Kerangka acuan atau term of reference (TOR) yang diajukan panitia penyelenggara diskusi akhir tahun Pikiran Rakyat berpangkal pada banyaknya seniman Jawa Barat terkenal yang meninggal dunia pada 2010. Inti soal yang diajukan, sejauh mana “kesiapan” masyarakat Jawa Barat umumnya, sepeninggalnya para mendiang itu: tentang dokumen-dokumen yang ditinggalkannya, dan seperti apa harapan berlanjutnya “tradisi” kreativitas berkesenian pada generasi penerusnya.
Untuk mendiskusikannya secara konkret, dan untuk upaya perancangan agenda strategis ke depan, saya kira kita perlu mengadakan inventarisasi dan pemetaan permasalahannya. Dalam diskusi pertama ini, saya akan menyampaikan dasar-dasar pemikiran lain, yang walaupun tidak langsung mengarah pada pemasalahan di atas, merupakan soal dasar yang menurut saya perlu dicermati.
Pertama adalah tentang Jawa Barat dan Sunda. Sampai sepuluh tahun yang lalu, Jawa Barat umumnya dianggap identik dengan Sunda, karena penghuni mayoritasnya orang Sunda, dan orang Sunda pun hampir terkonsentrasi berada di provinsi itu–berbeda dengan “orang Jawa” yang terbagi di tiga daerah: Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Adalah isu menarik, ketika Anjungan Jawa Barat di Taman Mini Indonesia Indah mengambil model istana Cirebon, yang adalah daerah yang “paling tidak nyunda.” Kemungkinan pertimbangannya ada dua. Pertama, Cirebon dianggap Sunda. Kedua, yang dipilih adalah bangunan adiluhung, sebagai simbol “puncak kebudayaan” Jawa Barat.
Walaupun pendekatan yang kedua mungkin lebih kuat, mengikuti prinsip tersurat dalam Penjelasan UUD 45: “puncak-puncak kebudayaan.” Pendekatan pertama pun bukan mustahil, yaitu seluruh wilayah Jawa Barat ikut pada mayoritas, yaitu budaya Sunda. Paling tidak sampai akhir 1970-an, seluruh sekolah di provinsi ini memakai bahasa Sunda sebagai pelajaran bahasa daerah. Bahasa setempat, seperti bahasa Jawa yang dipakai oleh penduduk di daerah-daerah Kabupaten/Kota Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang, Karawang, dan Banten, tidak dianggap sebagai “lokal yang arif,” yang patut dipelajari dalam dunia pendidikan--pendekatan mana yang dimulai juga sejak sekolah-sekolah didirikan untuk orang pribumi oleh pemerintah kolonial. “Budaya kecil” terlalu merepotkan untuk diperhatikan oleh birokrasi. Dengan kata lain, budaya kecil, yang lemah, dianggap remeh-temeh yang harus tunduk pada yang besar. Realitas budaya, yang tak lain adalah realitas kehidupan sosial di masing-masing “wilayah kecil” yang sangat bineka itu, dipetakan oleh pendekatan politik dengan menyederhanakan, meringkas, atau meringkusnya, untuk masuk pada kolom-kolom tertib sehingga menjadi kotak-kotak “kesatuan” administratif–hal itu bukan hanya terjadi di Jawa Barat, melainkan di seantero nusantara, dan bahkan di dunia.
Modernisme barat, berdampingan dengan revolusi industri, adalah zaman konstruktif, struktural, pragmatis (efektif-efisien), yang meninggalkan atau memangkas persepsi generalis holistis. Profesionalisme merumuskan spesialisasi, sehingga terbentuklah kotak-kotak dikotomis. Seluruh dunia terdidik dan terpukau pada sistem itu. Dalam bidang kesenian, misalnya, terjadi pengelompokan disiplin (yang tampak) rapi tertata: musik, rupa, sastra, tari, teater, dan lain-lain. Sementara dalam realitas budaya lokal, semua disiplin itu tidak terpisah-pisah, melainkan terjalin satu sama lain secara “holistis,” merupakan “kesatuan.”
Kemudian lahirlah kritik pemikiran besar terhadap itu, yang dikenal dengan postmodernisme, dekonstruksionisme, sejak 1960an-di Barat. Dalam tataran praktis, di Indonesia baru muncul menjelang abad 21, adalah tumbangnya Orde Baru, lahirnya Reformasi, yang disusul dengan sistem otonomi daerah. Banten menjadi provinsi tersendiri, pisah dari Jawa Barat. Masyarakat dan budaya Sunda yang mayoritas itu pun kini tidak lagi berada pada genggaman satu provinsi.
