (Berita HanKam): Angkatan bersenjata Malaysia tertarik untuk membeli panser 6x6 buatan Indonesia, untuk melengkapi alat persenjataan militer negera tetangga tersebut.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menyampaikan hal tersebut, usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Panglima Angkatan Tentara Diraja Malaysia Jenderal Tan Sri Datuk Sri Zulkifli Mohd Zein, di Jakarta, Selasa.

"Tadi disinguung soal panser 6x6, Malaysia yang berkeinginan untuk membeli, akan terus dilanjutkan," kata Agus.

Ia menambahkan,"kalau komitmen panglimanya, dia ingin terus berupaya membeli dari kita."

Dalam pertemuan perkenalan Panglima Tentara Malaysia yang baru kepada Presiden Yudhoyono tersebut, Agus mengatakan tidak dibahas mengenai perbatasan.

Mengenai peningkatan kerja sama, Panglima TNI mengatakan kerja sama antara kedua negara akan terus ditingkatkan.

"Kalau program detilnya pasti ada di lingkungan TNI. Tapi tadi hubungan kerja sama yang ada selama ini, seperti pertukaran perwira, pelatihan bersama, itu senantiasa harus ditingkatkan," paparnya.

Selain Panglima TNI, juga mendampingi Presiden, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sejumlah pejabat lainnya.

Sumber: ANTARA News

Meuleum Harupat, Pernikahan Adat Sunda

harupat
Meuleum harupat adalah bagian dari prosesi pernikahan adat Sunda selain sawer, nincak endog, meupeuskeun kendi, muka panto, dsb.

Baik sobat saya cerita sedikit, kenapa judul posting kali ini Meuleum Harupat, Pernikahan Adat Sunda. Beberapa hari yang lalu saya menghadiri resepsi pernikahan keponakan. Tak luput saya pun mengikuti rangkaian acara, yang dipandu juru sawer. Sawer asal kata dari sasaur (bicara) di panyaweran (teras rumah).

Dari keselurahan rangkaian acara, Ada satu alat atau bahan  yaitu harupat yang digunakan dalam acara meuleum harupat. Meuleum yang artinya membakar, harupat adalah bagian dari tumbuhan aren.
Karakteristik harupat yang mudah terbakar dan mudah dipatahkan, menggambarkan di dalam diri manusia ada sifat mudah marah (getas harupateun).

Mari sobat kita merenung sejenak, apakah sifat mudah marah itu ada di dalam diri kita?

Presiden Minta Malaysia Kembangkan Kesepahaman Kerjasama Militer

Presiden SBY, didampingi Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, menerima Panglima ATM Jeneral Tan Sri Zulkifeli di Kantor Presiden, Selasa (5/7) pagi. (foto: abror/presidensby.info)

5 Juli 2011, Jakarta (ANTARA News): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Malaysia untuk terus mengembangkan kesepahaman kerjasama militer yang menguntungkan kedua negara dan memberi kontribusi pada keamanan kawasan.

Juru bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha menyampaikan hal tersebut dalam keterangan pers di Kantor Presiden Jakarta, Selasa usai Presiden Yudhoyono menerima kunjungan kehormatan Panglima Angkatan Tentara Diraja Malaysia Jenderal Tan Sri Datuk Sri Zulkifli Mohd Zein.

"Dua hal yang disampaikan Presiden terkait hubungan antar kedua negara terutama dalam bidang keamanan adalah presiden berpesan pentingnya hubungan bilateral kedua negara Indonesia dan Malaysia yang didasarkan pada dua pilar militer to militer relations dan ekonomi bisnis relations," kata Julian.

Dalam pertemuan itu, kata Julian, Presiden menyampaikan meski Indonesia dan Malaysia merupakan negara yang dekat dan memiliki dinamika dalam hubungan keduanya yang penting untuk dijaga adalah kesepahaman, keeratan dan saling pengertian di kedua bidang itu.

Sementara itu Staf Khusus Presiden bidang hubungan Internasional Teuku Faizasyah, mengatakan dalam pertemuan itu tidak dibahas secara khusus mengenai beberapa kasus perbatasan antara kedua negara.

