Minggu, 30 Agustus 2009

Tim Latma Elang AUSINDO transit di Lanud El Tari


31 Agustus 2009, Kupang -- Minggu, 30 Agustus 2009 Tim Latma Elang AUSINDO transit di Lanud El Tari sebelum melanjutkan perjalanan ke Darwin, Australia. Danlanud Iswahyudi bertindak sebagai ketua rombongan tim yang pada kedatangannya di Lanud El Tari langsung disambut oleh Danlanud El Tari Letkol Pnb Joko Sugeng S.

Pada latihan bersama antara TNI Angkatan Udara dan Australian Air Force, TNI AU mengerahkan kekuatan 4 pesawat tempur F-16 dan 2 Pesawat C-130 Herkules sebagai pendukung serta personel sebanyak 87 orang. Tim transit semalam dan melanjutkan perjalanan ke Darwin tanggal 31 Agustus 2009.

Pada kesempatan yang sama Lanud El Tari melaksanakan “open house” kepada masyarakat kupang untuk melihat dari dekat pesawat – pesawat tempur yang di miliki oleh TNI Angkatan Udara yang akan melaksanakan latihan bersama dengan Australia. Masyarakat kupang sangat antusias sekali terhadap kegiatan ini karena dapat melihat dari dekat pesawat – pesawat tempur yang dimiliki oleh Indonesia.

PENTAK LANUD EL TARI

SLNS Sayurala Resmi Bertugas di AL Sri Lanka

SLNS Sayurala. (Foto: SLN)

31 Agustus 2009 -- SLNS Sayurala kapal patroli lepas pantai (Offshore Patrol Vessel) diresmikan bertugas di jajaran armada Angkatan Laut Sri Lanka di galangan kapal AL, Trincomalee, Jumat (28/8) oleh Sekretaris Pertahanan Mr. Gotabaya Rajapaksa, dihadiri KASAL Laksamana Thisara Samarasinghe serta sejumlah besar perwira tinggi AL.

Sekretaris Pertahanan Mr. Gotabaya Rajapaksa menginspeksi pasukan dengan latar belakang SLNS Sayurala. (Foto: SLN)

Papan nama Sayurala setelah dibuka selubungnya oleh Sekretaris Pertahanan Mr. Gotabaya Rajapaksa. (Foto: SLN)

SLNS Sayurala berlayar setelah diresmikan. (Foto: SLN)

SLNS Sayurala kapal bekas pakai Satuan Penjaga Pantai India Vigraha, bergabung dengan satuan AL Sri Lanka 23 Agustus 2008, diberi nomer lambung P 623. Kapal dibuat di galangan kapal Mazagon Dockyard Ltd., di Mumbai, India pada 1990. Kapal mempunyai panjang 74,10 meter, lebar 11,40 meter, kecepatan maksimal 21,5 knot, bobot bersih 750 ton sedangkan bobot kotor 1247 ton. Kapal dilengkapi dengan Radar pengamatan maritim untuk memantau ZEE Sri Lanka.

Sri Lanka Navy/@info-terkumpul

Pindad: Dokumen Ekspor Senjata Lengkap

Presiden SBY mencoba senapan serbu SS-2 produksi PINDAD.

30 Agustus 2009, Bandung -- Direktur Utama PT Pindad Adik Alvianto menyatakan, perusahaan pembuat senjata nasional itu selalu melengkapi dokumen penjualan dan ekspor senjata baik langsung kepada negara pemesan maupun penjualan melalui agen.

"Pindad perusahaan besar, tak mungkin gegabah dalam melakukan penjualan atau ekspor senjata. Semuanya selalu dilengkapi dengan dokumen resmi dan legal," kata Adik Alvianto ketika dihubungi ANTARA dari Bandung, Minggu.

Termasuk dalam ekspor senjata yakni senjata api genggam dan senjata serbu SS-1 yang saat ini "tertahan" dan dipermasalahkan di Filipina, menurut Adik sudah dilakukan sesuai dengan prosedur yang biasa ditempuh.

