Kamis, 02 Juli 2009

Lapan Uji Coba Peluncuran Tiga Roket


02 Juli 2009, Garut -- Menristek Prof Kusmayanto Kadiman menyaksikan uji coba peluncuran tiga roket milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Stasiun Peluncuran Roket (Staspro) LAPAN Cilauteureun, Pameungpeuk Garut, Jawa Barat, Kamis (2/7) pagi.

Ketiga roket yang diluncurkan masing-masing satu unit jenis RX-420, yang mulus diluncurkan Kepala Lapan Dr Adi Sadewo pada pukul 07.00 WIB, disusul dua unit roket jenis RX-100 oleh Sekretaris PT. Dirgantara Indonesia, yang juga disaksikan Sekretaris Utama Menko Kesra. Seluruh proses peluncuran tersebut, berlangsung mulus sesuai dengan yang direncanakan dan tuntas sekitar pukul 08.45 WIB, ungkap Kabag Humas LAPAN Ny. Eli Kuncahyo.

Uji coba tersebut, katanya, antara lain dimasudkan, guna mengetahui kualifikasi orbiter jenis roket RX-420 tersebut sebagai boster pendorong satelit, setelah jenis RX-320 diuji coba terbangkan pada tahun lalu.

Sedangkan pada 2012 mendatang, diagendakan peluncuran roket empat tingkat RX-420 yang bermuatan satelit, sehingga pada momentum uji coba saat ini mendapatkan perhatian Menristek.

Masyarakat sekitar, termasuk kalangan nelayan yang terpaksa ditunda melaut selama beberapa jam hingga proses peluncuran ketiga roket tersebut tuntas seluruhnya, juga menyaksikan acara tersebut

ANTARA SUMBAR/MEDIA INDONESIA

Menhan Malaysia Kunjungi PT. DI dan PT. Pindad

Panser Anoa 6x6 buatan PT. PINDAD (Foto: detikFoto/Ramadhian Fadillah)

1 Juli 2009, Bandung -- Dua perusahaan Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis yaitu PT. Dirgantara Indonesia dan PT. Pindad mendapat kehormatan menerima kunjungan Menteri Pertahanan Malaysia Dato’ Seri DR. Ahmad Zahid Bin Hamidi, Selasa (30/6) di Bandung.

Kunjungan menhan Malaysia ke BUMNIS ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungannya selama tiga hari ke Indonesia. Sebelumnya menhan Malaysia telah melakukan kunjungan kepada Menhan RI Juwono Sudarsono. Kunjungan ke BUMNIS ini diawali kunjungan di PT. DI dan dilanjutkan ke PT. Pindad.

Dalam kunjungannya ke PT. DI menhan Malaysia diterima oleh Dirut PT. DI, Budi Santoso beserta jajarannya. Selama di PT. DI, menhan Malaysia berkesempatan meninjau secara langsung proses pembuatan pesawat CN 235.

Sementara itu, dalam kunjungannya di PT. Pindad, Menhan Malaysia diterima oleh Dirut PT. Pindad, Ade Avianto Soedarsono dan jajarannya. Dalam kesempatan ini Menhan Malaysia meninjau proses pembuatan panser 6x6 pesanan TNI dan melihat 40 buah Panser 6x6 pesanan TNI yang telah siap untuk dikirim.

Menhan Malaysia juga berkenan melakukan uji coba mengemudikan Panser 6x6 produkasi PT. Pindad kebanggaan bangsa Indonesia tersebut. Selain itu, sejumlah senjata produksi pindad juga dicoba olehnya.

Saat menerima kunjungan Menhan Malaysia, Dirut PT. DI menyampaikan ucapan terima kasih atas kesediaanya berkunjung ke PT. DI. Menurutnya, PT. DI juga merasa terhormat karena selama ini Malaysia merupakan customer yang telah lama menjalin kerjasama yang begitu baik dengan PT. DI.

