Rabu, 02 Desember 2009

India dan Rusia Negosiasikan Kembali Harga Gorskov

Kapal induk Admiral Gorshkov. (Foto: RIA Novosti)

2 Desember 2009 -- Menteri Pertahanan India A.K. Antony mengatakan pada Parlemen India Senin (30/11), Rusia telah menyerahkan jadwal yang sudah diperbaharui yang mengindikasikan penundaan dan kenaikan harga untuk perbaikan dan mempersenjatai kembali kapal induk Admiral Gorshkov, tetapi belum diperoleh sebuah kesepakatan antara India dan Rusia.

Pemerintah India telah menyetujui dilakukan negosiasi untuk memperoleh kontrak final untuk perbaikan dan melengkapi kembali kapal induk tersebut. Harga akhir diketahui setelah negosiasi selesai dilakukan.

Sebuah sumber di Angkatan Laut India pada September lalu, mengatakan sebuah penyelesaian telah dicapai.

AL India mendapatkan kapal induk Admiral Gorshkov dari Rusia secara percuma tetapi India harus membayar biaya perbaikan. Berdasarkan kontrak 2004, India akan membayar 1,5 milyar dolar untuk pembelian 16 jet tempur MiG-29K yang akan ditempatkan di kapal induk serta sekitar 700 juta dolar untuk perbaikan kapal induk.

Awal 2009, Moskow meminta kenaikan biaya perbaikan hingga menjadi 1,6 milyar dolar dimana AL India menolak permintaan tersebut.

Ketidakpastian kesepakatan harga perbaikan mengakibatkan tertundanya pengiriman kapal induk ke AL India. AL India terancam tidak memiliki kapal induk, INS Viraat (eks HMS Hermes) satu-satunya kapal induk di AL India telah berusia 50 tahun dan dijadwalkan dipensiunkan sekitar 2011 – 2012.

Saat ini India sedang membangun kapal induk di galangan kapal dalam negeri.

Defense News
/@info-terkumpul

Reformasi TNI Sangat Kompleks

(Foto: tnial.mil.id)

2 Desember 2009, Jakarta -- Reformasi Tentara Nasional Indonesia merupakan hal yang sangat kompleks. Oleh karena itu, selain membutuhkan waktu, proses ini juga membutuhkan keputusan politik yang jelas.

”Reformasi tidak mungkin sekaligus selesai. Reformasi berhubungan dengan kesejahteraan prajurit. Sementara kesejahteraan prajurit berhubungan dengan disiplin dan daya juang,” kata Wiranto, mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Selasa (1/12), sebelum diskusi ”Indonesia Politics and Legal Issues” di Ary Suta Center.

Wiranto menilai reformasi TNI memang belum selesai. Namun, menurut dia, reformasi itu sudah berjalan pada jalur yang benar. Salah satu parameter tengah berjalannya reformasi tersebut adalah banyak posisi di pemerintahan yang dulu mutlak dipegang oleh TNI kini dipegang oleh sipil. Demikian juga dengan peran sosial dan politik, menurut Wiranto saat ini TNI sama sekali sudah tidak campur tangan. ”TNI berfokus pada fungsi pertahanannya,” kata Wiranto.

Kepala Pusat Penerangan TNI Marsda TNI Sagom Tamboen dalam e-mail-nya kepada Kompas mengomentari berita ”Reformasi TNI Belum Selesai”, Selasa (1/12), mengatakan, pasal dalam UU Nomor 34/2004 tentang TNI memang belum bisa dioperasionalkan karena memerlukan penjabaran atau aturan pelaksanaan.

Mengenai rencana penambahan kodam di Papua, Sagom menyatakan, hal itu baru merupakan wacana yang akan didahului dengan kajian secara bertingkat, mulai dari Mabes TNI AD serta Mabes TNI/Dephan RI. Sementara itu, rencana penambahan kodam di Kalimantan sudah dibahas dengan DPR sejak periode 2004-2009 hingga DPR 2009-2014. ”TNI tidak mungkin menambah kodam tanpa persetujuan rakyat melalui wakilnya di DPR,” kata Sagom.

Sagom juga membantah pernyataan Agus Widjojo bahwa TNI hanya menangani isu pertahanan yang berhubungan dengan ancaman militer dari luar negeri.

Menurut Sagom, hal ini bertentangan dengan konstitusi. Menurut dia, undang-undang jelas mengamanatkan bahwa TNI sebagai alat pertahanan negara berfungsi untuk menangkal dan menindak setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri yang dilakukan melalui operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang.