Jika kita berpegang pada acuan “ketertiban” dan “kesatuan” konstruktif, peristiwa itu mungkin dianggap sebagai pengaburan, atau perpecahan. Akan tetapi, jika dilihatnya sebagai proses pendewasaan “kelokalan yang plural,” bisa dianggap sebaliknya: sebagai peluang proses desentralisasi sosiokultural di kedua provinsi tersebut, untuk bersama-sama walau dalam ruang sistem administrasi-politik terpisah, menumbuhkan vitalisasi budaya Sunda. Dengan falsafah atau mental dan etik “bhinneka,” perkembangan positif lebih bisa diharapkan: dua provinsi turut bertanggung jawab (handarbeni) kebudayaan Sunda. Akan tetapi jika sebaliknya, dengan filsafat keekaan Sunda, kedua provinsi bisa berebut, memperjuangkan hak kepemilikan (posesif), sehingga yang satu menjadi saingan bahkan oponen dari yang lain, sehingga pembagian provinsi ini merupakan petaka bagi Ki Sunda.
Hal yang terakhir, petaka dan bukan berkah, mungkin mustahil terjadi, karena realitas sosialnya dari dahulu hingga kini demikianlah. Baduy yang berada di Banten, kita ketahui sebagai budaya Sunda tertua yang hidup hingga sekarang. Akan tetapi, kita pun tahu, budaya Sunda tidak berhenti pada platform atau paradigma tradisi Baduy. Sunda telah jauh melampaui (beyond) peradaban Baduy.
Dalam jiwa atau “ruh” budaya Sunda, di Jawa Barat maupun di Banten, terdapat ruh-ruh budaya lain, terlepas dianggap positif ataupun negatif, yang telah menjadi ruh diri sendiri. Ruh budaya Jawa adalah contoh yang jelas: proses penghalusan bahasa dan kesenian, adat (tatakrama), sampai ke tataekonomi pertanian. Demikian juga budaya Barat (Eropa) yang tertanam sejak zaman kolonial, dan telah turut mengembangkan “kecerdasan” kita hingga mampu melahirkan revolusi kemerdekaan, melahirkan sistem pendidikan hingga tingkat universitas, sistem birokrasi pemerintahan, dan sebagainya, yang berasal dari ruh Barat. Dan demikian pula ruh pelbagai agama (Hindu, Budha, Konghucu, Islam, dan Kristen), telah memodali kecerdasan (“kearifan”) hidup, tertanam dalam “ruh” Sunda secara “meng-satu”. “Meng-satu” bukan secara sederhana (rapi, tertib luarnya), melainkan secara kompleks, atau “tebal,” hingga tampak seperti ribuan jaringan laba-laba atau awan mendung tumpang-tindih berseliweran. Akan tetapi itu, menurut saya, adalah realitas.
Dengan demikian, secara kultural, penerjemahan bhinneka tunggal ika itu bukanlah “beraneka tetapi [harus] satu,” melainkan mungkin lebih baik dimaknai sebagai keber-banyak-an (beda) dan ke-satu-an (sama) adalah dua hal integral dalam suatu “ruh” (baca: semangat) kebudayaan. Ruang cyber (virtual, tetapi nyata), yang juga telah menjadi ruang hidupnya ruh budaya Sunda sekarang, merupakan misal dari kompleksitas itu. Ajaran-ajaran konstruktif (mendefinisikan) bergulung dengan yang sebaliknya. Ensiklopedia ala Britanicca, Oxford, dan Encarta, diimbangi oleh Wikipedia dan Wiki-Wiki yang lain, dan dalam pelbagai bahasa (termasuk Sunda); Linux mengimbangi Windows; dan lain-lainnya.
Dalam realitas yang semakin kompleks itu, serta semakin laju perubahannya, yang menjadi tantangan kita adalah dalam mengembangkan kecerdasan, kemampuan, untuk menghadapinya. Dunia tak mungkin dikembalikan pada ideologi “tertib dan rapi,” seperti halnya sistem demokrasi yang tak mungkin dikembalikan ke fasis otoriter, desentralisasi ke konstruksi sentral, internet ditertibkan-walaupun demokrasi adalah suatu sistem yang paling kompleks, sulit, dan “mahal.” Yang kita perlukan adalah tumbuhnya kemampuan, kecerdasan, dan kejujuran, yang tidak munafik, dalam menghadapinya. Itulah yang laiknya menjadi agenda bagi setiap kelompok sosial-budaya (geokultural) dan administrasi (geopolitik), karena kita tak akan bisa mengelak.