CN-235 milik TUDM. (Foto: flightglobal.com)

Dijelaskannya, sejak 20 tahun yang lalu Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) telah memberikan kepercayaan kepada PT. DI untuk memasok alat transportasi udaranya. Enam pesawat CN 235 transport militer telah dioperasikan oleh TUDM dan tujuh tahun yang lalu di tahun 2002 kembali Kementerian Pertahanan Malaysia memutuskan untuk membeli dua unit pesawat CN 235 VIP. Dirut PT. DI menambahkan, kontrak pembelian tersebut menambah keyakinan bahwa Malaysia mempercayai terhadap hasil produksi bangsa Indonesia.

Sementara itu, setelah melihat secara langsung fasilitas dan proses produksi yang dimiliki PT. DI dan PT. Pindad, Menhan Malaysia mengungkapkan rasa kagumnya atas kemampuan yang telah dicapai oleh PT. DI dan PT Pindad sebagai industri strategis milik Indonesia.

Untuk itu, menurutnya pihak Malaysia telah menyampaikan keinginannya untuk membangun kerjasama yang saling menguntungkan antara industri pertahanan Malaysia dengan industri pertahanan Indonesia diantaranya dengan PT. DI dan PT. Pindad.

Keinginan terserbut menurut Menhan Malaysia telah disampaikannya saat pertemuannya dengan Menhan RI Juwono Sudarsono. Dalam kunjungannya kepada Menhan RI diantaranya dibicarakan kemungkinan untuk menjalin kerjasama di bidang industri pertahanan antara kedua negara. ”Jadi apa yang ingin kita pelajari sekarang adalah soal smart partnership” tambahnya.

Meniru apa yang dilakukan negara - negara Eropa yang juga memulai kerjasama diantara negara -negara Eropa dalam European Community, menurutnya negara – negara ASEAN dalam Asean Community dapat dibangkitkan untuk membangun kerjasama di bidang industry pertahanan yang saling menguntungkan.

Dijelaskannya, sebagaimana yang dilakukan oleh negara negara di Eropa, mereka tidak bersaing dan berkompetensi, tetapi mereka saling bekerjasama untuk menciptakan produk-produk pertahanan.

DMC

Rabu, 01 Juli 2009

Warga Perbatasan Dilatih Bela Negara Dandim 0902/TRD Kunjungi Pulau Terluar

(Foto: Dispen Armatim/Letkol Tony Saiful)

2 Juli 2009, Tanjung Redeb -- Peningkatan keamanan di wilayah perbatasan tak hanya dilakukan di kepulauan Sebatik, Kabupaten Nunukan, saja. Hal itu juga dilakukan di bagian pulau terluar yang berada di Kabupaten Berau. Senin (22/6), Dandim 0902/TRD Letkol Inf Andi Muhammad mengadakan kunjungan ke beberapa pulau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Dikatakannya, anggota Danramil dan masyarakat sekitar kepulauan secara rutin melakukan patroli di sekitar perairan. Dalam kunjungan tersebut, Dandim bersama 30 personel Kodim menggunakan 2 unit speedboat mengelilingi Pulau Sambit dan Pulau Maratua. Memang kedua pulau itu merupakan pulau bagian terluar dari Kabupaten Berau.

Selain kerap mengadakan patroli, Kodim 0902/TRD juga memberikan pelatihan bela negara kepada masyarakat Pulau Maratua dan sekitarnya. Hasil pantauan, ratusan penduduk dilatih langsung oleh Dandim bagaimana jika mereka ikut bersama TNI dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di lapangan sepakbola Kecamatan Maratua.

Andi Muhammad menuturkan, pelatihan bela negara itu bertujuan untuk melatih kemampuan fisik dan pengetahuan masyarakat agar selalu siap dalam menjaga keutuhan wilayahnya dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Selain dilatih kemampuan fisik, masyarakat juga diberikan wawasan seputar ilmu bela negara dan kebangsaan.

Selain itu, mereka juga diberikan pengetahuan seputar penanggulangan bencana alam, Search And Rescue (SAR). Untuk pembekalan fisik peserta diberikan pelatihan peraturan baris berbaris (PBB) dan praktik SAR di lapangan. Dalam arahannya, Andi mengatakan, kemantapan bela negara akan terjamin apabila didasari dengan kemampuan bela wilayah, keamanan wilayah akan mantap bila didukung oleh kemantapan keamanan keluarga, dan kemantapan keamanan keluarga akan terjaga dengan baik bila kemampuan bela diri (individu) itu kokoh dan mantap.