Menurut dia, pengiriman ratusan senjata itu dilakukan dengan perizinan baku dari Departemen Pertahanan RI dan juga melengkapi dokumen ekspor di Imigrasi.

Adik dengan tegas membantah ekspor senjata itu dilakukan ilegal karena pihaknya telah melengkapinya dengan dokumen yang resmi dan sesuai dengan prosedur ekspor senjata.

Ia menyebutkan, ekspor senjata genggam pesanan dari Perbakinnya Filipina dan senjata SS-1 untuk negara di Afrika itu melalui seorang agen yang biasa melakukan perdagangan senjata yang sudah dikenal.

Pengirimannya juga sudah mengikuti prosedur dan dokumen ekspor senjata yang berlaku.

"Bukan sekali ini saja kami mengekspor senjata. Dalam kasus ini pengiriman resmi melalui Pelabuhan Tanjung Priok, bila dokumennya tidak lengkap mungkin pihak Imigrasi tidak akan mengizinkan pengiriman itu," katanya.

Ia menegaskan, PT Pindad tidak mungkin melakukan penjualan senjata tanpa sepengetahuan pemerintah karena perusahaan pembuat senjata tersebut milik pemerintah.

Lebih lanjut, Dirut PT Pindad itu menyebutkan, ekspor senjata itu dilakukan dengan perantara agen asal Filipina yang biasa melakukan perdagangan senjata dan sudah dikenal.

Dari sisi pembayaran tidak ada kerugian bagi Pindad. Begitu barang pesanan sampai di Pelabuhan Tanjung Priok dan dikapalkan, langsung dilakukan pembayaran.

Menurut Adik, nilai ekspor senjata itu mencapai Rp1 miliar dengan harga per unit di atas penjualan untuk TNI.

"Dengan sistem penjualan SOB, jelas pembayaran tak masalah. Namun Pindad tetap mempunyai tanggung jawab moral dengan adanya kejadian ini dan kami terus mengikuti perkembangan," katanya.

Ia menyebutkan, pihaknya terus melakukan kontak dengan agen itu sekaligus menunggu permasalahan yang sebenarnya terkait senjata yang sudah dikirimkan dengan kapal berbendera Panama itu.

"Senjata genggam untuk Perbakin-nya Filipina tak menjadi masalah, tapi SS-1 untuk negara Afrika itu yang dipersoalkan," katanya.

Ia menambahkan, pihaknya masih menunggu informasi dan kemungkinan dokumen lainnya yang diperlukan.

Ia menyebutkan, ekspor senjata oleh PT Pindad dilakukan dalam rangka mengembangkan perusahaan itu dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan karyawannya.

PT Pindad, kata Adik Alvianto merupakan BUMN Strategis yang memiliki potensi besar memasarkan produknya baik di dalam maupun ke luar negeri.

Selain memproduksi senjata dan amunisi, PT Pindad juga telah mampu memproduksi panser APS 6X6 untuk TNI-AD serta memproduksi berbagai suku cadang kendaraan tempur.

Ekspor Senjata Pindad Sesuai Prosedur


Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi menyatakan, senjata yang ditahan otoritas Filipina merupakan barang ekspor legal sesuai dengan prosedur kepabeanan yang dilakukan PT Pindad.

"Itu (senjata) ada pemberitahuan ekspor barang (PEB) dari Tanjung Priok, Jakarta dan diberangkatkan tanggal 10 Agustus lalu. Jadi itu semua resmi karena dokumennya lengkap," ujarnya disela kunjungan ke Pelabuhan Belawan, Minggu.

Terkait kemungkinan kesalahan persepsi di pihak bea cukai Filipina, menurut dia, hal itu bisa saja terjadi.

Hal ini dapat disebabkan kurangnya komunikasi dengan pembeli dan laporan manifes kapal yang kurang lengkap atau tidak dilaporkan dalam daftar isi muatan kapal yang diangkut.