Alih-alih, yang jadi keprihatinan saya, mungkin kita semua, tahun demi tahun yang banyak dilakukan adalah seminar-seminar, yang tampak atau kedengarannya sangat baik, tetapi tak menghasilkan yang berarti, tak bisa dilihat gunanya. Seminar-seminar yang bertema “pembangunan” atau “pendidikan” moral, jati diri, karakter bangsa, dan lain-lain, hebat dan baik kedengarannya. Akan tetapi forum itu bak pertemuan keluarga, seperti untuk kangen-kangenan bernostalgia, dan secara administratif untuk menghabiskan anggaran tahunan. Yang tampaknya “baik-baik” itu tak ubah slogan-slogan yang tertulis dalam spanduk-spanduk di jalanan; atau hanya untuk membuat rumusan, mendefinisikan sesuatu tanpa pendalaman makna (tautologi); atau sebagai forum ekspresif mengungkapkan nostalgia romantik, kebanggaan masa lampau, keprihatinan masa kini, disertai menyalahkan pihak lain. Bagi saya, itu yang paling merisaukan: sementara terkepung oleh dunia kompleks, tetapi mengelak dengan mengambil jalan pintas “meng-gampang-kan”, tanpa kajian serius, dan kejujuran-keikhlasan. Sloganisme, tautologi, dan romantisme, menjadi media pelarian untuk menghindari kesulitan, excuse terhadap ketidakmampuan.
Sumber, Penulis: Endo Suanda, budayawan, pengamat seni tradisi. (Pikiran Rakyat)
Minggu, 02 Januari 2011
Iran Klaim Tembak Jatuh Pesawat Mata-mata Barat
Pesawat udara nirawak buatan Iran Karar saat diujicoba pertama kalinya tahun lalu.2 Januari 2011 -- (Berita HanKam): Komandan Kekuatan Udara Korps Pengawal Revolusi Iran Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh mengatakan pada Payam Engelab, publikasi internal Pengawal Revolusi, kekuatan Barat di kawasan telah melakukan agresi terbatas melawan Iran, dan kami (Iran) sejauh ini telah menembak jatuh sebagian besar pesawat udara nirawak (puna) mata-mata milik musuh, dikutip Fars News Agency (FNA), Minggu (2/1).
“Dua dari pesawat telah ditembak jauh di Teluk Persia” tambah Brigjen Hajizadeh.
Hajizadeh mengatakan Iran telah menembak jatuh banyak pesawat asing, tetapi tidak mengungkapkan pada media, "dan ini untuk pertama kalinya kami (Iran) mengungkapkan berita ini ".
Beliau menolak menyebutkan secara pasti tanggal dan lokasi kejadian.
Setelah menembak jatuh Pengawal Revolusi mencontek dan memproduksi pesawat dalam jumlah besar melalui merekayasa balik, tambah Beliau.
Iran kedua kalinya umumkan telah menembak pesawat Barat. Pada Januari 2007, Anggota Parlemen Seyed Nezam Mola Hoveizeh mengatakan ke FNA, bahwa pasukan militer Iran telah menembak jatuh pesawat mata-mata milik AD AS ketika mencoba melewati perbatasan.
Pada Mei 2010, KASAD Iran Mayor Jenderal Ataolah Salehi mengatakan unit pertahanan udara Iran mengusir pesawat intai militer AS ketika berusaha mendekati wilayah latihan perang AD Iran di Selat Hormuz dan Samudera India sebelah Utara.
Iran Siap Ekspor Rudal Pertahanan Udara
Rudal pertahanan udara buatan Iran S-200.Iran dapat mengekspor sistem pertahanan udara ke negara ketiga bila tidak ada masalah , diungkapkan Komandan Pangkalan Pertahanan Udara Khatam ol-Albia Brigadir Jenderal Ahmad Miqani pada Fars News Agency (FNA), Minggu (2/1).
Iran telah mengembangkan dan memproduksi sistem pertahanan udara lokal. Unit Pertahanan Udara Iran sukses menguji coba berbagai jenis sistem pertahanan anti pesawat udara, termasuk Tor-M1 dan S-200 saat digelar latihan udara skala nasional Velayat III pada November tahun lalu.
Sistem S-200 dirancang mempertahankan area luas dari serangan pemboman atau pesawat strategis lainnya pada ketinggian sedang atau tinggi. Setiap batalyon dilengkapi 6 peluncur rudal dan sistem kontrol penembakan. Sistem dapat dihubungkan dengan sistem radar jarak jauh lainnya. Jarak maksimal rudal 200 dan 350 km tergantung dari model.
