Senin, 04 Juli 2011

KSAL: Optimalkan Peran Angkutan Laut Militer


5 Juli 2011, Jakarta (Suara Karya): Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Soeparno meminta Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) agar mengoptimalkan peran angkutan laut militer. Optimalisasi melalui profesionalisme Kolinlamil sangat dibutuhkan untuk mendukung Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militera Selain Perang (OMSP).

"Dalam rangka kesiapan operasional untuk melaksanakan angkutan laut militer meliputi personel, alat peralatan dan perbekalan yang bersifat taktis, strategis dan administrasi diperlukan adanya pembinaan kemampuan dalam rangka penggunaan kekuatan," demikian amanat KSAL yang dibacakan Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil), Laksamana Muda TNI Didit Herdiawan pada upacara HUT ke-50 Kolinlamil di Jakarta, Senin (4/6).

Tampak hadir, diantaranya Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI Lodowijk F Paulus, Koamandan Korps Brimob Irjen Pol Syafei Aksal, Kasdam Jaya Brigjen TNI Edi Susanto, Kepala Staf Kohanudnas Marsma TNI Chairudin Ray dan Kepala Staf Armada RI kawasan Barat, Laksamana Pertama TNI Herry Setianegara.

Peraturan Presiden RI Nomor 10 tahun 2010 tentang Susunan Organisasi TNI, Kolinlamil merupakan bagian integral dari TNI AL. Kolinlamil melaksanakan peran, tugas dan fungsi sebagai komando pelaksana utama pembinaan dan operasional. Tugasnya, menyelenggarakan operasi angkutan laut OMP maupun OMSP.

"Untuk meningkatkan profesionalisme, perlu melaksanakan latihan untuk meningkatkan kemampuan, kesiapsiagaan dan profesionalisme personel dan pengawak unsur-unsur KRI satgas Kolinlamil," kata KSAL.

Selain itu, KSAL menekankan perwujudan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan para prajurit dalam melaksanakan angkutan laut militer. "Pembinaan kemampuan alutsista maupun angkutan laut militer guna kepentingan pertahanan dan keamanan negara dilaut dan membina kesiapan operasional untuk melaksanakan angkutan laut TNI," kata KSAL.

Sumber: Suara Karya

PT. DI akan Produksi Helikopter Fennec dan Ecuirrel

AS550 C3 AS550 C3 Fennec. (Foto: Eurocopter/Céline SIMONPAOLI)

4 Juli 2011, Jakarta (Kontan): PT Dirgantara Indonesia bakal mengembangkan dua helikopter baru untuk menggantikan NBO 105 yang produksinya bakal berakhir tahun ini. Pengembangan dua jenis helikopter itu merupakan hasil kerjasama dengan perusahaan asal Eropa, Eurocopter.

Juru bicara PT Dirgantara Indonesia, Rakhendi Triyatna mengatakan dua helikopter yang akan diproduksi masih sejenis dengan helikopter NBO 105. Kedua jenis helikopter yang akan diproduksi adalah Fennec dan Ecuirrel. "Kami sudah menandatangani kerjasama lanjutan dengan Eurocopter minggu lalu," kata Rakhendi, Senin (4/7).

Rakhendi mengatakan produksi NBO 105 yang berakhir tahun ini juga bekerjasama dengan Eurocopter sejak 1976. Hingga tahun 2011, PT Dirgantara Indonesia sudah memproduksi 123 unit NB 105. Dirgantara Indonesia juga bekerjasama dengan Eurocopter sejak 1982 untuk membuat helikopter Super Puma.

Selain itu, mereka juga bekerjasama dalam memproduksi helikopter EC 725 dan EC225, namun Dirgantara Indonesia hanya membuat badan dan ekor helikopter. Sedangkan perakitannya dilakukan oleh Eurocopter di Prancis.

Produksi dua helikopter terbaru menurut Rakhendi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri terutama untuk TNI. Demikian juga dengan dua helikopter terbaru yang akan diproduksi menurutnya akan memenuhi kebutuhan pasar baik TNI atau SAR. "Selain untuk kebutuhan dalam negeri, helikopter yang diproduksi juga akan dipasarkan ke negara tetangga," kata Rakhendi.

Rakhendi berharap produksi dua jenis helikopter terbaru dapat dilakukan secepatnya. Namun dia belum bisa memastikan waktunya karena pembicaraan yang dilakukan dengan Eurocopter masih tahap awal.

Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskom) Bambang S Ervan mengatakan Dirgantara Indonesia pasti sudah mempertimbangkan pasar dari dua jenis helikopter terbaru yang akan diproduksi. Namun jika helikopter itu merupakan pengembangan dari NBO 105, maka menurutnya akan cocok dengan kebutuhan pasar di Indonesia. "Selain untuk kebutuhan TNI dan SAR, bisa juga dipergunakan oleh perusahaan pertambangan dan kebutuhan pesawat charter," kata Bambang.