"Muatan di kapal adalah senjata. Jika tidak dilaporkan maka jadi permasalahan," katanya.

Namun, lanjut Anwar, secara resmi PT Pindad telah mengekspor dengan persyaratan yang ditetapkan.

Kendati demikian, jika dilakukan pergantian senjata di laut, kemungkinan itu bisa saja terjadi.

"Jika di laut ada pergantian kita tidak tahu, karena pengawasan kami hanya sampai di Tanjung Priok," tegasnya.

Sebelumnya aparat bea cukai Filipina telah menahan satu kapal kargo "Capt Ufuk" di Bataan, yang mengangkut sekitar 50 senapan, pada Kamis malam (20/8).

Setelah dicek, ditemukan senapan buatan Pindad berjenis SS1-V1, beberapa perlengkapan militer lainnya, dan senjata laras panjang bermerek Israel "Galil", sejenis senjata tipe serbu yang sangat akurat dalam jarak 300-800 meter.

Selain senjata-senjata itu, aparat Filipina juga menahan 14 awak kapal dari Georgia dan Afrika.

Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Georgia dan singgah di Indonesia untuk mengambil barang, sebelum kemudian berlayar ke Pelabuhan Mariveles.

Pemerintah Indonesia masih menanti konfirmasi dari pemerintah Filipina terkait dengan temuan dari kapal berbendera Panama ini.

Sedangkan juru bicara PT Pindad, Timbul Sitompul, mengatakan, sejumlah senjata yang ditemukan di Filipina itu adalah pesanan dari pemerintah Filipina dan Mali.

"Filipina memesan senjata jenis pistol P2 sebanyak sepuluh unit dan Pemerintah Mali (Afrika Selatan) memesan sejumlah senjata laras panjang SS1-V2," katanya.

Ekspor Pindad Bermasalah Ditengarai Ulah Oknum

Penyitaan senjata buatan PT Pindad oleh Aparat Filipinan diduga terjadi karena ulah oknum tertentu. Oknum tersebut diduga sengaja menyelundupkan senjata ke Filipina terkait jual beli ilegal.

"Kalau ada penyimpangan seperti sekarang ini, itu wajar ditengarai karena oknum yang menyahgunakan kewenangan," kata anggota Komisi Pertahanan DPR, Yuddy Chrisnandy kepada okezone melalui sambungan telepon, Senin (31/8/2009).

Yuddy menegaskan, kasus ini harus segera diselidiki supaya akar permasalahan bisa diketahui. Koordinasi juga, lanjutnya, perlu dilakukan oleh Departemen Pertahanan, Badan Usaha Milik Negara dan Departemen Perdagangan.

"Termasuk meminta pertanggungjawaban dari Direktur PT Pindad," sambungnya.

Ekspor bermasalah ini bermula ketika petugas Filipina menemukan 50 senapan buatan Pindad jenis SS1-V1 beserta perlengkapan militer lainnya dalam sebuah kapal di Pelabuhan Mariveles pada 20 Agustus kemarin.

Aparat Filipina lantas menahan kapal tersebut karena melihat ada aktivitas bongkar pasang muatan. Setelah dipastikan, ternyata senjata di dalam kapal adalah buatan Indonesia.

Kejadian ini menurut Yuddy terjadi akibat lemahnya sistem pengawasan terhadap pelaksanaan prosedur serta etika kelaziman yang mestinya dilakukan Departemen Pertahanan. "Perdagangan senjata mestinya atas sepengetahuan Menteri Pertahanan," tuturnya.

ANTARA News/okezone

Sabtu, 29 Agustus 2009

Saudi Arabia Mendekati Kesepakatan Pembelian Senjata Dari Rusia

IFV BMP-3 Milik AB UAE. (Foto: DID)

30 Agustus 2009 -- Saudi Arabia mendekati kesepakatan pembelian senjata dan teknologi militer dengan Rusia senilai $2 milyar.