Saat dihubungi Kompas, Agus Widjojo menekankan, TNI berfungsi untuk menangkal dan menindak ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri, tetapi ada prosedur yang harus diikuti, seperti keputusan politik atau pernyataan darurat militer.

KOMPAS

AU India Hentikan Penerbangan Sukhoi


2 November 2009 -- Angkatan Udara India menghentikan penerbangan 100 jet tempur Sukhoi SU-30 MKI Flanker-H setelah insiden jatuhnya satu Sukhoi di Jaisalmer, Rajasthan , Senin (1/12).


Juru bicara AU India mengatakan penghentian penerbangan prosedur normal hingga diketahui penyebab jatuhnya.

Insiden jatuhnya Sukhoi AU India untuk kedua kalinya pada tahun ini. Sebelumnya April kemarin, Sukhoi jatuh di bagian Barat India menewaskan ko-pilot.

RIA Novosti/@info-terkumpul

1.136 Personel TNI Kembali Dari Lebanon

Panglima TNI Jenderal TNI Doko Santoso (kiri) menyalami sejumlah prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) misi PBB UIFIL di Libanon setibanya di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (2/12). Pasukan yang telah bertugas selama setahun itu terdiri dari Satgas Mekanis Konga 23C, Satgas Military Police Unit Konga 25A, Satgas Force Head Quarter Supporting Unit Konga 26A. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)

2 Desember 2009, Jakarta -- Sebanyak 1.136 personel TNI kembali ke Tanah Air setelah menjalani misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan dalam payung UNIFIL selama satu tahun.

Personel TNI itu disambut kedatangannya dengan sebuah upacara militer yang dipimpin langsung Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso di Mabes TNI, Jakarta, Rabu.

Para prajurit itu terdiri atas Kontingen Garuda XXIII-C sebanyak 850 orang, Kontingen Garuda XXV-A sebanyak 75 orang, Kontingen Garida XXVI-A yang berjumlah 200 orang dan staf UNIFIL sebanyak sebelas orang.

Panglima TNI pada kesempatan itu menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh prajurit yang telah mengemban tugas dalam misi perdamaian PBB dengan penuh dedikasi dan loyalitas tinggi.

Setelah bertugas selama 13 bulan di Libanon, pasukan perdamaian yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda kembali ke tanah air. (Foto: detikFoto/Ramadhian Fadillah)

Satgas TNI Kontingen Garuda tersebut terdiri dari Satgas Konga XXIII-C, Satgas POM TNI Konga XXV-A dan Satgas FHQSU Konga XXVI-A. (Foto: detikFoto/Ramadhian Fadillah)

Sejumlah prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) misi PBB UIFIL di Libanon meneriakan yel-yel setibanya di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)

"Saya ucapkan selamat datang, dan selamat bergabung kembali dengan satuan induk masing-masing. Terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tinggi atas dedikasi dan loyalitas yang kalian tunjukkan selama menjalankan misi tersebut," kata Djoko.

"Keikutsertaan TNI dalam penugasan misi perdamaian PBB merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan internasional yang tinggi tidak saja kepada TNI tetapi juga bangsa dan negara Indonesia.

Karena itu, lanjutnya, sudah seharusnya penghargaan, penghormatan dan kepercayaan itu ditindaklanjuti dengan melaksanakan tugas dan amanah dengan dedikasi, loyalitas dan profesionalitas tinggi.

Djoko mengatakan, keikutsertaan TNI dalam setiap misi perdamaian PBB merupakan bentuk komitmen Indonesia dalam menjalankan amanat UUD 1945 untuk mewujudkan perdamaian dunia dalam kerangka politik luar negeri bebas aktif.

"Keikutsertaan TNI juga dilandasi UU No34/2004 tentang TNI dan UU No3/2002 tentang Pertahanan Negara," katanya.

Panglima TNI menyatakan tugas menjaga perdamaian dunia adalah luhur dan mulia, sekaligus membanggakan, karena tidak saja mengangkat citra TNI tetapi juga citra bangsa dan negara Indonesia.

ANTARA News

Kedatangan Tiga Sukhoi dari Rusia Tertunda


2 Desember 2009, Jakarta -- Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Madya TNI Imam Sufaat mengungkapkan bahwa kedatangan tiga pesawat jet tempur Sukhoi dari Rusia, tertunda dari jadwal semula Desember 2009 dan Januari 2010 menjadi Oktober 2010.