Tor-M1 merupakan sistem pertahanan udara jarak dekat bergerak, ditujukan melumat pesawat sayap tetap dan rotari, puna dan rudal jelajah yang terbang antara ketinggian sedang dan sangat rendah.
Pemerintah Iran meluncurkan program pengembangan senjata buatan lokal setelah diembargo oleh Amerika Serikat pada era-1980an. Iran telah mampu memproduksi tank, kendaraan angkut pasukan, rudal dan jet tempur sejak 1992.
Sumber: Fars News Agency (FNA)
AU Rusia Akan Terima 100 Jet Tempur
Su-34 Fullback.2 Januari 2011 -- (Berita HanKam): Angkatan Udara Rusia akan menerima hingga 100 jet tempur Sukhoi hingga 2015, menurut juru bicara Kementrian Pertahanan Rusia Vladimir Drik, Minggu (2/1) dikutip kantor berita RIA Novosti.
Pemerintah telah meneken tiga kontrak dengan biro disain Sukhoi guna mengirimkan jet, ucap Drik.
50 unit jet tempur generasi 4++ Sukhoi Su-35 Flanker-E, lebih dari 10 Su-27SM Flanker dan 5 Su-30M2 Flanker-C akan diterima AU Rusia.
AU Rusia akan menerima juga 20 Sukhoi Su-34 Fullback dalam beberapa tahun kedepan, ungkap Drik.
Sabtu, 01 Januari 2011
Membaca Ambisi China di Lautan
Seorang tentara Angkatan Laut China berjalan melalui kapal rudal Varyag yang berada di dok Pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, China, 20 April 2010. Dalam waktu dekat, China akan meluncurkan kapal induknya yang dibangun dari kapal induk setengah jadi eks Ukraina. (Foto: Getty Images/Guang Niu)2 Januari 2011 -- (KOMPAS): Tahun 2011 akan menjadi tahun bersejarah bagi China. Jika tak ada perubahan rencana lagi, negeri Tirai Bambu itu akan meluncurkan kapal induk pertamanya, setahun lebih awal dari perkiraan.
Seorang pejabat pemerintah pusat China mengatakan kepada Reuters, kapal induk pertama China itu akan diluncurkan sekitar awal Juli. ”Periode sekitar tanggal 1 Juli, bersamaan dengan perayaan ulang tahun Partai Komunis, adalah salah satu kemungkinan waktu (peluncuran kapal) itu,” tutur pejabat yang meminta tak disebut namanya ini.
China akan menjadi negara ketiga di Asia, setelah India dan Thailand, yang memiliki armada kapal induk. Namun, jangan bandingkan kapal induk baru ini dengan INS Viraat (berbobot 28.700 ton dalam kondisi muatan penuh; panjang 226,5 meter) milik India atau HTMS Chakri Naruebet (11.486 ton; 182,65 meter) milik Kerajaan Thailand.
Kapal induk China—yang menurut Jane’s Fighting Ships akan diberi nama Shi Lang, yakni nama laksamana China dari Dinasti Qing pada abad ke-17—berbobot 67.500 ton dengan panjang 300 meter. Dibandingkan dengan kapal induk super (supercarrier) kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat, Shi Lang lebih pendek 32 meter.
Kapal ini dibangun dari bekas kapal induk Uni Soviet, Varyag, yang pembangunannya terhenti pada awal 1990-an seiring bubarnya negara adidaya komunis itu. Kapal ini sekelas dengan kapal induk Admiral Kuznetsov, yang masih menjadi satu-satunya kapal induk yang dioperasikan AL Rusia sampai saat ini.
Tahun 1998, sebuah perusahaan swasta Makau membeli kapal setengah jadi itu seharga 20 juta dollar AS dari Pemerintah Ukraina. Informasi awalnya, kapal ini akan dijadikan kasino terapung di pelabuhan Makau.
Namun, pada perkembangannya, kapal yang belum memiliki mesin, kemudi, dan perlengkapan komunikasi serta navigasi ini ternyata ditarik ke sebuah galangan kapal milik Pemerintah China di Pelabuhan Dalian, China timur laut.
Badan kapal yang mulai berkarat pun dibersihkan dan belakangan dicat dengan warna khas kapal-kapal Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. Diduga, China membangun sendiri kapal itu menjadi kapal operasional, sebagai bagian dari latihan sebelum memproduksi kapal induk yang 100 persen buatan China.