Sumber: Kontan

Minggu, 03 Juli 2011

Aljazair Pesan Dua Korvet Kelas Tiger

RFS Soobrazitelny korvet kelas Steregushchy (Project 20380) tampil pertama kalinya di IMDS-2011. (Foto: RIA Novosti/Alexei Danichev)

4 Juli 2011, Moskow (Berita HanKam): Pemerintah Aljazair dan perusahaan kapal Rusia United Shipbuiding Corporation serta perusahaan eksportir senjata Rosoboronexport meneken kontrak pembuatan dua kapal perang jenis korvet kelas Tiger.

Kesepakatan diteken di pameran maritim dua tahunan International Maritime Defense Show 2011 (IMDS-2011) di St. Petersburg.

”Kami telah meneken dua kesepakatan dengan Rosoboronexport untuk penjualan dua korvet ke Aljazair dan tiga korvet ringan (Molniya) ke bekas Republik Sovyet,” ucap pimpinan USC Roman Trotsenko.

Jane’s mencatat Aljazair telah tertarik mengakuisisi korvet Tiger pada awal 2006. Aljazair mengkaji juga Project 11661 Gepard dan Project 11356. Saat tender internasional digulirkan Maret 2007, Aljazair tertarik pada frigate tipe 23 buatan BAE Systems dan frigate tipe FREMM DCNS, sebelum memutuskan korvet Tiger.

Korvet Tiger Project 20382 versi model Project 20380 kelas Steregushchy, merupakan korvet terbaru Angkatan Laut Rusia. Rusia berencana membeli sedikitnya 30 kelas Steregushchy. Korvet pertama dioperasikan Oktober 2008 oleh Armada Baltik, diberi nama RFS Steregushchy. Sedangkan korvet kedua RFS Soobrazitelny dijadwalkan tahun ini dioperasikan dan korvet ketiga RFS Boiky dalam proses penyelesaian.

Rusia pertama kalinya menampilkan kelas Steregushchy pada pameran maritim di IMDS-2011. Korvet Tiger dirancang mampu menghancurkan kapal permukaan, kapal selam dan pesawat udara serta mendukung tembakan artileri saat pendaratan pasukan di pantai.

Korvet berukuran panjang 105 meter dan lebar 13 meter, dipersenjatai sistem rudal anti-kapal permukaan Uran, sistem meriam/rudal anti-pesawat udara Kashtan, satu pucuk meriam 100 mm, dua pucuk meriam AK-630M 30 mm, torpedo 330 mm serta satu unit helikopter Ka-27 Helix.

Korvet berbobot 2000 ton digerakkan empat mesin diesel 16D49, jarak jelajah pada kecepatan 14 knot sejauh 4000 mil, kecepatan maksimum 27 knot. Korvet diawaki 100 orang berikut awak helikopter.

Menurut IISS Military Balance 2011, armada kapal permukaan AL Aljazair terdiri dari 3 frigate kelas Koni, 6 korvet, 22 kapal patroli, 3 kapal amphibi dan 3 kapal logistik dan pendukung.

Sumber: RIA Novosti

PT DI Butuh Kepercayaan


4 Juli 2011, Jakarta (Jurnas.com): Krisis yang dialami PT Dirgantara Indonesia (PT DI) bukan sekedar masalah keuangan. PT DI saat ini sangat memerlukan kepercayaan konsumen dalam negeri. Ini akan sangat membantu PT DI untuk keluar dari masalah yang membelitnya.

"Masalah yang utama sebenarnya kami butuh pekerjaan dan kepercayaan dalam negeri. Mau disuntik dana berapapun kalau tidak dibutuhkan sama saja, akhirnya hancur juga,"kata Direktur Direktorat Pengembangan Bisnis dan Teknologi Dita Ardonni Jafri saat dihubungi Jurnal Nasional di Jakarta, Senin (4/7).

Dia mengatakan, hingga saat ini PT DI masih mendapatkan proyek rutin dari luar negeri seperti Korea dan Turki. Namun begitu, kata Donni, ini tidak mencukupi kebutuhan PT DI sehingga diperlukan pasar yang lebih luas. "Dalam bussiness plan kami, kami terus lakukan penawaran ke luar negeri. Memang kami masih mendapatkan pekerjaan, tapi makin lama makin berkurang."

Hal ini dikarenakan konsumen dalam negeri pun tak menaruh kepercayaan terhadap PT DI. Dikatakan Donni, kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih percaya pada luar negeri telah membudaya dan menjadi akar masalah.