"Tertundanya kedatangan tiga Sukhoi tersebut dikarenakan masalah administrasi," katanya ketika dikonfirmasi ANTARA usai menghadiri upacara penyambutan 1.136 personel TNI dari Lebanon di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, tiga Sukhoi yang dipesan TNI AU itu adalah jenis SU-27SKM. "Tetapi kami berharap sebelum Oktober 2010, ketiga pesawat sudah dapat tiba di Indonesia," ujar Kasau menambahkan.

Imam menekankan, kesiapan tiga pesawat Sukhoi jenis SU-27SKM itu tidak ada masalah dan siap diterbangkan ke Indonesia.

"Namun, ada sisi administrasi yang harus disesuaikan lagi. Kalau pesawatnya sih sudah siap," ujarnya.

Pada sejak 2003 Indonesia telah memiliki tujuh pesawat tempur Sukhoi yang diadakan dari Rusia. Pada 2003 Indonesia membeli empat Sukhoi jenis SU-30MK dan SU-27SK, masing-masing dua unit.

Indonesia kemudian membeli enam pesawat Sukhoi lagi pada 2007 setelah perusahaan Rusia penghasil pesawat tempur Sukhoi pada 21 Agustus 2007 mengumumkan penjualan enam pesawat tempur tersebut kepada Indonesia senilai sekitar 300 juta dollar AS atau senilai Rp 2,85 triliun.

Enam pesawat Sukhoi yang dibeli itu terdiri atas tiga Sukhoi SU-30MK2 dan tiga jenis SU-27SKM. Tiga jenis Sukhoi SU-30MK2 telah tiba pada Desember 2008 dan Januari 2009.

"Tiga lagi, ya kita harapkan tiba sebelum Oktober 2010. Tidak ada lagi penundaan karena tiga pesawat Sukhoi itu sangat memadai untuk mendukung pertahanan udara nasional," demikian Kasau.

ANTARA News

Selasa, 01 Desember 2009

Sertijab Danyon Marhanlan VIII


1 Desember 2009, Bitung -- Komandan Pasukan Marinir (Pasmar) I Brigjen TNI (Mar) I Wayan Mendra (kanan) menyerahkan petaka Marinir kepada Komandan Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Danyon Marhanlan) VIII yang baru Letkol (Mar) Teguh Widodo saat serah terima jabatan di Bitung, Sulawesi Utara, Selasa (1/12). Letkol (Mar) Teguh Widodo menggantikan Letkol (Mar) Budi Santoso yang selanjutnya akan menjabat komandan Detasmen Markas Akademi Angkatan Laut (AAL). (Foto: ANTARA/Basrul Haq/ss/nz/09)

Menkeu Pertimbangkan Kaji Ulang Mekanisme Kredit Ekspor

IFV BMP-3 untuk marinir yang dibeli dengan fasilitas KE dari Rusia.

1 Desember 2009, Jakarta -- Kredit ekspor atau disingkat KE, menjadi opsi favorit dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan. Namun, ada kerugian tersembunyi dalam pengadaan yang menggunakan KE ini. Yakni, jangka waktunya relatif pendek mengakibatkan bunga yang harus dibayar relatif tinggi. Atas hal ini, Menkeu Sri Mulyani akan mengkaji ulang penggunaan KE tersebut.

"Lihat dari masa lalu, yang menawarkan alutsista pada saat yang sama mereka juga tawarkan kreditornya. Kalau diturunkan harga alutsista, financing-nya dimahalkan. Saya tidak tahu apakah untuk menciptakan check balance atau apa. Namun, saya sudah evaluasi dari sisi pembiayaan. Ini harus direview keseluruhan," kata Menkeu saat menyampaikan keynote speech-nya dalam seminar Revitalisasi Industri Pertahanan di Jakarta, Selasa (1/12).

Ia kemudian membandingkannya dengan mekanisme pembiayaan menggunakan international bond. Dibandingkan dengan KE yang rata-rata pembiayaannya tidak lebih dari lima tahun, pengeluaran global bond lebih menjanjikan. Misalnya, dengan mengeluarkan bond senilai US$1 miliar, waktunya bisa hingga sepuluh tahun dan suku bunganya bisa lebih rendah. Itu, tukasnya, sangat bisa digunakan untuk pengadaan.

"Saya memikirkan ini meski untuk pembelian alutsista, restriksinya cukup banyak. Tapi, tak menutup kemungkinan bagi kami sehingga nanti bisa lebih efisien dalam pembiayaan. Dan ini berkaitan dengan rencana pengadaan alutsista dari dalam negeri," jelasnya.