Jika disamakan dengan Admiral Kuznetsov, Shi Lang akan mampu mengangkut 41 pesawat, terdiri atas 17 pesawat sayap tetap (fixed-wing) sekelas Sukhoi Su-33 dan Sukhoi Su-25, dan 24 helikopter (rotary wing) sekelas Kamov Ka-27. China dikabarkan sudah memesan 50 pesawat Su-33, dengan spesifikasi mampu tinggal landas dari kapal induk, kepada Rusia.
Kapal ini belum menggunakan sumber tenaga nuklir dan tak memiliki sistem ketapel uap untuk meluncurkan pesawat, seperti kapal-kapal induk utama AS. Sebagai gantinya, di ujung geladak kapal dilengkapi dengan ski-jump, atau landasan yang menyudut ke atas, membantu pesawat ”meloncat” untuk mengudara.
Sebelumnya, Dinas Intelijen AL AS memperkirakan, kapal eks Varyag itu akan digunakan sebagai basis latihan pada 2012, sebelum China meluncurkan sendiri kapal induk buatannya setelah 2015. Menurut Michael Mazza, peneliti senior dari Center for Defense Studies (www.defensestudies.org), China berencana membangun empat kapal induk—dua kapal bertenaga nuklir dan dua kapal konvensional—dalam 15 tahun.
Peluncuran kapal induk berkekuatan penuh menandai era baru strategi militer China dan membuktikan ambisi lama negara itu untuk membangun kekuatan AL ”Laut Biru” (blue-water navy), yakni AL yang mampu beroperasi jauh ke tengah samudra, memproyeksikan kekuatan militer China jauh dari rumah.
Syarat keunggulan
Ambisi ini, menurut artikel yang ditulis Ian Storey dan You Ji di GlobalSecurity.org, sudah ada sejak era Laksamana Liu Huaqing, Panglima AL China dan Wakil Ketua Komisi Militer Sentral era 1980-an.
Menurut Liu, setelah China menguasai strategi ”Laut Hijau”, (kekuatan angkatan laut untuk mempertahankan laut teritorial dan garis pantai), China harus menguasai strategi ”Laut Biru”, dengan tujuan mampu memproyeksikan kekuatan hingga kawasan barat Samudra Pasifik.
Liu percaya, satu-satunya cara menjalankan strategi ”Laut Biru” adalah dengan memiliki armada kapal induk yang mampu membawa pesawat tempur, karena keunggulan di laut hanya bisa diraih melalui superioritas dari udara. Sementara gagasan pesawat yang tinggal landas dari wilayah China daratan dan dilanjutkan dengan mengisi bahan bakar di udara dianggap terlalu rentan dari serangan musuh yang mampu menerbangkan pesawat pemburu dari kapal induk mereka.
Namun, ambisi Liu ini tak bisa langsung dikerjakan waktu itu karena pada era 1980-an, Tentara Pembebasan Rakyat China masih konsentrasi menahan ancaman Uni Soviet. Baru setelah raksasa komunis itu bubar (1991), China bisa mengalihkan perhatian ke kawasan Laut China Selatan dan Taiwan.
China membutuhkan kekuatan laut yang tangguh untuk menghadapi konflik di kawasan selatan dan tenggara ini. Gagasan membangun AL ”Laut Biru” yang diperkuat kapal induk pun bangkit lagi.
Untuk mewujudkan ambisinya itu, China membeli tak kurang dari empat kapal induk bekas, yakni HMAS Melbourne dari Australia (dibeli tahun 1985) dan tiga kapal eks Uni Soviet/Rusia, yakni Minsk (1998), Varyag (1998), dan Kiev (2000). China berniat membangun sendiri kapal induknya dengan mempelajari rancang bangun kapal-kapal induk itu. Tawaran kontrak penjualan kapal induk dari Spanyol dan Perancis ditolak oleh China.
Sebelumnya, para pengamat militer menilai, proyek kapal induk China ini terlalu ambisius dan tak akan mampu berbuat banyak untuk menandingi armada kapal induk AS, satu-satunya potensi musuh utama China jika meletus konflik di Taiwan, Korea, dan Laut China Selatan. Alih-alih coba menandingi armada AL AS, pengamat memprediksi China akan menjalankan strategi perang asimetris, yakni dengan mengembangkan peluru kendali (rudal) pelumpuh kapal induk.
Generasi terbaru rudal balistik antikapal milik China, Dong Feng (Angin Timur) DF 21D, yang mampu melesat dengan kecepatan Mach 10 dan berdaya jelajah 3.000 kilometer, diperkirakan akan mulai diuji coba tahun ini dan akan operasional dalam 3-5 tahun mendatang.