"Itu sudah jadi budaya. Orang sakit saja kan berobatnya ke Singapura. Mereka melihat, orang Indonesianya saja nggak pake, ngapain beli dari Indonesia. Jadi pasar kami makin berkurang,"jelasnya.

Padahal, menurutnya, pejabat pemerintah luar negeri seperti Korea dan Malaysia menggunakan produk PT DI. Minimnya kepercayaan dalam negeri pada PT DI, berpengaruh pada konsumen PT DI di luar negeri.

Untuk pemesanan dalam negeri, saat ini PT DI tengah mengerjakan pesawat CN 235 pesanan TNI Angkatan Laut. Sebelumnya, Kementerian Pertahanan mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kementerian pertahanan dengan beberapa industri pertahanan termasuk PT DI.

"Iya, tapi dari pengalaman sebelumnya, MoU itu cuma jadi MoU. Tapi mudah-mudahan kali ini tidak begitu,"kata Donni.

Masalah lain yang sedang dihadapi PT DI adalah persoalan pembukuan. Donni mengharapkan pemerintah membantu membereskan utang-utang lama PT DI. "Kalau utang-utang lama dibebankan pada kami semua tidak bisa. Kami mengharapkan pemerintah dapat membantu agar perusahaan tetap berjalan,"ungkapnya.

Sumber: Jurnas

Koarmatim Luncurkan Buku "Pengawal Samudera"

Sejumlah anggota Satuan Komando Pasukan katak (Sat Kopaska) Koarmatim, memperkenalkan satu dari beberapa jenis senjata, kepas seorang pengunjung, di sela-sela peluncuran buku foto Koarmatim di Grand City Surabaya, Minggu (3/7). Buku foto setebal 285 halaman yang berjudul 'Pengawal Samudera Di Wilayah Timur Indonesia' tersebut, berisikan profil Koarmatim yang dikemas dengan memperhatikan sisi humanis dari sosok prajurit TNI AL. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ed/pd/11)

3 Juli 2011, Surabaya (ANTARA): Komando Armada RI Kawasan Timur meluncurkan buku "Pengawal Samudera di Wilayah Indonesia Timur" sebagai wahana untuk lebih mengenalkan peran dan kekuatan TNI AL kepada masyarakat luas.

Buku berisi foto-foto berbagai kegiatan TNI AL di jajaran Koarmatim itu, diluncurkan secara resmi oleh Panglima Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto di Grand City Mall Surabaya, Minggu.

Ketua Tim Penyusun buku "Pengawal Samudera" Kolonel Laut (P) Aan Kurnia mengatakan, pembuatan buku tersebut terinspirasi dari buku-buku milik angkatan laut negara lain yang sudah lebih dulu beredar di pasaran.

"Kalau angkatan laut negara lain bisa memiliki buku eksklusif seperti itu, kenapa TNI AL tidak bisa. Atas persetujuan Pangarmatim, kami kemudian membuat buku tersebut," kata Aan Kurnia yang juga Komandan Komando Latihan Koarmatim.

Ia mengatakan, pengerjaan buku setebal 280 halaman yang berisi sekitar 2.000 foto itu, diselesaikan hanya dalam waktu sekitar tiga bulan.

"Kami memiliki bank data yang menyimpan ribuan foto berbagai kegiatan TNI AL di Koarmatim. Sebagian besar foto adalah bidikan personel Koarmatim, ditambah foto karya sejumlah jurnalis yang biasa meliput kegiatan Koarmatim," ujarnya.

Beberapa foto menarik yang ditampilkan dalam buku tersebut, antara lain foto pelayaran kapal latih KRI Dewaruci keliling dunia, latihan tempur, kegiatan TNI AL di daerah perbatasan, dan sejumlah foto "human interest".

Pangarmatim Laksda TNI Bambang Suwarto mengatakan, tidak ada niat muluk-muluk dari pembuatan buku Pengawal Samudera, selain ingin lebih mengenalkan peran dan kekuatan TNI AL kepada masyarakat Indonesia maupun dunia internasional.

"Saya sendiri tidak menduga kalau ternyata banyak prajurit Koarmatim yang punya hobi fotografi dan sering mengabadikan kegiatan TNI AL. Daripada file fotonya hanya disimpan, kenapa tidak sekalian dibuatkan buku?," ujarnya.

Pada acara peluncuran buku Pengawal Samudera itu juga dipamerkan beberapa peralatan tempur dan senjata dari Pasukan Katak, pameran foto Koarmatim serta bedah buku yang menghadirkan sejumlah pembicara.