Arab Saudi merencanakan membeli hingga 150 helikopter terdiri dari 30 helikopter serang Mi-35 dan 120 helikopter angkut Mi-17, lebih dari 150 MBT T-90S, dan sekitar 250 IFV BMP-3 serta beberapa lusin sistem pertahanan udara, menurut sebuah sumber.

T-90. (Foto: fas.org)

Kontrak untuk pembelian tank dan helikopter “ dapat ditandatanggani segera tahun ini,” ditambahkannya ke Interfax.

Moskow dan Riyadh menandatanggani perjanjian militer pada 2008, dan tahun ini Raja Arab Saudi Abdullah menerima delegasi penasehat Kremlin tingkat tinggi dan pejabat dari Rosoboronexport.

AFP/@info-terkumpul

Jangan Salahkan PT Pindad


30 Agustus 2009, Jakarta -- WakilPresiden Jusuf Kalla menegaskan PT Pindad selaku pihak produsen senjata tidak bisa disalahkan karena menjual senjata kepada Israel.

"Baguslah Indonesia bikin senjata yang baik. Kalau kemudian ada yang beli ya baguslah. Pindad tidak bisa disalahkan," ujar Kalla kepada pers usai acara buka puasa bersama di kediaman Ketua MPR Hidayat Nurwahid di Jakarta, Sabtu (29/8).

Menurutnya, PT Pindad selaku pihak pembuat senjata tidak bisa disalahkan. Ia menambahkan, dalam kasus ini pihak yang seharusnya dipersalahkan adalah pihak distributor yang menjual senjata tersebut kepada Israel, selaku negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia.

"Masak Anda yang bikin, kemudian di bawa orang lalu Anda yang disalahkan. Yang bawanya yang salah, bukan Pindad," pungkas Kalla.

DPR Minta Keterangan Pemerintah Soal Senjata Pindad

Komisi I DPR akan meminta keterangan pemerintah tentang kasus senjata buatan PT Pindad yang disita oleh aparat bea cuka Filipina.

Ketua Komisi I DPR Theo Sambuaga, usai acara buka puasa bersama di rumah Ketua DPR Agung Laksono, di Jakarta, Sabtu, mengatakan DPR ingin mendengar pengetahuan pemerintah tentang masalah tersebut mengingat PT Pindad adalah perusahaan negara yang langsung berada di bawah Kementerian Negara BUMN.

DPR, lanjut dia, juga ingin mengetahui langkah-langkah apa yang telah dilakukan pemerintah untuk mengusut kasus tersebut.

"Senin mendatang kita akan mengadakan rapat dengan Menkopolhukam, ada juga Menteri Pertahanan, Panglima TNI dan jajarannya," ujarnya.

Permintaan keterangan itu tidak dilakukan dalam sesi khusus, tetapi pada acara rapat membahas penanganan terorisme yang digelar di Gedung DPR, Senin 31 Agustus 2009.

"Saya kira ini akan kita angkat karena ini masalah aktual dan menonjol di masyarakat," kata Theo.

Menurut dia, penjualan senjata oleh PT Pindad ke luar negeri harus mengikuti aturan yang berlaku, yaitu harus dilakukan secara terbuka serta harus dijual kepada otoritas berwenang seperti pemerintah dan angkatan bersenjata negara lain.

"Bahwa itu produk Pindad, itu yang perlu diteliti, apakah Pindad menjual secara resmi atau dicuri sehingga ilegal. Orang yang mencuri itu dari dalam atau tidak, itu yang harus diteliti," tuturnya.

Theo menilai perlu ada pengusutan dan sanksi yang tegas apabila senjata tersebut ternyata dijual secara ilegal dan melibatkan oknum dari PT Pindad sendiri.

Ia menengarai kecil kemungkinan penjualan senjata itu melibatkan TNI, karena semua senjata api yang dibeli TNI dari PT Pindad harus tercatat.

Sementara itu Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso membantah keterlibatan TNI dalam penjualan senjata tersebut. Menurut dia, TNI hanya pemakai senjata yang dibeli langsung dari PT Pindad.