Mengubah Asia Timur jauh
Namun, kabar bahwa China juga akan meluncurkan kapal induk pertamanya tahun ini membuktikan ambisi lama itu belum hilang dan pengembangan misil pembunuh kapal induk itu hanyalah satu bagian dari strategi besar China di lautan.
Meski China selalu berkilah program pengembangan militernya adalah untuk tujuan damai dan pertahanan diri, pengoperasian armada kapal induk oleh China tak bisa tidak akan mengubah peta kekuatan di kawasan Asia Timur-Asia Tenggara.
Mazza mengingatkan, kapal induk mewakili kemampuan memproyeksikan kekuatan, yakni membawa kekuatan militer keluar dari wilayah negara itu ke titik mana pun yang ia kehendaki. Jadi sudah tidak melulu menjadi kekuatan bertahan suatu negara.
Dengan klaim teritorial China terhadap Kepulauan Spratly dan Paracel di Laut China Selatan dan Taiwan, dukungannya terhadap Korea Utara, dan konflik teritorial panas dengan Jepang beberapa waktu lalu, pengoperasian armada kapal induk China akan makin menguatkan dugaan selama ini bahwa China tak akan ragu-ragu menggunakan ”diplomasi kapal perang” untuk memaksakan kehendaknya sebagai kekuatan dominan di kawasan.
Storey dan You menambahkan, negara-negara anggota ASEAN, terutama yang bersengketa langsung dengan China dalam urusan Spratly dan Paracel, akan memperkuat kerja sama militer dengan AS. Sementara Jepang hampir dapat dipastikan akan membangkitkan kembali program kapal induknya, yang pernah terbukti sangat menakutkan di era Perang Dunia II.
Kawasan Asia Timur Jauh pun memasuki realitas baru. Di tata dunia baru ini, akan berada di manakah posisi Indonesia?. (Dahono Fitrianto)
Sumber: KOMPAS
Jabatan Yonkav 3/ Tank Diserahterimakan
01 Januari 2011, Surabaya -- (ANTARA Jatim): Jabatan Komandan Batalyon Kavaleri 3/Tank diserahterimakan dari Letkol (Kav) Erwin Djatmiko kepada Letkol (Kav) Hirjianto Ningtias.
Upacara serah terima jabatan Komandan Yonkav 3/Tank itu dipimpin Penglima Kodam V/Brawijaya Mayjen TNI Gatot Nurmantyo, Jumat (31/12), sebagaimana siaran pers yang diterima ANTARA di Surabaya, Sabtu.
Erwin Djatmiko selanjutnya mendapatkan promosi jabatan sebagai Komandan Kodim 0821/Lumajang.
Yonkav 3/Tank memiliki semboyan "Tri Daya Cakti" yang berarti memiliki daya tembak, daya gerak, dan daya kejut.
Batalyon itu sebagai salah satu kesenjataan pokok TNI Angkatan Darat yang mempunyai ciri mobilitas dan fleksibilitas yang tinggi, komunikasi yang luas, dan mempunyai daya tembak yang cukup besar.
"Oleh sebab itu, setiap prajurit Yonkav 3/Tank sebagai awak dari persenjataan tersebut, harus senantiasa terampil, cerdas, berani, mempunyai daya tahan yang tinggi, baik secara fisik maupun mental, ini adalah salah satu ciri prajurit sejati yang harus terpancar pada diri prajurit-prajurit Kodam V/Brawijaya," kata Pangdam.
Gatot Nurmantyo dalam amanatnya mengatakan, mutasi dan pergantian pejabat di lingkungan Kodam V/Brawijaya seperti halnya pergantian Danyonkav 3/Tank ini merupakan hal yang biasa terjadi dalam rangka proses pembinaan personel dan satuan sesuai tuntutan perkembangan dan kebutuhan organisasi.
Selain itu, alih tugas dan jabatan bertujuan untuk mengembangkan kualitas kepemimpinan, wawasan manajemen, dan profesionalisme keprajuritan agar semakin mampu memberikan karya terbaiknya dalam melaksanakan tugas.
"Kami juga mengingatkan bahwa komitmen sebagai prajurit TNI, yaitu prajurit yang mengabdi secara total hanya kepada bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia," kata mantan Gubernur Akademi Militer.
Serah terima tugas dan tanggung jawab jabatan Komandan Yonkav 3/Tank itu ditandai dengan penyerahan pataka batalyon dari Pangdam kepada pejabat baru.
