Kamis, 01 Juli 2010

Menhan: TNI Belum Gunakan Hak Pilih

(Foto: matanews)

01 Juli 2010, Jakarta -- Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro TNI belum saatnya menggunakan hak pilih, mengingat tugas pokoknya sebagai alat pertahanan negara. "Sebagai alat pertahanan negara, sesuai UU No34/2004 tentang TNI, maka sebaiknya TNI tetap menjaga netralitasnya," katanya, usai menerima Bintang Kehormatan Yudha Dharma Utama di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan, "Kalau pada posisi sekarang ini maka TNI harus netral. UU secara tegas menyebutkan bahwa TNI netral," .

Menurut Purnomo, ada tiga komponen yang harus didengarkan pendapatnya atau sikapnya terkait boleh atau tidak TNI mempunyai hak pilih. Pertama, rakyat harus ditanyakan, apa sikapnya terhadap wacana hak pilih TNI. Kedua, TNI sendiri harus ditanyakan, apa pendapatnya.

"Kalau ditanya kepada TNI sekarang ini, saya kira belum siap. Masih perlu kajian-kajian,? katanya.

Ketiga, harus ditanyakan dan mendengarkan pendapat dari para pemegang mandat rakyat yaitu Presiden dan DPR.

"Ketiga komponen ini penting didengarkan pendapatnya," katanya.

Tentang kemungkinan merevisi UU No34/2004 terkait hak pilih TNI, Purnomo mengatakan, hal iu tidak mudah untuk dilakukan.

"Kalaupun ada keinginan merevisi UU 34/2004, kendalanya adalah apakah sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) atau tidak. Untuk tahun 2010 ini, tidak ada (dalam Prolegnas). Tahun 2011 tampaknya juga belum," demikian Purnomo.

ANTARA News

Tujuh KRI Kolinlamil Segera Istirahat

KRI Teluk Bone (511) salah satu kapal perang jenis LST yang akan dimusnahkan karena faktor usia. (Foto: Dispenal)

10 Juli 2010 -- Hari ini, 1 Juli 2010 Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) memperingati HUT ke-49. Selama kurun waktu itu telah banyak pengabdian, sumbangsih, dan kiprah yang dilakukan Kolinlamil dan jajarannya, terutama dalam pelaksanaan operasi militer selain perang. Seperti instansi yang lain, Kolinlamil juga dihadapkan dengan anggaran terbatas dari pemerintah, sehingga masih mengoperasikan kapal-kapal perang tua. Untuk mengetahui persoalan yang dihadapi Kolinlamil, Pelita melakukan wawancara dengan Panglima Kolinlanil Laksamana Muda TNI Slamet Yulistiyono, pekan lalu.

Wilayah yang menjadi tanggung jawab Kolinlamil sangat luas, sementara kapal perang atau KRI yang dioperasionalkan Kolinlamil terbatas. Demikian pula anggaran pemerintah juga masih terbatas, bagaimana Kolinlamil bisa melaksanakan tugas yang diembankan pemerintah agar tugas itu bisa terlaksana dengan baik?
Memang anggaran yang disiapkan pemerintah terbatas. Tapi, hal itu bukan berarti Kolinlamil lantas tidak berbuat apa-apa. Dengan keterbatasan yang ada, Kolinlamil berusaha keras untuk mengoperasionalkan unsur-unsur kapal perang yang disiapkan komando atas secara maksimal.

Kalau boleh tahu, berapa kapal perang saat ini yang dioperasionalkan oleh Kolinlamil dan jajarannya?
Untuk sementara ada 18 kapal peramg. Tujuh di antaranya akan diistirahatkan, karena telah dioperasikan lebih dari 60 tahun. Nah, kapal-kapal tua itu nantinya akan diisi dengan kapal-kapal baru yang perencanaannya disesuikan dengan anggaran pemerintah.

Dengan masih dioperasikannya kapal-kapal tua dan segera diistirahatkannya sebanyak tujuh unit kapal perang, apa tidak mengganggu kinerja dan operasional Kolinlamil?

Dalam kondisi sekarang, semua tugas pokok Kolinlamil bisa dilaksanakan dengan baik. Yang perlu diantisipasi adalah jika terjadi bencana alam yang sewaktu-waktu terjadi. Karena kapal-kapal Kolinlamil, selain untuk mengangkut pasukan dan menggeser personel ke daerah operasi dan pulau-pulau terdepan Indonesia, juga digunakan untuk mengangkut bantuan bagi korban bencana alam, seperti untuk mengangkut logistik dan material pada saat terjadi bencana alam.

