Kamis, 01 Juli 2010

Salam Kenal :D

Wuahh!!!
Akhirnyaaa...... Di Resmikan Juga Blog Ini
Meskipun Awut Awutan Gpplah Namanya Juga Belajar
hahah yang Penting Salam Kenal Aja :D

Sekilas Mengenai Saya
Nama : Ashshof "Sefords" Tedesco
Umur Sekarang : 15 Tahun. Tahun Depan 16. Depannya lg 17 ialah..
Hobi : Main Game Laa :D
Game Yang Sedang Di Mainkan : Online : PointBlank.. (tadinya CF tp gara gara ga jalan beralih deh T_T)
Offline : Prison Break Conspiracy, Toy Story 3, Blazeblue


ID-ID
Facebook : Ashshof Almuntaqo
Kaskus : AcHoF
Indowebster: Sefords
Fupei : Ashshof
PointBlank : Sefords

Sekian

Indonesia Bangun Kapal Kombatan

(Foto: Berita HanKam)

01 Juli 2010, Jakarta -- Indonesia akan membangun kapal perang jenis kombatan untuk mengawal perairan di kawasan timur. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro memaparkan, pengadaan kapal tersebut untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan di Indonesia.

Hal itu disampaikan Purnomo usai menerima penghargaan Bintang Yudha Dharma Utama dari Presiden di Jakarta, Kamis (1/7). Ia menjelaskan, saat ini Kementerian Pertahanan masih terus melakukan persiapan untuk melakukan pembangunan kapal perang tempur yang akan dilaksanakan di PT PAL Surabaya.

"Dalam waktu satu sampai dua bulan ini, kami persiapkan untuk membangun kapal perang kombatan terbesar yang kita punya," ujarnya. Kapal tersebut kelak akan ditempatkan untuk menjaga perairan kawasan timur Indonesia yang memiliki perairan terbuka yang luas.

Di tempat terpisah, Panglima Komando Lintas Militer (Kolinlamil) Laksamana Muda TNI Slamet Sulistiyono mengungkapkan, pihaknya memensiunkan enam kapal tua jenis angkut tank (landing ship tank).

"Enam kapal tank buatan Amerika tersebut rata-rata usianya 64 sampai 70 tahun. Meski sebenarnya masih cukup terawat, namun sudah waktunya untuk diganti," tuturnya usai upacara peringatan HUT ke-49 Kolinlamil di Markas Kolinlamil, Tanjug Priok, Jakarta.

Menurut Slamet, penghapusan kapal tua tersebut merupakan bagian dari kebijakan pembangunan menuju kekuatan pokok minimum TNI AL. Untuk pengadaan kapal baru saat ini masih dalam tahap perencanaan.

MI.com

Peserta Bintal Juang Remaja Bahari (BJRB) 2010 Kunjungi Marinir

Aksi sejumlah prajurit Taifib-1 Mar di atas truck. (Serda Mar Kuwadi)

Sejumlah prajurt Korps Marinir menembakkan merim How-105 mm. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Seorang prajurit Taifib-1 Mar membantu seorang peserta BJRB mencoba senjata Automatic Grenade Launcher (AGL) kaliber 40 mm. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Seorang peserta BJRB mencoba senjata NTW kaliber 20 mm milik Yontaifib-1 Marinir. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Seorang prajurit Taifib-1 Mar menerangkan tentang persenjataan kepada peserta BJRB. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Seorang peserta BJRB mencoba senjata Sniper milik Yontaifib-1 Marinir. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Seorang peserta BJRB mencoba senjata Truvelo kaliber 12,7 mm milik Yontaifib-1 Marinir. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

DPR Bicarakan Kerja Sama dengan Parlemen Eropa

Anggota Komisi I DPR RI bertatap muka dengan KBRI Belanda di Amsterdam. (Foto: KBRI Belanda)

30 Juli 2010, Jakarta -- Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Paskalis Kossay mengungkapkan, pihaknya berhasil membicarakan kerja sama antarparlemen dengan sejumlah mitra di Eropa yang menyangkut politik, pertahanan, ekonomi dan sosial-budaya.

"Selain degan parlemen Eropa urusan ASEAN di Brusel, Belgia, kami juga bertemu untuk meningkatkan kerja sama antarparlemen dengan legislatif Jerman di Berlin," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Kunjungan Kerja (Kunker) Komisi I DPR RI ke kawasan Eropa dipimpin ketua komisi, Kemal Azis Stamboel (Fraksi Partai Keadilan Sejahtera).

"Khusus di Jerman, sejumlah isu menarik di bidang politik, pertahanan, ekonomi dan sosial-budaya telah dibicarakan untuk menjadi bagian penting membangun kerja sama strategis dan saling menguntungkan," kata Paskalis Kossay.

Obyek Vital

Selain kunjungan ke parlemen Eropa dan Jerman, demikian Paskalis Kossay, pihaknya juga mengunjungi sejumlah obyek vital pertahanan di Belanda.