Sumber: ANTARA Jatim
Produksi Alat Perang Diharapkan Serap Tenaga Kerja
01 Januari 2011, Jakarta -- (Republika): Kerjasama Pemerintah Indonesia dengan negara luar dalam bidang produksi alat-alat perang, diharapkan mampu menarik tenaga kerja. Sampai saat ini yang sudah tampak menyerap tenaga kerja adalah proyek pembuatan Kapal Perang Perusak Kawal Rudal.
"Bisa menarik tenaga kerja 1.500 sampai 2.000 orang," ujar Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI I Wayan Midhio, saat dihubungi Republika, Sabtu (01/01). Pada tahun 2010 kemarin, kontrak kerja pembuatan kapal tersebut sudah ditandatangani oleh PT PAL dan Damen Schelde Naval Shipbuilding dari Belanda.
Kapal perang tersebut sudah mulai diproduksi sejak Agustus 2010 lalu. Produksi kapal ini akan dilakukan secara bertahap selama empat tahun. Sehingga paling tidak ada sekitar 1.500 sampai 2.000 orang tetap mempunyai pekerjaan hingga tahun 2014. Rencananya ada empat buah kapal yang akan diproduksi.
Bentuk kerjasama lain yang diharapkan mampu menarik lapangan kerja adalah pembuatan kapal selam di dalam negeri. "Sudah dirancang dan diupayakan kita bisa produksi kapal selam," kata Midhio. Pada tahun 2010, pihak Korea Selatan sudah menawarkan diri untuk bekerja sama memproduksi kapal selam itu. Turki juga menunjukan ketertarikan untuk bekerja sama. Diharapkan pada tahun 2011 ini, sudah ada kepastian dengan negara mana pembuatan kapal selam ini dilakukan.
Saat ini Indonesia memiliki dua kapal selam. Dengan kerjasama tersebut, kebutuhan enam kapal selam bisa terpenuhi. "Jadi empat tambahannya. Kalau jadi (kerjasamanya), pembuatannya akan multiyears, tidak sekaligus," kata Midhio.
Sumber: Republika
Mengenal Pengobatan Nabi
| Di antara maraknya praktik pengobatan alternatif, pengobatan cara Nabi Muhammad (thibbun al-Nabawi), merupakan metode yang banyak diminati. Salah satu cara pengobatan yang diminati masyarakat adalah bekam. Di Bandung sendiri terdapat tujuh cabang tempat terapi bekam yang tergabung dalam Asosiasi Bekam Rukyah Center, di antaranya terletak di Jalan Cinunuk, Cibiru, Bandung. Dalam Islam, ajaran tentang kesehatan dirujuk dari ayat Alquran dan Sunnah Nabi. Salah satu kitab yang memberikan penjelasan tentang pengobatan cara Nabi adalah kitab Al-Thibb al-Nabawi. Kitab ini ditulis oleh Ibn Qayyim Al-Jawziyah yang hidup di Damaskus antara tahun 1292-1350 Masehi. Kitab Al-Thibb al-Nabawi dalam versi Arab diterbitkan tahun 1992 oleh penerbit Dar al-Fikr, Beirut. Ibn Qayyim tidak belajar ilmu kedokteran (medis) secara khusus. Ia adalah seorang ulama yang mewarisi lembaga pendidikan terkenal di Kota Damaskus, bernama Al-Jawziyyah. Lembaga pendidikan ini dirintis ayahnya, Qayyim al Jawziyyah. Ia sendiri bernama Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub. Dalam riwayat pendidikannya, Ibn Qayyim pernah belajar kepada sejumlah ulama terkenal, satu di antaranya syaikhul Islam Ibn Taimiyyah. Dengan kapasitas keilmuannya tersebut, kelak Ibnu Qayyim melahirkan generasi ulama yang populer, seperti Ibn Katsir, penulis kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah. Kitab Al-Thibb al-Nabawi (Pengobatan Cara Nabi) bukanlah kitab pengobatan yang pertama dalam sejarah literatur Islam. Sebelumnya sudah ada beberpa kitab lain yang mengupas tentang cara pengobatan menurut ajaran Islam. Pada tahun 994 Hijriah, telah beredar kitab Al Kamil fi al-Shianaa yang ditulis Ali Ibn Al Abbas al Mijisi. Kitab ini konon merupakan kitab yang paling banyak dirujuk sebelum terbitnya kitab pengobatan lain yang lebih populer, yaitu Al-Qanun karya Ibnu Sina. Al-Qanun inilah yang kemudian banyak dibincangkan dan mewarnai kajian medis modern. Nama pengarangnya pun