"Masalah konflik perbatasan bagian dari satu hal yang ditangani serius hubungan kedua negara ada beberapa batas wilayah yang dirundingkan, potensi memang masalah di lapangan muncul, maka antar unsur pimpinan militer dibangun hubungan yang baik sehingga potensi masalah tidak menjadi esklasi di lapangan," paparnya.

Ketika ditanya apakah Indonesia memberikan reaksi atas pembelian dua kapal selam oleh Tantara Laut Malaysia, Faiza mengatakan dalam mekanisme kerjasama menteri pertahanan negara-negara anggota ASEAN ada semacam "white paper" tentang informasi pertahanan masing-masing negara sebagai upaya transparansi.

"Sebagai negara tetangga menghormati upaya masing-masing negara untuk tingkatkan kapasitas militer masing-masing, imbasnya juga buat stabilitas keamanan di kawasan, kita lihat Singapura, Malaysia dan Indonesia bisa meningkatkan keamanan di Selat Malaka karena juga peningkatan kapasitas angkatan laut masing-masing. Kita sebagai negara tentu mengambil manfaat dari apa yang dilakukan Malaysia," kata Faizasyah.

Presiden dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebih satu jam tersebut didampingi oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan Menhan Purnomo Yusgiantoro.

Sumber: ANTARA News

Senin, 04 Juli 2011

Industri Pertahanan Dalam Negeri Perlu Ditingkatkan

Panser Anoa versi ambulance. (Foto: Berita HanKam)

4 Juli 2011, Jakarta (Jurnas.com): Pembangunan angkatan perang yang kuat harus diikuti dengan pembangunan industri pertahanan yang mapan. Konsumen dalam negeri seharusnya juga menggunakan produk dalam negeri agar pembangunan keduanya berjalan lancar. "Tidak mungkin membangun angkatan perang kalau nggak punya industri militer sendiri, jadi perlu perencanaan jangka panjang untuk perolehan alutsista yang akan dipakai, sekaligus untuk dikerjasamakan melibatkan industri pertahanan dalam negeri yang mau kita bangun," kata Direktur Teknologi dan Industri Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal TNI Agus Suyarso saat dihubungi, Senin (4/7).

Agus yang tengah menghadiri Brunei Darussalam International Defence Exhibition (Bridex) menambahkan, Indonesia tengah membangun industri pertahanan dalam negeri yang mandiri. "Tidak hanya jadi agen trading dari pabrik atau pemasok dari luar negeri. Makanya saat ini kami upayakan kalaupun mengambil barang dari luar negeri, ada transfer teknologi agar kita bisa belajar," katanya.

Dikatakan Agus, pemerintah tengah menyiapkan kebijakan untuk melakukan research and development (R&D) serta alih teknologi. Sedang diatur juga, kebijakan penyehatan cash flow dan neraca Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP). "Agar terwujud BUMNIP yang sehat dan meningkat kemampuan pendanaan BUMNIP dalam memenuhi kebutuhan alutsista dan almatsus," ungkapnya.

Alat Utama Sistem Senjata (alutsista) dan Alat Material Khusus (almatsus) sedang giat-giatnya dibangun pemerintah. Dalam acara Bridex di Brunei Darussalam, Indonesia ikut berpartisipasi memamerkan alutsista dan almatsus-nya. "Sekalian promosi produk-produk industri militer dalam negeri mulai panser, senjata, mortir, kapal hingga pesawat CN 235 yg mau dibeli Brunei dan negara-negara ASEAN," kata Agus.

Ditempat berbeda, Direktur Direktorat Pengembangan Bisnis dan Teknologi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) Dita Ardonni Jafri mengatakan, PT DI termasuk perusahaan binaan pemerintah dalam penyehatan perusahaan.

Tapi menurut Donni, upaya ini tidak cukup jika tak disertai pembangunan citra perusahaan di mata konsumen. "Pakai dulu produk dalam negeri, nanti orang luar melihat produk kita pun unggul. Jangan seperti sekarang, orang luar melihat, orang Indonesianya saja tidak pakai, buat apa beli dari Indonesia," katanya.