"Antara lain pabrik kapal `Damen` di Amsterdam, pabrik pembuatan kaca optik dan Pabrik Sandi Nasional "Sanneg". Ada banyak hal yang kami dapatkan dari sana, yang kiranya dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat sistem pertahanan nasional," katanya.

Selain ke Eropa, beberapa tim Komisi I DPR RI juga melakukan kunker ke sejumlah kawasan, antara lain, Timur Tengah, khususnya di Palestina (terutama kawasan Gaza) dipimpin Tubagus Hasanuddin (Fraksi PDI Perjuangan) dan Agus Gumiwang (Fraksi Partai Golkar).

Selain itu, ada tim yang melaksanakan kunker ke Australia dan sekitarnya yang diikuti, antara lain, Paula Sinjal (Fraksi Partai Demokrat).

ANTARA News

Raytheon Links Acoustic Sensor, Netted Combat System for Enhanced Counter Sniper Capability

(Photo: army.mil)

01 July 2010, MCKINNEY, Texas -- Raytheon Company (NYSE: RTN) has linked its Boomerang acoustic sensor and network-ready Long Range Advanced Scout Surveillance System to provide an enhanced counter sniper solution for the warfighter.

"Connecting Boomerang and netted LRAS3 is a plug-and-play operation that results in a powerful counter sniper capability," said Glynn Raymer, vice president, Raytheon Network Centric Systems Combat Systems. "Combined, these systems facilitate a slew-to-cue capability that places the high-performance LRAS3 'eyes' on the threat, day or night. The sniper then becomes the target with a number of prosecution alternatives available ranging from direct return fire to a digital call for fire via the network."

Raytheon first demonstrated its counter sniper solution at the May 2010 Armor Warfighting Conference. The demonstration showed the immediate value of linking two systems currently in the U.S. Army inventory – Boomerang, produced by Raytheon BBN Technologies, and LRAS3, made by Raytheon Network Centric Systems.

Boomerang provides bearing and elevation cues to the netted LRAS3. The sight operator can positively identify and geo-locate the sniper and send target location and image data with a push of a menu screen button.

"Boomerang delivers reliable sniper detection," said Mark Sherman, general manager, Boomerang. "With the LRAS3's strategic standoff surveillance and Boomerang's network-ready sensors, the soldier can locate and respond to the sniper threat immediately."

With production of net-ready sights ongoing, Raytheon is adding to more than 2,600 LRAS3 units delivered to date. Previous Block 1 systems can be upgraded in the field to include network communication capability.

Raytheon BBN Technologies, a wholly owned subsidiary of Raytheon Company, has delivered more than 5,000 Boomerang systems to the field.

Raytheon Company, with 2009 sales of $25 billion, is a technology and innovation leader specializing in defense, homeland security and other government markets throughout the world. With a history of innovation spanning 88 years, Raytheon provides state-of-the-art electronics, mission systems integration and other capabilities in the areas of sensing; effects; and command, control, communications and intelligence systems, as well as a broad range of mission support services. With headquarters in Waltham, Mass., Raytheon employs 75,000 people worldwide.

Raytheon Company

Sekjen Kemhan Tandatangani Sertifikat Tanah Lahan Markas Komando Pusat Misi Perdamaian TNI


01 Juli 2010, Jakarta -- Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto SIP, Kamis (1/7), di Kantor Kemhan, mengatakan bahwa penandatanganan dan penyerahan sertifikat serta pembayaran pertama tanah yang akan digunakan sebagai Markas Komando Pusat Misi Perdamaian TNI ini merupakan tahapan yang penting dalam suatu proses pembangunan kemampuan pertahanan.

Hal itu dikatakannya usai menandatangani penyerahan sertifikat tanah dan pembayaran pertama kepada Direktur PT Buana Estate yang akan digunakan sebagai lokasi Markas Komando Pusat Misi Perdamaian TNI. Sekjen Kemhan menjelaskan bahwa Di atas lahan ini akan dibangunnya Markas Komando Pusat Misi Perdamaian TNI yang akan digunakan sebagai tempat latihan dan standby pasukan bagi kepentingan operasi selain perang seperti penanggulangan bencana atau yang lainnya.

Dijelaskannya, proses awal pengambil-alihan lahan ini berawal dari keinginan Presiden RI untuk membangun markas komando sebagai tempat latihan telah dimulai sejak tahun lalu. Beberapa persiapan sudah dilaksanakan dari segi mempelajari lokasi kemudian mencari dan berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait.

Sekjen mengatakan, pada akhirnya Kementerian Pertahanan memilih daerah di Desa Hambalang Sukahati yang ada di Kabupaten Bogor ini menjadi tempat pembangunan Markas Komando Pasukan Perdamaian ini. Dan karena lahan ini adalah milik dari PT Buana Estate, maka terjadilah tahapan-tahapan dalam proses serah terima antara PT Buana Estate dengan Kementerian Pertahanan.