diabadikan dalam literatur Barat sebagai Avi Cenna. Kandungan kitab Al-Thibb al-Nabawi dapat dikategorikan menjadi tiga tema besar. Pertama, penjelasan mengenai pengobatan dengan obat alamiah. Cara ini bersumber pada kekayaan hayati dan nabati. Misalnya pengobatan dengan air, madu, dan susu. Ibn Qayyim menguraikan jenis pengobatan ini dalam tiga puluh lima pasal pada kitabnya tersebut. Kedua, penjelasan tentang perawatan dan terapi menggunakan kekuatan spiritual. Cara ini mengandalkan pada kekuatan nasihat dan hikmah yang dieksplorasi dari Alquran dan Sunnah Nabi. Cara pengobatan ini diperuntukkan bagi jenis penyakit yang bersumber dari hati (qalb). Penjelasan untuk model kedua ini ada sekitar 23 pasal. Ketiga, penjelasan tentang indikasi obat-obatan dan makanan yang disebutkan Nabi untuk mengobati penyakit dan penyembuhan. Kitab ini menguraikannya menjadi 132 pasal. | Dalam kitab ini juga diterangkan tentang definisi sakit. Dengan merujuk pada beberapa ayat Alquran dan Hadis Nabi, Ibn Qayyim mendefinisikan penyakit dengan mengaitkannya pada fungsi biologis dan spiritual dari hati (qalb). Konseptualisasi ini diturunkan dari hadis yang berbunyi, "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh dan jika rusak, rusak pula tubuh. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim). Ibn Qayyim membagi jenis penyakit menjadi dua macam, penyakit hati dan penyakit badan (fisik). Penyakit hati (psikis) hakikatnya merupakan gejala dari berbagai penyakit yang dirasakan orang yang sedang sakit. Jenis penyakit ini sulit dideteksi secara empiris medis. Misalnya orang yang mengeluh sakit, tetapi tidak ditemukan wujud penyakitnya. Menurut Ibn Qayyim, gejala ini muncul karena faktor eksternal dalam tubuh manusia, seperti rasa takut. Penjelasan ini dirujuk dari hadis Nabi bahwa penyakit hati memiliki indikasi seperti adanya rasa waswas, ragu, munculnya hasrat berlebih, serta kehendak melakukan penyelewengan dalam hati manusia. Dengan hadis itu, Ibn Qayyim membagi penyakit hati pada dua kelompok, rasa ragu dan waswas serta hasrat untuk berlaku menyimpang. Alquran banyak menjelaskan kategori penyakit ini. Misalnya orang munafik sebagai contoh orang yang berpenyakit hati. Jenis yang kedua adalah penyakit badan (organ tubuh). Sakit pada fisik terkait dengan kondisi hati. Jika hati dalam keadaan galau dan waswas akan bedampak pada tubuh fisik. Kesehatan tubuh juga terkait dengan kecukupan asupan pada tubuh. Selama kebutuhan asupan terpenuhi, tubuh dalam kondisi normal. Dalam organ tubuh manusia terdapat mekanisme pertalian (antibodi) untuk menjaga stabiltas tubuh. Mekanisme seperti buang air dan rasa lelah merupakan salah satu dari cara tubuh menjaga kestabilannya. Stabilitas tubuh dapat terganggu karena faktor internal seperti penyakit hati tadi serta faktor eksternal seperti masuknya racun, suhu udara yang ekstrim, dan luka fisik. Prinsip pengobatan Nabi bersifat integral (menyeluruh). Pengobatannya mencakup terapi tubuh sekaligus mental-psikis. Konsep integral ini terkait dengan hakikat manusia yang terdiri atas tubuh fisik dan mental psikis. Oleh karena itu, pengobatan cara Nabi bersifat holistik. Dalam praktiknya, pengobatan menyangkut dua bagian itu, yakni tubuh dan mental. Dalam terapi cara Nabi tidak hanya mengandalkan doa, apalagi hanya mengeksploitasi ayat Alquran menjadi jampi-jampi dan takhayul. Semestinya, proses pengobatan cara Nabi juga menyertakan tindakan yang bersifat medis, meskipun sederhana. Di antara tindakan medis yang diyakini sebagai warisan Nabi adalah bekam. |
Sumber: (Dede Syarif, peneliti Institut for Study Religion, Culture, and Public Affair, UIN Bandung. “Pikiran Rakyat”)
Langganan:
Postingan (Atom)