Pimpinan TNI dan Angkatan selalu mengingatkan tentang pentingnya zero accident, tentu hal itu termasuk di Kolinlamil. Bagaimana Panglima Kolinlamil menyikapi hal itu, terutama dikaitkan dengan kapal-kapal yang sudah tua?

Ya, kewaspadaan seluruh anak buah kapal tentu harus ditingkatkan dan agar bisa menguasai setiap detil peralatan yang ada. Karena kapal-kapal tua, faktor risikonya lebih tinggi. Karena itu alat keselamatan, alat pemadam kebakaran, dan mengatasi kebocoran harus diutamakan. Secara terus menerus dilatihkan dan dikontrol, agar para anak buah kapal menguasainya dan peralatan siap digunakan.

Teroris terus berusaha untuk melakukan serangan. Juga tidak tertutup kemungkinan teroris menargetkan Alutsista TNI Angkatan Laut, termasuk Kolinlamil. Bagaimana jajaran Kolinlamil mengantisipasi hal itu?
Kami mengutamakan deteksi aparat intelijen dan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak guna mengantisipasi kemungkinan serangan teroris. Kewaspadaan harus selalu ditingkatkan sesuai dengan kemampuan. Salah satu latihan yang kami lakukan di jajaran Kolinlamil adalah melakukan latihan lawan sabotase bawah air.

Beberapa waktu lalu ada kabar bahwa Kolinlamil harus pindah markas, karena lahannya akan digunakan kepentingan lain. Benarkah hal itu?

Kami sampai sekarang masih tetap di sini. Perlu diingat bahwa keberadaan Markas Kolinlamil di sini sangatlah strategis dan merupakan save house jika terjadi apa-apa di Jakarta. Nggak ada tempat lain, kecuali di Kolinlamil.

Pelita

DARPA Tasks Northrop Grumman to Demonstrate Autonomous Aerial RefuelingTwo Global Hawk UAVs Will Accomplish a World's First

01 July 2010, SAN DIEGO -- DARPA announced the award of a $33 million contract to Northrop Grumman Corporation (NYSE:NOC) to demonstrate aerial refueling of a NASA Global Hawk unmanned aerial vehicle (UAV) by a sister ship. The program will be designated KQ-X.

Northrop Grumman will retrofit two of the high altitude long endurance (HALE) UAVs, one aircraft pumping fuel into the other in flight through a hose-and-drogue refueling system. The aerial refueling engagement will be completely autonomous.

"Demonstrating the refueling of one UAV by another is a historic milestone," said Carl Johnson, vice president, Advanced Concepts for Northrop Grumman Aerospace Systems. "It adds aerial refueling to the list of capabilities that can be accomplished autonomously by Global Hawks; it opens the door to greatly expanded operational utility for UAVs; and, as a side benefit, it promises to increase the safety and reliability of aerial refueling between manned aircraft by reducing pilot workload."

There are several revolutionary aspects to the KQ-X program. Not only will the aerial refueling be autonomous, but since Global Hawks are HALE UAVs, it will also take place at a much higher altitude than has been previously demonstrated with manned aircraft. It will also be the first time that HALE UAVs have flown in formation.

"The importance of aerial refueling is clear in the way military aviation depends on it today," said Jim McCormick, the DARPA program manager for KQ-X. "This demonstration will go a long way towards making those same advantages a reality for the next generation of unmanned aircraft."

Engineering work will be accomplished at the Northrop Grumman Unmanned Systems Development Center in Rancho Bernardo, California. Pilots from NASA, NOAA, and Northrop Grumman will fly the Global Hawks from the NASA Dryden Flight Research Center at Edwards Air Force Base, also in California. Sargent Fletcher, Inc. and Sierra Nevada Corporation are major KQ-X subcontractors.

Northrop Grumman Corporation is a leading global security company whose 120,000 employees provide innovative systems, products, and solutions in aerospace, electronics, information systems, shipbuilding and technical services to government and commercial customers worldwide. For more information visit www.northropgrumman.com

Northrop Grumman Corporation

TNI Musnahkan Enam Kapal Perang Tahun Ini


01 Juli 2010, Jakarta -- TNI Angkatan Laut akan segera memusnahkan enam kapal jenis Landing Ship Tank (LST) tahun ini, sebagai bagian dari program peremajaan alat utama sistem senjata matra laut.

Keenam kapal LST itu berada di Komando Lintas Laut Militer Kolinlamil TNI Angkatan Laut.

"Enam kapal LST dan LDP itu sudah rata-rata usia 64-70 tahun. Kapal ini sudah saatnya diganti," kata Panglima Kolinlamil Laksamana Muda TNI Slamet Sulistiyono, usai upacara peringatan HUT ke-49 Kolinlamil di Markas Kolinlamil Tanjung Priok Jakarta, Kamis.