"TNI hanya pemakai, coba tanya Pindad, tanya BUMN. Kita kan pemakai saja, kita juga beli dari Pindad. Siapa yang beli di Pindad kan tidak lewat TNI," ujarnya.

Aparat bea cukai Filipina menahan kapal kargo "Capt Ufuk" yang mengangkut sekitar 50 pucuk senapan di Bataan, Kamis malam. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan senapan buatan PT Pindad berjenis SS1-V1, beberapa perlengkapan militer lainnya, serta senapan laras panjang bermerk Israel "Galil".

PT Pindad telah membantah bahwa penjualan senjata tersebut adalah ilegal. Perusahaan negara itu mengaku menerima pesanan 10 pucuk pistol P2 Pindad dari Persatuan Menembak Filipina.

Pesanan itu dikirimkan bersama dengan 100 pucuk senapan SS1-V1 yang dipesan oleh Mali. Pesanan tersebut dimuat dalam satu kargo, terdiri atas 20 kotak yang satu di antaranya adalah pesanan untuk Filipina.

Pihak Departemen Luar Negeri saat ini tengah melakukan pengecekan, apakah PT Pindad memang mempunyai kerja sama penjualan senjata dengan Filipina.

MEDIA INDONESIA/ANTARA News

Ribuan Prajurit Marinir Lepas Dankormar


29 Agustus 2009, Surabaya - Sebanyak 5.000 prajurit Marinir melepaskan kepergian Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) Djunaidi Djahri dalam apel khusus Korps Marinir Wilayah Surabaya di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Jumat malam.

Dalam apel khusus itu, acara diawali dengan parade yang diikuti 5.000 prajurit Marinir, lalu dilanjutkan dengan demo karate yang dilakukan 500 prajurit Marinir.

Setelah itu, defile pasukan dan kendaraan tempur yang dimiliki Korps Marinir, kemudian buka puasa bersama dan akhirnya ditutup dengan tradisi pelepasan Dankormar oleh seluruh prajurit.

Dalam pelepasan yang dihadiri Wadan Kobangdikal Brigjen TNI (Mar) Arief Suherman, Kasgartap 3 Surabaya Brigjen TNI (Mar) Triono Hadi, dan Danpasmar-1 Brigjen TNI (Mar) I Wayan Mendra itu, Dankormar menaiki Sea Reader milik Taifib dan ditarik perwira korps Marinir.

Dalam apel khusus itu, Dankormar berpamitan kepada seluruh prajurit Korps Marinir di wilayah Surabaya, karena dirinya dalam waktu dekat akan menyerahkan jabatan Dankormar kepada Brigadir Jenderal TNI (Mar) M. Alfan Baharudin.

"Setiap periode jabatan akan sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi awal saat menjabat, serta perkembangan situasi pada saat berjalan, sehingga keberhasilan suatu periode jabatan tidak dapat untuk dijadikan tolok ukur untuk setiap periode jabatan," katanya.

Namun, katanya, kesinambungan dari program dan konsistensi akan tujuan dan sasaran pembinaan, akan menjadikan Korps Marinir itu terkenal, dihormati kawan, dan ditakuti lawan.

"Karena itu jagalah kesiapan, profesionalisme, soliditas, dan semangat untuk mencapai kemenangan, serta janganlah berbuat kesalahan karena kesalahan dapat menghancurkan apa yang sudah dicapai. Korps Marinir terlahir bersama revolusi kemerdekaan, sudah sangat dewasa, untuk itu dewasalah dalam menyikapi segala sesuatu," katanya, berpesan.

Dalam kesempatan itu, Dankormar juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, baik dalam hubungan kedinasan maupun hubungan pribadi.

"Tanpa dukungan kalian semua, maka saya tidak akan mampu melaksanakan tugas terhormat sebagai Komandan Korps Marinir dengan baik," katanya.