Pembangunan Markas Komando Pusat Misi Perdamaian ini adalah keinginan pemerintah agar peran Indonesia di mata dunia dapat ditingkatkan seperti halnya dengan negara-negara lain yang ikut berpartisipasi dalam perdamaian dunia. Hal ini juga didasari pada keinginan untuk membangun kemampuan TNI agar dalam menjalankan tugas dapat sesuai dengan keinginan PBB dan juga mempunyai kapabilitas seperti yang diharapkan.

Dalam sambutannya, Sekjen juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh Direksi PT Buana Estate yang telah ikut membantu dan menyukseskan keinginan pemerintah dalam membangun pusat misi perdamaian ini. Setelah ini menurutnya masih banyak tahapan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan proses pembangunan Markas Komando Pusat Misi Perdamaian ini.

Sekjen kemudian juga mengharapkan kerjasama dari seluruh pihak yang terkait untuk senantiasa memperhatikan setiap aspek dan setiap langkah ke depan sehingga tidak terjadi hal-hal yang berpotensi menjadi sebuah masalah baik saat ini maupun di masa yang akan datang dalam pembangunan Markas Komando ini dikaitkan dengan permasalahan lahan/tanah.

DMC

TNI Sebaiknya Tak Gunakan Hak Pilih

Seorang wanita membentang poster saat mengikuti aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis (1/7). Puluhan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Gerakan Melawan Amnesia Sejarah menggelar aksi memprotes wacana pemulihan hak pilih TNI dan menolak adanya pelanggar HAM yang menduduki posisi pejabat negara. (Foto: ANTARA/Ismar Patrizki/ss/mes/10)

01 Juli 2010, Jakarta -- Ketua umum Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional, Agum Gumelar, menilai sebaiknya TNI tidak menggunakan hak pilih.

"TNI itu alat negara, dan terikat pada Sapta Marga yang harus menjunjung tinggi kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi atau golongan," katanya, pagi ini.

Dikatakan, TNI adalah alat negara yang bertugas pokok menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Kalau ikut pemilu, dia bisa berpihak dan dimanfaatkan kepentingan politik, dan ini berpotensi menimbulkan perpecahan," katanya.

Dijelaskan, prajurit TNI adalah alat negara untuk mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Sebagai pengaman seluruh masyarakat, sudah selayaknya TNI netral dalam politik. TNI tidak boleh berpihak," ujarnya.

TNI menyatakan, penggunaan hak pilih sangat tergantung pada keputusan politik. "Kita berpedoman pada UU No34/2004 tentang TNI dan UU Pemilu," katanya.

Berdasar UU No34/2004 TNI tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik praktis sebagai salah satu agenda reformasi internal TNI.

Pengembalian hak pilih TNI/Polri rentan perpecahan

Analis politik Universitas Gadjah Mada, Hasrul Hanif, menilai pengembalian hak pilih TNI/Polri pada Pemilu 2014 masih sangat rentan menimbulkan perpecahan baik di kedua institusi itu maupun di partai politik.

"Banyaknya partai politik memungkinkan setiap pihak dari TNI/Polri akan berafiliasi di dalamnya dan tanpa kesiapan akan rentan terhadap friksi," katanya, tadi malam.

Hasrul masih meragukan kesiapan dari institusi TNI/Polri dan juga partai politik sipil dalam menerima hak pilih TNI/Polri. Apalagi, katanya, adanya partai politik yang dipimpin oleh para pensiunan jenderal, tentu hal itu akan berpengaruh di dalamnya.

Jadi, katanya, pengembalian hak pilih itu sebaiknya menunggu sampai TNI/Polri saat ini benar-benar telah profesional dan dipimpin oleh mereka yang dididik pada era reformasi.

Ditambahkan, pada prinsipnya hak memilih dan dipilih merupakan hak dasar warga negara termasuk anggota TNI/Polri. Tetapi ada konteks yang kemudian mengecualikan hal itu, sehingga perlu adanya penundaan pemberian hak pilih tersebut pada 2014.

Dikatakan, sejarah panjang generasi militer yang terlibat jauh dalam kebijakan politik pada masa Orde Baru masih cukup mengakar hingga saat ini.

"Generasi-generasi dari pimpinan yang muncul saat ini merupakan hasil dari pendidikan di masa Orde Baru yang tentu saja masih memiliki keterkaitan sejarah dengan masa lalu," katanya.

Untuk itu, menurutnya, perlu ditunda hingga munculnya generasi-generasi baru yang benar-benar terlepas dari sejarah Orde baru.

"Semua orang sepakat untuk memberikan hak pilih TNI/Polri, tapi sampai kapan? Yakni sampai generasi yang dididik dengan dwifungsi itu selesai, dan dipimpin oleh tentara profesional. Di sinilah membuka TNI/Polri untuk masuk," katanya.

Waspada