Sesuai amanat Pasal 30 Undang Undang Dasar 1945 yang mengatakan bahwa kewajiban setiap warga negara untuk ikut membela negara. Maka, pelatihan bela negara bagi masyarakat yang berada di pulau terluar kali ini adalah implementasi dari UUD 1945 tersebut. Pada upacara pembukaan pelatihan bela negara itu turut dihadiri seluruh unsur Muspika Maratua, Kapolsek, Danramil, Danlanal, dan sejumlah perwira di lingkungan Kodim 0902/TRD.

Bakri, salah seorang warga mengatakan, pelatihan bela negara yang diberikan oleh Kodim itu sangatlah penting bagi mereka yang berada di pulau terluar.Dikatakannya, Kecamatan Maratua dulunya sering didatangi para perampok atau mundo. Selain merampas harta benda masyarakat, mereka juga tidak segan-segan melakukan pembunuhan.

KODAM VI/TANJUNGPURA

Rektor Univ Paramadina Anggap Indonesia Perlu Lebih Galak


2 Juli 2009, Jakarta -- ndonesia harus mampu bersikap lebih “galak” agar semakin diperhitungkan dan memiliki posisi tawar dalam pergaulan dunia internasional. “Seharusnya Indonesia bisa lebih berperan, tidak hanya menjadi ‘anak bawang’ melulu,” kata Rektor Universitas Paramadina, Dr Anies Baswedan di Jakarta, Kamis (2/6/2009).

Pernyataan itu disampaikan Anies Baswedan dalam pengantar seminar “Global Economics Crisis: Opportunities, Policy and Diplomacy Respons” yang dilaksanakan di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta.

Dalam berbagai situasi yang terjadi, kata Anies, posisi Indonesia sering dipandang “sebelah mata” oleh negara lain, termasuk negara tetangga di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN. Ia mencontohkan, kesan kekurangwibawaan Indonesia tersebut dalam kasus tindak kekerasan yang dilakukan pemerintah junta militer di Myanmar.

Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono (kiri) mendengarkan Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan saat diskusi 'Global Economic Crisis : Opportunities, Policy, and Diplomatic' di Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (2/7). Diskusi tersebut memperbincangkan tentang pentingnya peran diplomasi dalam mengatasi krisis ekonomi. (Foto: ANTARA/Rosa Panggabean/ed/ama/09)

Idealnya, sebagai negara terbesar di kawasan Asia Tenggara dan sekaligus pendiri ASEAN, Indonesia dapat menunjukkan wibawanya dan bersikap tegas terhadap Myanmar. Umpamanya, kata Anies, Indonesia dapat memberikan peringatan dengan menyatakan tidak akan berteman dengan Myanmar jika tidak mau membantu terciptanya proses demokratisasi di negaranya sendiri.

Jika Indonesia mampu bersikap demikian, maka negara-negara lain akan mengikutinya atau setidaknya menjadikan Indonesia sebagai negara yang layak diperhitungkan. Sikap itu bukan berarti Indonesia bermaksud mendikte atau ikut campur urusan negara lain tapi sebagai upaya “unjuk gigi” selaku negara penting di kawasan Asia tenggara.

“Sikap itu penting agar kita tidak selalu hanya menjadi semacam ‘olok-olok’ bagi negara lain, bahkan tetangga sendiri,” kata Anies. Namun, Anies menyatakan hal itu tidak mudah karena membutuhkan keberanian, kemampuan berkomunikasi dengan bangsa lain serta para diplomat yang mampu tampil piawai di ajang diplomasi dunia.

Seminar yang diadakan di aula Nurcholis Madjid Universitas Paramadina itu menghadirkan pembicara seperti diplomat senior Makarim Wibisono, Deputi Menko Perekonomian Mahendra Siregar, wartawan senior Sabam Siagian, anggota DPR Abdillah Thoha, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sofyan Wanandi. Sedangkan pembicara kunci dalam seminar itu akan menghadirkan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono.