ANTARA JATIM

Admiral Inspection


29 Agustus 2009, Surabaya -- Sehari menjelang serah terima jabatan (sertijab) Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) dari Laksamana Muda TNI Lili Supramono kepada penggantinya Laksamana Pertama TNI IGN Dadiek Surarto, Koarmatim menggelar admiral inspection (inspeksi laut) di sekitar Perairan Koarmatim, Ujung, Surabaya, Sabtu (29/8).

Admiral Inspection merupakan salah satu tradisi di lingkungan TNI AL yang dilaksanakan guna memeriksa kesiapan unsur-unsur Koarmatim untuk yang terakhir kalinya, sebelum tongkat estafet kepemimpinan Koarmatim diserahterimakan. Tradisi ini biasanya digelar menjelang pergantian jabatan Kepala Staf TNI AL (Kasal) maupun pada saat pergantian Panglima Komando Armada RI. Kegiatan tersebut, selain sebagai ajang salam perpisahan dengan para prajuritnya, juga merupakan kesempatan untuk memperkenalkan panglima yang baru.

Pangarmatim, Laksda TNI Lili Supramono (kiri) didampingi penggantinya Laksma TNI IGN Dadiek Surarto, memberi arahan saat Admiral Inspection di atas KRI Kalakay-818 yang berlayar di sekitar Perairan Koarmatim Ujung Surabaya, Sabtu (29/8). Admiral Inspection merupakan salah satu tradisi di lingkungan TNI AL untuk memeriksa kesiapan unsur-unsur Koarmatim untuk yang terakhir kalinya sebelum tongkat estafet kepemimpinan Koarmatim diserahterimakan. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ed/ama/09)

Pangarmatim, Laksda TNI Lili Supramono (kiri) didampingi penggantinya Laksma TNI IGN Dadiek Surarto, melambaikan tangan ke arah jajaran kapal perang saat Admiral Inspection di atas KRI Kalakay-818. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ed/ama/09)

Dalam Inspeksi Laut itu, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Lili Supramono didampingi calon penggantinya Laksamana Pertama TNI IGN Dadiek Surarto, serta para para pejabat teras Koarmatim dengan menggunakan KRI Kalakay-818 dikomandani oleh Kapten Laut (P) R. Muhammad Candra,. Dibelakang kapal, dikawal dua kendaraan tempur air “Sea Rider” dari Satuan Pasukan Katak Koarmatim. Inspeksi laut diawali dengan berlayarnya KRI Kalakay-818 dari Dermaga ‘A’, kemudian bergerak ke arah selatan dengan menginspeksi jajaran KRI dari berbagai jenis yang tengah sandar di dermaga-dermaga Koarmatim, kemudian berputar menuju unsur-unsur KRI yang sandar di Dermaga Penjelajah serta dilanjutkan hingga Dermaga Semampir dan berakhir merapat di Dermaga Madura Koarmatim.

Gelar unsur yang turut dalam Inspeksi Laut kali ini melibatkan sekitar 2.500 orang prajurit ABK kapal perang dari berbagai tipe dan jenis yang tengah berada di Pangkalan Koarmatim. Saat KRI Kalakay-818 yang ditumpangi Pangarmatim dan penggantinya melewati setiap kapal perang, terdengar bunyi pluit diiringi dengan penghormatan para ABK yang melakukan penghormatan lambung dengan berbaris di reling kapal sambil serentak meneriakkan ’Jalesveva Jayamahe’ secara berulang-ulang.

Dalam kesempatan tersebut, diatas KRI Kalakay-818 Pangarmatim menyampaikan amanat yang ditujukan kepada seluruh prajurit jajaran Koarmatim, diantaranya mengatakan bahwa setelah melakukan admiral inspection ini Pangarmatim merasa bangga dan terharu seraya memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. “Saya menyaksikan bagaimana prajurit-prajurit Koarmatim sebagai benteng pengawal samudera nusantara, benar-benar siap siaga, tegar dan dapat dibanggakan. Semua itu tercermin dari keberhasilan saudara di dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dengan baik.

Penarmatim