TNI AL akan "mempensiunkan" beberapa kapal perangnya yang sudah berusia tua dan tidak laik untuk dioperasikan.

"Kami masih melakukan pemilahan, pengkajian kapal-kapal mana saja yang akan dimusnahkan, yang jelas kapal yang akan dimusnahkan itu buatan tahun 1942," katanya.

Keenam LST itu antara lain, KRI Teluk Langsa 501, KRI Teluk Bayur 502, KRI Teluk Kau 504, KRI Teluk Tomini 508, KRI Teluk Ratai 509, KRI Teluk Saleh 510 dan KRI Teluk Bone 511 eks AL Amerika Serikat buatan tahun 1942-1945.

Dari kapal-kapal itu diantaranya digunakan dalam operasi amphibi di pantai Normandia saat Perang Dunia ke-2.

Menurut Slamet, enam kapal tua yang akan dimusnahkan masih dapat dioperasikan hingga akhir tahun ini. Mesin kapal masih cukup terawat.

"Karena pertimbangan usia kapal sudah tua, maka harus dipensiunkan. Inipun sudah menjadi kebijakan TNI Angkatan Laut," ujar Slamet.

Keenam LST tersebut akan digantikan kapal sejenis buatan PT PAL.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama PT PAL Harsusanto mengatakan, hingga 2014 telah mendapatkan kontrak dari Kementerian Pertahanan dan TNI AL untuk membuat beberapa kapal.

Diantaranya, dua kapal selam, dua kapal perusak kawal rudal (PKR), 11 unit KCR-40, tujuh unit kapal angkut tank (AT/LST), 17 unit tank amfibi, dan 25 unit peningkatan kemampuan kapal-kapal perang TNI Angkatan Laut.

HUT Kolinlami dihadiri Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat Laksda TNI Marsetio, Komandan Lantamal III Jakarta Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul, Kepala Staf Armabar Laksma TNI Didit Herdiawan dan beberapa mantan Panglima Kolinlamil, sepert Laksda (Purn) R Ompusunggu, Laksda (Purn) Bambang S dan Laksda (Purn) JFA Manengke.

ANTARA News

9000 Prajurit Perbatasan Dapat Tunjangan Khusus

Prajurit Korps Marinir yang teragabung dalam Satgasmar Ambalat X dengan Komandan Satgas Kapten Marinir Imam Syafii memasuki lapangan apel Yonif-1 Mar, Jl Teluk Bayur 62, Surabaya. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

01 Juli 2010, Jakarta -- Sebanyak 9.000 prajurit TNI yang bertugas di daerah perbatasan, dalam waktu dekat, segera menerima tunjangan. Tunjangan khusus ini akan segera direalisasikan begitu keluarnya Peraturan Presiden (perpres).

"Prosesnya sudah selesai dan tidak lama lagi anggaran bisa direalisasikan. Perpresnya mungkin keluar satu dua minggu ini. Tunjangan khusus ini untuk mendorong agar prajurit lebih bersemangat menjaga perbatasan kita," ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai upacara penganugerahan Bintang Yudha Utama yang diterima Purnomo dari Presiden RI di Jakarta, Kamis (1/6).

Dalam kesempatan tersebut, selain Purnomo, Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Budi Susilo Soepandji mendapat anugerah Bintang Yudha Dharma Nararya. Tunjangan yang diberikan, lanjut dia, terhitung sejak 1 Januari 2010.

Besarnya tunjangan dibagi ke dalam tiga kategori. Pertama untuk para prajurit yang tinggal di garis perbatasan di pulau terluar yang tidak berpenduduk mendapat tunjangan sebesar 150% dari gaji yang diterima setiap bulannya. Untuk prajurit di pulau terluar yang berpenduduk mendapatkan 100% dari gaji. Untuk yang patroli mendapat 50% dari gajinya.

Dalam kesempatan yang sama, Purnomo menegaskan keyakinannya bahwa kekurangan anggaran pertahanan sebesar Rp50 triliun hingga 2015 dapat diatasi. "Menurut estimasi, perekonomian Indonesia akan membaik pada 2014 sehingga bisa mengangkat bujet pertahanan," imbuhnya.

TNI sinergikan pengamanan pulau terluar

Sinergi antarkesatuan dalam melakukan pengamanan terhadap pulau-pulau terluar di Sumatera Barat, seperti gugusan kepulauan di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai akan dilakukan Korps TNI.

Komandan Pangkalan Udara Tabing, Padang, Letkol (Pnb) Awang Kurniawan, Kamis (1/7/2010) mengatakan selama ini pihak TNI AU secara rutin melakukan patrol udara untuk mengawasi kawasan-kawasan tersebut.