SURYA

Program Bintang Juang Remaja Bahari

2 Juli 2009, Makassar -- Sejumlah pelajar mengamati kapal perang KRI Piton untuk mengisi liburan sekolah di Lantamal VI Makassar, Kamis (2/7). Sebanyak 60 pelajar dari berbagai sekolah SMP dan SMU di Makassar mengikuti program Bintang Juang Remaja Bahari (BJRB) Lantamal VI, mereka diberi pembinaan mental rohani, ideologi dan materi wawasan nusantara dengan semangat jiwa bahari. (Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/YU/Koz/hp/09)

(Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/YU/Koz/hp/09)

(FOTO: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/YU/Koz/hp/09)

Nelayan Ambalat Disarankan Pasang Merah Putih

2 Juli 2009, Tarakan -- Kondisi keamanan perairan Ambalat, Tarakan, Kalimantan Timur, terkendali. Setidaknya itulah yang diungkapkan Komandan Kapal Polisi (KP) Sadewa 506 Direktorat Polair (Ditpolair) Babinkam Polri Kompol Nyoman Budiharja.

Menurut dia, selama tiga pekan berpatroli di perairan yang diklaim Malaysia itu, dirinya tidak melihat kapal asing melintas di sana. Tidak juga kapal negeri jiran tersebut. "Kami sebatas patroli rutin. Kalau memang ada temuan pelanggaran, Polair akan berkoordinasi dengan KRI milik TNI-AL di Sebatik," kata Nyoman.

Penjelasan itu disampaikannya saat membagi-bagikan bendera Merah Putih kepada para nelayan yang sedang melaut sekitar 20 mil dari Tarakan. Kegiatan tersebut, kata Nyoman, selain dalam rangka memperingati HUT Ke-63 Bhayangkara, merupakan sosialisasi polisi sebagai sahabat masyarakat. "Setiap kapal nelayan yang melaut kita anjurkan untuk memasang bendera Merah Putih di atas kapal mereka. Itu sudah menjadi aturan pelayaran," kata Nyoman kepada Radar Tarakan (Jawa Pos Group).

Meski demikian, lanjut dia, Polair masih memaklumi jika banyak kapal nelayan yang belum memasang bendera di kapal mereka. "Kapal-kapal kecil masih dimaklumi, namun kita terus membina mereka dan memberikan toleransi,'' ujarnya.

Meski begitu, dia mengungkapkan bahwa dalam aturan pelayaran, pemasangan bendera itu wajib. Jika tidak, bisa dipidanakan. Terutama kapal bermesin dan terdaftar. "Sesuai aturan, kapal asing yang masuk ke Indonesia pun harus pasang bendera Merah Putih, sedangkan bendera kebangsaan dipasang di buritan kapal," jelasnya.

Wali Kota Tarakan Udin Hianggio yang hadir dalam kegiatan itu menyampaikan terima kasih kepada jajaran Polri, khususnya Polair. "Momen ini dapat membangkitkan rasa nasionalisme kepada para nelayan," kata Udin Hianggio.

JAWA POS

Tiga Kapal Vietnam Ditangkap

Seorang nelayan asal Vietnam berada di atas salah satu dari tiga kapal yang tertangkap dan diamankan di dermaga Polair Polda Kalbar, Rabu (1/7). Satuan Polair Polda Kalbar menangkap tiga kapal motor dan 35 ABK asal Vietnam di Perairan Laut Natuna. Tiga kapal motor tersebut kedapatan mencuri koral hitam kelompok anthozoa yang dilindungi sebanyak 140 Kg. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/hp/09)

2 Juli 2009, Pontianak -- Tiga Kapal Vietnam ditangkap Direktorat Polisi Perairan Polda Kalbar, lantaran mencuri akar bahar antara perairan Kalbar dan Natuna, tepatnya di sekitar Pulau Pengikik. Dua ditangkap 10 Juni, satu lagi 27 Juni 2009. Bersamanya, polisi mengamankan 55 anak buah kapal beserta nakhoda.Ketiga kapal itu tertangkap tangan melakukan pencurian terumbu karang. Ketiga kapal tersebut akhirnya digiring ke dermaga Direktorat Polisi Perairan (Ditpolair) Polda Kalbar, Rabu (1/7). Selain kapal, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti hasil jarahan mereka seperti akar bahar sebanyak 140 kg, dan dokumen yang menyertai anak buah kapal.