Donni berharap pemerintah dapat merubah kepercayaan konsumen dengan memakai produk dalam negeri agar pembangunan industri pertahanan berjalan sesuai rencana. Hal ini, lanjut Donni, dapat mempercepat pembangunan angkatan bersenjata yang lebih andal.

Sumber: Jurnas

Pangkolinlamil: Pengadaan Alutsista Secara Bertahap


4 Juli 2011, Jakarta (Jurnas.com): Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil), Laksamana Muda TNI Didit Herdiawan menegaskan , pengadaan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) tetap dilaksanakan secara bertahap sesuai anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah melalui program minimum essential forces atau MEF (kekuatan pokok minimum). “Jadi sudah dimasukkan di dalam blue print yaitu MEF pengadaan alutsista tersebut secara bertahap ditingkatkan. Untuk alutsista yang sudah tidak layak operasi, itu dilaksanakan pemeliharaan peralatan saja. Namun demikian untuk pengoperasiannya sudah tidak dilaksanakan,” katanya usai bertindak sebagai Inspektur Upacara HUT ke-50 Kolinlamil di Markas Kolinlamil, Jakarta, Senin (4/7).

Didit menambahkan, Kolinlamil sudah mendapatkan tambah KRI tipe 2 LPD (Landing Platform Dock) yang merupakan generasi kapal angkut yang terbaru yang dibuat oleh PT PAL.

2 KRI jenis LPD itu ditempatkan di Surabaya dan Jakarta. Sedangkan untuk kedepan konservasi landing search tank KRI yang tua ini dilaksanakan peremajaan kembali. “Sekarang ini sedang ditata kembali untuk pengadaannya bagaimana pelaksanaan kegiatannya, bagaimana spesifikasi teknisnya sedang direncanakan untuk pengadaan Landing Ship Tank yang baru,” katanya.

Kolinlamil Tetap Mobilisasi Pasukan di Perbatasan

Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil), Laksamana Muda TNI Didit Herdiawan mengatakan Kolinlamil tetap mengutamakan mobilisasi atau pergeseran pasukan dan pergeseran peralatan tempur di wilayah-wilayah terpencil dan pulau-pulau terluar (terdepan, red) dan daerah perbatasan. Mobilisasi personel dan peralatan ini bertujuan untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan prosedur yang berlaku. “Dalam rangka HUT ke-50, Kolinlamil berperan melakukan pengawasan di daerah perbatasan dengan melakukan mobilisasi pasukan dan peralatan demi menjaga kedaulatan NKRI,” kata Didit usai bertindak sebagai Inspektur Upacara HUT ke-50 Kolinlamil di Markas Kolinlamil, Jakarta, Senin (4/7).

Pada upacara HUT Kolinlamil, Pangkolinlamil membacakan amanat Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Soeparno.

Menurut Pangkolinlamil, sesuai petunjuk dari komando atas yaitu Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Laut tentang pergeseran pasukan, pergeseran peralatan dan personel tetap diutamakan. Jadi, pergeseran pasukan itu di wilayah-wilayah terpencil dan pulau-pulau terluar tetap dilakukan sesuai dengan prosedur dan berapa kali setahun itu tetap dilakukan. “Alhamdullilah, sampai sekarang ini kita bisa laksanakan dengan tertib, lancar dan aman,” kata Didit Herdiawan.

Menurutnya, mobilisasi tersebut tetap mengacu kepada proyek atau kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam kaitannya kegiatan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang membantu kegiatan pengadaan personel di sana. Kekurangan-kekurangannya ditambahkan dan diangkut dari Kolinlamil.

Didit juga mengatakan, Kolinlamil tetap berkomitmen, termasuk di dalam rangka mendukung kegiatan operasi di luar pelaksanaan pergeseran pasukan di dalam negeri maupun di luar negeri seperti saat pelaksaan pembebasan WNI yang disandera oleh perompak di perairan Somalia. “Kita mengangkut juga pasukan khusus, peralatan tempur dan sebagainya untuk mendukung kegiatan operasi tersebut,” katanya.

Sumber: Jurnas