"Jika memang ada yang perlu ditindaklanjuti, bisa dilanjutkan dengan (koordinasi) pada Koarmabar (Komando Armada RI Kawasan Barat) sebagai Kotama (Komando Utama) TNI," sebut Awang.

MI.com/KOMPAS.com

83 Kadet AAL Susul Dewaruci di Spanyol


01 Juli 2010, Surabaya -- Sebanyak 83 kadet Akademi Angkatan Laut (AAL) bergabung dengan awak Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dewaruci yang sedang singgah di pelabuhan Malaga, Spanyol.

Kepala Bagian Penerangan AAL, Mayor Laut (Kh) Jamaluddin, di Surabaya, Kamis, mengatakan, para kadet itu merupakan pasukan susulan.

Mereka bertolak dari Tanah Air menuju Malaga dengan menggunakan jalur udara. "Sekarang mereka sudah bergabung dengan awak KRI Dewaruci lainnya," katanya.

Sebanyak 83 kadet itu saat ini tercatat sebagai kadet tingkat III Angkatan ke-57 yang terdiri atas korps pelaut sebanyak 26 orang, korps teknik (19), korps elektro (14), dan korps suplai (10).

Kedatangan 83 kadet AAL itu diterima Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Suharto sekaligus Komandan Satuan Tugas (Satgas) Kartika Jala Krida.

"Mereka juga langsung mengadakan "courtesy call" kepada Dubes RI," kata Jamaliddin.

Selama berada di Malaga, mereka akan melakukan pertandingan persahabatan dengan tim sepak bola Angkatan Udara Spanyol.

Mereka juga akan menggelar kesenian kadet yang dihadiri oleh Dubes RI untuk Spanyol, Maroko, dan Portugal.

Selanjutnya mereka akan melakukan pelayaran selama 93 hari dengan rute Malaga (Spanyol), Cherbourg (Perancis), Antwerp (Belgia), Alborg (Denmark), Kristiansand (Norwegia), Hartlepool (Inggris), Brest (Prancis), Amsterdam (Belanda), Bremerhaven (Jerman), Cagliari (Italy), Alexandria (Mesir), Jakarta, dan kembali lagi ke Surabaya.

Dalam mengarungi rute tersebut, para kadet akan mengikuti beberapa perlombaan pelayaran internasional, di antaranya "The Tall Ships Race 2010" di Aalborg, Denmark), "Sail Amsterdam Festival" di Bremerhaven, Jerman, dan "Festival Internationationale Mediterrneo E Velieri" di Cagliari, Italia.

ANTARA Jatim

Pangdam XII Tanjungpura Akan Evaluasi Pengamanan Perbatasan

01 Juli 2010, Pontianak -- Panglima Komando Daerah Militer XII Tanjungpura, Mayor Jenderal TNI Moeldoko, menyatakan bahwa akan mengevaluasi pengamanan di kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Barat.

"Dalam waktu dekat saya akan mengevaluasi pengamanan dan penjagaan kawasan perbatasan oleh TNI dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Moeldoko di Pontianak, Kamis.

Ia menyatakan, dalam melakukan evaluasi itu, terlebih dahulu melakukan pendekatan dan berdialog dengan tokoh-tokoh masyarakat Kalbar untuk tukar-menukar pendapat terkait pengamanan di sepanjang kawasan perbatasan.

"Setelah selesai evaluasi baru saya akan melaporkan yang sesungguhnya kepada pimpinan," katanya.

Saat ini untuk perbatasan Indonesia - Malaysia Timur di wilayah Kalbar sepanjang 857 kilometer telah berdiri sekitar 31 pos pengamanan.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI George Toisutta saat melakukan kunjungan kerja di Pontianak, Januari 2010 menyatakan, pembentukan Kodam XII Tanjungpura di Kalbar bukan upaya menandingi kekuatan negara tetangga seperti Malaysia di kawasan perbatasan.

"Mungkin pemikiran lama seperti itu. Karena kalau kita berhadap-hadapan maka akan ada perlombaan persenjataan," Katanya.

Ia menjelaskan, saat ini pemerintah Indonesia mempunyai kebijakan, yaitu semua anggaran difokuskan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kalaupun dibentuknya Kodam XII Tanjungpura di Kalbar, merupakan suatu kebutuhan, mengingat luasnya wilayah dan pertumbuhan penduduk. "Tidak ada kaitannya dengan menandingi kekuatan Malaysia," ujarnya.

TNI AD mempunyai tugas untuk menjaga keutuhan wilayah kedaultan darat, terutama kawasan perbatasan Indonesia (Kalbar) - Malaysia.

"Tidak ada urusannya dengan negara tetanga, yang penting keutuhan NKRI bisa terjaga," kata George.

ANTARA News