Sumber: ANTARA News

KRI Banjarmasin dan KRI Lemadang Tiba di Brunei

KRI Banjarmasin-592. (Foto: Dispenarmabar)

4 Juli 2011, Jakarta (Dispenal): Dua unsur kapal perang TNI Angkatan Laut masing-masing KRI Banjarmasin - 592 dan KRI Lemadang – 806 yang akan mengikuti kegiatan Brunei Darussalam International Defence Exhibition (BRIDEX) dan Brunei Darussalam Fleet Review (BFR) 2011, Sabtu (1/7) tiba dan sandar di dermaga Muara Kem, Pangkalan Tentara Laut Diraja Brunei (TLDB) dan langsung melaksanakan kegiatan debarkasi personel dan material dari Deck KRI Banjarmasin-592.

Selanjutnya, KRI Banjarmasin – 592 yang dikomandani Letkol Laut (P) Eko Jokowiyono dan KRI Lemadang-803 dengan Komandan Letkol Laut (P) Sumartono, pada tanggal 4 Juli 2011 menempati pada posisi lego jangkar di perairan Brunei dalam rangka persiapan mengikuti BFR.

Sumber: Dispenal

Jumat, 01 Juli 2011

Perancis Tingkatkan Penanganan Terorisme Dengan Indonesia

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan berdiri) dan Perdana Menteri (PM) Republik Perancis Francois Fillon (kiri berdiri) menyaksikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana (kanan duduk) dan Menteri Muda Perdagangan Perancis Pierre Lellouche menandatangani naskah deklarasi kehendak di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (1/7). Indonesia dan Perancis menandatangani sejumlah perjanjian kerjasama yakni di bidang pendidikan, pariwisata, energi dan sumber daya mineral serta perhubungan. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/ed/pd/11)

1 Juli 2011, Jakarta (ANTARA): Perancis ingin meningkatkan kerjasama dengan Indonesia di bidang penanganan aksi terorisme dan pengamanan jalur maritim dari pembajakan.

"Kita ingin bekerjasama melawan terorisme dan mengamankan jalur maritim dari pembajakan, dimana Indonesia punya pengalaman berhasil dalam menyelamatkan Selat Malaka," kata Perdana Menteri Perancis, Francois Fillon di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat.

Fillon berdialog empat mata dengan Presiden Susilo B Yudhoyono di Istana Merdeka, sebagai satu agenda perjalanannya ke Indonesia.

Dalam lawatannya itu Fillon didampingi empat menteri, yaitu Menteri Negara Perdagangan Luar Negeri, Menteri Negara Transportasi, Menteri Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, dan Menteri Kebudayaan dan Komunikasi serta sejumlah anggota parlemen dan sekitar 20 pengusaha besar Prancis.

Sebelum konferensi pers oleh kedua kepala pemerintah terlebih dahulu dilakukan penandatangan kesepakatan/nota kesepahaman mengenai kerja sama di bidang energi dan sumber daya mineral, pariwisata, pendidikan, permuseuman, dan vulkanologi.

Untuk menghormati kunjungan resmi itu, Presiden Yudhoyono kemudian menjamu PM Prancis beserta seluruh anggota delegasinya dalam suatu jamuan santap malam resmi di Istana Negara.

Dalam keterangan persnya Fillon mengatakan, kerjasama di bidang penanganan terorisme dan pengamanan jalur maritim sangat penting untuk kelancaran kerjasama ekonomi.

Selain itu, katanya, kedua negara juga sepakat meningkatkan kerjasama di bidang pertahanan dan upaya menjaga perdamaian dunia.

"Kita ingin melakukan kerjasama di berbagai bidang. Kita ingin melipatgandakan kerjasama ekonomi ke depan," katanya. Perancis menawarkan dukungan finansial untuk proyek-proyek yang terkait bidang perkotaan dan transportasi penerbangan.

Dalam pertemuan dwipihak, menurut Fillon juga dibahas isu-isu kawasan dan global yang menjadi kepentingan kedua negara, antara lain kerjasama di G20, ASEAN dan perdamaian di Timur Tengah.

Ia menyebutkan, kunjungan kali ini merupakan kunjungan pertamanya ke Indonesia selaku PM Perancis.

"Ini kali ketiga saya mengunjungi Indonesia tapi pertama kali saya sebagai PM dan ini momen luar biasa bagi hubungan kita," katanya.

Pada keterangannya PM Fillon mengatakan bahwa Perancis ingin menjadi teman pertama Indonesia, merujuk pada prinsip zero enemy 1.000 friends Indonesia.

Kedua kepala pemerintahan menyepakati Deklarasi Bersama mengenai Kemitraan Indonesia-Prancis dalam pertemuan dwipihak.

Deklarasi Bersama mengenai Kemitraan Strategis Indonesia-Perancis itu merupakan landasan kuat bagi kerja sama yang lebih luas dan terarah antara kedua negara di masa mendatang.

Sumber: ANTARA News