Kapolda Kalbar, Brigjen Erwin TPL Tobing mengatakan, penangkapan dilakukan lantaran ketiga kapal tersebut memasuki perairan Indonesia dan melakukan aktivitas pencurian terumbu karang. “Posisi mereka sedang lego jangkar di perairan Pulau Pengikik,” katanya, kemarin. Dijelaskannya, dari hasil pemeriksaan ketiga nakhoda, mereka mengaku berasal dari Dinh An Tinh Tra Vinh Vietnam. Pada saat tertangkap, lanjutnya, kapal-kapal tersebut tidak memiliki dokumen resmi, baik dokumen kapal, perizinan penangkapan ikan, dan dokumen lainnya seperti keimigrasian. “Tidak ada satupun dokumen yang menyertai. Makanya kita tangkap, karena telah masuk wilyah Indonesia tanpa izin,” tegas Erwin.

Tiga kapal Vietnam digiring ke dermaga Direktorat Polisi Perairan (Ditpolair) Polda Kalbar, Rabu (1/7). (Foto: PONTIANAK POST/Hendy)

Kapal beserta nakhodanya, kata kapolda, akan kita proses secara hukum. Berdasarkan aturan yang ada, jelasnya, dilarang mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. “Sedangkan akar bahar ini masuk kategori tumbuhan yang dilindungi,” paparnya. Menurutnya, kekayaan alam di perairan Indonesia selalu menjadi sasaran empuk bagi para nelayan asing untuk berburu. Untuk itu, ia berjanji terus berupaya meningkatkan pengamanan di perairan Indonesia. “Kita akan kawal perairan kita dari ancaman pihak asing,” tegas Erwin.

Seorang anggota Polair Polda Kalbar memeriksa sejumlah nelayan asal Vietnam di atas salah satu dari tiga kapal yang tertangkap dan diamankan di dermaga Polair Polda Kalbar, Rabu (1/7). (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/hp/09)

Dari tiga kapal yang tertangkap itu, hanya dua kapal yang memiliki nama, masing-masing TG 2306 TS dan Hong Phuoc 2 TG 91468 TS. Satu kapal lainnya, sama sekali tidak bernama dan tanpa pengawalan dokumen.Terkait pelanggaran yang dilakukan, mereka akan dijerat dengan pasal berlapis, di antaranya Undang-undang No 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian, Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Hayati dan Ekosistemnya, dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp30 juta.Berdasarkan catatan Pontianak Post, dalam kurun waktu dua bulan terakhir pencurian akar bahar kerap dilakukan kapal Vietnam. Terutama di perairan Pulau Pengikik.

Pulau ini berada sekitar 60 mil laut dari Tambelan. Sudah enam kapal Vietnam ditangkap. Tiga diamankan di Pos Angkatan Laut (Pos AL) Tambelan, Kepulauan Riau , pertengahan Mei 2009. Tiganya lagi diamankan di wilayah hukum Polda Kalbar, Akhir Juni 2009. Modusnya nyaris sama yakni mengambil akar bahar dari wilayah perairan Tambelan, Indonesia. Tambelan adalah sebuah gugus kepulauan yang memiliki sekitar 54 pulau kecil. Dari arah Pengikik, sekitar 12 mil laut. Kawasan ini memang dikenal sebagai daerah yang memiliki tumbuhan akar bahar. Akar bahar biasanya digunakan sebagai bahan baku utama pembuat aksesoris, mulai gelang, tongkat, sampai pipa rokok. Produk tersebut dikenal memiliki daya tahan istimewa.

PONTIANAK POST