Ia juga menyoroti soal realisasi anggaran yang berasal dari KE yang tidak bisa cepat. Pasalnya, ada aturan bahwa pengeluaran anggaran tersebut memerlukan persetujuan dari DPR yang waktunya bisa memakan waktu bertahun-tahun. Ia menyadari hal tersebut akhirnya berimbas pada pembelian teknologi yang sudah ketinggalan zaman.

"DPR punya bintang anggaran. Kalau memang belum diapproval, kami belum bisa memberikan karena hak budget ada di DPR. Yang bisa saya himbau, agar Menhan bisa bicara dengan dewan agar periode persetujuan tidak terlalu lama. Sangat mungkin antara dewan dan departemen terkait untuk membuat persetujuan sehingga periodenya lebih singkat," tandasnya.

Ia juga berjanji akan bertindak cepat dan lebih pasti agar periode perencanaan, penganggaran dan realisasi tidak terlalu lama. Ia juga menyatakan akan menindak bawahannya yang memperlambat realisasi anggaran tersebut jika memang ada laporan dari user atau departemen bersangkutan.

"Saya siap kalau seandainya anak buah saya ada yang dianggap tidak cepat, terampil dalam memproses atau bahkan membuat alasan yang tidak jelas tolong diberitahu, supaya saya bisa kontrol disiplin anak buah kami," janjinya.

Dephan-TNI harus Miliki Rencana Matang Soal Alutsista

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Departemen Pertahanan dan TNI harus memiliki perencanaan matang dan berkesinambungan dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista), sehingga pendanaannya juga dapat dialokasikan secara tepat.

Dalam Seminar Nasional Revitalisasi Industri Pertahanan Nasional di Jakarta, Selasa (1/12) Sri Mulyani meyakinkan Depkeu mendukung sepenuhnya keputusan politik pemerintah untuk menaikkan anggaran pertahanan, antara lain untuk pengadaan alutsista.

"Namun, pengajuan pengadaan alat utama sistem senjata itu harus terencana dan berkesinambungan. Jadi, jangan sampai pada tahun anggaran tertentu sudah diajukan, namun pada tahun anggaran berikutnya, tidak dicantumkan lagi, karena terlewat atau tidak diketahui oleh pejabat baru di Dephan atau TNI," katanya.

Tidak terencana dan tidak berkesinambungannya perencanaan pengadaan alutsista, lanjut dia, menyulitkan Departemen Keuangan untuk mengalokasikan anggarannya seolah-olah enggan mengeluarkan anggaran untuk persenjataan. "Padahal bukan itu, terkadang perencanaannya tidak matang. Tahun anggaran sebelumnya diajukan, tahun anggaran berikutnya terlewat. Ketika benar-benar dibutuhkan, langsung disodorkan lagi ke Depkeu yang tidak lagi mencatat pengajuan barang itu karena terlewat oleh mereka," tutur Sri Mulyani.

Jadi, tambah Menkeu, jika alat persenjataan yang dibutuhkan memang sangat jitu mendukung tugas pokok TNI menjaga kedaulatan dan keutuhan negara, pihaknya akan mendukung. "Silakan saja, asal terencana dan berkesinambungan. Industri pertahanan kita juga membutuhkan pemesanan dalam jumlah banyak untuk jangka panjang, guna lebih eksis lagi. Jadi, harus benar-benar matang apalagi pembiayaan bagi alat utama sistem senjata menggunakan sistem 'multiyears' atau tahun jamak," katanya.

Menanggapi itu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pihaknya bersama TNI akan melakukan pembenahan ke dalam menyangkut masalah itu. "TNI sudah memiliki rencana strategis lima tahunan, bahkan untuk memenuhi kekuatan pokok minimum ke depan, kita satukan tiga renstra (rencana strategis) lima tahunan agar dapat diketahui peta kebutuhan alat utama sistem senjata yang diperlukan dan apa saja yang bisa diproduksi di dalam negeri," katanya.

Purnomo mengakui Dephan dan TNI masih harus berbenah diri agar lebih konsisten dalam pengajuan pengadaan alat utama sistem senjata. Pada Tahun Anggaran 2009 Departemen Pertahanan dan TNI mendapat anggaran sebesar Rp33,6 triliun. Hingga September 2009, Dephan.TNI mendapat tambahan anggaran dari Anggaran 999 (Bendahara Umum Negara) sebesar Rp899,27 miliar. Sedangkan pada 2010 Dephan dan TNI mendapat alokasi anggaran sebesar Rp42,3 triliun.

MEDIA INDONESIA